YERUSALEM BARU -- PERAMPUNGAN SEMPURNA (3)
Pembacaan Alkitab:
Why. 21:2-3, 10-23; 22:1-2a, 14, 17, 19
DUA ALIRAN UTAMA DALAM MENAFSIRKAN
Yerusalem Baru telah menjadi teka-teki bagi para pembaca dan pengajar Alkitab selama dua puluh abad dari era kekristenan. Terdapat dua aliran utama dalam menafsirkannya. Aliran pertama mengatakan bahwa Yerusalem Baru adalah sebuah kota fisik. Ia akan menjadi bagian dari langit baru dan bumi baru dan akan berada di bumi sebagai kota yang sesungguhnya. Aliran kedua sangat dangkal, mengatakan bahwa Yerusalem Baru adalah sebuah rumah surgawi yang sangat besar dan indah.
Tetapi kita tidak seharusnya berpikir bahwa kota ini hanya merupakan sesuatu yang bersifat fisik atau hanya sebuah rumah surgawi yang besar dan indah. Marilah kita mengesampingkan aliran-aliran yang berbeda ini, yang berasal dari pengertian manusia.
Sungguh sangat bermakna bahwa Yerusalem Baru ditempatkan pada akhir seluruh wahyu Allah serta mengisi dua pasal terakhir. Kita perlu seluruh Alkitab untuk memahami, menafsirkan, dan menunjukkan maknanya. Kesimpulan suatu buku pasti merupakan perkataan terakhir mengenai isi buku tersebut. Ini adalah prinsip. Setiap buku yang berarti pasti mempunyai isi yang benar dan pasti serta kesimpulan yang benar dan pasti pula. Mari kita melihat seluruh Alkitab yang dimulai dari kitab Kejadian sampai kitab Wahyu. Kita harus memperhatikan isinya kemudian melihat kesimpulannya.
WAHYU MENGENAI TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Alkitab merupakan wahyu lengkap mengenai tempat kediaman Allah. Tempat kediaman ini dimaksudkan agar Dia mendapatkan perhentian, dipuaskan, dan diekspresikan.
Kejadian 1:1 mengatakan bahwa pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Kemudian setelah semua makhluk dalam alam semesta diciptakan, Allah menjadikan Adam pada hari keenam. Allah ingin memiliki manusia. Ia mempersiapkan langit, bumi, dan segala sesuatunya bagi manusia yang Ia jadikan menurut gambar-Nya sendiri dan menurut jenis-Nya.
Ini merupakan petunjuk yang jelas bahwa Allah menginginkan satu ekspresi. Ia menginginkan sesuatu yang hidup dan organik untuk memiliki gambar dan rupa-Nya. Gambar mengacu kepada sesuatu yang di dalam, sedangkan rupa mengacu kepada sesuatu yang di luar. Di dalam, kita semua memiliki intelek, tekad, dan emosi. Di luar, kita mempunyai rupa, bentuk tubuh yang di luar.
Dalam Kejadian 1 kita diberi tahu bahwa Allah menciptakan binatang dan tumbuh-tumbuhan menurut jenisnya masing-masing. Sebagai contoh, kuda adalah menurut jenis kuda, sedangkan pohon persik dan pohon apel masing-masing adalah menurut jenisnya. Jenis berarti keluarga, golongan biologis. Tetapi, manusia tidak dijadikan menurut jenis manusia. Manusia dijadikan menurut jenis Allah. Kita, manusia, adalah jenis Allah. Kita adalah satu keluarga dengan Allah karena kita memiliki rupa dan gambar-Nya. Meskipun manusia pada saat itu belum mempunyai hayat Allah atau sifat Allah, tetapi ia mempunyai rupa dan gambar-Nya.
