← Daftar isi Rencana Allah · bab 8/11

YERUSALEM BARU -- PERAMPUNGAN SEMPURNA (1)

Pembacaan Alkitab:

Why. 21:1-3, 9-14, 16-23; 22:1-2, 5, 14, 17

PENCIPTAAN DAN PEMBANGUNAN

Untuk memberi kita wahyu Allah yang lengkap diperlukan seluruh Alkitab. Kitab Kejadian memberi tahu kita mengenai penciptaan Allah. Kemudian di akhir Alkitab, kita melihat sebuah kota kudus. Pada awalnya terdapat penciptaan dan pada akhirnya terdapat sebuah kota. Di dalam penciptaan, Allah menjadikan "apa yang tidak ada menjadi ada" (Rm. 4:17), tetapi sebuah kota melambangkan sesuatu yang lebih dalam karena sebuah kota adalah sebuah bangunan. Jadi, di dalam ekonomi Allah, Ia pertama-tama menciptakan. Sesudah menciptakan, Ia mulai membangun.

Pemikiran mengenai pembangunan terbentang di seluruh Perjanjian Baru. Setelah Petrus mengenali bahwa Yesus adalah Anak Allah dan Mesias, Tuhan memberi tahu dia, "Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku" (Mat. 16:18). Inilah pemikiran mengenai pembangunan dalam Matius 16.

Pemikiran mengenai pembangunan sesungguhnya telah ada jauh lebih awal. Di dalam pemikiran Allah, apa yang sedang terjadi bahkan dalam zaman Perjanjian Lama merupakan pembangunan. Dalam Matius 21 Tuhan menggunakan perumpamaan penggarap-penggarap kebun anggur untuk melambangkan bangsa Yahudi. Pada akhir perumpamaan tersebut Tuhan memberi tahu pemimpin-pemimpin Yahudi, karena mereka tidak berbuah, maka tuan kebun anggur itu akan mengalihkan kebun anggur tersebut kepada bangsa lain (yaitu, kepada gereja) (ay. 33-43). Tuhan berkata kepada mereka, "Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru" (ay. 42). Tuhan sedang memberi tahu mereka bahwa mereka adalah tukang-tukang bangunan dan Ia adalah batu penjuru yang ditolak oleh mereka, pemimpin-pemimpin Yahudi. Di dalam kedaulatan Allah, batu yang ditolak ini menjadi batu penjuru bangunan.

Kristus sebagai batu penjuru merupakan dasar dari Injil. Banyak pengkhotbah mengutip Kisah Para Rasul 4:12 yang mengatakan, "tidak ada nama lain ... yang olehnya kita dapat diselamatkan." Kita harus menyadari terlebih dulu bahwa Kisah Para Rasul 4:12 ditulis berdasarkan ayat 11. Ayat 11 memberi tahu kita bahwa Kristus, batu yang ditolak, telah menjadi batu penjuru. Batu Penjuru ini adalah Juruselamat dalam ayat 12. Kristus menjadi Juruselamat adalah atas dasar Diri-Nya sebagai Batu penjuru yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan di dalam ekonomi Perjanjian Lama. Sampai saat itu, dalam pandangan Allah, pemimpin-pemimpin Yahudi adalah tukang-tukang bangunan; batu yang ditolak telah menjadi batu penjuru adalah sebuah nubuat dalam Mazmur 118:22. Jadi, dalam pandangan Allah, baik zaman Perjanjian Lama maupun zaman Perjanjian Baru merupakan masa pembangunan-Nya.

Segera setelah penciptaan-Nya, Ia mulai membangun. Penciptaan-Nya adalah untuk menghasilkan bahan-bahan bangunan bagi pembangunan-Nya. Allah menciptakan alam semesta dan manusia dengan tujuan untuk membangun sebuah kota. Penciptaan berarti menjadikan yang tidak ada menjadi ada. Tetapi, sebuah kota merupakan pembangunan yang berasal dari bahan-bahan yang diciptakan. Allah mempunyai dua pekerjaan. Pertama adalah pekerjaan penciptaan, dan kedua adalah pekerjaan pembangunan. Yerusalem Baru, sebuah kota sebagai bangunan Allah, merupakan kesimpulan seluruh wahyu Allah.

