← Daftar isi Pemulihan Tuhan · bab 3/5

Berita Dua Belas

Berjuang untuk Iman,

Menikmati Trinitas yang Diberkati,

dan Mengambil Jalan Keterangkatan

melalui Memperhatikan Perkataan Nubuat

Pembacaan Alkitab: Yud. 1-2, 11-14, 19-21, 24-25; 2 Ptr. 1:19-21

Doa: Tuhan Yesus, kami memuji Engkau. Kami memuji Engkau atas apa yang telah Engkau katakan dalam pelatihan ini. Kami memberikan berita kesimpulan ini pada-Mu. Kami berdoa agar kami bisa menikmati Engkau sebagai batu puncak dari kasih karunia. Kami membuka seluruh diri kami secara segar pada-Mu. Penuhilah kami seluruhnya dengan diri-Mu sebagai kasih karunia. Kami menantikan Engkau berbicara pada kami kembali. Tuhan yang terkasih, kami memustikakan pembicaraan-Mu dalam hari-hari ini. Berilah kami telinga untuk mendengar apa yang Engkau katakan kepada gereja-gereja.

BEKERJA SAMA DENGAN DIA

YANG MAMPU MELINDUNGI AGAR KITA JANGAN TERSANDUNG

Pada awal berita pertama, saya memiliki satu beban untuk membagikan sesuatu yang praktis mengenai dua ayat terakhir dari surat Yudas. Ayat 24 dan 25 berkata, “Bagi Dia, yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu tanpa bernoda dan dengan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya, Allah yang esa, Juruselamat kita melalui Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dialah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin.” Dua ayat ini membentuk satu syair yang indah, satu pujian yang indah kepada Tuhan, atas puncak dari ekonomi-Nya dalam mendispensikan diri-Nya ke dalam kita. Secara khusus, ada satu hal yang Yudas katakan, yang sangat saya sukai, yaitu bahwa Dia yang hidup di dalam kita berkuasa menjaga agar kita jangan tersandung. Betapa ajaib Allah kita yang mustika, yang terwujud dalam Kristus, yang terealisasi sebagai Roh, dan berdiam di dalam roh kita, mampu menjaga agar kita jangan tersandung. Ayat ini tidak berkata bahwa Dia mampu menjaga kita agar tidak jatuh. Jatuh jauh lebih buruk daripada tersandung. Jatuh adalah sepenuhnya kehilangan keseimbangan dan terbanting ke tanah. Namun, ayat ini berkata bahwa Dia mampu menjaga kita bahkan agar kita jangan tersandung. Tersandung hanyalah kehilangan satu langkah.

Kita perlu mempercayai firman ini. Kita perlu melatih iman kita untuk berkata Amin kepada firman ini. Kita jangan memandang kondisi kita atau pada diri kita. Kita harus melupakan masa lampau kita. Saat ini kita perlu berkata, “Amin, Tuhan. Aku percaya.” Jika kita ingin menikmati Dia yang melindungi agar kita jangan tersandung, kita perlu bekerja sama dengan Dia. Kita bisa bekerja sama dengan Dia menurut empat butir berikut dan ayat-ayat penunjangnya. Bagi pembangunan Tubuh-Nya, semoga kita bekerja sama dengan Tuhan melalui mendoakan ayat-ayat ini dalam waktu-waktu kita bersama Tuhan.

Menyerahkan Diri Kita pada Penjagaan-Nya

Pertama, kita perlu bekerja sama dengan Tuhan melalui menyerahkan diri kita kepada penjagaan-Nya. Zakharia 2:8 berkata, “Sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya.” Jika musuh datang pada Anda dan mencoba menjamah Anda, ia mencoba menjamah biji mata Allah. Dalam pandangan Allah, kita begitu mustika bagi-Nya sehingga Firman-Nya berkata bahwa kita seperti biji mata-Nya. Sekarang pikirkanlah bagaimana Anda bereaksi jika seseorang berusaha menjamah biji mata Anda. Tidak hanya Anda akan berkedip; seluruh tubuh Anda akan bereaksi untuk berjaga. Hkum hayat dalam tubuh Anda akan secara otomatis bereaksi. Selain itu, ini sama persis dengan cara Tuhan bereaksi. Selama musuh berusaha menjamah Anda, Allah segera bereaksi. Ini luar biasa!

Mazmur 17:8 berkata, “Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu.” Kita semua bisa mendoakan doa ini kepada Tuhan. Perhatikanlah bahwa baik ayat ini dan ayat sebelumnya memiliki pemikiran akan menjaga/memelihara. Kita bisa berdoa, “Jagalah aku, Tuhan, seperti biji mata-Mu. Sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu sehingga aku bisa menikmati dispensi ilahi-Mu hari ini bagi kepentingan Tubuh-Mu.” Di dalam 2 Timotius 1:12 Paulus berkata, “Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memelihara apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.” Paulus menyerahkan seluruh diri dan masa depannya kepada Dia yang mampu menjaga yang telah dipercayakan kepada-Nya sampai pada hari kedatangan-Nya untuk kali kedua. Setiap hari kita perlu menyerahkan seluruh diri kita dan seluruh masa depan kita kepada Tuhan dan kepada kuasa penjagaan-Nya. Dia akan menjaga kita.

Satu Petrus 4:19 berkata, “Karena itu, baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan dirinya kepada Pencipta yang setia, sambil terus berbuat baik.” Dalam ayat ini, Petrus menyerahkan jiwa mereka yang terus berbuat baik kepada Pencipta yang setia. Setiap hari kita perlu berdoa, “Tuhan, aku menyerahkan jiwaku pada-Mu. Aku menyerahkan jiwaku untuk menikmati Engkau sehingga Engkau bisa hidup melalui diriku sebagai Yang berbuat baik di tengah-tengah penderitaan dan pencobaanku.” Selain itu, di dalam 1 Petrus 2:23 Tuhan Yesus sendiri, sebagai Dia yang telah difotocopykan ke dala kita, “menyerahkan diri-Nya kepada Dia yang menghakimi dengan adil.” Ini berarti Dia menyerahkan setiap caci maki dan cela kepada Allah yang adil. Sama halnya, kita perlu menyerahkan kepada Tuhan setiap caci maki, cela, perlawanan, pencobaan, dan rasa sakit yang menyerang kita, dan Dia akan menjaga kita.

Beriman pada Kuasa Penjagaan Allah

Kedua, kita perlu percaya, beriman, pada kuasa penjagaan Allah. Satu Petrus 1:5 berkata, “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah melalui imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah siap untuk dinyatakan pada zaman akhir.” Kita dijaga oleh kuasa Allah melalui iman. Semua butir ini adalah perkara mendasar. Kita perlu melatih iman kita. Dua Korintus 4:13 berkata bahwa kita memiliki roh iman. Jika kita ingin menikmati Tuhan sebagai Dia yang mampu menjaga kita, sebagai kuasa Allah yang menjaga kita melalui iman, kita harus melatih roh iman kita. Kita bisa melatih roh iman kita untuk menyeru nama Tuhan dan berdoa pada-Nya. Kita perlu menjadi orang yang melatih roh. Semoga kita selalu ingat bahwa iman ada dalam roh kita, sedangkan keraguan dan ketakutan ada dalam pikiran kita. Kita perlu menjadi orang yang melatih roh agar kuasa Allah menjaga kita.

Kita juga perlu memperhatikan hati kita. Ibrani 3:12 berkata, “Waspadalah, Saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang pun yang hatinya jahat dan tidak percaya sehingga murtad dari Allah yang hidup.” Kita selalu perlu waspada akan hati jahat yang tidak percaya. Kata murtad juga berarti “meninggalkan.” Sebelumnya kita berbicara megnenai memiliki roh iman; sekarang kita berbicara tentang hati kita. Roh kita adalah manusia yang tersembunyi dari hati kita. Semua bagian hati kita mengelilingi roh kita. Kita perlu selalu waspada dan berdoa, “Tuhan, aku tidak pernah ingin memiliki hati jahat yang tidak percaya. Aku memberikan hatiku pada-Mu hari ini, dan aku memalingkan hatiku pada-Mu.” Ketika hati kita berpaling dari Tuhan, ketidakpercayaan masuk. Bukanlah hal yang kecil untuk memalingkan hati kita kepada Tuhan dan menjaga hati kita berpaling pada Tuhan.

