Berita Ketujuh
GEREJA-GEREJA LOKAL
Kitab Wahyu tersusun sangat baik sekali. Secara permukaan, kelihatannya berbagai butir yang tercakup dalam pasal 1 tidak saling berhubungan. Tetapi jika kita mempelajari semuanya dari sudut pengalaman kita, kita akan tampak bahwa butir-butir itu berurutan dengan bagus sekali. Dalam dua berita yang lalu, kita membahas kedatangan kembali Tuhan Yesus dan penantian kita terhadap-Nya melalui ikut serta (mengambil bagian) dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan-Nya. Dalam berita ini kita sampai kepada gereja-gereja lokal. Berita tentang gereja lokal ini seolah-olah tidak berkaitan dengan dua berita sebelumnya. Tetapi menurut pengalaman kita tahu bahwa tiga berita ini semuanya saling berkaitan. Kedatangan kembali Tuhan Yesus memerlukan orang-orang yang berbagian dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan dalam Yesus. Cara terbaik untuk menempuh semuanya ini adalah berada di dalam gereja lokal. Di luar gereja, kita sulit berbagian dalam ketiga perkara tersebut.
I. PERKEMBANGAN WAHYU ILAHI
DALAM ALKITAB
Kita akan melihat gereja-gereja lokal dengan cara memperhatikan perkembangan wahyu ilahi dalam Alkitab. Wahyu ilahi dalam Alkitab diawali dengan Allah dan diakhiri dengan gereja-gereja lokal. Dua pasal yang pertama dalam Kitab Kejadian, bersama seluruh Perjanjian Lama, merupakan wahyu diri Allah, sedang keempat kitab Injil mewahyukan Kristus. Fakta ini mewahyukan perkembangan wahyu ilahi dari Allah kepada Kristus. Setelah keempat kitab Injil, ada Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Kiriman, yang terutama mewahyukan Kristus sebagai Roh itu. Karena itu, wahyu Roh itu merupakan lanjutan dari wahyu ilahi dalam Alkitab. Selanjutnya, gereja diwahyukan. Jadi, ada empat bagian pokok wahyu ilahi dalam Alkitab: bagian tentang Allah, tentang Kristus, tentang Roh itu, dan tentang gereja.
Orang-orang Yahudi hanya memiliki bagian pertama dari wahyu ini, karena ketiga puluh sembilan kitab dalam Perjanjian Lama hanya mewahyukan tentang Allah. Kebanyakan orang Kristen memiliki lebih banyak, yaitu Perjanjian Lama ditambah keempat kitab Injil. Sekalipun mereka memiliki seluruh Alkitab, namun dalam praktiknya mereka hanya mengetahui sedikit lebih banyak dari Perjanjian Lama dan keempat kitab Injil. Mereka mungkin mengenal Allah seperti yang diwahyukan dalam Perjanjian Lama dan mereka mungkin juga mengetahui cerita-cerita dalam kitab Injil tentang Kristus, tetapi mereka sama sekali tidak mengetahui tentang Roh hayat atau gereja. Kebanyakan orang Kristen menganggap, gereja adalah bangunan yang mati. Pada Minggu pagi, banyak orang tua berkata kepada anak-anaknya, “Pergilah ke gereja.” Menurut pandangan mereka, gereja itu suatu gedung atau suatu katedral dengan menara yang tinggi. Mereka hampir-hampir tidak mengetahui sesuatu pun tentang gereja seperti yang diwahyukan dalam firman Kudus.
Syukur kepada Allah, selama dua abad yang silam, ada sejumlah orang Kristen lainnya yang mempunyai kemajuan dalam pengenalan mereka terhadap Alkitab. Mereka tidak hanya memiliki Perjanjian Lama dan keempat kitab Injil, tetapi juga memiliki Surat-surat Kiriman. Orang-orang Kristen ini mengenal Allah, Kristus, dan juga Roh itu. Tentu saja, mereka tidak mengetahui banyak tentang Roh hayat. Mereka mengenal Roh itu terutama sebagai Roh kuasa dalam baptisan Roh. Mereka mengetahui sangat sedikit tentang Roh yang berhuni di dalam. Sekalipun orang-orang Kristen ini mungkin mengetahui sedikit tentang gereja, mereka hanya melihat gereja universal, bukan gereja lokal. Akan tetapi, tiga pasal yang pertama dalam Kitab Wahyu bukan menyangkut gereja universal, melainkan dengan tegas mengisahkan tentang gereja-gereja lokal.
Hari ini, kita dalam pemulihan Tuhan mempunyai seluruh Alkitab: Perjanjian Lama, keempat kitab Injil, Kitab Kisah Para Rasul, Surat-surat Kiriman, dan Kitab Wahyu. Saya pernah bersama Kaum Saudara (The Bretheren) selama tujuh setengah tahun. Selama waktu itu, kami mencurahkan segenap perhatian kepada Kitab Daniel dan Kitab Wahyu. Akan tetapi, kebanyakan dari yang telah saya dengar tentang Kitab Wahyu hanyalah tentang binatang buas dan sepuluh tanduk. Saya tidak mempunyai kesan bahwa dalam Kitab Wahyu ini terdapat gereja-gereja lokal. Saya bahkan tidak mendengar banyak tentang Yerusalem Baru. Saya hanya diberi tahu itu adalah sebuah kota di surga dengan rumah besar yang surgawi, jalannya dari emas, dan pintunya terbuat dari mutiara. Puji Tuhan, karena hari ini Kitab Wahyu bukan seperti itu! Dalam Kitab Wahyu, ada gereja-gereja lokal dengan Anak Manusia di tengah-tengah-nya, dan ada Yerusalem Baru dengan Kristus sebagai sentralitas dan universalitasnya.
