← Daftar isi Wahyu (2) · bab 11/16

GEREJA DI SMIRNA — HAYAT KEBANGKITAN DAN MAHKOTA HAYAT

Di bawah kedaulatan-Nya, Tuhan telah memilih gereja-gereja untuk menggenapkan tujuan-Nya. Ia memilih tujuh buah kota di Asia Kecil, yaitu Efesus, Smirna, Pergamus, Tiatira, Sardis, Filadelfia, dan Laodikia. Dalam bahasa Yunani, nama kota-kota itu sangat berarti, bahkan sesuai dengan makna rohani gereja itu. Pernah kita bahas bahwa arti “Efesus” adalah “yang patut didambakan”. Gereja Efesus adalah gereja yang Tuhan sayang dan Tuhan indahkan. “Smirna” dalam bahasa Yunaninya berarti “mur”. Mur ada-lah semacam rempah-rempah, yang dalam hal tanda me-nunjukkan penderitaan. Dalam pelambangan, mur menun-jukkan penderitaan Kristus yang manis. Sebab itu, gereja di Smirna adalah gereja yang menderita, menunjukkan ge-reja yang dianiaya oleh kekaisaran Romawi dari akhir abad pertama hingga awal abad keempat. Gereja yang teraniaya ini, menderita dalam kemanisan dan keharuman Kristus. Dengan kata lain, gereja ini berada dalam kesusahan Kristus dan persekutuan dalam penderitaan-Nya. Gereja di Smirna menderita seperti yang diderita oleh Kristus, dan sebagai penerus penderitaan Kristus. Dalam Kolose 1:24, Paulus memberi tahu kita bahwa dia “menggenapkan dalam tubuhku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk Tubuh-Nya, yaitu jemaat”. Paulus menggenapkan penderi-taan Kristus. Meskipun tidak ada yang dapat meneruskan penebusan Kristus, tetapi atas penderitaan Kristus perlu di-genapkan oleh pengikut-pengikut-Nya, baik secara perorang-an maupun kolektif. Dalam gereja di Smirna kita melihat penerus penderitaan Yesus yang kolektif. Karena gereja ini meneruskan penderitaan Yesus, maka ia sungguh-sungguh adalah kesaksian Yesus.

I. PEMBICARA

A. Yang Awal dan Yang Akhir

Mari kita perhatikan yang berbicara kepada gereja di Smirna. Dalam ayat 8 Tuhan berkata, “Inilah firman dari Yang Awal dan Yang Akhir, yang telah mati dan hidup kembali.” Tuhan memberi tahu kepada gereja yang mende-rita bahwa Ia adalah Yang Awal dan Yang Akhir. Hal ini berarti, berapa pun beratnya penderitaan yang dialami-Nya, penderitaan itu tidak dapat mengakhiri atau mencelakai Dia. Dia adalah Yang Awal juga Yang Akhir. Ketika men-derita, gereja harus mengenal bahwa Tuhan adalah Yang Awal dan Yang Akhir, yang ada untuk selama-lamanya dan yang tidak berubah selamanya. Bagaimanapun situasi penganiayaan itu, Ia tetap sama; tidak ada sesuatu yang bisa berada di depan-Nya, juga tidak ada sesuatu yang bisa berada di belakang-Nya. Segala sesuatu berada di dalam batas pengendalian-Nya.

Tuhan memberi tahu gereja di Smirna bahwa Dia adalah Yang Awal dan Yang Akhir, dengan maksud menunjukkan bahwa gereja pasti menang. Gereja tidak dapat digagalkan oleh penderitaan macam apa pun. Gereja sanggup melampaui segala penderitaan dan mencapai garis akhir; karena Tuhan, hayat dan Kepala gereja, adalah Yang Awal dan Yang Akhir.

