← Daftar isi Wahyu (2) · bab 9/16

ANAK MANUSIA DI TENGAH GEREJA-GEREJA

Dalam Wahyu 1 ada delapan butir penting: wahyu Kristus; kesaksian Yesus; Allah Tritunggal; kedatangan kembali Kristus; ikut serta dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan dalam Yesus; gereja-gereja lokal; kaki pelita; dan Anak Manusia. Setelah membahas ketujuh butir yang pertama, dalam berita ini sampailah kita ke butir yang ke-delapan — Anak Manusia di tengah-tengah gereja-gereja (1:12-20). Dalam kitab ini, Kristus pertama-tama diwahyu-kan sebagai Anak Manusia. Setiap kali disinggung tentang hubungan Kristus dan gereja, Ia diwahyukan dalam sifat insani-Nya, karena gereja tersusun dari manusia. Kepala gereja bukan hanya sebagai Anak Allah, tetapi juga Anak Manusia. Setelah kenaikan-Nya, Tuhan tetap sebagai Anak Manusia. Hal ini menyatakan bahwa Ia tidak menanggalkan sifat insani-Nya setelah kebangkitan-Nya, dan Ia menang-gulangi kita berdasarkan keinsanian-Nya. Dalam keinsani-an-Nya, Ia bersaksi bagi Allah dengan penuh kemenangan dan sukses. Hari ini kita, gereja-gereja, dalam keinsanian juga bisa bersaksi bagi Allah dengan penuh kemenangan dan sukses. Tuhan telah menang sebagai seorang manusia, dan kita pun bisa menjadi orang yang menang.

Hari ini Kristus berada di antara gereja-gereja. Di satu aspek, sebagai Imam Besar, Kristus bersyafaat di atas sur-ga (segala langit) untuk gereja-gereja (Ibr. 9:24; 7:25-26; Rm. 8:34), di aspek lain, Dia juga berjalan di antara gereja-gereja, merawat gereja-gereja. Untuk berbagian dalam per-gerakan-Nya dan menikmati perawatan-Nya, kita harus berada di dalam gereja.

I. DALAM KEINSANIAN-NYA

Ayat 13 mangatakan, “Di tengah-tengah kaki pelita itu ada seorang serupa Anak Manusia, berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki, dan dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas.” Di sini, Kristus tidak hanya digam-barkan sebagai Imam Besar, seperti yang terlihat dari ju-bah-Nya, tetapi juga menyingkapkan bahwa Dia seperti Anak Manusia. Dia adalah Allah, juga manusia. Sebagai Imam Besar kita, Dia merawat gereja-gereja dalam sifat keinsanian-Nya.

Sepanjang abad, ada orang-orang yang mengaku sebagai orang Kristen namun mengajarkan bahwa Kristus bukan Anak Allah. Bahkan hari ini pun ada sekelompok orang yang menyebut diri mereka orang Kristen, namun tidak percaya bahwa Kristus adalah Anak Allah. Tidak mengakui Kristus adalah Anak Allah adalah bidah. Ajaran seperti itu berasal dari Iblis dan neraka, kita harus dengan tegas menentangnya, tanpa kompromi. Sebagian orang Kristen, malahan sebaliknya, tidak percaya bahwa hari ini Kristus tetap adalah Anak Manusia. Mereka berkata bahwa Kristus memang menjadi seorang manusia melalui inkarnasi, tetapi dalam kebangkitan-Nya, Ia telah menanggalkan keinsanian-Nya. Orang-orang Kristen itu berpendapat bahwa hari ini Kristus hanyalah Anak Allah, bukan lagi Anak Manusia. Ketika kurang lebih lima belas tahun yang lalu saya me-nentang konsepsi ini, sebagian orang malah balik menen-tang saya. Mereka berkata bahwa ajaran yang mengatakan Kristus tetap adalah Anak Manusia sangatlah keliru. Mes-kipun sebagian orang Kristen tidak percaya kalau hari ini Kristus tetap adalah Anak Manusia, kita mempercayainya. Menurut firman murni, Tuhan Yesus tetap adalah Anak Allah pun Anak Manusia. Kita tidak mampu menerangkan hal ini secara memadai karena pikiran kita sangat terba-tas. Namun, kita percaya dan menerima fakta bahwa Kristus kita adalah Anak Allah dengan keilahian-Nya, juga Anak Manusia dengan keinsanian-Nya. Di dalam Dia kita memi-liki keilahian yang sejati dan keinsanian yang tepat.