A. Mengenai Allah
Baiklah sekarang kita bahas perkembangan wahyu ilahi dalam Alkitab dengan lebih rinci. Pertama, Allah mewahyukan diri-Nya kepada kita (Kej. 1:1). Dalam Kejadian 1:26 Allah diwahyukan sebagai “Elohim”, sebuah kata Ibrani yang berarti “Yang Kuat”. Kata “Allah” adalah terjemahan dari kata Ibrani Elohim. Selanjutnya, dalam Kejadian 2:7 Allah diwahyukan sebagai “Yehova” (LAI: TUHAN), yang berarti, “Aku adalah Sang Aku adalah.” Allah adalah “Sang Aku adalah” yang agung, Yang selamanya ada. Sebagai Sang yang selamanya ada, Ia adalah realitas dari setiap perkara yang positif. Nama ini, Yehova, menyatakan Allah dalam hubungan-Nya dengan manusia. Mengenai penciptaan-Nya, Allah diwahyukan sebagai Elohim; mengenai hubungan-Nya dengan manusia, Ia diwahyukan sebagai Yehova. Yehova adalah nama Yesus dalam Perjanjian Lama, dan Yesus adalah nama Yehova dalam Perjanjian Baru. Dengan kata lain, dalam Perjanjian Lama Yesus disebut Yehova, dalam Perjanjian Baru Yehova disebut Yesus. Seluruh Perjanjian Lama, yang terdiri dari tiga puluh sembilan kitab, terutama mewahyukan dua nama ilahi ini, Elohim dan Yehova.
B. Mengenai Kristus
Langkah kedua dalam perkembangan wahyu ilahi adalah wahyu tentang Kristus (Mat. 1:1). Pada waktunya, Allah berinkarnasi menjadi seorang manusia yang disebut Yesus Kristus. Jadi, setelah Perjanjian Lama, kita mempunyai keempat kitab Injil yang mewahyukan persona yang ajaib yang bernama Yesus Kristus. Nama Yesus terutama berarti Juruselamat (Mat. 1:21), dan nama Kristus berarti Yang diurapi (Mat. 16:16). Yesus bukan hanya Juruselamat kita, tetapi juga Yang diurapi Allah, atau dalam istilah yang umum, Yang diamanati Allah. Allah telah mengamanati Dia untuk merampungkan ekonomi kekal-Nya. Dia bukan hanya Yesus yang menyelamatkan kita, tetapi juga Kristus yang merampungkan rencana kekal Allah.
Agar bisa merampungkan rencana kekal Allah, Kristus memerlukan gereja. Untuk menghasilkan gereja, diperlukan dua perkara — penebusan dan pembagian hayat. Setelah menebus manusia ciptaan yang telah jatuh, Kristus harus membagikan hayat kepada umat tebusan. Untuk itu, diperlukan Roh hayat, Roh pemberi-hayat. Maka, setelah keempat kitab Injil, kita memiliki penebusan dan pembagian hayat dalam Kitab Kisah Para Rasul dan Surat-surat Kiriman. Kitab-kitab itu sering menyebutkan darah Kristus. Bersama darah, kita mempunyai Roh itu. Darah untuk penebusan, sedang Roh itu untuk membagikan hayat. Setelah ditebus dan dilahirkan kembali, kita menjadi anggota-anggota yang hidup dalam Tubuh Kristus, gereja. Sebagai gereja, Tubuh ini adalah sarana Kristus untuk melaksanakan ekonomi kekal Allah. Dari sini kita tampak bahwa dalam ekonomi Allah, gereja adalah suatu perkara yang sangat penting. Tanpa gereja, Kristus tidak dapat menggenapkan apa-apa. Jika Ia ingin melaksanakan rencana kekal Allah, Ia harus memiliki gereja.
C. Mengenai Roh itu
Allah diwahyukan sebagai Elohim dan sebagai Yehova, sedang Kristus diwahyukan sebagai Yesus dan sebagai Kristus. Tetapi, wahyu tentang Roh itu, tidaklah sederhana (Mat. 28:19); melainkan merupakan suatu misteri. Tidak banyak orang Kristen yang berselisih karena wahyu tentang Allah, dan hanya sedikit yang berselisih karena wahyu tentang Kristus. Tetapi sewaktu kita sampai pada masalah Roh itu, timbul banyak pendapat karena wahyu dari Roh itu merupakan satu misteri. Roh itu misterius karena bertalian dengan hayat. Wahyu tentang Roh itu sendiri mempunyai banyak aspek: Roh kebenaran atau Roh realitas (Yoh. 14:16-17), Roh hayat (Rm. 8:2), Roh kuasa (Luk. 24:49), Roh Allah (Rm. 8:9), Roh Kristus (Rm. 8:9), Roh Yesus (Kis. 16:7), Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19), Roh Kudus (Kis. 5:32), dan ketujuh Roh (Why. 1:4; 4:5; 5:6).