MANUSIA YANG DILAHIRKAN KEMBALI,

BAHAN BANGUNAN ALLAH

Agar Allah mempunyai sebuah bangunan, maka pusat dari ciptaan-Nya, yaitu manusia, perlu dilahirkan kembali. Manusia yang dilahirkan kembali menjadi bahan bangunan Allah. Allah tidak menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam ciptaan-Nya yang mana pun. Di dalam ciptaan lama-Nya, Ia hanya mengembuskan nafas hidup ke dalam manusia (Kej. 2:7), tetapi nafas tersebut bukan sesuatu yang berasal dari esens atau sifat-Nya. Itu hanyalah nafas-Nya. Nafas hidup tersebut, neshamah (Ibrani), menjadi roh manusia seperti yang dikatakan oleh Amsal 20:27, "Roh manusia (neshamah) adalah pelita Tuhan". Tidak ada esens Allah yang diberikan kepada manusia sampai zaman Perjanjian Baru dan sampai rampungnya penebusan sempurna Tuhan Yesus Kristus. Kemudian Allah datang bukan hanya untuk memberikan sesuatu dari diri-Nya, melainkan diri-Nya sendiri diberikan ke dalam manusia sehingga manusia dapat dilahirkan kembali oleh-Nya (Yoh. 3:5), dilahirkan oleh Dia (Yoh. 1:12-13).

Pada saat dilahirkan dari ayah jasmani kita, esens dan sifat ayah kita diberikan kepada kita. Sekarang kita adalah orang-orang yang telah dilahirkan kembali, keturunan Allah. Kita adalah anak-anak yang dilahirkan dari Allah, bukan anak-anak yang dipungut (diadopsi) oleh seorang ayah yang mengadopsi. Kita telah diperanakkan dari Bapa yang memperanakkan. Apa adanya Bapa telah diberikan kepada kita, anak-anak-Nya.

Satu-satunya milik Dia yang tidak kita punyai adalah keAllahan-Nya. Ia adalah Allah. Meskipun kita dilahirkan dari-Nya, kita tidak mempunyai bagian dalam keAllahan-Nya. Mengatakan bahwa kita dijadikan ilahi dengan maksud memiliki keAllahan-Nya adalah penghujatan terhadap Allah. Kita menyembah Dia, tetapi kita sendiri bukan dan tidak akan pernah menjadi obyek penyembahan bagi manusia mana pun. Jika hal itu terjadi, maka akan menjadi sesuatu yang menghujat Allah.

Tetapi, kita seharusnya mempunyai keberanian untuk mengatakan, "Haleluya! Saya memiliki hayat Allah (Kol. 3:4; 1 Yoh. 5:12) dan sifat Allah (2 Ptr. 1:4). Di dalam sifat dan di dalam hayat, saya sama dengan Allah saya karena saya telah dilahirkan dari-Nya." Hayat-Nya adalah hayat kita, dan sifat-Nya adalah sifat kita. Haleluya! Kita adalah anak-anak Allah yang luar biasa (Rm. 8:16; 1 Yoh. 3:1). Ayat terakhir dari kidung nomer 297 mengatakan bahwa kita dengan Allah "di dalam hayat dan sifat tidak terpisah jauh (tidak berbeda — Tl.)."

Bahan alamiah yang berasal dari penciptaan Allah tidak memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan bangunan-Nya karena tidak memiliki esens Allah sedikit pun. Apa yang digunakan Allah bagi bangunan-Nya harus mengandung esens-Nya.

GUNUNG EMAS

Di dalam kehidupan sehari-hari, kita terganggu oleh debu. Saya menyukai Texas, tetapi ada satu hal yang tidak saya sukai yaitu keadaannya yang terlalu berangin. Terlalu banyak angin membawa debu. Pada saat kita berada di dalam Yerusalem Baru, di sana tidak akan ada debu lagi. Yerusalem baru, kota kudus, adalah sebuah gunung emas (Why. 21:18). Gunung ini tingginya seribu tiga ratus lima puluh mil, kira-kira sama dengan jarak antara New York dan Dallas. Yerusalem Baru tingginya dua belas ribu stadia (Why. 21:16); satu stadia sama dengan enam ratus kaki. Apakah Anda pernah melihat gunung yang demikian tinggi? Jika Anda berjalan dua puluh tujuh mil sehari, Anda memerlukan lima puluh hari untuk mendaki gunung tersebut dengan berjalan kaki.

