IKUT SERTA DALAM KESUSAHAN, KERAJAAN, DAN KETEKUNAN YESUS
Dalam berita ini kita akan melihat wahyu 1:9, yang mengatakan, “Aku, Yohanes, saudaramu yang ikut serta (mengambil bagian) dalam kesusahan, dan Kerajaan, dan ketekunan dalam Yesus, berada di pulau yang bernama Patmos oleh karena firman Allah dan kesaksian Yesus” (Tl.). Kitab Wahyu tersusun dengan sangat menakjubkan. Sung-guh bermakna, ayat ini ditulis setelah 1:7, yang menye-butkan kedatangan Tuhan. Ini menunjukkan, jika kita ada-lah orang-orang yang berjaga-jaga menantikan kedatangan kembali Tuhan, kita pasti adalah orang-orang yang ikut serta (mengambil bagian) dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan Yesus, bukan dalam berkat yang di luar.
I. IKUT SERTA DALAM KESUSAHAN YESUS
Ungkapan “dalam Yesus” menjelaskan kata-kata kesusahan, kerajaan, dan ketekunan, dan kita harus baik-baik memperhatikannya. Ungkapan ini sangat jarang terdapat dalam Perjanjian Baru. Ungkapan “dalam Kristus” atau “dalam Kristus Yesus”, malahan sebaliknya, sering diguna-kan. Dalam Perjanjian Baru, kebenaran terutama terdapat dalam Kristus, tetapi di sini digunakan ungkapan “dalam Yesus”. Hal ini memberi tahu kita bahwa jika kita adalah orang-orang yang menantikan kedatangan-Nya kembali, kita pasti adalah orang-orang yang berbagian dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan “dalam Yesus”. Sewaktu kita berbi-cara tentang keselamatan, anugerah, kenikmatan, dan se-mua perkara yang baik, kita mengatakan bahwa kita ber-ada “dalam Kristus”, karena ungkapan ini mengacu kepada segala perkara yang positif dalam keselamatan Allah. Tetapi mengatakan kita berbagian dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan dalam Yesus berarti kita menderita.
Sewaktu Yesus hidup di bumi sebagai seorang manusia, Ia terus-menerus menderita. Menurut fakta dalam hidup-Nya, nama-Nya, Yesus, mengacu kepada Juruselamat yang banyak menderita dan mengalami sengsara (Yes. 53:3). Ka-rena itu, bila kita mengatakan bahwa kita berada dalam Kristus, berarti kita telah beroleh selamat, menikmati anu-gerah Allah, berdamai dengan Allah, dan berada di bawah berkat Allah. Tetapi bila kita berkata bahwa kita berbagian dalam kesusahan, kerajaan, dan ketekunan “dalam Yesus”, berarti kita menderita dan dianiaya sewaktu kita meng-ikuti Yesus, orang Nazaret itu. Dalam Kitab Wahyu, ung-kapan “dalam Kristus” tidak digunakan. Sebaliknya, dalam Surat Efesus, istilah “dalam Kristus” atau “dalam Dia” di-pakai berkali-kali, bahkan ditemukan di setiap pasal dalam Surat Kiriman itu. Kitab Wahyu adalah untuk orang-orang yang menderita kesusahan “dalam Yesus”, berarti mereka yang menantikan kedatangan Tuhan Yesus pastilah orang-orang yang menderita kesusahan dalam Yesus. Dengan kata lain, mereka yang menantikan kedatangan kembali Tuhan adalah orang-orang yang menderita. Dalam pandangan Allah, kita adalah pengikut-pengikut Kristus, tetapi dalam pandangan orang banyak, terutama agama, kita adalah pengikut-pengikut Yesus.
