SEJARAH MENGENAI SAUL (2)
SAUL MENAKLUKKAN ORANG AMON DAN PERINGATAN SAMUEL KEPADA ORANG ISRAEL
Pembacaan Alkitab: 1Sam. 11—12
Sebagaimana kita membaca sejarah yang tercatat dalam 1dan 2Samuel, kita perlu menyadarinya, tidak ada perkara yang terjadi, tanpa Allah di belakang layar mengarahkan segala sesuatu. Kita nampak hal ini dengan cara khusus dalam sejarah mengenai Saul.
Saul, yang sangat tinggi dan ganteng, cocok menjadi raja menurut konsep orang Israel, dan mereka spontan mengakui dia sebagai raja. Tetapi Allah melihatnya melalui segala hal dari permulaan sampai akhir dan tahu apa yang ada di dalam hati Saul. Di pandangan Allah, Saul digunakan pada saat tertentu untuk melaksanakan tujuan sementara Allah. Dia diperlukan Allah untuk mendisiplinkan dan melatih orang Israel. Orang Israel perlu dididik di bawah seorang raja yang sepertinya baik tetapi yang sesungguhnya sangat egois Di satu pihak, Saul bersyarat dan berkemampuan dan berkapasitas untuk memerintah atas Israel. Di pihak lain, dia jahat di pandangan Allah dan juga orang yang berdalih yang akan mengenakan banyak kedok yang berbeda. Pada saat pelantikannya, Saul mengenakan kedok kerendahhatian, tetapi hampir berakhir hidupnya, dia disingkapkan sesunguhnya dirinya seorang yang jahat di hadapan Allah.
Setelah Saul memerintah selama empat puluh tahun, orang Israel benar-benar belajar tidak mengikuti bangsa-bangsa dalam cara manusia. Sebagai satu bangsa yang khusus, perolehan utama dimiliki Allah, cara mereka harus menurut hati Allah. Orang semacam ini adalah Samuel. Dia mutlak menurut hati Allah, bukan menurut kebiasaan bangsa-bangsa. Meskipun orang Israel telah dibebaskan dari penindasan di Mesir dan telah dibawa ke tanah yang dijanjikan menjadi kekayaan khusus di pandangan Allah, mereka tidak mau menjadi kekayaan sedemikian tetapi malahan mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa. Karena itu, Allah memakai Saul untuk mendisiplinkan mereka.
Karena Samuel, seorang Nazir, sangat tunduk kepada Allah sebagai Kepala, dia mau melakukan apa yang Allah ingin dia kerjakan, tanpa menyatakan opininya. Sebagai hasilnya, ketika Allah memberi tahu Samuel untuk mengurapi Saul menjadi raja atas orang Israel, Samuel taat.
Dengan menyimpan hal ini dalam pikiran, sekarang mari kita melanjutkan membahas sejarah mengenai Saul dalam pasal sebelas dan duabelas.
I. SAUL MENAKLUKKAN ORANG AMON
A. Orang Amon Mengancam dan Menghina
Setelah Saul diurapi sebagai raja, orang Amon datang untuk mengancam dan menghina bangsa Israel (11:1-5). Nahas, orang Amon itu berkemah mengepung Yabesy-Gilead, dan semua orang Yabesi memberi tahu dia bahwa jika dia mengadakan perjanjian denganya, mereka akan takluk kepadanya. Nahas menjawab bahwa dia akan mengadakan perjanjian dengan syarat bahwa tiap mata kanan mereka akan dicungkil. Maka dia akan menjadikannya ancaman atas seluruh orang Israel. Para tua-tua Yabesy meminta kelonggaran tujuh hari untuk menanti jika ada seorang yang dapat menyelamatkan mereka, dan mereka mengirim utusan kepada Saul di Gibea. Hal ini dijadikan kesempatan baik untuk memperlihatkan Saul, bahwa dia bukan bagi kerajaan Allah tetapi bagi kerajaannya.
B. Saul Menaklukkan orang Amon
Saul menaklukkan orang Amon (ay. 6-11). Allah mengutus Roh yang menggerakan atas Saul (ay. 6), dan dia dikuatkan oleh Allah. Kemudian dia mengumpulkan bangsa itu, memisahkan mereka berkelompok-kelompok, dan membunuh orang Amon (ay. 7-11).
