GEREJA DI PERGAMUS — MAKAN SUPAYA BERUBAH
Dalam berita ini kita sampai pada gereja yang ketiga, gereja di Pergamus (Why. 2:12-17). Seperti yang sudah kita bicarakan, nama-nama ketujuh gereja itu sangat berarti. Dalam bahasa Yunani, “pergamus” berarti “kawin”, mengan-dung makna “berpadu”, serta “menara tinggi yang kokoh”. Menurut tanda, gereja di Pergamus melambangkan gereja yang kawin dengan dunia dan menjadi menara tinggi yang kokoh, sama dengan pohon besar yang dinubuatkan oleh Tuhan dalam perumpamaan biji sesawi (Mat. 13:31-32). Ke-tika dalam tiga abad pertama Iblis tidak berdaya mele-nyapkan gereja melalui penindasan Kekaisaran Romawi, maka dia mengubah strategi, pada awal abad ke-4 melalui Konstantin menerima agama Kristen sebagai agama nega-ranya untuk merusak gereja. Melalui pencanangan dan pe-ngaruh politik Konstantin, banyak orang yang tidak beriman telah dibaptis atau dipercik masuk “gereja”, sehingga “gereja” membesar dengan abnormal. Bagi Kristus, gereja seperti mempelai perempuan yang yang suci; perkawinannya dengan dunia, dalam pandangan Allah adalah perzinaan rohani.
I. PEMBICARA — BERPEDANG YANG TAJAM DAN BERMATA DUA
Ayat 12 mengatakan, “Inilah firman Dia, yang mema-kai pedang yang tajam dan bermata dua.” Dalam surat ini, Tuhan sebagai Roh yang berbicara, menyatakan diri-Nya adalah Dia yang berpedang yang tajam dan bermata dua. Gereja yang duniawi ini patut menerima penghakiman fir-man Tuhan yang tajam.
II. GEREJA KAWIN DENGAN DUNIA
Dalam surat kepada gereja yang pertama, Tuhan meng-anjuri gereja di Efesus untuk bertobat dan memulihkan ka-sihnya yang semula. Kita harus percaya bahwa anjuran-Nya telah diindahkan, karena gereja yang kedua, gereja di Smirna memang sangat mengasihi Tuhan dan menderita aniaya, menjadi gereja yang menderita. Menurut fakta seja-rah, selama tiga abad pertama gereja sangat menderita ka-rena pemerintah Romawi berusaha sekuatnya untuk meru-sak gereja. Kemudian Iblis, musuh itu, sadar bahwa aniaya tidak berhasil, maka si licik itu tidak lagi menganiaya ge-reja, melainkan menyambut gereja. Pada awal abad keem-pat, Konstantin Agung menerima agama Kristen dan men-jadikannya sebagai agama negara. Sejak saat itu, agama Kristen menjadi gereja Kekaisaran Romawi. Penyambutan Kekaisaran Romawi terhadap gereja justru merusak gereja, karena gereja menjadi duniawi. Kita semua tahu, gereja telah dipanggil keluar dari dunia dan disisihkan bagi Allah. Tetapi, karena disambut oleh Kekaisaran Romawi, gereja kembali lagi ke dalam dunia, dan dalam pandangan Allah gereja “kawin” dengan dunia. Allah melihat perbauran dengan dunia semacam itu sebagai perzinaan rohani.
Karena perkawinan ini, gereja kehilangan kemurnian-nya dan menjadi duniawi. Karena gereja bersatu dengan du-nia, banyak hal duniawi dibawa masuk ke dalam gereja. Hal-hal duniawi berhubungan dengan penyembahan berhala, karena keduniawian selalu berhubungan dengan penyem-bahan berhala. Gereja di Pergamus mula-mula menjadi du-niawi, kemudian menyembah berhala; Iblis memenuhinya dengan dunia dan berhala. Akibatnya, gereja menjadi mutlak berbeda dengan yang diharapkan Allah. Allah mengingin-kan gereja keluar dari dunia, tidak ada hubungan dengan dunia. Gereja harus merupakan kaki pelita emas, ekspresi Allah Tritunggal yang murni, dan tidak ada hubungan apa pun dengan dunia. Tetapi setelah Kekaisaran Romawi mem-buat gereja menjadi agama duniawi, gereja menjadi cam-pur-baur, duniawi, dan menyembah berhala.
A. Tempat Kediaman Iblis
Dalam ayat 13 Tuhan berkata kepada gereja di Pergamus, “Aku tahu di mana engkau tinggal, yaitu di tempat takhta Iblis.” Tempat kediaman Iblis adalah dunia. Karena telah berpadu dengan dunia, dan telah menjadi du-niawi, maka gereja ini pun tinggal di dunia, di tempat ke-diaman Iblis.
B. Tempat Takhta Iblis
Gereja di Pergamus juga tinggal di tempat takhta Iblis. Hal ini juga mengacu kepada dunia. Dunia bukan saja tempat kediaman Iblis, bahkan merupakan wilayah kekuasaannya. Sekarang gereja tidak saja bersatu dengan dunia, bahkan bersatu dengan Iblis. Sungguh menakutkan! Kekristenan yang duniawi hari ini tetap bersatu dengan dunia dan masih terus diresapi dengan pikiran, konsepsi, teori, bahkan praktek Iblis. Kita harus nampak betapa seriusnya perkara ini.
