GEREJA DI TIATIRA — KUASA DAN BINTANG TIMUR
Dalam berita ini kita akan melihat gereja keempat, gereja di Tiatira (2:18-29), (mengacu kepada aliran kekris-tenan tertentu). Dalam bahasa Yunaninya, Tiatira berarti “kurban wangi-wangian”, atau “kurban yang tidak putus-putusnya”. Sebagai tanda, gereja di Tiatira melambangkan gereja yang sepenuhnya terbentuk sebagai gereja dengan sistem kepausan universal pada akhir abad keenam. Gereja ini penuh dengan kurban, seperti yang ditunjukkan dengan misa-misanya yang tiada henti.
I. PEMBICARA
A. Anak Allah
Ayat 18 mengatakan, “Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tem-baga.” Gereja Katolik dengan sekuatnya menekankan bah-wa Kristus adalah anak Maria. Karena itu, di sini Tuhan dengan serius menyebut diri-Nya Anak Allah, untuk me-nentang penekanan tersebut.
B. Yang Mata-Nya bagaikan Nyala Api dan Kaki-Nya bagaikan Tembaga
Ketika menanggulangi gereja yang duniawi, gereja di Pergamus, Tuhan menyebut diri-Nya sebagai yang mema-kai pedang yang tajam dan bermata dua. Dalam menang-gulangi gereja di Tiatira. Dia menyebut diri-Nya sebagai yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga yang mengkilap”. Gereja yang duniawi perlu di-tanggulangi oleh firman Tuhan yang memukul dan membu-nuh; sedangkan di sini perlu penghakiman dari mata-Nya yang menyelidik dan kaki-Nya yang menginjak. Mata Tu-han menyelidik bagian batin dan hati, dan kaki-Nya meng-hakimi dan membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya (2:23).
II. CIRI-CIRI GEREJA INI
Dalam ayat 19 Tuhan mengatakan, “Aku tahu segala pekerjaanmu: Baik kasihmu maupun imanmu, baik pela-yananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu bahwa pekerja-anmu yang terakhir lebih banyak daripada yang pertama.” Gereja di Tiatira mempunyai banyak pekerjaan dan pela-yanan. Yang dikerjakannya pada hari-hari terakhir, lebih banyak daripada yang semula.
III. WANITA IZEBEL
Salah satu butir penting dalam surat kepada gereja di Tiatira menyinggung wanita Izebel. Tuhan menyebutnya pada ayat 20, kata-Nya, “Tetapi Aku mencela engkau, ka-rena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berzina dan makan persembahan-persembahan berhala.” Nanti akan kita lihat, wanita di sini sama dengan yang dinubuatkan oleh Tuhan dalam Matius 13:33, yang memasukkan ragi (melambangkan perkara yang jahat, bi-dah, dan kafir) ke dalam tepung halus (melambangkan Kristus sebagai kurban sajian yang memuaskan Allah dan manusia). Wanita ini juga adalah pelacur besar dalam Wahyu 17, yang mencampurkan perkara ilahi dengan perkara yang keji. Izebel, istri kafir Ahab, adalah lambang dari gereja yang murtad ini. Gereja ini penuh dengan persundalan dan penyembahan berhala yang bersifat rohani dan jasmani.
A. Menyebut Dirinya Nabiah
Di sini Tuhan menunjukkan, gereja ini menunjuk diri-nya sendiri sebagai nabiah. Nabi adalah orang yang berbi-cara untuk Allah dengan kuasa Allah. Di sini Tuhan me-makai Izebel sebagai lambang, menyatakan bahwa gereja di Tiatira (mengacu kepada aliran kekristenan tertentu) meng-angkat dirinya sendiri sebagai nabiah, yang berpura-pura menerima kuasa dari Allah untuk berbicara bagi Allah. Nabiah ini menuntut orang mendengarkan dia, bukan men-dengarkan Allah.
B. Mengajar dan Menyesatkan Hamba-hamba
Tuhan supaya Berbuat Zina dan Makan Persembahan-persembahan Berhala
Dalam gereja di Pergamus ada ajaran Bileam dan Nikolaus. Ajaran-ajaran ini akan tetap tinggal dalam gereja yang murtad ini. Selain itu, gereja di Tiatira sendiri meng-ajar, menyuruh umatnya mendengarkan dia melebihi men-dengarkan firman kudus Allah. Orang-orang yang bergabung dengannya akan dibius oleh ajarannya yang menyesatkan dan agamawi, sehingga tidak menghiraukan Kristus seba-gai hayat dan suplai hayat mereka, seperti yang dinyatakan oleh pohon hayat dan manna yang tersembunyi, yang per-nah Tuhan janjikan kepada gereja di Efesus dan Pergamus (2:7, 17).