Ibrani 4:2 berkata, “Karena kepada kita diberitakan juga kabar kesukaan sama seperti kepada mereka, tetapi firman yang didengar itu tidak berguna bagi mereka, karena mereka tidak dipersatukan dalam iman dengan orang-orang yang mendengarkannya.” Ayat ini berkata bahwa firman yang didengar oleh bangsa Israel, orang yang jatuh di padang gurun, tidak berguna bagi mereka, karena mereka tidak menggabungkan firman dalam iman. Kita perlu menggabungkan dalam iman semua firman yang telah kita dengar dalam berita-berita ini dengan dengan semua firman yang kita dengan di dalam pemulihan Tuhan. Firman yang kita dengar perlu digabungkan dengan iman. Ketika kita menggabungkan firman dengan iman, firman bermanfaat bagi kita. Menggabungkan firman dengan iman adalah melatih roh kita untuk mendoakan firman dan memiliki hati yang berpaling kepada Tuhan sehingga selubung itu diangkat dan kita melihat dan menjamah Dia di adlam firman. Kita harus melatih roh kita untuk mendoakan firman dan merenungkan firman. Ketika iman digabungkan dengan firman, firman berguna bagi kita. Firman menjadi satu visi yang hidup dan satu realitas yang mustika bagi kita dalam pengalaman kita.

Di dalam Bilangan 13:1 sampai 14:38, dua belas pengintai memasuki tanah permai. Dua dari mereka adalah Kaleb dan Yosua. Sepuluh penginati lainnya memberi laporan yang jahat karena yang mereka telah lihat adalah raksasa-raksasa di tanah itu dan mereka tidak memiliki iman bahwa mereka bisa mengalahkan raksasa-raksasa itu. Namun, menurut 13:30, Kaleb berdiri dan berkata, “Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!” Kemudian di dalam 14:9 Yosua dan Kaleb mendesak orang-orang: “Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis.” Bagi Yosua dan Kaleb, orang-orang raksasa itu adalah makanan. Ketika kita makan Tuhan di dalam Firman, semua kesulitan kita menjadi makanan kita. Mereka adalah makanan kita karena di tengah-tengah kesulitan, kita menikmati Kristus sebagai kasih karunia dan sebagai Pemikul-beban kita.

Berdoa Setiap Hari untuk Dijaga dari si Jahat

Ketiga, setiap hari kita perlu berdoa, “Tuhan, jagalah aku dari si jahat.” Ini sangat sederhana, tetapi kita tidak pernah dapat lulus dari praktek seperti ini. Di dalam Matius 6:13 Tuhan mengajar kita untuk berdoa, “Dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.” Tuhan mengajar kita untuk berdoa seperti ini, karena doa seperti ini menunjukkan bahwa kita tidak mempercayai diri kita sendiri. Kita harus menyadari bahwa kita bisa jatuh setiap waktu. Terlepas dari Tuhan, kita lemah dan sepenuhnya tak berdaya. Kita memerlukan Tuhan setiap waktu, setiap nafas, dan setiap hari.

Doa yang Tuhan ucapkan di dalam Yohanes 17 berhubungan dengan cara Dia mengajar murid-murid-Nya di dalam Matius 6. Penjagaan Tuhan atas kita berhubungan dengan Dia membawa kita ke dalam keesaan Allah Tritunggal. Di dalam Yohanes 17:11 Tuhan berdoa, “Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepada-Mu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita.” Dipelihara di dalam nama Bapa adalah dipelihara di dalam hayat Bapa, karena hanya mereka yang dilahirkan dari Bapa dan yang memiliki hayat Bapa yang bisa berbagian di dalam nama Bapa. Kemudian di dalam ayat 15 Dia berdoa, “Aku tidak meminta, supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka dari yang jahat.” Bukanlah hal yang kecil bahwa sepanjang setiap hari sewaktu kita menghirup Tuhan, berseru kepada Tuhan, dan meluangkan waktu pribadi bersama Dia, kita bisa berdoa, “Tuhan, jagalah aku dari si jahat, jagalah aku di dalam rohku, jagalah aku di dalam dispensi ilahi-Mu, dan jagalah aku di dalam kenikmatan akan hayat-Mu, hayat yang ada di dalam rohku.” Ini adalah satu hal yang besar. Dengan cara ini kita dijaga agar jangan tersandung.

Rajin agar Membuat Panggilan dan Pemilihan Kita Teguh

melalui Maju Setiap Hari di dalam Pertumbuhan dalam Hayat

Keempat, kita harus rajin untuk membuat panggilan dan pemilihan kita makin teguh. Dua Petrus 1:10 berkata, “Karena itu, saudara-saudaraku, berusahalah sungguh-sungguh, supaya panggilan dan pilihanmu makin teguh. Sebab jikalau kamu melakukannya, kamu tidak akan pernah tersandung.” Melakukannya dalam ayat ini mengacu kepada kita mengembahkan kebajikan-kebajikan rohani di alam hayat ilahi, yaitu, kita maju di dalam pertumbuhan hayat ilahi. Kita dijamin bahwa kitatidak akan pernah tersandung karena setiap hari kita maju di dalam pertumbuhan hayat. Setiap hari kita perlu berdoa, “Tuhan, untuk sepanjang hari ini, aku ingin maju dalam pertumbuhan hayat bagi kepentingan Tubuh-Mu, bagi kepentingan pemulihan-Mu, dan untuk membawa Engkau kembali.” Menurut Petrus, kita tidak akan pernah tersandung jika setiap hari, sedikit demi sedikit, kita maju dalam pertumbuhan hayat.

Berbicara dengan Dia, Berkonsultasi dan Bercakap-cakap dengan Dia, Mengenai Segala Sesuatu

Kelima, setiap orang baru, orang muda, setengah baya, dan kaum tua perlu berbicara dengan Tuhan. Kita perlu berbicara dengan Dia, berkonsultasi dan bercakap-cakap dengan Dia, dalam segala sesuatu. Untuk mengontaki Dia, kita tidak perlu menggunakan fax atau ponsel, karena Dia ada dalam roh kita. Kita bisa berbicara dengan Dia dengan bertatapan muka. Filipi 4:6-7 berkata, “Janganlah hendaknya kamu khawatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.” Agar damai sejahtera Allah memelihara hati kita berarti damai sejahtera Allah akan menjadi satu pasukan di sekeliling hati kita. Ia akan berpatroli di sekeliling hati kita. Ini berarti Dia tidak akan membiarkan hati kita diganggu oleh apapun. Kita hanya perlu berada dalam kenikmatan akan dispensi ilahi. Semoga kita semua berlatih untuk berbicara dengan Dia, berkonsultasi dengan Dia, dan bercakap-cakap dengan Dia dalam segala sesuatu. Marilah kita berdoa, “Tuhan, belaskasihanilah aku,” dan marilah kita juga berlatih berbicara dengan Tuhan secara konstan. Ketika kita melakukannya, elemen-Nya akan diinfuskan ke dalam kita, dan kita akan secara spontan memperhidupkan Kristus sebagai hasil dari infus tersebut.

Bertumbuh di dalam Kasih Karunia dan di dalam Pengenalan

akan Tuhan dan Juruselamat Kita Yesus Kristus

Keenam, 2 Petrus 3:17-18 berkata, “Tetapi kamu, Saudara-saudara yang terkasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu, waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Tetapi bertumbuhlah dalam anugerah dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.” Kita perlu waspada, kalau tidak kita akan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tidak mengenal hukum dan kehilangan pegangan kita yang teguh. Sebaliknya, kita perlu bertumbuh dalam kasih karunia dan di dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus. Bahkan esok hari, kita perlu waspada agar tidak kehilangan pegangan kita yang teguh. Setiap hari kita perlu bertumbuh di dalam kasih karunia; kita perlu bertumbuh di dalam menikmati Tuhan sebagai hayat. Semoga kita berdoa, “Tuhan, aku damba lebih menikmati Engkau hari ini lebih daripada sebelumnya di dalam seluruh hidupku. Aku damba bertumbuh dalam menikmati Engkau sebagai hayat dan di dalam mengenal Engkau menurut kebenaran saat ini di dalam pemulihan-Mu saat ini.”

Waspada terhadap Berhala

Ketujuh, 1 Yohanes 5:21 berkata, “Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.” Dengan waspada terhadap berhala, kita bekerja sama dengan Tuhan sebagai Sang penjaga. Waspada terhadap berhala berarti kita tidak membiarkan apapun masuk ke dalam diri kita untuk menggantikan Kristus sebagai Allah yang nyata, benar, dan sejati. Dengan perkataan lain, kita selalu memberi Dia tempat utama di dalam setiap bagian diri kita, di dalam setiap wilayah kehidupan kita, di dalam semua pelayanan kita, dan di dalam setiap bagian dari hidup gereja kita. Semoga kita membiarkan Dia menjadi kasih kita yang pertama. Maka kita akan berada di bawah berkat-Nya.

