GEREJA DI SARDIS — PAKAIAN PUTIH DAN NAMANYA DIAKUI TUHAN
Situasi dan kondisi ketujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3 sesuai dengan tahap-tahap sejarah gereja, ini benar-benar merupakan kedaulatan Tuhan. Sejarah gereja dari abad pertama hingga sekarang ini dengan jelas terbagi menjadi tujuh tahap, yaitu tahap permulaan, tahap penderitaan, ta-hap duniawi, tahap murtad, tahap reformasi, tahap gereja pemulihan, dan tahap kemerosotan gereja pemulihan. Da-lam berita ini kita akan membahas gereja di Sardis, gereja dalam reformasi (3:1-6).
“Sardis” dalam bahasa Yunani berarti “yang tersisa”, “orang-orang yang tersisa”, atau “pemugaran/pemulihan”. Sebagai tanda, gereja di Sardis melambangkan gereja Pro-testan yang dimulai dari Reformasi hingga kedatangan Kristus kembali. Reformasi adalah reaksi Allah terhadap ge-reja di Tiatira yang jatuh. Reformasi ini dilakukan oleh kaum beriman minoritas, orang-orang yang tersisa. Jadi, Reformasi adalah pemulihan yang didatangkan oleh orang-orang yang tersisa.
I. PEMBICARA — MEMPUNYAI KETUJUH
ROH ALLAH DAN KETUJUH BINTANG
Dalam 3:1 Tuhan berkata, “Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu.” Ketu-juh Roh Allah membuat gereja hidup lebih kuat, dan ketu-juh bintang membuat gereja lebih terang. Terhadap gereja di Efesus, Kristus adalah yang memegang ketujuh bintang, dan berjalan di antara ketujuh kaki pelita. Gereja seber-mula memerlukan perawatan Kristus, dan orang yang me-mimpin gereja juga memerlukan anugerah pemeliharaan-Nya. Terhadap gereja di Smirna, Kristus adalah yang telah mati dan hidup kembali. Terhadap gereja yang menderita memerlukan hayat kebangkitan Kristus. Terhadap gereja di Pergamus, Kristus adalah yang mempunyai pedang berma-ta dua. Gereja yang merosot dan duniawi memerlukan fir-man Kristus yang menghakimi dan membunuh. Terhadap gereja di Tiatira, Kristus adalah yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga mengkilap. Ge-reja yang murtad memerlukan penyelidikan dan pengha-kiman Kristus. Kini terhadap gereja di Sardis, Kristus ada-lah yang mempunyai ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang. Gereja yang mati dan direformasi memerlukan Roh Allah yang diperkuat tujuh kali, serta pemimpin yang bercahaya terang.
Jika kita memeriksa kekristenan Protestan hari ini, kita akan nampak bahwa gereja ini kekurangan ketujuh Roh itu. Kematian mereka disebabkan oleh kurangnya ketu-juh Roh. Dikarenakan telah menjadi organisasi, mereka juga memerlukan bintang-bintang yang bersinar. Inilah keperlu-an mereka: Roh yang diperkuat dan bintang-bintang yang bersinar. Akan tetapi, mereka tidak memperhatikan ketu-juh Roh itu. Ketujuh Roh itu adalah realisasi Kristus seba-gai Roh itu, yang telah diperkuat. Ini bukan masalah yang disebut dengan gerakan Pentakosta atau gerakan kharis-matik, melainkan masalah berhuninya Roh yang telah di-perkuat tujuh kali. Inilah yang diperlukan Protestan yang telah mati hari ini. Mereka juga memerlukan bintang-bin-tang yang bersinar, bukan berbagai posisi atau organisasi. Pemimpin-pemimpin mereka haruslah orang-orang yang bersinar.
II. KEADAAN GEREJA
A. Dikatakan Hidup, Padahal Mati
Kepada malaikat gereja di Sardis Tuhan berkata, “Aku tahu segala pekerjaanmu: Engkau dikatakan hidup, pada-hal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang ma-sih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.” Kedua ayat ini menyajikan satu gambaran yang penuh dari apa yang disebut gereja Protestan. Banyak orang me-ngira bahwa gereja yang telah direformasi ini hidup, tetapi Tuhan berkata bahwa dia itu mati. Sebab itu, dalam keada-annya yang mati, dia memerlukan Roh yang hidup dan bintang yang bercahaya terang.