C. Saul Mengampuni Pengejeknya pada Hari Kemenanganya
Kemenangan Saul mempertinggi di pandangan bangsa Israel. Beberapa orang berkata kepada Samuel, ”Siapakah yang telah berkata: Masakah Saul menjadi raja atas kami? Serahkanlah orang-orang itu, supaya kami membunuhnya” (ay. 12). Namun, Saul mengampuni pengejek-pengejeknya, katanya, “Pada hari ini seorangpun tidak boleh dibunuh, sebab pada hari ini TUHAN telah mewujudkan keselamatan kepada Israel”(ay. 13). Saul berlaku dalam cara yang memikat dan mendapatkan hati bangsa itu, tetapi Samuel jelas mengenai keadaan Saul yang sesungguhnya.
II. PERINGATAN SAMUEL KEPADA ORANG ISRAEL
Dalam 11:14—12:25 kita memiliki catatan peringatan Samuel kepada orang Israel.
A. Memperbarui Kerajaan dan Menegaskan Rajani Saul di hadapan TUHAN oleh Samuel
Setelah Saul menaklukkan orang Amon dan mengampuni pengejek-pengejeknya, Samuel berbicara kepada orang Israel tentang pembaruan kerajaan, katanya, “Marilah kita pergi ke Gilgal dan membaharui pejabat-pejabat raja di sana”(ay. 14). Semua orang pergi ke Gilgal, dan mereka menjadikan Saul raja di hadapan TUHAN dan mempersembahkan korban pendamaian di hadapan TUHAN. Di Gilgal Saul dan seluruh orang Israel sangat bersukaria (ay. 15). Meskipun Saul telah menang atas orang Amon dan kelihatannya menjadi seorang yang demikian menawan dan rendah hati, menurut Samuel bangsa Israel masih bukan kerajaan Allah di bumi.
B. Peringatan Samuel
Dalam 12:1-18 kita memiliki peringatan Samuel. Peringatan ini berarti satu perbandingan antara Samuel dan Saul. Jika kita membandingkan Saul dengan Samuel, kita akan dapat nampak apakah hati Allah yang sungguh-sungguh dan siapakah yang bagi hati Allah.
1. Kejujurannya
Pertama, Samuel mengingatkan orang Israel atas kejujurannya, bahwa dia murni dan adil dalam hubungannya dengan bangsa itu (ay. 1-5). Dia mengingatkan mereka bahwa dia tidak mengambil sesuatu dari mereka, merampas mereka, memaksa mereka, atau menerima sogok dari mereka. Dia berkata, “TUHAN menjadi saksi kepada kamu, dan orang yang diurapi-Nyapun menjadi saksi pada hari ini, bahwa kamu tidak mendapat apa-apa dalam tanganku” (ay. 5a). Perkataan Samuel berarti bahwa Saul akan memutar balik keadilan dan merampas banyak hal dari bangsa itu. Samuel memiliki pengetahuan sebelumnya semacam ini mengenai Saul.
2. Dari Tindakan Benar TUHAN bagi Orang Israel
Dalam hikmatnya, Samuel pertama-tama tidak membicarakan Allah kepada bangsa Israel. Malahan, Samuel mengingatkan bangsa itu atas kejujurannya dan kemudian melanjutkan pembicaraannya kepada mereka mengenai tindakan benar TUHAN bagi orang Israel. Dia mengingatkan mereka bahwa inilah TUHAN yang menunjuk Musa dan Harun dan yang membawa nenek moyang mereka keluar dari Mesir (ay. 6). Kemudian dia mengingatkan mereka bahwa TUHAN membebaskan mereka dari tangan musuh yang ada di sekeliling mereka (ay. 11).
3. Dari Kejahatan Israel dalam Meminta Seorang Raja, Sekalipun TUHAN Allah Mereka adalah Raja Mereka
Akhirnya, Samuel mengingatkan orang Israel dari kejahatan mereka dalam meminta raja, sekalipun TUHAN Allah mereka adalah Raja mereka (ay. 12-18). TUHAN adalah Raja mereka, namun mereka ingin raja yang lain (ay. 12). Di sini Samuel menghardik orang Israel karena meninggalkan Suaminya. Karena mereka ingin seorang raja sebagai pengganti Allah, mereka tidak akan menikmati tanah permai dengan tepat.
Saya percaya bahwa, paling sedikitnya, kesungguhan Samuel di sini untuk mendorong bangsa Israel. Setelah Saul menaklukkan orang Amon, bangsa itu bergembira, karena mereka telah diselamatkan Saul, dan Samuel tidak gembira tentang keadaan ini. Samuel kelihatannya berkata kepada orang Israel, “Kalian seharusnya tetap di bawah rajani Allah, mengambil Dia sebagai Suamimu dan Kepalamu. Kemudian kalian akan memiliki kenikmatan kehidupan yang terbaik, ketika Dia memiliki kerajaan-Nya di antara kalian. tetapi kalian telah melakukan yang salah dengan mengambil seorang sebagai kepalamu selain Allah. Kalian sebenarnya menceraikan Allah dan menikahi Saul. Kalian memperhatikan dia sebagai seorang yang ganteng, seorang pilihan, tampan. Di dalamnya ada sesuatu yang gelap. Dia akan menyebabkan kalian menderita dan akan merampas banyak hal dari kalian.”
