← Daftar isi 1 dan 2 Samuel (3) · bab 17/30

SEJARAH MENGENAI DAUD (5)

DIANIAYA DAN DICOBAI OLEH SAUL

(4)

Pembacaan Alkitab: 1Sam. 28:3—30:31

Dari akhir hidup Saul yang tragis kita dapat belajar banyak perkara mengenai ekonomi Allah. Semua tragedi yang dialami Saul sama sekali tidak berhubungan dengan ekonomi Allah. Allah melaksanakan ekonomi-Nya di bumi, dan Dia membawa Saul ke dalam ekonomi-Nya. Daripada berbagian dalam ekonomi Allah dan berkerjasama dengannya, malahan Saul egois. Allah ingin membangun kerajaan-Nya di antara umat pilihan-Nya, tetapi Saul menyalahgunakan kerajaan Allah untuk membangun kerajaannya sendiri. Dibandingkan situasi Daud seluruhnya berbeda. Ketika Daud diurapi oleh Samuel, dia jelas memahami bahwa dia telah ditetapkan Allah untuk menjadi raja, tetapi dia tidak memiliki pemikiran apapun tentang jabatan raja. Setelah Saul ditunjuk menjadi raja, dia dengan segera pikirannya dipenuhi dengan jabatan raja, termasuk bagaimana anaknya akan menggantikan dia (20:31). Dalam hal ini Saul sangat egois dan salah. Dia nampak untuk membangun kerajaan egoisnya daripada kerajaan Allah.

Akhirnya, Allah yang mengangkat dan yang memberhentikan Saul, mengoyak kerajaan dari dia. Dalam 15:28 Samuel berkata kepada Saul, TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu.” Karena Saul dipecat Allah, dia tinggal sendirian, seperti seorang yatim, tidak memiliki persediaan bantuan ketika masalah datang. Sekalipun Daud adalah petarung sangat mahir dan berpengalaman, dia tidak berguna bagi Saul karena keegoisan dan kedengkian Saul. Sesungguhnya, karena Saul ingin membuang dia, Daud dipaksa meninggalkan negerinya ke musuh terbesar Israel (27:1-2).

Daud pergi ke Filistin, khususnya ke Raja Akhis. Ketika orang Israel berkumpul di perkemahannya untuk berperang melawan orang Israel, Daud, yang telah menjadi pengawal Raja Akhis, ada dalam satu dilema bahwa bersatu dengan orang Filistin untuk berperang melawan orang Israel. Dilema ini diakibatkan keegoisan Saul. Bangsa Israel mengalami kekalahan dan dibantai juga karena keegoisan Saul. Tetapi Allah dalam kedaulatan-Nya datang untuk menanggulangi Saul dan untuk menolong Daud dari dilema ini.

Kita perlu berangan-angan atas setiap aspek kisah ini, untuk ini berisi banyak pelajaran bahwa kita perlu belajar. Pertama, dari kisah ini, ilustrasi ini, kita harus belajar pelajaran menyalibkan daging kita. Selanjutnya, kita harus belajar mengutuk keegoisan kita, kedambaan kita sendiri dan penuntunan kita sendiri. Lebih jauh lagi, Saul dipenuhi ego, dan dari masa akhirnya yang tragis, kita harus belajar menyangkal ego kita. Seperti Tuhan Yesus katakan, setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya (Mat. 16:24).

Selanjutnya ini mari kita membahas beberapa perkara selanjutnya mengenai Daud dianiaya dan dicobai oleh Saul.

XX. AKHIR HIDUP SAUL YANG TRAGIS DIBERITAHUKAN SEBELUMNYA OLEH SAMUEL

Dalam 1Samuel 28:3-25 kita nampak bahwa akhir hidup Saul yang tragis sebelumnya telah dibicarakan oleh Samuel.