Selama 19 abad yang lalu, khususnya selama 6 abad yang pertama, Kristologi merupakan satu subyek yang me-mancing satu perdebatan yang hebat di antara orang-orang Kristen. Mengenai persona Kristus terdapat berbagai opini, sehingga timbullah berbagai pertentangan di antara orang Kristen. Kita harus membuang semua yang disebut aliran-aliran teologis. Menurut Alkitab, kita yakin bahwa Kristus kita benar-benar Anak Allah, juga Anak Manusia. Ia mem-punyai dua sifat, ilahi dan insani.

Ketika Kristus datang berurusan dengan kita di dalam gereja-gereja, Ia melakukannya bukan hanya di dalam ke-ilahian-Nya, tetapi juga di dalam keinsanian-Nya. Anda mungkin memaafkan diri dan mengira Tuhan dapat melakukan semuanya ini karena Ia adalah Anak Allah, te-tapi karena Anda seorang manusia, maka Tuhan harus bersimpati kepada Anda. Sebagai Anak Allah, Tuhan sangat mampu, tetapi Anda, hanyalah seorang manusia, yang ka-sihan, karena itu Tuhan tidak seharusnya menghukum An-da terlalu berat. Tetapi Ia datang kepada kita sebagai Anak Manusia, ini membuat Anda tidak mempunyai alasan lagi. Ia juga adalah seorang manusia dan dijadikan seperti seorang manusia, bukan sebagai Anak Allah. Jangan selalu beralas-an. Jika Anda menderita kekalahan dan kegagalan dalam hidup gereja, janganlah Anda memaafkan diri sendiri dan mengeluarkan berbagai alasan bahwa Anda hanyalah seorang manusia. Manusia justru adalah bahan yang tepat untuk hidup gereja. Jadi, di tengah-tengah gereja-gereja, Kristus berjalan sebagai Anak Manusia. Dalam Daniel 3 dikatakan bahwa Anak Allah sedang berjalan-jalan di dalam api, tetapi dalam Wahyu 1 kita nampak bahwa Anak Manusia sedang berjalan di tengah-tengah gereja-gereja. Kita semua harus menyembah-Nya sebagai Anak Manusia. Karena Ia adalah manusia juga Allah, Ia adalah persona yang menakjubkan. Karena Ia adalah manusia juga Allah, Ia memahami surga dan bumi, Allah dan manusia. Di dalam Dia, kita memiliki keilahian dan keinsanian. Di dalam Dia, kita berada di sur-ga dan juga di bumi. Hari ini Tuhan berada di surga juga di bumi, di dalam keinsanian-Nya, berjalan di tengah-tengah gereja-gereja lokal.

II. SEBAGAI IMAM

Ayat 13 mengatakan bahwa Kristus “berpakaian jubah yang panjangnya sampai di kaki.” Jubah di sini adalah jubah imam (Kel. 28:33-35), melambangkan kepenuhan atri-but ilahi dan kebajikan insani Kristus (lihat Yes. 6:1, 3). Meskipun istilah “imam” tidak disebut di sini, namun mela-lui kata “jubah”, kita mengetahui bahwa di sini Kristus dilukiskan sebagai Imam Besar. Hari ini, Anak Manusia, Yesus Kristus, yang sedang berjalan di tengah-tengah ge-reja, adalah seorang Imam. Di antara ketiga jabatan yang ada: imam, nabi, dan raja; jabatan yang paling akrab, ka-rib, berharga, dan menarik adalah jabatan imam. Imam sangat manis dan menarik, karena ia merawat orang ba-nyak. Ketika Kristus berjalan di tengah gereja-gereja, Ia selalu merawat dan memelihara gereja-gereja.

