Daftar isi Wahyu (1) · Berita Kedelapan · bab 8/16

Berita Kedelapan

TUJUH KAKI PELITA

Hampir segala sesuatu yang terdapat dalam Kitab Wahyu didasarkan pada Perjanjian Lama. Karena itu, butir-butir yang disebut dalam kitab ini kebanyakan bukan hal baru, mereka bisa dilacak balik dalam Perjanjian Lama. Namun, semua butir yang terdapat dalam Kitab Wahyu mempunyai makna yang baru. Sebagai contoh, kota Yerusalem, sebuah kota dengan dua belas gerbangnya, terdapat dalam Yehezkiel 48, tetapi pada akhir Kitab Wahyu kita tampak kota Yerusalem yang baru. Karena Kitab Wahyu merupakan sebuah kitab kesimpulan, kegenapan dari segala perkara di dalam Alkitab, maka hampir setiap perkara yang terkandung di dalamnya disajikan secara baru. Demikian juga dengan kaki pelita dalam pasal 1. Kaki pelita telah disebut dalam Keluaran 25 dan Zakharia 4, tetapi dalam Kitab Wahyu disebutkan dengan suasana yang baru. Dalam berita ini kita membahas ketujuh kaki pelita dalam Wahyu 1.

Kaki pelita adalah lambang gereja lokal. Sekalipun kita telah mengetahui bahwa gereja lokal adalah kesaksian Yesus, namun banyak orang agak sulit menangkap makna ini. Apakah artinya, gereja lokal adalah kesaksian Yesus? Artinya, gereja adalah kaki pelita.

Sepanjang abad, sedikit sekali orang Kristen yang telah menjamah kedalaman makna kaki pelita. Dalam berita ini kita wajib menyelidiki kedalaman perkara kaki pelita ini. Lambang-lambang Alkitab memang sulit dimengerti, karena kita tidak dapat memahami satu lambang seperti kaki pelita ini menurut konsepsi alamiah kita. Menurut konsepsi alamiah kita, sebuah kaki pelita hanyalah sebuah benda penyangga pelita yang bersinar di dalam kegelapan. Kaki pelita dalam Keluaran 25 murni dari emas, kaki pelita dalam Zakharia 4 dan Kitab Wahyu juga dari emas. Pada hakikatnya, kaki pelita terbuat dari emas. Pada kaki pelita kita tampak tiga perkara penting: emas, kaki (penyangga), dan pelita. Kaki pelita menyiratkan makna Allah Tritunggal. Emas merupakan hakiki yang menunjukkan dari apakah kaki pelita itu terbuat, kaki adalah perwujudan dari emas, dan pelita adalah ekspresi dari kaki itu. Emas menyatakan Bapa sebagai hakiki, kaki menunjukkan Putra sebagai perwujudan Bapa, dan pelita menyatakan Roh itu sebagai ekspresi Bapa dalam Putra. Jadi, dalam kaki pelita terkandung makna Allah Tritunggal.

Pada tembok-tembok sinagoge bangsa Yahudi terukir gambar kaki pelita. Sekalipun orang-orang Yahudi telah menggunakan gambar itu selama berabad-abad, mereka tidak mengetahui makna sesungguhnya — makna Allah Tritunggal. Pernahkah Anda menyadari bahwa kaki pelita menyiratkan makna Allah Tritunggal?

Pada hakikatnya, kaki pelita adalah satu, tetapi ekspresinya adalah tujuh, karena satu kaki pelita mempunyai tujuh pelita. Pada bagian bawahnya, kaki pelita adalah satu; tetapi pada bagian atasnya, ada tujuh. Perlukah kita memperdebatkan soal satu atau tujuh? Menurut hakikinya, kaki pelita adalah satu lempengan emas, tetapi ia menyangga tujuh pelita. Hal ini secara misterius menyatakan bahwa pada hakikatnya Allah Tritunggal adalah satu. Pada hakikatnya, Ia adalah satu, tetapi dalam ekspresinya, Ia adalah tujuh Roh. Bapa sebagai hakiki terwujud dalam Putra sebagai bentuk, dan Putra diekspresikan sebagai tujuh Roh.