EMAS, BATU-BATU PERMATA, DAN MUTIARA

Tembok kota itu terbuat dari permata yaspis dan dasar tembok tersebut tersusun dari dua belas batu permata yang berbeda (Why. 21:18-20). Batu-batu permata pertama-tama diciptakan, kemudian diubah (ditransformasi) melalui tekanan dan panas. Mereka bukan hanya alamiah, tetapi diciptakan, kemudian diubah. Dalam Perjanjian Baru ada pemikiran yang jelas mengenai pengubahan (2 Kor. 3:18). Dua belas pintu gerbang adalah dua belas mutiara (21:21). Mutiara juga telah melalui proses. Mutiara dihasilkan oleh tiram di dalam air kematian. Ketika tiram terluka oleh sebutir pasir, ia mengeluarkan cairan hayatnya menyelubungi pasir tersebut dan menjadikannya sebutir mutiara yang berharga. Dalam proses ini, kita dapat melihat kematian, pembunuhan, dan pengeluaran cairan hayat untuk menghasilkan mutiara.

Seluruh kota dibangun dari emas, batu permata, dan mutiara. Di sana kita tidak perlu menyapu lantai. Di sana tidak ada debu! Segala benda ciptaan telah diubah.

BANGUNAN ILAHI DENGAN KEINSANIAN YANG DIUBAH

Paulus dalam 1 Korintus 3 mengatakan bahwa fondasi yang unik telah diletakkan, tetapi kita harus hati-hati bagaimana kita membangun di atasnya. Kita dapat membangun dengan dua kelompok bahan: emas, perak, batu-batu permata atau kayu, rumput, jerami (3:10-12). Kayu, rumput, dan jerami semuanya menjadi debu setelah dibakar, tetapi emas, perak, dan batu permata tidak.

Di dalam konsep Paulus, manusia alamiah yang diciptakan adalah kayu, rumput kering, dan jerami; manusia yang dilahirkan kembali, diubah adalah emas, perak, dan batu-batu permata. Ketika Petrus datang kepada Tuhan Yesus, ia adalah seorang manusia "debu", seorang manusia yang terbuat dari debu (Kej. 3:19), karena ia dilahirkan dari keturunan Adam. Adam dibuat dari debu, dan Petrus dilahirkan sebagai seorang manusia debu. Walaupun demikian, Tuhan Yesus memanggil dia Kefas (Gk., Petrus) yang berarti batu (Yoh. 1:42). Pengubahan nama Simon menjadi Petrus oleh Tuhan Yesus menunjukkan bahwa Petrus akan diubah.

Itulah sebabnya Petrus sangat jelas dengan konsep ini, hal ini terlihat dalam suratnya yang pertama. Ia mengatakan bahwa Tuhan Yesus adalah batu hidup (1 Ptr. 2:4), dan begitu kita datang kepada batu hidup ini, kita semua menjadi batu-batu hidup untuk dibangun menjadi sebuah rumah rohani (2:5). Rumah rohani tidak dibangun dari kayu, rumput kering, dan jerami. Ia dibangun dari bahan-bahan yang diubah. Karena pandangan hidup kita sepenuhnya diduduki oleh pemikiran alamiah mengenai etika, filosofi, dan moral, kita mengabaikan perkara ini dalam Perjanjian Baru. Tetapi, seluruh Perjanjian Baru dijenuhi dengan pikiran mengenai bangunan ilahi yang berasal dari keinsanian yang diubah ini. Akhir dari Alkitab adalah sebuah kota kudus yang tersusun dari emas, mutiara, dan batu-batu permata.