B. Perkara-perkara yang Masih Tinggal yang Sudah Hampir Mati
Dalam ayat 2 Tuhan berkata, “Bangunlah, dan kuat-kanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati.” Apa yang masih tinggal” adalah hal-hal yang pernah hilang, kemudian dipulihkan oleh pergerakan Reformasi, misalnya dibenarkan oleh iman, Alkitab yang terbuka, dan sebagai-nya. Meskipun hal-hal itu telah dipuluhkan, tetapi keada-annya sudah hampir mati. Karena itu, perlu dibangkitkan. Inilah keadaan sesungguhnya dari gereja Protestan.
C. Tidak Ada Pekerjaan yang Sempurna
Tuhan juga berkata, “Tidak satu pun dari pekerjaan-mu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku.” Perkara yang dirintis oleh pergerakan Reformasi tidak ada satu pun “yang sempurna”. Sebab itu, gereja di Filadelfia perlu me-nyempurnakannya. Dalam pandangan Allah, dalam gereja-gereja Reformasi tidak ada satu pun pekerjaan yang sem-purna. Jangan Anda mengira hal dibenarkan oleh iman di antara mereka telah tuntas. Jika Anda mempunyai pan-dangan yang dalam, Anda akan nampak bahwa dibenarkan oleh iman yang dipulihkan oleh Martin Luther sangatlah dangkal; karena Luther tidak terlalu banyak menjamah hal dibenarkan ini berdasarkan hayat, melainkan kebanyakan hanya secara doktrin, secara dangkal. Kita bersyukur kepa-da Tuhan karena hamba Allah yang besar ini, namun ia belum sempurna. Tidak satu pun dari pekerjaan yang di-tanganinya itu tuntas. Perkara-perkara yang dipulihkan pada zaman Luther adalah perkara-perkara yang telah ma-ti dan hampir mati. Inilah sebabnya begitu banyak gereja Protestan sering mengadakan kebangunan rohani.
Butir penting pada gereja yang kelima ini adalah: mati dan hampir mati. Dikatakan hidup, padahal mati. Banyak di antara kita bisa bersaksi, sewaktu kita diselamatkan, kita cukup hidup. Tetapi setelah masuk ke dalam suatu denominasi, kita seolah ditaruh di tempat pendingin, dan beberapa bulan kemudian, kita menjadi dingin dan akhirnya mati. Gereja yang direformasi ini membuat orang menjadi mati.
III. PERMINTAAN TUHAN
Dalam ayat 3 Tuhan juga berkata, “Karena itu, ingat-lah apa yang engkau telah terima dan dengar; turutilah itu dan bertobatlah!” Baik dalam ayat ini maupun dalam ayat 2, Tuhan minta kepada gereja di Sardis agar bangun, me-melihara segala perkara yang masih ada dan yang hampir mati, melakukan apa yang telah diterima dan didengar, ser-ta bertobat.
IV. KEDATANGAN TUHAN
Dalam ayat 3 Tuhan juga berkata, “Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu kapan saatnya Aku tiba-tiba datang kepadamu.” Pencuri datang untuk mencuri benda-benda yang berharga, pada waktu yang tidak diduga. Karena ge-reja di Sardis yang direformasi itu mati, mereka tidak akan tahu kedatangan Tuhan seperti pencuri dalam penyataan-Nya yang rahasia kepada orang-orang yang mencari-Nya. Karena itu, perlu berjaga-jaga.