Hal ini menunjukkan bahwa Allah menginginkan suatu ekspresi. Kejadian 1:26-27 menunjukkan bahwa manusia bukan hanya persona tunggal. Ayat 27 mengatakan, "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya...; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka." Hal ini menunjukkan bahwa manusia di sini merupakan sesuatu yang korporat. J. N. Darby mengatakan bahwa manusia dalam kitab Kejadian 1:27 berarti umat manusia, manusia sebagai satu bangsa. Dalam penciptaan Allah, Ia melakukan segala sesuatu menurut rencana-Nya demi mempunyai satu ekspresi. Umat manusia adalah untuk mengekspresikan Allah. Inilah permulaan Alkitab.
Kemudian Alkitab melanjutkan dengan membicarakan delapan manusia besar: Adam, Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub. Termasuk Adam terdapat delapan raksasa dalam kitab pertama dari Alkitab.
Betel — Rumah Allah
Ketika sampai kepada Yakub, tanpa terang ilahi kita hanya dapat melihat seorang anak laki-laki yang nakal. Tetapi anak laki-laki yang nakal ini, ketika melarikan diri dari saudaranya, Esau, tidur di udara terbuka dan bermimpi (Kej. 28:11-19).
Yakub bermimpi bahwa di bumi didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit, dan malaikat-malaikat Allah turun-naik (terjemahan yang benar adalah naik-turun) di tangga itu. Malaikat-malaikat bukan turun dan naik, tetapi naik dan turun. Hal ini menunjukkan bahwa tangga tersebut berasal dari bumi dan menuju ke langit. Kita biasanya mengatakan bahwa mimpi kita berasal dari apa yang kita pikirkan. Jika kita mempunyai sesuatu dalam pikiran, ia akan datang kepada kita sebagai mimpi ketika kita tertidur. Tetapi dalam kasus Yakub ini, saya tidak percaya bahwa ia memimpikan apa yang telah ada dalam pikirannya sepanjang hari. Pada hari-hari itu ia pasti sedang memikirkan bagaimana ia melarikan diri dari Esau. Meskipun demikian, dalam mimpinya tidak ada Esau maupun Laban. Ia melihat sebuah tangga yang berasal dari bumi dan menuju ke langit. Ketika bangun, ia mendapat inspirasi dari Allah dan berkata, "Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga" (Kej. 28:17). Ia mendirikan batu yang telah ia pakai sebagai bantal dan menuangkan minyak ke atasnya serta menamai tempat itu Betel, yang berarti rumah Allah.
Nuh diberi perintah oleh Allah untuk membangun sebuah bahtera, dan Abraham menerima janji dari Allah bahwa melalui keturunannya seluruh bumi, seluruh umat manusia, akan diberkati. Tetapi anak laki-laki yang nakal ini, cucu Abraham, bermimpi. Setelah bangun dari mimpi tersebut, ia mengatakan sesuatu yang menakjubkan, sesuatu yang menyusun dan mengendalikan seluruh Alkitab — rumah Allah. Ini adalah butir yang mengendalikan dan terbentang di seluruh Alkitab. Melalui anak laki-laki nakal yang mempunyai mimpi sedemikian ini keluarlah satu umat, yakni umat Israel.
Tabernakel — Rumah Allah
Dalam kitab kedua dari Alkitab, kitab Keluaran, semua orang Israel telah didapatkan oleh Allah. Ia bukan hanya menyelamatkan mereka, tetapi mengumpulkan mereka bersama-sama di gunung Sinai. Di sana, Allah memberi mereka sebuah visi (Kel. 19), bukan hanya sebuah mimpi. Antara visi yang diterima Musa dari Allah dan mimpi Yakub ada hubungannya. Yakub dalam mimpinya melihat sesuatu yang berkenaan dengan rumah Allah dan sekarang keturunannya, umat yang berasal dari Yakub, berada di gunung Sinai dan langit terbuka bagi mereka. Seorang wakil mereka, Musa, naik ke atas gunung untuk tinggal bersama Allah dan Allah menunjukkan kepadanya pola (gambar) rumah-Nya, suatu pola mengenai bagaimana membangun tabernakel.
Tabernakel adalah rumah Allah. Satu Samuel 3:3 menyebut tabernakel sebagai bait suci Tuhan, yang berarti ia adalah rumah Allah. Tabernakel sebagai tempat kediaman Allah juga disebut bait suci, rumah Allah.