B. Yang telah Mati dan Hidup Kembali

Dalam ayat 8, Tuhan juga memberi tahu bahwa Ia ada-lah “yang telah mati dan hidup kembali”. “Hidup kembali” berarti “bangkit”. Tuhan telah mengalami penderitaan ke-matian, tetapi Dia hidup kembali. Dia pernah masuk ke da-lam maut, tetapi maut tidak bisa menahan-Nya (Kis. 2:24), karena Dia adalah kebangkitan (Yoh. 11:25). Gereja yang menderita juga perlu mengenal bahwa Dia adalah yang se-demikian, sehingga gereja bisa bertahan terhadap berbagai macam penderitaan. Betapapun beratnya aniaya, gereja akan tetap hidup, karena hayat kebangkitan Kristus yang ada di dalamnya tahan terhadap maut. Yang terberat yang dapat dilakukan penderitaan atau penganiayaan hanya membunuh kita. Tetapi setelah kematian karena aniaya, ada kebangki-tan. Seolah-olah Tuhan berkata kepada gereja yang mende-rita, “Kamu harus tahu, Aku adalah yang dianiaya sampai mati. Tetapi kematian bukanlah yang terakhir, kematian adalah pintu gerbang untuk masuk ke dalam kebangkitan. Ketika Aku masuk ke dalam kematian, aku ada di ambang pintu kebangkitan. Jangan takut terhadap aniaya, atau ngeri terhadap bahaya dibunuh. Sambutlah kematian dan gembiralah, karena begitu kamu masuk ke dalam kemati-an, kamu akan memasuki gerbang kebangkitan. Ingatlah, Akulah yang telah mati dan hidup kembali.” Apa pun yang kita perlukan, Tuhan mencukupinya. Dia sungguh-sungguh mampu mencukupi keperluan kita. Terhadap gereja yang menderita, Tuhan bukan hanya Yang Awal dan permulaan, Tuhan juga Yang Akhir dan penghabisan. Kapan saja Anda mengalami penganiayaan, Anda harus bangkit dan mende-klarasikan, “Haleluya, aku sedang menuju pengendalian, menuju akhir. Aku segera mencapai pintu gerbang kebang-kitan.”

II. PENDERITAAN YANG DIALAMI GEREJA

A. Kesusahan

Dalam ayat 9, Tuhan berkata kepada gereja di Smirna, “Aku tahu kesusahanmu.” Isi surat ini tidak lain kesusah-an, penderitaan, dan penganiayaan. Terhadap gereja, kesu-sahan adalah ujian hayat. Sampai taraf mana gereja meng-alami dan menikmati hayat kebangkitan Kristus, dapat diuji dengan kesusahan. Tidak hanya demikian, kesusahan juga mendatangkan kekayaan hayat kebangkitan Kristus. Tuhan mengizinkan gereja tertimpa kesusahan bukan hanya untuk mempersaksikan bahwa hayat kebangkitan-Nya me-ngalahkan maut, juga membuat gereja bisa menikmati ke-limpahan hayat-Nya. Sebab itu, kesusahan itu berharga ba-gi gereja.

B. Miskin (Namun Kaya)

Tuhan berkata, “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskin-anmu — namun engkau kaya.” Tuhan menghargai gereja yang menderita ini. Gereja yang menderita ini miskin da-lam hal materi, tetapi kaya dalam kelimpahan hayat Tu-han. Sebab itu, seolah-olah Tuhan berkata, “Kamu menderi-ta kesusahan dan kemiskinan, namun kamu kaya. Secara jasmani kamu miskin, tetapi secara rohani kamu kaya. Ka-mu miskin akan barang-barang duniawi, tetapi kaya akan benda-benda surgawi.” Menderita penganiayaan adalah sa-rana yang membawa kita masuk ke dalam kekayaan Kristus. Makin berat kita dianiaya dan menderita kemiskinan, ma-kin kayalah kita di dalam Kristus.