Tahukah Anda perbedaan antara Roh hayat dengan Roh kuasa? Orang-orang yang di dalam gerakan kekristenan tertentu sering membicarakan Roh kuasa. Hanya Tuhan yang mengetahui sungguhkah mereka mempunyai kuasa yang sejati. Saya sering mendengar tentang apa yang disebut bahasa lidah, tetapi saya “hampir tidak” pernah melihat kuasa di dalam pekerjaan orang-orang yang berbahasa lidah itu. Baptisan Roh Kudus memberi kuasa kepada orang banyak. Tetapi hari ini banyak orang yang mengaku dirinya berbahasa lidah sama-sama tidak mempunyai kuasa seperti orang-orang yang tidak berbahasa lidah. Mereka mungkin mempunyai kekuatan untuk bersuara secara tidak karuan, tetapi mereka tidak mempunyai kuasa untuk menyelamatkan jiwa. Ada orang yang tidak pernah berbahasa lidah, tetapi banyak orang beroleh selamat melalui pemberitaannya. Itulah kuasa yang sejati. Dalam aliran kekristenan tertentu itu tidak saja tidak ada kuasa yang sejati, juga tidak ada hayat. Setelah berbahasa lidah, banyak yang bertengkar dengan istri atau suami mereka atau merokok. Ha-yatkah itu? Bukan! Hayat bisa mengubah orang. Kita me-merlukan Roh kuasa, juga perlu Roh hayat.
Kita di sini untuk kesaksian Yesus. Kesaksian ini bukanlah satu istilah atau suatu bentuk, melainkan hayat. Betapa kita perlu membuka diri kepada-Nya sehingga Ia bisa menyalurkan hayat lebih banyak ke dalam kita. Jika kita sungguh-sungguh memiliki Kristus sebagai hayat kita, kita akan hidup, berjalan, dan berperilaku di dalam Kristus. Sekarang kita bisa memahami mengapa Surat-surat Kiriman berulang-ulang membicarakan Roh itu. Seperti yang telah kita ketahui, Kitab Wahyu membahas ketujuh Roh Allah. Untuk hidup gereja diperlukan Roh yang diperkuat. Dari Roh yang diperkuat ini, timbullah gereja yang sejati. Saya tidak menentang berbagai karunia Pentakosta sejati mana pun, namun saya bisa bersaksi bahwa di waktu yang silam saya tidak pernah menemukan satu gereja yang wajar dibangun oleh apa yang disebut gerakan Pentakosta. Perhatikanlah pergerakan kharismatik tertentu hari ini, benar-benar dipenuhi penyembahan terhadap Maria. Jika pergerakan itu tepat, bagaimana mereka dapat mentoleransi penyembahan berhala? Adanya toleransi terhadap penyembahan berhala membuktikan pergerakan itu tidak tepat. Benda yang kotor bisa dimasukkan ke dalam bola salju, tetapi tidak dapat dimasukkan ke dalam berlian. pergerakan itu seperti satu bola salju, padanya bisa ditambahkan benda-benda yang tidak bersih. Mata kita perlu dicelikkan agar bisa melihat bahwa hari ini Allah menginginkan gereja-gereja lokal yang praktis, riil, dan hidup.
D. Mengenai Gereja
Sekarang sampailah kita kepada bagian terakhir wahyu ilahi, wahyu tentang gereja. Kita sulit memahami gereja, karena Iblis, musuh yang licik itu, tidak rela orang-orang Kristen tampak apakah gereja yang sejati itu.
1. Gereja Universal
Gereja sebagai Tubuh Kristus (1 Kor. 12:12-13) bersifat universal (Ef. 1:22-23; 4:4-6). Kristus sebagai Kepala yang unik mempunyai satu Tubuh yang unik yang tersusun dari semua orang beriman-Nya yang sejati.
2. Gereja-gereja Lokal
Gereja universal sebagai Tubuh Kristus diekspresikan melalui gereja-gereja lokal. Gereja-gereja lokal, sebagai ekspresi satu Tubuh Kristus (Why. 1:12, 20), bersifat lokal (Kis. 8:1; 13:1; Rm. 16:1; 1 Kor. 1:2). Wahyu 1:4 mengatakan, “Dari Yohanes kepada ketujuh jemaat (gereja) yang di Asia Kecil.” Asia Kecil adalah satu provinsi dalam Kekaisaran Romawi kuno. Di provinsi itu ada tujuh kota yang disebut dalam 1:11. Ketujuh gereja bukan berada di satu kota, melainkan tersebar di ketujuh kota. Kitab ini tidak membicarakan satu gereja universal, melainkan membicarakan gereja-gereja lokal di kota-kota. Mula-mula dalam Matius 16:18 diwahyukan bahwa gereja itu bersifat universal, selanjutnya dalam Matius 18:17 diwahyukan bahwa gereja bersifat lokal. Dalam Kitab Kisah Para Rasul, gereja dilaksanakan secara lokal, misalnya gereja di Yerusalem (8:1), gereja di Antiokhia (13:1), gereja di Efesus (20:17), dan gereja-gereja di provinsi Siria dan Kilikia (15:41). Selain beberapa pucuk yang ditulis untuk perorangan, semua Surat Kiriman (rasul) ditulis untuk gereja-gereja lokal. Tidak ada surat yang ditulis untuk gereja universal. Tanpa gereja lokal, tidak ada surat yang ditulis untuk gereja universal. Tanpa gereja lokal, tidak akan ada pelaksanaan dan penyataan gereja universal. Gereja universal terwujud dalam gereja-gereja lokal. Pengenalan terhadap gereja pada aspek universalnya harus disempurnakan dengan pengenalan terhadap gereja pada aspek lokalnya. Mengenal dan melaksanakan gereja lokal adalah suatu kemajuan besar bagi kita. Mengenai gereja, Kitab Wahyu membahasnya pada tahap yang sudah maju. Untuk memahami kitab ini, kita harus maju dari memahami gereja universal sampai mengenal dan melaksanakan gereja lokal, karena kitab ini ditulis untuk gereja lokal. Hanya orang-orang dalam gereja lokal yang berada pada posisi yang tepat, memiliki sudut dan ti-tik pandang yang tepat untuk melihat berbagai visi dalam kitab ini.