Di atas gunung Sinai, Musa melihat semua pola dan orang-orang Israel membangun tabernakel menurut pola ini. Dalam pasal terakhir kitab Keluaran, tabernakel telah didirikan, dan kemuliaan Tuhan turun dari langit dan memenuhi tabernakel tersebut dengan segera (Kel. 40:34). Ini sangat menakjubkan! Hal ini bahkan lebih besar daripada pekerjaan penciptaan Allah. Menciptakan alam semesta merupakan sesuatu yang luar biasa, tetapi Allah mempunyai tempat yang pasti di bumi, tempat Ia dapat turun ke atasnya dan masuk ke dalamnya dalam kemuliaan, ini benar-benar menakjubkan. Tabernakel fisik adalah lambang dari semua orang Israel sebagai tempat kediaman Allah.
Tabernakel Yesus Kristus,
Manusia-Allah
Akhirnya, lambang tersebut digenapi dalam Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus datang, Allah datang. "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah", dan Firman itu menjadi daging (Yoh. 1:1, 14). Kita tahu bahwa itu adalah Yesus dalam inkarnasi. Ketika datang dalam inkarnasi, Ia "diam (bertabernakel)" (ay. 14). Hal ini mengindikasikan bahwa Ia sendiri sebagai tabernakel yang hidup merupakan penggenapan dari tabernakel dalam kitab Keluaran 40. Yesus sebagai tabernakel bukanlah suatu bangunan, melainkan seorang persona yang hidup, organik. Persona yang adalah tabernakel ini merupakan seorang persona ilahi, seorang persona yang menakjubkan, seorang Manusia Allah. Kesan pertama yang diberikan oleh Alkitab mengenai tabernakel adalah bahwa ia merupakan sesuatu yang organik, seorang persona yang organik. Bahkan ia adalah manusia organik yang berbaur dengan Allah. Tabernakel adalah manusia Allah, Yesus Kristus.
Pada akhir Alkitab terdapat Yerusalem Baru, perampungan sempurna dari tabernakel (Why. 21:3). Tabernakel dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sesungguhnya adalah seorang persona yang hidup yang terdiri dari dua sifat: sifat insani dan ilahi. Tuhan Yesus adalah seorang manusia yang tersusun dari keilahian dan keinsanian. Roh Kudus merupakan elemen ilahi atau keilahian, dan kebajikan insani merupakan elemen insani atau keinsanian. Karena itu, pengandungan Yesus berasal dari elemen ilahi dalam elemen insani. Pengandungan ini melahirkan seorang anak yang memiliki dua sifat: ilahi dan insani. Anak ini bukan hanya insani, tetapi juga ilahi. Ia adalah seorang Manusia Allah dan Manusia Allah ini adalah tabernakel.
Ijinkan saya menekankan sekali lagi bahwa inilah tabernakel menurut pengertian Alkitab. Dalam Alkitab, tabernakel adalah seorang persona yang hidup, yang merupakan suatu susunan yang terdiri dari sifat ilahi dan sifat insani. Karena itu, Yerusalem Baru tidak mungkin merupakan suatu kota yang sesungguhnya ataupun suatu rumah surgawi yang besar dan indah. Menurut pengertian Alkitab, tabernakel adalah seorang persona yang hidup sebagai suatu susunan yang terdiri dari keilahian dan keinsanian.
Tabernakel dan Bait Suci
Israel, pertama-tama membangun tabernakel. Kemudian, ketika mereka masuk ke dalam tanah permai, melalui Daud Allah mewahyukan kepada mereka (2 Sam. 7:2, 5-13) bahwa Ia ingin mempunyai sesuatu yang menetap dan tidak berpindah-pindah. Tabernakel adalah rumah Allah yang "tidak menetap (berpindah-pindah)". Ia hanya dapat memuaskan Allah sementara saja, tidak permanen. Allah menginginkan sesuatu yang menetap dan dibangun di atas dasar yang kokoh. Bait Suci tidak dapat digerak-gerakkan atau dipindah-pindahkan, tetapi merupakan sesuatu yang menetap. Daud mengenal isi hati Allah dan menyiapkan semua bahan bagi pembangunan Bait Suci (1 Taw. 22). Allah telah memberikan kepadanya seorang putra, Salomo, yang akan membangun Bait Suci. Bait Suci ini merupakan perluasan tabernakel. Ketika Bait Suci itu selesai dibangun, barang-barang dari tabernakel dibawa masuk ke dalam Bait Suci (2 Taw. 5:1, 5), hal ini menunjukkan bahwa keduanya sesungguhnya adalah satu.