III. TIDAK BEKERJA DENGAN KEKUATAN,

MELAINKAN MERAWAT GEREJA

DI DALAM KASIH

Ayat 13 berkata bahwa Kristus, Anak Manusia, “dada-Nya berlilitkan ikat pinggang dari emas”. Pernahkah Anda melihat orang yang dadanya berlilitkan ikat pinggang dari emas? Hal ini sangatlah bermakna. Imam-imam dalam Per-janjian Lama, berlilitkan ikat pinggang pada pinggangnya ketika mereka bertugas (Kel. 28:4). Dalam Daniel 10:5, Kristus pun berikat pinggang emas. Tetapi di sini, sebagai Imam Besar kita, Kristus memakai ikat pinggang pada da-danya. Dada melambangkan kasih. Pinggang berlilitkan ikat pinggang adalah memperoleh tambahan kekuatan untuk be-kerja, sedangkan dada berlilitkan ikat pinggang melam-bangkan perawatan dalam kasih. Kristus telah merampung-kan pekerjaan menghasilkan gereja. Kini Dia tidak perlu berikat pinggang lagi untuk bekerja. Yang dikerjakan-Nya di antara gereja-gereja adalah merawat mereka di dalam kasih. Untuk ini dada-Nya perlu berlilitkan ikat pinggang emas. Ikat pinggang emas melambangkan kekuatan ilahi. Kristus terus bergerak di dalam gereja-gereja untuk mera-wat mereka dalam keinsanian-Nya dan dengan kekuatan keilahian-Nya. Betapa besar kasih pemeliharaan (perawatan) yang dilakukan-Nya atas gereja-gereja-Nya pada zaman ini!

IV. KEPURBAAN-NYA

Ayat 14 mengatakan bahwa, “Kepala dan rambut-Nya putih seperti bulu domba, seputih salju dan mata-Nya ba-gaikan nyala api.” Rambut putih menandakan lanjut umur-nya (Ayb. 15:10). Kitab Kidung Agung 5:11 menggambarkan rambut-Nya hitam, melambangkan kekuatan-Nya yang ke-kal dan tidak layu untuk selama-lamanya, tetapi lukisan rambut putih di sini menunjukkan kepurbaan-Nya.

Sekalipun Kristus itu purba, namun Ia tidak tua. Da-lam pasal ini kita nampak bahwa kepala dan rambut-Nya putih bagaikan bulu domba dan seperti salju. Bulu domba yang putih dihasilkan dari hayat, dan salju yang putih tu-runnya dari langit. Bulu domba itu tidak dibuat menjadi putih; melainkan asalnya memang putih, warna putihnya berasal dari alam. Bulu domba yang putih merupakan war-na sifat Kristus. Kepurbaan-Nya adalah sifat-Nya. Salju itu putih karena salju berasal dari langit dan tidak mengan-dung kecemaran atau noda yang berasal dari bumi. Karena itu, putih seperti bulu domba pada ayat ini dan Daniel 7:9 melambangkan bahwa kepurbaan Kristus berasal dari sifat-Nya, bukan karena Ia menjadi tua; sedangkan putih seperti salju melambangkan bahwa kepurbaan-Nya bersifat surgawi, bukan bumiah.

V. DENGAN MATA YANG MEMPERHATIKAN,

MENGAMATI, MENYELIDIKI,

MENGHAKIMI, DAN MENGINFUS

Dalam ayat 14 kita nampak “Mata-Nya bagaikan nyala api”. Dalam Kidung Agung 5:12, mata Kristus bagaikan merpati, untuk memperlihatkan kasih-Nya. Di sini, “mata-Nya” bagaikan nyala api, untuk menyelidiki dan memeriksa, agar Ia dapat melaksanakan penghakiman-Nya melalui pe-nyorotan. Dalam kitab ini, mata-Nya bukan dua, melainkan tujuh (5:6). Tujuh adalah angka yang lengkap dalam perge-rakan Allah. Karena itu, dalam kitab ini mata-Nya adalah untuk pekerjaan Allah. Ketujuh mata-Nya ialah ketujuh pe-lita (lihat Dan. 10:6), yang menyala-nyala di depan takhta, dan ketujuh pelita ini adalah ketujuh Roh Allah (4:5). Api yang menyala-nyala sama dengan nyala api, adalah untuk menyelidiki dan memeriksa. Ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi (5:6), juga untuk pergerakan Allah di bu-mi. Karena itu, dalam kitab ini, mata Kristus adalah ketu-juh Roh Allah, untuk pergerakan dan pekerjaan Allah di bumi pada hari ini.