Dalam 1:11 suara itu berkata kepada Yohanes, “Apa yang engkau lihat, tuliskanlah di dalam sebuah kitab dan kirimkanlah kepada ketujuh jemaat ini: ke Efesus, ke Smirna, ke Pergamus, ke Tiatira, ke Sardis, ke Filadelfia dan ke Laodikia.” Ayat ini tersusun sedemikian rupa sehingga penting sekali. Kirimkanlah kepada ketujuh gereja (jemaat) itu sama dengan kirimkanlah kepada ketujuh kota itu. Hal ini menampakkan dengan jelas bahwa pelaksanaan hidup gereja sebermula adalah satu gereja satu kota, satu kota hanya ada satu gereja. Tidak ada kota yang mempunyai gereja lebih dari satu. Inilah gereja lokal dengan kota sebagai unitnya, bukan jalan atau wilayah. Wilayah administrasi gereja lokal seharusnya meliputi seluruh kota tempat gereja tersebut berada; tidak seharusnya lebih besar atau lebih kecil daripada batas kota itu. Semua orang beriman di dalam batas tersebut, seharusnya terbentuk menjadi satu gereja lokal yang unik dalam kota itu. Karena itu, satu gereja sama dengan satu kota, dan satu kota sama dengan satu gereja. Inilah yang kita sebut gereja lokal.
Wahyu 1:4 membicarakan tentang “ketujuh gereja”. Tujuh adalah angka kelengkapan dalam pekerjaan Allah; misalnya untuk penciptaan Allah ada tujuh hari (Kej. 1:31— 2:3), untuk pergerakan Allah di bumi ada tujuh meterai (5:5), tujuh sangkakala (8:2), dan tujuh cawan (15:7). Karena itu, tujuh gereja adalah untuk kelengkapan pergerakan Allah.
Gereja perlu memiliki ekspresinya. Jika kita membicarakan gereja tanpa memiliki ekspresi gereja, maka pembicaraan kita seluruhnya bersifat teoritis, tidak ada pelaksanaannya. Supaya gereja riil dan dapat dilaksanakan, perlu ada gereja-gereja lokal. Jika Anda tidak memiliki gereja-gereja lokal, Anda tidak akan memiliki gereja. Demikian juga, jika Anda tidak memiliki anggota Tubuh, Anda tidak akan memiliki Tubuh. Jika Anda tidak memiliki gereja lokal, Anda tidak bisa memiliki gereja universal, karena gereja universal tersusun dari gereja-gereja lokal, seperti tubuh manusia tersusun dari banyak anggota tubuh. Hanya memiliki gereja universal, tidaklah berarti. Namun kita benar-benar memiliki pelaksanaan gereja-gereja lokal. Kalau kita ditanya, di manakah gereja, kita dapat menunjukkan gereja-gereja di Anaheim, San Fransisco, Chicago, New York, dan tempat-tempat lain.
Beberapa orang Kristen menyanggah saya, kata mereka, “Mengapa kalian mengatakan bahwa kalian adalah gereja dan kami bukan gereja?” Kadang-kadang saya menjawab, “Kalau kalian berkata bahwa kalian adalah gereja, tunjukkanlah bahwa kalian adalah gereja. Tunjukkan di manakah gereja.” Ada yang menanggapi saya dengan berkata bahwa mereka telah mengutus banyak misionaris. Tetapi dalam batin mereka sendiri tahu bahwa mereka bukan gereja. Fakta tetap fakta. Kalau kalian gereja, mengapa kalian sendiri tidak menyebut diri kalian adalah gereja? Kalian tahu kalian itu apa. Jangan berpura-pura atau menganggap diri kalian sebagai yang bukan diri kalian. Karena saya manusia, saya harus menegaskan diri saya adalah manusia. Apa lagi yang dapat saya perbuat?
Pada tahun 1963, saya diundang untuk berbicara di suatu tempat di Missouri. Pada akhir sidang, tuan rumah berdiri, dan dengan cara yang baik, rendah hati, dan sopan, ia berkata, “Saudara Lee, katakanlah kepada kami, mengapa kalian menyebut diri kalian adalah gereja di Los Angeles.” Jawab saya, “Saudara, kalau kami tidak menyebut diri kami gereja, lalu kami ini apa? Kami memang gereja. Ini bukan hanya kebenaran, tetapi juga fakta.” Kita adalah kita. Walaupun kita dapat berpura-pura atau mencoba menjadi yang lain, itu bukanlah kita yang sebenarnya. Sebelum pemulihan Tuhan masuk ke Amerika Serikat, tidak ada orang Kristen yang menyatakan diri mereka adalah gereja di Los Angeles. Maka, ketika kami tiba di Los Angeles, kami harus menyebut diri kami gereja di Los Angeles.