Memiliki Perlindungan dan Suplai Tubuh

Kedelapan, kita memiliki perlindungan dan suplai Tubuh. Walaupun masih ada banyak butir mengenai kita bekerja sama dengan Tuhan di dalam Dia menjaga agar kita jangan tersandung, pada akhirnya segalanya ada di dalam Tubuh, melalui Tubuh, dan bagi Tubuh. Di dalam Matius 16:18 Tuhan berkata, “Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Ketika kita berada di dalam realitas hayat Tubuh dan mengambil kedudukan kita di dalam Tubuh, otoritas kegelapan Satan tidak dapat menguasai kita. Efesus 6:10-11 memberi tahu kita untuk mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Seluruh perlengkapan senjata Allah adalah bagi seluruh Tubuh. Perlindungan Tubuh berasal dari kita mengambil kedudukan kita di dalam Tubuh. Ulangan 32:30 berkata bahwa seorang mengejar seribu orang dan dua orang membuat lari sepuluh ribu orang. Ini ajaib! Ini berarti ketika kita tinggal dalam persekutuan dengan saudara dan saudari di dalam kelompok vital, kasih karunia berlipat dan hayat yang menghancurkan Iblis berlipat ganda. Tidak hanya kita memiliki perlindungan di dalam Tubuh, tetapi suplai juga ada di dalam Tubuh. Filipi 1:19 berkata, “Karena aku tahu bahwa kesudahan semuanya ini ialah keselamatanku oleh doamu dan pertolongan Roh Yesus Kristus.” Dalam ayat ini Paulus berkata tentang “doamu.” Dia menyadari bahwa keselamatan sampai kepada dia melalui doa kaum saleh. Inilah suplai Tubuh. Semoga kita melatih roh kita untuk menggabungkan semua butir ini dengan iman dalam hari-hari berikutnya.

YUDAS MENASIHATI KITA UNTUK

DENGAN SUNGGUH-SUNGGUH BERJUANG UNTUK IMAN

Yudas menasihati kita untuk dengan sungguh-sungguh berjuang untuk iman. Ayat 1 sampai 3 berkata, “Dari Yudas, hamba Yesus Kristus dan saudara Yakobus. Kepada mereka yang terpanggil, yang dikasihi dalam Allah Bapa dan dipelihara untuk Yesus Kristus. Rahmat, damai sejahtera dan kasih kiranya melimpahi kamu. Saudara-saudaraku yang terkasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama, aku merasa terdorong untuk menulis ini kepada kamu dan menasihati kamu, supaya kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus.”

“Iman” di dalam Yudas Bukanlah Iman Subyektif sebagai Tindakan Percaya Kita

melainkan Iman Obyektif sebagai Kepercayaan Kita,

Mengacu pada Hal-hal yang Kita Percayai, Isi Perjanjian Baru sebagai Iman Kita,

Yang di dalamnya Kita Percaya bagi Keselamatan Kita Bersama

“Iman” di dalam Yudas bukanlah iman subyektif sebagai tindakan percaya kita melainkan iman obyektif sebagai kepercayaan kita, mengacu pada hal-hal yang kita percayai, isi Perjanjian Baru sebagai iman kita, yang di dalamnya kita percaya bagi keselamatan kita bersama (Kis. 6:7; 1 Tim. 1:19; 3:9; 4:1; 5:8; 6:10, 21; 2 Tim. 3:8; 4:7; Tit. 1:13).

Iman Kristen Kita Terdiri dari Kepercayaan Kita Mengenai Alkitab,

Allah, Kristus, Pekerjaan Kristus, Keselamatan, dan Gereja;

Semua Orang Kristen yang Riil Tidak Memperdebatkan Butir-butir ini

Iman Kristen kita terdiri dari kepercayaan kita mengenai Alkitab, Allah, Kristus, pekerjaan Kristus, keselamatan, dan gereja; semua orang Kristen yang riil tidak memperdebatkan butir-butir ini (Ef. 4:13). Pertama, kita percaya bahwa Alkitab adalah hembusan Allah (2 Tim. 3:16) dan bahwa Alkitab secara ilahi diinspirasikan oleh Allah (2 Ptr. 1:21). Kita mengasihi Alkitab. Ketika saya masih kuliah, ibu saya mengirimkan satu Alkitab kepada saya, tetapi saya tidak pernah membukanya. Namun, hari ini, seperti banyak orang di dalam pemulihan Tuhan, Alkitab saya “jelek.” Kita mengasihi Alkitab sedemikian rupa sampai kita memakainya sampai rusak. Alkitab adalah Firman Allah; seluruh Kitab Suci adalah hembusan Allah.

Kedua, kita percaya bahwa Allah itu Tritunggal. Dia bukan sekedar tri—Bapa, Putra, dan Roh—dan Dia bukan sekedar tunggal: Dia itu Tritunggal. Kita percaya bahwa Bapa, Putra dan Roh sama ada secara kekal, bahwa mereka bisa dibedakan (Mat. 3:16-17; 28:19; 2 Kor. 13:13; Ef. 2:18; 3:14-17; Why. 1:4-5). Namun kita juga percaya bahwa Mereka saling huni, bahwa Mereka saling tinggal satu sama lain dan bersatu tak terpisahkan (Ul. 4:35, 39; Mzm. 86:10; 1 Kor. 8:4; 1 Tim. 2:5). Ini berarti bahwa Bapa, Putra dan Roh itu bisa dibedakan di dalam keberadaan mereka bersama-sama tetapi tidak terpisah dalam saling huni mereka. Saling huni berarti saling tinggal dan saling menembus. Bapa di dalam Putra, dan Putra di dalam Bapa. Inilah sebabnya di dalam Yohanes 14:10 Tuhan bertanya, “Tidak percayakah engkau bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku?” Semua orang Kristen sejati percaya di dalam Allah Tritunggal, di dalam kebenaran dasar mengenai Allah Tritunggal, walau beberapa orang mungkin lemah dalam iamn. Meskipun demikian, sebagai orang yang berdiri pada tumpuan gereja, kita memilih untuk mengasihi semua saudara sejati di bumi ini. Namun, walalupun kita memilih untuk mengasihi semua saudara, ini tidak berarti bahwa mereka semua mengasihi kita. Berdasarkan kedudukan kita pada tumpuan keesaan, kita harus mengasihi mereka, dan kedudukan kita pada tumpuan ini bagikepentingan semua anak-anak Tuhan. Para pemenang melakukan segalanya bagi kepentingan anak-anak Tuhan, dan oleh rahmat Tuhan, kita damba menjadi mempelai perempuan Tuhan yang menang. Bahkan kita menjadi mempelai perempuan yang menang adalah bagi kepentingan semua anak-anak Tuhan.

Ketiga, kita percaya bahwa Kristus adalah segala sesuatu. Kristus adalah segala sesuatu bagi kita, dan kita mengasihi Dia. Dia adalah hayat kita (Kol. 3:4). Dia adalah terang kita (Yoh. 1:4). Dia adalah jalan, kebenaran (14:6), dan pintu (10:7, 9). Dia adalah damai sejahtera kita (Ef. 2:14), hikmat kita dan keadilbenaran kita, pengudusan, dan penebusan (1 Kor. 1:30). Dia adalah Paskah kita (5:7). Dia adalah Alfa, Omega, Sang awal, Sang akhir (Why. 1:8; 2:16; 22:13), dan Dia lebih banyak lagi. Apapun yang kita perlukan, Dia adalah. Semua orang Kristen haruslah senang mendengar hal ini. Inilah iman.

Keempat, kita percaya pada pekerjaan Kristus. Kita percaya bahwa Kristus berinkarnasi untuk menjadi manusia (Yoh. 1:14), mati di salib bagi dosa-dosa kita (1 Ptr. 2:24; Why. 5:9), dan bangkit. Dalam kebangkitan-Nya, kita dilahirkan kembali (1 Ptr. 1:3). Kemudian di dalam kenaikan Dia menjadi Tuhan atas segala (Kis. 2:33, 36; 10:36), dan kelak Dia akan datang kembali sebagai Tuhan atas segala tuan dan Raja atas segala raja untuk mendirikan Kerajaan-Nya (Why. 17:14; 19:16). Semua orang Kristen percaya hal ini, dan inilah iman yang kita perjuangkan. Kita tidak berjuang untuk hal-hal kecil, seperti penudungan kepala dan baptisan selam. Baik baptisan selam dan penudungan kepala adalah kebenaran di dalam Firman, tetapi kita tidak memperjuangkan hal-hal tersebut; kita hanya berjuang bagi iman, bukan bagi kebenaran-kebenaran kecil.