DUA UJUNG ALKITAB SALING MEMANTULKAN

Semua bahan yang menyusun kota kudus ini ditemukan dalam dua pasal pertama kitab Kejadian. Dalam Kejadian 2 ada pohon kehidupan. Di dekat pohon tersebut ada sebuah sungai. Ke mana sungai itu mengalir, di sana ada emas, "Dan emas dari negeri itu baik". Di sana terdapat damar bedolah, sejenis mutiara yang dihasilkan oleh hayat tumbuh-tumbuhan, dan batu krisopras (Kej. 2:9-12). Setelah itu, pada akhir pasal tersebut, terdapat seorang mempelai perempuan bagi Adam (2:21-23).

Dalam Wahyu 21 dan 22 ada seorang mempelai perempuan, sebuah kota yang dibangun dari emas, mutiara, dan batu-batu permata. Di dalam kota ada sebuah sungai, dan di dalam sungai itu ada pohon kehidupan. Keenam butir ini — mempelai perempuan, emas, mutiara, batu-batu permata, pohon kehidupan, dan sungai — semuanya ditemukan dalam dua pasal pertama kitab Kejadian. Perbedaannya adalah kota tersebut dalam kitab Kejadian belum dibangun. Ketiga bahan sudah ada di sana tetapi belum dibangun menjadi sebuah kota. Kurang lebih enam ribu tahun kemudian, melalui pekerjaan pembangunan Allah, semua bahan telah dibangun menjadi sebuah kota. Apakah Anda melihat bagaimana dua ujung dari Alkitab ini saling memantulkan?

Pada tahun 1963 saya pergi ke Tyler, Texas, dan tinggal dalam rumah seorang saudara. Setelah satu kali sidang, seorang temannya yang adalah pelayan Tuhan yang berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, mengangkat telpon di rumahnya dan memanggil temannya, James Barber, di Plainview, Texas. Ia menyuruh James untuk datang dan mendengarkan saya berapa pun pengorbanannya. Keesokan malamnya, James Barber hadir di dalam sidang. Malam itu saya menyampaikan berita mengenai dua ujung Alkitab yang saling memantulkan. Orang ini, James Barber tertarik. Setelah konferensi tersebut, ia mengatakan bahwa ia sudah jelas untuk menempuh jalan ini. Itulah permulaan kehidupan gereja di Texas. Saya harap kita juga dapat memiliki satu kesan yang demikian mulia terhadap permulaan dan akhir Alkitab yang saling memantulkan. Inilah ekonomi Allah — membangun tempat kediaman kekal-Nya dengan bahan-bahan ciptaan yang diubah untuk menjadi bahan-bahan bangunan-Nya.

PEMBANGUNAN ALLAH DALAM KITAB KELUARAN

Pada waktu bangsa Israel dibawa ke gunung Sinai, Allah mewahyukan kepada mereka rancangan Tabernakel-Nya, kemudian mereka membangunnya. Itu hanyalah sebuah lambang. Di dalam Ruang Maha Kudus yang terletak di dalam Tabernakel tidak ada yang dilihat kecuali emas. Emas melapisi papan-papan, dan pada atapnya terlihat benang emas. Pada imam besar ada tutup dada emas lengkap dengan dua belas batu permata. Dua belas batu pada tutup dada mempunyai nama dari dua belas suku Israel (Kel. 28:15-21). Ini adalah "abjad" khusus Allah untuk menyatakan maksud-Nya kepada anak-anak-Nya melalui sarana Urim dan Tumim (Kel. 28:30). Jadi, dalam kitab Keluaran kita juga dapat melihat pemikiran mengenai bangunan Allah yang menggunakan batu-batu permata.

PEMBANGUNAN ALLAH DALAM PERJANJIAN BARU

Dalam Perjanjian Baru kita diperintahkan untuk memperhatikan bagaimana kita membangun (1 Kor. 3:10-12). Jangan menggunakan kayu, rumput kering, atau jerami, yaitu jangan menggunakan manusia alamiah Anda. Gereja tidak dibangun dari manusia alamiah. Gereja dibangun dari manusia yang dilahirkan kembali dan diubah. Jika Anda membawa hayat alamiah Anda ke dalam gereja, Anda menjadikan gereja bukan lagi gereja. Inilah yang terjadi hari ini. Banyak orang Kristen, bahkan pekerja-pekerja Kristen sedang menjadikan gereja bukan lagi gereja melalui menggunakan cara alamiah, cara yang bersifat daging, cara manusia, bukan cara kelahiran kembali dan pengubahan.