Mata Kristus untuk memperhatikan, mengamati, menyelidiki, menghakimi melalui penyorotan, dan penginfusan. Kita harus mengalami berbagai aspek mata-Nya, terutama aspek penginfusan. Mata-Nya menginfus kita dengan semua apa adanya Dia. Mata-Nya yang menginfus adalah nyala api yang terus-menerus menyala-nyala. Hal ini dapat dibuktikan melalui pengalaman kita. Jangan memakai pikiran Anda untuk memahami hal ini, tetapi ujilah de-ngan pengalaman Anda. Sejak kita beroleh selamat, mata Kristus seperti api yang menyala-nyala menyoroti dan menginfus kita. Mata-Nya juga membangkitkan kita se-hingga menjadi membara. Setelah Kristus memandang kita, kita tidak mungkin tetap dingin seperti sebelumnya. Me-lalui memandang kita, Ia membakar dan mengobarkan kita dalam Tuhan. Sering kali Tuhan datang kepada kita dengan mata-Nya yang bisa menembus. Boleh jadi ketika kita men-coba menyembunyikan sesuatu dari istri kita, Tuhan da-tang dengan ketujuh mata-Nya, menyoroti dan menembus diri kita dan mengungkapkan keadaan kita yang sesung-guhnya. Saya telah mengalami hal semacam ini ratusan kali. Ketika saya berbantahan dengan orang lain, terutama dengan orang yang paling akrab dengan saya, mata Kristus menyoroti saya, dan saya tidak mampu berbicara lagi. So-rotan-Nya membungkam mulut saya.

Kitab Wahyu adalah sebuah kitab yang mengandung sifat penghakiman. “Api” adalah untuk penghakiman ilahi (1 Kor. 3:13; Ibr. 6:8; 10:27). “Allah kita adalah api yang menghanguskan” (Ibr. 12:29); takhta-Nya adalah nyala api, rodanya adalah api yang berkobar-kobar; dari hadapan-Nya ada api seperti sungai yang timbul dan mengalir (Dan. 7:9-10). Semuanya ini untuk menghakimi. Mata Tuhan yang seperti nyala api terutama untuk penghakiman (2:18-23; 19:11-12). Ketika Dia datang untuk mengambil alih bumi dengan melaksanakan penghakiman terhadap bumi, kedua kaki-Nya bagaikan tiang api (10:1).

VI. KAKI YANG TERUJI DAN MENGKILAP

Ayat 15 mengatakan, “Kaki-Nya mengkilap bagaikan tembaga membara di dalam perapian.” Kaki melambangkan perilaku. Dalam perlambangan, tembaga melambangkan penghakiman ilahi (Kel. 27:1-6). Ketika Kristus berada di bumi, pergerakan-Nya di bumi dan kehidupan-Nya sehari-hari telah melewati pencobaan dan pengujian. Karena peri-laku-Nya telah melewati pengujian, maka bisa berkilauan. Kini kaki Kristus seperti kilau tembaga yang digilap, se-perti yang juga disebutkan dalam Yehezkiel 1:7 dan Daniel 10:6, menandakan perilaku-Nya sempurna, bahkan berki-lauan, sehingga Ia layak melaksanakan penghakiman ilahi. “Membara di dalam perapian” berarti menerima pengujian melalui pembakaran. Perilaku Kristus telah teruji oleh pen-deritaan-Nya, bahkan oleh kematian-Nya di atas salib. Ka-rena itu, perilaku-Nya berkilauan, seperti kilau tembaga yang mengkilap, membuatnya layak menghakimi orang yang lalim. Seperti yang telah kita tunjukkan, ketika Dia datang untuk mendapatkan bumi ini melalui penghakiman, kedua kaki-Nya bagaikan tiang api (10:1).

VII. SUARA YANG SERIUS DAN BERWIBAWA

Ayat 15 juga mengatakan bahwa “suara-Nya bagaikan desau air bah”. Desau air bah adalah semacam suara yang gemuruh, adalah suara Allah Yang Mahakuasa (Yeh. 1:24; 43:2). Ini melambangkan keseriusan dan kewibawaan perka-taan Allah (10:3). Kadang kala suara Tuhan itu lembut dan ramah, tetapi kadang kala suara-Nya seperti guntur dan mengejutkan kita. Bila kita teledor atau mengantuk, suara Tuhan akan membangunkan kita. Suara-Nya, suara Allah Yang Mahakuasa, memperingatkan kita dan membangunkan kita.