Kelima, sehubungan dengan keselamatan, kita percaya bahwa orang berdosa harus bertobat kepada Allah (Kis. 2:38; 26:20) dan percaya ke dalam Kristus (Yoh. 3:16; Kis. 16:31). Ketika seseorang percaya kepada Kristus, dia menerima Kristus sebagai hayat dan Juruselamatnya (Yoh. 3:16). Dia juga menerima pengampunan dosa-dosa (Kis. 10:43), dibenarkan (13:39), dan dilahirkan ulang melalui kelahiran kembali dengan menerima hayat kekal di dalam rohnya (Yoh. 3:6). Selain itu, karena seorang beriman memiliki hayat kekal, dia adalah anak Allah (Yoh. 1:12) dan anggota Kristus (1 Kor. 12:27), dan kita mengasihi dia (1 Yoh. 3:14). Inilah keselamatan.

Keenam, sehubungan dengan gereja, kita percaya bahwa hanya ada satu Tubuh Kristus. Efesus 1:22-23 membicarakan “gereja, yang adalah Tubuh-Nya,” dan Efesus 4:4 berbicara tentang hanya ada satu Tubuh. Karena hanya ada satu Tubuh, hanya ada satu gereja. Saya adalah milik gereja yang sama dengan Anda, karena hanya ada satu Tubuh, satu gereja. Berdasarkan kebenaran ini, kita menyadari bahwa kita perlu berdiri sebagai gereja. Semua kaum beriman adalah gereja, jadi kita harus bersidang sebagai gereja. Ketika kita berkata bahwa kita adalah gereja, ini adalah deskripsi, bukan satu nama. Inilah sebabnya Alkitab membicarakan gereja di Antiokhia dan gereja di Yerusalem. Kaum beriman bersidang sebagai gereja di mana pun mereka berada. Ini sederhana. Dengan mempraktekkan jalan ini, kita menerima semua saudara dan saudari dan berjuang hanya untuk iman.

Iman ini, Bukan Doktrin Apapun, Telah Diberikan Sekali untuk Selamanya

kepada Semua Orang Kudus; Untuk Iman ini Kita Harus dengan Sungguh-sungguh Berjuang

Iman ini, bukan doktrin apapun, telah diberikan sekali untuk selamanya kepada semua orang kudus; untuk iman ini kita harus dengan sungguh-sungguh berjuang (1 Tim. 6:12).

KITA MEMBANGUN DIRI KITA DI ATAS FONDASI IMAN YANG PALING KUDUS INI

MELALUI MENIKMATI SELURUH TRINITAS YANG TERPUJI

SEHINGGA KITA BISA MENJADI YERUSALEM BARU

SEBAGAI TOTALITAS HAYAT KEKAL

Kita membangun diri kita di atas fondasi iman yang paling kudus ini melalui menikmati seluruh Trinitas yang Terpuji sehingga kita bisa menjadi Yerusalem Baru sebagai totalitas hayat kekal (Yud. 19-21; cf. Yoh. 4:14b). Titik fokus dan struktur dasar dawri 1 dan 2 Petrus serta Yudas adalah bahwa Allah Tritunggal beroperasi di dalam kita untuk membawa kita ke dalam kenikmatan atas diri-Nya sendiri sehingga bersatu dengan Dia, berbaur dengan Dia, dan berinkorporasi bersama dengan Dia, kita menjadi Yerusalem Baru, bangunan ilahi dan mistikal-Nya di dalam alam semesta ini. Melalui kita menikmati Allah Tritunggal, Dia bisa membangun diri-Nya ke dalam kita dan membangun kita ke dalam Dia sehingga kita bisa menjadi bangunan ilahi dan mistikal-Nya di dalam alam semesta ini, dipenuhi dengan kekayaan-Nya untuk menjadi kepenuhan-Nya bagi ekspresi-Nya dan kemuliaan-Nya. Inilah prinsip yang mentaru dari seluruh Alkitab, dan inilah “daging sapi” kita. Inilah yang kita layankan kepada yang lain di dalam ministri kita. Kita hanya melayankan satuhal—Allah Tritunggal yang telah melalui proses bagi kenikmatan kita sehingga kita bisa terbangun dengan Dia untuk menjadi bangunan-Nya di dalam alam semesta ini. Walaupun kita hanya melayankan satu jenis makanan, ada banyak cara untuk mempersiapkan “hidangan” ini. Setiap bangsa dan budaya memiliki cara untuk menyajikan daging sapi; sama halnya, berita demi berita, kita menyajikan “daging sapi” kita dengan banyak cara. Kita hanya meminta yang lain untuk mencicipi dan melihat bahwa Tuhan itu baik.

Perkataan Yudas Mengenai Membangun Diri Kita Sendiri di atas Iman Kita yang Paling Kudus

Setara dengan Perkataan Petrus mengenai Dibangun sebagai Rumah Rohani

ke dalam suatu Imamat Kudus untuk Merampungkan Yerusalem Baru

Perkataan Yudas mengenai membangun diri kita sendiri di atas iman kita yang paling kudus setara dengan perkataan Petrus mengenai dibangun sebagai rumah rohani ke dalam suatu imamat kudus untuk merampungkan Yerusalem Baru (Yud. 20; 1 Ptr. 2:5; Why. 21:3, 22; 22:3). Perkataan Yudas mengenai membangun diri kita iman kita yang paling kudus itu penting. Yudas bekata bahwa mereka yang murtad adalah mereka yang membuat perpecahan. Ia berkata bahwa mereka adalah “manusia duniawi (jiwani) yang tidak memiliki Roh Kudus” (ay. 19). Secara prinsip, kita harus waspada agar tidak jatuh ke dalam kemurtadan apa pun dalam diri kita atau dalam hidup gereja. Ini berarti bahwa karakteristik utama dari diri kita dan dari hidup gereja haruslah melatih roh kita. Ayat 21 berkata, “untuk hidup (hayat) yang kekal.” Kata untuk bermakna “menjadi.” Jadi, ayat 19 sampai 21 menunjukkan bahwa kita harus melatih roh kita untuk menikmati Trinitas Terpuji sehingga kita bisa menjadi totalitas dari hayat kekal, Yerusalem Baru.

Adalah penting bagi kita untuk menjadi orang yang melatih roh. Jika kita adalah orang yang hidup di dalam jiwa kita, dikuasai oleh jiwa kita, dan hidup di dalam alam pikiran dalam sebagian besar dari waktu-waktu kita, kita pada akhirnya akan menjadi masalah dalam hidup gereja. Kita perlu berdoa, “Tuhan, ajarlah aku bagaimana melatih rohku setiap hari dan setiap saat.” Kidung Suplemen 116 berkata, “Lama nian dibelenggu ajaran. Tertambat dalam angan-angan. Dan terkurung oleh rasa iba. Makin nuntut makinlah gelap.Latih menyentuh Tuhan dengan roh.” Sebagai murid-murid, kita perlu tinggal di dalam proses belajar. Melatih roh kita haruslah menjadi modus operandi kita, cara operasi kita yang utama. Paling sedikit, ini haruslah menjadi kedambaan kita. Memiliki kedambaan kudus seperti itu sangatlah bermakna. Kita bisa berdoa, “Tuhan, aku damba bertumbuh dalam hayat. Tumbuhlah dalamku, ya Tuhan, dan jadikanlah aku orang yang dikuasai oleh rohku. Selamatkanlah diriku dari menjadi jiwani. Aku terlalu banyak berada di dalam pikiranku dan emosiku. Tekadku terlalu keras. Tuhan, jadikanlah aku orang yang melatih roh. Kuatkanlah ke dalam manusia batiniahku.” Orang yang jiwani membuat perpecahan (ay. 19). Semua huru-hara di dalam sejarah kita berasal dari orang yang berada di dalam jiwa, di dalam pikiran. Terus menerus mempertanyakan segala sesuatu di dalam hidup gereja itu benar atau salah adalah berada di dalam alam jiwa dan pikiran. Kita ingin berada di dalam roh kita dan memiliki kesederhanaan yang adalah Kristus.