C. Fitnah Orang Yahudi yang Tidak Percaya dari Jemaah Iblis

Dalam ayat 9, Tuhan berkata bahwa Dia tahu “fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, sebaliknya mereka adalah je-maah Iblis (Satan).” Menurut surat ini, penganiayaan ber-asal dari agama, dari jemaah Iblis (Satan), orang-orang Yahudi yang tidak percaya. Fitnah dari orang-orang Yahudi kepada gereja yang menderita ini berupa suatu kritik jahat terhadap gereja. Pengikut-pengikut agama Yahudi ini ada-lah orang-orang Yahudi menurut daging, tetapi bukan orang Yahudi menurut roh (Rm. 2:28-29). Hanya sebagai keturun-an Abraham di dalam daging, tidak membentuk mereka menjadi orang Yahudi yang sejati. “Bukan anak-anak me-nurut daging adalah anak-anak Allah” (Rm. 9:7-8). Sebab itu, Tuhan berkata, “Mereka menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian.” Orang-orang Yahudi ini, berkeras kepala mempertahankan sistem agama Yahudi, yang meliputi keimaman suku Lewi, tata cara memper-sembahkan kurban, dan Bait Suci yang material. Semua-nya itu adalah lambang-lambang yang telah digenapkan dan digantikan oleh Kristus. Karena gereja di bawah perjanjian yang baru dalam ekonomi Allah tidak berbagian dalam prak-tek agamis mereka, para penganut agama Yahudi meng-kritik gereja dengan memfitnahnya. Pada prinsipnya, hari ini pun sama, agamawan memfitnah gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan, yang mencari Tuhan dan mengikuti Tu-han di dalam roh dan hayat, yang tidak memperhatikan segala sistem dan praktek agamais yang mana pun.

Tuhan berkata, mereka yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian adalah “je-maah Iblis”. Istilah “jemaah Iblis” sangat menakutkan. Si-nagoge (jemaah) adalah tempat orang Yahudi menyembah Allah, terutama dengan membaca dan meneliti kitab Per-janjian Lama. Namun, karena kedegilan mereka dalam mem-pertahankan konsepsi mereka yang agamis dan tradisional, mereka menjadi satu dengan Iblis menentang jalan hayat Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Pada masa itu, si-nagoge berada di bawah tangan manipulasi dan pengaturan Iblis, karena Iblis adalah kekuatan di belakang sinagoge itu. Sinagoge menganiaya Tuhan Yesus (Mat. 12:9-14; Luk. 4:28-29; Yoh. 9:22), kemudian menganiaya para rasul (Kis. 6:9; 13:43, 45-56, 50; 14:1-2, 19; 17:1, 5-6), lalu kini me-nindas gereja (Why. 3:9). Karena itu, Tuhan menyebut me-reka “jemaah Iblis”. Bahkan ketika Tuhan di bumi, Dia menganggap sinagoge-sinagoge itu adalah milik Iblis, seper-ti yang tersirat dalam Matius 12:25-29 dan Yohanes 8:44. Tampaknya mereka yang di sinagoge menyembah Allah, namun sesungguhnya mereka sedang menentang Allah. Me-reka menganiaya dan membunuh orang-orang yang sung-guh-sungguh menyembah Allah, tetapi mereka masih me-ngira bahwa dirinya sedang melayani Allah (Yoh. 16:2). Ketika Tuhan Yesus di bumi, orang Yahudi tidak dapat se-cara langsung mencelakai Tuhan Yesus, karena saat itu mereka tidak mempunyai hak merajam Tuhan Yesus de-ngan batu. Sebab itu, mereka memperalat pemerintah Roma untuk menjatuhkan hukuman mati kepada-Nya dan menya-libkan Dia. Dalam prinsip yang sama, sinagoge orang Yahudi menghasut pemerintah Roma untuk menganiaya gereja yang menderita. Sejak itu, dari abad ke abad, orang-orang yang bergairah untuk agama mengikuti jejak mereka, meng-aniaya orang-orang yang sungguh-sungguh mencari dan mengikuti Tuhan di dalam roh dan hayat, sambil tetap me-ngira bahwa dirinya sedang mempertahankan kepentingan Allah. Agama selalu menggunakan politik untuk merusak gereja. Agama tidak mempunyai kekuatan untuk merugi-kan jasmani orang yang mengasihi Tuhan, tetapi dapat menggunakan politik dan pemerintah untuk merusak gere-ja. Beberapa agama/kepercayaan termasuk dalam kategori ini, menjadi organisasi Iblis, sebagai alat Iblis untuk me-rusak ekonomi Allah.