Petrus memberi tahu kita bahwa sebagai bayi-bayi yang baru lahir, kita perlu minum air susu Firman agar kita dapat diubah menjadi batu-batu permata untuk pembangunan suatu rumah rohani (1 Ptr. 2:2-5). Tulisan Yohanes secara khusus menekankan perkara pengubahan ini. Dalam pasal pertama kitab Injilnya terdapat Kristus yang berinkarnasi menjadi tabernakel Allah (1:14). Kemudian dalam dua pasal terakhir dari kitab Wahyu yang ditulis oleh Yohanes terdapat tabernakel yang diperluas, yang tidak hanya meliputi Kristus tetapi juga semua kaum beriman-Nya, karena pada saat itu mereka telah dilahirkan kembali, diubah sepenuhnya, dan dibangun bersama menjadi satu entitas. Itulah Yerusalem Baru. Inilah wahyu sejati dari Allah.

Alkitab dimulai dengan penciptaan Allah dan diakhiri dengan bangunan-Nya. Bangunan ini merupakan suatu entitas yang dilahirkan kembali dan diubah. Mutiara mengindikasikan kelahiran kembali. Itulah sebabnya semua pintu gerbang sebagai jalan masuk adalah mutiara. Tanpa kelahiran kembali tidak ada seorang pun yang dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah (Yoh. 3:5). Kelahiran kembali merupakan jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah, seperti yang telah dilambangkan dengan sempurna oleh pintu gerbang mutiara. Batu-batu permata menandakan pengubahan. Setelah memasuki kerajaan melalui pintu gerbang mutiara, kita diubah secara bertahap bagi bangunan.

TABERNAKEL ALLAH

Yerusalem Baru akan menjadi Tabernakel Allah bersama manusia di dalam kekekalan. Tabernakel dalam kitab Wahyu bukan merupakan satu istilah yang baru. Tabernakel telah diwahyukan dan digambarkan dengan sepenuhnya dalam kitab Keluaran 25 sampai 40. Kemudian Yohanes 1:14 mengatakan bahwa Firman telah menjadi daging dan diam (bertabernakel) di antara kita. Ketika Yesus berada di bumi, Ia adalah sebuah tabernakel. Kemudian dalam dua pasal terakhir dari Alkitab terdapat tabernakel kekal. Jadi, untuk mengerti dua pasal terakhir dari kitab Wahyu, kita harus mundur dan mempelajari kitab Keluaran 25 hingga 40 dan Yohanes 1:14.

TOTALITAS DARI SEMUA KAKI DIAN

Kota kudus pada gunung emas merupakan totalitas dari semua kaki dian. Seluruh kota memiliki satu jalan (21:21; 22:2), namun satu jalan ini mencapai kedua belas pintu gerbang. Bagaimana mungkin satu jalan di satu kota melayani dua belas pintu gerbang? Dan lagi, tinggi dindingnya adalah seratus empat puluh empat hasta (21:17), dan kota itu sendiri tingginya dua belas ribu stadia (21:16). Fakta-fakta ini mengindikasikan bahwa bentuk kota tersebut pastilah sebuah gunung. Pada puncak gunung terdapat sebuah takhta, dan dari padanya jalan melingkar turun ke bawah mencapai dua belas pintu gerbang. Jalan tersebut pastilah jalan yang melingkar, melingkar menuruni gunung hingga mengelilingi kedua belas pintu gerbang. Satu jalan, turun dari atas ke bawah, mencapai dan melayani kedua belas pintu gerbang. Pada puncak gunung emas ini terdapat takhta sebagai pusat. Di atas takhta terdapat Kristus sebagai Anak domba dengan Allah di dalam Dia (22:1). Anak Domba ini adalah lampu yang mempunyai Allah di dalamnya sebagai terang (21:23; 22:5). Hal ini mengindikasikan bahwa Allah berada di dalam Anak Domba, sama seperti terang berada di dalam lampu.