Wahyu 1:20 mengatakan, “Inilah rahasia ketujuh bintang yang telah kaulihat pada tangan kanan-Ku dan ketujuh kaki pelita emas itu: Ketujuh bintang itu ialah malaikat ketujuh jemaat dan ketujuh kaki pelita itu ialah ketujuh jemaat.” Ketika Yohanes melihat ketujuh bintang di tangan kanan Kristus, dan ketujuh kaki pelita emas yang di tengah-tengahnya Kristus berjalan, hal itu adalah rahasia baginya. Ia tidak memahami makna ketujuh bintang surgawi dan ketujuh kaki pelita emas. Karena itu, Tuhan menyingkapkan rahasia ini kepadanya, kata-Nya, “Ketujuh bintang itu adalah utusan (malaikat) ketujuh gereja, dan ketujuh kaki pelita adalah ketujuh gereja.” Makna hal-hal ini bukan hanya merupakan rahasia bagi Yohanes, juga bagi kaum beriman pada hari ini. Semua orang beriman memerlukan penyingkapan rahasia ini, supaya mereka dapat melihat gereja-gereja dan utusan-utusan gereja-gereja.
Gereja-gereja, yang dilambangkan dengan ketujuh kaki pelita emas dalam sifat ilahi adalah kesaksian Yesus (1:2, 9), bersinar dalam malam yang gelap atas lokal secara korporat. Gereja-gereja seharusnya bersifat ilahi, yaitu emas. Mereka seharusnya adalah kaki (tumpuan), bahkan adalah kaki pelita, penopang pelita yang berminyak (mengacu kepada Kristus Sang Roh Pemberi-hayat, bersinar dalam kegelapan secara individu dan korporat. Dari sudut lokalitas, mereka adalah kaki-kaki pelita yang individu, namun pada saat yang sama, mereka adalah sekelompok, sekumpulan kaki pelita dalam alam semesta. Mereka bukan hanya bercahaya di masing-masing lokal, terlebih pula secara universal mengemban kesaksian yang sama terhadap tiap-tiap lokal dan alam semesta. Sifat dan bentuk mereka sama; menopang pelita yang sama, untuk tujuan yang sama, dan identik satu dengan yang lain, tanpa perbedaan individual apa pun. Perbedaan ketujuh gereja lokal yang tercantum dalam pasal 2 dan 3 terletak pada hal yang bersifat negatif, bukan yang positif. Di aspek negatif, atas kegagalan mereka, mereka berbeda dan terpisah satu sama lain; tetapi di aspek positif, atas sifat, bentuk, dan tujuan, mutlak identik dan saling berkaitan. Kaum beriman tidaklah sulit jika ingin melihat gereja universal, namum kalau ingin melihat gereja-gereja, tidaklah mudah. Wahyu gereja-gereja lokal adalah penyingkapan terakhir dari Tuhan terhadap gereja, dan hal ini tercatat dalam kitab terakhir dari firman ilahi. Karena itu, kalau kaum saleh ingin mengenal gereja dengan sempurna, mereka harus mengikuti Tuhan, dari kitab Injil terus melewati Surat-surat Kiriman, hingga mereka bisa melihat gereja-gereja lokal seperti yang disingkapkan di sini. Visi pertama dalam Kitab Wahyu berkaitan dengan gereja-gereja. Gereja-gereja, bersama Kristus yang menjadi sentralitas unik mereka, adalah fokus dalam administrasi ilahi, demi menggenapkan ketetapan kehendak kekal Allah.
Kalau tidak ada gereja-gereja lokal, saya tidak tahu bagaimana menempuh hidup ini. Lebih baik saya mati. Andaikata tidak ada gereja-gereja lokal, apa yang akan kita perbuat? Kita tidak akan memiliki arah, tujuan, atau sasaran, sehingga hidup kristiani kita tidak berarti. Gereja-gereja lokal adalah tujuan, arah, dan makna hidup kristiani kita. Ketika Anda menikmati hidup gereja lokal, boleh jadi Anda tidak begitu mengapresiasinya. Tetapi jika tidak ada gereja-gereja, Anda akan menyadari bahwa Anda telah dilucuti dari setiap berkat. Tanpa hidup gereja, kita tidak bisa meneruskan hidup, karena kita akan kehilangan tujuan dan makna menjadi orang Kristen.
Saya harap kita semua, khususnya kaum muda, akan tampak bahwa tujuan dari wahyu Allah adalah gereja-gereja lokal. Wahyu Allah akan terus maju, dan hanya akan berhenti bila Ia telah memperoleh gereja-gereja lokal. Gereja-gereja lokal itulah tujuan Allah. Allah telah membawa wahyu-Nya ke dalam gereja-gereja lokal. Itulah sebabnya gereja-gereja penuh dengan wahyu, terang, dan kebenaran. Di luar gereja, kita akan kekurangan terang, wahyu, dan makanan. Tetapi di dalam gereja-gereja penuh dengan wahyu, karena di sini adalah tujuan dari wahyu Allah. Jadi, semua kelimpahan wahyu ilahi ada di sini.