A. Yesus Telah Mengalami Penganiayaan
Sewaktu Ia Berada di Bumi
Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia dianiaya oleh agama Yahudi (Yoh. 5:16; 15:20). Ia bukan dianiaya oleh orang kafir, agama kafir, melainkan oleh agama yang se-cara khusus dibentuk menurut firman Allah. Agama benar-benar diperalat oleh musuh Allah. Agama berlawanan dengan Kristus, dan Kristus berlawanan dengan agama. Yohanes 5:16 mengungkapkan bahwa orang-orang Yahudi meng-aniaya Yesus karena Ia melanggar Sabat mereka. Para aga-mawan tidak tahan melihat peraturan-peraturan mereka dilanggar. Pelanggaran apa pun yang dilakukan terhadap peraturan agama mereka, pelanggarnya akan dianiaya. Agama Yahudi didirikan di atas tiga tiang, yang pertama adalah hari Sabat; dua tiang lainnya adalah sunat dan ber-bagai peraturan tentang makan. Ketika Tuhan Yesus me-langgar hari Sabat, Ia merobohkan salah satu di antara ke-tiga tiang agama Yahudi. Karena itu, mereka menganiaya-Nya dan bahkan ingin membunuh-Nya. akhirnya, agama menang dan benar-benar membunuh Tuhan Yesus, meng-hukum-Nya mati sesuai dengan Kitab Suci mereka. Na-mun, di bawah kedaulatan Allah, orang-orang Yahudi saat itu tidak mempunyai hak untuk membunuh seorang pun. Karena itu, mereka menyerahkan Yesus ke pemerintah Romawi dan pemerintah Romawi menggunakan cara mere-ka menghukum orang-orang yang terlibat dalam kejahatan untuk menyalibkan Tuhan Yesus di kayu salib.
Sebagaimana agama menganiaya Yesus, agama juga menganiaya pengikut-pengikut Yesus. Dari Kitab Kisah Pa-ra Rasul kita tahu bahwa orang-orang Yahudi di dalam si-nagoge di setiap kota menghasut orang-orang menentang para Rasul, dan Paulus sangat sering menderita aniaya se-macam itu. Yohanes, penulis Kitab Wahyu, juga mengalami aniaya semacam itu. Ketika Yohanes menerima wahyu ten-tang kitab ini, ia berada di Pulau Patmos. Ia dibuang ke sana karena “firman Allah dan kesaksian Yesus”. Ketika ia menulis kitab ini, ia mendorong kaum saleh untuk menan-tikan kedatangan kembali Tuhan dengan memberi tahu mereka bahwa ia adalah saudara dan bersama mereka meng-ambil bagian, bukan dalam anugerah, hayat, damai sejah-tera, dan terang Yesus, melainkan dalam penderitaan, ke-susahan Yesus.
Seperti telah kita ketahui, ketika Yesus berada di bumi, Ia menderita di bawah tangan agama. Kekaisaran Romawi tidak banyak memperhatikan Dia. Agama Yahudilah yang meminta pemerintah Romawi menghakimi diri-Nya. Jadi, penganiayaan yang menimpa-Nya bukan dari dunia kafir, melainkan dari dunia agama. Dalam Kitab Kisah Para Ra-sul kita nampak hal yang sama terjadi pada diri para Ra-sul. Tentangan yang diterima terutama bukan berasal dari orang kafir, melainkan dari agama Yahudi. Orang-orang Yahudi mengikuti Paulus ke mana saja ia pergi, bahkan boleh jadi memata-matainya. Demikian juga, banyak para martir dianiaya oleh apa yang disebut Gereja Roma Katolik. Seperti yang dipaparkan oleh Foxe dalam sejarah para mar-tir, Gereja Roma Katolik membunuh lebih banyak orang saleh daripada yang dilakukan oleh Kekaisaran Romawi. Siapa yang memenjarakan Madame Guyon? Gereja Roma Katolik. Siapa yang memenjarakan John Bunyan? Gereja Inggris. Agama selalu menganiaya para pengikut Yesus yang sejati.
Sekarang giliran kita yang mengalami penganiayaan ini. Selama saya bersama Saudara Watchman Nee di China, saya melihat betapa sering ia dianiaya oleh agama. Desas-desus, tentangan, dan kecaman datang silih berganti, bu-kan dari orang-orang kafir, melainkan dari kalangan ke-kristenan; bahkan dari beberapa misionaris. Iblis itu licik. Dunia sekuler menentang kita tidak sebanyak yang dilaku-kan para agamawan. Kebanyakan orang di sini Kristen te-lah mengira agama itu suatu hal yang baik, tetapi nyatanya agama diperalat Iblis. Jika Anda membaca Kitab Galatia, Anda akan melihat betapa hebatnya Paulus menganiaya gereja ketika ia masih berada dalam agama Yahudi. Galatia 1 menampakkan bahwa agama menentang Kristus dan Kristus berlawanan dengan agama. Jika kita bekerja sama dengan agama, maka akan timbul suatu damai yang kom-promis. Tetapi bagaimanakah kita dapat bergandengan de-ngan agama? Agama begitu licik dan palsu, adalah tiruan ekonomi Allah. Setiap orang yang nampak bahwa agama adalah tiruan ekonomi Allah, pasti akan mengecamnya.