Iblis, musuh itu sangatlah licik. Penyambutannya le-bih hebat daripada penganiayaannya. Mula-mula, Iblis me-nimbulkan penganiayaan, ketika cara itu gagal, ia meng-ubah taktiknya, dan ganti menyambut gereja. Kita juga mengalami hal itu pada masa yang lampau. Mula-mula, agama menganiaya kita, kemudian mengganti taktiknya, mencoba memikat kita dan mengajak kita berkompromi. Itulah kelicikan Iblis. Jika kita terjerat olehnya, kita pasti menjadi duniawi, tidak hanya bergabung dengan Iblis, bah-kan menjadi satu dengannya. Tuhan menaruh ketujuh su-rat dalam Kitab Wahyu, supaya kita melihat keadaan yang sebenarnya dari apa yang disebut “kekristenan”, juga me-lihat apakah sebenarnya gereja itu, dan di mana seharus-nya gereja berada. Gereja seharusnya merupakan kaki pelita emas murni yang berada di luar dunia. Gereja tidak seharusnya berhubungan dengan dunia dan tidak memberi tempat sesentimeter pun untuk penyusupan Iblis yang ja-hat dan licik. Gereja harus terus-menerus berdiri menen-tang hal tersebut.
Kedua arti dari kata Pergamus, kawin dan menara tinggi yang kokoh, berhubungan dengan dua perumpamaan dalam Matius 13, yaitu perumpamaan tentang pohon besar (Mat. 13:31-32) dan perumpamaan ragi (Mat. 13:33). Dalam perumpamaan pohon besar dikatakan, sebutir biji sesawi yang kecil menjadi sebatang pohon. Tidak perlu diragukan, hal itu menunjukkan kekristenan yang membesar, karena kekristenan benar-benar telah menjadi sebuah pohon yang besar. Dalam perumpamaan ragi dikatakan, seorang perem-puan menaruh ragi ke dalam tepung terigu tiga sukat. Ragi menunjukkan hal-hal kedosaan, keduniawian, setani, milik Satan, milik Iblis. Hal-hal yang jahat ini dimasukkan ke dalam tepung terigu yang baik. Dalam Alkitab, tepung terigu dipakai untuk kurban sajian, yang melambangkan Kristus adalah makanan umat Allah. Pohon besar berpa-danan dengan menara yang tinggi, dan perempuan dengan ragi berpadan dengan gereja murtad yang telah menikah dengan dunia. Kita harus jelas akan arti perkara-perkara ini dalam Alkitab. Dalam pandangan Allah, itu adalah pe-rempuan sundal, seorang perempuan jahat yang mencam-purkan hal-hal duniawi, yang setani, milik Satan, dan mi-lik Iblis dengan hal-hal baik dari Kristus, sehingga meng-hasilkan campuran model neraka.
Kita harus mutlak meninggalkan pohon besar ini, men-jauhkan diri dari menara yang tinggi, keluar dari sistem jahat, tersisih bagi Allah, kemudian kembali kepada kehen-dak Allah yang semula, yaitu gereja sebagai satu kaki pe-lita emas murni yang tidak ada hubungan dengan kedunia-wian, penyembahan berhala, atau penyusupan Iblis. Kita tidak berada di tempat kediaman dan takhta Iblis. Dalam gereja tidak ada kedudukan untuk Iblis, tidak ada tempat untuk Iblis berbuat apa pun.
Ketiga surat yang pertama memperlihatkan kepada kita tiga gereja — gereja yang patut didambakan, gereja yang teraniaya, dan gereja yang duniawi. Kita tentu ingin menjadi gereja yang patut didambakan dan menjadi gereja yang teraniaya, dan tidak mau menjadi gereja yang du-niawi. Kita harus menolak segala barang yang duniawi. Hati-hatilah! Setelah musuh menganiaya Anda, strateginya mungkin berubah, yaitu menyambut Anda. Jangan meng-anggap penyambutan itu satu perkara yang baik. Sebalik-nya, kita harus takut disambut sebagaimana takut disengat kalajengking. Bagi kita, menderita penganiayaan, tentang-an, dan serangan itu sangat baik. Namun, kapan kala orang-orang begitu hangat menyambut kita, itulah saat yang berbahaya. Ketika Anda diserang dan dianiaya, janganlah putus asa, karena itu adalah suatu tanda yang tegas bahwa Anda berada di jalan yang benar, tidak meninggalkan jejak Tuhan. Hati-hatilah dengan sambutan yang hangat. Lebih baik menderita penganiayaan daripada menerima sambutan yang hangat. Surat kepada gereja di Pergamus mengajar kita untuk tidak bersatu dengan dunia dengan cara dan aspek apa pun. Kita harus tidak ada hubungan sama sekali dengan dunia. Dalam lima puluh tahun yang lalu, kita berkali-kali mendapat sambutan yang hangat secara licik, tetapi syukur kepada Tuhan, kita selalu menolaknya. Aki-batnya, bertahun-tahun kita terjaga karena penganiayaan. Kita tidak pernah menerima nama yang baik, karena Iblis tidak membiarkan kita mendapatkan nama baik, kecuali kita bersatu dengan dia. Itulah sebabnya dalam pemulihan Tuhan kita terus-menerus mengalami peperangan, terus-me-nerus diserang. Setiap saat peperangan berkecamuk, karena pemulihan Tuhan bukan melakukan pekerjaan kekristenan yang biasa. Tidak, kesaksian ini adalah satu peperangan.
