← Daftar isi Rencana Allah · bab 9/11

YERUSALEM BARU -- PERAMPUNGAN SEMPURNA (2)

Pembacaan Alkitab: Why. 1:1; 21:1-3, 10-21

KUNCI UNTUK MENGERTI TULISAN YOHANES

Kitab Wahyu sulit dimengerti. Itulah sebabnya Allah dalam hikmat-Nya menggunakan tanda-tanda (lambang-lambang) agar kitab Wahyu dapat kita mengerti. Wahyu 1:1 mengatakan bahwa Allah mengaruniakan wahyu Yesus Kristus kepada-Nya supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya; "Ia telah menyatakannya (dengan tanda-tanda — Tl.)". Tanda adalah gambar. Pada saat mengajar anak-anak kecil, kita membuat segala sesuatu dimengerti oleh mereka dengan gambar-gambar. Kadang-kadang ketika berbicara, saya membuat segala sesuatu menjadi mudah dimengerti melalui diagram-diagram. Yohanes menerima wahyu mengenai hal-hal yang begitu ilahi, begitu misterius, begitu dalam, sehingga tidak ada kata-kata manusia yang dapat menjelaskannya secara tepat. Karena itu wahyu tersebut telah dinyatakan dengan tanda-tanda (lambang-lambang).

Bukan hanya kitab Wahyu, Injil Yohanes juga merupakan sebuah kitab tanda (lambang). Dalam buku pelajaran hayat Injil tersebut, saya telah menunjukkan bahwa istilah mujizat tidak digunakan dalam kitab itu. (Terjemahan King James menerjemahkannya menjadi "mujizat", terjemahan yang tepat adalah "tanda-tanda".) Tuhan mengubah air menjadi anggur adalah suatu mujizat, tetapi Yohanes menyebutnya tanda (2:11), ini menunjukkan bahwa ia mengandung makna tertentu. Tuhan mengubah air menjadi anggur menandakan bahwa Ia mengubah kematian menjadi kehidupan. Kebangkitan Lazarus merupakan suatu mujizat, tetapi Yohanes menyebutnya tanda (mujizat — LAI) (11:47).

Yohanes 1:14 membicarakan Firman menjadi daging dan diam (bertabernakel) di antara kita. "Bertabernakel" merupakan satu kata kerja. Tanda ini memberi kita kunci untuk mengerti bagaimana Tuhan Yesus hidup di bumi. Ia hidup di bumi sebagai tabernakel Allah. Agar mengerti tabernakel sepenuhnya, kita harus kembali ke kitab Keluaran, pada beberapa pasal yang menggambarkan tabernakel. Tabernakel Allah yang berada di tengah-tengah umat-Nya, bukan hanya merupakan tempat Allah berdiam, tetapi juga merupakan tempat orang-orang yang melayani-Nya dapat masuk untuk tinggal bersama Dia. Inilah Yesus! Ketika berada di bumi, Yesus sedang bertabernakel. Allah tinggal di dalam Dia dan semua orang yang melayani Allah, pecinta-pecinta Yesus, dapat masuk ke dalam Dia untuk tinggal bersama-sama dengan Allah. Satu kata saja sebagai tanda (kata tabernakel — red.) dapat menggambarkan apa yang tidak dapat diekspresikan dengan kata-kata biasa.

Dalam Injil Yohanes, Tuhan Yesus juga berkata, "Akulah pintu" (10:7). Apakah Anda percaya bahwa Tuhan benar-benar adalah sebuah pintu yang memiliki tiang dan ambang atas? Pintu adalah sebuah tanda yang berarti bahwa Ia sangat terbuka bagi orang-orang yang mau masuk dan keluar.

Kita harus menekankan ayat pertama dari kitab Wahyu yang mengatakan bahwa wahyu ilahi diberikan kepada Yesus Kristus dan Ia menyatakannya dengan tanda-tanda. Ini adalah kunci untuk membuka seluruh kitab tersebut. Tanpa kunci ini, kitab Wahyu tertutup bagi kita. Untuk mengerti makna sesungguhnya dari kitab ini, kita harus mengerti tanda-tanda tersebut.

TANDA UTAMA DALAM KITAB WAHYU

Kaki Dian

Tanda pertama dalam kitab Wahyu yang dilihat oleh rasul Yohanes adalah kaki dian. Dalam pasal satu kita diberi tahu bahwa pada hari Tuhan, di pulau Patmos, Yohanes melihat tujuh kaki dian emas. Ia melihat kaki dian-kaki dian. Ketujuh kaki dian adalah ketujuh gereja (1:20). Untuk menggambarkan apa itu gereja dalam makna rohaninya perlu ribuan buku. Tetapi satu tanda, satu gambar saja, lebih baik dari ribuan kata.

