SEJARAH MENGENAI DAUD (4)
DIANIAYA DAN DICOBAI OLEH SAUL
(3)
Pembacaan Alkitab: 1Sam. 25:1—28:2
Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut perkara Daud dicobai dan dianiaya oleh Saul.
XVI. SAMUEL MATI
Dalam 25:1a kita diberi tahu bahwa Samuel mati. Seluruh orang Israel meratapi dia, dan mereka menguburkan dia di rumahnya di Rama.
A. Setelah Menikmati Bagiannya yang Penuh dan Tepat atas Tanah Permai yang Dijanjikan Allah
Samuel mati dengan kematian yang damai setelah menikmati bagiannya yang penuh dan tepat atas tanah permai yang dijanjikan Allah. Samuel menikmati tanah permai sepanjang hidupnya. Kenikmatannya atas tanah melebihi orang lain dalam Perjanjian Lama, termasuk Yosua dan Kaleb, yang menghabiskan waktunya berperang untuk mendapatkan negeri itu. Sejak mudanya dalam tabernakel sampai saat kematiannya, Samuel menikmati tanah permai dengan setiap cara dan setiap pengertian.
B. Setelah menjadi Seorang Imam, Nabi, dan Hakim
Samuel menjadi seorang imam, nabi, dan hakim untuk digunakan dalam kerajaan Daud untuk merampungkan ekonomi Allah di bumi. Dia adalah seorang yang membawa masuk jabatan raja, mengurapi Saul dan Daud, dua raja pertama. Karena itu, dia mendirikan kerajaan Allah dan menulis semua peraturan mengenai kerajaan Allah.
C. Kecewa atas Jabatan Raja Saul
Samuel sangat kecewa dengan jabatan raja Saul dan berdukacita karena Saul (15:35). Samuel begitu berdukacita sehingga akhirnya Allah berkata kepadanya, “Berapa lama lagi engkau berdukacita karena Saul? Bukankah ia telah Kutolak sebagai raja atas Israel?” (16:1a).
D. Dengan Dorongan Pengharapan Jabatan Raja Daud
Sekalipun Samuel kecewa dengan jabatan raja Saul, dia mati dengan dorongan pengharapan jabatan raja Daud. Inilah satu kegembiraan bagi dia. Ketika dia mati, dia dijamin berkenaan kerajaan Daud, lambang kerajaan Allah. Saya percaya bahwa seperti Samuel mati dia penuh kenikmatan mengenai hal ini.
XVII. HUBUNGAN DAUD DENGAN NABAL DAN ABIGAIL
Satu Samuel 25:1b-44 adalah catatan hubungan Daud dengan Nabal dan Abigail.
A. Daud Menuntut Bantuan dari Nabal, Menganggap Dirinya Seorang Anak bagi Dia
Dalam ayat 2 sampai 9 Daud menuntut bantuan dari Nabal, seorang kaya. Daud mengutus sepuluh pemuda kepada Nabal, menganjuri mereka untuk mengatakan kepadanya, “Selamat! Selamatlah engkau, selamatlah keluargamu, selamatlah segala yang ada padamu” (ay. 16). Pemuda itu juga mengatakan, “Berikanlah kepada hamba-hambamu ini dan kepada anakmu Daud apa yang ada padamu” (ay. 8). Di sini Daud sangat merendahkan diri, menganggap dirinya seorang hamba dan anak bagi dia.
B. Kebodohan Nabal karena Menolak Permohonan Daud dan karena Dia Menghina Hamba-hamba daud
Dalam kebodohannya, Nabal menolak permohonan Daud dan menghina hamba-hamba Daud. Nabal berkata kepada mereka, “Siapakah Daud? Siapakah anak Isai itu? Pada waktu sekarang ini ada banyak hamba-hamba yang lari dari tuannya. Masakah aku mengambil rotiku, air minumku dan hewan bantaian bagi orang-orang pengguntinganku untuk memberikannya kepada orang-orang yang aku tidak tahu dari mana mereka datang? (ay. 10-11). Ketika hamba-hamba Daud memberi tahu dia apa yang dikatakan Nabal, Daud memerintahkan mereka masing-masing menyandang pedang (ay. 12-13). Kemudian Daud berkata, “Sia-sialah aku melindungi segala kepunyaan orang ini di padang gurun, sehingga tidak ada sesuatu yang hilang dari segala kepunyaannya; ia membalas kebaikanku dengan kejahatan. Beginilah kiranya Allah menghukum Daud, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika kutinggalkan hidup sampai pagi seorang laki-laki sajapun dari semua yang ada padanya” (ay. 21-22).
Perkataan Daud di sini menunjukkan bahwa dia dihina oleh Nabal. Dalam perkara ini Daud tidak lulus ujian. Dia memikul salib di bawah Saul, tetapi dalam salib kecil ini dia gagal. Jika Daud mengambil salib dalam situasi ini, dia dapat memuji Tuhan untuk penolakan Nabal untuk memberikan makanan. Kemudian Allah dapat datang mengilhami Nabal untuk bertobat dan datang kepada Daud dengan kelimpahan makanan. Namun, terhadap Nabal Daud tidak mengambil salib.