VIII. MEMEGANG PARA UTUSAN

GEREJA-GEREJA

Ayat 16 mengatakan, “Di tangan kanan-Nya Ia meme-gang tujuh bintang.” Ayat 20 membuatnya lebih jelas, “Ke-tujuh bintang itu ialah malaikat (utusan) ketujuh jemaat.” Para utusan ialah orang-orang rohani dalam gereja-gereja, orang-orang yang memikul tanggung jawab “kesaksian Yesus”. Mereka seharusnya seperti bintang-bintang, mem-punyai sifat surgawi, dan berada di atas kedudukan surga-wi. Dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Kirim-an, penatua adalah pemimpin dalam mengelola gereja lokal (Kis 4:23; 20:17; Tit. 1:5). Jabatan penatua sedikit banyak bersifat resmi, sampai saat kitab ini ditulis, jabatan-jabatan di dalam gereja telah berubah mutu karena kemerosotan gereja. Dalam kitab ini, Tuhan menghendaki kita menengok kembali guna memperhatikan realitas rohani. Sebab itu, kitab ini menekankan utusan gereja melebihi penatua. Ja-batan penatua mudah sekali diketahui oleh orang, tetapi kaum beriman perlu nampak pentingnya utusan mempu-nyai realitas rohani dan surgawi, sehingga hidup gereja yang wajar bisa menjadi kesaksian Yesus pada masa kege-lapan kemerosotan gereja.

Kaki pelita dan bintang adalah untuk memancarkan cahaya di dalam kegelapan malam. Kaki pelita, yang me-wakili gereja lokal, adalah satuan yang korporat, sedangkan bintang yang mewakili utusan gereja lokal, adalah satuan individual. Dalam kegelapan malam kemerosotan gereja, diper-lukan penyinaran gereja yang korporat dan utusan individual. Sewaktu Kristus berjalan di tengah-tengah gereja-gereja, Ia memegang orang-orang yang memimpin di tangan kanan-Nya. Betapa menhiburnya hal ini! Orang-orang yang memim-pin seharusnya memuji Dia karena mereka ada di dalam tangan-Nya dan Ia memegang mereka. Karena orang-orang yang memimpin berada di dalam tangan-Nya, maka mereka tidak perlu kecil hati, lemah atau pun takut keliru. Kristus benar-benar bertanggung jawab untuk kesaksian-Nya.

Dalam Kitab Wahyu tidak disinggung penatua di da-lam gereja, yang ada adalah para utusan. Pada saat kitab ini ditulis, gereja telah merosot. Karena itu, dalam Kitab Wahyu, Tuhan telah mengesampingkan semua formalitas. Menjadi seorang penatua mungkin agak resmi, karena itu jangan mengharapkan menjadi seorang penatua, jadilah se-buah bintang yang bersinar. Jangan menjadi orang yang hanya memiliki kedudukan, jadilah sebuah bintang yang bersinar. Kaki pelita dan bintang bersinar di waktu malam. Gereja dan orang-orang yang memimpin dalam gereja ha-ruslah bersinar. Semua orang yang memimpin harus men-jadi bintang-bintang.

IX. DARI MULUTNYA KELUAR

FIRMAN YANG MENGHAKIMI

Ayat 16 memberi tahu kita, “Dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua.” Kidung Agung 5:16, mengatakan, “Kata-kata-Nya (mulut-Nya) manis semata-mata,” dan dalam kitab Injil dikatakan bahwa “kata-kata anugerah keluar dari mulut-Nya” (Luk. 4:22); tetapi di sini dikatakan, “Dari mulut-Nya keluar sebilah pedang tajam bermata dua.” Inilah perkataan Kristus yang memisahkan (membedakan) menghakimi, dan membunuh (Ibr. 4:12; Ef. 6:17). Kata-kata anugerah adalah untuk menyuplaikan anu-gerah kepada orang yang diperkenankan-Nya, sedangkan pedang tajam bermata dua adalah untuk menanggulangi manusia, perkara, dan benda yang negatif. Kita sering me-ngatakan bahwa Roh itu berbicara kepada gereja-gereja. Ingatlah, Roh yang berbicara hari ini tidak lain adalah Kristus yang dari mulut-Nya keluar sebilah pedang ber-mata dua ini. Di sini ada penghakiman, dan kita semua te-lah mengalami hal ini. Karena kemerosotan gereja, kita se-mua perlu mengalami penghakiman. Hari ini, semua orang Kristen perlu dihakimi Tuhan melalui firman-Nya. Sering kali kita mengalami penghakiman ini karena kesalahan yang kita perbuat dan karena kita meninggalkan Tuhan. Karena kita mengembara, meninggalkan Dia, maka Dia datang menghakimi kita. Pembicaraan-Nya hari ini teruta-ma merupakan suatu penghakiman. Saya bisa bersaksi kepada Anda bahwa jika Tuhan ingin berbicara kepada ki-ta, kebanyakan kata-kata-Nya itu bersifat menghakimi. Ketika berbicara, Ia menghakimi. Setiap kata yang keluar dari mulut-Nya di dalam gereja hari ini, seperti sebilah pi-sau tajam yang menghakimi kita. Kata-kata yang keluar dari mulut Tuhan adalah tajam, menusuk amat dalam, me-misahkan jiwa kita dari roh kita, dan membedakan maksud hati kita. Inilah Kristus yang kita alami hari ini dalam hidup gereja.