Bagaimana kita bisa membuktikan bahwa ketujuh pelita adalah Roh itu yang mengekspresikan Kristus? Ketujuh pelita mula-mula telah disebutkan dalam Kitab Keluaran. Namun, jika kita hanya memiliki catatan dalam Keluaran, kita akan sulit memahami bahwa ketujuh pelita ini adalah Roh itu. Tetapi sewaktu kita maju dari Kitab Keluaran ke Kitab Zakharia, kita tampak bahwa ketujuh pelita adalah ketujuh mata Kristus dan ketujuh mata Allah (Za. 3:9; 4:10). Kalau kita lanjutkan lagi ke Kitab Wahyu, kita tampak bahwa ketujuh mata Anak Domba adalah ketujuh mata itu, yang tidak lain adalah Roh Allah yang diperkuat. Karena itu, kita mempunyai satu dasar yang kuat untuk mengatakan bahwa ketujuh pelita adalah Roh yang diperkuat tujuh kali sebagai ekspresi Kristus.

Kita telah melihat bahwa kaki pelita menyiratkan makna Allah Tritunggal; kaki pelita melambangkan Allah Tritunggal yang terwujud dan terekspresi. Allah Bapa sebagai emas ilahi terwujud dalam Kristus Putra, dan kemudian diekspresikan sepenuhnya melalui Roh itu. Ekspresi berbeda dengan perwujudan. Perwujudan haruslah benar-benar satu karena Allah kita itu benar-benar satu. Jadi, perwujudan haruslah merupakan satu kaki penyangga. Tetapi, ekspresi haruslah lengkap, lengkap dalam pergerakan Allah. Ingatlah, tujuh merupakan angka untuk kelengkapan dalam pergerakan Allah. Sepanjang abad, Allah diekspresikan dalam setiap pergerakan-Nya. Itulah sebabnya ketujuh pelita menunjukkan Roh yang diperkuat sebagai ekspresi Kristus dalam pergerakan Allah yang lengkap. Inilah pengertian yang riil terhadap trinitas ilahi. Trinitas ilahi adalah untuk menyalurkan Allah ke dalam manusia. Allah, Sang ilahi, pertama-tama diwujudkan di dalam Kristus dan kemudian diekspresikan melalui Roh yang diperkuat tujuh kali. Sekarang kita bukan hanya memiliki Allah Tritunggal, lebih-lebih dalam kaki pelita memiliki hakikat Allah Tritunggal terwujud dan terekspresi dengan nyata. Emas itu telah dibentuk menjadi satu kaki penyangga yang solid. Dulu hanya emas, sekarang adalah kaki. Emas ini telah dibentuk menjadi satu kaki untuk penggenapan maksud Allah. Tanpa kaki, tujuan Allah tidak dapat tergenap. Seperti yang telah kita lihat, kaki ini, yang melambangkan Kristus, diekspresikan melalui ketujuh pelita yang melambangkan ketujuh Roh Allah. Ketujuh Roh Allah tidaklah terpisah dari Allah; mereka adalah ketujuh mata Allah dan ketujuh mata Anak Domba, Sang Penebus. Nanti akan kita lihat, mereka juga adalah ketujuh mata dari batu bangunan. Karena itu, mereka adalah ketujuh mata dengan penebusan Kristus untuk pembangunan Allah. Kapan saja ketujuh mata ini memandang orang, orang akan diselamatkan dan dibangun menjadi rumah Allah. Inilah trinitas ilahi. Dalam Keluaran 25 penekanannya terutama pada kaki, sedang dalam Zakharia 4 penekanannya adalah pada pelita, dan dalam Wahyu 1 pada reproduksi. Dalam Kitab Keluaran dan Kitab Zakharia, kaki pelita adalah satu, tetapi dalam Kitab Wahyu telah direproduksi menjadi tujuh. Mula-mula, dalam Kitab Keluaran penekanannya pada kaki — Kristus. Lalu, dalam Kitab Zakharia penekanannya pada pelita — Roh itu. Terakhir, dalam Kitab Wahyu kaki maupun pelita, yaitu Kristus dan Roh itu, direproduksi sebagai gereja-gereja. Dalam Kitab Keluaran dan Kitab Zakharia hanya terdapat tujuh pelita, tetapi dalam Kitab Wahyu terdapat empat puluh sembilan pelita, karena setiap kaki pelita mempunyai tujuh pelita. Jadi, satu kaki pelita menjadi tujuh dan tujuh pelita menjadi empat puluh sembilan pelita. Kaki pelita dengan pelitanya masing-masing dalam Kitab Wahyu adalah reproduksi dari Kristus dan Roh itu. Ketika Kristus direalisasikan, Ia adalah Roh itu; ketika Roh itu direalisasiku, timbullah gereja-gereja sebagai reproduksinya.