Apakah gereja? Gereja seharusnya seperti apa? Lihatlah kaki dian. Gereja harus emas. Emas menandakan esens Allah, sifat Allah. Hal ini berarti gereja harus mempunyai esens Allah sebagai substansinya. Emas ini harus berbentuk kaki dian, kaki dian memancarkan sinar dengan kekuatan tujuh ganda. Beberapa lampu mempunyai tiga macam tombol, tetapi apakah Anda pernah melihat lampu dengan tujuh macam tombol? Kaki dian mempunyai sinar tujuh ganda. Sifat emas menandakan esens Allah, bentuk kaki dian menandakan Kristus sebagai perwujudan Allah Tritunggal, dan ketujuh lampu adalah ketujuh Roh itu (4:5).

Ketrinitasan ada di sini — Roh itu memancarkan sinar, Kristus adalah perwujudannya, dan Allah sebagai esensnya. Apakah gereja? Gereja merupakan suatu komposisi, suatu susunan Allah Tritunggal untuk memancarkan kebajikan dan atribut Allah dalam kegelapan malam supaya semua orang dapat melihat terang. Kita perlu berita demi berita untuk menggambarkan gereja, tetapi hikmat Allah telah menunjukkan kepada kita sebuah kaki dian. Orang-orang kudus, inilah gereja. Lihatlah gereja! Kaki dian adalah gereja! Gereja bukan lumpur, tetapi emas. Sesuatu yang berasal dari sifat ilahi Allah. Sesuatu yang bukan tanpa bentuk, tetapi berbentuk. Sesuatu yang tidak gelap, tetapi bersinar. Inilah gereja!

Tujuh Bintang

Tanda kedua adalah tujuh bintang yang menyertai kaki dian. Ketujuh bintang adalah para pembawa pesan atau malaikat-malaikat gereja (1:20). Di dalam setiap gereja ada beberapa saudara yang adalah bintang-bintang dalam kerohanian. Mereka adalah bintang-bintang yang bersinar. Dalam Daniel 12:3 mereka yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran akan bersinar seperti bintang-bintang. Dalam Matius 13:43 Tuhan Yesus mengatakan bahwa orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari di dalam kerajaan yang akan datang. Tetapi para pembawa pesan gereja tidak perlu menunggu sampai zaman yang akan datang baru bersinar. Mereka bersinar sekarang juga. Saya harap semua penatua di dalam gereja-gereja merupakan bintang-bintang yang bersinar. Ketika orang-orang pergi kepada mereka, orang-orang tersebut seharusnya datang ke dalam terang. Sebuah bintang bersinar dan menerangi pada saat gelap. Dengan melihat bintang-bintang, kita dapat mengetahui orang macam apakah yang seharusnya menjadi pemimpin-pemimpin di dalam gereja.

Permata Yaspis — Penampilan Allah

Setelah Yohanes melihat kaki dian-kaki dian dan bintang-bintang yang bersinar, dia melihat sebuah takhta di surga dan Dia yang duduk di takhta tersebut. Dia yang duduk di atas takhta tersebut kelihatannya seperti permata yaspis (4:2-3). Yohanes melihat Allah dalam bentuk permata yaspis. Yaspis berwarna hijau indah yang melambangkan kepenuhan hayat. Kepenuhan hayat merupakan penampilan Allah. Yaspis juga merupakan penampilan Yerusalem Baru (21:11) karena seluruh dindingnya dibangun dengan permata yaspis (21:18). Hal ini menunjukkan bahwa seluruh kota mempunyai penampilan Allah, karena ia disusun oleh mereka yang telah diubah ke dalam gambar-Nya.

Kita harus membaca Wahyu 21:11 dan 2 Korintus 3:18: "Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya dalam kemuliaan yang semakin besar." Wahyu 21:11 menggambarkan Yerusalem Baru sebagai kota yang "penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal". Seluruh kota memiliki kemuliaan Allah dan bersinar seperti yaspis, hal ini disebabkan karena seluruh komposisi Yerusalem Baru telah diubah ke dalam gambar Allah. Dia yang duduk di atas takhta, yaitu Allah, kelihatannya seperti permata yaspis dan seluruh kota kelihatannya seperti permata yaspis. Hal ini berarti Kejadian 1:26 telah digenapi: "Baiklah kita menjadikan manusia menurut gambar Kita". Manusia pada waktu itu sebenarnya adalah untuk menjadi ekspresi Allah dan hal ini digenapi dalam Yerusalem Baru. Seluruh Yerusalem Baru merupakan gambar, ekspresi Allah. Penampilan Allah dapat digambarkan dengan satu tanda, yaitu permata yaspis.