Dalam Perjanjian Baru, dalam Yohanes 1:14, Tuhan Yesus diwahyukan sebagai tabernakel, tetapi dalam Yohanes 2:19-21 Ia menunjukkan bahwa Ia adalah Bait Suci. "Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali" (ay. 19). Perkataan Yesus di sini menunjukkan bahwa Tubuh-Nya adalah Bait Suci yang sesungguhnya. Ketika mengatakan bahwa Ia akan membangun Bait ini dalam tiga hari, kita tahu bahwa Ia akan membangun rumah Allah dalam kebangkitan. Rumah Allah yang dibangun Yesus dalam kebangkitan bukan hanya diri-Nya sendiri tetapi juga meliputi kaum beriman-Nya (Ef. 2:6). Jadi Bait Suci yang dibangun dalam dan melalui kebangkitan Yesus merupakan sesuatu yang korporat. Bait Suci ini adalah gereja. Gereja adalah Bait Suci (1 Kor. 3:16).
Gereja —
Disusun dari Anggota-anggota Kristus yang Hidup
Banyak orang Kristen yang menganggap gereja sebagai bangunan fisik. Mereka menyebut bangunan sebagai gereja atau sebagai tempat ibadah. Banyak yang mengira bahwa gereja adalah sebuah bangunan yang mempunyai atap runcing, jendela kaca yang berwarna-warni, dan sebuah lonceng menara.
Tetapi Alkitab mewahyukan bahwa gereja merupakan suatu susunan yang hidup dari anggota-anggota Kristus (1 Ptr. 2:5). Ia merupakan suatu susunan organik dari semua kaum beriman yang sejati. Kita adalah gereja. Gereja bukan sebuah bangunan yang tidak berhayat. Gereja adalah organik. Gereja adalah kita, Anda, dan saya, orang-orang yang dilahirkan kembali oleh Roh itu dengan hayat ilahi. Semuanya adalah orang-orang kudus yang kekasih. Gereja adalah suatu organisme. Ia hidup dan aktif. Ia bukannya tanpa hayat, karena unsur (komponen) gereja adalah persona-persona yang hidup. Kita, kaum beriman merupakan komponen-komponen. Gereja tersusun dari semua orang kudus, karena itu ia adalah sesuatu yang hidup.
Gereja —
Keinsanian dan Keilahian
Gereja juga adalah satu manusia korporat yang terdiri dari dua elemen: keinsanian dan keilahian. Kita, kaum beriman sebagai komponen-komponen gereja, mempunyai dua sifat: sifat insani dan sifat ilahi. Kita menerima sifat alamiah kita melalui kelahiran jasmani kita. Kemudian melalui kelahiran yang kedua, kelahiran rohani, kita menerima sifat yang lain, sifat ilahi. Pada saat dilahirkan kembali, kita menerima hayat ilahi (1 Yoh. 5:11). Jika kita mempunyai hayat, pasti dalam hayat tersebut ada sifatnya. Kita adalah orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat ilahi (2 Ptr. 1:4), karena itu kita mempunyai dua sifat.
Hari ini di antara pelajar-pelajar seminari terdapat satu kecenderungan untuk mempercayai bahwa orang-orang Kristen hanya mempunyai satu sifat yang akan dikembangkan secara perlahan-lahan. Ini bukan hanya satu ajaran yang salah, tetapi bidah. Ajaran demikian menghapus fakta kelahiran kembali.