Gereja bukan hanya bersifat universal, tetapi juga diekspresikan secara lokal di banyak kota. Di alam semesta hanya ada satu Kristus, satu Roh, dan satu gereja. Mengapa kemudian terdapat tujuh gereja? Karena ada keperluan untuk ekspresi! Kalau hanya asal ada, satu memang cukup, tetapi untuk ekspresi, perlu ada banyak. Jika kita ingin memahami gereja, kita harus mengetahui hakiki, eksistensi, dan ekspresinya. Secara hakiki, gereja dan bahkan semua gereja adalah satu. Dalam ekspresinya, banyak gereja adalah banyak kaki pelita. Apakah gereja? Gereja adalah ekspresi Allah Tritunggal, dan ekspresi ini terlihat di banyak lokal di bumi. Gereja bukan hanya dinyatakan oleh satu kaki pelita, tetapi oleh tujuh kaki pelita. Dalam Wahyu 1 ada tujuh kaki pelita dengan empat puluh sembilan pelita yang menyorot di alam semesta. Inilah kesaksian Yesus. Gereja adalah kesaksian Yesus, berarti gereja adalah ekspresi Allah Tritunggal dalam hakiki dan ekspresinya. Secara hakiki, gereja terdiri dari satu unsur di alam semesta ini; namun secara ekspresi, gereja adalah banyak kaki pelita dengan pelita-pelita yang menyorot di dalam kegelapan untuk mengekspresikan Allah Tritunggal. Bapa sebagai hakiki terwujud dalam Putra, Putra sebagai perwujudan itu diekspresikan melalui Roh itu, Roh itu sepenuhnya direalisasikan dan direproduksi sebagai gereja-gereja, dan gereja-gereja merupakan kesaksian Yesus. Jika kita melihat visi ini, visi ini akan mengendalikan kita dan kita tidak akan terpecah-belah. Visi ini akan memegang kita, menjaga kita, dan memelihara kita dalam kesaksian Yesus.

Kita telah tampak bahwa kaki pelita adalah emas ilahi yang terwujud dalam satu bentuk nyata bagi penggenapan tujuan Allah dalam pergerakan-Nya. Ekspresi kaki pelita ada di dalam hal menyorotkan terang. Ketika ekspresinya terpancar, tergenaplah tujuan kekal Allah. Jadi, kaki pelita bukan hanya menyatakan Allah Tritunggal, tetapi juga pergerakan Allah Tritunggal dalam perwujudan dan ekspresi-Nya. Kita juga telah tampak bahwa gereja-gereja lokal merupakan reproduksi perwujudan dan ekspresi Allah Tritunggal. Ini bukan suatu perkara kecil. Jangan merasa puas dengan mengatakan bahwa gereja-gereja lokal adalah kaki pelita yang bersinar di dalam kegelapan malam. Sekalipun hal ini benar, namun dangkal. Kita harus melihat bahwa gereja-gereja lokal merupakan reproduksi perwujudan dan ekspresi Allah Tritunggal.