Dalam kekristenan, terdapat banyak opini dan karenanya sering timbul perdebatan dan pertengkaran. Saya telah melihat sendiri hal itu. Saya tahu sebuah kasus dari seba-gian orang Kristen yang melayani sebagai anggota majelis. Pernah sekali, ketika mereka berhimpun bersama, mereka berdiskusi dan berdebat, tetapi akhirnya perdebatan itu ber-ubah menjadi pertengkaran. Pada suatu kesempatan, salah seorang anggota majelis bahkan melemparkan Alkitab kepa-da anggota majelis lainnya. Tetapi dalam pemulihan Tuhan hari ini, kita mempunyai Seorang yang berjalan di tengah-tengah kita. Ia mengawasi kita dengan ketujuh mata-Nya yang menyala-nyala, dan dari mulut-Nya keluar sebilah pe-dang tajam bermata dua. Pedang itu akan membunuh ber-bagai konsepsi yang ada di antara kita. Itulah sebabnya da-lam gereja hampir tidak pernah ada perdebatan.

Baru-baru ini, kami menyelesaikan balai sidang di Anaheim. Kami bisa bersaksi, selama bulan-bulan pekerja-an pembangunan itu berlangsung, kami tidak pernah ber-tengkar satu sama lain. Salah seorang penilik kota mem-beri tahu kami bahwa menurut pengalamannya, bila satu bangunan gereja mulai didirikan, panitia pembangunan mulai bertengkar satu sama lain. Kami bisa bersaksi ke-pada penilik itu, karena pedang pembunuh itu, kami tidak bertengkar satu sama lain. Ini bukan berarti kami tidak mempunyai konsepsi atau opini. Kami adalah manusia, dan mempunyai banyak opini. Tetapi, seperti yang bisa kami persaksikan, setiap kali satu opini muncul, pedang itu me-motongnya hingga hancur berkeping-keping. Semakin Anda memikirkan opini Anda, Anda akan semakin dikerat. Ini bu-kan satu doktrin, inilah pengalaman kami. Bila dua orang saudara hampir bertengkar, maka orang ketiga, orang yang paling kuat, muncul, menggunakan pedang yang tajam untuk memotong semua opini kedua saudara itu. Sewaktu kami mendirikan balai sidang, pedang bermata dua meng-akhiri semua kekacauan yang ada. Orang ketiga ini adalah Kristus, Anak Manusia yang sebagai Imam Besar, berjalan di antara gereja-gereja dan memelihara gereja-gereja dalam kasih. Dalam Perjanjian Lama, para imam perlu membe-nahi lampu-lampu. Hari ini Imam kita, Anak Manusia, mengetahui waktu yang tepat untuk membenahi kita. Itu-lah sebabnya kita mengalami keharmonisan. Inilah rahasia hidup gereja yang tidak bisa dipahami oleh orang luar, ka-rena mereka tidak mempunyai Imam yang membenahi, merapikan pelita-pelita. Hari ini Imam Besar ini sedang berjalan di antara gereja-gereja untuk memelihara mereka melalui membenahi semua pelita.

X. DENGAN WAJAH YANG BERSINAR-SINAR

Dalam ayat 16 juga dikatakan bahwa “wajah-Nya ber-sinar-sinar bagaikan matahari yang terik.” Dalam Kidung Agung 5:10 dan 13, wajah-Nya elok menawan, untuk di-apresiasi oleh orang yang mencari-Nya; dalam Surat-surat Kiriman, wajah-Nya memantulkan kemuliaan Allah (2 Kor. 4:6), untuk menyuplaikan hayat ke dalam kaum beriman-Nya. Tetapi di sini, wajah-Nya bersinar bagaikan matahari yang terik (lihat Dan. 10:6), inilah sorotan untuk pengha-kiman, untuk mendatangkan kerajaan. Ketika Dia berubah rupa dan wajah-Nya bersinar-sinar bagaikan matahari, itu-lah kedatangan-Nya dalam kerajaan (Mat. 16:28—17:2). Pada waktu Dia datang untuk mengambil alih bumi ini menjadi kerajaan, wajah-Nya seperti matahari (10:1).