III. KESAKSIAN ANTIPAS
Kesaksian ini ada pada Antipas. Dalam ayat 13, Tuhan berkata, “Engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu (kepercayaanmu) kepada-Ku, ju-ga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis ting-gal.” Dalam bahasa Yunani, “Antipas” berarti “menentang segalanya”. Antipas, Saksi setia Tuhan ini, menentang se-gala yang dibawa masuk dan dipraktekkan oleh gereja du-niawi. Sebab itu, ia menjadi martir Tuhan. Istilah “martir” dan “saksi” mengacu kepada kata yang sama dalam bahasa Yunani. Sebagai orang yang memberi kesaksian yang berkebalikan, Antipas menentang segala yang menyimpang dari kesaksian Yesus. Dalam zamannya, karena kesaksian-nya yang berkebalikan, gereja di Pergamus tetap memper-tahankan nama Tuhan, dan tidak menyangkal kepercayaan kristiani yang tepat. Antipas, menjadi pelopor menentang gereja duniawi, membuka jalan bagi kita untuk memerangi gereja yang duniawi hari ini. Segala hakiki, milik, dan pe-kerjaan gereja duniawi, ditentang oleh Antipas.
A. Berpegang kepada Nama Tuhan
Dalam ayat 13 Tuhan berkata, “Engkau berpegang ke-pada nama-Ku.” Nama Tuhan mengacu kepada persona Tu-han; persona adalah realitas nama. Gereja di Pergamus tetap berpegang kepada nama Tuhan, berarti berpegang ke-pada realitas persona-Nya. Kecenderungan penyimpangan gereja duniawi adalah meninggalkan realitas persona Tu-han. Dalam pemulihan Tuhan, kita harus berperang melawan hal ini, supaya gereja bisa berpegang kepada nama Tuhan, yaitu berpegang kepada realitas persona Tuhan sampai selama-lamanya.
B. Tidak Menyangkal Imannya kepada Tuhan
Tuhan berkata pula, “Engkau tidak menyangkal iman-mu (kepercayaanmu) kepada-Ku.” Iman (kepercayaan) terha-dap Tuhan mengacu kepada segala sesuatu yang harus kita percayai tentang persona dan pekerjaan Tuhan. Ini tidak mengacu kepada iman subyektif dalam kita, melainkan ke-percayaan yang obyektif, yaitu perkara yang kita percayai. Karena berpadu dengan dunia, gereja mulai meremehkan nama Tuhan dan menyangkal kepercayaan orang Kristen yang tepat.
C. Setia sampai Mati
Antipas setia pada kesaksian yang berlawanan, sampai mati. Karena kesaksiannya menentang keduniawian gereja, ia dibunuh dan menjadi martir. Untuk bersaksi menentang gereja duniawi, kita memerlukan roh martir. Kita perlu setia kepada kesaksian Tuhan, menentang keduniawian gereja sampai mati.
Telah kita ketahui, Antipas adalah saksi yang berla-wanan dan mengerjakan kesaksian yang bertentangan. Hari ini, dalam pemulihan Tuhan, kita juga adalah satu kesak-sian yang berlawanan. Sejak Kristen Protestan masuk ke China pada tahun 1830, selain beberapa perkecualian, keba-nyakan dari mereka bersifat duniawi. Mulai tahun 1922, Tuhan membangunkan kesaksian gereja lokal. Kesaksian ini melakukan pekerjaan yang unggul bagi pemulihan Tuhan. Meskipun banyak orang Kristen menentang pemu-lihan ini, mereka secara positif dipengaruhi oleh pemulihan ini, dan akhirnya mereka berubah dalam banyak hal. Me-reka tidak mau menempuh jalan pemulihan, tetapi mereka tidak dapat tidak merasakan pengaruhnya, bahkan menggu-nakan ajaran kita. Jika Anda bertanya kepada misionaris-misionaris yang ke China antara tahun 1922 sampai 1936, mereka akan memberi tahu Anda, betapa besar pengaruh pemulihan Tuhan ini terhadap agama Kristen. Saya dilahir-kan dan dibesarkan dalam agama Kristen, tetapi belum per-nah mendengar kata “bersekutu”. Tetapi karena pengaruh pemulihan Tuhan, hampir setiap denominasi mulai mema-kai kata ini. Dahulu dalam papan pengumuman mereka memakai kata “waktu kebaktian”. Tetapi karena pengaruh kita, mereka mengubahnya menjadi “waktu bersidang”. “Ke-baktian” sangat berbeda dengan “bersidang”. Di bawah peng-aruh pemulihan Tuhan, empat puluh tahun yang lalu ke-kristenan di Timur Jauh berangsur-angsur kembali kepada Alkitab, lebih sesuai dengan kebenaran. Mereka malah menggunakan buku-buku kita sebagai dasar pengajaran dan khotbah mereka. Tetapi, di antara mereka ada yang tidak berani mengaku belajar dari kita. Mereka mengkhotbahkan berita-berita kita, tetapi menentang jalan pemulihan Tuhan dan mengkritik kesaksian kita. Meskipun demikian, Tuhan mendapat sesuatu. Saya tahu, di Taipei banyak orang luar yang membeli sejumlah besar buku-buku terbitan kita.