A. Samuel telah Mati

Satu Samuel 28:3a memberi tahu kita bahwa Samuel mati dan seluruh orang Israel berdukacita karena dia dan menguburkan dia di kotanya sendiri, Rama. Kematian Samuel adalah kehilangan terbesar bagi Saul.

B. Saul telah Menyingkirkan Para Tukang Tenung dan Pemanggil Arwah

Melalui pasal dua puluh delapan ini Saul telah menyingkirkan para tukang tenung dan pemanggil arwah (ay. 3b). Karena para tukang tenung dan pemanggil arwah berkontak dengan roh-roh jahat, Saul melakukan satu perkara yang baik dalam menghapus mereka dari negeri Israel.

C. Orang Filistin Berkumpul Bersama Melawan Orang Israel dan Saul Sangat Takut kepada Mereka

Orang Filistin berkumpul bersama melawan orang Israel, dan Saul sangat takut kepada mereka (ay. 4-5). Dia takut karena keberanian dan kegagahannya telah diambil Allah. Allah adalah dorongan dan keberanian kita yang sejati. Tanpa Dia, kita tidak memiliki apa-apa.

D. Saul Bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak Menjawab Dia

Saul bertanya kepada TUHAN, tetapi TUHAN tidak menjawab dia, tidak dengan mimpi atau melalui Urim atau melalui nabi-nabi (ay. 6).

E. Saul Mencari Seorang Tukang Tenung dan Bertanya Kepadanya

Saul mencari seorang tukang tenung dan bertanya kepadanya (ay. 7-11). Dalam pasal limabelas Samuel telah memperingatkan Saul bahwa pemberontakannya adalah seperti dosa bertenung (ay. 23). Tetapi di sini dalam pasal dua puluh delapan Saul melaksanakan pertenungan, yang melibatkan berkontak dengan roh-roh jahat dan bahkan lebih buruk dari penyembahan berhala.

F. Samuel Datang dan Berbicara kepada Saul

Tanpa tukang tenung melakukan sesuatu, Samuel datang dan berbicara kepada Saul (ay. 12-19). Samuel memberi tahu Saul bahwa TUHAN telah meninggalkan dia dan telah menjadi musuhnya (ay. 16). Kemudian Samuel memberi tahu Saul bahwa TUHAN telah mengoyak kerajaan dari tangannya dan memberikannya ke Daud, satu gabungannya (ay. 17). Akhirnya, Samuel memberi tahu Saul bahwa TUHAN akan memberikan Israel tanpa Saul ke tangan orang Filistin dan hari selanjutnya dia dan anaknya akan dihancurkan (ay. 19).

G. Saul Diancam

Saul diancam dan rebah ke tanah, dan kemudian dia meninggalkan tukang tenung itu (ay. 20-25).

XXI. DAUD DENGAN KEDAULATAN DIJAGA OLEH ALLAH DARI PERSATUANNYA DENGAN PERKEMAHAN FILISTIN UNTUK BERPERANG MELAWAN ORANG ISRAEL

Dalam pasal dua puluh sembilan Daud dengan kedaulatan dijaga oleh Allah dari persatuannya dengan perkemahan Filistin untuk berperang melawan orang Israel. Pemimpin-pemimpin orang Filistin menolak Daud pergi bersama mereka ke medan perang melawan orang Israel, dan karena itu Akhis menyuruh dia keluar (ay. 6-11).

A. Tidak Pergi untuk Terlibat dalam Pembinasaan Saul, Anaknya, dan Orang-orang Israel

Jika Daud berperang melawan orang Israel, dia akan memiliki nama jelek untuk sisa hidupnya. Namun, Daud tidak pergi untuk terlibat dalam pembinasaan Saul, anaknya (Yonatan), dan orang-orang Israel (31:1-6).

B. Menyelamatkan Dua Istrinya dan Keluarga Orang-orangnya

Di bawah kedaulatan Allah Daud terjaga dari persatuan dengan perkemahan orang Filistin sehingga Daud dapat menyelamatkan dua istrinya dan keluarga orang-orang itu, yang telah ditawan oleh orang Amalek (30:18-20).

