← Daftar isi Wahyu (2) · bab 10/16

GEREJA DI EFESUS — KASIH, HAYAT, DAN TERANG

Susunan Kitab Wahyu sangat baik. Setelah pasal 1, pasal 2 dan 3 memperlihatkan kepada kita gambaran yang jelas tentang ketujuh gereja yang riil. Ketujuh gereja terse-but adalah ilustrasi yang sangat baik, yang mewahyukan gereja-gereja lokal; bukan dalam doktrin, melainkan dalam praktek (pelaksanaan) yang sebenarnya. Dengan memperha-tikan ketujuh gereja ini kita dapat mengetahui dengan jelas apa dan bagaimana seharusnya gereja lokal itu.

Ketujuh surat pada pasal 2 dan 3 adalah catatan me-ngenai keadaan yang sesungguhnya dari ketujuh gereja pa-da saat kitab ini ditulis. Namun, karena kitab ini adalah sebuah kitab tanda yang bersifat nubuat, maka keadaan ketujuh gereja ini juga adalah tanda, yang melambangkan perkembangan gereja dalam tujuh tahap. Surat yang perta-ma, ditulis untuk gereja di Efesus, menyajikan sebuah gam-baran kesudahan gereja sebermula, gereja tahap pertama, pada masa akhir abad ke-1. Surat kedua ditulis untuk ge-reja di Smirna, melambangkan gereja yang menderita di bawah penganiayaan Kekaisaran Romawi, dari akhir abad ke-1 sampai awal abad ke-4, ketika Konstantin Agung, kai-sar dari Kekaisaran Romawi menerima agama Kristen seba-gai agama negaranya. Surat yang ketiga ditulis untuk gereja di Pergamus, melambangkan gereja yang duniawi (gereja kawin dengan dunia), dari Konstantin menerima kekristen-an sampai berdirinya sistem kepausan pada akhir abad ke-6. Surat yang keempat ditulis untuk gereja di Tiatira, menggambarkan gereja yang murtad; sejak berdirinya sis-tem kepausan pada akhir abad ke-6, sampai akhir zaman ini, saat Kristus kembali. Surat yang kelima ditulis untuk gereja di Sardis, dari pergerakan Reformasi pada awal abad ke-16 sampai Kristus kembali. Surat yang keenam ditulis untuk gereja di Filadelfia, menggambarkan gereja kasih persaudaraan, yaitu pemulihan hidup gereja yang wajar; dari awal abad ke-19, ketika para saudara di Inggris di-bangkitkan, mempraktekkan gereja di luar sistem denomi-nasi dan perpecahan, sampai penampakan Tuhan kali ke-dua. Surat yang ketujuh ditulis untuk gereja di Laodikia, menggambarkan hidup gereja yang merosot dari para sau-dara dalam abad ke-19; dari akhir abad ke-19 sampai Tu-han kembali. Dalam berita ini dan enam berita berikutnya, kita akan membicarakan ketujuh gereja ini secara bertu-rut-turut.

Mari kita melihat gereja di Efesus (2:1-7). Kata-kata penting dalam berita ini adalah kasih, hayat, dan terang. Syarat pokok menempuh hidup gereja adalah kasih kita ke-pada Tuhan. Kasih Tuhan kepada kita tidak perlu diper-soalkan. Ia telah mengasihi kita dan tetap mengasihi kita. Persoalannya adalah kasih kita kepada-Nya. Sekalipun kita telah mengasihi Dia pada waktu lampau dan mungkin me-ngasihi-Nya sekarang, tetapi masih ada bahayanya, yaitu kasih kita kepada Tuhan Yesus itu bisa memudar. Surat kepada gereja di Efesus memperingatkan kita akan hal ini. Surat ini juga memberikan wahyu yang jelas kepada kita penyebab utama kemerosotan hidup gereja — pudarnya ka-sih yang semula. Nanti akan kita lihat bahwa kasih mem-berikan, kedudukan, tumpuan hak, dan kelayakan kepada kita untuk makan pohon hayat. Kasih memberi kita suplai hayat. Jika kita mengasihi Tuhan, kita akan mempunyai hak penuh untuk menikmati Dia sebagai pohon hayat, sebagai suplai hayat kita. Terang selalu mengikuti hayat berasal dari kelimpahan suplai hayat. Hayat memberi kita terang. Dalam Kemah Pertemuan, kaki pelita disebut di be-lakang meja roti sajian. Hal ini menyatakan bila kita me-nikmati Kristus sebagai suplai hayat kita, kita akan memi-liki terang hayat. Betapa pentingnya kita mengasihi Tuhan. Jika kita memiliki kasih, kita akan mempunyai hayat yang dilambangkan dengan pohon hayat dan terang yang dilam-bangkan dengan kaki pelita.

Singkatnya, persoalan gereja di Efesus ialah hilangnya kasih yang semula kepada Tuhan. Sebab itu, Tuhan datang menanggulanginya secara tuntas dan memperingatkan, be-tapa bahayanya jika tidak bertobat, karena kaki pelitanya akan diambil dari tempatnya. Jika di antara mereka ada yang bertobat dan kembali kepada kasih yang semula, Tu-han akan menganggapnya sebagai pemenang. Tuhan berjanji, pemenang berhak menikmati Dia sebagai pohon hayat. Su-dah tentu kaki pelita takkan diambil dari antara mereka yang menjadi pemenang. Namun jika kita tidak mau bertobat karena kasih kita yang telah pudar kepada Tuhan, kita akan kehilangan hak makan pohon hayat dan kaki pelita akan diambil dari tengah-tengah kita. Jika demikian, kita tidak akan memiliki kasih dan terang. Ini adalah keadaan sangat kasihan!