Seorang misionaris pernah memberi laporan tentang pekerjaan di Taiwan. Ketika ia ditanya tentang pekerjaan kita di pulau itu, ia berkata, pekerjaan ini sangat baik, sa-yang di atas minyak urapan ada seekor lalat mati. Tahukah Anda, apa yang disebut “lalat mati” itu? Tumpuan gereja. Menurut pandangannya, jika kita membuang tumpuan ge-reja, minyak urapan kita akan murni. Tetapi ia tidak tahu, bagi kita, membuang tumpuan gereja berarti membuang nyawa kita.
Tiga tahun yang lalu, ketika mengunjungi Taipei, saya bertemu dengan seorang Kristen yang mempunyai keduduk-an di masyarakat. Ia berkata kepada saya, seorang peng-injil pernah berkata kepadanya bahwa ia tidak mengerti mengapa di gereja lokal selalu ada terang baru. Di sinilah sebabnya, Roh Kudus berbicara kepada gereja-gereja. Terang tidak ada di jalan atau di pelataran luar, melainkan di da-lam tempat kudus, yaitu di dalam gereja. Inilah sebabnya kita selalu mendapat sesuatu yang segar dari Tuhan.
Kita berada di sini untuk semua orang Kristen. Tiga belas tahun yang lalu, dengan saudara-saudara di Los Angeles, saya berbicara tentang roh manusia, praktek gereja, dan Allah berbaur dengan manusia. Saya berkata, “Saudara-saudara, tunggulah sejenak, Anda akan melihat orang-orang luar juga akan memakai istilah ini.” Hal ini benar-benar terjadi. Apa yang kita beritakan dan kita ajarkan, banyak yang diambil oleh orang lain. Di satu pihak mereka me-nentang kita, tetapi di pihak lain, dengan diam-diam mere-ka memakai bahan-bahan kita. Saya kenal seorang peng-injil yang terang-terangan menentang saya, tetapi ia meng-ajar orang dengan buku “Ekonomi Allah”.
Ketika mengunjungi Tyler di Texas, saya menyampaikan serangkaian berita mengenai pengubahan. Ada sese-orang mencatat semua berita. Ia adalah seorang penginjil ternama di Amerika Selatan. Selesai sidang, dia minta izin untuk memakai beberapa artikel dari majalah Stream (Arus Hayat) yang kita terbitkan. Saya mengabulkan permintaan-nya. Beberapa bulan kemudian, saya kembali ke Tyler dan disalami oleh seorang saudara yang mengatakan, “Inilah buku karangan Witness Lee.” Ketika saya lihat, tidak ada nama Witness Lee pada buku itu; sebaliknya saya melihat nama penginjil yang mengikuti sidang istimewa kita dan mencatat semua berita. Setelah itu dia pergi ke tempat lain, menyampaikan berita-berita itu, lalu menerbitkannya beru-pa buku atas namanya. Apa yang dapat kita katakan me-ngenai hal itu? Asalkan umat Allah mendapatkan bantuan, kita tidak keberatan. Namun, kita di sini bukan untuk memberi bantuan semacam itu kepada orang lain, kita ber-diri di sini untuk kesaksian Yesus. Kita harus menjadi Antipas hari ini.
IV. AJARAN BILEAM
Dalam ayat 14 Tuhan berkata, “Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: Di antaramu ada be-berapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, su-paya mereka makan persembahan berhala dan berzina.” Dalam beberapa surat ini, berdasarkan ekonomi Allah, Tu-han berharap kita memakan Dia sebagai pohon hayat (2:7), manna yang tersembunyi (2:17), dan hasil bumi tanah per-mai yang kaya (3:20). Tetapi gereja yang duniawi berpaling dari hayat ke pengajaran, sehingga kaum beriman menyim-pang dari kenikmatan atas Kristus sebagai suplai hayat mereka untuk merampungkan ketetapan kehendak kekal Allah. Kenikmatan atas Kristus membangun gereja; sedangkan pengajaran menghasilkan agama.