Gunung emas yang tinggi itu merupakan tempat berdiri (berpijak). Di atas tempat ini terdapat sebuah lampu; itulah sebabnya gunung itu adalah kaki dian emas. Inilah kaki dian emas dengan Kristus sebagai lampu dan Allah di dalam-Nya sebagai terang yang memancarkan sinar hingga kekekalan. Jadi, kota kudus di atas gunung emas merupakan kumpulan seluruh kaki dian, totalitas dari semua kaki dian hari ini, memancarkan kemuliaan Allah di dalam kekekalan dalam langit baru dan bumi baru.

Kota dan Jalannya

Kota dan jalannya adalah emas tulen bagaikan kaca murni (21:18b, 21b). Emas tulen melambangkan sifat Allah. Guru-guru Alkitab pada umumnya setuju bahwa secara tipologi emas menandakan sifat ilahi, esens ilahi.

Dua Belas Fondasi dan Dua Belas Pintu Gerbang

Dua belas fondasi dari dua belas batu permata yang berbeda, memiliki nama kedua belas rasul, melambangkan seluruh orang kudus Perjanjian Baru, yang diwakili oleh dua belas rasul tersebut (21:14, 19-20). Yerusalem Baru merupakan susunan dari semua orang kudus yang tertebus, baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Kedua belas rasul mewakili orang-orang kudus Perjanjian Baru, sedangkan nama kedua belas suku pada kedua belas pintu gerbang mewakili orang-orang kudus Perjanjian Lama (21:12-13, 21a).

Mutiara melambangkan orang-orang kudus yang dihasilkan melalui inkarnasi, ketersaliban, dan kebangkitan Kristus. Di dalam inkarnasi-Nya, Ia seperti tiram yang hidup di dalam air kematian. Kemudian Ia terluka oleh kita, butiran pasir yang kecil. Luka ini menyebabkan Ia mengeluarkan cairan hayat-Nya menyelubungi kita, menjadikan kita mutiara-mutiara. Di sini terdapat inkarnasi, ketersaliban, dan kebangkitan. Melalui proses ini, kita, butiran pasir, telah dijadikan mutiara-mutiara yang berharga.

Batu-batu Permata

Fondasi dan dinding yang dibangun dengan batu-batu permata melambangkan orang-orang kudus yang diubah oleh Roh yang menguduskan (21:19-20, 18a, 11b). Kita dibuat dari debu, tetapi kita telah dilahirkan kembali menjadi batu dan diubah menjadi batu-batu permata. Debu dilahirkan kembali menjadi batu dan diubah menjadi batu permata, memenuhi syarat untuk digunakan sebagai bahan bangunan Allah.

Panjang, Lebar, dan Tinggi Kota

Panjang, lebar, dan tinggi kota itu sama, seperti Ruang Maha Kudus dalam Perjanjian Lama yang mempunyai tiga dimensi yang sama (1 Raj. 6:20). Ukurannya adalah dua puluh hasta panjangnya, dua puluh hasta lebarnya dan dua puluh hasta tingginya. Inilah Ruang Maha Kudus dalam lambang bait. Ruang Maha Kudus di dalam tabernakel adalah sepuluh hasta kali sepuluh hasta kali sepuluh hasta (Kel. 26:2-8). Kedua contoh tersebut mempunyai tiga dimensi yang sama. Prinsipnya adalah bangunan yang mempunyai tiga dimensi yang sama seperti itu melambangkan Ruang Maha Kudus, yang merupakan tempat Allah berdiam (Why. 21:16). Jadi, seluruh kota merupakan tempat kediaman Allah.

Tidak Ada Bait

Yohanes mengatakan, "Dan Aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu" (21:22). Hal ini mengindikasikan bahwa seluruh kota adalah bait. Mula-mula terdapat tabernakel dalam kitab Keluaran. Kemudian, setelah memasuki tanah permai, bangsa Israel membangun sebuah bait yang menggantikan tabernakel. Bahkan sebelum bait dibangun, dalam 1 Samuel 3:3 tabernakel disebut bait. Hal ini berarti bahwa tabernakel dan bait sesungguhnya mengacu kepada satu benda. Yang satu dapat dibongkar dan dipindah dari satu tempat ke tempat lain di padang gurun; sedangkan yang lain mempunyai tempat yang lebih menetap dalam tanah permai sebagai bangunan yang lebih permanen.