Yudas 19 sampai 21 berkata, “Mereka adalah pemecah belah, manusia duniawi yang tidak memiliki Roh Kudus. Akan tetapi kamu, Saudara-saudaraku yang terkasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” Kita perlu menjadi orang yang berdoa di dalam Roh Kudus. Ayat-ayat ini menyebutkan Roh Kudus, Allah, dan Tuhan kita Yesus Kristus—seluruh Tritunggal Terpuji. Untuk hidup yang kekal berarti kita menjadi totalitas dari hayat kekal, Yerusalem Baru. Kita bisa melatih roh kita untuk menikmati Trinitas Terpuji dan semakin menjadi Yerusalem Baru. Ini sesuai dengan Yohanes 4:14b di mana Tuhan berkata, “Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai pada hidup yang kekal.” Kita minum dari Allah Tritunggal yang mengalir. Bapa adalah sumber air. Putra adalah mata air, manifestasi dan pancaran dari mata air. Roh adalah sungai, aliran, pencapaian, dan penerapan dari Putra, yang adalah perwujudan Bapa. Tuhan adalah air segar yang mengalir. Dia mengalir terus menerus, setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, dan sampai kekal. Dia selalu segar, dan Dia selalu menyegarkan kita.

Agar dapat Menikmati Trinitas Ilahi bagi Bangunan Allah, Kita Tidak Boleh seperti

“Mereka yang Membuat Perpecahan, Jiwani, Tidak Memiliki Roh”

Agar dapat menikmati Trinitas Ilahi bagi bangunan Allah, kita tidak boleh seperti “mereka yang membuat perpecahan, jiwani, tidak memiliki roh” (Yud. 19, Tl.).

Manusia Jiwani adalah Manusia Alamiah, Orang yang Mengizinkan Jiwanya

Mendominasi seluruh Dirinya dan yang Hidup oleh Jiwanya, Mengabaikan Rohnya,

Tidak Menggunakan Rohnya, dan bahkan Bertingkah Laku Seolah-olah Dia Tidak Memiliki Roh

Manusia jiwani adalah manusia alamiah, orang yang mengizinkan jiwanya mendominasi seluruh dirinya dan yang hidup oleh jiwanya, mengabaikan rohnya, tidak menggunakan rohnya, dan bahkan bertingkah laku seolah-olah dia tidak memiliki roh (1 Kor. 2:14). Kita jangan mengabaikan roh kita; kita perlu memperhatikan roh kita. Paulus berkata, “Meletakkan pikiran di atas Roh adalah hidup dan damai sejahtera” (Rm. 8:6, Tl.). Yerusalem Baru adalah kota hayat, totalitas hayat. Kata salem berarti “damai sejahtera” (cf. Ibr. 7:2). Jadi, ketika kita meletakkan pikiran kita di atas roh, pikiran kita menjadi bagian dari Yerusalem Baru dan memiliki ciri-ciri Yerusalem Baru (Why. 22:1-2a; 21:10-11). Menaruh pikiran kita di atas roh adalah memperhatikan roh kita dan menggunakan roh kita. Orang-orang yang Yudas sebutkan dalam ayat 19 bersikap seolah-olah mereka tidak memiliki roh. Kita harus menjadi orang yang melatih roh.

Tuhan Damba agar semua Orang Beriman-Nya Mengambil Kasih Karunia-Nya

untuk Menjadi Manusia Rohani, Orang yang Menyangkal Jiwanya dan Tidak Hidup oleh Jiwanya

Melainkan Mengizinkan Rohnya Mendominasi seluruh Dirinya

Tuhan damba agar semua orang beriman-Nya mengambil kasih karunia-Nya untuk menjadi manusia rohani, orang yang menyangkal jiwanya dan tidak hidup oleh jiwanya melainkan mengizinkan rohnya mendominasi seluruh dirinya (ay. 15; Rm. 8:6; 2 Kor. 2:12-14). Pelajaran-Hayat 1 Korintus berkata, “Inilah tujuan penulisan surat ini: memotivasi kaum beriman di Korintus yang jiwani, milik daging, dan bersifat tubuh daging, agar mendambakan pertumbuhan hayat sehingga menjadi rohani (2:15; 3:1; 14:37)” (p. 212, Ingg.). Menjadi manusia rohani yang sejati adalah menjadi orang yang dikuasai, diperintah, dipimpin, digerakkan, dan dikendalikan oleh roh mereka. Di dalam 2 Korintus, yang adalah otobiografi dari seorang yang di dalam roh, kita bisa nampak bahwa Paulus adalah orang yang sedemikian. Dua Korintus 2:12-14 adalah salah satu bagian yang terbesar di dalam Perjanjian Baru mengenai hidup di dalam ekonomi Allah secara pengalaman. Bagian ini memperlihatkan bahwa Paulus memperhatikan rohnya dan bukan lingkungan luaran. Di dalam ayat 12, Paulus berkata bahwa Tuhan membuka pintu padanya bagi pemberitaan Injil. Namun, dalam ayat 13 Paulus berkata, “Tetapi rohku tidak merasa tenang” (Tl.). Ini memperlihatkan bahwa roh Paulus adalah yang dia perhatikan. Dalam ayat 14 Paulus berkata, “Tetapi syukur bagi Allah yang dalam Kristus selalu memimpin kami di jalan kemenangan-Nya. Dengan perantaraan kami Ia menyebarkan keharuman pengenalan akan Dia di mana-mana.” Ayat ini menunjukkan bahwa Kristus, sebagai seorang Jendral, memimpin satu perayaan kemenangan atas tawanan. Agar kita secara pengalaman ditaklukkan oleh Kristus dan menjadi tawanan-Nya, kita perlu memoperhatikan damai sejahtera di dalam roh kita, selalu mempertimbangkan apakah kita memiliki damai sejahtera atau tidak di dalam roh kita.

Seluruh Trinitas Terpuji Dipakai dan Dinikmati oleh Kita sewaktu Kita Melatih Roh Kita

melalui “Berdoalah dalam Roh Kudus” untuk Memelihara Diri Kita Sendiri “dalam Kasih Allah,

sambil Menantikan Rahmat Tuhan Kita Yesus Kristus, kepada Hayat yang Kekal”

Kepada Hayat yang Kekal, atau Ke Dalam Hayat yang Kekal, adalah Ungkapan yang Khusus;

Kepada atau Ke Dalam Membicarakan Tempat Tujuan dan juga Berarti “Menjadi.”

Seluruh Trinitas Terpuji dipakai dan dinikmati oleh kita sewaktu kita melatih roh kita melalui “berdoalah dalam Roh Kudus” untuk memelihara diri kita sendiri “dalam kasih Allah, sambil menantikan rahmat Tuhan kita Yesus Kristus kepada hayat yang kekal” (Yud. 20-21, Tl.). Kepada hayat yang kekal, atau ke dalam hayat yang kekal (Yoh. 4:14b), adalah ungkapan yang khusus; kepada atau ke dalam membicarakan tempat tujuan dan juga berarti “menjadi.”

Melalui Melatih Roh Kita untuk Menikmati Trinitas Terpuji,

Kita menjadi Yerusalem Baru sebagai Totalitas Hayat yang Kekal

Melalui melatih roh kita untuk menikmati Trinitas Terpuji, kita menjadi Yerusalem Baru sebagai totalitas hayat yang kekal (Why. 22:1-2a; 21:10-11).

SAAT KITA HIDUP DI DALAM ALLAH TRITUNGGAL MELALUI MENIKMATI DIA,

KITA MEMELIHARA DIRI KITA DARI JALAN KAIN, KESALAHAN BILEAM,

DAN PEMBERONTAKAN KORAH UNTUK MENGAMBIL JALAN KETERANGKATAN,

JALAN HENOKH DAN PARA PEMENANG

Saat kita hidup di dalam Allah Tritunggal melalui menikmati Dia, kita memelihara diri kita dari jalan Kain, kesalahan Bileam, dan pemberontakan Korah untuk mengambil jalan keterangkatan, jalan Henokh dan para pemenang (Yud. 11-14). Yudas menuliskan gambaran dari jalan Kain, kesalahan Bileam, pemberontakan Korah, dan jalan Henokh, yang bernubuat bahwa Tuhan akan datang kembali “dengan beribu-ribu orang kudus-Nya” (ay. 14). Secara singkat dikatakan, ini mengacu kepada kedatangan Tuhan kembali bersama para pemenang. Jalan Henokh adalah jalan keterangkatan. Henokh adalah orang pertama yang terangkat (Kej. 5:24). Untuk melihat prinsip jalan keterangkatan, kita harus kembali kepada kejadian keterangkatan pertama, yang adalah pada diri Henokh.