B. Sekarang Yesus Menderita Penganiayaan Bersama Pengikut-Nya
Karena kita tidak bekerja sama dengan agama, maka agama menganiaya kita. Penganiayaan yang kita derita hari ini adalah penganiayaan dalam Yesus. Sekarang Ia mende-rita penganiayaan bersama para pengikut-Nya (Kis. 9:4-5). Sewaktu kita menderita hari ini, Ia pun menderita di da-lam dan bersama kita. Ketika Saulus dari Tarsus melaku-kan perjalanan ke Damsyik dengan maksud menangkap semua orang yang berseru kepada nama Yesus, Tuhan Yesus memukulnya roboh ke tanah, dan berkata, “Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (Kis. 9:4). Saulus men-jawab, “Siapa Engkau, Tuan?” Yesus menjawab, “Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (Kis. 9:5) Saulus tidak pernah mengira kalau ia menganiaya Yesus. Pikirnya, Yesus ber-ada di dalam kubur, dan kini ia menganiaya Stefanus dan pengikut-pengikut Yesus yang lain. Tetapi menurut Tuhan Yesus, Saulus menganiaya Dia, karena pada saat itu, Ia ada di dalam Stefanus, Petrus, Yohanes, dan semua ang-gota Tubuh-Nya yang lain. Ia bersatu dengan mereka. De-mikian pula hari ini. Ketika para agamawan menganiaya kita, mereka sebenarnya sedang menganiaya Yesus, karena Yesus ada di dalam kita dan bersatu dengan kita. Kita bo-leh merasa terhibur karena penderitaan yang kita alami adalah penganiayaan dalam Yesus. Kita mengambil bagian dalam kesusahan Yesus.
C. Para Pengikut-Nya Juga Dianiaya dan Menanggung Kehinaan-Nya pada Zaman Ini
Para pengikut Yesus juga dianiaya pada zaman ini, menanggung kehinaan-Nya (2:10; Yoh. 16:2, 33; Kis. 14:22; Ibr. 13:13). Ibrani 13:13 mengatakan, “Karena itu, marilah kita pergi kepada-Nya di luar perkemahan dan menang-gung kehinaan-Nya.” Ketika berada di bumi, Tuhan Yesus menanggung penghinaan dari agama. Sekarang, sebagai pengikut-Nya, kita harus menanggung kehinaan-Nya, me-nanggung penghinaan dari agama. Inilah makna mengam-bil bagian dalam kesusahan Yesus.
Akan tetapi, ada beberapa penderitaan yang boleh jadi bukan akibat kita mengikut Yesus, melainkan karena ke-bodohan kita. Penderitaan semacam itu tidak patut disebut menderita dalam Yesus. Kita tidak sepatutnya menimbul-kan kesulitan karena bertindak bodoh. Namun, kita harus jujur dan setia bagi kesaksian Tuhan. Jika kejujuran dan kesetiaan kita mendatangkan penderitaan dan penganiaya-an bagi kita, itulah penganiayaan dalam Yesus, itulah Yesus menderita bersama kita.
Kita tidak mungkin bisa menghindar dari pengania-yaan oleh agama. Kita tidak bisa melarikan diri karena musuh menggunakan agama melebihi dari yang pernah ter-jadi sebelumnya. Tidak ada apa pun yang menghalangi eko-nomi Allah melebihi agama. Selain agama, tidak ada apa pun yang membutakan, menutupi, dan menyelubungi orang banyak hingga mereka tidak dapat melihat ekonomi Allah. Berjuta-juta orang telah dibutakan olehnya. Di seluruh bu-mi, agama telah membutakan dan menyelubungi mata orang banyak sehingga tidak bisa nampak ekonomi Allah. Karena ini, peperangan berkecamuk. Dalam peperangan ini, kita harus meniup terompet kita, dan berkata, “Keluarlah dari agama, renggutkanlah selubung agama dari matamu, dan tinggalkanlah semua konsepsi keagamaanmu.” Begitu kita berbuat demikian, tentangan segera datang. Beberapa te-man baik datang kepada saya, menganjuri saya agar mau kompromi sedikit. Tetapi kita tidak pernah mau kompromi. Semua orang yang menantikan kedatangan Tuhan Yesus haruslah berbagian dalam penderitaan-Nya. Jangan hanya berkata, “Tuhan Yesus, aku mengasihi Engkau. Datanglah segera.” Jika kita berkata demikian, Tuhan akan menja-wab, “Aku ingin engkau menderita untuk-Ku dan bersama-Ku.” Jangan berusaha menghindari penganiayaan. Jika kita menggunakan kepandaian kita untuk menghindari peng-aniayaan, maka kita bukan pelayan yang baik yang menan-tikan kedatangan Tuhan. Jika Anda bersungguh-sungguh menantikan kedatangan-Nya kembali, maka penganiayaan oleh agama akan bangkit melawan Anda. Tetapi janganlah kita menimbulkan penganiayaan dengan bertindak bodoh. Dalam perkara ini, kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mat. 10:16).
