PANDANGAN MENGENAI EKONOMI ALLAH DARI WAHYU PERJANJIAN BARU (1)
Pembacaan Alkitab :
Ef 3:2-11; 1:9-11
GARIS BESAR
I. Allah menjadi daging untuk memberikan diri-Nya ke dalam manusia - Yoh. 1: 14 :
A. Menjadi seorang manusia Allah.
B. Dialami oleh manusia sebagai kasih karunia dan realitas.
II. Manusia Allah ini menempuh kehidupan manusia di bumi :
A. Hidup dan mengekspresikan Allah dalam kehidupan manusia -Yoh. 6:57a; Kis. 10:38.
B. Mengalami segala sesuatu dalam kehidupan manusia, sehingga bersyarat menjadi Pemimpin keselamatan dan Imain Besar kita - Ibr. 2:10, 17-18.
III. Manusia Allah ini, dalam tubuh daging, merampungkan kematian almuhit di kayu salib :
A. Kematian yang menebus orang-orang dosa - Kol. 1:20-22.
B. Kematian yang melepaskan hayat ilahi - Yoh. 12:24.
C. Kematian yang menghasilkan Tubuh Kristus Yoh. 12:24.
D. Kematian yang menciptakan manusia baru - Ef 2:15-16.
E. Kematian yang mengakhiri ciptaan lama - Rm. 6:6.
F. Kematian vang memusnahkan Satan- Ibr. 2:14.
G. Kematian yang menghakimi dunia kegelapan setan -Yoh. 12:3 1.
IV. Manusia Allah ini masuk dalam kebangkitan :
A. Diperanakkan sebagai Putra sulung Allah, memiliki keilahian dan keinsanian - Kis. 13:3 3.
B. Melahirkan kembali banyak putra Allah, yang menyusun gereja, Tubuh Kristus - I Ptr. 1:3; Ibr. 2:10-12.
C. Menjadi Roh pemberi hayat - I Kor. 15:45b.
V. Manusia Allah ini, dalam kebangkitan-Nya mengembuskan diri-Nya sendiri sebagai Roh itu ke dalam murid-murid-Nya - Yoh. 20:22 :
A. Menjadi hayat dan isi mereka - Kol. 3:4.
B. Menyertai mereka selama-lamanya - Yoh. 14:2.
C. Hidup bersaina mereka - Yoh. 14:19; Gal. 2:20b.
VI. Manusia Allah ini, setelah mati dan bangkit, naik ke surga - Ef 4:8-12:
A. Membawa serta tawanan-tawanan yang dilepaskanNya dari tangan Iblis dan menawan mereka bagi diri-Nya sendiri.
B. Mempersembahkan tawanan-tawanan ini kepada Allah.
C. Allah memberikan tawanan-tawanan ini sebagai pemberian-pemberian kepada Dia, sang Kepala yang ditinggikan.
D. Dalam kenaikan-Nya Dia, memberikan pemberianpemberian ini kepada gereja untuk membangun Tubuh.
Doa : Tuhan, kami menyembah-Mu, karena Engkau sekali lagi membawa kami kepada firman-Mu. Bukalah dan nyatakanlah rahasia-Mu kepada kwni supaya kami dapat tnelihat ekonomi kekal Allah. Tuhan, bukalah hati kami dan berilah roh hikmat dan pengertian kepada karni, supaya dengan sungguh-sungguh kami dapat berbagian dalam hasrat hati-Mu dan dapat melihat ekonomi kekal-Mu. Tuhan, sekali lagi, basuhlah kami dengan darah adi-Mu dan urapilah kami dengan minyak urapan kudusMu, supaya baik pembicara maupun pendengar bisa menikmati kehadiran-Mu dan menjamah Engkau. Tuhan, berilah kami juga ungkapan yang tepat untuk menyampaikan firman yang segar, yang bisa menyuplaikan hayat, serta penuh wahyu dan terang. Tuhan Yesus, kwni sangat mencintai nama mustika-Mu. Sekali lagi kami datang untuk menerima-Mu. Suplailab kami semua, sehingga kami dipenuhi oleh-Mu untuk menikmati kekayaankekayaan yang dari atas. Semoga Engkau mendapat kemuliaan. Semoga kami dipuaskan dan musuh dipertnalukan. Amin!
Pada bab ini, kita akan melihat ekonomi Allah menurut wahyu dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, Allah memberikan lambang-lambang dan gainbar-gambar kepada kita. Dalam Perjanjian Baru, Allah memberikan perkataan-perkataan dan wahyu yang jelas kepada kita. Seluruh Perjanjian Baru merupakan wahyu Allah. Kita tidak perlu menebak dan menerka. Allah telah menunjukkan kepada kita misteri yang tersembunyi dalam-Nya.