Jika Anda tampak hal ini, Anda akan tahu bahwa kita demikian giat bagi gereja, bukanlah hal yang berlebihan. Roh kita bisa mempersaksikan hal ini. Kapan saja kita tidak mempersaksikan gereja lokal, roh kita akan lembam. Kapan saja kita berupaya menjadi orang yang “pintar” dan tidak menimbulkan pertentangan terhadap diri kita dengan menghindari membahas gereja, batiniah kita segera akan mati. Tetapi kapan saja kita dengan berani membicarakan gereja lokal, kita akan dibangkitkan, roh kita akan hidup dan terbakar, kita merasa ingin bersorak, berteriak, dan bahkan mengguntur. Saya tahu, memang baik bila kita tidak menyinggung orang lain. Tetapi, bila saya mencoba tidak menyinggung orang lain, saya menyinggung Tuhan. Bila saya dengan tegas memberi tahu orang banyak bahwa gereja-gereja lokal adalah tujuan Tuhan, saya merasa Tuhan beserta dengan saya. Menurut seluruh Alkitab, Anak Manusia, Kristus, sedang berjalan di tengah-tengah gereja-gereja lokal. Jika Anda mencari Kristus, Anda harus datang ke gereja lokal. Anak Manusia sedang bergerak di antara gereja-gereja dan merawat mereka. Jika Anda ingin berbagian di dalam perawatan ini, Anda harus berada di dalam gereja lokal. Beban kami hari ini adalah membawa umat Allah kepada tujuan-Nya; tujuan kami adalah membantu kaum saleh mencapai tujuan Allah.
Sebelum kita masuk ke dalam gereka lokal, kita adalah pengembara-pengembara. Kita tidak pernah merasakan bahwa kita telah pulang ke rumah atau kita telah mencapai tujuan kita. Tetapi pada saat kita masuk ke dalam gereja lokal, kita tahu bahwa kita telah pulang. Setelah mengembara bertahun-tahun, kita mengetahui bahwa akhirnya kita telah mencapai tujuan kita. Kali pertama kita masuk ke dalam hidup gereja lokal, sesuatu dalam batin kita berkata, “Inilah tempatnya,” dan kita tahu bahwa kita ada di rumah. Karena kita telah tiba pada tujuan kita, kita tidak perlu lagi mengembara. Begitu banyak orang Kristen yang mencari Tuhan, hari ini menjadi pengembara; mereka mengembara dari satu denominasi ke denominasi lainnya. Tetapi pada saat kita masuk ke dalam hidup gereja, pengembaraan kita pun berakhir. Gereja lokal adalah yang Allah inginkan hari ini. Inilah stasiun terakhir dari wahyu-Nya. Kita hanya perlu menempuh hidup gereja lokal. Kita bersaksi bahwa kita bukan sebuah organisasi — kita adalah ekspresi lokal Tubuh Kristus.
II. PERKEMBANGAN EKSPRESI ALLAH
Allah Tritunggal menjelma dan diekspresikan dalam Kristus (Yoh. 1:1, 14; 1 Tim. 3:16; Kol. 2:9); Kristus dikenal dan dialami sebagai Roh itu (Yoh. 14:16-18; 1 Kor. 15:45; 2 Kor. 3:17; Rm. 8:9; Flp. 1:19). Roh itu adalah unsur penyusun gereja yang adalah Tubuh Kristus, kepenuhan-Nya (Ef. 1:22-23; 1 Kor. 12:12). Sekarang Tubuh Kristus diekspresikan di dalam semua gereja lokal, karena gereja-gereja lokal adalah ekspresi dari gereja universal (1:11-12). Gereja-gereja lokal adalah ekspresi Tubuh itu, Tubuh adalah realisasi Kristus sebagai Roh pemberi-hayat, dan Kristus adalah perwujudan Allah. Jadi, dalam gereja-gereja lokal kita memiliki Allah, Kristus, Roh itu, dan gereja. Inilah sebabnya gereja-gereja lokal demikian kaya. Di manakah Anda bisa menjumpai Allah dengan tujuan-Nya? Di dalam gereja lokal! Di manakah Anda bisa memperoleh Kristus dengan semua kekayaan-Nya? Di dalam gereja lokal! Di manakah Anda bisa berbagian di dalam Roh pemberi-hayat yang telah diperkuat itu? Di dalam gereja lokal! Di manakah Anda bisa menjadi bagian riil dari Tubuh? Di dalam gereja lokal! Oh, gereja lokal sangat berarti bagi kita! Haleluya! Amin! Kita bukan lagi pengembara — kita adalah orang-orang di dalam gereja lokal! Kita telah mencapai tujuan kita dan telah pulang ke rumah! Kita berada di rumah untuk selama-lamanya! Di sini, di dalam gereja, kita memiliki Allah dengan tujuan-Nya, kita memiliki Kristus dengan segala kekayaan-Nya, kita memiliki Roh pemberi-hayat yang diperkuat dan kita memiliki hidup gereja yang benar. Di sini Alkitab tidak sekadar terbuka lebih-lebih sangat riil. Haleluya atas gereja lokal! Semua ini tidak bisa tidak membuat kita bersukacita!
Wahyu Allah diawali dengan diri Allah dan dilanjutkan dengan Kristus dan Roh itu, terus mencapai tujuannya dalam gereja lokal. Tanpa gereja lokal, kita tidak mempunyai tujuan atas wahyu ilahi ini. Jelaslah, kekurangan orang-orang Yahudi, kebanyakan orang Kristen, dan bahkan kebanyakan orang yang disebut para rohaniawan ternyata di sini. Orang-orang Yahudi memiliki Allah, kebanyakan orang Kristen memiliki Allah dan Kristus, dan orang-orang Kristen yang lebih maju juga memiliki Roh itu, tetapi sangat sedikit orang Kristen yang memiliki hidup gereja yang normal dalam gereja lokal. Hari ini, dalam gereja lokal, kita memiliki Allah, Kristus, Roh itu, dan gereja.