Tetapi gereja adalah susunan yang hidup dan korporat dari orang-orang yang memiliki dua sifat: insani dan ilahi. Pada Kristus, pertama-tama terdapat keilahian, kemudian keinsanian. Sedangkan pada kita, pertama-tama terdapat keinsanian, kemudian keilahian. Kristus sebagai tabernakel adalah seorang persona yang memiliki keilahian ditambah keinsanian, sedangkan kita, sebagai perluasan Kristus, tempat kediaman Allah, Bait Suci, merupakan suatu susunan yang pertama-tama memiliki keinsanian dan kemudian keilahian. Kristus mempunyai keilahian ditambah keinsanian. Kita mempunyai keinsanian ditambah keilahian. Dalam sifat, Ia dan kita adalah sama. Perbedaannya hanyalah, Ia mempunyai ke-Allahan sedangkan kita tidak; namun kita mempunyai hayat dan sifat ilahi sama seperti Dia. Kita tidak mempunyai kekepalaan-Nya, ke-Allahan-Nya.
Perampungan Bait Suci
Yerusalem Baru merupakan perampungan Bait Suci. Berdasarkan prinsip ini, kita tidak dapat mengatakan bahwa Yerusalem Baru adalah kota yang sesungguhnya atau sebuah rumah surgawi yang besar dan indah. Karena Yerusalem Baru merupakan perampungan sempurna dari semua bangunan tempat kediaman Allah dalam semua generasi sebagai kesimpulan dari seluruh wahyu ekonomi Allah, maka Yerusalem Baru sepenuhnya organik. Yerusalem Baru merupakan manusia yang berbaur dengan Allah. Susunan ini akan menjadi tempat tinggal bersama (tempat tinggal satu sama lain), bagi Allah untuk diam di dalam orang-orang kudus dan bagi orang-orang kudus untuk diam di dalam Allah.
Yerusalem Baru merupakan suatu susunan yang terdiri dari orang-orang yang ditebus dan dilahirkan kembali oleh Allah, yaitu anak-anak-Nya. Kota ini juga merupakan totalitas dari keputraan ilahi. Efesus 1 mengatakan bahwa kita dipilih dan ditentukan dari semula kepada keputraan (untuk menjadi anak-anak-Nya — LAI) (ay. 4-5). Totalitas dari keputraan akan menjadi Yerusalem Baru. Ia merupakan suatu susunan yang terdiri dari semua anak Allah (Why. 21:7). Bangunan yang demikian, kota kudus, merupakan satu persona korporat yang hidup karena ia disebut istri Anak Domba (Why. 21:9). Kota yang sesungguhnya tidak dapat menjadi seorang istri. Seorang istri adalah seorang persona, karena itu kota ini seharusnya merupakan satu persona korporat yang hidup.
ELEMEN INTRINSIK BANGUNAN ALLAH
Isi dari bangunan Allah mempunyai beberapa elemen yang intrinsik (terkandung di dalamnya), tersembunyi, dan bersifat batin. Elemen intrinsik dari Yerusalem Baru sebagai tempat kediaman Allah yang kekal adalah Allah Tritunggal sendiri.
Trinitas Ilahi — Struktur Dasar
Trinitas ilahi merupakan struktur dasar Yerusalem Baru. Ia dibangun dengan sifat Bapa yang dilambangkan oleh emas. Kota tersebut adalah gunung emas dan jalannya juga adalah emas (Why. 21:18b, 21b). Hal ini menunjukkan bahwa kota adalah sesuatu yang ilahi. Keilahian merupakan elemen dasar dari isi bangunan.
Penebusan Putra melalui kematian dan kebangkitan dilambangkan oleh mutiara. Mutiara berasal dari tiram. Mutiara dihasilkan setelah tiram terluka oleh sebutir pasir. Tiram mengeluarkan cairan hayat untuk menyelubungi pasir tersebut dan menjadikannya sebutir mutiara. Hal ini melambangkan inkarnasi Kristus dan kepergian-Nya ke dalam air kematian seperti tiram. Bagaimana Dia Terluka karena pelanggaran-pelanggaran kita dan bagaimana Dia membebaskan hayat kebangkitan-Nya sehingga menghasilkan sebutir mutiara.