Wahyu tentang kedatangan Tuhan kali kedua dalam Perjanjian Baru bukanlah menurut pengertian alamiah ki-ta. Menurut pikiran alamiah kita, Tuhan akan tiba-tiba turun dari takhta-Nya di surga ke bumi. Pikiran yang demikian menimbulkan banyak kesulitan bagi para pelajar Alkitab, dan kita harus membuangnya. Dalam memahami segala sesuatu yang terdapat dalam Alkitab, kita tidak se-harusnya mempercayai pikiran-pikiran kita, dan tidak se-harusnya menerapkan berbagai konsepsi alamiah kita. Ini-lah sebabnya kita memerlukan pikiran yang terang, yang diperbaharui ketika kita datang kepada firman Allah. Kita harus membuang kaca mata berwarna dari berbagai kon-sepsi kita dan kembali ke firman yang murni. Kedatangan-Nya kembali merupakan suatu proses, dimulai dari takhta dan akan melalui suatu proses hingga turun-Nya untuk berperang di Harmagedon. Seperti telah kita tunjukkan, Tuhan akan turun dari takhta ke angkasa, tempat Ia meng-genapkan banyak perkara: pengangkatan sejumlah besar orang saleh, menghakimi di atas takhta penghakiman, dan pesta pernikahan Anak Domba. Setelah semua itu digenap-kan di angkasa, Tuhan akan turun ke bumi. Pengangkatan terhadap para pemenang duluan, meliputi anak laki-laki (pasal 12) dan buah sulung (pasal 14
), akan terjadi pada awal proses kedatangan-Nya kembali. Dengan kata lain, ke-tika mereka diangkat, proses kedatangan-Nya kembali di-mulai.
Dalam Wahyu 3:3 dan Matius 2:3 kita diberi tahu bahwa Tuhan akan datang seperti pencuri. Secara tiba-tiba, beberapa orang beriman yang menjadi pemenang duluan akan diangkat. Tidak seorang pun mengetahui saat dimu-lainya proses kedatangan Tuhan kali kedua serta saat peng-angkatan para pemenang duluan. Ketika harinya tiba, saat itu tidak ada kesempatan lagi bagi Anda untuk memper-siapkan diri. Anda harus mempersiapkan diri jauh-jauh hari sebelum saat itu tiba. Karena itu, kita harus siap sedia dan berjaga-jaga.
V. PARA PEMENANG —
BEBERAPA ORANG DI SARDIS
A. Tidak Mencemarkan Pakaiannya dengan Maut
Dalam ayat 4 Tuhan berkata, “Tetapi di Sardis ada be-berapa orang yang tidak mencemarkan pakaiannya.” Dalam Alkitab, pakaian melambangkan apa adanya diri kita da-lam kelakuan dan kehidupan kita. Mencemarkan pakaian di sini khususnya berarti; Bil. 6:6-7, 9). Dalam ayat ini, pencemaran mengotori pakaian dengan noda maut. Di hadapan Allah, maut lebih najis daripada dosa (Im. 11:24-25 mengacu kepada sesuatu yang berasal dari maut. Pence-maran di Sardis bukan pencemaran karena dosa, melain-kan pencemaran karena maut. Maut lebih najis daripada dosa. Menurut Perjanjian Lama, jika seseorang berbuat do-sa, ia dapat diampuni melalui mempersembahkan kurban penghapus dosa (Im. 4:27-31). Namun, seseorang yang men-jamah orang mati harus menunggu tujuh hari baru bisa tahir (Bil. 19:11, 16). Ini menunjukkan bahwa pencemaran oleh maut lebih serius daripada pencemaran oleh dosa.
Sayang, umat Kristen hari ini tidak memiliki kesa-daran akan maut ini. Jika Anda pergi ke Las Vegas dan berjudi di kasino, Anda akan merasa telah berbuat dosa. Tetapi jika Anda datang ke dalam sidang dengan cara yang mati, Anda mungkin tidak merasakan keseriusannya. Te-tapi dalam pandangan Allah, situasi yang penuh maut itu lebih serius daripada berjudi di kasino di Las Vegas. Walaupun umat Kristen mengecam dosa, namun mereka tidak mengecam maut. Mereka duduk di tempat sidang seperti mayat, namun tidak merasa ada sesuatu yang tidak benar. Saya tidak suka dekat-dekat dengan sesuatu yang mati. Sewaktu ibu saya meninggal, sekalipun kami semua mengasihinya, namun tidak seorang pun di antara kami yang berani menemani mayatnya semalam-malaman. Jika istri Anda menjadi kotor karena mengerjakan sesuatu bagi Anda, Anda bahkan lebih mengasihinya. Tetapi jika ia ma-ti, Anda tidak ingin dekat-dekat dengan jenazahnya. Tuhan membenci maut. Namun, kebanyakan umat Kristen dalam gereja-gereja Reformasi tidak mempunyai konsepsi yang de-mikian terhadap maut ini. Mereka mungkin berkata, “Apa salahnya gereja-gereja denominasi?” Mereka tidak hanya salah, bahkan penuh dengan maut. Maut merupakan problem terbesar. Betapa bahayanya hal itu! Maut merupakan bau busuk bagi Allah, dan Ia tidak bisa menoleransinya.