Kita tahu bahwa ekonomi Allah adalah menggarapkan diriNya sebagai Allah Tritunggal ke dalam kita, manusia triparti~ supaya kita memiliki hayat dan sifat-Nya, dengan demikian kita dapat menjadi putra-putra Allah dan anggota-anggota Kristus, untuk disusun menjadi Tubuh Kristus, yaitu gereja, ekspresi Kristus. Inilah sasaran ekonomi Allah, inilah yang diidamidamkan Allah selama berabad-abad. Tubuh universal ini juga mencakup orang-orang yang percaya kepada Kristus dari segala waktu dan zaman. Kristus adalah Kepala, dan kita adalah Tubuh. Dia dan kita bersama-sama menyusun seorang manusia agung universal. Dia yang berhuni dan tinggal dalam manusia agung universal ini adalah Allah Tritunggal sendiri. Dia tinggal dalam Tubuh ini. Karena alasan inilah, setiap kali kita bersidang, kita merasakan bahwa Allah ada di sini, karena inilah rumah Allah. Di sini, surga dan bumi dipersatukan, dan Allah serta manusia digabungkan menjadi satu.
Kita telah melihat bahwa dalam kekekalan yang lampau, Allah memiliki sebuah rencana, sebuah maksud, sebuah susunan, dan sebuah ekonomi. Dalam waktu, Dia merampungkan ekonomi ini selangkah demi selangkah. Langkah pertama adalah penciptaan. Dia menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu, juga manusia. Manusia adalah pusat dari ciptaan Allah. Meskipun langit itu tinggi dan bumi itu luas, segala sesuatu menyenangkan dan indah, Allah menganggap manusialah yang paling berharga di antara semuanya. Hal ini dikarenakan manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej. 1:26) dengan tujuan untuk diisi Allah. Sebab itu, manusia adalah jenis Allah. Karena kita, manusia, adalah jenis Allah, maka Allah dapat diokulasikan ke dalam kita, dan kita dapat diokulasikan ke dalam Allah. Inilah yang dimaksudkan oleh Tuhan Yesus ketika Dia berkata bahwa Dia adalah pokok anggur dan kita adalah ranting-rantingnya (Yoh. 15:5). Saat Dia masuk ke dalam kita, kita diokulasikan ke dalam Dia.
ALLAH MENJADI DAGING
UNTUK MEMBERIKAN DIRI-NYA KE DALAM MANUSIA
Setelah Allah menciptakan manusia, kapankah Dia menaruh diri-Nya ke dalam manusia? Dia menunggu selama empat ribu tahun. Suatu hari, sesuatu yang dahsyat telah terjadi di alam semesta dan di antara urnat manusia. Ada sesuatu yang lebih penting daripada penciptaan langit dan bumi, yakni Allah menjadi daging. Allah yang adalah sang Pencipta segala sesuatu masuk ke dalam manusia, dikandung dari Roh Kudus; untuk dilahirkan dari seorang anak dara. Namanya adalah Yesus. Melalui menjadi daging, Dia memberikan diri-Nya ke dalam manusia, menjadi seorang manusia Allah yang misterius. Dia adalah Allah, tetapi Dia juga adalah manusia. Dia adalah manusia yang murni, wajar, dan normal. Dia dilahirkan di Betlehem, dibesarkan di Nazaret, dan tinggal di rumah seorang tukang kayu yang miskin. Ketika berusia, tiga putuh tahun, Dia keluar untuk merampungkan amanat-Nya, bekerja bagi Allah dan memberitakan Injil Allah, mengekspresikan Allah di hadapan manusia. Sering kali, perkataan dan perbuatan-Nya mengagurnkan dan mencengangkan orang-orang yang mengikuti-Nya. Adakalanya, perkataan-perkataan-Nya penting tetapi sederhana. Dia berkata, "Akulah terang dunia" (Yoh. 8:12), "Akulah roti yang telah turun dari sorga" (Yoh. 6:41), "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh. 14:6). Dalam sejarah manusia, ada banyak orang kudus dan bijaksana. Tetapi tidak ada seorang pun, baik pemimpin agama maupun ahli filsafat yang pernah mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus. Bahkan ada banyak agama di bumi, tetapi dalam agama apa pun, para pengikutnya tidak pernah disebut sebagai kaum beriman dalam Tuhan. Hanya mereka yang percaya Yesus yang disebut sebagai kaum beriman dalam Tuhan. Ini dikarenakan Dialah satu-satunya Tuhan. Setelah ketersaliban dan kebangkitan Tuhan, Dia menampakkan diri kepada murid-Nya, Tomas. Ketika mengenali-Nya, Tomas berkata, "Ya, Tuhanku dan Allahku!" (Yoh. 20:28). Tidak pernah ada seorang murid yang menyebut gurunya secara demikian. Hanya ada satu Tuhan di alam sernesta - Tuhan Yesus. Sebagai Allah yang menciptakan langit, bumi, dan segala sesuatu di dalamnya, Dia telah menjadi seorang manusia.