Ayat ini menyinggung ajaran Bileam. Bileam adalah seorang nabi bangsa kafir, yang demi memperoleh upah membujuk umat Alah melakukan perzinaan dan menyem-bah berhala (Bil. 25:1-3; 31:16). Dalam gereja yang duniawi, ada orang mulai mengajarkan perkara yang sama. Hari ini, banyak aliran kekristenan juga dipenuhi ajaran yang sama. Menyembah berhala selalu mendatangkan perzinaan (Bil. 25:1-3; Kis. 15:29). Ketika gereja yang duniawi meremeh-kan nama Tuhan, yaitu persona Tuhan, ia beralih kepada berhala dan dengan demikian melakukan perzinaan.
Dalam dunia kekristenan hari ini, banyak penginjil ba-yaran yang tidak mengajar orang menerima Kristus sebagai suplai hayat mereka. Sebaliknya, dengan licik mereka meng-ajar orang makan barang persembahan berhala, yaitu me-nerima hal-hal jahat, milik Iblis, dan yang setani. Ajaran itu menyebabkan orang-orang meninggalkan persona Kristus, dan membawa orang masuk ke dalam perzinaan rohani. Seharusnya, Kristus adalah satu-satunya Suami gereja, satu-satunya Mempelai laki-laki semua orang kudus. Tetapi banyak ajaran dalam kekristenan hari ini menyebabkan orang-orang menerima hal-hal setani dan berhubungan de-ngan hal-hal yang bukan Kristus. Hal ini sesungguhnya adalah makan persembahan berhala dan melakukan perzinaan.
Apa artinya menyangkal nama Tuhan dan menyangkal kepercayaan kita kepada Tuhan? Seperti kita ketahui, ke-percayaan di sini tidak mengacu kepada iman yang subyek-tif, yaitu daya percaya kita, melainkan mengacu kepada kepercayaan yang obyektif, yaitu hal-hal yang kita percayai. Kepercayaan kita kepada Tuhan meliputi pekerjaan pene-busan yang Tuhan kerjakan bagi kita, kematian dan ke-bangkitan-Nya, serta hal-hal yang harus kita percayai untuk mendapatkan keselamatan. Hal-hal ini tersusun menjadi kepercayaan kita. Nama Tuhan menunjukkan persona Tu-han. Kita tidak seharusnya menyangkal nama Tuhan, ti-dak dapat meninggalkan kepercayaan kita kepada Tuhan. Kita harus senantiasa memegang nama Tuhan dan percaya kepada-Nya.
Ketika masih muda, saya dibaptis di gereja Presbiterian China. Di sana ada beberapa Bileam. Pada suatu Minggu siang, salah satu Bileam berbicara tentang kesehatan dan kebersihan, khususnya bagaimana membasmi lalat. Kemu-dian, ada usul agar suatu benda diletakkan di dalam ge-dung kebaktian, supaya jemaat menundukkan kepala kepa-danya. Ketika beberapa orang menentangnya, Bileam itu berkata, “Meskipun Yesus Kristus hari ini keluar dari ku-bur menyuruh aku jangan memberi hormat kepada benda itu, aku tetap akan memberi hormat.” Kata-katanya ini menelanjangi ketidakpercayaannya terhadap kebangkitan Tuhan Yesus. Itu satu contoh mengenai menyangkal pribadi Tuhan dan menyangkal kepercayaan kepada Tuhan. Jika Anda membaca sejarah sambil meneliti keadaan kekristen-an hari ini, Anda dapat menemukan banyak hal semacam itu. Di dalam banyak perkumpulan yang disebut “gereja”, aliran modern sangat berkembang. Mereka tidak percaya Yesus adalah Allah, tidak percaya Dia dilahirkan oleh anak dara, juga tidak percaya Yesus mati di kayu salib untuk menebus kita. Mereka hanya percaya bahwa Yesus mati di salib sebagai martir. Mereka tidak percaya Yesus Kristus telah bangkit. Ajaran Bileam selalu membuat orang bersatu dengan hal-hal duniawi. Itulah yang dimaksud makan persembahan berhala dan melakukan perzinaan rohani.
V. AJARAN PENGIKUT NIKOLAUS
Dalam ayat 15 Tuhan berfirman pula, “Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus.” Gereja yang duniawi dan merosot bu-kan hanya berpegang kepada ajaran Bileam, bahkan berpe-gang kepada ajaran Nikolaus. Ajaran Bileam membuat kaum beriman menyimpang dari persona Kristus kepada penyem-bahan berhala, dan dari menikmati Kristus kepada perzi-nahan rohani; sedangkan ajaran Nikolaus merusak fungsi kaum beriman sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus, se-hingga Tubuh Tuhan tidak berdaya mengekspresikan Tu-han. Ajaran yang pertama meremehkan Kepala, ajaran yang kemudian merusak Tubuh. Ini adalah tipu muslihat musuh dalam semua ajaran agamis.
