KEDAULATAN ALLAH DAN PELAJARAN-PELAJARAN SALIB YANG DIAMBIL DAUD
Pembacaan Alkitab: 1Sam. 18—24
Saya mengasihi kitab 1dan 2Samuel karena mereka berisi banyak kisah yaitu ilustrasi-ilustrasi dari pelajaran yang riil dalam kehidupan. Dalam bagian yang panjang ini memperhatikan penganiayaan dan pencobaan Daud oleh Saul, ada dua poin mencolok, kedaulatan Allah dan Daud mengambil pelajaran salib. Bebanku dalam berita singkat ini untuk membicarakan perkataan yang berhubungan dengan dua poin ini.
KEDAULATAN ALLAH
Poin mencolok pertama dalam bagian 1dan 2Samuel ini adalah kedaulatan Allah. Hal ini penting bagi kita untuk memiliki visi kedaulatan Allah. Sebagai Sang berdaulat, Allah di atas segala sesuatu, di balik segala sesuatu, dan di dalam segala sesuatu.
Mempersiapkan Saul untuk Menyempurnakan Daud
Di satu pihak, Allah menyiapkan Daud menjadi seorang yang menurut hati Allah bagi kerajaan-Nya. Di pihak lain, Allah menyiapkan Saul untuk menyempurnakan Daud melalui menguji dia dan meletakkan dia kepada pencobaan. Saul dihasilkan dan dipersiapkan melalui kedaulatan Allah. Tanpa Saul, Daud memiliki kekurangan yang besar dalam penyempurnaan. Ayah dan saudara-saudara Daud tidak begitu memperhatikan. Daud menerima saja pembatasan penyempurnaan melalui pengalamanya dengan singa dan beruang. Bagian terbesar penyempurnaan Daud terjadi melalui Saul. Di bawah kedaulatan Allah, Saul adalah penyempurna yang terbaik.
Menyiapkan Yonatan dan Mikhal untuk Membantu Daud
Dalam kedaulatan-Nya Allah bukan saja menyiapkan Saul untuk menyempurnakan Daud tetapi juga menyiapkan Yonatan, anak Saul, dan Mikhal, anak perempuan Saul yang menjadi istri Daud, untuk membantu Daud. Terpisah dari bantuan yang diberikan oleh Yonatan dan Mikhal, Daud tidak akan dapat tahan dalam penganiayaan dan pencobaan Saul. Kedaulatan Allah mempersiapkan Daud, dan untuk kepentingan Daud, Dia juga menyiapkan Saul, Yonatan, dan Mikhal.
PELAJARAN-PELAJARAN SALIB YANG DIAMBIL DAUD
Poin mencolok kedua dalam bagian 1Samuel adalah Daud mengambil pelajaran salib.
Senantiasa di Bawah Salib
Sekalipun Daud sangat dianiaya dan menderita, dia tidak pernah melawan, bereaksi, atau merespon. Istilah yang digunakan Perjanjian Baru, dia senantiasa di bawah salib. Dia memikul salib setiap hari di bawah setiap situasi. Dia tidak mengeluh, mengkritik, melawan, atau mengutuk. Dia hanya di bawah salib untuk mengalami pemberesan.
Kristus di dalam Kita menjadi Seorang yang Memikul Salib
Perjanjian Baru membicarakan memikul salib, tetapi siapa yang dapat melakukan hal ini? Filipi 3:10 menunjukkan bahwa yang menguatkan kita untuk memikul salib adalah kuat kuasa kebangkitan Kristus. Kita memiliki Dia yang bukan saja kuat kuasa kebangkitan, kita memiliki Dia yang diri-Nya sendiri adalah kebangkitan (Yoh. 11:25). Dia adalah Yonatan dan Mikhal kita. Dia lebih besar dari pada Yonatan dan Mikhal, dan Dia dekat dengan kita. Kita memiliki Kristus yang ada di dalam kita. Sementara kita memikul salib, sebenarnya kita bukan orang yang melakukan hal ini. Kristus yang di dalam kita yang adalah Dia yang memikul salib.