Hasil dari perkembangan ekspresi Allah adalah gereja. Allah terwujud di dalam Kristus, Kristus direalisasikan dan dialami sebagai Roh itu yang menyalurkan hayat kepada kita, dan Roh itu menghasilkan gereja-gereja. Ketika kita mengalami dan merealisasikan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat, hasilnya adalah hidup gereja. Gereja adalah Tubuh, kepenuhan Kristus. Perkembangan dari wahyu ini adalah Allah, Kristus, Roh itu, gereja, dan gereja lokal. Inilah wahyu Allah dalam firman Kudus-Nya. Di dalamnya, kita bisa melihat bagaimana Allah direalisasikan oleh kita dan bagaimana Ia benar-benar diekspresikan dan dimanifestasikan.
Allah mula-mula mengambil langkah inkarnasi, terwujud riil di dalam Kristus. Jika Anda ingin berjumpa dengan Allah, Anda harus menjumpai Kristus. Inginkah Anda datang kepada Allah? Anda harus datang kepada Kristus. Di luar Kristus, tidak mungkin Anda menjamah Allah. Allah diwujudkan dalam seorang manusia yang nyata dan riil yang bernama Yesus Kristus. Anda berjumpa dengan Dia, Anda berjumpa dengan Allah. Anda menjamah-Nya, Anda menjamah Allah. Anda memperoleh Dia, Anda memperoleh Allah. Anda menerima-Nya, Anda menerima Allah, karena Ia adalah perwujudan Allah sendiri. Kristus kita realisasi-kan dan alami sebagai Roh pemberi-hayat. Ia bukan hanya Juruselamat kita, Penebus kita, Tuhan kita, kekudusan kita, dan kebenaran kita, Ia pun Roh pemberi-hayat. Sebagai Juruselamat, Penebus, dan Tuhan kita, Ia menjadi Roh pemberi-hayat. Jadi, yang kita miliki secara riil dan sesungguhnya pada hari ini adalah Roh pemberi-hayat. Kebanyakan orang Kristen telah kehilangan butir yang sangat penting ini, karena musuh yang licik itu dengan segala daya upayanya menyembunyikan perkara ini. Pada tahun-tahun yang silam, kita telah menyampaikan banyak berita dan mencetak sejumlah buku tentang Kristus sebagai Roh pemberi-hayat, tetapi sebagian orang Kristen masih belum tampak hal ini. Mereka malah menentangnya. Inilah kelicikan si musuh.
Jika Kristus hanya sebagai Juruselamat, Penebus, dan Tuhan kita, bagaimanakah gereja secara riil bisa dihasilkan? Juruselamat tidak bisa menghasilkan gereja secara langsung, Tuhan juga tidak bisa menghasilkan gereja secara langsung. Agar gereja bisa dihasilkan, perlu Kristus menjadi Roh pemberi-hayat. Untuk mengenal Kristus sebagai Roh pemberi-hayat, kita tidak seharusnya bergantung pada otak kita, karena otak kita terlalu terbatas untuk memahami hal ini. Sekalipun kita tidak bisa memahami secara tuntas, namun kita bisa mengalaminya. Periksalah pengalaman Anda. Pengalaman Anda setiap hari mempersaksikan bahwa Kristus yang Anda nikmati adalah Roh pemberi-hayat yang di dalam Anda. Bukan hanya diri Kristus yang ajaib, misterius, tidak terbatas, dan tidak terselidiki, bahkan makanan yang kita nikmati setiap hari pun di luar pengertian kita. Sekalipun kita tidak bisa memahami makanan kita melalui otak kita, kita bisa merasakannya melalui pengalaman kita. Melalui pengalaman kita mengetahui apakah makanan itu. Jangan memperhatikan pembahasan teologis. Orang-orang yang ikut serta dalam pembahasan itu terjerat karena memakai otak mereka secara berlebihan. Kita justru hanya mau firman murni dalam wahyu ilahi dan memperhatikan pengalaman riil pribadi kita. Pengalaman kita mempersaksikan bahwa Kristus yang kita nikmati setiap hari adalah Roh pemberi-hayat. Tidakkah Anda memiliki realitas dari Dia yang hidup di batin Anda? Inilah Kristus yang kita nikmati, alami, dan yang berhuni di dalam roh kita. Inilah Roh pemberi-hayat, diri Kristus sendiri. Jadi, Allah terwujud di dalam Kristus, dan Kristus direalisasikan serta kita alami di dalam kita sebagai Roh pemberi-hayat.
Pengalaman ini menghasilkan gereja. Semakin banyak kita mengalami Kristus, kita akan semakin merindukan gereja. Pengalaman ini akan menghasilkan satu rasa lapar dan haus yang dalam di batin kita. Semula, sewaktu kita tidak berada di dalam gereja lokal, kita tidak jelas akan rasa lapar dan haus kita. Tetapi setelah masuk ke dalam gereja, kita menemukan bahwa pengalaman kita terhadap Kristus telah membangkitkan satu rasa haus dan lapar terhadap hidup gereja. Bila kita menempuh hidup gereja, rasa haus dan lapar kita akan dipuaskan. Kepuasan ini menciptakan suatu apresiasi yang dalam terhadap Kristus di batin kita, dan hal itu selanjutnya membuat kita menikmati Dia semakin banyak. Semakin banyak kita menikmati Kristus, kita akan semakin merindukan hidup gereja; semakin kita merindukan hidup gereja, kita akan semakin memasuki gereja; dan semakin kita memasuki gereja, kita akan semakin mengapresiasi dan menikmati Kristus. Inilah satu siklus yang mulia, dan kita bisa bersaksi bahwa kita ada di dalamnya.