Gereja-gereja lokal harus membenci maut. Saya lebih suka melihat orang-orang di dalam gereja-gereja melaku-kan kesalahan daripada melihat mereka mati. Sering kali saya bertanya kepada saudara dan saudari yang tidak me-nunaikan fungsi mereka di dalam sidang-sidang. Jawab me-reka, “Aku takut melakukan kesalahan.” Mendengar itu saya berkata, “Semakin banyak kesalahan yang kalian per-buat, semakin baik. Anak-anak yang hidup tentu melaku-kan banyak kesalahan. Tetapi anak-anak yang mati tidak pernah melakukan kesalahan sedikit pun.” Jika Anda hanya duduk di tempat sidang tanpa melakukan apa-apa, Anda memang tidak akan pernah berbuat salah. Namun sekali-pun Anda benar, keadaan Anda sesungguhnya mati. Lebih baik hidup sekalipun salah daripada benar namun mati. Mungkin saja saya melakukan kesalahan, tetapi setiap or-ang mengetahui betapa hidupnya saya. Manakah yang lebih Anda sukai, benar namun mati atau melakukan kekeliruan namun hidup?
B. Berjalan dengan Tuhan dalam Pakaian Putih
Tentang orang-orang yang tidak mencemarkan pakai-annya, Tuhan berkata bahwa, “mereka akan berjalan de-ngan Aku dalam pakaian putih, karena mereka layak untuk itu” (ayat 4). Putih bukan hanya melambangkan kemurni-an, melainkan juga melambangkan diperkenan. Di sini, pakaian putih melambangkan perilaku dan kehidupan yang tidak tercemar oleh maut, melainkan yang diperkenan oleh Tuhan. Inilah syarat berjalan dengan Tuhan, terutama da-lam kerajaan yang akan datang.
VI. JANJI KEPADA PEMENANG
Jika Anda membaca konteks Wahyu 2 dan 3, Anda akan nampak bahwa setiap kali Tuhan memberikan suatu janji dalam ketujuh surat ini, selalu dengan tegas mengacu kepada kerajaan yang akan datang, tidak pernah ditujukan kepada kekekalan, yaitu nasib kekal kita, melainkan selalu ditujukan kepada masa depan kita dalam kerajaan yang akan datang. Inilah prinsip dasar dan yang menentukan dalam memahami seluruh janji dalam ketujuh surat ini. Dalam ayat 4 Tuhan berjanji bahwa mereka yang hidup, yang tidak mencemarkan pakaian mereka, akan berjalan dengan-Nya dalam pakaian putih. Kapankah hal ini terjadi? Pada hari pernikahan Kristus yang akan berlangsung selama seribu tahun. Berjalan dengan Tuhan dalam pakaian putih berarti berjalan dengan-Nya selama seribu tahun itu. Dalam prinsipnya, ini juga harus diterapkan dalam hidup kita hari ini, yaitu selalu berjalan dengan Tuhan.
Dalam ayat 5 Tuhan berkata, “Siapa yang menang, ke-padanya akan dikenakan pakaian putih yang demikian; Aku tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan, me-lainkan Aku akan mengaku namanya di hadapan Bapa-Ku dan di hadapan para malaikat-Nya.” Menang di sini meng-acu kepada menang atas keadaan gereja di Sardis yang mati, yaitu menang atas Sardis yang mati. Keseluruhan ayat 5 adalah janji Tuhan kepada para pemenang. Janji ini akan tergenapkan pada Kerajaan Seribu Tahun setelah Tu-han datang kembali.