Dalam Alkitab, kaki pelita selalu berhubungan dengan pembangunan Allah. Alkitab mencantumkan kaki pelita untuk kali pertama pada Keluaran 25:31-40, ketika membangun kemah. Kali kedua, ialah pada 1 Raja-raja 7:49, ketika membangun Bait Suci. Kali ketiga ialah pada Zakharia 4:2-10, erat hubungannya dengan pembangunan kembali Bait Allah. Dalam Kitab Wahyu, kaki pelita berhubungan dengan pembangunan gereja-gereja. Dalam Keluaran 25, yang ditekankan adalah Kristus sebagai kaki pelita, sebagai terang ilahi, bercahaya sebagai tujuh pelita berdasarkan Roh itu (minyak). Dalam Zakharia 4 yang ditekankan adalah Roh itu (ayat 6) sebagai tujuh pelita yang menyala. Ketujuh pelita ini adalah ketujuh mata Allah (Za. 4:2, 10). Ketujuh mata Allah adalah ketujuh Roh Allah (Why. 5:6) untuk pergerakan Allah yang diperkuat. Hal ini menunjukkan bahwa kaki pelita dalam Kitab Zakharia adalah realitas kaki pelita dalam Kitab Keluaran, dan kaki pelita dalam Kitab Wahyu adalah reproduksi dari kaki pelita dalam Kitab Zakharia. Kristus terwujud sebagai Roh itu, dan Roh itu terekspresi sebagai gereja-gereja. Roh yang bercahaya adalah realitas Kristus yang bercahaya, dan gereja-gereja yang bercahaya ialah reproduksi dan ekspresi Roh yang bercahaya, untuk merampungkan ketetapan kehendak kekal Allah, supaya kota Yerusalem Baru yang bercahaya terampungkan. Kristus, Roh itu, dan gereja-gereja, sama-sama memiliki sifat ilahi.

I. KAKI PELITA UNTUK PEMBANGUNAN

KEMAH PERTEMUAN (BAIT SUCI)

Kita telah mengetahui bahwa kaki pelita adalah untuk pembangunan Allah. Kaki pelita dalam Keluaran 25 adalah untuk pembangunan Kemah Pertemuan, kaki pelita dalam Zakharia 4 adalah untuk pemulihan pembangunan Allah, dan kaki pelita dalam Wahyu 1 adalah untuk pembangunan gereja. Ini menunjukkan bahwa Allah Tritunggal adalah untuk pembangunan Allah. Banyak orang Kristen membahas soal Trinitas, namun sangat sedikit yang mengetahui bahwa Allah Tritunggal adalah untuk pembangunan Allah. Kaki pelita dalam Keluaran 25 melambangkan Kristus sebagai ekspresi Allah yang bersinar dengan ketujuh pelitanya, ketujuh Roh Allah.

Cara Alkitab menyajikan kaki pelita sangatlah menarik. Pertama-tama, Alkitab mewahyukan bahwa untuk pembangunan Kemah Pertemuan diperlukan kaki pelita. Kaki pelita juga diperlukan untuk berfungsinya Kemah Pertemuan. Kemah Pertemuan tidak berjendela, dan pintu masuknya ditutup dengan sehelai tirai. Karena tidak ada tempat yang terbuka, maka tidak ada sinar yang bisa masuk dari luar. Tanpa sinar kaki pelita yang ada di dalam Kemah Pertemuan, tidak ada seorang pun yang bisa menunaikan fungsinya di dalam Kemah Pertemuan. Karena itu, kaki pelita bukan hanya untuk pembangunan Kemah Pertemuan, tetapi juga untuk berfungsinya Kemah Pertemuan.