C. Menyelamatkan Dirinya dari Kekacauan Orang-orangnya yang Kehilangan Keluarga-keluarga Mereka

Di bawah kedaulatan Allah, Daud menyelamatkan dirinya dari kekacauan orang-orangnya yang kehilangan keluarga mereka karena orang Amalek (30:1-6a).

D. Mengirim Banyak Jarahan sebagai Hadiah

Akhirnya, sebagai satu akibat kedaulatan dijaga oleh Allah dari persatuan dengan perkemahan Filistin untuk berperang melawan orang Israel, Daud setelah mengalahkan orang Amalek, mengirim banyak jarahan sebagai hadiah kepada teman-temannya dan teman-teman orang-orangnya di banyak kota (ay. 26-31).

XXII. DAUD MENGALAHKAN ORANG AMALEK DAN MENAWAN TAWANANNYA

Pasal tiga puluh memberi tahu kita bahwa Daud mengalahkan orang Amalek dan menawan tawanannya.

A. Orang Amalek Mengalahkan Ziklag dan Membakarnya

Orang Amalek telah mengalahkan Ziklag dan membakarnya dan menawan semua perempuan, termasuk keluarga orang-orang Daud dan kedua istrinya (ay. 1-6a).

B. Daud Menguatkan Dirinya dalam TUHAN dan Mencari Pimpinan TUHAN untuk Mengejar Orang Amalek dan Menawan Tawanannya

Seluruh rakyat telah pahit hati, dan mereka mengatakan hendak melempari Daud, tetapi dia “menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN Allahnya” (ay. 6b). Selanjutnya, dia memberi tahu imam Abyatar untuk membawa efod kepadanya, dan dia bertanya kepada TUHAN, katanya, “Haruskah aku mengejar gerombolan itu? Akan dapatkah mereka kususul? Dan Ia berfirman kepadanya: Kejarlah, sebab sesungguhnya, engkau akan dapat menyusul mereka dan melepaskan para tawanan” (ay. 8). Kemudian Daud dan empat ratus orang-orangnya mengejar orang Amalek, yang dibantu seorang pemuda Mesir yang adalah seorang pelayan orang Amalek. Persediaan bantuan dari orang Mesir ini menunjukkan bahwa rincian sekeliling Daud berada di bawah kedaulatan Allah. Akhirnya, Daud mengalahkan orang Amalek dan menawan tawanannya, menyelamatkan semua yang telah diambil orang Amalek. “Tidak ada yang hilang pada mereka, dari hal yang kecil sampai hal yang besar, sampai anak laki-laki dan anak perempuan, dan dari jarahan sampai segala sesuatu yang telah dirampas mereka: semuanya itu dibawa Daud kembali. Daud mengambil segala kambing domba dan lembu; semuanya itu digiring mereka di hadapannya, serta berkata: Inilah jarahan Daud” (ay. 19-20).

C. Daud Berbagi Jarahan dengan Dua Ratus Orang yang tidak dapat Mengikuti Dia

Daud berbagi jarahan dengan dua ratus orang yang tidak dapat mengikuti dia dalam mengejar orang Amalek (ay. 21-25). Mengenai hal ini Daud berkata, “Sebab, bagian orang yang tinggal di dekat barang-barang adalah sama seperti bagian orang yang pergi berperang; itu akan dibagikan sama-sama” (ay. 24). Sejak hari itu sampai selamanya Daud membuat hal ini menjadi ketetapan dan peraturan bagi orang Israel (ay. 25).

D. Daud Mengirim Hadiah dari Jarahannya kepada Teman-temannya dan Teman-teman Orang-orangnya di Banyak Kota

Akhirnya, menurut ayat 26 sampai 31, Daud mengirim hadiah dari jarahannya kepada teman-temannya dan teman-teman orang-orangnya di banyak kota.