Matius 13:33 mengatakan, “Ia menceritakan perumpa-maan ini juga kepada mereka, ‘Hal Kerajaan Surga itu se-umpama ragi yang diambil seorang perempuan dan diaduk-kan ke dalam tepung terigu sebanyak empat puluh liter sampai mengembang seluruhnya.” Guru-guru Alkitab yang ortodok sependapat bahwa Izebel dalam Wahyu 2 tidak lain adalah perempuan yang dinubuatkan Tuhan dalam Matius 13:33. Kedua wanita ini sebenarnya adalah satu. Pelacur besar dalam Wahyu 17 juga mengacu kepada perempuan yang sama ini. Jadi, perempuan dalam Matius 13 adalah Izebel dalam Wahyu 2, dan Izebel menjadi pelacur besar yang disebut Babel besar dalam Wahyu 17. Kalau dia bu-kan pelacur, lalu apa? Izebel dalam Perjanjian Lama ada-lah lambang dari “wanita Izebel” dalam Wahyu 2. Ketika Tuhan berbicara kepada gereja di Tiatira, Ia berfirman bah-wa ada Izebel hari ini. Menurut sejarah, Izebel hari ini pas-tilah gereja yang telah murtad itu (mengacu kepada aliran kekristenan tertentu). Dengan memakai nama Izebel, Tu-han mengingatkan kita akan perbuatan Izebel, istri Ahab: ia berlatar belakang kafir, dan memasukkan hal-hal kafir ke dalam penyembahan Allah oleh umat-Nya. Inilah butir paling penting dan paling pokok dalam surat kepada Tiatira. Prinsip perbuatan gereja yang murtad ini adalah mencam-purkan hal-hal kafir dengan penyembahan terhadap Allah. Ia membantu umat Allah menyembah Allah, tetapi ia tidak melakukannya menurut cara Allah, melainkan dengan ca-ranya sendiri yang kafir. Sejak munculnya, gereja ini telah dan selalu menyerap hal-hal milik kafir. Ke mana pun ia pergi, ia menyerap hal-hal yang berhubungan dengan pe-nyembahan berhala.
Salah satu contoh tegas dari perbuatan gereja ini ada-lah sesuatu yang disebut “Natal”. Kita mau Kristus, tetapi kita tidak perlu Natal. Mulanya, tanggal 25 Desember yang disebut Hari Natal, adalah hari penyembahan terhadap ma-tahari yang dilakukan oleh orang-orang Eropa kuno. Kata mereka, tanggal 25 Desember adalah hari kelahiran ma-tahari. Ketika gereja ini meluas ke Eropa, karena ia telah memasukkan ribuan orang yang tidak beriman ke dalam gereja, maka ia juga menyerap kebiasaan kuno itu. Orang-orang yang tidak beriman itu masih ingin merayakan hari kelahiran dewa mereka. Maka, untuk menyenangkan hati mereka, gereja ini pun menetapkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Kristus. Inilah asal usul hari Natal. Buku Dua Babel (The Two Babylons), mengungkapkan asal usul hal-hal jahat, setani, dan kafir, yang dimasukkan ke dalam gereja ini. Kalau kita memandang gambaran ini di aspek negatifnya, kita akan tahu apa yang seharusnya kita lakukan di aspek positifnya.