Demikian pula, tanpa kaki pelita, tidak ada pembangunan gereja juga tidak ada fungsi di dalam gereja. Ber-fungsinya gereja tergantung pada bersinarnya kaki pelita. Kita di dalam gereja memerlukan sorotan kaki pelita. Sering kali, ketika Anda memperhatikan apa yang harus diperbuat atau bagaimana melakukannya, Anda merasa bingung. Semakin Anda berpikir, semakin pekat kegelapan yang meliputi Anda. Tetapi bila Anda mengikuti sidang-sidang gereja atau persekutuan dengan kaum saleh, Anda segera disoroti dan berkata, “Oh, sekarang aku melihat jalannya.” Bukan seseorang memberi Anda satu berita yang memberi tahu Anda apa yang harus Anda lakukan, melainkan Anda jelas melalui sorotan kaki pelita dalam gereja. Kaki pelita menyoroti kita di dalam gereja.

Kaki pelita bukan hanya untuk pembangunan Allah, tetapi juga untuk fungsi dalam pembangunan Allah. Untuk bisa berfungsi, kita harus memiliki terang. Terang yang berasal dari sorotan kaki pelita ada di dalam gereja. Itulah sebabnya kita tidak boleh tidak menghadiri sidang gereja. Janganlah berkata, “Asalkan aku membaca Alkitab dan tetap berdoa di rumah, semuanya sama saja.” Jika Anda berbuat demikian, Anda akan dan harus cepat-cepat kembali ke gereja beberapa hari kemudian. Karena itu, kita tidak ingin berlibur kecuali kalau kita pergi ke suatu tempat yang ada gereja. Gereja bukan hanya memiliki kaki pelita, tetapi justru adalah kaki pelita itu sendiri.

II. KAKI PELITA UNTUK PEMBANGUNAN

BAIT SUCI YANG TERPULIH

Kaki pelita lebih-lebih diperlukan untuk pemulihan pembangunan Allah. Zakharia 4 mengungkapkan bahwa kaki pelita menekankan Roh itu untuk pemulihan pembangunan Allah. Hari ini, kebutuhan akan kaki pelita semakin besar karena kita tidak hanya dalam pembangunan Allah, tetapi juga di dalam pemulihan pembangunan-Nya. Kita memerlukan kaki pelita untuk menyoroti dan menguatkan kita.

A. Melambangkan Roh Itu bagi Pergerakan Allah

Untuk pemulihan Bait Allah, Allah memberikan satu visi kepada Zakharia agar melalui ini ia mampu menguatkan Zerubabel. Dalam visi itu, Zakharia melihat satu kaki pelita dengan tujuh pelita, yang ke dalamnya mengalir minyak yang berasal dari dua pohon zaitun. Kemudian malaikat itu berkata kepada Zakharia, “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam” (Za. 4:6). Ini menunjukkan bahwa Roh Allah adalah untuk pergerakan-Nya di bumi.

B. Tujuh Pelita yang adalah Ketujuh Mata

Ketujuh pelita pada kaki pelita dalam Kitab Zakharia adalah ketujuh mata itu. Pertama-tama, ketujuh mata itu adalah ketujuh mata Kristus sebagai batu bangunan Allah (Za. 4:2, 10; 3:9). Wahyu 5:6 juga membicarakan ketujuh mata Kristus, Anak Domba, mengatakan, mereka adalah “ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi.” Ketujuh Roh adalah ketujuh mata Kristus. Dalam Zakharia 3 dan 4, Kristus adalah batu untuk pembangunan Allah, dan dalam Wahyu 5, Ia adalah Anak Domba untuk penebusan kita. Ini menunjukkan bahwa Kristus Sang Penebus adalah batu bangunan. Baik Anak Domba maupun batu memiliki ketujuh mata yang adalah ketujuh Roh Allah. Dalam Kitab Zakharia ketujuh mata adalah mata pada batu, sedang dalam Kitab Wahyu ketujuh mata adalah mata Anak Domba.