I. PEMBICARA

Wahyu 2:1 mengatakan, “Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki pelita emas itu.” Ketujuh surat ini di-mulai dengan gambaran pembicaranya. Sebelum Tuhan mengatakan sesuatu kepada gereja-gereja, Ia selalu menga-takan siapa Dia. Dalam surat yang pertama, Tuhan menga-takan bahwa Ia adalah Dia yang memegang ketujuh bintang di tangan kanan-Nya dan yang berjalan di antara ketujuh kaki pelita emas itu. Kedua hal ini membuktikan bahwa Tuhan sangat normal, sejati, dan tepat. Ia memelihara ge-reja-gereja dengan memegang pemimpin-pemimpin dalam gereja itu di tangan kanan-Nya sambil berjalan di antara semua gereja. Utusan (malaikat) gereja adalah rohaniwan, dilambangkan dengan bintang yang gilang-gemilang, yang mengemban kesaksian Yesus, berada dalam genggaman tangan kanan Tuhan, dan Tuhan berjalan di antara gereja-gereja yang dilambangkan dengan tujuh kaki pelita emas. Inilah suasana yang sangat indah! Di satu pihak, Tuhan du-duk di sebelah kanan Allah, menjadi Imam Besar kita yang bersyafaat untuk kita, gereja-gereja (Ibr. 7:25), di pihak lain, Dia menggenggam utusan-utusan gereja-gereja dan berjalan di antara gereja-gereja untuk memelihara mereka.

II. KEBAJIKAN GEREJA DI EFESUS

Kata “Efesus” dalam bahasa Yunani berarti “yang didambakan”. Hal ini menandakan, gereja mula-mula pada kesudahannya tetap didambakan oleh Tuhan. Tuhan tetap menaruh pengharapan yang besar terhadapnya.

A. Bekerja

Gereja di Efesus memiliki banyak kebaikan. Pertama, ia banyak bekerja bagi Tuhan. Gereja di Efesus tidak per-nah bermalas-malas atau kendur. Ia cukup baik dalam hal bekerja bagi Tuhan.

B. Jerih Payah

Gereja ini bukan hanya bekerja bagi Tuhan, juga ber-jerih payah bagi-Nya (ayat 2-3). Kita harus membedakan antara bekerja dan jerih payah. Berjerih payah berarti be-kerja lebih keras. Bekerja adalah hal yang biasa, sedangkan berjerih payah adalah hal yang khusus. Orang-orang yang bekerja sepenuh waktu dalam pembangunan balai sidang kita di Anaheim, bukan hanya bekerja bahkan berjerih pa-yah. Jika kita mengupah seorang pemborong yang menggu-nakan pekerja-pekerja, mereka hanya bekerja tanpa berje-rih payah.

C. Tekun

Gereja di Efesus juga mempunyai kebajikan yang lain, yaitu tekun. Ini berarti gereja ini pernah teraniaya dan tekun dalam penderitaan.

D. Tidak Sabar terhadap Orang-orang Jahat

Tuhan berkata kepada gereja di Efesus, “Engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat” (ayat 2). Dalam naskah aslinya tidak tercantum kata “orang-orang”. Saya percaya, perkataan Tuhan mengenai jahat di sini meliputi 2 hal: orang-orang jahat dan perkara-perkara jahat. Gereja di Efesus tidak sabar terhadap setiap orang atau perkara yang jahat; ia benar-benar adalah satu gereja yang baik.

E. Menguji Rasul Palsu

Tuhan juga berkata, “Engkau telah menguji mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta” (ayat 2). Gereja ini sangat peka, sehingga dapat menentu-kan rasul-rasul palsu dan menolak mereka. Mereka mene-mukan bahwa orang-orang tertentu yang menganggap diri-nya rasul adalah pendusta. Dari sini kita tahu, dari dulu sampai sekarang banyak orang yang menyebut dirinya rasul.

F. Membenci Perbuatan Pengikut Nikolaus

Dalam Wahyu 2:6 Tuhan barkata, “Tetapi ini yang ada padamu, yaitu engkau membenci segala perbuatan peng-ikut-pengikut Nikolaus, yang juga Kubenci.” Gereja di Efesus membenci apa yang dibenci Tuhan yaitu perbuatan peng-ikut-pengikut Nikolaus. Ditinjau dari kebajikan ini, gereja ini baik, murni, wajar, dan normal.