Singa dari Suku Yehuda

Dalam Wahyu 5:5 Yesus Kristus disebut sebagai singa dari suku Yehuda. Sebutan ini menandakan bahwa Kristus adalah Raja yang menang. Semua makhluk hidup berada di bawah Dia. Tidak ada yang dapat menaklukkan Dia; tetapi sebaliknya Ia menaklukkan segala sesuatu. Ketika untuk kali pertama saya melihat singa di kebun binatang, saya takut kalau pagarnya tidak cukup kuat untuk menahan makhluk ciptaan yang berani dan perkasa itu. Tidak ada sesuatu atau seorang pun yang dapat menaklukkan Kristus kita.

Anak Domba

Kristus bukan hanya singa tetapi juga Anak Domba (5:6). Bagi Iblis dan semua musuh, Kristus adalah seekor singa, tetapi bagi kita, orang-orang yang ditebus, Ia adalah Anak Domba. Apakah Anda takut kepada seekor anak domba? Anda mungkin takut kepada singa, tetapi Anda akan merasa sayang kepada anak domba. Bagi kita, Tuhan Yesus adalah Anak Domba, Anak Domba yang menebus. Tetapi berpikir bahwa dalam kekekalan, pada takhta Allah, benar-benar terdapat seekor anak domba yang mempunyai empat kaki dan ekor bukanlah cara yang tepat untuk memahami Alkitab. Saya mengingatkan Anda sekali lagi bahwa kitab Wahyu adalah kitab tanda.

Perempuan Universal dan Anak Laki-laki

Perempuan universal dalam Wahyu 12 berselubungkan matahari. Di atas kepalanya ada sebuah mahkota dari dua belas bintang, dan bulan di bawah kakinya (ay. 1). Siapakah perempuan ini? Kebanyakan penafsir fundamental mengikuti ajaran kaum Saudara, mereka mengatakan bahwa perempuan ini melambangkan Israel dan anak laki-lakinya melambangkan Kristus. Tetapi, setelah banyak mempelajari Firman, dari pasal 12 kami tahu bahwa perempuan ini tersusun dari dua golongan: mereka yang memelihara perintah-perintah Allah dan mereka yang memiliki kesaksian Yesus (ay. 17). Orang-orang yang memelihara hukum Taurat adalah orang-orang Yahudi, Israel. Orang-orang yang memiliki kesaksian Yesus adalah kaum beriman Perjanjian Baru. Karena itu, mengatakan bahwa perempuan ini melambangkan Israel hanya setengah benar; karena hal itu berarti mereka telah mengesampingkan kaum beriman Perjanjian Baru.

Mengatakan bahwa anak laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan tersebut adalah Yesus Kristus merupakan kesalahan. Setelah anak laki-laki ini terangkat ke takhta Allah, terdapatlah masa tiga setengah tahun. Seribu dua ratus enam puluh hari dalam 12:6 merupakan masa tiga setengah tahun, yang semuanya setuju bahwa masa tersebut merupakan masa kesusahan besar. Apakah masa kesusahan besar datang tepat setelah kenaikan Tuhan? Masa itu masih belum datang! Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa anak laki-laki di sini bukan Tuhan Yesus.

Perempuan tersebut mengenakan mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia berselubungkan matahari dan bulan berada di bawah kakinya. Hal-hal ini menunjukkan tiga golongan umat tebusan Allah: Bapa-bapa leluhur, bangsa Israel, dan kaum beriman Perjanjian Baru. Bapa-bapa leluhur diwakili oleh bintang-bintang, bangsa Israel diwakili oleh bulan, dan kaum beriman Perjanjian Baru diwakili oleh matahari. Karena itu, perempuan ini merupakan susunan dari semua orang tebusan Allah termasuk Bapa-bapa leluhur, kaum beriman Perjanjian Lama, dan semua orang kudus Perjanjian Baru.

Anak laki-laki merupakan para pemenang dari semua generasi. Sepanjang abad terdapat sejumlah kecil umat Allah yang martir. Mereka adalah orang-orang yang setia. Segera setelah masa kesusahan besar, orang-orang kudus yang martir ini akan dibangkitkan dan diangkat ke takhta Allah.

Naga Merah Padam yang Besar dan Binatang Liar

Naga merah padam yang besar menandakan si Pendakwa, Satan (12:3-4). Pada permulaan pasal berikutnya terdapat binatang yang keluar dari laut besar, Laut Tengah (13:1-2). Ini adalah Antikristus. Sesungguhnya ia adalah kaisar yang akan datang, kaisar terakhir dari kekaisaran Roma yang dibangkitkan.

Tuaian dan Buah Sulung

Di bumi, Allah mempunyai tuaian. Tuaian ini menandakan semua orang kudus Perjanjian Baru yang hidup di bumi pada saat kedatangan Tuhan yang kedua kalinya (14:15). Dari antara kaum beriman yang hidup ini akan muncul buah sulung. Mereka ini adalah para pemenang yang hidup di antara kaum beriman tetapi telah matang duluan sehingga menjadi buah sulung.