Sang Pencipta menjadi seorang manusia Allah dengan tujuan supaya manusia dapat mengalami Dia sebagai kasih karunia dan realitas (Yoh. 1:14). Kasih karunia yang diberikan Allah kepada manusia bukanlah sesuatu yang bersifat materi. Kasih karunia adalah Allah Tritunggal menjadi seorang manusia bernama Yesus untuk diterima oleh manusia sebagai kenikmatannya. Sebenamya, segala sesuatu adalah sampah, hanya Yesus yang paling mustika. Memiliki Yesus berarti memiliki mustika dan kasih karunia. Tetapi bukan hanya demikian, Dia juga adalah realitas. Segala sesuatu adalah sia-sia; segala sesuatu adalah usaha menjaring angin (Pkh. 1:2-14). Hanya Allah Tritunggal adalah realitas. Bersama Dia, kita memiliki hayat kekal yang membuat Dia menjadi nyata dan bisa kita alami.
MANUSIA ALLAH INI
MENEMPUH KEHIDUPAN MANUSIA DI BUMI
Tuhan Yesus adalah Allah yang menjadi manusia. Dia hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, mengalami badai kehidupan manusia, dan mengecap segala kepahitan dalam kehidupan manusia. Ketika berada di bumi, Dia tidak memiliki banyak kenikmatan. Sebaliknya, Dia seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan (Yes. 53:3). Di setiap tempat Dia selalu menghadapi kesulitan-kesulitan dan ujian-ujian. Tidak seorang pun memahaini Dia. Tetapi, dalam kehidupan-Nya sebagai manusia, Dia menampilkan Allah dan mengekspresikan Allah (Yoh. 6:57a; Kis. 10:38). Lagi pula, metalui mengalami segala sesuatu dalam kehidupan manusia, Dia bersyarat menjadi Pemimpin keselamatan dan Imam Besar kita (Ibr. 2:10, 17-18). Dia sepenuhnya memuaskan Allah, dan bersyarat menjadi Juruselamat kita, menyelamatkan kita, menyelesaikan segala masalah kita, merawat kita, melayani kita, dan menjadi perantara bagi kita.
MANUSIA ALLAH INI,
DALAM TUBUH DAGING,
MERAMTUNGKAN KEMATiAN YANG ALMUHIT
DI KAYU SALIB
Setelah Tuhan Yesus mengalami ujian-ujian dalam kehidupan manusia selama tiga puluh tiga setengah tahun, Dia pergi ke atas salib menurut waktu yang ditetapkan. Di sanalah Dia disalibkan. Dia tergantung selama enam jam, mulai pukul sembiIan pagi sampai pukul tiga sore. Tiga jam pertama, terutarna adalah siksaan, ejekan, hujat, dan cercaan dari manusia. Tiga jam terakhir, terutama adalah penghakiman dari Allah. Allah menimpakan segala dosa kita ke atas Dia. Manusia Allah ini, dalam tubuh daging, telah merampungkan kematian yang almuhit di kayu salib. Pertama, kematian ini adalah kematian yang menebus orang-orang dosa (Kol. 1:20-22). Tuhan Yesus tersalib di kayu salib untuk menebus kita, orang-orang dosa, supaya kita didamaikan dengan Allah. Kedua, kematian-Nya adalah kematian yang melepaskan hayat ilahi (Yoh. 12:24). Kematian-Nya di atas salib adalah seperti sebutir biji gandum yang jatuh ke tanah dan mati. Melalui peremukan pada kulit, hayat ilahi dilepaskan. Ketiga, kematian-Nya adalah satu kematian yang menghasilkan Tubuh Kristus (Yoh. 12:24). Sebagai biji gandum ilahi yang unik, Dia jatuh ke dalam tanah untuk menghasilkan banyak butir. Banyak butir ini berbaur untuk membentuk satu roti, yaitu gereja, Tubuh Kristus. Sebab itu, sama seperti Hawa dibangun dari tulang rusuk Adam ketika Adam tertidur, gereja juga dihasilkan dari kematian Kristus (Kej. 2:21).