Tuhan membenci perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus. Jika Anda ingin mengetahui apa perbuatan pengikut-peng-ikut Nikolaus, silakan baca buku tulisan Saudara Watchman Nee, Ortodoksi Gereja. Perbuatan pengikut-pengikut Nikolaus adalah menimbulkan jenjang di antara kaum saleh. Dalam keadaan tersebut ada orang yang memerintah orang lain. Hal ini mengakibatkan timbulnya sebutan kaum paderi dan kaum awam. Pada waktu itu dalam gereja di Efesus belum ada doktrin dan ajaran dari pengikut-pengikut Nikolaus. Ajaran itu baru tumbuh kemudian. Namun, di sana sudah ada perbuatan dan kegiatan pengikut-pengikut Nikolaus, yaitu adanya jenjang kaum paderi dan kaum awam. Kata “Nikolaus” dalam bahasa Yunaninya tersusun dari dua ka-ta, yang berakar kata “niko” dan “laos”. “Niko” berarti “me-naklukkan (mengalahkan) atau di atas yang lain”. “Laos” berarti “rakyat jelata, masyarakat umum, atau kaum awam”. Jadi, nikolaus berarti menaklukkan rakyat jelata atau me-ngalahkan kaum awam. Pengikut-pengikut Nikolaus pasti mengacu kepada sekelompok orang yang menganggap diri-nya lebih tinggi daripada kaum beriman pada umumnya. Tidak diragukan lagi, inilah sistem hierarki yang kemudian dianut dan dikukuhkan oleh aliran-aliran kekristenan ter-tentu. Tuhan membenci pekerjaan dan perilaku pengikut Nikolaus ini, dan kita harus membenci apa yang dibenci oleh Tuhan.

Dalam ekonomi-Nya, Allah menghendaki seluruh umat-Nya menjadi imam-imam, yang melayani Allah secara lang-sung. Dalam Keluaran 19:6 Allah menetapkan bani Israel untuk menjadi “kerajaan imam”. Ini berarti, Allah meng-hendaki mereka semua menjadi imam. Tetapi, karena me-reka menyembah patung anak lembu emas (Kel. 32:1-6), mereka kehilangan jabatan imam; hanya suku Lewi saja, karena kesetiaannya kepada Allah, dipilih menjadi imam Allah menggantikan seluruh bangsa Israel (Kel. 32:25-29; Ul. 33:8-10). Sebab itu, antara Allah dengan bani Israel timbul kelas perantara. Hal ini menjadi sistem yang kuat dalam agama Yahudi. Dalam Perjanjian Baru, Allah sudah kembali kepada maksud-Nya yang semula menurut eko-nomi-Nya, yaitu membuat semua orang beriman dalam Kristus menjadi imam (Why. 1:6; 5:10; 1 Ptr. 2:5, 9). Te-tapi pada akhir gereja yang mula-mula, bahkan dalam abad pertama, pengikut Nikolaus menyelinap masuk sebagai ke-las perantara untuk merusak ekonomi Allah. Berdasarkan sejarah gereja, kelas perantara ini terbentuk menjadi sis-tem yang diterima dan dipertahankan oleh aliran kekristen-an tertentu. Hari ini, dalam aliran kekristenan ada sistem imam, dalam gereja negara ada sistem paderi, dan dalam gereja independen ada sistem pendeta. Semuanya ini adalah kelas perantara, yang merusak jabatan imam segenap kaum beriman. Demikianlah timbul dua macam kelas, yaitu go-longan paderi dan golongan awam. Namun dalam hidup ge-reja yang normal, tidak seharusnya ada golongan paderi, juga tidak seharusnya ada golongan awam, semua orang beriman seharusnya adalah imam-imam Allah. Karena ke-las perantara telah merusak jabatan imam yang merata dalam ekonomi Allah, sebab itu Tuhan membencinya.

Dalam Kisah Para Rasul 6:5, di antara ketujuh orang yang melayani, ada seorang yang bernama Nikolaus. Dalam sejarah gereja tidak ditemukan keterangan bahwa dia adalah orang pertama dari pengikut Nikolaus.

III. PENYEBAB KEJATUHAN GEREJA

Meskipun gereja di Efesus mempunyai demikian banyak kebajikan, tetapi karena telah meninggalkan kasihnya yang semula, maka ia merosot jatuh. Dalam ayat 4 Tuhan ber-kata, “Meskipun demikian, Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.” Dalam bahasa Yunani, “yang semula” sama dengan kata yang di-terjemahkan yang “terbaik” dalam Lukas 15:22. Kasih kita yang semula terhadap Tuhan pastilah kasih yang terbaik. Gereja di Efesus telah meninggalkan kasih yang terbaik ini terhadap Tuhan.

Sebagai Tubuh Kristus (Ef. 1:23), gereja adalah perkara hayat; sebagai manusia baru (Ef. 2:15), gereja adalah perkara persona Kristus; dan sebagai mempelai perempuan Kristus (Yoh. 3:29), gereja adalah perkara kasih. Surat pertama yang ditulis untuk gereja di Efesus menyatakan kepada ki-ta bahwa untuk hidup gereja, kita perlu diperkuat ke da-lam manusia batiniah, sehingga Kristus tinggal (berumah) di dalam hati kita, kita berakar dan berdasar di dalam ka-sih, dan dapat mengenal kasih Kristus yang melampaui se-gala pengetahuan, supaya kita dipenuhi sampai menjadi se-luruh kepenuhan Allah (Ef. 3:16-19), juga dikatakan, untuk hidup gereja, anugerah menyertai semua orang yang menga-sihi Tuhan Yesus (Ef. 6:24). Sekarang, surat kedua yang di-tulis untuk gereja di Efesus menyingkapkan bahwa kemero-sotan gereja dimulai dari meninggalkan kasih yang semula terhadap Tuhan. Hanya kasih yang bisa memelihara hu-bungan kita yang tepat dengan Tuhan. Meskipun gereja di Efesus melakukan pekerjaan yang baik, berjerih lelah un-tuk Tuhan, bertekun dalam penderitaan, dan menguji ra-sul-rasul palsu (ayat 2-3), tetapi dia telah meninggalkan ka-sihnya yang semula terhadap Tuhan. Meninggalkan kasih yang semula adalah sumber segala kemerosotan gereja dalam tahap-tahap selanjutnya.