Pengubahan Roh itu dilambangkan dengan batu-batu permata. Dalam emas terdapat sifat Bapa, dalam mutiara terdapat penebusan Putra melalui kematian dan kebangkitan, dan dalam batu-batu permata terdapat Roh itu dalam pekerjaan pengubahan-Nya. Hal ini berarti bahwa Allah Tritunggal sendiri merupakan struktur dasar Yerusalem Baru. Ketrinitasan juga merupakan struktur dasar dari kehidupan gereja yang adalah miniatur Yerusalem Baru. Ukurannya jauh lebih kecil, tetapi elemennya sama.
Hayat Ilahi —
Suplai dan Perawatan Batin
Untuk hayat fisik, kita perlu suplai dan perawatan sehari-hari. Itulah sebabnya kita harus makan paling sedikit tiga kali sehari. Hayat ilahi merupakan suplai dan perawatan batin untuk semua bagian dari Yerusalem Baru. Hal ini diindikasikan dengan air kehidupan yang mengalir keluar dari takhta ilahi untuk menjenuhi seluruh kota (Why. 22:1, 17). Di dalam air tumbuh pohon kehidupan yang berbuah dua belas macam setiap bulan dan dua belas bulan setahun untuk memberi makan seluruh kota (Why. 22:2a, 14, 19). Air kehidupan dan pohon kehidupan yang menghasilkan buah hayat akan menyuplai dan merawat. Seluruh kota hidup dari dua hal ini.
Terang Ilahi —
Terang Batin dan Kemuliaan di luar
Trinitas ilahi adalah struktur dasar, hayat ilahi adalah suplai dan perawatan batin, sedangkan terang ilahi adalah terang batin dan kemuliaan di luar untuk ekspresi. Allah di dalam Anak Domba adalah lampu sebagai terang batin (Why. 21:23). Di dalam Yerusalem Baru, kita tidak akan perlu matahari, bulan, lilin, minyak tanah, atau listrik. Kita tidak akan perlu terang ciptaan Allah maupun terang buatan manusia, karena kita akan memiliki Allah sendiri yang merupakan terang batin kita. Selain itu, terang ini bercahaya di dalam dan melalui batu-batu permata seperti permata yaspis, yang melambangkan kaum beriman yang diubah (Why. 21:11). Permata yaspis "jernih seperti kristal". Allah yang adalah terang berada di dalam Anak Domba yang adalah lampu yang bersinar di seluruh kota. Di dalam kota terdapat terang yang bersinar. Di luar, terang mengekspresikan kemuliaan Allah, sehingga seluruh kota memancarkan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah adalah diri Allah sendiri yang memancarkan sinar keluar dari kota menembus tembok permata yaspis yang jernih (21:18). Inilah gereja yang seharusnya ada pada hari ini, suatu susunan yang hidup dari Allah, dengan Kristus sebagai terang batin kita yang bersinar dan sebagai ekspresi luar kita dalam kemuliaan.
Perbauran Allah Tritunggal dengan Manusia Tripartit
Kita telah ditebus, dilahirkan kembali, dan sekarang kita sedang diubah. Kita juga sedang dalam perjalanan untuk dimuliakan. Roh kita telah dilahirkan kembali, jiwa kita yang merepotkan sedang diubah, dan tubuh kita yang buruk sedang menunggu untuk berubah rupa (transfigurasi).