XI. PERMULAAN DAN AKHIR,

YANG AWAL DAN YANG AKHIR

Ayat 17 mengatakan, “Ketika aku melihat Dia, sujud-lah aku di depan kaki-Nya sama seperti orang yang mati; tetapi Ia meletakkan tangan kanan-Nya di atasku, lalu ber-kata, ‘Jangan takut! Akulah Yang Awal dan Yang Akhir.’” Kristus adalah Yang Awal, juga Yang Akhir, tetapi juga permulaan dan akhir. Hal itu menjamin kita bahwa begitu hidup gereja dimulai, Ia pasti menggenapkannya. Ia tidak akan meninggalkan pekerjaan-Nya terbengkalai. Semua ge-reja lokal harus percaya bahwa Tuhan Yesus adalah permu-laan dan akhir. Ia akan menggenapkan apa yang telah di-mulai-Nya dalam pemulihan.

XII. YANG HIDUP

Dalam ayat 18 kita nampak bahwa Tuhan adalah “Yang Hidup”, “Yang telah mati”, dan yang “hidup untuk selama-lamanya”. Kristus yang berjalan di antara gereja-gereja, yang adalah Kepala gereja-gereja dan yang memiliki gereja-gereja, adalah Yang Hidup, penuh hayat. Karena itu, tiap-tiap gereja sebagai ekspresi Tubuh-Nya juga harus hi-dup, segar, dan kuat. Haleluya! Kita memiliki Kristus yang hidup, yang telah menang atas maut! Kristus kita adalah Kristus yang bangkit, hidup di dalam kita dan di antara kita. Ia hidup selama-lamanya. Bukan main Kristus yang hidup yang kita miliki dalam pemulihan! Dalam pemulihan, semua gereja seharusnya hidup seperti Kristus, penuh ha-yat dan mengalahkan maut.

XIII. MEMILIKI KUASA ATAS MAUT

DAN KERAJAAN MAUT

Dalam ayat 18 Tuhan juga berkata, “Aku memegang segala kunci maut dan kerajaan maut.” Karena manusia ja-tuh dan berdosa, maka maut telah masuk dan bekerja di bu-mi, mengumpulkan semua orang dosa ke alam maut. Sebab itu, terhadap orang dosa, maut adalah pengumpul, alam maut ialah penyekap. Apa saja yang dikumpulkan dengan pengki akan dibuang ke dalam tong sampah. Jadi, maut merupakan pengumpul, sedang kerajaan maut adalah penampungnya. Dalam hidup gereja hari ini, masihkah kita takluk kepada maut dan kerajaan maut? Tidak! Kristus telah mengakhiri maut di salib dan mengalahkan kerajaan maut dalam ke-bangkitan-Nya. Sekalipun kerajaan maut berusaha dengan sekuat tenaga untuk menahan-Nya, ia tidak berdaya melaku-kannya (Kis. 2:24). Terhadap Dia, maut tidak mempunyai sengat, dan kerajaan maut tidak berkuasa. Tetapi bagaima-nakah dengan kita? Tentu sama! Dalam hidup gereja, kunci maut dan kerajaan maut ada di tangan-Nya. Kita tidak mung-kin bisa menanggulangi maut; kita benar-benar tidak mampu menanganinya. Bila maut masuk, banyak nyawa akan mela-yang. Tetapi selama kita memberikan kedudukan, kesempatan, jalan yang leluasa bagi Tuhan Yesus untuk bergerak dan ber-tindak di antara kita, maut maupun kerajaan maut akan berada di bawah kendali-Nya. Tetapi, bila Tuhan Yesus tidak mempunyai kedudukan di dalam gereja, maut segera menjadi kuat dan kerajaan maut berkuasa mencengkeram orang-orang yang mati. Puji Tuhan, karena Kristus memegang segala kunci maut dan kerajaan maut. Maut tunduk kepada-Nya dan kerajaan maut berada di bawah kendali-Nya. Haleluya!