Dalam gereja di Efesus hanya ada perbuatan pengikut Nikolaus (2:6), sedangkan dalam gereja di Pergamus, per-buatan mereka berkembang menjadi semacam ajaran. Pada mulanya mereka mempraktekkan sistem hierarki dalam ge-reja sebermula; kini mereka mengajarkannya dalam gereja yang merosot. Hari ini, dalam dunia kekristenan, sistem hierarki dari pengikut Nikolaus sangat menonjol dalam praktek maupun dalam pengajaran. Tuhan benci akan sis-tem hierarki pengikut Nikolaus, karena hal itu membunuh fungsi anggota Tubuh dan membangun organisasi meng-gantikan susunan organik. Lihatlah keadaan kebanyakan kekristenan hari ini, tidak ada susunan organik, hanya ada organisasi yang kuat. Sistem hierarki semacam itu sangat jahat dan setani, dan Tuhan membencinya. Sebab itu dalam mengatur pelayanan di dalam gereja, kita harus hati-hati, jangan mendirikan organisasi apa pun. Jika kita ingin mem-punyai hidup gereja yang normal, kita harus mengembang-kan fungsi setiap anggota, menganjuri mereka berfungsi berdasarkan hayat dengan cara yang hidup, agar Tubuh dapat terbangun sebagai satu organisme. Hidup gereja ha-rus dikuasai oleh visi ini, dan kita selamanya tidak boleh menyimpang darinya. Bila kita sedikit lengah, kita akan beralih dari organisme ke organisasi. Waspadalah selalu terhadap pembentukan organisasi macam apa pun. Tetap-lah menjadi organisme, supaya setiap anggota Tubuh mem-punyai kesempatan berfungsi.
VI. KEDATANGAN TUHAN
DAN SERANGAN TUHAN
Dalam ayat 16 Tuhan berfirman, “Sebab itu, bertobat-lah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepa-damu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini.” Di sini kita nampak, Tuhan segera datang, dan dengan pedang yang di mulut-Nya Ia akan memerangi sejumlah orang di dalam gereja duniawi ini. Hal ini tentunya tidak mengacu kepada kembalinya Tuhan, melainkan mengacu kepada kedatangan-Nya untuk berpe-rang melawan guru-guru pengikut Nikolaus dalam gereja yang merosot. Saat itu, Dia akan menghakimi gereja yang merosot dengan firman yang membunuh yang keluar dari mulut-Nya. Namun, gereja duniawi yang dilambangkan oleh gereja di Pergamus, menghasilkan gereja di Tiatira (mengacu kepada aliran kekristenan tertentu), dan keduniawian serta kejahatan yang dimasukkan oleh gereja yang merosot ini akan terus berlangsung dalam gereja ini sampai Tuhan datang untuk melaksanakan penghakiman-Nya secara tuntas.
VII. PERKATAAN ROH ITU
Gereja yang jatuh dan duniawi ini paling membutuh-kan firman yang dikatakan Roh itu. Mereka hanya mempu-nyai Alkitab dengan huruf-huruf yang mati, tetapi kekurang-an perkataan Roh itu. Pengetahuan Alkitab tanpa perkataan Roh itu, tidak dapat menyuplaikan kebutuhan kekristenan yang mati. Kematian di dalam kejatuhannya harus diha-kimi dengan pedang tajam yang keluar dari mulut Tuhan. Gereja duniawi memerlukan perkataan yang hebat dan hidup dari Tuhan Roh.
VIII. JANJI KEPADA PEMENANG
Dalam ayat 17 Tuhan berfirman, “Siapa yang menang, kepadanya akan Kuberikan dari manna yang tersembunyi; dan Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atasnya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya.” Menang di sini, secara khusus mengacu kepada mengalahkan perpaduan gereja dengan dunia, ajaran percabulan dan penyembahan berhala, serta ajaran sistem hierarki.
A. Makan Manna yang Tersembunyi
Tuhan berjanji memberikan manna yang tersembunyi kepada pemenang. Janji kepada gereja yang pertama adalah makan pohon hayat. Janji kepada gereja ini adalah makan manna yang tersembunyi. Semakin duniawi gereja, semakin besar kebutuhan akan orang yang bangkit, bersaksi, dan membina persekutuan yang intim dengan Tuhan. Orang-orang itu akan diberi hak istimewa untuk menikmati Tu-han sebagai manna yang tersembunyi. Manna melambang-kan Kristus sebagai makanan surgawi yang membuat umat Allah sanggup menempuh jalan-Nya. Manna yang tersem-bunyi adalah satu bagian manna yang tersimpan dalam bu-li-buli emas di dalam tabut perjanjian (Kel. 16:32-34; Ibr. 9:4). Manna yang terbuka diberikan kepada umat Tuhan untuk dinikmati secara terbuka, manna yang tersembunyi melambangkan Kristus yang tersembunyi, adalah bagian yang istimewa, tersimpan untuk para pencari-Nya yang me-nang yang mengalahkan kemerosotan gereja yang duniawi. Ketika gereja menempuh jalan dunia, para pemenang ini maju, tinggal di hadapan Allah dalam tempat maha kudus. Di sana mereka menikmati Kristus yang tersembunyi se-bagai bagian yang istimewa, sebagai suplai mereka setiap hari. Hari ini janji ini sedang digenapi dalam hidup gereja yang wajar, dan akan tergenapi sepenuhnya dalam kera-jaan yang akan datang. Jika kita menuntut Tuhan, menga-lahkan kemerosotan gereja duniawi, dan menikmati bagian istimewa atas Tuhan pada hari ini, dalam kerajaan yang akan datang, Ia akan menjadi pahala kita sebagai manna yang tersembunyi. Dalam hidup gereja hari ini, kalau kita kehilangan Dia sebagai bagian istimewa kita, kita pasti tidak bisa menikmati-Nya sebagai pahala dalam kerajaan yang akan datang.