Dari permulaan Alkitab, Allah sudah bermaksud merawat umat-Nya dengan suplai hayat. Karena itu, dalam taman itu (Eden) ada pohon hayat sebagai suplai hayat. Setelah kejatuhan manusia, dalam penebusan-Nya, Allah tidak mengubah maksud-Nya untuk merawat umat-Nya. Ketika Ia menetapkan Paskah, Allah menyuruh umat-Nya mengoleskan darah anak domba pada tiang pintu dan ma-kan daging anak domba itu di bawah penudungan darah-nya. Setelah bani Israel keluar dari Mesir, dan melintasi padang gurun, Allah memberi mereka manna sebagai suplai hayat mereka (Kel. 16:14-15). Akhirnya, bani Israel masuk ke tanah permai Kanaan. Pada saat memasuki tanah itu, manna berhenti, dan mereka mulai memakan hasil tanah yang berlimpah itu (Yos. 5:12). Perjanjian Baru menegas-kan bahwa hal-hal itu melambangkan Kristus, bukan hanya sebagai Penebus kita, tetapi juga sebagai suplai hayat kita. Sebagai Anak Domba, Kristus memiliki dua unsur — darah untuk menebus dan daging untuk dimakan. Dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus mewahyukan diri-Nya sebagai manna sur-gawi yang dapat dimakan oleh umat Allah. Kita tahu, hasil limpah tanah itu melambangkan kekayaan Kristus. Kristus tidak hanya Anak Domba kita dan manna kita, Ia pun ta-nah permai kita. Sebagai Anak Domba, Ia memiliki daging; dan sebagai tanah permai, Ia memiliki segala kekayaan un-tuk suplai hayat kita. Dalam Perjanjian Lama juga ada persembahan yang berasal dari hasil tanah permai itu. Dari lima macam kurban persembahan utama, yang kedua adalah kurban sajian untuk merawat umat Allah. Semua imam yang melayani makan dari kurban sajian itu. Hal itu menunjukkan bahwa Kristus adalah suplai hayat untuk imam Allah. Semua orang yang melayani Allah harus mem-peroleh rawatan dari Kristus.
Walaupun hal ini tercantum jelas dalam Alkitab, banyak orang Kristen yang mengabaikannya. Dulu ketika saya masih di suatu aliran kekristenan, saya tidak pernah mendengar berita yang memberi tahu saya cara makan Kristus. Namun, butir penting dalam Alkitab menunjukkan Kristus adalah suplai hayat kita dan kita harus memakan-Nya (Yoh. 6:57). Dalam Matius 13:33 Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah tepung yang halus. Perkataan-Nya me-ngenai makanan, atau tepung yang halus, dalam ayat itu mengacu kepada kurban sajian yang unsur utamanya ada-lah tepung yang terbaik. Jadi, tepung yang halus adalah lambang yang sempurna dari Tuhan Yesus sebagai suplai hayat kita. Sebagai kurban sajian, dalam keinsanian-Nya, Kristus adalah tepung yang halus untuk kita makan. Da-lam Matius 13, Tuhan Yesus menubuatkan bahwa seorang wanita jahat mencampurkan ragi ke dalam tepung yang halus itu. Inilah yang dilakukan gereja ini, memasukkan ragi kafir dan mencampurkannya ke dalam tepung yang halus, sehingga menjadi campuran yang jahat. Dalam hal ini, gereja ini sangat jahat dan licik.
Orang-orang dalam gereja ini mungkin berkata, “Apa-kah kami tidak memiliki sesuatu yang sejati? Bukankah kami juga memiliki Allah, Kristus, dan Alkitab?” Ya, me-mang ada, tetapi sudah tidak murni, sudah campur aduk. Gereja ini memiliki tepung yang halus, tetapi dalam tepung itu ada ragi. Ketika saya di Manila, saya mengunjungi sua-tu katedralnya. Pada gerbang katedral itu ada sebuah pa-tung yang disebut sebagai patung Maria. Ketika saya per-hatikan, salah satu tangan patung itu hampir habis terkikis, lalu saya bertanya kepada orang di tempat itu, mengapa bisa demikian. Jawabnya, setiap orang yang masuk ke katedral itu terlebih dulu menjamah tangan patung itu, dan bertahun-tahun kemudian, tangan itu menjadi terkikis. Ketika saya bertanya untuk apa patung itu, mereka ber-kata, “Kalau tidak ada patung itu, orang tidak mengerti apa yang dikatakan saat membicarakan Alkitab. Orang me-merlukan sesuatu yang nyata untuk dipahami.” Itulah alasan mereka mempertahankan patung Yesus dan Maria. Sungguh licik! Patung itu bukan Yesus atau Maria — itu berhala. Kelihatannya mereka menyembah Yesus; sebenar-nya, mereka menyembah patung batu. Inilah kelicikan si musuh. Kini kita dapat melihat kejahatan gereja ini — ia menyerap hal-hal kafir dan mencampurkannya ke dalam tepung yang halus. Betapa jahatnya!