Keempat, kematian-Nya adalah kematian yang menciptakan manusia baru (Ef 2:15-16). Melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus telah membatalkan ketentuan-ketentuan yang menyebabkan ketidakharmonisan antara orang Yahudi dengan orang Kafir, dan menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya. Kelima, kematian-Nya adalah kematian yang mengakhiri ciptaan lama (Rm. 6:6). Manusia lama kita, yang diciptakan oleh Allah dan yang telah jatuh karena dosa, adalah pusat seluruh ciptaan lama. Manusia lama ini diakhiri melalui penyaliban bersama Kristus. Keenam, kematian-Nya merupakan kematian yang memusnahkan Satan (Ibr. 2:14). Kristus telah menghancurkan sang Pendakwa yang berkuasa atas maut, dan membuatnya kehilangan pengaruh. Ketujuh, kematian-Nya adalah kernatian yang menghakimi dunia kegelapan setan (Yoh. 12:3 1). Ketika Tuhan ditinggikan di atas salib, Dia tidak saja menghakimi Satan, Dia juga menghakimi dunia yang dikuasai Satan.
Betapa almuhitnya kernatian Kristus! Kematian almuhit yang dirampungkan-Nya di atas salib ini, pada aspek negatif, menyelesaikan semua masalah dosa, ciptaan lama, dan dunia; dan pada aspek positif, kematian-Nya melepaskan hayat ilahi dan menghasilkan manusia baru, ciptaan baru, dan Tubuh Kristus, yaitu gereja.
MANUSIA ALLAH INI,
MASUK KE DALAM KEBANGKITAN
Kristus telah mati dan bangkit. Dalam Yohanes 10: 18, Dia berbicara mengenai nyawa-Nya, "Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali." Di satu pihak, Dia menderita kesakitan karena maut. Di pihak lain, Dia masuk ke dalam maut untuk bertamasya di alam maut. Karena maut tidak dapat menahan-Nya, Dia keluar dari kematian dan masuk dalam kebangkitan. Dalam kebangkitan, Dia diperanakan sebagai Putra sulung Allah yang memiliki sifat ilahi dan sifat insani (Kis. 13:33). Dalam kekekalan, Kristus adalah Putra tunggal Allah, hanya memiliki keilahian tanpa keinsanian di dalam-Nya. Setelah menjadi daging, Dia mengenakan keinsanian. Tetapi pada saat itu, keinsanian-Nya hanya membuat Dia bersyarat untuk menjadi Anak Manusia, bukan Anak Allah. Setelah melewati kematian dan kebangkitan, Dia diperanakkan menjadi Putra sulung Allah dan keinsanian-Nya ditinggikan ke dalam keilahian-Nya. Sekarang, Dia bukan hanya Putra tunggal Allah; Dia juga Putra sulung Allah. Sebagai Putra tunggal Allah, Dia hanya memiliki keilahian. Sebagai Putra sulung Allah, Dia memiliki keilahian dan keinsanian.
Ketika kita mengatakan bahwa Kristus adalah Putra sulung Allah, ini berarti Dia memiliki banyak saudara. Melalui kebangkitan Kristus, Allah telah melahirkan kita kembali, kaum beriman, untuk menjadi putra-putra Allah (I Ptr. 1:3). Dari pandangan ekonomi Allah, ketika Tuhan Yesus bangkit, kita dibangkitkan bersama-Nya (Ef 2:5-6). Dia diperanakkan menjadi Putra sulung Allah, dan kita diperanakkan menjadi banyak putra Allah. Dalam kebangkitan Kristus, Dia diperanakkan, dan kita juga diperanakkan. Pada saat itu, Paulus diperanakkan, Martin Luther diperanakkan, dan kita semuajuga diperanakkan.
Selanjutnya, dalam kebangkitan-Nya, Kristus menjadi Roh pemberi hayat (I Kor. 15:45b). Karena itu, Dia dapat masuk ke dalam banyak saudara-Nya untuk menjadi hayat dan suplai hayat mereka sehingga mereka bersama-sama Dia dapat berbagian dalam hayat yang sama dan sifat yang sama dan dapat menjadi satu roh dengan Dia. Inilah ekonomi Allah.