Jalan Kain adalah Jalan Melayani Allah secara Agamawi menurut Kehendak Sendiri,

secara Bidah Menolak Penebusan oleh Darah yang Diperlukan dan Ditentukan oleh Allah,

dan menurut Daging Iri terhadap Umat Allah yang Sejati

karena Kesaksian Kesetiaan Mereka terhadap Allah

Jalan Kain adalah jalan melayani Allah secara agamawi menurut kehendak sendiri, secara bidah menolak penebusan oleh darah yang diperlukan dan ditentukan oleh Allah, dan menurut daging iri terhadap umat Allah yang sejati karena kesaksian kesetiaan mereka terhadap Allah (Kej. 4:2-8). Habel mempersembahkan domba dan melayani Allah dengan iman menurut wahyu Allah dan permulaan dari Allah. Habel mengambil jalan penebusan melalui pencurahan darah, yang ia pelajari dari orang tuanya. Setelah Adam dan Hawa jatuh, Allah memberi mereka pakaian dari kulit hewan (3:21). Untuk membuat pakaian dari kulit, seekor binatang, mungkin domba, harus dibunus. Jadi, darah tercurah, menunjukkan jalan penebusan. Kristus mencurahkan darah-Nya bagi dosa-dosa kita (Mat. 26:28; 1 Yoh. 1:7; Why. 1:5), dan sekarang kita mengenakan Kristus sebagai keadilbenaran kita (1 Kor. 1:30). Namun, Kain tidak ingin mengambil jalan itu. Sebaliknya, ia ingin melayani Allah secara agamawi dari dirinya sendiri menurut kehendaknya sendiri dan kesukaannya sendiri. Walaupun jalan Kain mengacu kepada bidat, kita perlu menerapkan hal ini kepada diri kita para prinsipnya. Kita memerlukan satu rasa takut yang kudus dalam melayani Tuhan agar kita tidak melakukan apapun menurut kehendak atau kesukaan kita sendiri tetapi melakukan segala sesuatu menurut wahyu, pimpinan, perintah, dan pengarahan dari Tuhan.

Di dalam 2 Samuel 7, Daud memiliki kedambaan untuk membangun bait, tetapi Allah menghentikan dia melalui pembicaraan nabi Natan. Daud tidak bersikeras untuk membangun bait berdasarkan pada posisinya sebagai raja atau bahkan memutuskan hubungannya dengan Tuhan. Sebaliknya, Daud mengenali bahwa perkataan Natan adalah perkataan Tuhan. Daud menerima bahwa bukanlah bagiannya untuk membangun bait, tetapi itu adalah bagian anaknya, Salomo. Karena itu, Daud berhenti. Berhentinya Daud adalah satu hal yang besar, sebab ini membentuk satu kesaksian dua kali ganda di dalam alam semesta ini. Bagian pertama dari kesaksian ini adalah bahwa semua pekerjaan dalam alam semesta ini haruslah dimulai dari Allah, bukan dari manusia. Kita jangan pernah memulai apapun dari pekerjaan Allah. Pekerjaan Allah harus selalu dimulai dari Allah, tetapi Dia memerlukan kerja sama kita. Allah adalah sang Pemulai; kita adalah yang bekerja sama. Bagian kedua dari kesaksian yang dibangun di dalam 2 Samuel 7 adalah bahwa apa yang Allah lakukan bagi manusia yang berarti, bukanlah apa yang manusia lakukan bagi Allah.

Di dalam pengalaman pertobatan Paulus, ia menanyakan dua pertanyaan. Kita perlu memiliki pencarian seperti ini setiap hari. Pertama, ia bertanya, “Siapakah Engkau, Tuan?” (Kis. 22:8). Kehidupan kita haruslah menjadi satu perjalanan untuk mengenal Kristus dan untuk semakin melihat Dia. Kedua, Paulus bertanya, “Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?” (ay. 10). Di dalam buku Knowing Life and the Church, Saudara Lee berkata, “Diberkatilah orang yang menanyakan pertanyaan ini!” (p. 201). Kita selalu perlu bertanya, “Apakah yang harus kuperbuat, Tuhan?” Sebagai anggota Tubuh, kita masing-masing memiliki fungsi, ukuran, dan pimpinan tersendiri bagi pembangunan Tubuh, tetapi kita jangan melayani Allah secara lancang menurut kehendak kita sendiri atau menurut kesukaan kita sendiri, seperti yang dilakukan Kain. Karena Kain melakukan hal ini, ia kehilangan hadirat Tuhan. Kejadian 4:16 berkata, “Lalu Kain pergi dari hadapan TUHAN.” Kita tidak ingin hal ini terjadi pada kita.

Kesalahan Bileam adalah Kesalahan dalam Mengajarkan Doktrin yang Salah untuk Mendapat Upah,

Padahal Dia Tahu bahwa itu Bertentangan dengan Kebenaran dan Melawan Umat Allah,

dan dengan Kasar Menyalahgunakan Pengaruh Karunia Tertentu

untuk Menyimpangkan Umat Allah dari Penyembahan yang Murni

terhadap Tuhan kepada Penyembahan Berhala;

Tamak akan Upah akan Menyebabkan Orang-orang yang Tamak secara Membabi Buta

Masuk ke dalam Kesalahan Bileam

Kesalahan Bileam adalah kesalahan dalam mengajarkan doktrin yang salah untuk mendapat upah, padahal dia tahu bahwa itu bertentangan dengan kebenaran dan melawan umat Allah, dan dengan kasar menyalahgunakan pengaruh karunia tertentu untuk menyimpangkan umat Allah dari penyembahan yang murni terhadap Tuhan kepada penyembahan berhala; tamak akan upah akan menyebabkan orang-orang yang tamak secara membabi buta masuk ke dalam kesalahan Bileam (Bil. 22:7, 21; 31:16; Why. 2:14; cf. 2 Raj. 5:20-27). Musuh umat Allah berusaha mendapatkan Bileam untuk mengutuk umat Allah, tetapi Bileam tidak bisa (Bgiil. 22:1-18). Namun, agar mendapatkan pahala, ia kemudian memikat bani Israel ke dalam penyembahan berhala dan perzinahan, yang merusak mereka sampai pada puncaknya (31:16; Why. 2:14). Ketika kita melayani Tuhan, kita harus selalu waspada untuk tidak menggunakan karunia kita untuk menyesatkan umat Allah. Selain itu, kita tidak boleh melayani Tuhan untuk pahala uang seperti apapun.

Pemberontakan Korah adalah Pemberontakan

terhadap Wakil Otoritas Allah di dalam Pemerintahan-Nya dan terhadap Firman-Nya

yang Diucapkan oleh Wakil-Nya (seperti Musa);

Pemberontakan yang Demikian Mendatangkan Kehancuran

Pemberontakan Korah adalah pemberontakan terhadap wakil otoritas Allah di dalam pemerintahan-Nya dan terhadap firman-Nya yang diucapkan oleh wakil-Nya (seperti Musa); pemberontakan yang demikian mendatangkan kehancuran (Bil. 16:1-40; Rm. 16:17). Pemberontakan Korah melawan Musa sebagai wakil kekuasaan Alalh adalah juga melawan Harun di dalam fungsi imamatnya. Di dalam Bilangan 16, Korah dan dua ratus lima puluh pemimpin bangsa Israel memberontak melawan Musa dan Harun, tetapi sebenarnya, mereka memberontak melawan Allah. Di dalam ayat 3 mereka berkata kepada Musa dan Harun, “Sekarang cukuplah itu! Segenap umat itu adalah orang-orang kudus, dan TUHAN ada di tengah-tengah mereka. Mengapakah kamu meninggi-ninggikan diri di atas jemaah TUHAN?” Frase sekarang cukuplah itu bisa juga diterjemahkan kamu sudah keterlaluan. Dengan perkataan lain, mereka berkata, “Setiap orang dari kita bisa memimpin. Kamu pikir kamu itu siapa?” Musa berkata,

Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi? Sebab itu, engkau ini dengan segenap kumpulanmu, kamu bersepakat melawan TUHAN. Karena siapakah Harun, sehingga kamu bersungut-sungut kepadanya? (ay. 9-11)

Musa juga memberi tahu mereka, “Cukuplah itu, hai orang-orang Lewi!” (ay. 7). Ada banyak makna di sini. Kejadian ini menyingkapkan ambisi dan pemikiran hirarki. Karena Musa tidak memiliki pemikiran hirarki atau posisi, ia tidak mengerti mengapa mereka ingin memberontak melawan Harun dan mengambil fungsinya. Korah memiliki pelayanan Lewi, satu fungsi yang tak terilai. Allah tidak ada jalan untuk bergerak tanpa fungsi orang Lewi di dalam tabernakel. Jika Korah memustikakan bagiannya, ia tidak akan mencari bagian dan fungsi Musa dan Harun. Kita haruslah memustikakan bagian kita dan puas dengan fungsi kita di dalam Tubuh. Jika kita berusaha untuk melampaui apa yang telah Allah ukurkan kepada kita, kita akan kehilangan berkat, masuk ke dalam pemberontakan, dan berada di bawah penghakiman Allah.