D. Dipenjara oleh Iblis

Dalam ayat 10 Tuhan berkata, “Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antara kamu ke dalam penjara supaya kamu dicobai.” Ayat 9 mengatakan “Satan” (Tl.); ayat 10 mengatakan “Iblis”. Satan dalam bahasa Ibraninya berarti “seteru”. Iblis bukan hanya musuh Allah di luar, juga seteru Allah di dalam. Iblis dalam bahasa asli-nya berarti “pendakwa, pemfitnah” (Why. 12:9-10). Iblis ada-lah Satan, seteru Allah, mendakwa kita di hadapan Allah, juga memfitnah kita di hadapan manusia. Aniaya yang di-derita gereja berawal dari tempat ibadah agama Yahudi yang dihasut oleh Iblis (Satan), si seteru. Kemudian dikem-bangkan oleh pemerintah Romawi yang diperalat Iblis, pem-fitnah itu untuk menjebloskan umat saleh ke dalam pen-jara. Dipenjarakannya gereja yang menderita adalah kerja-sama politik yang bersifat iblis dengan agama setani.

E. Kesusahan yang Penuh Namun Singkat

Dalam ayat 10, Tuhan juga berkata, “Kamu akan ber-oleh kesusahan selama sepuluh hari.” Sepuluh adalah angka yang penuh, seperti sepuluh perintah yang menyata-kan kesempurnaan tuntutan Allah; dan seperti persepu-luhan dari kurban persembahan, yang menunjukkan sepu-luh bagian dari kurban itu membentuk persembahan yang sempurna. Dalam Alkitab, sepuluh hari menyatakan se-jangka waktu yang singkat namun sempurna (Kej. 24:55; Yer. 42:7; Dan. 1:12-13). Sebab itu, sepuluh hari menunjuk-kan kesusahan dari gereja yang menderita itu sempurna namun singkat. Betapapun lamanya penganiayaan terhadap kita, dalam pandangan Allah sangat singkat. Penganiayaan ini bukan seribu hari atau seratus hari lamanya, tetapi hanya sepuluh hari. Puji Tuhan! Penderitaan ini hanya penderitaan yang sementara.

Sebagai tanda, sepuluh hari ini menunjukkan sepuluh kali penganiayaan besar yang dialami gereja di bawah ke-kaisaran Romawi, mulai dari Kaisar Nero pada akhir abad pertama sampai Kaisar Konstantin Agung pada awal abad keempat. Bagaimanapun beratnya penganiayaan akibat ha-sutan Satan, Iblis, Satan, melalui kaisar-kaisar Romawi, yang berusaha sedapat mungkin menghancurkan dan mem-basmi gereja, mereka takkan bisa menaklukkan dan mele-nyapkannya. Sejarah membuktikan bahwa gereja milik Kristus, yang telah mati dan hidup kembali untuk selama-lamanya, berdasarkan hayat kebangkitan yang tidak fana melawan penganiayaan itu, dan menang, bahkan berlipat ganda dengan semarak.

III. HAYAT KEBANGKITAN —

DAPAT BERTAHAN SAMPAI MATI

Dalam ayat 10 Tuhan juga berkata, “Hendaklah eng-kau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepa-damu mahkota kehidupan.” Dalam surat ini, kita melihat beberapa petunjuk bahwa hayat kebangkitan ada di dalam gereja. Ketika Tuhan mewahyukan kualifikasi diri-Nya da-lam ayat 8, Ia berkata bahwa diri-Nya adalah “yang telah mati dan hidup kembali”, ini menyatakan hayat kebangkit-an-Nya ada di dalam gereja. Sepertinya Tuhan berkata, “Aku adalah Kebangkitan, dan sekarang Aku hidup di da-lammu. Karena hayat kebangkitan ada di dalam kamu, tidak ada alasan bagimu untuk gagal. Tidak seharusnya engkau dikalahkan oleh aniaya. Sebaliknya, kamu harus bersandar pada hayat kebangkitan-Ku sewaktu menderita aniaya, dan menang.” Karena hayat kebangkitan ini, gereja sanggup menderita kesusahan sampai mati sekalipun. Gereja selalu bersyarat menjadi martir yang mengagumkan, menang, dan mulia. Kita semua bersyarat menjadi martir pemenang, karena kita memiliki hayat kebangkitan di dalam kita.