Manna yang tersembunyi ditaruh di dalam buli-buli emas. Emas menyatakan sifat ilahi Allah. Sebab itu, mena-ruh manna yang tersembunyi di dalam buli-buli emas me-nyatakan bahwa Kristus yang tersembunyi tersimpan di da-lam sifat ilahi. Manna yang terbuka untuk seluruh umat Allah, tetapi manna yang tersembunyi untuk mereka yang intim dengan Tuhan, yang meninggalkan dunia dan segala sekatan antara mereka dengan Allah. Mereka merasakan keintiman penyertaan Allah, dan dalam keintiman yang ilahi ini, mereka menikmati manna yang tersembunyi da-lam sifat ilahi Allah. Perkara ini sangat dalam, bukan per-kara yang di luar; melainkan mutlak perkara yang di da-lam. Betapa dalamnya perkara ini, mereka yang makan manna yang tersembunyi, sesungguhnya di dalam sifat ilahi, menikmati Kristus yang tersembunyi.
Bagaimana kita baru dapat makan manna yang ter-sembunyi? Hal ini mutlak berada di luar dunia. Ketika ge-reja duniawi kian hari kian merosot, bergabung dengan dunia, kita menanjak dari Mesir ke padang gurun, dari pa-dang gurun masuk ke tanah permai, dari tanah permai masuk ke Kemah Pertemuan, kemudian dari pelataran luar masuk ke dalam tempat kudus, dan dari tempat kudus ma-suk ke dalam tempat maha kudus. Setelah masuk ke da-lam tempat maha kudus, masih perlu masuk ke dalam ta-but perjanjian, menjamah buli-buli emas, dan menikmati Kristus sebagai manna yang tersembunyi. Bila gereja ma-kin duniawi, kita makin perlu masuk ke dalam tempat ma-ha kudus, makan manna yang tersembunyi. Manna berada di dalam buli-buli emas, buli-buli emas berada di dalam ta-but perjanjian, dan tabut perjanjian berada di dalam tempat maha kudus. Melalui ini kita dapat nampak, betapa dalam-nya manna yang tersembunyi. Jika ingin menikmati manna yang tersembunyi, kita harus hidup di dalam penyertaan Allah yang intim. Kita harus hidup dalam sifat ilahi-Nya, tempat yang tanpa dunia atau hal-hal lain yang meng-ganggu. Lagi pula di sana ada persekutuan yang intim antara kita dengan Allah. Di sana kita menikmati Kristus sebagai manna yang tersembunyi. Di antara kita ada bebe-rapa orang yang sudah mengalami Kristus yang tersem-bunyi. Kita pernah berkata, “Tuhan, aku tidak mau dunia. Aku hanya mau Dikau, tidak mau pergaulan atau persa-habatan. Tuhan, aku mau melepaskan semua ikatan. Tuhan, sekarang aku sungguh-sungguh bebas, aku mengasihi Di-kau dari lubuk hatiku. Aku mengasihi Dikau tanpa suatu halangan.” Ketika kita berkata demikian kepada Tuhan, kita segera berada di dalam buli-buli emas, dalam kein-timan sifat ilahi, berbagian dalam Kristus yang tersembu-nyi. Oh! Kita harus makan Kristus yang demikian!
Janji makan manna yang tersembunyi juga merupakan nubuat. Dalam Kerajaan Seribu Tahun, beberapa pemenang dapat menikmati Kristus sebagai bagian khusus mereka. Bagian khusus ini adalah manna yang tersembunyi yang di-janjikan di sini. Namun, pada prinsipnya, hari ini pun kita sudah dapat demikian intim dan tersembunyi menikmati Kristus. Kita menikmati Kristus sedemikian rupa sehingga tidak dipahami oleh mereka yang hanya dapat menikmati manna yang terbuka.