Hari ini dalam gereja-gereja lokal, kita harus selalu waspada terhadap kemungkinan hilangnya kasih semula ki-ta kepada Tuhan. Boleh jadi kita telah bekerja dan berjerih lelah bagi Tuhan, dan berpegang pada ajaran yang murni dan sesuai dengan Alkitab, tetapi telah kehilangan kasih se-mula kita terhadap Tuhan. Mungkin tahun depan kita tidak mengasihi Dia seperti sekarang. Waspadalah akan hal ini! Lebih baik kehilangan sebagian pekerjaan kita daripada gagal dalam kasih kita kepada Tuhan. Kasih kita terhadap-Nya haruslah kasih yang semula. Kita semua harus me-ngatakan, “Tuhan, aku mengasihi Engkau. Aku tidak me-ngasihi pekerjaan-pekerjaan yang kulakukan bagi-Mu. Aku juga tidak memustikakan jerih lelahku bagi-Mu. Tuhan, aku mengasihi-Mu! Bila jerih lelahku mengurangi kasihku kepa-da-Mu, aku akan berhenti berjerih lelah.” Jangan biarkan apa pun memisahkan kasih kita terhadap Tuhan. Kita ha-rus memelihara kasih semula ini dan terus-menerus me-ngasihi Tuhan.

Saya tidak mungkin melupakan satu kisah mengenai John Nelson Darby. Dalam usia yang sangat lanjut, suatu hari, Darby menempuh suatu perjalanan dan bermalam di sebuah hotel. Ketika ia hendak tidur, ia berdoa dengan se-derhana sekali, katanya, “Tuhan Yesus, aku tetap mengasihi-Mu.” Seorang saleh yang sudah tua bisa berkata demikian, benar-benar berharga. John Nelson Darby mulai mengasihi Tuhan sejak muda. Setelah 60 tahun lebih, ia masih me-ngasihi-Nya. Setiap hari kita juga harus berkata kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, aku tetap mengasihi-Mu. Segalaku boleh berubah, ya Tuhan, tetapi aku tidak mau berubah dalam hal mengasihi-Mu. Bahkan aku ingin kasihku kepada-Mu kian hari kian bertambah.” Saya membaca kisah Darby ini lebih dari dua puluh tahun yang lalu, dan tidak dapat saya katakan betapa besarnya bantuan yang saya dapat dari kisah ini dari tahun ke tahun.

Kita harus senantiasa berkata, “Tuhan Yesus, aku tetap mengasihi Engkau.” Begitu kita kehilangan kasih kita yang semula, kita telah merosot. Mungkin kita tidak ber-ubah dalam hal lain — bekerja, berjerih lelah, dan perkara-perkara lainnya — tetapi kita telah jatuh, karena kita te-lah meninggalkan kasih kita yang semula. Gereja di Efesus memang melakukan banyak pekerjaan, tetapi kekurangan kasih. Hari ini, kita semua harus berkata bahwa kita ingin memiliki lebih banyak kasih dan sedikit pekerjaan. Setiap pekerjaan yang akan kita lakukan haruslah berasal dari kasih kita kepada Tuhan. Kasihlah motivasi setiap perkara yang kita lakukan bagi Tuhan. Jika bukan karena menga-sihi Tuhan, janganlah kita melakukan sesuatu. Pekerjaan kita seharusnya adalah ekspresi kasih kita kepada-Nya. Ki-ta harus seperti ini, kalau tidak, kita tidak akan terpe-lihara dalam penyertaan-Nya.

IV. AKIBAT KEJATUHAN GEREJA

Dalam ayat 5 kita nampak akibat kejatuhan gereja, “Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki pelitamu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.” Akibat kejatuhan gereja ialah kehilangan kesaksian. Kehilangan kesaksian tidak lain berarti diambilnya kaki pelita. Jika kita meninggalkan kasih kita yang semula terhadap Tuhan dan tidak bertobat, kita akan kehilangan kesaksian Tuhan, dan kaki pelita akan diambil dari kita. Bertahun-tahun yang lalu, kesaksian Kaum Saudara demikian terang, tetapi hari ini tidak lagi. Tidak dapat disangsikan, kaki pelita telah diambil dari sebagian besar kelompok yang disebut Kaum Saudara itu. Bila Anda memasuki pertemuan mereka, Anda tidak merasakan ada-nya terang di dalamnya. Tidak ada terang, tidak ada kesak-sian. Kita harus waspada dan senantiasa berjaga-jaga, jangan sampai jatuh ke dalam akibat ini. Jangan berpikir, karena kita adalah gereja lokal sebagai kaki pelita dan kesaksian Yesus, kita tidak akan kehilangan kesaksian kita. Pada saat kita kehilangan kasih kita yang semula terhadap Tu-han, kita akan kehilangan kesaksian. Hari itu, kaki pelita akan diambil dari kita.