IV. YANG DIKATAKAN ROH ITU

Dalam surat ini, firman yang Tuhan sampaikan kepa-da gereja yang menderita, juga merupakan firman yang dikatakan oleh Roh kepada gereja-gereja. Hal ini menyata-kan, gereja perlu mengalami penderitaan yang sama. Sebe-narnya, dalam gereja-gereja ada beberapa orang saleh yang mengalami aniaya yang serupa. Mereka tentu telah mende-ngar apa yang dikatakan Roh kepada gereja yang mende-rita. Melalui sekali demi sekali Roh Kudus berbicara, fir-man Tuhan dalam surat ini ditujukan kepada semua orang saleh yang menderita aniaya demi Tuhan dari zaman ke zaman.

V. JANJI KEPADA PEMENANG

A. Mahkota Hayat

Dalam ayat 10, ada janji pemberian mahkota hayat kepada pemenang. Akhirnya, hayat akan menjadi mahkota. Itulah kemuliaan para martir pemenang. Dalam Perjanjian Baru, mahkota selalu mengacu kepada pahala di luar karu-nia keselamatan (Why. 3:11; Yak. 1:12; 1 Tim. 4:8; 1 Ptr. 5:4; 1 Kor.9:25). Mahkota hayat adalah pahala yang diberi-kan kepada orang-orang yang setia sampai mati dalam mengalahkan penganiayaan; ini mengacu kepada kekuatan kemenangan, yaitu kuasa hayat kebangkitan (Flp. 3:10); pula menunjukkan bahwa para pemenang ini telah menca-pai tahap “bangkit yang luar biasa dari antara orang mati” (Flp. 3:11), yaitu kebangkitan yang istimewa.

B. Tidak akan Menderita Apa-apa oleh Kematian yang Kedua

Dalam ayat 11 Tuhan berkata, “Siapa yang menang, ia tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.” Dalam surat ini, menang berarti menang atas penganiayaan dengan setia sampai mati. Janji bagi pemenang dalam su-rat ini mempunyai dua aspek, aspek positifnya menda-patkan mahkota hayat, sedang aspek negatifnya tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.

Ayat 11 menjadi suatu problem besar bagi orang yang menafsirkan Kitab Wahyu. Karena kejatuhan manusia dan masuknya dosa, maka semua orang harus mati satu kali (Ibr. 9:27). Namun kematian yang pertama ini bukanlah penyelesaian yang terakhir. Semua orang mati, selain orang-orang yang sudah tercatat dalam kitab hayat karena perca-ya kepada Tuhan Yesus, akan dibangkitkan dan akan mela-lui penghakiman takhta putih besar pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, yaitu pada kesudahan langit dan bumi yang lama. Hasil penghakiman kali itu, mereka akan dilempar-kan ke dalam lautan api, itulah kematian yang kedua, se-bagai penyelesaian yang terakhir (Why. 20:11-15). Sebab itu, kematian yang kedua ini adalah penanggulangan Allah ter-hadap manusia setelah manusia mati dan bangkit. Karena para pemenang akan mengalahkan maut demi kesetiaan mereka sampai mati di bawah penganiayaan, dan tidak menyisakan apa-apa yang perlu ditanggulangi Allah setelah mereka dibangkitkan, maka mereka akan mendapatkan mahkota hayat sebagai pahala, dan tidak akan dijamah lagi oleh maut setelah mereka bangkit, yaitu tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.

Hampir semua guru Alkitab kesulitan dalam hal ini, karena mereka mengira setelah bangkit dari kematian, kaum beriman tidak perlu ditanggulangi lagi. Saya ingin bertanya kepada Anda, kalau hari ini Anda meninggal, beranikah Anda berkata, “Tidak ada perkara apa pun pada Anda yang perlu ditanggulangi oleh Tuhan?” Mungkin An-da tidak dapat berkata demikian! Ini berarti, kalau hari ini Anda meninggal dunia, Anda masih mempunyai beberapa perkara yang perlu ditanggulangi lebih lanjut oleh Tuhan, tetapi bukan berarti Anda akan binasa. Meskipun demi-kian, penanggulangan lebih lanjut itu tentu tidak bersifat positif, melainkan negatif. Setiap perkara negatif berasal dari kematian. Sebab itu, jika Anda masih memiliki hal-hal negatif yang perlu ditanggulangi, berarti Anda masih dapat dijamah oleh kematian. Itu bukan berarti Anda akan bina-sa, melainkan menyatakan bahwa Anda akan menderita se-suatu. Kita harus mendengarkan perkataan Tuhan. Jika kita menang atas aniaya, pada pihak positifnya, kita akan me-nerima mahkota hayat, dan pada pihak negatifnya, kita tidak akan menderita apa-apa oleh kematian yang kedua.