A. Mengenakan Pakaian Putih,
Berjalan dengan Tuhan
Pertama, Tuhan berjanji kepada para pemenang bahwa mereka akan “mengenakan pakaian putih”. Mengenakan pakaian putih dalam janji ini adalah pahala yang diberikan kepada para pemenang dalam Kerajaan Seribu Tahun. Peri-laku mereka dalam zaman ini akan menjadi pahala bagi mereka dalam zaman yang akan datang. Setiap orang ber-iman memerlukan dua pakaian: yang pertama adalah pa-kaian pembenaran untuk keselamatan kita yang melam-bangkan Kristus sebagai kebenaran obyektif kita. Dalam Lukas 15, ketika anak yang hilang itu kembali ke rumah, bapanya mengambil sehelai jubah yang terindah yang disediakan baginya. Perkara pertama yang dilakukan ayah itu ialah mengenakan jubah terindah itu kepadanya. De-ngan mengenakan jubah itu, anak yang hilang itu dibenar-kan di hadapan bapanya. Tadinya, ia telah menjadi seorang pengemis yang kasihan, tidak lagi layak hidup bersama bapanya. Tetapi saat ia mengenakan jubah itu, ia dibenar-kan dan diperkenan. Ini berarti ia dibenarkan dalam Kristus dan Kristus menjadi jubah kebenarannya. Jadi, pakaian pembenaran adalah untuk keselamatan. Namun, di sam-ping ini, kita memerlukan pakaian lain yang membuat kita diperkenan Tuhan. “Kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan putih bersih” dalam Wahyu 19:8 menunjukkan jubah yang kedua. Menurut perlambangan, permaisuri dalam Mazmur 45 mempunyai dua macam pakaian, satu untuk keselamatan dan yang lain untuk dikenakan bersama-sama raja dalam pemerintahan-Nya. Setelah beroleh selamat, ki-ta perlu menjadi matang dan mengalahkan semua gang-guan dan halangan. Kita harus berlari dalam perlombaan dan mencapai tujuan. Sewaktu kita berlari dalam perlom-baan, banyak perkara akan menghalangi kita mencapai sasaran. Kita harus mengalahkan semua penghalang itu. Ya, kita telah beroleh selamat, dibenarkan, dan telah memi-liki jubah pertama, tetapi kita masih harus menjadi ma-tang dan mencapai apa yang telah ditentukan bagi kita. Jika kita berbuat demikian, maka kita akan menerima pa-hala. Ini bukan perkara Kristus sebagai kebenaran obyektif, melainkan mengalami Kristus sebagai kebenaran subyektif. Kristus sebagai kebenaran obyektif telah kita kenakan, se-dangkan Kristus sebagai kebenaran subyektif diperhidup-kan dari kita. Kita harus memperhidupkan Kristus sebagai pakaian kita yang kedua. Pakaian ini adalah untuk pahala.
Pakaian putih yang tercantum dalam ayat 5 mengacu kepada pakaian kedua. Bila kita memiliki pakaian yang kedua ini, kita akan diperkenan Tuhan dan akan menerima pahala.
B. Namanya Tidak akan Dihapus dari Kitab Kehidupan
Kepada pemenang Tuhan berjanji bahwa Ia “tidak akan menghapus namanya dari kitab kehidupan.” Berdasarkan ayat ini sendiri, kita tidak akan mampu memahaminya, malah akan berbahaya. Untuk memahami sebuah ayat se-perti ini, kita perlu keseluruhan Alkitab barulah aman. Menghapus sebuah nama dari kitab kehidupan menunjuk-kan bahwa nama itu sudah tercatat dalam kitab kehi-dupan. Kitab kehidupan adalah catatan ilahi berisi nama orang-orang yang mengambil bagian dalam berkat yang dipersiapkan oleh Allah. Semua orang kudus yang dipilih Allah, dan ditentukan untuk berbagian dalam berkat ini, namanya tercantum dalam kitab ini (Luk. 10:20). Berkat-berkat ini terbagi menjadi tiga tahap: (1) dalam gereja, (2) dalam Kerajaan Seribu tahun, dan (3) dalam kekekalan. Berkat-berkat dalam zaman gereja, seperti pengampunan, penebusan, kelahiran kembali, hayat yang kekal, sifat ilahi, dan sebagainya, adalah