Dalam Perjanjian Baru ada dua “di dalam” yang penting. Perjanjian Baru mewahyukan penekanan faktanya, di satu pihak, Kristus ada di dalam kita (Rm. 8:10; 2Kor. 13:5; Gal. 2:20; 4:19; Kol. 1:27) dan di pihak lain, kita berada di dalam Kristus (Yoh. 14:20; 15:4; Rm. 6:3; 1Kor. 1:30; 2Kor. 5:17; 12:2; Gal. 3:27-28). Alangkah ajaibnya yaitu kita ada di dalam Kristus dan Kristus ada di dalam kita! Nuh dan keluarganya memasuki bahtera, lambang Kristus, mengilustrasikan bahwa Kristus hari ini dapat dimasuki. Meskipun demikian, ilustrasi ini terbatas, karena sekalipun Nuh dapat masuk ke dalam bahtera, bahtera tidak masuk ke dalam Nuh. Karena itu kita harus melanjutkan melihat bahwa Kristus bukan saja Dia yang dapat dimasuki, Dia juga adalah Yang memasuki, Dia yang telah masuk ke dalam kita hidup di dalam kita dan memikul salib di dalam kita.
Persediaan Allah
Daud mengambil pelajaran-pelajaran Salib, dia menikmati persedian Allah. Yonatan adalah lambang Kristus sebagai persediaan Allah, dan Mikhal juga melambangkan persediaan Allah. Kita telah nampak bahwa ketika Daud dianiaya oleh Saul, dia tidak bereaksi dengan cara yang negatif, dan dia tidak mengeluk, mengutuk, mengkritik, atau menentang. Dia hanya melarikan diri. Sebagai persediaan Allah kepada Daud, Yonatan dan Mikhal membantu Daud untuk melarikan diri. Tanpa mereka, Daud tidak dapat jalan untuk melarikan diri dari Saul (1Sam. 20:1-42; 19:11-18). Akhirnya, Daud “berhasil” dari pencobaannya di bawah Saul. Jika Allah telah membuat Daud berhasil, Dia sebenarnya akan memberikan dia penghargaan terbesar.
Daud adalah Pendapat dan Penikmat
Di bawah kedaulatan Allah, Daud mengambil pelajaran salib. Karena hal ini Daud akhirnya tidak kehilangan malahan mendapatkan, bukan seorang penderita tetapi seorang penikmat. Padahal Daud menjadi pemenang, Saul adalah orang yang kehilangan dan penderita.
Situasinya sama dengan kita hari ini. Kita perlu belajar dua pelajaran vital, pelajaran kedaulatan Allah dan pelajaran mengambil salib dengan kuat kuasa kebangkitan. Jika kita dapat menjadi tenang, tinggal dalam satu situasi di bawah salib, kita mungkin sepertinya orang yang kehilangan dan menderita, tetapi sebenarnya kita orang yang mendapatkan dan menikmati. Terlebih kita belajar pelajaran kedaulatan Allah dan mengambil salib, terlebih kita akan menjadi orang yang mendapatkan dan menikmati.
MEMBACA 1 DAN 2 SAMUEL DENGAN PANDANGAN EKONOMI ALLAH
Kita perlu membaca kitab 1dan 2Samuel dengan pandangan ekonomi Allah. Khususnya, kita perlu memiliki pandangan seorang yang nampak kedaulatan Allah dan yang telah menerima kasih karunia untuk menderita di bawah salib sementara menikmati segala persediaan yang sanggup melalui Allah Tritunggal yang telah melalui proses dan rampung, Bapa, Putra, dan Roh itu.
Dalam Perjanjian Baru kita memiliki wahyu sejati, tetapi kita tidak banyak memiliki ilustrasi. Meskipun demikian, kitab-kitab sejarah dalam Perjanjian Lama, khusunya 1dan 2Samuel, berisi banyak kisah yang sebenarnya adalah ilustrasi-ilustrasi dari wahyu Perjanjian Baru. Ada banyak pelajaran yang kita tidak dapat pelajari dengan memadai tanpa ilustrasi-ilustrasi ini. Kita membaca kisah-kisah dalam kitab-kitab ini, kita perlu berdoa dengan Paulus bahwa “Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu,” akan memberikan kita “roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar.” (Ef. 1:17). Jika kita memiliki roh yang demikian, kemudian dalam catatan mengenai pencobaan Daud di bawah Saul kita akan nampak Allah Tritunggal, salib Kristus, dan kuat kuasa kebangkitan-Nya.