Saya mau mengatakan sekali lagi bahwa kita perlu menghubungkan segala sesuatu dalam pasal ini kepada ekonomi Allah. Semua perkara kecil dalam catatan ini memperlihatkan bahwa Allah bekerja dengan cara yang terperinci untuk melaksanakan ekonomi-Nya. Allah melaksanakan kedaulatan-Nya untuk menolong Daud dari dilemanya. Allah bukan saja melakukan untuk kepentingan Daud tetapi juga bagi kepentingan ekonomi-Nya. Allah melindungi Daud, menjaga dia dalam tangan-Nya, untuk merampungkan ekonomi-Nya. Dalam Matius 1:1 Yesus Kristus di sebut anak Daud. Ini menunjukkan bahwa Daud sangat berhubungan dengan Allah menjadi seorang manusia yang bernama Yesus dan menggenapkan apa yang telah ditentukan pada kekekalan yang lampau. Tanpa Daud tidak akan ada silsilah yang sampai kepada Kristus sebagai Allah menjadi seorang manusia menjadi satu dengan umat manusia. Jika Daud dikalahkan, silsilah Kristus akan diakhiri, dan Allah tidak akan memiliki cara untuk melaksanakan ekonomi-Nya.

Pada poin ini akan membantu untuk menyamakan situasi-situasi Daud dan Saul terhadap akhir 1Samuel. Melalui memerangi orang Amalek Daud mendapat banyak kekayaan rampasan. Sementara dia menjadi kaya, Saul dikalahkan. Daud berkembang, tetapi Saul mengecil, bahkan mati. Jika Saul memiliki pandangan yang tepat berhubungan dengan kerajaan Allah, dia akan memiliki kesadaran terhadap Daud, sebagai seorang petarung yang mahir dan kuat, akan menjadi bantuan yang besar bagi dia untuk mengalahkan orang Filistin untuk membangun kerajaan Allah. Tetapi keegoisan Saul kehilangan persediaan ini dan bahkan sebaliknya menganiaya Daud dan memaksa dia untuk melarikan diri. Namun, di bawah kedaulatan Allah orang yang dianiaya ini menjadi berkembang dan didirikan di tanah permai untuk menikmati bagian Allah. Situasi Daud menjadi semakin terang, sebaliknya situasi Saul semakin gelap, bersama anaknya, dia mati dalam kematian yang tragis.

Akhir hidup Saul yang stragis harus memperingatkan kita untuk tidak bermain-main dengan Allah. Kita seharusnya tidak mencoba membangun segala jenis kerajaan. Kita semua di sini untuk membangun kerajaan, Tubuh Kristus. Dalam pemulihan Tuhan kita tidak banyak melakukan pekerjaan yang terpisah. Bukan perkara di mana kita mungkin berada, kita hanya memiliki satu pekerjaan. Kita seharusnya tidak menjadi Saul hari ini, menganggap hanya pekerjaan dalam agama kita dan mencoba membangun kerajaan bagi kita sendiri.

Kita semua, khususnya para sekerja kita, harus menyadari bahwa kita bukan termasuk dalam pekerjaan kecil. Daud mungkin tidak pernah menyadari bahwa kisahnya sangat berhubungan dengan Allah menjadi seorang manusia untuk menyatukan diri-Nya dengan umat manusia dan hidup di bumi untuk menggenapkan kehendak kekal-Nya. Meskipun begitu, Daud berhubungan dengan silsilah Kristus dalam Matius 1, dan apa yang kita kerjakan hari ini berhubungan dengan Yerusalem Baru dalam Wahyu 21 dan 22. Karena itu, kita harus berkeyakinan bahwa kita milik Allah, bahwa kita di bawah kedaulatan-Nya, dan kita melakukan pekerjaan yang unik, pekerjaan dalam pemulihan Tuhan untuk melaksanakan ekonomi-Nya, yang akan rampung dalam Yerusalem Baru.