Babel Besar

Babel besar disebut pelacur besar (17:1, 5) karena hubungan-hubungan dosanya dengan pemimpin-pemimpin dunia demi keuntungannya.

Istri Anak Domba

Istri Anak Domba, mempelai perempuan dalam Wahyu 19:7, adalah semua pemenang dari semua generasi, termasuk mereka yang hidup di zaman Perjanjian Lama, yaitu para pemenang yang telah mati dan dibangkitkan ditambah para pemenang yang masih hidup (buah sulung). Mereka akan menjadi mempelai perempuan-Nya dalam masa seribu tahun (20:4-6). Satu hari itu akan menjadi hari pernikahan. Seribu tahun bagi Tuhan adalah satu hari (2 Ptr. 3:8). Seluruh milenium akan menjadi hari pernikahan. Pada hari pernikahan, istri adalah mempelai perempuan; setelah hari tersebut berlalu, ia menjadi seorang istri. Setelah milenium, dalam kekekalan, mempelai perempuan adalah seorang istri. Semua pemenang di antara umat tebusan Allah akan menjadi mempelai perempuan-Nya.

Yerusalem Baru

Sekarang kita sampai pada tanda terakhir, yaitu Yerusalem Baru. Yerusalem Baru adalah totalitas dari semua kaki dian. Pada permulaan buku ini terdapat tujuh kaki dian, kaki dian-kaki dian lokal pada zaman ini. Pada akhir kitab ini terdapat totalitas, gabungan kaki dian, bukan yang bersifat setempat tetapi yang kekal, yang universal. Kitab Wahyu dimulai dengan kaki dian dan diakhiri dengan kaki dian. Kaki dian merupakan tanda (lambang) dari gereja-gereja; Yerusalem Baru juga merupakan sebuah kaki dian, tanda (lambang) dari tempat kediaman Allah.

MENINJAU KEMBALI TANDA-TANDA

Semua tanda-tanda ini merupakan pemandangan utama pada "layar televisi ilahi" kitab Wahyu. "Siaran televisi" itu dimulai dengan tujuh kaki dian yang melambangkan gereja-gereja; kemudian diikuti dengan tujuh bintang yang bersinar yang melambangkan para pembawa pesan dari semua gereja; sesudah itu permata yaspis, yang melambangkan penampilan Allah; kemudian seekor singa dan seekor anak domba yang keduanya melambangkan Kristus; lalu seorang perempuan universal dengan dua belas bintang pada kepalanya, ia diselubungi matahari dan bulan berada di bawah kakinya; kemudian seekor naga merah padam yang siap untuk menelan anak perempuan tersebut; kemudian seorang anak laki-laki yang dilahirkan oleh perempuan tersebut dan yang terangkat ke takhta Allah; kemudian seekor binatang buas yang keluar dari Laut Tengah; kemudian tuaian di bumi dan dari tuaian ini keluarlah buah sulung; kemudian pelacur besar, Babel besar, yang mengerikan, buruk, dan tidak menyenangkan; tetapi kemudian, Haleluya, istri yang cantik, mempelai perempuan; dan akhirnya, sesuatu yang lebih cemerlang, sesuatu yang lebih besar, Yerusalem Baru, yaitu tabernakel Allah sama seperti Yesus yang merupakan tabernakel Allah ketika Ia berada di bumi.

Yerusalem Baru ini bukan hanya tabernakel Allah tetapi juga istri Anak Allah, Yesus Kristus. Allah akan mempunyai sebuah tabernakel dan Kristus akan mempunyai seorang istri. Baik tabernakel maupun istri adalah sama: Yerusalem Baru.

MEMAHAMI KITAB WAHYU

Kitab Wahyu adalah kitab yang berisikan tanda-tanda penting. Jika Anda memahami tanda-tanda tersebut, Anda memahami seluruh kitab Wahyu. Dengan gambaran yang begitu jelas dan saksama, apakah Anda percaya bahwa Yerusalem Baru akan menjadi sebuah kota fisik yang dibangun oleh Allah sepanjang abad? Kitab Wahyu adalah kitab tanda. Setiap butir utamanya merupakan suatu tanda. Tanda tidak seharusnya ditafsirkan secara harfiah. Apakah Anda berpikir bahwa gereja benar-benar adalah sebuah kaki dian dengan tujuh lampu yang bersinar? Pengertian yang demikian itu salah. Apakah Anda percaya bahwa Yesus Kristus benar-benar adalah seekor Anak Domba? Ini tidak masuk akal. Apakah Anda percaya bahwa Kaisar yang akan datang dari kekaisaran Romawi benar-benar adalah seekor binatang yang keluar dari Laut Tengah dan melompat ke tepi pantai? Apakah Anda percaya bahwa istri Anak Domba dalam kitab Wahyu 19 adalah seorang perempuan yang dihiasi dengan gaun pengantin yang panjang? Sekali lagi, tidaklah masuk akal untuk memahami Alkitab dengan cara demikian.