B. Beroleh Batu Putih yang di Atasnya
Tertulis Nama Baru
Tuhan juga berjanji kepada pemenang, kata-Nya, “Aku akan mengaruniakan kepadanya batu putih, yang di atas-nya tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh sipa pun, selain oleh yang menerimanya.” Menikmati Kristus se-bagai manna yang tersembunyi menghasilkan pengubahan. Bagaimana kita dapat mengatakan demikian? Karena sete-lah membicarakan manna yang tersembunyi, Tuhan me-nyinggung batu putih. Dalam Alkitab, batu menandakan bahan pembangunan Allah. Manusia asalnya diciptakan dari debu tanah, bukan dari batu (Kej. 2:7). Boleh dikatakan manusia hanya segumpal tanah. Roma 9 juga mewahyukan bahwa manusia adalah satu bejana dari tanah liat saja. Tetapi, ketika Tuhan bertemu dengan Simon Petrus untuk kali pertama, Ia langsung mengubah namanya dari Simon menjadi Kefas, yang berarti “batu” (Yoh. 1:42). Ingatlah mimpi Yakub dalam Kejadian 28. Ketika ia terjaga dari mimpinya, ia mengambil batu yang dipakainya sebagai bantal dan menamakannya bait (rumah) Allah. Dalam 1 Korintus 3 Paulus menyatakan batu permata dipakai untuk pemba-ngunan gereja, dan dalam Wahyu 21 kita nampak batu per-mata adalah bahan pembangunan Yerusalem Baru. Jika kita menjajarkan ayat-ayat ini, kita nampak bahwa batu menunjukkan orang yang sudah diubah. Kita tidak dapat mengerti Wahyu 2:17 berdasarkan ayat itu saja. Kita harus melihatnya dari seluruh Alkitab. Tuhan berjanji memberi pemenang makan manna yang tersembunyi dan memberi-nya satu batu putih, artinya jika kita makan manna yang tersembunyi, kita akan berubah menjadi batu putih. Dalam manusia alamiah kita, kita bukanlah batu, melainkan ta-nah. Karena kita telah menerima hayat ilahi dan sifat ilahi melalui kelahiran kembali, maka kita bisa diubah (2 Kor. 3:18) menjadi batu-batu, bahkan permata, melalui menik-mati Kristus sebagai suplai hayat kita. Dengan makan Yesus sebagai manna yang tersembunyi, kita dapat diubah men-jadi batu putih untuk pembangunan Allah. Kalau kita tidak mengikuti gereja yang duniawi, tetapi menikmati Tuhan dalam hidup gereja yang wajar, kita akan diubah menjadi batu bagi pembangunan Allah. Batu-batu ini akan dibenar-kan dan diperkenan oleh Tuhan, inilah yang ditunjukkan oleh warna putih; tetapi gereja yang duniawi akan dihakimi dan ditolak oleh Tuhan. Dalam Kitab Wahyu, putih berarti diperkenan. Bila kita berubah menjadi batu, kita akan di-perkenan Tuhan, bahkan membuat Tuhan sangat gembira. Batu putih adalah untuk pembangunan Allah. Pembangun-an Allah, pekerjaan pembangunan gereja, tergantung pada perubahan kita, dan perubahan kita dihasilkan dari menik-mati Kristus sebagai suplai hayat.
Tuhan berkata, di atas batu putih itu akan “tertulis nama baru, yang tidak diketahui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya”. Nama menyatakan orangnya, na-ma baru adalah pernyataan dari orang yang telah berubah. Setiap orang beriman yang telah diubah adalah sebuah ba-tu putih. Di atasnya tertulis nama baru yang tidak diketa-hui oleh siapa pun, selain oleh yang menerimanya. Nama baru ini menyatakan pengalaman orang yang diubah. Sebab itu, hanya dia sendiri yang mengenal arti nama itu. Seorang saudara mungkin masih memiliki banyak kadar tanahnya, tetapi ia mengasihi Tuhan, telah meninggalkan dunia, melepaskan segala hal yang memisahkan dia dari Allah. Se-bab itu Tuhan berkata kepadanya, “Kepadanya akan Kuberi-kan dari manna yang tersembunyi.” Semakin banyak manna tersembunyi yang dimakannya, semakin banyak pula per-ubahan yang dialaminya yang membuatnya menjadi batu putih. Pada saat saudara itu makan Tuhan Yesus sebagai manna yang tersembunyi, dia akan mempunyai sejumlah pengalaman dan Tuhan akan menulis nama baru di atas-nya. Nama baru ini adalah pernyataan baru saudara terse-but. Karena nama baru itu didasarkan pada hakiki peng-alamannya, maka orang lain tidak mengetahuinya.
Wahyu 2:17 adalah firman Tuhan kepada kita. Terima-lah firman ini sebagai riwayat hidup kita, jangan secara obyektif. Anggaplah perkataan ini ditujukan kepada kita. Di satu pihak, kita hidup di dalam zaman Pergamus, karena yang disebut gereja telah menjadi duniawi. Tetapi sebagai saksi yang berlawanan, kita di sini berperang untuk pemu-lihan Tuhan. Sebab itu, Tuhan memberikan ayat 17 kepada kita. Kita harus mengerti perkataan ini dan berkata, “Amin, Tuhan. Terima kasih atas janji ini. Aku boleh makan diri-Mu sebagai manna yang tersembunyi, dan makanan ini akan mengubah aku dari tanah liat menjadi batu yang berkenan kepada-Mu, menyenangkan-Mu, serta dipakai oleh-Mu un-tuk pembangunan tempat kediaman-Mu. Tuhan, aku mene-rima janji-Mu. Sejak hari ini, aku akan secara tersembunyi makan diri-Mu, supaya aku menjadi batu putih, untuk pem-bangunan-Mu.” Bukankah ini suatu janji Tuhan yang sangat indah? Ya, gereja bisa berubah menjadi duniawi, tetapi Tu-han berjanji bahwa kita akan diubah menjadi batu putih bagi pembangunan Allah.