Ketujuh pelita yang adalah ketujuh mata Kristus, juga merupakan mata Allah bagi pergerakan-Nya (Za. 4:10). Kristus mempunyai tujuh mata, tujuh Roh Allah, bagi pergerakan Allah. Pertama-tama, Kristus adalah Anak Domba Penebus dan terakhir Ia adalah batu bangunan. Ini mutlak bagi pergerakan Allah di bumi, melalui penebusan sampai ke tujuan pembangunan. Hari ini kita menikmati penebusan untuk pembangunan. Kita menikmati Kristus tidak hanya sebagai Anak Domba Penebus, tetapi juga sebagai batu bangunan. Penebusan Kristus adalah untuk pembangunan Allah. Dalam Dia kita telah ditebus, dan dalam Dia kita dibangun. Ia menggenapkan semuanya ini melalui ketujuh Roh Allah yang adalah bagi pergerakan Allah hari ini.

C. Pelita untuk Penerangan dan Mata untuk Transfusi melalui Melihat

Pelita untuk penerangan dan mata untuk transfusi melalui melihat. Mata ini bukan hanya untuk menyelidiki, mengamati, dan menghakimi, lebih-lebih untuk mentransfusi. Ketika Kristus memandang kita dengan ketujuh mata-Nya, serta merta kita diinfus oleh-Nya. Entah kita dihakimi, disoroti, diperiksa, atau dibakar, Ia mentransfusikan semua apa adanya diri-Nya ke dalam kita. Bila Kristus menerangi kita, Ia menyoroti ke dalam kita, mentransfusikan semua apa adanya diri-Nya ke dalam kita, sehingga kita bisa menjadi batu-batu permata yang telah mengalami pengubahan bagi pembangunan Allah.

III. KAKI PELITA UNTUK PEMBANGUNAN

GEREJA-GEREJA LOKAL

A. Melambangkan Gereja-gereja Lokal

sebagai Kesaksian Yesus

Kaki pelita dalam Kitab Wahyu merupakan lambang dari gereja-gereja lokal. Setiap gereja lokal merupakan kaki pelita yang memancarkan kesaksian Yesus dengan Roh Allah yang diperkuat tujuh kali sebagai pelita-pelita di lokalnya masing-masing.

B. Bersifat Ilahi

Kaki pelita itu terbuat dari emas. Seperti yang telah kita ketahui, emas menunjukkan sifat ilahi Allah. Kaki pelita yang terbuat dari emas melambangkan gereja-gereja tersusun dari sifat ilahi Allah. Kita memiliki hayat dan sifat Bapa (2 Ptr. 1:4), yaitu memiliki sifat ilahi Bapa yang dilambangkan dengan emas. Betapa menakjubkan karena kita memiliki hakiki ilahi ini.

C. Bersinar dalam Zaman yang Gelap dengan Ketujuh Roh Allah

Boleh jadi kita hanya memperhatikan kaki pelita namun kurang memperhatikan pelita-pelitanya, tetapi sesungguhnya kaki pelita bukanlah untuk kaki pelita itu sendiri, melainkan untuk pelita-pelita. Jika kaki pelita tidak memiliki pelita (lampu), ia tidak berguna. Karena itu, kita harus menunjukkan apakah pelita itu. Kita melihat pelita-pelita dalam pasal 4: pelita adalah ketujuh Roh Allah yang menyala-nyala di hadapan takhta (4:5). Jadi, ketujuh Roh Allah adalah ketujuh pelita yang menyala. Sebagian orang berkata bahwa pelita itu adalah Kristus dan gereja adalah kakinya yang menyangga Kristus sebagai pelita. Itu memang baik, tetapi Kitab Wahyu tidak mengatakan kalau pelita pertama-tama adalah Kristus. Sudah tentu, ketika kita sampai ke pasal 21, kita tampak bahwa Kristus adalah pelita (lampu) di dalam Yerusalem Baru. Namun, Kitab Wahyu tidak mengatakan kalau Kristus adalah ketujuh pelita hari ini; melainkan, ketujuh Roh Allah itulah ketujuh pelita.