MENAFSIRKAN YERUSALEM BARU

Kemudian, bagaimana dengan Yerusalem Baru? Dengan prinsip yang sama, tidaklah masuk akal jika berpikir bahwa Yerusalem Baru yang akan datang merupakan sebuah kota fisik. Jangan hanya karena buku ini menggunakan singa sebagai lambang Kristus yang adalah Raja yang menang, maka kita berpikir bahwa Kristus adalah seperti seekor singa di kebun binatang. Singa ini bukan benar-benar singa — ia adalah lambang Kristus sebagai Raja yang menang. Anak Domba bukan benar-benar anak domba — ia adalah lambang Kristus sebagai Penebus. Demikian pula Yerusalem Baru merupakan satu tanda; ia melambangkan sesuatu yang rohani.

Dalam menafsirkan Alkitab, kita harus mempunyai prinsip, yaitu selalu konsisten. Jika kita tidak menafsirkan tanda-tanda yang lain secara harfiah, kita juga harus yakin bahwa Yerusalem Baru bukanlah kota fisik untuk tempat tinggal kita. Tafsiran semacam ini sama sekali alamiah. Jika Anda tidak menafsirkan Kristus sebagai seekor singa yang mempunyai empat kaki dan ekor, mengapa Anda berpikir bahwa Yerusalem Baru adalah sebuah kota yang sesungguhnya? Singa adalah satu tanda dan kota Yerusalem juga adalah satu tanda.

KUNCI UNTUK MEMASUKI KITAB WAHYU

Wahyu 1:1 adalah ayat kunci untuk memasuki seluruh kitab. Hanya satu kunci ini yang dapat membuka semua pintu. Kita mempunyai kunci utama. Kita dapat pergi ke pintu mana pun dan membukanya. Kita harus mengambil 1:1 sebagai kunci utama. Kunci utamanya adalah "dengan tanda-tanda." (Terjemahan langsung, terjemahan bahasa Indonesia tidak mencantumkannya). Semua gambar dalam kitab ini adalah tanda-tanda.

Guru-guru fundamental pasti setuju bahwa Kristus sebagai seekor anak domba tidak mempunyai empat kaki dan ekor mungil. Mereka tidak akan membuat tafsiran yang begitu tidak masuk akal. Tetapi bagaimana dengan Yerusalem Baru? Ketika muda, saya juga percaya bahwa Yerusalem Baru adalah sebuah rumah surgawi yang sangat besar dan indah. Saya sangat bahagia dengan kepercayaan tersebut, bahwa pada suatu hari kita akan berada di dalam rumah yang sangat besar dan indah. Sebagai bagian dari pemberitaan Injil, kita mempunyai sebuah lagu mengenai bagaimana kita akan memasuki pintu gerbang mutiara dan berjalan di atas jalan emas. Tetapi secara perlahan-lahan, ketika mempelajari Alkitab, saya menemukan bahwa Yerusalem Baru adalah seorang istri. Siapakah yang akan menikahi kota yang sebenarnya? Bahkan jika kota tersebut mempunyai dua belas pintu gerbang mutiara dan sebuah jalan emas, apakah seseorang akan menikahinya?

Saat mempelajari dan memahami Firman kudus, orang-orang Kristen sering menggunakan pikiran alamiah mereka. Di langit baru dan bumi baru, kita akan tinggal dalam Yerusalem Baru. Tetapi kita tidak seharusnya mengira bahwa Yerusalem Baru adalah sebuah kota fisik. Ia adalah Allah yang akan menjadi tempat tinggal kita. Ketika muda, saya mendengar beberapa guru Alkitab membahas mengenai apa yang akan kita makan dan di mana letak kamar kecil dalam "rumah sorgawi yang sangat besar dan indah" tersebut. Betapa kasihannya jika kita membawa masuk pikiran alamiah kita!

Hari ini saya bertanya kepada beberapa orang kudus, apakah mereka berada dalam gereja. Jika mereka menjawab ya, saya menyuruh mereka untuk menunjukkan gereja kepada saya. Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa gereja adalah rumah Allah, dan Allah tinggal di dalam rumah-Nya; tetapi di manakah gereja? Gereja sebagai rumah Allah dan rumah kita bukan suatu bangunan fisik, tetapi merupakan susunan yang terdiri dari kaum beriman yang hidup (1 Ptr. 2:5). Ia bukan suatu entitas fisik, tidak berhayat, tetapi suatu susunan organik yang terdiri dari orang-orang yang hidup. Ia ada di mana pun kaum beriman berkumpul bersama. Gereja sebagai rumah Allah hari ini merupakan susunan yang terdiri dari orang-orang yang hidup; satu manusia korporat. Hal ini nyata pada zaman ini dan akan nyata dalam kekekalan.