Karena campuran yang jahat itu, dalam gereja ini ba-nyak penyembahan berhala. Tuhan berkata, Izebel meng-ajar orang untuk berbuat zina dan makan persembahan-persembahan berhala. Izebel mengajar umatnya menyem-bah berhala. Dalam gereja ini juga ada ajaran demikian. Di Manila, saya melihat banyak orang membeli lilin dan me-letakkannya di depan patung atau berhala di dinding. Di mana ada penyembahan berhala, ada pula perzinaan. Izebel tidak hanya memasukkan kekafiran dan penyembahan ber-hala, ia pun memasukkan perzinaan. Hal itu sungguh patut dibenci, dan kita tidak dapat menerimanya. Ini bukan soal perdebatan doktrinal, melainkan soal penyembahan berhala dan perzinaan.
Tahun 1937, ketika saya berkunjung ke China Utara, saya menjumpai satu kasus yang menarik perhatian saya, yaitu kasus kerasukan setan. Seorang saudari kerasukan setan. Ketika saya ditanya mengapa hal itu terjadi, saya berkata bahwa pada prinsipnya, dosa atau berhala atau patung dalam rumah saudari itu memberi peluang bagi se-tan untuk merasukinya. Saya diberi tahu bahwa tidak ada berhala atau patung di rumahnya. Namun, setan selalu da-tang untuk mengganggunya. Saya memberi tahu dia bahwa kalau ia tidak melakukan hal yang berdosa, tentu di ru-mahnya ada semacam berhala atau patung, perlu meme-riksa rumahnya dengan teliti. Akhirnya, saya diberi tahu bahwa pada dinding rumahnya tergantung gambar yang di-sebut Yesus. Saya menyuruhnya membakarnya. Sejak saat dia membakar gambar itu, setan pun pergi. Dari kasus ini, kita nampak kelicikan si musuh.
C. Tidak Mau Bertobat dari Perzinaannya
Dalam ayat 21 Tuhan Yesus berkata, “Aku telah mem-berikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau ber-tobat dari zinanya.” Sejarah membuktikan bahwa gereja Katolik memang demikian. Bahkan sampai hari ini, ia ti-dak mau bertobat dari perbuatannya yang jahat.
D. Sakit di Ranjang
Selanjutnya Tuhan berkata, “Lihatlah, Aku akan me-lemparkan dia ke atas ranjang orang sakit.” Ranjang bia-sanya digunakan untuk tidur dan istirahat; dan yang tidak umum, dipakai untuk merawat orang sakit. Di sini Tuhan menunjukkan bahwa gereja yang murtad ini sakit sampai tidak tertolong lagi, dan akan terus terbaring sampai diha-kimi untuk kali terakhir. Kejahatan Izebel telah membuat-nya sakit; ia sama sekali tidak sehat. Seluruh gereja ini dalam keadaan sakit. Lihatlah keadaannya: ada hal-hal yang bersifat surgawi, ada hal-hal yang bersifat bumiah; sebagi-an berasal dari Allah, sebagian yang lebih besar berasal dari Iblis; ada hal-hal yang kudus, tetapi sebagian besar lainnya umum, sekuler, dan duniawi. Ragi itu tidak hanya ada dalam gereja ini, tetapi telah menyebar ke dalam apa yang disebut gereja reformasi. Izebel itu milik setan, Satan, Iblis, bahkan neraka. Bukanlah hal kecil, bila mata kita tercelik dan nampak hal-hal yang milik setan dan barang-barang najis dalam gereja ini. Tidak dapat dibayangkan, betapa tercelanya gereja ini.
E. Para Pencintanya Menderita Kesusahan Besar
Dalam ayat 22 Tuhan tidak hanya berkata bahwa Ia akan melemparkan Izebel ke ranjang orang sakit, tetapi juga “mereka yang berzina dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu.” Kesukaran besar di sini berbeda dengan kesusahan yang besar dalam 7:14, juga berbeda dengan siksaan yang dahsyat dalam Matius 24:21. Kesusahan besar dalam 7:14 mengacu kepada penderitaan penganiayaan yang dialami gereja dari zaman ke zaman; siksaan yang dahsyat dalam Matius 24:21 mengacu kepada kesusahan besar selama tiga setengah tahun terakhir da-lam zaman ini yang akan menimpa seluruh penduduk bu-mi. Tetapi kesukaran besar di sini adalah kesukaran yang akan Tuhan timpakan kepada gereja ini, mungkin melalui penyerangan oleh Antikristus terhadapnya pada akhir zaman ini.