Kota kudus disebut tabernakel. Dalam Perjanjian Lama, bait berada di dalam kota Yerusalem, tetapi dalam Wahyu 21 dan 22 seluruh kota adalah tabernakel dan bait. Bait ini bukan hanya tempat kediaman Allah tetapi juga tempat kediaman semua orang yang melayani-Nya. Pada waktu itu, semua orang kudus akan menjadi imam dengan keimaman yang kekal. Kita semua akan melayani Dia (22:3). Jadi, tempat kediaman kita juga adalah bait. Yerusalem Baru adalah bait yang besar tempat Allah dan orang-orang tebusan-Nya tinggal bersama.

Kemuliaan Allah Sebagai Terang

dan Anak Domba Sebagai Lampu

"Kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya" (21:23). "Mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka" (22:5). Kemuliaan Allah sebagai terang dan Anak Domba sebagai lampu menandakan bahwa Allah di dalam Kristus merupakan terang dari Yerusalem Baru di dalam kekekalan. Di dalam kota baru tidak diperlukan lagi matahari, terang alamiah, atau pun lampu buatan manusia yang mana pun karena Allah sendiri akan menjadi terang dan Kristus akan menjadi lampu, memancarkan Allah untuk menerangi seluruh kota. Ini berarti bahwa Allah di dalam Kristus merupakan segala sesuatu di dalam Yerusalem Baru.

Takhta Allah dan Anak Domba

Takhta Allah dan Anak Domba merupakan pusat administratif kota. Dari padanya mengalir keluar sungai air kehidupan di tengah-tengah jalan yang memiliki pohon kehidupan berupa tanaman anggur yang tumbuh pada kedua sisi di sepanjang sungai (22:1-2). Jalan berupa spiral, dan sungai berada di jalan. Karena pohon kehidupan tumbuh pada kedua sisi di sepanjang sungai, pohon tersebut pasti pohon anggur. Sebuah pohon yang berdiri tegak tidak dapat bertumbuh pada kedua sisi. Karena itu pohon tersebut pasti sebuah pohon anggur, bertumbuh secara melingkar di sepanjang jalan. Yohanes 15 membicarakan pohon anggur (ay. 1). Yesus adalah pohon anggur, yaitu pohon kehidupan.

Dalam siaran radio, seorang guru Alkitab ditanya mengenai pohon kehidupan. Ia mengatakan bahwa pohon kehidupan telah berlalu. Hal ini tidak benar. Pohon kehidupan tetap ada sampai hari ini, dan ia akan tetap ada sampai selama-lamanya. Dalam Wahyu 2:7 Tuhan Yesus mengatakan bahwa kepada yang menang Ia "akan memberi makan dari pohon kehidupan". Bahkan hari ini janji ini telah digenapi. Pohon kehidupan yang kita makan adalah Yesus (Yoh. 6:57). Di satu pihak, Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa Ia adalah roti hayat (6:48) yang dilambangkan oleh manna. Kemudian pada pihak lain, dalam Yohanes 15, Ia memberi tahu kita bahwa Ia adalah pokok anggur dan dalam 14:6 Ia adalah hidup (hayat). Sebagai pokok anggur dan sebagai hayat, Ia adalah pohon kehidupan. Pohon kehidupan dalam Kejadian 2:9 melambangkan Kristus. Ia datang kepada kita sebagai realitas dalam Yohanes 14 dan 15. Hari ini Ia tetap adalah pohon kehidupan yang boleh kita makan.

Pohon kehidupan sebagai pohon anggur yang tumbuh pada kedua sisi di sepanjang sungai menandakan bahwa Allah di dalam Anak Domba merupakan inti Yerusalem Baru dan menyuplai Yerusalem Baru dengan hayat ilahi-Nya untuk merawat dan memuaskannya. Jalan tempat sungai air kehidupan mengalir, menurun secara melingkar dari puncak gunung agar mencapai kedua belas pintu gerbang pada keempat sisi kota untuk persekutuannya (22:1-2). Jalan adalah untuk komunikasi; komunikasi adalah persekutuan. Satu Yohanes 1:1 dan 3 menunjukkan kepada kita bahwa hayat ilahi ini menghasilkan persekutuan ilahi. Jalan, sungai, dan pohon kehidupan adalah bagi persekutuan. Hari ini dalam pemulihan Tuhan, kita berada di dalam persekutuan ini, yaitu di sepanjang jalan dengan sungai yang mengalir dan pohon yang tumbuh.