Konsisten Terhadap Seluruh Alkitab

Pemikiran mengenai rumah Allah juga terdapat dalam Perjanjian Lama. Dalam Mazmur 90:1 Musa berkata, "Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun temurun."

Tuhan Yesus mengatakan, jika seseorang mengasihi Dia, Bapa-Nya dan Dia akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengannya (Yoh. 14:23). Kita akan menjadi tempat tinggal-Nya dan Ia akan menjadi tempat tinggal kita. Dalam Yohanes 15, Tuhan Yesus mengatakan, "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu" (ay. 4). Satu Yohanes 3:24 dan 4:15 mengatakan bahwa kita tinggal di dalam Allah dan Allah tinggal di dalam kita.

Dalam zaman gereja ini, kita sedang tinggal di dalam Allah dan Allah sedang tinggal di dalam kita. Percayakah Anda bahwa ketika memasuki langit baru dan bumi baru, kita akan keluar dari Allah dan Allah akan keluar dari kita? Jika pada zaman ini kita dapat berdiam di dalam Allah, menjadikan Dia sebagai tempat kediaman kita, dan dapat memberikan tempat kepada Allah di dalam kita, maka tidaklah masuk akal jika kita berpikir bahwa dalam kekekalan kita tidak akan lagi memiliki-Nya sebagai tempat kediaman kita, tetapi sebaliknya hidup di dalam sebuah kota emas sebagai tempat kediaman kita.

Kita harus percaya bahwa berhuninya kita di dalam Allah dan berhuninya Allah di dalam kita akan ditingkatkan, diperluas, dan ditinggikan sampai kepada puncaknya. Itulah sebabnya Yohanes mengatakan bahwa ia melihat kota tersebut tidak mempunyai bait di dalamnya, "Sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya" (Why. 21:22). Ini merupakan petunjuk yang kuat bahwa kota tersebut bukanlah suatu kota fisik. Di dalam kota ini, baitnya adalah satu persona. Persona ini adalah Allah dan Anak Domba. Allah Tritunggal sendiri akan menjadi bait. Jika bait di dalam kota adalah satu persona, percayakah Anda bahwa kota tersebut adalah sesuatu yang tidak berhayat?

Karena bait adalah seorang persona ilahi, yaitu Allah Tritunggal sendiri, maka kota tersebut pasti juga tersusun dari persona-persona. Sesungguhnya seluruh kota adalah Ruang Maha Kudus yang mempunyai tiga dimensi yang sama, (1 Raj. 6:20; Why. 21:16). Karena Allah Tritunggal akan menjadi bait dan seluruh kota akan menjadi Ruang Maha Kudus, maka kota tersebut tidak mungkin sesuatu yang bersifat fisik. Ia pasti merupakan suatu susunan yang organik.

Dalam zaman Perjanjian Baru, tempat kediaman Allah di bumi pertama-tama adalah Manusia tunggal, Yesus Kristus. Ia adalah tabernakel Allah. Setelah Dia, gereja adalah bait Allah (Ef. 2:21-22; 1 Kor. 3:16). Yesus, Manusia tunggal adalah tabernakel Allah, tempat kediaman Allah. Kemudian gereja sebagai manusia korporat menjadi bait Allah, tempat kediaman Allah. Inilah Perjanjian Baru. Setelah zaman Perjanjian Baru, pada waktu kita masuk ke dalam kekekalan, tempat kediaman Allah tidak akan berubah dari manusia yang hidup menjadi kota fisik yang tidak berhayat. Kita harus percaya bahwa manusia-manusia yang terbangun bersama menjadi tempat kediaman Allah ini akan diperluas dan ditingkatkan. Pada zaman yang akan datang akan terdapat perluasan dari manusia-manusia hidup ini sebagai tempat kediaman Allah.

Bukan Kota Sesungguhnya

Jika Yerusalem Baru adalah kota sesungguhnya yang terbuat dari emas, mutiara, dan batu-batu permata, berarti sebuah kota fisik menjadi kesimpulan dari seluruh kitab Wahyu. Hal ini tidak masuk akal. Allah telah bekerja selama berabad-abad. Pertama Ia menciptakan alam semesta. Kemudian Ia menciptakan manusia. Setelah itu Ia berinkarnasi untuk menebus manusia. Ia hidup di bumi, tersalib, kemudian bangkit, naik, dan mencurahkan diri-Nya sendiri sebagai Roh itu ke atas murid-murid-Nya. Kemudian murid-murid pergi memberitakan Injil. Banyak yang telah diselamatkan dan ditambahkan ke dalam gereja; mereka sedang dibangun menjadi sebuah Tubuh untuk mengekspresikan Kristus. Percayakah Anda bahwa pada akhirnya Allah hanya akan mendapatkan sebuah kota fisik? Apakah Anda mengira bahwa inilah maksud Allah?