a. Ditegaskan melalui TUHAN memberikan Guruh dan Hujan pada hari itu
Perkataan Samuel ditegaskan melalui TUHAN memberikan guruh dan hujan (ay. 16-18). Samuel memberi tahu mereka untuk berdiri dan melihat hal yang besar bahwa TUHAN akan melakukan di hadapan mata mereka. Kemudian dia selanjutnya mengatakan, “Aku akan berseru kepada Tuhan, supaya Ia memberikan guruh dan hujan. Lihatlah dan sadarlah, bahwa besar kejahatan yang telah kamu lakukan itu di mata Tuhan dengan meminta raja bagimu” (ay. 17). Kemudian Samuel berseru kepada TUHAN, dan TUHAN mengirim guruh dan hujan pada hari itu. Di sini tidak ada pandangan positif, selama mereka tidak memandang kesenangan Allah malahan yang tidak disenangi-Nya.
b. Seluruh Bangsa sangat Takut kepada TUHAN dan Samuel
Setelah Samuel menyeru TUHAN dan Dia mengirim guruh dan hujan, seluruh bangsa itu sangat takut kepada TUHAN dan Samuel (ay. 18b).
C. Pengakuan Dosa Bangsa itu dan Perintah Samuel
Ayat 19 sampai 25 mencatat pengakuan dosa bangsa itu atas dosa mereka dan perintah Samuel kepada mereka dan doanya bagi mereka.
1. Pengakuan Dosa Bangsa itu dari Dosa Mereka dan Memohon Samuel Berdoa bagi Mereka
Bangsa itu mengaku dosanya, katanya bahwa mereka telah menambahkan semua dosa kejahatan mereka karena meminta seorang raja bagi mereka sendiri. Maka, mereka memohon Samuel untuk berdoa kepada TUHAN Allahnya bahwa mereka tidak mau mati (ay. 19).
2. Perintah Samuel kepada Mereka bahwa Mereka jangan Berhenti Mengikuti TUHAN tetapi Melayani TUHAN dengan Segenap Hatinya
Samuel memerintah bangsa Israel untuk tidak meninggalkan dari mengikuti TUHAN tepat melayani Dia dengan segenap hatinya (ay. 20). Dia menginginkan mereka tidak berpaling kepada berhala yang sia-sia, yang adalah kesia-siaan, tidak dapat memberi keuntungan atau membebaskan mereka. Bangsa itu perlu memiliki satu hati, hati yang mengarah kepada Allah dan bersama Allah. Karena itu, Samuel berkata, “Hanya takutlah akan TUHAN dan setialah beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukan-Nya di antara kamu. Tetapi jika kamu terus berbuat jahat, maka kamu akan dilenyapkan, baik kamu maupun rajamu itu” (ay. 24-25).
3. Doa Samuel bagi Mereka tanpa Henti, sehingga Dia tidak akan Berdosa Terhadap TUHAN
Dalam ayat 23a Samuel memberi tahu bangsa itu, yang telah memohon dia berdoa kepada TUHAN, “Mengenai aku, jauhlah dari padaku untuk berdosa kepada TUHAN dengan berhenti mendoakan kamu.” Di sini mewahyukan bahwa Samuel menganggap tidak berdoa bagi umat Allah yang istimewa menjadi suatu dosa terhadap TUHAN. Kita perlu belajar dari Samuel untuk berdoa bukan saja bagi anak-anak kita sendiri tetapi juga bagi anak-anak Allah. Jika kita berdoa bagi anak-anak kita sendiri tanpa berdoa bagi anak-anak Allah, kita mungkin egois dan berdosa terhadap Allah. Berdoa bagi anak-anak Allah sebenarnya termasuk doa bagi anak-anak kita. Sebagaimana kita berdoa bagi anak-anak Allah, anak-anak kita akan di bawah pemeliharaan-Nya.
Catatan dalam 1Samuel memperlihatkan kepada kita bahwa hati Samuel hanya bagi umat Allah. Istilah umat pilihan adalah sangat bernilai untuk didengar Allah dan hati Allah. Umat pilihan-Nya adalah umat istimewa-Nya, orang-orang yang dimiliki sebagai kekayaan. memperhatikan umat pilihan Allah adalah aspek penting dari sejarah mengenai Samuel, yang sangat berlawanan dengan sejarah mengenai Saul.