F. Anak-anaknya akan Dibunuh
Dalam ayat 23 Tuhan berkata, “Anak-anaknya pun akan Kubunuh.” Hal ini mungkin mengacu kepada pemus-nahan gereja di Tiatira oleh Allah melalui Antikristus dan pengikutnya pada akhir zaman. Kalau kita membaca Kitab Wahyu dengan cermat, kita akan nampak bahwa pada akhir zaman, Antikristus akan merusak gereja di Tiatira. Anti-kristus akan menentang semua agama, dan mengangkat dirinya sebagai Allah (2 Tes. 2:4), melarang orang Yahudi dan orang Kristen menyembah Allah, sebaliknya memaksa orang menyembahnya. Pada saat itu, ia akan menganiaya orang-orang Yahudi dan membunuh banyak orang dalam gereja di Tiatira.
IV. SELUK-BELUK IBLIS
Ayat 24 mengatakan, “Tetapi kepada kamu, yaitu orang-orang lain di Tiatira, yang tidak mengikuti ajaran itu dan tidak menyelidiki apa yang mereka sebut seluk-beluk Iblis, kepada kamu Aku berkata: Aku tidak mau menanggungkan beban lain kepadamu.” “Seluk-beluk” dalam bahasa aslinya berarti “kedalaman”, seperti yang tercantum dalam Efesus 3:18. Di sini, secara kiasan mengacu kepada hal-hal yang misterius. Gereja di Tiatira mempunyai banyak misteri atau doktrin yang dalam. Jemaah Iblis (2:9) berlawanan dengan gereja yang menderita; takhta Iblis (2:13) berpautan dengan gereja yang duniawi; dan seluk beluk Iblis ada di dalam gereja yang murtad. Agama dengan jemaah, dunia yang di bawah takhta Iblis, dan filsafat misteri Iblis, semuanya digunakan Iblis untuk merusak dan membusukkan gereja.
Kita telah nampak bahwa gereja pernah menderita aniaya oleh jemaah Iblis; kita juga nampak bahwa kemu-dian gereja menjadi duniawi, tinggal di tempat kediaman Iblis, di tempat takhtanya berdiri; semua ini adalah kelicik-an musuh, semuanya berasal dari Iblis. Tetapi di sini, da-lam gereja yang keempat, ada sesuatu yang lebih serius daripada semua itu. Yang ada di sini bukan hanya soal je-maah Iblis, tempat kediaman Iblis, atau takhta Iblis, bah-kan Iblis telah masuk ke dalam gereja dan telah memenuhi gereja dengan dirinya. Dalam gereja ini ada seluk-beluk Iblis, ajaran-ajaran misteri Iblis. Itulah filsafat setani. Ge-reja ini mengajarkan misteri setani. Hal itu menunjukkan bahwa pikiran dan konsepsi Iblis yang misteri telah me-resapi gereja ini. Iblis selalu bertindak dengan licik. Kali pertama ia menghampiri manusia, ia datang dalam wujud ular yang menarik. Namun, itu bukan ular biasa — itu Iblis. Iblis selalu memakai wujud yang menarik. Tidak ada yang mengira bahwa Iblis dapat memakai “gereja” sebagai pe-nampilan luarnya. Tetapi dalam surat kepada gereja di Tiatira, kita nampak, demikianlah keadaan sesungguhnya dari dunia kekristenan. Dunia kekristenan telah menjadi alat Iblis. Walaupun padanya masih ada nama Kristus, se-benarnya Iblis sendiri yang ada di dalamnya. Kita semua harus nampak hal ini.
Seluk-beluk Iblis, sebagai filsafat setani, benar-benar licik. Dalam gereja ini, ada banyak hal yang disebut mis-teri. Semua misteri yang diajarkan oleh gereja yang jahat ini adalah filsafat setani. Salah satu filsafat mereka adalah: jika Anda tidak menambahkan sesuatu kepada kebenaran dalam Alkitab, orang akan sulit menerimanya. Dengan hikmat-Nya, Tuhan mengumpamakan hal itu dengan ragi yang dimasukkan ke dalam tepung yang halus, supaya roti-nya mudah dimakan. Gereja ini mengatakan, jika tidak ada hari Natal, orang-orang akan sulit menerima kebenaran tentang kelahiran Kristus. Itu adalah ragi yang dicampur-kan ke dalam tepung yang halus. Itu sungguh licik dan jahat.