V. PEMBICARAAN ROH ITU

Wahyu 2:7 mengatakan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Dalam ketujuh surat yang tercatat pada pasal 2 dan 3, setiap surat diawali oleh pembicaraan Tuhan berbi-cara (2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14), tetapi pada akhir setiap su-rat, Roh itulah yang berbicara kepada gereja-gereja (2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22). Sekali lagi ini membuktikan bahwa Kristus yang berbicara adalah Roh itu. Apa saja yang Kristus katakan, itu adalah pembicaraan Roh itu. Tak seorang pun dapat menyangkal hal ini. Siapa yang berbicara kepada ge-reja-gereja di Efesus? Kristus, Anak Manusia yang memegang utusan-utusan di tangan kanan-Nya dan yang berjalan di antara gereja-gereja. Seperti yang dinyatakan dalam ayat 7, akhirnya yang berbicara adalah Roh itu. Ini membuktikan bahwa Kristus adalah Roh yang berbicara. Ini tidak hanya menunjukkan bahwa Roh itu adalah Tuhan dan Tuhan ada-lah Roh itu, tetapi juga menegaskan dalam kegelapan ke-merosotan gereja, Roh itu sangatlah penting, seperti yang dinyatakan oleh Roh yang diperkuat tujuh kali dalam 1:4. Pasal 14:13 dan 22:17 juga menekankan butir ini. Sungguh bodoh mengatakan bahwa hari ini Kristus bukanlah Roh yang berbicara, dan sungguh menggelikan kalau kita me-misahkan Roh yang berbicara dari Kristus, karena kedua-nya adalah satu.

Jika yang berbicara hanya Kristus dan bukan Roh itu, Ia tidak mungkin menyampaikan kata-kata ke dalam roh kita, dan perkataan-Nya pun tidak subyektif dan menyen-tuh hati. Tetapi, pengalaman kita menunjukkan, ketika ki-ta membuka roh kita kepada-Nya saat membaca surat ini, Roh itu segera mengatakan sesuatu yang berasal dari Kristus ke dalam kita. Karena yang berbicara bukan Kristus yang obyektif, melainkan Roh yang subyektif; Ia berkata bukan hanya dalam huruf-huruf hitam atas putih dalam Alkitab, tetapi juga di dalam roh kita. Begitu kita mendengar per-kataan-Nya, sesuatu yang tidak tersingkirkan tergarap ke dalam kita. Hari ini Kristus kita adalah Roh yang berbi-cara. Saya sangat gembira akan kenyataaan ini, dan dengan berani saya mendeklarasikannya.

A. Kepada Gereja-gereja

Di satu aspek, setiap surat adalah perkataan Tuhan kepada satu gereja tertentu; tetapi di aspek lain, ini adalah perkataan Roh itu kepada gereja-gereja. Setiap gereja bukan hanya perlu memperhatikan surat yang khusus ditulis un-tuknya, juga harus memperhatikan semua surat yang ditu-lis untuk gereja-gereja lain. Hal ini menyiratkan bahwa semua gereja sebagai kesaksian Tuhan dalam Roh itu, se-harusnya sama. Karena hari ini Roh itu sudah berbicara kepada gereja-gereja, maka kita harus berada di dalam ge-reja, berdiri pada posisi yang tepat untuk mendengarkan Roh itu berbicara. Kalau tidak, bagaimana kita bisa mendengar?

Roh itu berbicara kepada gereja-gereja, bukan kepada agama, denominasi, atau kepada kelompok orang Kristen yang mencari Tuhan. Itulah sebabnya tidak banyak orang Kristen yang bisa mendengar perkataan Roh itu. Roh itu pun bukan hanya berbicara kepada satu gereja, melainkan kepada gereja-gereja. Meskipun ada beberapa gereja yang ingin menjadi gereja yang “istimewa”, tetapi kita tidak se-harusnya menjadi gereja yang “istimewa”. Jika kita berbuat demikian, kita akan kehilangan perkataan Roh itu, karena Roh itu berbicara kepada gereja-gereja. Dari ketujuh surat itu, tidak ada satu pun yang menyebutkan Roh itu berbi-cara kepada suatu gereja yang “istimewa”. Semua gereja haruslah umum, bukan istimewa. Tahun-tahun yang lalu, ada orang-orang mengatakan bahwa setiap gereja harus ber-beda satu sama lain. Yang mempunyai konsepsi itu menga-takan bahwa setiap gereja harus mempunyai keistimewaan lokalnya. Pemikiran itu nampaknya menarik, namun sebe-narnya patut dibenci. Membuat suatu gereja lokal istimewa berarti memisahkan gereja itu dari semua gereja lainnya. Jika Anda berbuat demikian, Anda akan kehilangan pembicaraan Roh. Manakah yang baik, menjadi istimewa atau umum? Sekalipun kalian berkata lebih baik yang umum, faktanya setiap orang suka menjadi yang istimewa. Dalam hati, Anda menginginkan gereja di tempat Anda menjadi yang istimewa. Namun, dalam gereja lokal, jangan mencoba menjadi istimewa. Kita semua harus umum, ka-rena Roh itu berbicara kepada gereja-gereja, bukan kepada beberapa gereja yang istimewa. Ketika kita di dalam gereja dan di antara gereja-gereja, kita mempunyai kedudukan dan sudut yang tepat untuk mendengar perkataan Roh itu.