Situasi ini seringkali sama dengan kita hari ini. Ini mungkin mudah bagi kita untuk mengatasi dalam memikul salib yang besar, tetapi kita mungkin tidak berhati-hati dalam memikul salib yang kecil. Melalui salib kecil daging disingkapkan.
C. Hikmat Abigail, Istri Nabal, dalam Menenangkan Daud
Dalam pasal ini kita nampak bukan saja kebodohan Nabal tetapi juga hikmat Abigail, istri Nabal, dalam menenangkan Daud (ay. 14-20, 23-25). Dia “Mengambil dua ratus roti, dua buyung anggur, lima domba yang telah diolah, lima sukat bertih gandum, seratus buah kue kismis dan dua ratus kue ara, dimuatnyalah semuanya ke atas keledai” (ay. 18). Ketika dia melihat Daud, dia sujud di depan kakinya dan berkata, “Aku sajalah, ya tuanku, yang menanggung kesalahan itu. Izinkanlah hambamu ini berbicara kepadamu, dan dengarkanlah perkataan hambamu ini. Janganlah kiranya tuanku mengindahkan Nabal, orang yang dursila itu” (ay. 24-25a). Abigail selanjutnya mengatakan kepada Daud mohon mengampuni kesalahannya, dan kemudian dia menutup perkataannya, “Apabila TUHAN melakukan kepada tuanku sesuai dengan segala kebaikan yang difirmankan-Nya kepadamu dan menunjuk engkau menjadi raja atas Israel, maka tak usahlah tuanku bersusah hati dan menyesal karena menumpahkan darah tanpa alasan, dan karena tuanku bertindak sendiri dalam mencari keadilan. Dan apabila TUHAN berbuat baik kepada tuanku, ingatlah kepada hambamu ini” (ay. 30-31).
Daud membalas permohonan Abigail dengan berkat TUHAN, yang mengutusnya untuk bertemu dengan dia, dan juga melalui berkatnya, yang menjaga dia dari masuk ke dalam pertumpahan darah dan kemarahan dirinya melalui tangannya sendiri. Lalu Daud menerima dari tangannya apa yang dibawanya dan berkata kepadanya, “Pulanglah dengan selamat ke rumahmu; lihatlah, aku mendengarkan perkataanmu dan menerima permintaanmu dengan baik” (ay. Ay. 35). Di sini kita nampak bahwa kemarahan Daud ditenangkan oleh hikmat Abigail.
D. Nabal Mati di Bawah Pemukulan Allah
Ketika Abigail memberi tahu Nabal segala perkara itu, “Berhentilah jantungnya dalam dada dan ia membatu. Dan kira-kira sepuluh hari sesudah itu TUHAN memukul Nabal, sehingga ia mati” (ay. 36-38).
E. Daud Menikahi Abigail
Pasal ini ditutup dengan perkataan Daud menikahi Abigail (ay. 39-44). Dia cantik dan berhikmat memikat Daud, dan setelah Nabal mati dia mengambilnya sebagai istrinya. Di sini kita nampak poin kelemahan dalam kehidupan Daud. Dia sama sekali mengatasi dan menang dalam hampir segala sesuatu, tetapi dia lemah dalam perkara sex. Daud mengalahkan singa dan beruang, tetapi dia tidak mengalahkan hawa nafsu sexnya. Akhirnya, kelemahan Daud dan hawa nafsunya mencemari jabatan raja Allah yang kudus. Akar dari kegagalan berlanjut dalam membunuh Uria dan mengambil Betsyeba dinyatakan di sini.
XVIII. TUHAN MENYERAHKAN SAUL KE TANGAN DAUD TETAPI DAUD TIDAK MEMBUNUH DIA KARENA TAKUT AKAN ALLAHNYA BAHWA SAUL YANG DIURAPI ALLAH
Menurut pasal dua puluh enam TUHAN menyerahkan Saul ke tangan Daud, tetapi Daud tidak membunuh dia karena takut akan Allahnya bahwa Saul yang diurapi Allah. Ini menunjukkan bahwa sebelum Daud menjadi raja, dia mendirikan pengaturan dan teladan yang baik memperlihatkan kepada kita bagaimana dalam kerajaan Allah kita seharusnya menghormati ketetapan Allah dan respek dan menganggap otoritas Allah. Karena itu, ketika Daud menjadi raja, segala sesuatu dikepalai.
A. Daud Menyembunyikan Dirinya di Bukit Hakhila
Daud menyembunyikan dirinya di bukit Hakhila, dan Saul dikabari hal ini (ay. 1).