Kalau Anda menganggap mengatakan wanita yang ja-hat ini penjelmaan Iblis adalah keterlaluan, saya mohon Anda perhatikan Wahyu 17:4-5. Ayat 4 mengatakan, “Pe-rempuan itu memakai kain ungu dan kain kirmizi yang di-hiasi dengan emas, permata dan mutiara, dan di tangannya ada suatu cawan emas penuh dengan segala kekejian dan kenajisan percabulannya.” Perempuan yang jahat ini me-mang memiliki penampilan yang baik: berhias dengan emas, permata, dan mutiara, bahan-bahan yang dipergunakan un-tuk membangun Yerusalem Baru. Kalau Yerusalem Baru murni dibangun dengan ketiga bahan berharga ini, perem-puan jahat ini hanya berhias dengan bahan-bahan ini. Ber-hias berarti memakai hiasan di permukaan, menarik se-cara luaran, memiliki penampilan yang menyenangkan dan enak dipandang untuk menyembunyikan sesuatu yang ja-hat atau jelek. Penampilan luarnya memang menarik, te-tapi di dalamnya menjijikkan. Perempuan ini juga meme-gang cawan emas yang penuh dengan kekejian dan kenajisan percabulannya. Dalam perlambangan, emas melambangkan sifat ilahi Allah. Secara luaran, perempuan ini memegang barang milik Allah, tetapi sesungguhnya, di dalamnya pe-nuh dengan kekejian. Dalam Alkitab, kekejian terutama mengacu kepada dua hal — penyembahan berhala dan per-cabulan. Kedua hal tersebut adalah kekejian di pandangan Allah. Nampaknya, wanita ini sangat menarik, karena di-hiasi dengan emas, batu permata, dan mutiara, serta me-megang cawan emas. Kalau Anda tidak memiliki daya pan-dang yang menembus ke dalam, Anda akan tertipu. Tetapi kita harus memiliki daya pandang yang menembus ke da-lam, bisa melihat sampai ke dalamnya. Ketika kita melihat wanita itu secara batiniah, kita akan tahu bahwa ia penuh dengan kekejian dan kenajisan.
Ayat 5 mengatakan, “Pada dahinya tertulis suatu na-ma, suatu rahasia, Babel besar, ibu dari wanita-wanita pe-lacur dan dari kekejian bumi.” Tuhan menilik hati manusia dan tahu yang ada di dalam mereka. Ia memiliki daya pan-dang yang menembus ke dalam dan melihat bagian batin wanita jahat ini. Tuhan menyebutnya, “Ibu dari wanita-wa-nita pelacur,” yang berarti ia adalah sumber dari semua percabulan rohani. Maka, cocoklah ia disebut penjelmaan Iblis. Kita perlu daya pandang yang menembus ke dalam untuk melihat dia sampai ke dalamnya, menembus penam-pilan luarnya. Itulah sebabnya kita perlu memiliki pedang tajam bermata dua, firman dalam Alkitab.
Kita bersyukur kepada Tuhan atas anugerah-Nya yang berdaulat. Karena anugerah-Nya berdaulat, Ia dapat menye-lamatkan kita dalam segala macam lingkungan. Banyak orang diselamatkan dalam lingkungan jahat gereja yang murtad. Anda tidak bisa berkata bahwa gereja ini tidak memberitakan Alkitab. Di China, banyak orang kafir me-ngenal nama Allah, nama Yesus, dan beberapa ayat Alkitab melalui ajaran gereja ini. Namun, hal yang jahat ialah: se-telah ditolong oleh gereja ini, orang-orang tersebut terha-langi, tidak dapat terus mengenal Tuhan dengan baik. Ada orang yang oleh anugerah Tuhan yang berdaulat telah ber-oleh selamat dalam gereja yang murtad ini, tetapi dalam waktu yang sama orang tersebut juga menyukai hal-hal yang jahat itu. Banyak di antara mereka yang berkata, “Kalau ini jahat, bagaimana mungkin aku dapat beroleh se-lamat melaluinya?” Maka, walaupun banyak orang yang berlatar belakang gereja ini, sekarang telah menempuh hi-dup gereja, namun di lubuk mereka, ada yang masih ber-simpati kepada perempuan jahat itu. Mereka tidak memben-cinya seperti Tuhan membencinya. Bacalah surat kepada Tiatira sekali lagi. Tuhan tidak bersimpati kepada Izebel, karena perempuan jahat itu telah sepenuhnya dijenuhi oleh Iblis, si jahat itu. Iblis ada dalam setiap bagian perempuan jahat itu.