Tujuan ministri ini bukan untuk memberikan pengetahuan kepada kaum saleh, melainkan membantu membuka mata, pikiran, hati, dan roh kaum saleh untuk melihat wahyu Allah. Apa pun yang kita beritakan sepadan dengan pengalaman kita. Hari ini kita di sini untuk kesaksian Yesus yang muncul dari pengalaman yang sejati terhadap Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Jadi, saya katakan sekali lagi, Allah terwujud di dalam Kristus, Kristus direalisasikan dan dialami sebagai Roh pemberi-hayat, dan pengalaman terhadap Kristus sebagai Roh pemberi-hayat menghasilkan hidup gereja. Gereja adalah Tubuh, ekspresi dan kepenuhan Kristus. Demikian, gereja pasti memiliki ekspresi lokal. Gereja universal adalah Tubuh, kepenuhan Kristus, dan gereja-gereja lokal adalah ekspresi dari gereja universal ini. Kita hari ini berada di dalam ekspresi ini. Haleluya!
III. CARA MELIHAT WAHYU ALLAH DAN
MENGENAL EKSPRESI ALLAH
A. Tersisih bagi Allah
Untuk melihat wahyu Allah dan mengenal ekspresi-Nya, kita perlu tersisih bagi Allah. Rasul Yohanes sepenuhnya tersisih bagi Allah di Pulau Patmos (1:9). Ia juga dibawa kepada pintu yang terbuka di surga (4:1) dan ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi (21:10), dan dengan demikian melihat wahyu Allah dan mengenal ekspresi Allah. Hari ini, banyak orang Kristen yang membicarakan gereja tetapi tidak tampak gereja-gereja lokal, terutama karena mereka tidak tersisih bagi Allah.
B. Berada di Dalam Roh Insani
Wahyu 1:10 mengatakan, “Pada hari Tuhan aku berada di dalam roh dan aku mendengar dari belakangku suatu suara yang nyaring, seperti bunyi sangkakala” (Tl). Kitab Wahyu bukan hanya menekankan Roh Allah sebagai Roh yang diperkuat tujuh kali lipat untuk pergerakan Allah yang diperkuat, juga menekankan roh manusia, sebagai organ untuk mengerti serta menanggapi pergerakan Allah. Hanya roh (kita) yang bisa memberi tanggapan kepada Roh (Allah). Kitab Wahyu tersusun dari empat visi utama: (1) visi tentang gereja-gereja (pasal 1-3); (2) visi tentang nasib dunia (pasal 4-16); (3) visi tentang Babel besar (pasal 17-20); dan visi tentang Yerusalem Baru (pasal 21-22). Yohanes melihat keempat visi tersebut dalam roh (1:10; 4:2; 17:3; 21:10), maksudnya dia menerima wahyu tentang rahasia Kristus dalam rohnya, sesuai dengan yang dikatakan dalam Efesus 3:5 (“di dalam Roh” seharusnya “di dalam roh”). Jika kita ingin melihat visi dalam kitab ini, kita juga harus di dalam roh. Hal ini bukan hanya soal pemahaman dengan otak dalam pikiran kita, melainkan realisasi rohani dalam roh kita. Dalam visi pertama kitab ini, visi tentang gereja-gereja, baik Kristus maupun para utusan gereja-gereja disingkapkan bersama gereja-gereja seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan sangat khusus. Untuk itu kaum beriman memerlukan suatu visi yang khusus dalam roh mereka.
Hari Tuhan dalam ayat ini seharusnya adalah hari yang pertama dari ketujuh hari, yaitu hari kebangkitan Tuhan (Yoh. 20:1). Gereja sebermula senantiasa berhimpun pada hari itu (Kis. 20:7; 1 Kor. 16:2). Pada hari itulah, di dalam roh, Yohanes melihat visi ekonomi Allah. Untuk melihat wahyu gereja-gereja lokal, kita perlu berpaling dari pertimbangan pikiran kita ke roh kita yang bisa melihat hal tersebut. Tetap berada di dalam pertimbangan pikiran akan mengacaukan visi tentang gereja-gereja.
C. Mendengar Suara Tuhan
Jika orang-orang Kristen hanya mengerti doktrin mengenai gereja-gereja lokal, mereka tidak mungkin bisa melihat visi. Semua orang Kristen perlu mendengar suara, pembicaraan Tuhan yang segar dan yang hidup. Suara Tuhan memimpin kita kepada visi tentang gereja lokal.
D. Berpaling ke Suara Tuhan
Wahyu 1:12 mengatakan, “Lalu aku berpaling untuk melihat suara yang berbicara kepadaku. Setelah aku berpaling, tampaklah kepadaku tujuh kaki pelita dari emas.” Untuk melihat sesuatu, perlu posisi yang benar dan sudut pandang yang tepat. Mula-mula Rasul Yohanes mendengar suara (ayat 10). Kemudian, ketika dia berpaling untuk melihat suara yang berbicara, tampaklah tujuh kaki pelita emas. Posisinya benar, tetapi ia masih memerlukan sudut pandang yang tepat untuk melihat visi tentang gereja-gereja; sebab itu, dia berpaling. Hari ini kita juga demikian. Banyak orang Kristen perlu membetulkan posisinya, dan berpaling, agar dapat melihat visi tentang gereja-gereja.