Jika memang demikian kejadiannya, Allah adalah seorang arsitek yang kasihan. Melalui penciptaan, inkarnasi, ketersaliban, kebangkitan, dan kenaikan, melalui pembangunan-Nya atas gereja-gereja dan penyempurnaan-Nya atas orang-orang kudus dari generasi ke generasi, Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih besar daripada hanya sebuah kota besar yang sesungguhnya. Allah telah menciptakan sesuatu yang lebih bagus daripada sebuah kota — alam semesta. Sistim tata surya sangat indah, tetapi Allah tidak puas dengannya. Bagaimana mungkin Ia puas dengan sebuah kota bahkan sebuah kota yang ukurannya setengah Amerika Serikat? Menafsirkan visi yang demikian, tanda yang demikian, dengan cara yang alamiah adalah salah.

Gereja hari ini adalah rumah kita. Ketika kita datang pada gereja, kita pulang ke rumah. Gereja berada di dalam Allah. Kehidupan gereja yang memiliki Allah berada di mana-mana. Di Dallas, Houston, Hongkong, dan di seluruh bumi terdapat gereja-gereja. Haleluya! Ke manapun kita pergi, rumah kita berada di sana. Rumah kita adalah gereja. Mengapa kita mengkhawatirkan mengenai tempat tinggal kita dalam Yerusalem Baru. Kita tidak perlu khawatir mengenai hal ini. Allah tidak tertarik pada perkara-perkara yang bersifat fisik. Pemikiran yang bersifat fisik harus dienyahkan.

Tempat Kediaman Allah Sampai Selama-lamanya

Apa yang diperhatikan Allah adalah suatu susunan yang hidup dari orang-orang yang telah dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, diubah, dan dimuliakan oleh Dia. Mereka semua akan dibangun bersama untuk mengekspresikan Allah sampai kepada kekekalan. Ini akan memuaskan Allah sampai selama-lamanya. Satan akan berada dalam lautan api. Allah akan berada di dalam tempat kediaman-Nya yang hidup. Semua yang telah diciptakan, dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, dan diubah oleh Allah akan dimuliakan ke dalam gambar-Nya. Ia akan hidup di dalam mereka dan mereka akan hidup di dalam Dia. Tidak ada seorang pun yang dapat menerangkan dengan memadai konsep yang sedemikian dalam. Menakjubkan! Ini akan menjadi tempat kediaman Allah dan istri anak-Nya yang kekasih, Kristus. Tidak ada bangunan fisik yang bisa menjadi seorang istri. Seorang istri adalah sesuatu yang organik, seorang persona yang hidup.

Yerusalem Baru menandakan tempat kediaman Allah di langit baru dan bumi baru. Dalam Perjanjian Baru, tempat kediaman Allah di bumi pertama-tama adalah seorang Manusia tunggal, Yesus Kristus, yang dilambangkan oleh tabernakel (Yoh. 1:14), kemudian manusia korporat, gereja, yang dilambangkan oleh bait (1 Kor. 3:16). Di dalam langit baru dan bumi baru, tempat kediaman Allah, sebagai istri Anak Domba (Why. 21:9-10), juga adalah suatu susunan yang hidup dari orang-orang tebusan-Nya, terdiri dari orang-orang kudus Perjanjian Lama yang diwakili oleh dua belas suku, dan orang-orang kudus Perjanjian Baru yang diwakili oleh dua belas rasul (Why. 21:12, 14).

Orang-orang ini dibangun bersama menjadi tempat kediaman Allah, pertama-tama, mereka mengalami kelahiran kembali melalui kematian dan kebangkitan Kristus. Ini dilambangkan dengan pintu gerbang mutiara, jalan masuk mereka ke dalam kota. Sebuah mutiara dihasilkan oleh seekor tiram, makhluk ciptaan yang hidup di dalam air kematian. Ketika sebutir pasir melukai tiram, maka tiram tersebut akan mengeluarkan substansi untuk menyelubungi pasir sehingga membuat pasir tersebut menjadi mutiara. Luka tiram menandakan kematian dan pengeluaran cairan hayat yang menyelubungi butiran pasir tersebut menandakan hayat kebangkitan. Kematian dan kebangkitan Yesus membuat kita menjadi mutiara-mutiara melalui kelahiran kembali. Tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke dalam kerajaan Allah kecuali melalui kelahiran kembali (Yoh. 3:5).