B. Saul Mencari Daud lagi
Saul mencari Daud lagi (ay. 2-4). Dia pergi dengan tiga ratus orang Israel pilihan untuk mencari Daud di padang gurun Zif. Daud mengutus pengintai dan dengan demikian diketahuilah bahwa Saul benar-benar telah datang.
C. TUHAN Menyerahkan Saul ke Tangan Daud, tetapi Daud tidak Membunuhnya
Dalam ayat 5 sampai 16 kita nampak bahwa padahal TUHAN menyerahkan Saul ke tangan Daud, Daud tidak membunuhnya. Saul di sana “berbaring tidur di tengah-tengah perkemahan, dengan tombaknya terpancung di tanah pada sebelah kepalanya, sedang Abner dan rakyat itu berbaring sekelilingnya” (ay. 7). Abisai berkata kepada Daud, “Pada hari ini Allah telah menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu” (ay. 8a). Dia kemudian mendorong Daud untuk membunuh Saul dengan menusuknya dengan tombak ke tanah. Tetapi Daud tidak menghancurkan Saul karena takut akan Allahnya bahwa Saul diurapi Allah (ay. 9-11). Daud berkata kepada Abisai, “Kiranya TUHAN menjauhkan dari padaku untuk menjamah orang yang diurapi TUHAN”(ay. 11a). Sekalipun Daud lemah dalam temperamennya terhadap Nabal dan dalam mengambil Abigail istrinya, dalam hubungannya dengan Saul, Daud sangat berhasil.
D. Permohonan Daud kepada Saul
Ayat 17 sampai 20 memperhatikan permohonan Daud kepada Saul. Ketika Saul mengenal suara Daud, Daud menjawab dia, “Mengapa pula tuanku mengejar hambanya ini? Apa yang telah kuperbuat? Apakah kejahatan yang melekat pada tanganku?” (ay. 18).
1. Memohon Saul untuk tidak Menghalau Dia sehingga Dia tidak dapat Berbagian dalam Kekayaan TUHAN
Daud memohon Saul untuk tidak menghalau dia sehingga dia tidak dapat berbagian dalam kekayaan TUHAN, tanah permai, untuk pergi melayani allah lain (ay. 19b-20). Daud menganggap bahwa tetap tinggal di tanah permai adalah berkat terbesar. Dihalau dari tanah permai dan pergi ke negeri lain untuk melayani allah lain adalah kutuk. Melalui hal ini kita dapat nampak nahwa kitab ini berdasarkan kenikmatan tanah permai, yaitu, menikmati Kristus.
2. Mengumpamakan Dirinya dengan Seekor Kutu dan Seekor Ayam Hutan di Gunung-gunung
Dalam permohonannya kepada Saul, Daud mengumpamakan dirinya dengan seekor kutu dan seekor ayam hutan di gunung-gunung (ay. 20b).
E. Pertobatan Saul
Sekalipun Saul jahat, dia masih insani dan terjamah oleh perkataan Daud dan bertobat (ay. 21-25).
1. Mengakui bahwa Dia Telah Berdosa
Saul mengakui bahwa dia telah berdosa, bertindak dengan bodoh, dan membuat kesalahan yang besar (ay. 21).
2. Memberkati Daud dengan Mengatakan bahwa Daud akan Melakukan Sesuatu yang Besar dan Sanggup Melakukannya
Saul berkata kepada Daud, “Diberkatilah kiranya engkau, anakku Daud. Apa juapun yang kauperbuat, pastilah engkau sanggup melakukannya” (ay. 25). Namun, Saul tidak mengatakan sesuatu tentang jabatan raja dan kerajaan, karena dia masih menginginkan anaknya Yonatan untuk menggantikan dia sebagai raja.
XIX. DAUD MELARIKAN DIRI DAN TINGGAL DI NEGERI FILISTIN
A. Melarikan Diri ke Akhis Raja Gat
“Daud berpikir dalam hatinya; Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya” (27:1). Setelah menyadari hal ini, Daud dan orang-orangnya menyeberang ke Akhis (ay. 2-3).
B. Saul Menghentikan untuk Mencari Daud
Karena Daud telah melarikan diri ke negeri Filistin, Saul menghentikan untuk mencari dia (ay. 4). Saul merasa bahwa dia damai karena Daud telah meninggalkan tanah kudus. Ini menunjukkan bahwa Daud bertindak benar dalam hal meninggalkan tanah kudus untuk sementara waktu.
C. Tinggal di Ziklag
Daud tinggal di Ziklag (27:5—28:2). Menurut ayat 7 dia tinggal di negeri Filistin setahun empat bulan. Selama waktu itu dia menyerang dan menghancurkan orang Gesur, orang Girzi, dan orang Amalek, tetapi dia berpura-pura di hadapan Raja Akhis bahwa dia menyerang bagian selatan Yehuda (ay. 8-12).
D. Akhis Menjadikan Daud Pengawal Hidupnya
Dalam 28:1-2 kita diberi tahu bahwa Akhis menjadikan Daud pengawal hidupnya.