II. IKUT SERTA DALAM KERAJAAN YESUS
Jika kita ikut serta dalam kesusahan Yesus, maka kita juga ikut serta dalam kerajaan. Berbagian dalam pengania-yaan Yesus berarti berbagian dalam kerajaan. Jika Anda ti-dak memahami apakah penganiayaan itu, maka Anda juga tidak memahami apakah kerajaan itu.
A. Kerajaan Ada Bersama Yesus
Ketika Ia Ada di Bumi
Banyak orang Kristen memiliki pandangan yang salah terhadap kerajaan. Ada yang mengatakan kerajaan sudah datang, tetapi karena ditolak maka ditangguhkan. Mereka yang berpandangan demikian berkata bahwa kerajaan telah datang, namun telah ditolak dan ditangguhkan, karena itu kerajaan akan datang lagi kelak. Menurut ajaran itu, keti-ka Tuhan Yesus datang kembali, Ia akan membawa kera-jaan yang telah ditangguhkan itu bersama-Nya. Itu adalah suatu doktrin yang kosong. Kerajaan ada bersama Yesus ke-tika Ia ada di bumi. Tuhan Yesus berkata kepada orang-orang Farisi, “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda la-hiriah, juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu” (Luk. 17:20-21). Dalam potong-an firman ini, kita nampak bahwa kerajaan ada di mana Yesus berada. Dalam Matius 12:28, Tuhan Yesus berkata, “Tetapi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepada-mu.” Ini berarti kerajaan ada bersama Tuhan ketika Ia berada di bumi.
B. Kaum Beriman Dilahirkan ke Dalam Kerajaan
Kaum beriman Yesus telah dilahirkan ke dalam keraja-an. Yohanes 3:5 membuktikan hal ini. Dalam ayat itu, Yesus berkata kepada Nikodemus, “Sesungguhnya Aku berkata ke-padamu, jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Kita telah di-lahirkan kembali ke dalam kerajaan. Bagaimana kita bisa masuk ke dalam kerajaan melalui kelahiran kembali jika kerajaan itu ditangguhkan? Lalu kita dilahirkan kembali ke dalam apa? Seperti yang ditulis dengan jelas dalam Yohanes 3, kita telah dilahirkan kembali ke dalam kerajaan.
C. Hidup Gereja Hari Ini Adalah Kerajaan
Dalam Matius 16:18-19 Tuhan berkata kepada Petrus, “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku (gereja-Ku) dan alam maut tidak akan menguasainya. Ke-padamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.” Ini me-nunjukkan bahwa dalam pengertian yang benar, gereja ada-lah kerajaan. Roma 14:17 juga menunjukkan bahwa kita yang berada di dalam gereja berada di dalam kerajaan. Hi-dup gereja yang benar adalah kehidupan kerajaan.