Kita harus tidak ada hubungan apa pun dengan gereja yang murtad ini. Ia bukan lagi Tubuh Kristus, bukan lagi gereja Allah; ia adalah penjelmaan Iblis, licik dan jahat. Kalau Anda ingin melihat lebih banyak tentang gereja ini, bacalah buku Saudara Watchman Nee, Ortodoksi Gereja. Orang yang memiliki hati bagi Tuhan dan bagi pemulihan-Nya, harus mengenal jelas gereja ini. Begitu kita mengenalnya, kita tidak akan menghargai apa pun yang berkait-an dengannya. Sebaliknya, kita harus menyatakan bahwa dia adalah pelacur besar, Babel besar, dan kita harus me-ninggalkannya.
Nanti akan kita lihat, Kitab Wahyu menunjukkan pelacur besar ini memiliki anak-anak perempuan. Kita harus diterangi jelas-jelas tentang gereja ini. Begitu kita diterangi, kita akan tahu, di mana seharusnya kita berada. Kita ada di dalam pemulihan Tuhan. Kita ada di dalam Tubuh Kristus, gereja Allah, dan kita tidak bersangkut-paut dengan Izebel, perempuan jahat, pelacur, Babel besar. Kita pun tidak ada hubungan dengan anak-anaknya.
Dalam surat ini Tuhan menunjukkan bahwa Ia akan menghakimi Izebel. Dalam 17:16 dikatakan bahwa selama kesusahan besar, Tuhan akan mengizinkan Antikristus mem-bunuh dan membinasakan gereja ini. Pada saat itu, Babel agamawi akan roboh. Tetapi sebelum itu, gereja ini akan terus ada sesuai dengan nubuat. Ayat 25 menunjukkan bah-wa gereja ini akan tetap ada sampai kedatangan kembali Tuhan.
V. PARA PEMENANG — ORANG-ORANG
LAIN DI TIATIRA
Dalam ayat 26 Tuhan berkata, “Siapa yang menang dan melakukan pekerjaan-Ku sampai kesudahannya, kepa-danya akan Kukaruniakan kuasa atas bangsa-bangsa.” Me-nang di sini mengacu kepada menang atas ajaran Tiatira. Para pemenang, yaitu orang-orang lain di Tiatira, tidak mengikuti ajaran Izebel (ayat 24), tidak mengetahui seluk-beluk Iblis, memegang kesaksian Tuhan sampai kedatang-an-Nya (ayat 25), dan melakukan pekerjaan Tuhan sampai kesudahannya (ayat 26). Pekerjaan-Ku dalam ayat 26 me-ngacu kepada hal-hal yang telah digenapkan dan yang se-dang dilakukan oleh Tuhan, seperti penyaliban-Nya, ke-bangkitan-Nya, doa syafaat-Nya, dan sebagainya, berlawanan dengan pekerjaan gereja yang murtad di bawah pengaruh Iblis.
VI. JANJI UNTUK PEMENANG
A. Menerima Kuasa atas Bangsa-bangsa
Dalam ayat 26 Tuhan mengatakan, yang menang akan diberi kuasa atas bangsa-bangsa. Memerintah bersama Kristus atas bangsa-bangsa dalam Kerajaan Seribu Tahun adalah pahala yang diberikan kepada pemenang (20:4, 6). Janji Tuhan ini dengan tegas menyiratkan bahwa mereka yang tidak menjawab panggilan Tuhan, yang tidak mengalahkan kekristenan yang merosot, tidak bisa berbagian dalam pemerintahan Kerajaan Seribu Tahun.