bagian awal. Semua orang yang dipilih oleh Allah, yang namanya tercatat dalam kitab kehi-dupan, mempunyai bagian dalam bagian awal ini, untuk memulai kehidupan rohani mereka. Jika mereka bekerja sama dengan anugerah Allah yang menyuplai, mereka akan matang dalam hayat pada zaman gereja. Kematangan ha-yat yang lebih dini ini akan membentuk pahala yang akan diberikan oleh Tuhan kepada mereka pada saat Tuhan kembali. Pahala itu adalah jalan masuk ke dalam Kerajaan Seribu Tahun dan mengambil bagian dalam berkat ilahi pada masa itu; misalnya, menikmati kebahagiaan dan per-hentian Tuhan (Mat. 25:21, 23; Ibr. 4:9-11), memerintah bangsa-bangsa (Why. 2:26-27; 20:4, 6) dan sebagainya. Ber-kat-berkat itu telah dipersiapkan oleh Allah sebagai perang-sang bagi orang pilihan-Nya, agar mereka maju bersama-Nya pada zaman gereja. Namun, banyak orang pilihan-Nya, setelah menerima pengampunan dosa, penebusan, hayat ke-kal, sifat ilahi, dan sebagainya, tidak mau bekerja sama dengan anugerah-Nya, dan tidak mau maju bersama-Nya. Karena itu, mereka tidak dapat matang pada zaman gereja dan dengan demikian tidak akan siap pada saat Tuhan kembali, untuk masuk ke dalam Kerajaan Seribu Tahun guna berbagian dalam berkat ilahi pada zaman itu sebagai pahala. Karena itu, selama zaman Kerajaan Seribu Tahun, nama mereka akan dihapus dari kitab kehidupan. Sesudah didisiplin oleh Tuhan dan hayatnya bertumbuh dewasa se-lama Kerajaan Seribu Tahun, mereka berbagian dalam ber-kat ilahi pada masa kekekalan, misalnya jabatan imam yang kekal dengan penyertaan kekal Allah, jabatan raja yang kekal (22:3-5), Yerusalem Baru, pohon hayat (22:14), air hayat (22:17) dan sebagainya. Pada saat itu nama me-reka akan kembali dicatat dalam kitab kehidupan. Hal ini berarti setiap orang yang dipilih oleh Allah, yang namanya tercatat dalam kitab kehidupan, dan yang berbagian dalam berkat ilahi pada zaman gereja, “tidak akan binasa selama-lamanya” (Yoh. 10:28). Maksudnya, mereka tidak akan ke-hilangan berkat ilahi dalam kekekalan. Tetapi, orang-orang yang tidak mau bekerja sama dengan Tuhan pada zaman gereja, akan mengalami pendisiplinan sezaman oleh Tuhan selama zaman Kerajaan Seribu Tahun, dan akan kehilangan berkat ilahi dalam zaman itu.
Kita menghadapi bahaya terhapusnya nama kita dari kitab kehidupan selama seribu tahun. Jika Anda gagal, ka-lah, dan menolak menjadi pemenang demi anugerah Tuhan, nama Anda tidak akan tercantum dalam kitab kehidupan sewaktu Ia memerintah selama seribu tahun. Ini berarti Anda telah dipanggil tetapi Anda tidak dipilih. Dalam 17:14, kita nampak, pada waktu Ia datang kembali, setelah semua orang kudus diangkat, Tuhan akan mengadakan satu pemi-lihan. Pemilihan itu tergantung pada bagaimana kita me-nempuh hidup sebagai orang Kristen. Jika kita hidup da-lam kekalahan, Tuhan tentu takkan memilih kita. Tetapi jika kita hidup dalam kemenangan, kita akan dipilih, dan nama kita akan tercantum di sana selama seribu tahun. Hal ini sama dengan upacara kelulusan sekolah. Sekalipun semua nama murid masuk dalam daftar kelas, namun hanya sedikit dari nama itu yang akan menerima hadiah. Terha-pusnya nama seorang beriman dari kitab kehidupan di sini tidak berarti ia akan binasa untuk selama-lamanya; me-lainkan berarti selama seribu tahun itu namanya tidak ter-cantum di sana. Jadi ia akan kehilangan hak kesulungan dalam Kerajaan Seribu Tahun, tidak mempunyai hak ber-bagian dalam apa yang sejak semula telah ditetapkan Allah untuk dinikmati oleh umat pilihan-Nya.