MANUSIA ALLAH INI,
DALAM KEBANGKITAN-NYA,
MENGEMBUSKAN DIRI-NYA SEBAGAI ROH ITU
KE DALAM MURID-MURID-NYA
Pada malam kebangkitan Tuhan, murid-murid menyembunyikan diri mereka di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci, karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Tetapi, Yesus datang dan berdiri di tengah-tengah mereka, berkata, "Damai sejahtera bagi kamu." Setelab itu, Dia mengembusi mereka dan berkata, "Terimalah Roh Kudus" (Yoh. 20:19-22). Roh Kudus ini adalah Tuhan sendiri. Ketika Dia mengembusi murid-murid-Nya, Dia sedang mengembuskan diri-Nya sebagai Roh Kudus ke dalam mereka. Mulai saat itu, Tuhan sebagai Roh Kudus berada dalam murid-murid, menjadi hayat dan isi mereka (Kol. 3:4), menyertai mereka selamanya (Yoh. 14:20; Mat. 28:20), dan tinggal bersama mereka (Yoh. 14:19; Gal. 2:20b).
Setelah semuanya ini, murid-murid pergi ke laut untuk menangkap ikan dan Tuhan menampakkan diri lagi kepada mereka. Sekali lagi, Dia melatih mereka supaya mereka terbiasa dengan kehadiran-Nya yang tidak terlihat. Kehadiran-Nya saat itu bukanlah kedatangan-Nya, sebaliknya merupakan penampakan-Nya. Entah mereka merasakan kehadiran-Nya atau tidak, Tuhan menyertai mereka sepanjang waktu. Karena kelemahan mereka, kadang-kadang Tuhan menyatakan kehadiran-Nya kepada mereka untuk menguatkan iman mereka dalam Dia. Hari ini, terhadap kita, Diapun demikian. Karena Dia adalah Roh, maka ada penyertaan yang tidak terlihat di dalam kita. Tidak peduli kita merasakannya atau tidak, Dia masih tetap bersarna kita. Kadang-kadang, Dia menampakkan diri. Kadang-kadang, Dia menghilang. Baik menampakkan diri ataupun menghilang, semuanya tidak tergantung pada kita. Tetapi, entah Dia menampakkan diri atau menghilang, Dia beserta kita sepanjang waktu. Hari ini, Tuhan kita begitu luar biasa. Sebab itu, kita yang percaya kepada Kristus adalah orang-orang yang khas. Adakalanya, tanpa sebab kita dipenuhi dengan sukacita, berdoa dan menyanyi. Di waktu yang lain, kita merasa putus asa dan sedih, berkeluh kesah dan berdukacita. Ketika kita merasakan kehadiran Tuhan, semuanya menjadi baik. Ketika kita tidak merasakan kehadiran Tuhan, kita kehilangan arah dan patah semangat, mengeluh dan semua kernarahan muncul. Tetapi, begitu kita menjamah Tuhan Yesus, sekali lagi kita merasakan bahwa Dia begitu setia dan patut dikasihi, dan segala masalah tertiup seperti awan. Semua ini dikarenakan fakta bahwa kita memiliki Tuhan yang luar biasa di dalam kita.
MANUSIA ALLAH INI,
SETELAH MATI DAN BANGKIT, NAIK KE SURGA
Sebagai manusia Allah yang telah mati dan bangkit, Tuhan Yesus tidak saja menjadi Roh pemberi hayat yang masuk ke dalam murid-murid, tetapi Dia juga naik ke surga. Efesus 4:8-12 memberi tahu kita bahwa dalam kebangkitan dan kenaikan-Nya, Tuhan Yesus memimpin sebaris tawanan yang ditahlukkan. Tawanan-tawanan ini adalah kita, orang-orang kudus yang ditebus. Sebelum kita diselamatkan, kita adalah tawanan Satan, terikat dalam dosa dan maut. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Kristus telah memusnahkan Satan dan merebut kita dari tangan Satan untuk dibawa kepada diri-Nya. Di dalain kenaikan-Nya, Dia membawa para. tawanan ini dan mempersembahkan mereka ke hadapan Allah. Sebagai gantinya, Allah memberikan kembali tawanan-tawanan ini sebagai pemberian-pemberian kepada sang Kepala yang ditinggikan. Dalam kenaikan-Nya, Dia telah memberikan pemberian-pemberian ini kepada gereja. Pernberian-pemberian ini - rasul-rasul, nabi-nabi, penginjil-penginjil, gembala-gembala dan pengajar-pengajar - adalah untuk menyempumakan semua orang kudus dalam gereja, supaya semua orang kudus dapat berfungsi dan berpartisipasi dalam pekerjaan ministri, yaitu pembangunan Tubuh Kristus. Akhimya, Allah akan mendapatkan sebuah gereja yang memuaskan hasrat hatiNya dan Kristus akan mendapatkan satu Tubuh yang terbangun. Inilah yang akan dirampungkan oleh Allah dalam ekonomi-Nya pada zaman ini.
Berita ini disampaikan oleh saudara Witness Lee di Seoul, Korea pada tanggal 6 Nopember 1988.