Kita harus mempunyai kesan yang mendalam tentang betapa berartinya ketujuh Roh ini bagi kita. Jika kita adalah gereja sebagai kaki pelita, lalu apakah yang kita sangga? Kalau kita berkata bahwa kita menyangga Kristus, itu terlalu doktrinal. Hari ini, siapakah Kristus? Apakah Kristus? Dalam pengalaman hidup gereja kita, Kristus bukan hanya sekadar Kristus, lebih-lebih Ia adalah Roh itu (2 Kor. 3:17). Roh ini, yang tidak lain adalah Roh pemberi-hayat, di dalam Kitab Wahyu telah diperkuat menjadi tujuh Roh, tujuh Roh Allah. Roh ini adalah ketujuh mata, bukan hanya mata Allah, tetapi juga mata Anak Domba. Hidup gereja mutlak tergantung pada ketujuh Roh ini. Ini bukan Kristus dalam doktrin, melainkan ketujuh Roh dalam pengalaman. Kita harus mengalami Roh itu. Dalam pekerjaan kita, dalam kehidupan kita sehari-hari, dalam sidang-sidang, pelayanan, dan kesaksian-kesaksian kita, kita harus mengalami Roh itu. Tanpa Roh, kita kosong dan sama sekali tidak berarti. Kaki pelita harus menyangga pelita-pelita yang adalah ketujuh Roh itu.

Ketujuh Roh itu merupakan ekspresi Kristus. Hal ini dengan jelas dinyatakan oleh kaki pelita dalam Keluaran 25. Kaki pelita ini, yang merupakan sepotong emas seberat satu talenta, terekspresi melalui ketujuh pelita. Emas murni ini melambangkan Allah Bapa sebagai hakiki kita. Tetapi jika kita hanya memiliki Allah Bapa, kita masih belum memiliki bentuk; kita memiliki emas, tetapi tidak memiliki kaki. Hanya memiliki Bapa tanpa memiliki Putra berarti memiliki hakiki tanpa perwujudan. Hanya ketika emas itu ditempa menjadi suatu bentuk kaki atau penyangga, barulah kita memiliki perwujudan. Kaki pelita adalah perwujudan hakiki emas, tetapi jika tanpa pelita, perwujudan ini tidak memiliki ekspresinya. Karena itu, hakikinya adalah Bapa, perwujudannya adalah Putra, dan ekspresinya adalah Roh itu yang mengekspresikan Allah Bapa dalam Putra. Karena semua adanya Allah Bapa yang ada dalam Putra diekspresikan melalui ketujuh pelita, maka Alkitab kemudian memberi tahu kita bahwa ketujuh pelita adalah ketujuh Roh. Jadi, Roh itu merupakan ekspresi Allah Tritunggal. Terakhir, dalam Kitab Wahyu kita tampak bahwa ekspresi ini adalah ekspresi Kristus, karena ketujuh Roh pertama-tama adalah ketujuh mata Allah dalam Zakharia 4:10, dan kemudian menjadi tujuh mata Anak Domba dalam Wahyu 5:6. Ketujuh mata Anak Domba adalah ekspresi Kristus. Hari ini, Roh Kudus, yang adalah Roh pemberi-hayat dan juga ketujuh Roh, adalah ekspresi Kristus. Di manakah ekspresi ini sekarang? Ada di dalam gereja, karena ketujuh Roh itu adalah ketujuh pelita yang disangga oleh gereja-gereja sebagai kaki pelita.