B. Perlu Memiliki Telinga yang Bisa Mendengar

Atas perkara rohani, melihat tergantung pada mende-ngar. Penulis kitab ini pada mulanya mendengar suara (1:10), kemudian baru melihat visi (1:12). Kalau telinga kita berat untuk mendengar, maka kita tidak akan dapat melihat (Yes. 6:9-10). Orang Yahudi tidak mau mendengar firman Tuhan, sebab itu mereka tidak melihat perkara yang diper-buat Tuhan menurut perjanjian baru (Mat. 13:15; Kis. 28:27). Tuhan selalu ingin membuka telinga kita, agar kita mendengar suara-Nya (Ayb. 33:14-16; Yes. 50:4-5; Kel. 21:6), supaya kita bisa melihat segala perkara menurut ekonomi-Nya. Telinga yang berat untuk mendengar perlu disunat (Yer. 6:10; Kis. 7:51). Telinga orang dosa perlu dibersihkan dengan darah penebusan dan diurapi dengan Roh itu (Im. 14:14, 17, 28). Untuk melayani Tuhan sebagai imam, te-linga kita perlu dibersihkan dengan darah penebusan (Kel. 29:20; Im. 8:23-24). Menurut kitab ini, ketika Roh itu ber-bicara kepada gereja-gereja, kita memerlukan telinga yang terbuka, disunat, dibersihkan, dan diurapi untuk mendengar pembicaraan Roh itu.

Meskipun sudut pandang dan posisi kita berada semua-nya benar, mungkin kita tidak mempunyai telinga yang te-pat untuk mendengar. Pasal 1 menekankan melihat, sedang pasal 2-3 menekankan mendengar. Kita memerlukan ke-duanya, melihat dan mendengar. Di antara indra jasmani kita, manakah yang lebih penting, penglihatan atau pende-ngaran? Seumpama Anda menghadapi suatu pilihan kehi-langan penglihatan atau pendengaran, manakah yang Anda pilih? Kita mungkin mengatakan penglihatan lebih penting daripada pendengaran, tetapi pendengaran lebih tajam dari-pada penglihatan. Jadi, kita harus berkata kepada Tuhan, “Tuhan, aku memerlukan keduanya, penglihatan dan pen-dengaran. Belaskasihanilah aku ya Tuhan, dan anugerahi-lah aku mata untuk melihat dan telinga untuk mendengar.” Kita boleh mendesak Tuhan, meminta-Nya agar kita dapat melihat dan mendengar.

Mendengar lebih intim daripada melihat. Kawan-kawan karib kita akan berbicara akrab dengan kita. Jika Anda kehilangan alat pendengaran, Anda tidak bisa menikmati keintiman dengan orang yang Anda kasihi. Dalam pasal 1, Yohanes melihat; dalam pasal 2-3, ia mendengar. Kita perlu melihat hidup gereja dan kita perlu mendengar keintiman isi hidup gereja. Melihat gereja adalah satu perkara, sedang mendengar keintiman isi hidup gereja adalah perkara lain. Sekalipun banyak di antara kita yang telah nampak gereja, yang mendengar keintiman isi hidup gereja tidaklah banyak. Maka, kita memerlukan telinga untuk mendengar. “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.”

VI. JANJI UNTUK PARA PEMENANG —

MAKAN DARI POHON HAYAT

Sekarang sampailah kita kepada janji untuk pemenang. “Siapa yang menang, dia akan Kuberi makan dari pohon kehidupan (hayat) yang ada di Taman Firdaus Allah” (ayat 7b). Dalam ketujuh surat ini, menang berarti mengalahkan keadaan kemerosotan gereja-gereja. Dalam surat ini, me-nang berarti memulihkan kasih kita yang semula terhadap Tuhan, dan membenci perbuatan pengikut Nikolaus, yaitu sistem hierarki yang dibenci oleh Tuhan.

Dalam 2:7 Tuhan berjanji akan memberi makan dari pohon hayat kepada orang yang menang. Agama selalu meng-ajar orang, tetapi Tuhan merawat orang (Yoh. 6:35). Rasul Paulus juga melakukan perkara yang sama, yaitu merawat kaum beriman (1 Kor. 3:2). Untuk hidup gereja yang wajar dan pemulihan hidup gereja, yaitu untuk pertumbuhan yang tepat bagi hayat orang Kristen, yang kita perlukan bukan hanya memahami ajaran di dalam otak, terlebih adalah ma-kan Tuhan sebagai roti hayat kita di dalam roh (Yoh. 6:57). Sekalipun itu adalah perkataan Alkitab, tidak seharusnya hanya dianggap sebagai teori yang mengajar pikiran kita, melainkan dianggap sebagai makanan yang memberi rawat-an kepada roh kita (Mat. 4:4; Ibr. 5:12-14). Di sini, Tuhan berjanji akan memberi pemenang makan dari buah pohon hayat, ini merujuk kembali kepada Kejadian 2:8-9, 16, me-ngenai perihal makan yang ditetapkan oleh Allah. Dalam surat yang ditulis untuk gereja di Pergamus, Tuhan ber-janji akan memberi pemenang makan manna yang tersem-bunyi (2:17), ini mengacu kepada perihal bani Israel makan manna di padang gurun (Kel. 16:14-16, 31). Dalam surat yang ditulis untuk gereja di Laodikia, Tuhan berjanji akan berpesta (makan) bersama orang yang membukakan pintu bagi-Nya (3:20). Berpesta bukan hanya makan satu macam makanan, melainkan menikmati perjamuan yang limpah. Ini mungkin mengacu kepada bani Israel menikmati kelim-pahan hasil bumi tanah permai Kanaan (Yos. 5:10-12). Ini menunjukkan bahwa Tuhan berharap memulihkan umat Allah memakan makanan yang tepat, yaitu yang ditetapkan oleh Allah, dilambangkan oleh pohon hayat, manna, dan hasil bumi tanah permai, semua itu melambangkan berba-gai aspek Kristus sebagai makanan kita. Kemerosotan gereja menyelewengkan umat Allah dari menikmati Kristus seba-gai makanan kepada mengajarkan teori untuk pengetahuan. Dalam kemerosotan gereja ada ajaran Bileam (2:14), ajaran Nikolaus (2:15), ajaran Izebel (2:20), serta ajaran tentang seluk-beluk Iblis (2:24). Kini dalam surat-surat ini, Tuhan memulihkan cara yang tepat memakan diri-Nya sebagai suplai makanan kita. Kita harus makan Dia, bukan hanya sebagai pohon hayat dan manna yang tersembunyi, juga se-bagai pesta yang penuh dengan kelimpahan-Nya.