Jalan Henokh, yang Bernubuat mengenai Kedatangan Tuhan Kembali bersama para Pemenang-Nya

untuk Menyelenggarakan Penghakiman Pemerintahan-Nya,

adalah Jalan Keterangkatan, Jalan untuk Melarikan Diri dari Maut

dan Mendapatkan Kesaksian tentang Diperkenan oleh Allah melalui Berjalan Bersama Allah

Berjalan Bersama Allah adalah Tidak Mendahului Allah, Tidak Lancang,

Tidak Melakukan Segala Sesuatu menurut Konsep dan Kedambaan Kita Sendiri,

Tidak Melakukan Segala Sesuatu menurut Arus Zaman ini, dan Tidak Melakukan Apapun tanpa Allah

Jalan Henokh, yang bernubuat mengenai kedatangan Tuhan kembali bersama para pemenang-Nya untuk menyelenggarakan penghakiman pemerintahan-Nya (Yud. 14-15; Yoel 3:11), adalah jalan keterangkatan, jalan untuk melarikan diri dari maut dan mendapatkan kesaksian tentang diperkenan oleh Allah melalui berjalan bersama Allah (Kej. 5:22-24; Ibr. 11:5-6). Berjalan bersama Allah adalah tidak mendahului Allah, tidak lancang, tidak melakukan segala sesuatu menurut konsep dan kedambaan kita sendiri, tidak melakukan segala sesuatu menurut arus zaman ini, dan tidak melakukan apapun tanpa Allah. Lancang adalah berpikir bahwa kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan, tanpa pertama-tama memeriksa dengan Dia. Sering kali kita berada pada “pilot otomatis,” menganggap bahwa kita tahu apa yang Tuhan ingin kita lakukan. Kita lancang jika kita tidak berkonsultasi dengan Tuhan dan terbuka pada-nya, menghargai kekepalaan dan ketuhanan-Nya. Kita jangan pernah ingin melakukan apapun tanpa Allah.

Berjalan Bersama Allah adalah Mengambil Dia sebagai Pusat dan Segala Sesuatu Kita,

Hidup dan Melakukan Segala Sesuatu menurut Allah dan Bersama Allah,

menurut Wahyu dan Pimpinan-Nya, dan Melakukan Segala Sesuatu bersama Dia

Berjalan bersama Allah adalah mengambil Dia sebagai pusat dan segala sesuatu kita, hidup dan melakukan segala sesuatu menurut Allah dan bersama Allah, menurut wahyu dan pimpinan-Nya, dan melakukan segala sesuatu bersama Dia (cf. Mat. 1:23). Setiap hari kita perlu berdoa, “Tuhan, aku mengambil Engkau sebagai pusat dan segala sesuatuku.”

Henokh Terus Menerus Berjalan Menanjak bersama Allah Siang dan Malam selama Tiga Abad,

Menjadi lebih Dekat kepada Allah dan semakin Esa dengan Allah setiap Hari hingga

“Dia Tidak Ada lagi, sebab Allah telah Mengangkat Dia”

Henokh terus menerus berjalan menanjak bersama Allah siang dan malam selama tiga abad, menjadi lebih dekat kepada Allah dan semakin esa dengan Allah setiap hari hingga “dia tidak ada lagi, sebab Allah telah mengangkat dia” (Kej. 5:24; cf. Kid. 8:5-6). Henokh menamai Anaknya Metusalah, yang berarti “ketika dia mati, hal itu akan dikirim,” karena ia menyadari bahwa penghakiman akan datang (Kej. 5:21, dan catatan kaki 1). Kesadaran ini membuat Henokh berjalan bersama Allah selama tiga abad (ay. 22). Kita mungkin memerlukan satu “alarm” di dalam diri kita. Kita harus menghargai dan memuja Tuhan, hidup di dalam rasa takut yang kudus dan memiliki satu perhatian yang sehat dan serius. Kita perlu berdoa, “Tuhan, buatlah kami menempuh satu sikap hidup yang kudus di dalam segala hal. Ampunilah kami sebab menempuh sikap hidup yang sia-sia. Kami ingin menempuh satu sikap hidup yang kudus di bawah pemerintahan-Mu, dan kami ingin berada di dalam fokus utama adn struktur dasar dari seluruh Alkitab. Kami memberikan diri kami untuk menikmati Engkau bagi bangunan-Mu.”

HARUS MEMPERHATIKAN PERKATAAN NUBUAT KITAB SUCI

SEPERTI PELITA YANG BERSINAR DI TEMPAT GELAP,

SAMPAI FAJAR MENYINGSING DAN BINTANG PAGI TERBIT DI DALAM HATI KITA;

FIRMAN ALLAH BERSINAR DI DALAM KEGELAPAN KITA

UNTUK MENYELAMATKAN KITA AGAR TIDAK MENJADI

“BINTANG-BINTANG YANG MENGEMBARA”

DAN UNTUK MENYUSUN KITA MENJADI BINTANG-BINTANG YANG HIDUP,

MENGEMBAN KESAKSIAN YESUS YANG HIDUP

Kita harus memperhatikan perkataan nubuat Kitab Suci seperti pelita yang bersinar di tempat gelap, sampai fajar menyingsing dan bintang pagi terbit di dalam hati kita; firman Allah bersinar di dalam kegelapan kita untuk menyelamatkan kita agar tidak menjadi “bintang-bintang yang mengembara” dan untuk menyusun kita menjadi bintang-bintang yang hidup, mengemban kesaksian Yesus yang hidup (2 Ptr. 1:19-21; Yud. 13; Why. 1:20; 2:28). Wahyu 1:20 menyebutkan tujuh bintang dan tujuh kaki dian emas. Tujuh bintang adalah para utusan gereja-gereja, mereka yang hidup di dalam realitas kenaikan Kristus dan yang dipenuhi dengan Roh yang diintensifkan tujuk kali ganda untuk bersinar dengan kuat bersama Allah Tritunggal.

Bintang-bintang yang Mengembara adalah Mereka yang Tidak secara Solid Tertanam

di dalam Kebenaran yang Tak Berubah tentang Wahyu Surgawi

melainkan Mengembara di antara Umat Allah yang seperti Bintang

Bintang-bintang yang mengembara adalah mereka yang tidak secara solid tertanam di dalam kebenaran yang tak berubah tentang wahyu surgawi melainkan mengembara di antara umat Allah yang seperti bintang (Yud. 12-13). Kita perlu terusun dengan kebenaran sedikit demi sedikit. Sewaktu kita membaca dan mendoa-bacakan Alkitab serta membaca dan mendoakan ministri yang membuka Alkitab, kita akan secara bertahap tersusun dengan kebenaran, yang akan menyelamatkan kita dari menjadi bintang yang mengembara. Kita perlu menjadi orang yang secara solid tertanam di dalam kebenaran saat ini dari pemulihan Tuhan saat ini.

Para Pengikut Kristus yang Setia adalah Bintang-bintang yang Bersinar dan Hidup,

Mereka yang Mengikuti Visi yang Surgawi, Hidup, Terkini, dan Instan

tentang Kristus sebagai Bintang yang Bersinar dan Hidup

Para pengikut Kristus yang setia adalah bintang-bintang yang bersinar dan hidup, mereka yang mengikuti visi yang surgawi, hidup, terkini, dan instan tentang Kristus sebagai Bintang yang bersinar dan hidup (Bil. 24:17; Why. 22:16-17; Mat. 2:2-12; Dan. 12:3). Kristus adalah Bintang yang bersinar dan hidup di dalam roh kita, dan kita mengikuti Dia sama seperti orang majus mengikuti bintang-Nya. Bintang Kristus memimpin orang majus kepada kedatangan-Nya pada kali pertama; melalui mengalami Kristus sebagai bintang yang hidup, menikmati dan mengikuti Dia, kita akan dipimpin kepada kedatangan-Nya untuk kali kedua.