Lalu, apakah kerajaan itu? Kerajaan adalah pemerin-tahan surgawi dalam sifat ilahi. Kita semua telah dilahir-kan kembali dengan hayat ilahi. Dalam hayat ini terdapat sifat ilahi, dan dalam sifat ilahi ini terdapat suatu peng-aturan, suatu penguasaan, suatu pemerintahan. Pemerin-tahan ini ilahi pun surgawi. Kita, orang-orang yang telah dilahirkan kembali, kini berada di bawah pengaturan ini; kita berada di bawah pemerintahan dan pengendalian ini. Kita perlu melaksanakan pengaturan ini di atas diri kita. Jika Anda masih memerlukan seseorang untuk mengatur Anda, berarti Anda telah jatuh. Kita harus berada di bawah pengaturan surgawi atas segala hal yang kita perbuat. Da-lam berita yang lalu telah kita bicarakan tentang menjadi tentara Kristus. Tetapi jika Anda tidak berada di bawah pengaturan hayat ilahi, Anda tidak akan dipilih menjadi tentara-Nya. Dipilih menjadi tentara tergantung pada ke-taatan Anda kepada pengaturan surgawi di dalam sifat ilahi. Hayat ilahi membawa kita ke dalam kerajaan ilahi. Kerajaan, yang ke dalamnya kita dilahirkan kembali menu-rut Yohanes 3:5, adalah kerajaan yang disebutkan oleh Yohanes dalam Wahyu 1:9. Bagaimana kita bisa ikut serta dalam kerajaan jika kita tidak pernah dilahirkan kembali ke dalamnya? Setelah kita dilahirkan kembali ke dalam ke-rajaan, kita harus tetap tinggal di dalamnya. Jika Anda masih sering berbantahan dengan istri atau suami Anda, berarti Anda melarikan diri dari kerajaan. Jika Anda tetap berada di dalam kerajaan dan hidup di dalamnya, Anda ti-dak akan bertengkar dengan suami Anda, istri Anda, atau dengan siapa saja. Walaupun musuh mencobai Anda dengan mengajak bertengkar, pengaturan kerajaan surgawi akan mengendalikan Anda.
D. Kaum Beriman-Nya
Menderita Penganiayaan bagi Kerajaan
Berada di dalam kerajaan Yesus hari ini bukanlah sua-tu kemuliaan. Ketika kerajaan Yesus menjadi kerajaan Kristus, itulah saatnya beroleh kemuliaan. Hari ini, kera-jaan Yesus adalah suatu kerajaan penderitaan. Dalam Matius 5:10-12 Tuhan Yesus berkata bahwa kaum beriman-Nya menderita penganiayaan bagi kerajaan itu. Jika kita mende-rita bagi kebenaran, maka kita berada dalam Kerajaan. Ada hal-hal tertentu yang tidak bisa kita lakukan, karena hal-hal itu tidak benar. Hari ini, semua manusia tidaklah benar. Jika kita menyetujui ketidakbenaran, orang-orang akan menyambut kita. Tetapi jika kita berdiri bagi kebe-naran, orang-orang akan menentang dan menganiaya kita. Menderita penganiayaan bagi kerajaan membuktikan hari ini kita berada dalam Kerajaan Allah. Jangan mengira hari ini berada dalam kerajaan adalah suatu kemuliaan. Tidak, hari ini berada dalam kerajaan adalah menanggung kehi-naan dan menderita penganiayaan. Bila kita berada dalam kerajaan, kita akan semakin menderita dan dianiaya. Tetapi puji Tuhan, penderitaan itu adalah suatu bukti yang kuat yang menunjukkan bahwa kita berada di dalam kerajaan.
Hari ini berada di dalam kerajaan merupakan suatu perkara berada dalam kesusahan Yesus. Sekalipun kita ber-bagian dalam kerajaan Yesus, namun kita belum lagi me-raja bersama Kristus. Ketika Ia kembali, kita akan meraja bersama dalam kerajaan Kristus. Pada saat itu, kita tidak lagi menderita. Janganlah berkata kepada orang lain, “Ka-lian harus menghormati aku. Aku adalah mitra dalam ke-rajaan surgawi, dan suatu hari aku akan meraja bersama Kristus dalam kerajaan.” Semakin Anda berkata demikian, Anda akan semakin dianiaya. Hari ini bukanlah masa me-merintah, melainkan masa menderita. Sekarang kita belum lagi berada dalam kerajaan yang memerintah, melainkan dalam kerajaan penderitaan. Itulah sebabnya Paulus berka-ta, untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mela-lui banyak sengsara (Kis. 14:22). Jalan masuk ke dalam kerajaan yang memerintah adalah melalui penderitaan. Sengsara yang dimaksud Paulus dalam Kisah Para Rasul 14:22 terutama adalah penganiayaan yang dilakukan oleh agama Yahudi. Semua orang beriman dalam Kristus meng-alami penganiayaan semacam ini. Paulus sepertinya ber-kata, “Kalian orang-orang Kristen, kaum beriman Yesus, harus menderita penganiayaan dari agama Yahudi.” Dalam prinsipnya, demikian pula hari ini. Jika hari ini tidak ada agama di dunia, kita tidak akan menderita banyak peng-aniayaan. Seperti yang telah kita tunjukkan, kebanyakan kesulitan, penganiayaan, desas-desus, dan tentangan bersumber pada satu hal — agama. Ketika kita menderita hari ini, kita berada dalam kerajaan tempat kita dilatih, di-didik, dipersiapkan, dan dilayakkan untuk menjadi pasuk-an Kristus dan untuk memerintah dalam kerajaan-Nya sebagai raja bersama Dia.