Istilah “pohon” dalam ayat ini, dalam bahasa aslinya sama dengan yang tercantum dalam 1 Petrus 2:24, berarti kayu. Ini bukanlah perkataan yang biasa diterjemahkan “pohon”. Dalam Alkitab, pohon hayat selalu mengacu kepa-da Kristus sebagai perwujudan seluruh kepenuhan Allah (Kol. 2:9), menjadi makanan kita (Kej. 2:9; 3:22, 24; Why. 22:2, 14, 19). Di sini pohon ini melambangkan Kristus yang tersalib (tersirat dalam pohon sebagai sebatang kayu — 1 Ptr. 2:24) dan bangkit (tersirat dalam hayat Allah — Yoh. 11:25). Hari ini Dia berada di dalam gereja; perampungan gereja ialah Yerusalem Baru, di dalamnya Kristus yang tersalib dan bangkit ini adalah pohon hayat, untuk merawat seluruh umat tebusan Allah sampai selamanya (Why. 22:2, 14).

Kehendak Allah yang semula ialah manusia makan po-hon hayat (Kej. 2:9, 16). Karena manusia jatuh, maka jalan menuju pohon hayat tertutup bagi manusia (Kej. 3:22-24). Melalui penebusan Kristus, jalan untuk menjamah pohon hayat (yaitu Allah sendiri di dalam Kristus menjadi hayat manusia) sekali lagi terbuka untuk manusia (Ibr. 10:19-20). Namun dalam kemerosotan gereja, agama dan pengetahu-annya masuk secara sembunyi-sembunyi untuk menyim-pangkan kaum beriman dalam Kristus, sehingga mereka tidak bisa makan Dia sebagai pohon hayat. Karena itu, Tu-han berjanji memberi kepada para pemenang, akan membe-rikan diri-Nya sebagai buah pohon hayat dalam Taman Fir-daus Allah untuk mereka makan, sebagai pahala. Ini adalah suatu dorongan, agar mereka meninggalkan agama dan pe-ngetahuannya dan kembali menikmati Tuhan sendiri. Janji Tuhan ini, menurut ekonomi Allah, memulihkan gereja ke-pada maksud semula Allah. Yang dikehendaki Tuhan untuk dilakukan oleh pemenang adalah sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh segenap gereja di dalam ekonomi-Nya. Kare-na gereja sudah merosot, maka Tuhan memanggil peme-nang, untuk menggantikan gereja dalam menggenapkan ekonomi Allah.

Makan pohon hayat bukan hanya maksud semula Allah terhadap manusia, juga adalah kesudahan kekal penebusan Allah. Seluruh umat tebusan Allah akan menikmati pohon hayat, yaitu Kristus beserta segala kelimpahan ilahi, menjadi bagian kekal mereka (Why. 22:2, 14, 19). Karena gangguan agama dan kemerosotan gereja, hikmat Tuhan menjadikan kenikmatan terhadap diri-Nya sebagai pahala dalam kera-jaan yang akan datang, untuk mendorong kaum beriman supaya dalam hidup gereja hari ini mengalahkan ajaran agama dan pengetahuan yang menganggu manusia, kem-bali menikmati diri-Nya sebagai suplai hayat, guna meram-pungkan ekonomi Allah.