Bintang-bintang yang Hidup itu adalah para Utusan Gereja,

Mereka yang Menikmati Kristus yang Pneumatik sebagai Utusan Allah

dan sebagai Berita yang Segar dari Allah sehingga Mereka dapat Menyalurkan

Kristus yang Segar dan yang Hari ini ke dalam Umat Allah bagi Kesaksian Yesus

Bintang-bintang yang hidup itu adalah para utusan gereja, mereka yang menikmati Kristus yang pneumatik sebagai Utusan Allah dan sebagai berita yang segar dari Allah sehingga mereka dapat menyalurkan Kristus yang segar dan yang hari ini ke dalam umat Allah bagi kesaksian Yesus (Why. 1:20; 2:1; 3:1; Mal. 3:1-3). Adalah luar biasa untuk berdoa, “Tuhan, aku ingin menikmati Engkau sebagai Utusan Allah hari ini. Aku ingin mendapat berita yang segar dari Engkau hari ini. Berbicaralah padaku, Tuhan.” Menikmati Tuhan dengan cara ini menjadikan kita utusan gereja-gereja. Tuhan tidak bisa berbicara kepada gereja-gerjea tanpa utusan-utusan. Setiap surat di dalam Wahyu 2 dan 3 dimulai dengan, “kepada utusan” (2:1, 8, 12, 18; 3:1, 7, 14, Tl.). Agar Tuhan ada jalan untuk berbicara kepada gereja-gereja, haruslah ada orang yang membayar harga untuk mengontaki Kristus sebagai Utusan Allah, untuk menerima satu berita yang segar dari Allah, dan untuk membicarakan berita yang segar dari Allah kepada umat Allah. Untuk alasan inilah, setiap hari kita perlu meluangkan waktu di dalam Firman dan ministri. Kita perlu menemukan satu poin dan mendoakannya, “mengunyah” dan mencernanya, sampai kita dipenuhi, diilhami, berbaur, dan dierapi olehnya. Kemudian ketika kita datang bersidang, kita akan memiliki sesuatu untuk dinubuatkan. “Siapa yang bernubuat, ia membangun jemaat” (1 Kor. 14:4).

Bintang-bintang yang Hidup itu adalah Mereka yang Memberkati Umat Allah;

Semakin Banyak Kita Memuji Tuhan bagi Umat Allah dan

Berbicara dengan Positif mengenai Gereja di dalam Iman, semakin Banyak Kita Menerima Berkat Allah,

Tetapi Mereka yang Berbicara secara Negatif Meletakkan Diri Mereka Sendiri di Bawah Kutuk

Bintang-bintang yang hidup itu adalah mereka yang memberkati umat Allah; semakin banyak kita memuji Tuhan bagi umat Allah dan berbicara dengan positif mengenai gereja di dalam iman, semakin banyak kita menerima berkat Allah, tetapi mereka yang berbicara secara negatif meletakkan diri mereka sendiri di bawah kutuk (Bil. 24:9b; Kej. 12:2-3; 22:17; Mat. 12:34-37). Jika kita memuji Tuhan untuk semua kaum saleh, kita akan diberkati. Jika tidak, kita akan kehilangan berkat. Ketika musuh bani Israel berusaha menyuruh Bileam untuk mengutuk mereka, sebaliknya ia berkata, “Diberkatilah orang yang memberkati engkau, dan terkutuklah orang yang mengutuk engkau!” (Bil. 24:9). Di dalam nubuat Bileam, Kristus terlihat sebagai Bintang (ay. 17). Di dalam Kejadian 12:2-3 Tuhan memberi tahu Abraham, “Aku akan ... memberkati engkau ... dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau.” Prinsip ini diterapkan kepada semua anak-anak Abraham, baik keturunan bumiah-Nya dan keturunan surgawi-Nya, gereja (22:17). Jika kita memberkati gereja, kita akan diberkati. Mereka yang berbicara secara negatif mengenai gereja menaruh dirinya di bawah kutuk. Seekor ayam memiliki daging, tulang, bulu, dan kotoran. Namun, jika kita akan makan ayam, kita tidak terfokus pada tulang, bulu, dan kotoran melainkan pada daging. Sama halnya, di dalam setiap gereja lokal mungkin ada “bulu,” “tulang,” dan “kotoran,” tetapi ada juga “daging” yang kaya, yang adalah Kristus. Setiap kaum saleh juga memiliki “bulu” dan “tulang.” Semakin kita mengenal kaum saleh, semakin kita akan melihat kesalahan mereka. Namun, setiap kaum beriman juga memiliki satu bagian Kristus. Kita harus memperhatikan hanya untuk melihat Kristus di dalam kaum saleh. Ketika kita hanya memperhatikan untuk melihat Kristus, kita akan menyadari bahwa kaum saleh itu ajaib dan bahwa gereja itu mulia.

Bintang-bintang yang Hidup itu Memiliki “Ketetapan Hati yang Besar”

dan “Pertimbangan Hati yang Besar”;

Mereka adalah Pengasih-pengasih Allah, yang seperti Bintang-bintang yang Berperang

”dari Peredarannya,” Berperang bersama Allah Melawan Musuh-Nya

sehingga Mereka bisa “Bagaikan Matahari Terbit dalam Kemegahannya”

Bintang-bintang yang hidup itu memiliki “ketetapan hati yang besar” dan “pertimbangan hati yang besar”; mereka adalah pengasih-pengasih Allah, yang seperti bintang-bintang yang berperang “dari peredarannya,” berperang bersama Allah melawan musuh-Nya sehingga mereka bisa “bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya” (Hak. 5:15-16, 20, 31; Dan. 11:32; Mat. 13:43). Setelah Barak mengalahkan musuh Allah, Debora bernubuat bahwa di antara pasukan Ruben yang berperang bersama Barak ada “ketetapan hati yang besar” dan “pertimbangan hati yang besar” (Hak. 5:15, 16, Tl.). Untuk membuat satu ketetapan yang besar adalah satu membuat satu keputusan yang teguh dengan mengambil Kristus sebagai kurban bakaran kita, kemutlakkan kita. Kita bisa berdoa, “Tuhan, aku membuat satu keputusan yang teguh bahwa mulai sekarang seluruh hidupku adalah bagi Kristus dan gereja.” Memiliki pertimbangan yang besar adalah merencanakan satu rencana yang besar. Sewaktu kita berdoa, suatu hari Tuhan mungkin memberi kita beban bagi pergerakan-Nya ke satu negara tertentu. Dia kemudian mungkin memimpin kita untuk mempelajari bahasanya dengan fasih dan bahkan mempelajari karakter dan nasional dan watak orangnya sehingga kita bisa memberitakan Injil di sana. Paulus berkata di dalam 1 Korintus 9:22, “Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin menyelamatkan beberapa orang dari antara mereka.” Kita mungkin memiliki satu rencana untuk membaca Alkitab sepanjang tahun yang akan datang. Kita mungkin berdoa, “Tuhan, aku ingin meluangkan waktu dengan Engkau setiap hari di dalam tahun yang akan datang.” Kita juga mungkin berdoa, “Bagi bangunan Allah, aku memberikan diriku bagi hidup gereja.” Jika kita berdoa seperti itu, Tuhan akan senang dan akan menjadi sang Amin.

Debora berkata pada akhir nubuatnya, “Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya” (Hak. 5:31). Ini mengacu kepada para pemenang. Mengenai para pemenang, Matius 13:43 berkata, “Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam Kerajaan Bapa mereka.” Bercahaya seperti matahari adalah menjadi Allah sebagai Yang bersinar di dalam hayat, sifat, dan ekspresi-Nya.

SAAT KITA BERJUANG BAGI IMAN, MENIKMATI TRINITAS TERPUJI,

DAN MENGAMBIL JALAN KETERANGKATAN

MELALUI MEMPERHATIKAN PERKATAAN NUBUAT,

SANDARAN KITA ADALAH DI DALAM TUHAN DAN ALLAH KITA YANG MUSTIKA

SEBAGAI DIA YANG MAMPU MENJAGA KITA AGAR JANGAN TERSANDUNG

DAN MENEMPATKAN KITA DI HADAPAN KEMULIAAN-NYA

TANPA CACAT DI DALAM PENINGGIAN;

KITA MEMBERIKAN SEMUA PUJIAN KITA KEPADA DIA—

“ALLAH YANG ESA, JURUSELAMAT KITA MELALUI YESUS KRISTUS, TUHAN KITA,

BAGI DIALAH KEMULIAAN, KEBESARAN, KEKUATAN DAN KUASA

SEBELUM SEGALA ABAD DAN SEKARANG DAN SAMPAI SELAMA-LAMANYA. AMIN.”

Saat kita berjuang bagi iman, menikmati Trinitas Terpuji, dan mengambil jalan keterangkatan melalui memperhatikan perkataan nubuat, sandaran kita adalah di dalam Tuhan dan Allah kita yang mustika sebagai Dia yang mampu menjaga kita agar jangan tersandung dan menempatkan kita di hadapan kemuliaan-Nya tanpa cacat di dalam peninggian; kita memberikan semua pujian kita kepada Dia—“Allah yang esa, Juruselamat kita melalui Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dialah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya. Amin” (Yud. 24-25; Zak. 2:8; Mzm. 17:8; Ul. 32:10; 1 Ptr. 1:5; 2 Tim. 1:12; cf. 1 Ptr. 4:19).—E. M.