Kebanyakan orang Kristen hari ini tidak mengetahui Roh pemberi-hayat dan Roh yang diperkuat tujuh kali, atau ketujuh Roh sebagai ekspresi Kristus yang disangga gereja-gereja sebagai kaki pelita. Jika Anda ingin menjumpai Roh ini, Anda harus berada di dalam gereja. Jika Anda ingin menjamah, menikmati, dan mengalami Roh ini, Anda harus berbagian dalam gereja, karena gereja-gereja adalah kaki pelita yang menyangga ketujuh Roh Kristus dan ketujuh Roh Kristus itu adalah ekspresi Kristus. Roh itu tidak terpisah dari Kristus sama seperti mata Anda tidak terpisah dari Anda. Karena mata seseorang merupakan ekspresinya, maka mata itu tidak bisa dipisahkan dari orang itu. Demikian juga, karena ketujuh Roh merupakan ekspresi Kristus, maka ketujuh Roh itu tidak bisa dipisahkan dari Kristus. Gereja-gereja adalah kaki pelita, dan pelita-pelita adalah Roh Allah yang diperkuat tujuh kali sebagai ekspresi Kristus. Terang ini bersinar makin lama makin cerah, dan visi ini setiap hari menjadi semakin jelas.

Di zaman yang gelap sekarang ini gereja-gereja lokal sebagai kaki pelita emas bersinar dengan Roh semacam ini. Di zaman yang gelap sekarang ini, gereja sungguh-sungguh memerlukan Roh Allah yang diperkuat tujuh kali untuk memancarkan kesaksian Yesus.

D. Gereja Adalah Perwujudan Kristus dan Reproduksi Roh itu

Gereja adalah perwujudan Kristus dan adalah reproduksi Roh itu. Roh itu adalah realitas Kristus (Yoh. 14:17-20; 16:13-15), dan gereja adalah reproduksi dari Roh itu (Why. 22:17a). Gereja dengan Roh itu adalah perwujudan Kristus, kesaksian Yesus (Why. 1:2, 9; 19:10). Karena itu, semakin berkembang Roh itu, gereja akan semakin berkembang, demikian juga kesaksian Yesus.

IV. KEDUA KAKI PELITA UNTUK KESAKSIAN ALLAH DALAM KESUSAHAN BESAR

Dalam Wahyu 11:4 kita tampak kedua kaki pelita, kedua saksi, untuk kesaksian Allah selama kesusahan besar. Para pemenang akan diangkat sebelum kesusahan besar, sedang orang-orang yang lemah, yang masih hijau, muda dan lembut, akan ditinggalkan di bumi untuk melewati kesusahan besar. Karena itu, kesaksian Allah perlu diperkuat. Untuk memenuhi kebutuhan itu, Allah akan mengutus Elia dan Musa kembali ke bumi. Hari ini, kesaksian gereja terutama tergantung pada orang-orang yang lebih kuat dan lebih berpengalaman. Sewaktu orang-orang yang berpengalaman diangkat, orang-orang yang lemah perlu diperkuat. Meskipun memang baik disuplai oleh Musa dan Elia, namun saya ingin meninggalkan bumi ini sebelum mereka datang. Menurut prinsipnya, kedua saksi dalam pasal 11 juga adalah kaki pelita. Alkitab melukiskan mereka sebagai dua batang pohon zaitun yang menyuplaikan minyaknya kepada orang-orang yang lemah (Za. 4:3, 12). Menurut perumpamaan sepuluh gadis dalam Matius 25, kelima gadis yang bodoh perlu membeli minyak. Saudara Watchman Nee pernah berkata, mungkin kelima gadis yang bodoh itu pergi kepada kedua pohon zaitun itu untuk memperoleh bagian ekstra Roh itu dengan membayar harga. Kedua pohon zaitun itu juga disebut dua putra minyak, karena mereka penuh Roh untuk kesaksian Allah (Za. 4:14) dan mampu menyuplai kaum saleh yang lemah. Selama kesusahan besar, banyak di antara orang-orang yang belum matang akan dikuatkan dan dimatangkan melalui ministri mereka.