A. Di Taman Firdaus Allah

Seperti yang telah kita lihat, janji Tuhan kepada peme-nang dalam gereja di Efesus adalah memberi makan dari pohon hayat yang ada di Taman Firdaus Allah. Jika kita mengenal Alkitab, kita akan mengetahui Taman Firdaus Allah dalam 2:7 bukan Taman Eden, tetapi Yerusalem Baru yang akan datang. Taman Firdaus dalam Lukas 23:43 ada-lah tempat yang menyenangkan, tempat perhentian, tempat Abraham dan semua orang kudus yang telah meninggal berada (Luk. 16:23-26). Namun Taman Firdaus Allah da-lam ayat ini adalah Yerusalem Baru (3:12; 21:2, 10; 22:1-2, 14, 19). Gereja hari ini ialah pencicipan Yerusalem Baru tersebut. Adam pernah di Taman Eden, dan Abraham beser-ta orang-orang kudus yang telah meninggal sekarang ber-ada di Taman Firdaus. Kita sedang menunggu masuk ke taman Firdaus yang lain yaitu Taman Firdaus Allah dalam Yerusalem Baru. Sambil menunggu, kita memiliki miniatur Yerusalem Baru hari ini, yaitu hidup gereja. Sekarang kita sedang menikmati Kristus yang tersalib dan bangkit men-jadi pohon hayat, suplai makanan di dalam roh kita, men-jadi pencicipan kita di dalam gereja pada hari ini. Kenikmatan pencicipan ini akan membimbing kita masuk ke dalam pengecapan penuh atas Kristus yang tersalib dan bangkit sebagai pohon hayat, sebagai perawatan hayat kita, di dalam Yerusalem Baru, untuk selama-lamanya. Janji ke-pada pemenang di Efesus untuk makan pohon hayat, me-nyatakan bahwa mereka akan makan Kristus dalam hidup gereja hari ini dan makan Dia sebagai pohon hayat di dalam Yerusalem Baru sampai kekal. Pengalaman kita membuk-tikan hal ini.

Sesungguhnya, kata-kata “akan Kuberi makan dari po-hon hayat yang ada di Taman Firdaus Allah”, dalam ayat ini mengacu kepada kenikmatan khusus atas Kristus se-bagai suplai hayat kita di dalam Yerusalem Baru dalam Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, sebab itulah pa-hala yang Tuhan janjikan kepada pemenang. Menikmati Kristus sebagai pohon hayat dalam Yerusalem Baru di langit baru dan bumi baru adalah bagian bersama seluruh umat tebusan Allah; sedangkan kenikmatan khusus atas Dia sebagai pohon hayat dalam Yerusalem Baru dalam Ke-rajaan Seribu Tahun yang akan datang adalah pahala yang diberikan hanya kepada kaum beriman pemenang. Jika ha-ri ini kita mengalahkan segala penyimpangan dalam keme-rosotan gereja, dan menikmati Kristus sebagai pohon hayat dalam gereja, kelak kita akan memperoleh pahala. Kalau tidak, kita akan kehilangan kenikmatan khusus ini dalam kerajaan yang akan datang, meskipun kita masih bisa me-nikmati Kristus sebagai pohon hayat dalam Yerusalem Baru di langit baru dan bumi baru untuk selama-lamanya. Se-mua janji Tuhan mengenai pahala dan nubuat Tuhan me-ngenai kerugian, pada akhir ketujuh surat itu, mengacu kepada penanggulangan-Nya terhadap kaum beriman-Nya dalam Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang. Ini tidak ada sangkut-pautnya dengan nasib kekal — kaum beriman — beroleh selamat kekal atau binasa kekal.

B. Kembali kepada yang Semula

Perihal makan pohon hayat ini membawa kita kembali kepada yang semula (Kej. 2:9, 16), karena pada mulanya sudah ada pohon hayat itu. Pohon hayat selalu membawa kita kembali kepada yang semula, tempat tidak ada yang lain selain Allah sendiri. Tidak ada pekerjaan, jerih payah, kesabaran, atau apa pun, kecuali diri Allah. Dalam hidup gereja, kita perlu terus-menerus kembali kepada yang se-mula, dengan melupakan hal-hal lain, dan menikmati diri Allah sebagai pohon hayat.

C. Menikmati Kristus sebagai Suplai Hayat

Bila kita kembali kepada pohon hayat, kita menikmati Kristus sebagai suplai hayat. Makan pohon hayat, ialah menikmati Kristus sebagai suplai hayat kita, ini seharus-nya merupakan hal utama dalam hidup gereja. Isi hidup gereja tergantung pada kenikmatan kita atas Kristus. Se-makin banyak kita menikmati Kristus, semakin kaya isi hidup gereja. Tetapi menikmati Kristus menuntut kita me-ngasihi Dia dengan kasih yang semula. Jika kita meninggal-kan kasih yang semula terhadap Tuhan, kita akan kehilang-an kenikmatan terhadap Kristus, bahkan bisa kehilangan kesaksian Yesus; akibatnya, kaki pelita akan diambil dari kita. Ketiga hal ini — mengasihi Tuhan, menikmati Tu-han, dan menjadi kesaksian Tuhan, — berjalan beriringan.

Jika kita mau kembali kepada yang semula, kita harus melupakan segala-galanya, dan hanya menikmati Kristus sebagai suplai hayat. Sebab itu, kita harus mengasihi Tu-han melebihi segalanya, melebihi pekerjaan kita bagi-Nya, dan apa saja yang kita miliki bagi-Nya. Dengan hanya me-ngasihi Tuhan, kita akan terbawa kembali kepada yang semula. Saat itu, tidak ada yang kita perhatikan selain diri Allah sebagai suplai hayat kita dalam pohon hayat. Inilah jalan yang tepat untuk memelihara hidup gereja yang ter-baik, dan terlindung dalam hidup gereja. Di sini kita mem-punyai kasih yang terbaik, pohon hayat sebagai suplai ha-yat kita, dan kaki pelita dengan cahaya terang. Oh, betapa indahnya! Semakin mengasihi Dia, kita semakin mempu-nyai hak untuk makan Dia dan menikmati Dia sebagai po-hon hayat. Akhirnya, terang kesaksian-Nya akan bersinar cerah.