Di dalam Yerusalem Baru, Allah Tritunggal sepenuhnya berbaur dengan manusia tripartit yang ditebus, dilahirkan kembali, diubah dan dimuliakan. Perbauran ini merupakan tempat kediaman Allah yang kekal, yang dilambangkan dengan angka dua belas. Dua belas sama dengan tiga kali empat. Kita tahu hal ini karena kota tersebut bujur sangkar dengan empat sisi. Pada setiap sisi terdapat tiga pintu gerbang (21:13). Untuk selama-lamanya Yerusalem Baru akan menjadi perbauran yang mutlak, bukan hanya suatu penambahan melainkan suatu perkalian Allah Tritunggal (tiga) dikalikan dengan manusia (empat). Di dalam Yerusalem Baru, angka dua belas digunakan empat belas kali. Dua belas fondasi dari dua belas batu-batu permata yang memiliki nama kedua belas rasul (21:14, 19-20). Dua belas pintu gerbang dari dua belas mutiara serta dua belas malaikat memiliki nama kedua belas suku (21:12, 21a). Ukuran kota adalah dua belas ribu stadia dalam tiga dimensi (21:16). Tinggi tembok adalah seratus empat puluh empat hasta (21:17a), yang adalah dua belas hasta kali dua belas hasta. Pohon kehidupan menghasilkan dua belas buah setiap bulan selama dua belas bulan setahun (22:2). Angka dua belas terjadi berkali-kali, berarti kota kudus itu merupakan perbauran antara Allah Tritunggal dengan manusia tripartit.
Sebuah Bangunan Dalam Kebangkitan
Wahyu 21:17b mengatakan bahwa ukuran tembok adalah "ukuran manusia, yang adalah juga ukuran malaikat". Ini merupakan tanda bahwa pada saat itu manusia akan seperti malaikat. Dalam Matius 22:30 Tuhan Yesus menunjukkan bahwa dalam kebangkitan, manusia akan menjadi "seperti malaikat-malaikat Allah di surga". Jadi, manusia menjadi seperti malaikat menunjukkan prinsip kebangkitan. Karena itu seluruh kota akan berada dalam kebangkitan. Kristus sang Kepala dan kita anggota-anggota-Nya, semuanya akan berada dalam kebangkitan.
Ekspresi Penuh Dari Allah Tritunggal
Tembok terbuat dari permata yaspis dan terang kota itu seperti permata yaspis (21:18, 11). Dalam 4:3 kita diberi tahu secara jelas bahwa Allah yang duduk di atas takhta nampaknya bagaikan permata yaspis. Jadi, permata yaspis menandakan penampilan (rupa) Allah. Dalam kekekalan, Yerusalem Baru akan memiliki rupa Allah. Allah nampaknya seperti permata yaspis dan seluruh kota akan memiliki rupa permata yaspis. Hal ini menunjukkan bahwa ia akan menjadi ekspresi Allah yang korporat dan kekal.
Ini menggenapkan Kejadian 1:26. Alkitab dimulai dengan cara yang sama seperti ia diakhiri. Alkitab dimulai dengan gambar Allah untuk ekspresi-Nya dan diakhiri dengan satu ekspresi yang korporat, sangat besar, tidak terukur dan megah. Ini merupakan perampungan sempurna dari catatan mengenai tabernakel dan Bait Suci. Alkitab adalah catatan dari dua perkara ini: tabernakel dan Bait Suci. Kesimpulan dari Alkitab merupakan perampungan tabernakel dan Bait Suci.
Gereja hari ini haruslah menyatakan apa adanya Yerusalem Baru. Kita sebagai gereja dalam pemulihan Tuhan harus mempunyai Allah Tritunggal sebagai struktur kita, dengan hayat ilahi sebagai suplai dan perawatan batin kita, serta terang ilahi sebagai sinar batin dan ekspresi di luar kita. Inilah kesaksian Yesus. Pada permulaan kitab Wahyu terdapat kaki dian-kaki dian sebagai kesaksian Yesus (1:2, 12). Kemudian di akhir kitab yang sama terdapat totalitas dari semua kaki dian, Yerusalem Baru, sebagai kesaksian Yesus yang kekal. Hari ini kita seharusnya menjadi kesaksian Yesus yang hidup. Kita bukan sedang melakukan pekerjaan kekristenan yang lain atau hanya merupakan kelompok kekristenan. Kita adalah kesaksian Yesus sebagai kaki dian hari ini, yang akan terampung di dalam Yerusalem Baru. Kelak kita menjadi apa di sana haruslah demikian pula hari ini di sini.