Di dalam kota kudus, sifat Allah atau esens Allah menjadi elemen dasar kita, hal ini dilambangkan oleh emas (Why. 21:18b, 21b); kota tersebut adalah emas dan jalannya juga emas. Esens dari semua kaum beriman hanyalah diri Allah sendiri.

Melalui pekerjaan Roh itu, kita akan diubah ke dalam gambar Allah, hal ini dilambangkan oleh permata yaspis. Sifat Bapa (emas), penebusan Putra, dan kelahiran kembali kita (mutiara), serta pekerjaan pengubahan Roh itu (batu-batu permata) akan menghasilkan semua komponen yang menyusun tempat kediaman Allah yang kekal ini. Tempat kediaman Allah juga merupakan tempat kediaman kita. Kita juga akan dibangun bersama menjadi Ruang Maha Kudus Allah untuk mengekspresikan Dia dalam kemuliaan.

Tanda yang Terakhir dan yang Terbesar

Saya harap kita semua terkesan dengan tafsiran dan pemahaman yang tepat mengenai tanda yang terakhir dan yang terbesar dalam seluruh Alkitab. Dari keenam puluh enam kitab dalam Alkitab, Yerusalem Baru merupakan tanda yang terakhir dan yang terbesar. Perkataan yang terakhir merupakan perkataan keputusan. Melalui penciptaan, inkarnasi, penebusan, kebangkitan, kenaikan, dan semua pekerjaan pengubahan-Nya, pekerjaan pembangunan-Nya di sepanjang abad kekristenan ini, Allah akan mendapatkan satu susunan yang hidup dari orang-orang tebusan-Nya untuk menjadi tempat kediaman-Nya dan pasangan-Nya yang memuaskan Dia sepenuhnya. Kita akan bersatu dengan-Nya karena kita akan menjadi pasangan-Nya.

Tuhan Yesus memberi tahu orang-orang Saduki dalam Matius 22:30 bahwa dalam kebangkitan tidak akan ada lagi perkawinan, tetapi kita semua akan hidup seperti malaikat-malaikat. Alkitab tidak memberi tahu kita mengenai perkara-perkara atau hubungan-hubungan fisik dalam kekekalan. Apa yang disingkapkan begitu tinggi dan dalam. Kita harus dibebaskan dari pemikiran insani, pemikiran alamiah kita pada saat mempertimbangkan Yerusalem Baru sebagai sebuah tempat tinggal yang bersifat fisik. Kita harus tahu apa yang ada dalam hati Allah. Ia perlu sebuah tempat kediaman kekal, yang terdiri dari bermiliar-miliar manusia hidup yang telah diubah dan dimuliakan untuk menjadi tempat kediaman-Nya yang hidup dan istri terkasih-Nya, pasangan-Nya. Karena perampungan yang sempurna ini, maka tidaklah sia-sia kalau Dia menjadikan makhluk ciptaan, berinkarnasi, mati di atas salib, dibangkitkan, dan menghabiskan begitu banyak waktu (berabad-abad) untuk membangun gereja-gereja.

Jika Yerusalem Baru adalah kota yang sesungguhnya, ukurannya hanya setengah dari Amerika Serikat (cf. Why. 21:16). Amerika Serikat hari ini mempunyai populasi sekitar seperempat miliar orang. Tetapi melalui kelahiran kembali, Allah akan menyelamatkan miliaran orang. Bagaimana mungkin miliaran orang tinggal dalam sebuah kota yang ukurannya hanya setengah Amerika Serikat? Kita tidak seharusnya mengikuti ajaran-ajaran alamiah, tetapi sebaliknya kita harus melatih pikiran kita untuk melihat apa yang Allah inginkan.

Firman adalah kebenaran. Syukur kepada Tuhan, karena Ia telah memberi kita kitab ini. Kita mempunyai sesuatu yang solid dalam bahasa manusia sehingga kita dapat belajar terus menerus. Tuhan Yesus memberi tahu Petrus bahwa Ia akan membangun gereja-Nya di atas batu karang ini (Mat. 16:18). Petrus memberi tahu kita bahwa kita semua adalah batu-batu hidup yang sedang dibangun menjadi sebuah rumah rohani (1 Ptr. 2:5). Paulus mengatakan bahwa ia telah meletakkan fondasi, tetapi kita semua harus memperhatikan bagaimana kita membangun. Kita harus membangun dengan emas, perak, dan batu-batu permata (1 Kor. 3:10-12). Pemikiran mengenai pembangunan Allah terbentang di seluruh Perjanjian Baru, mulai awal hingga akhir. Itulah sebabnya kami mengatakan bahwa Yerusalem Baru merupakan perampungan sempurna dari pekerjaan pembangunan Allah melalui semua generasi.