III. IKUT SERTA DALAM KETEKUNAN YESUS
Dalam 1:9, Yohanes juga berkata bahwa ia ikut serta dalam ketekunan Yesus. Terhadap kesusahan maupun ke-rajaan, kita memerlukan ketekunan. Banyak orang saleh, bahkan di tengah-tengah kita yang berada dalam pemulihan Tuhan, kekurangan ketekunan. Ada sebagian orang yang menderita penganiayaan dari sanak-keluarga, teman-teman, dan para tetangga, namun akhirnya mereka kehabisan ke-tekunan. Memang mereka sanggup menahan penganiayaan itu untuk sejangka waktu, namun untuk menanggungnya lebih lama lagi, mereka kekurangan ketekunan. Ketika Tu-han Yesus berada di bumi, Ia menanggung aniaya (Ibr. 12:2-3), dan hari ini Ia masih menanggung tentangan dan kehi-naan. Perhatikan betapa banyak, bahkan sampai hari ini, orang yang menentang dan menghina Tuhan Yesus. Di satu pihak, Ia sedang duduk di surga; di pihak lain, Ia masih di-ejek, ditentang, dan dianiaya. Banyak orang di antara kita mungkin berharap Tuhan Yesus berkata kepada para peng-ejek-Nya, “Bertobatlah! Jika tidak, Aku akan menimbulkan gempa bumi untuk memusnahkan kalian!” Tuhan Yesus te-lah dihina selama sekitar dua ribu tahun, tetapi Ia tidak melawan. Sebaliknya, Ia terus-menerus menerima semua serangan itu. Mungkin ada orang yang berkata, “Yesus, aku membenci-Mu,” tetapi Ia tidak memberikan tanggapan. Itulah kesabaran dan ketekunan Yesus.
Tidak banyak di antara kita yang telah mendengar ten-tang ketekunan Yesus. Kita telah mendengar tentang kuasa Yesus, kasih Yesus, kekudusan Yesus, kebenaran Yesus, tetapi belum mendengar tentang ketekunan Yesus. Namun, asal kita hidup dalam Kristus, kita berbagian bukan hanya dalam hayat-Nya dan kekudusan-Nya, tetapi juga dalam ketekunan-Nya. Bila kita tinggal dalam Kristus, kita berba-gian dalam ketekunan-Nya dan memiliki ketekunan untuk menanggung penderitaan dan tentangan. Firman Tuhan malah disebut firman ketekunan (3:10 Tl.). Hari ini seluruh dunia menentang dan menolak-Nya, tetapi Ia tidak memba-lasnya. Ia sabar terhadap semuanya itu. Sekarang, saat ki-ta bersekutu dengan-Nya dan tinggal dalam Dia, kita ber-bagian dalam ketekunan-Nya. Sebagai pengikut-Nya, kita harus mengikuti Dia di jalan yang sama dengan penuh ke-tekunan (Ibr. 12:1). Dengan demikian, kita juga bisa me-nanggung penganiayaan, desas desus, penolakan, dan ten-tangan. Ini suatu bukti kuat yang menunjukkan bahwa kita adalah orang-orang yang sedang menantikan kedatangan-Nya kembali. Di satu pihak kita menantikan kedatangan-Nya kembali dengan berbagian dalam kesusahan-Nya, kera-jaan-Nya, dan ketekunan-Nya, di lain pihak kita didisiplin, dilatih, dipersiapkan, dan dilayakkan untuk menjadi ten-tara-Nya. Apakah Anda sedang menantikan Tuhan Yesus datang kembali? Jika ya, Anda harus ikut serta dalam ke-susahan, kerajaan, dan ketekunan-Nya.