Maksud semula Allah ialah menghendaki seluruh umat pilihan-Nya menikmati Kristus dengan sepenuhnya pada hari ini, sehingga mereka mempunyai hak untuk menikmati Kristus di zaman yang akan datang. Karena banyak yang tidak rela melakukannya pada hari ini, maka saat kerajaan itu tiba, mereka akan kehilangan hak kesulungan mereka. Hanya mereka yang mau bekerja sama dengan maksud semula Allah, yang akan berada dalam kerajaan menikmati Kristus sebagai bagian istimewa mereka. Nama mereka akan tercatat di dalam kitab kehidupan saat itu, tetapi na-ma kebanyakan orang lainnya tidak tercantum di sana. Ka-rena tidak banyak orang Kristen yang nampak visi ini, me-reka tidak mampu memahami ayat-ayat mengenai perkara ini.
Maksud Allah ialah menggarapkan Kristus ke dalam kita untuk kenikmatan kita. Zaman gereja adalah masa pe-rampungan maksud Allah itu. Tetapi apakah kita mau be-kerja sama dengan Allah atau tidak, semuanya tergantung pada kita sendiri. Karena banyak yang tidak mau bekerja sama dengan Allah, maka dalam hikmat-Nya, Ia telah me-mutuskan untuk menjadikan kenikmatan Kristus dalam kerajaan yang akan datang sebagai suatu pahala. Pahala ini merupakan suatu dorongan yang merangsang kita agar bekerja sama dengan Allah dan menikmati Kristus pada hari ini. Jika kita tidak mau bekerja sama, kita akan ke-hilangan zaman kerajaan. Kitab kehidupan adalah suatu catatan semua nama yang berbagian dalam kenikmatan atas Kristus. Selama zaman gereja, semua nama tercantum di sana. tetapi dalam zaman kerajaan, nama orang-orang yang hidupnya sembarangan akan dihapuskan dari kitab ini. Setelah Kerajaan Seribu Tahun, nama-nama mereka akan dipulihkan kembali ke dalam kitab kehidupan. Sung-guh indah sekali melihat berkat Allah dalam keselamatan-Nya terdiri dari tiga tahap: zaman gereja, zaman kerajaan, dan zaman kekekalan. Apakah kita akan berbagian dalam kerajaan untuk menikmati Kristus sepenuhnya atau tidak, tergantung pada apakah hari ini kita rela menikmati Kristus dalam hidup gereja atau tidak. Jangan membuang kesempatan pada hari ini. Jika kita menikmati Kristus pada hari ini, kita akan mendapatkan pahala dalam kera-jaan yang akan datang. Mereka yang gagal menikmati Kristus secara khusus dalam kerajaan yang akan datang akan ditanggulangi oleh Allah sehingga mereka bisa dibawa ke dalam kenikmatan sepenuhnya akan Kristus. Akhirnya, setelah kita semua melewati kedua zaman itu, zaman ge-reja dan zaman kerajaan, kita akan menjadi matang dalam kenikmatan atas Kristus dan akan masuk ke dalam zaman kekekalan.
C. Diakui Tuhan di Hadapan Bapa dan di Hadapan para Malaikat-Nya
Jika kita menjadi pemenang, Tuhan tidak akan meng-hapus nama kita dari kitab kehidupan, sebaliknya, Ia akan mengakui nama kita di hadapan Bapa dan para malaikat-Nya. Ini menunjukkan bahwa karena nama-nama dari kaum beriman yang tidak rela menjadi pemenang akan dihapus-kan dari kitab kehidupan, nama mereka tidak akan diakui oleh Tuhan di hadapan Bapa dan para malaikat-Nya.
VII. PERKATAAN ROH ITU
Gereja reformasi yang mati memerlukan perkataan da-ri Roh yang hidup itu. Pemahaman huruf-huruf yang mati tidak pernah bisa menggantikan perkataan Roh yang telah diperkuat itu. Huruf-huruf mematikan (2 Kor. 3:6). Hanya Rohlah yang memberi hidup (Yoh. 6:63). Semua orang yang berada dalam gereja di Sardis yang mati haruslah mendengarkan apa yang dikatakan Roh itu.