B. Menggembalakan Bangsa-bangsa dengan
Tongkat Besi sama seperti Tuhan
Menerimanya dari Bapa
Dalam ayat 27, Tuhan berkata kepada pemenang, “Dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi; mereka akan diremukkan seperti tembikar tukang periuk — sama seperti kuasa yang Kuterima dari Bapa-Ku.” Kata “meme-rintah” di sini, menurut bahasa aslinya adalah “menggem-balakan”. Dalam Kerajaan Seribu Tahun, orang yang me-merintah adalah orang yang menggembalakan. Dalam Mazmur 2:9, Allah memberikan kuasa kepada Kristus untuk meme-rintah bangsa-bangsa. Di sini, Kristus memberikan kuasa yang sama kepada para pemenang-Nya.
C. Memperoleh Bintang Timur
Akhirnya, dalam ayat 28 Tuhan berjanji kepada peme-nang, kata-Nya, “Dan kepadanya akan Kukaruniakan bintang timur.” Ketika Kristus menyatakan diri untuk kali pertama, yang melihat bintang-Nya (Mat. 2:2, 9-10) bukan-lah agamawan Yahudi, melainkan orang-orang majus. Pada penyataan-Nya kali kedua, Kristus akan menjadi bintang timur bagi pemenang yang menantikan kedatangan-Nya dengan berjaga-jaga. Terhadap semua yang lainnya, Dia hanya tampil bagaikan matahari (Mal. 4:2).
VII. PERKATAAN ROH ITU
Dalam ayat 29 Tuhan berkata, “Siapa bertelinga, hen-daklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Orang-orang dalam gereja ini, yang menun-tut orang lain mendengarkan gereja lebih daripada mende-ngarkan Allah, perlu lebih banyak perkataan Roh itu. Se-tiap seorang yang mendengar perkataan Roh itu, ia akan mendengar firman hidup Tuhan, menyangkal semua hal murtad yang diajarkan oleh gereja ini, dan menjadi peme-nang bagi kepuasan Tuhan.
Pada akhir tiga surat yang pertama, telinga untuk mendengar disebutkan lebih dulu, kemudian panggilan ke-pada pemenang. Pada akhir keempat surat yang terakhir, urutannya berkebalikan. Ini menunjukkan bahwa ketiga gereja yang pertama adalah satu kelompok, dan keempat gereja yang kemudian adalah kelompok yang lain. Dalam Alkitab, angka “tujuh” ini terbentuk dari enam tambah satu, seperti enam hari tambah satu hari sama dengan satu minggu; atau terbentuk dari tiga tambah empat, seperti dalam kedua pasal Kitab Wahyu ini, yang membagi ketujuh gereja menjadi satu kelompok tiga gereja dan satu kelompok empat gereja. Enam tambah satu terlihat dalam penciptaan Allah, sedangkan tiga tambah empat terlihat dalam ciptaan baru Allah, gereja. Karena segala sesuatu diciptakan dalam waktu enam hari, maka angka enam melambangkan pen-ciptaan, khususnya melambangkan manusia yang dicipta-kan pada hari keenam; karena hari ketujuh, sebagai penu-tup dari enam hari, adalah hari perhentian Allah, maka angka satu melambangkan Pencipta yang unik. Sebab itu, enam tambah satu melambangkan bahwa segala sesuatu diciptakan bagi Allah, untuk menggenapkan ketetapan ke-hendak-Nya. Allah, Pencipta yang unik ini, adalah tritung-gal, yang ditunjukkan dengan angka tiga. Karena pencip-taan diwakili oleh empat makhluk ciptaan di hadapan Allah (4:6-9), maka angka empat melambangkan makhluk cipta-an, khususnya melambangkan manusia. Sebab itu, tiga tam-bah empat berarti Allah ditambahkan kepada manusia yang diciptakan, agar dengan demikian ketetapan kehendak-Nya tergenap. Gereja bukan hanya suatu ciptaan, lebih-lebih cip-taan dengan Pencipta sebagai Allah Tritunggal yang disa-lurkan ke dalamnya. Gereja adalah angka tujuh yang se-jati, yaitu tiga yang sejati (Allah Tritunggal) ditambahkan kepada empat yang sejati (manusia ciptaan). Karena itu, angka tujuh mengacu kepada perampungan pergerakan Allah, pertama-tama dalam ciptaan lama, kemudian dalam ciptaan baru, gereja.