Kita semua perlu menjadi pemenang. Jika pada zaman ini Anda tidak menang, kelak Anda pasti menderita oleh kematian yang kedua. Tak seorang pun dapat menjelaskan apa yang dimaksud dengan menderita oleh kematian yang kedua itu. Meskipun demikian, satu hal yang jelas, jika An-da tidak dapat mengalahkan aniaya, Anda kelak pasti men-derita sesuatu. Saya ulangi lagi, bukan berarti Anda akan binasa. Tidak. Setiap orang yang telah beroleh selamat, ber-oleh selamat selama-lamanya. Yohanes 10:28-29 menyata-kan tidak ada seorang pun yang beroleh selamat dapat bi-nasa lagi. Tetapi setelah kita dibangkitkan, mungkin kita masih akan ditanggulangi oleh Tuhan. Janganlah memper-tahankan teologi tradisional yang mengatakan setelah kita dibangkitkan segala-galanya sudah beres. Setelah dibangkit-kan, orang yang tidak percaya akan dihakimi oleh Allah, untuk menetapkan nasib kekal mereka. Dalam prinsip yang sama, setelah kita dibangkitkan, kita masih akan ditanggu-langi oleh Tuhan. Hal itu tergantung pada cara hidup dan perilaku kita hari ini. Jika kita hidup dan perilaku dalam kemenangan, berarti kita telah mengalahkan kematian dan tidak ada perkara apa pun yang perlu Tuhan tanggulangi.

Kita harus menerima firman Tuhan yang jelas. Jangan menerima ajaran yang mengatakan jika setelah beroleh se-lamat Anda gagal lagi, maka Anda akan hilang lagi dan binasa. Itu tidak benar. Hal ekstrim lainnya mengatakan bahwa jika Anda sudah diselamatkan, tidak ada problem lagi dengan Tuhan. Namun, orang yang telah beroleh ke-selamatan yang kekal, masih berkemungkinan menerima penanggulangan Tuhan. Inilah Injil yang lengkap. Injil yang lengkap adalah seluruh Perjanjian Baru, bukan Yohanes 3:16 saja. Dalam Wahyu 2:11, ada bagian dari Injil yang sempurna yang mengatakan kita harus mengalahkan se-mua aniaya. Jika Anda tidak menang, Anda tidak dapat menerima mahkota hayat; sebaliknya, Anda akan menderita oleh kematian yang kedua. Jika Anda mengalahkan aniaya dan kesusahan dengan hayat kebangkitan yang ada di da-lam Anda, di pihak positifnya, Anda akan menerima mah-kota hayat, di pihak negatifnya, Anda tidak akan mende-rita apa-apa oleh kematian yang kedua. Inilah janji Tuhan yang jelas, yang dikatakan dengan kata-kata yang jelas, dan kita semua harus percaya. Tidak peduli kita mengerti atau tidak, kita semua harus menerima firman Tuhan. Ji-ka Anda percaya Yohanes 3:16, Anda juga harus percaya Wahyu 2:11. Keduanya adalah firman Tuhan. Saya ulangi lagi, inilah Injil yang lengkap.

Hal ini telah terselubung sangat lama dan tidak ba-nyak orang Kristen yang berani menjamahnya. Karena me-reka tidak sanggup memahaminya, maka dalam praktek-nya mereka lalu mengabaikannya. Tetapi Tuhan tidak pernah mengabaikan firman-Nya. Apa yang dikatakan-Nya akan di-laksanakan-Nya. Sebab itu ingatlah, kita harus mengalah-kan kesusahan, penderitaan, dan aniaya, untuk menerima mahkota hayat serta tidak menderita apa-apa oleh kematian yang kedua. Jika kita menang, kita tidak perlu ditanggu-langi oleh Tuhan di kemudian hari.