MEMPELAI PEREMPUAN,

ISTRI ANAK DOMBA

Perampungan sempurna tersebut adalah mempelai perempuan, istri Anak Domba (21:2, 9). Seluruh kota kudus adalah mempelai perempuan. Dalam Injil Yohanes, pada saat murid-murid Yohanes iri kepada Yesus, Yohanes berkata, "yang empunya mempelai perempuan, ialah mempelai laki-laki" (Yoh. 3:26-29). Sebagai teman mempelai laki-laki, Yohanes senang jika pengikut-pengikutnya meninggalkan dia dan pergi kepada Yesus, karena Ia adalah mempelai laki-laki. Kelahiran kembali dalam Yohanes 3 adalah untuk menghasilkan mempelai perempuan.

Akhirnya, kita akan menjadi perempuan korporat untuk selama-lamanya (Why. 21:2). Lelaki satu-satunya untuk selama-lamaya adalah Allah kita, penebus kita, Tuhan kita. Kita akan menjadi perempuan korporat untuk berpasangan dengan Dia. Jadi pada akhirnya, apa yang dihasilkan dari dua ganda pekerjaan Allah — penciptaan dan pembangunan — adalah suatu pasangan. Allah dinikahkan dengan manusia, dan manusia dinikahkan dengan Allah. Kesimpulan dari keenam puluh enam kitab dalam Alkitab adalah Wahyu 22:17, yang mengatakan, "Roh dan pengantin perempuan itu berkata...". Kesimpulan Alkitab adalah pasangan itu berkata.

Mempelai perempuan yang berpasangan dengan Roh itu adalah perampungan sempurna dari semua manusia tripartit yang ditebus, dilahirkan kembali, diubah, dan dimuliakan. Roh itu adalah Roh almuhit sebagai perampungan sempurna Allah Tritunggal. Roh itu adalah Allah Tritunggal yang mencapai kita, maka apa yang mencapai kita ini merupakan sesuatu yang telah rampung. Ia telah melewati proses inkarnasi, kehidupan manusia, ketersaliban, kebangkitan, dan kenaikan.

Hari ini, Allah kita adalah Allah yang telah melewati proses. Pada mulanya adalah Firman, dan Firman itu adalah Allah, dan Firman itu telah menjadi daging. Inkarnasi adalah suatu proses. Ia yang berinkarnasi ini hidup di bumi di dalam rumah seorang tukang kayu yang miskin. Setelah tiga puluh tiga setengah tahun, Ia digiring ke pembantaian seperti seekor anak domba, dan Ia disembelih di atas salib. Ini juga suatu proses. Ia pergi ke alam maut (Kis. 2:27; Ef. 4:9), dan Ia masuk ke dalam kebangkitan. Ini juga suatu proses. Tentu saja semua langkah ini merupakan suatu proses yang telah Ia lalui. Hari ini, Allah kita tidak lagi sama dengan Allah pada waktu Ia belum berinkarnasi.

Apakah Anda percaya bahwa Allah kita sama dengan Allah pada waktu belum berinkarnasi? Ibrani 13:8 mengatakan, "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." Jika Anda mengatakan bahwa sejak kebangkitan-Nya Ia tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya, saya setuju dengan Anda; tetapi jika Anda mengatakan bahwa ayat ini benar untuk diterapkan kepada Yesus sebelum berinkarnasi, saya tidak setuju. Ia tidak mempunyai daging sebelum berinkarnasi. Melalui semua proses ini, Allah menjadi penebus kita, Juruselamat kita, dan hayat kita. Ia bahkan menjadi Roh pemberi hayat yang kaya, limpah dan hari ini berada di dalam kita.

Jadi, kesimpulan seluruh Alkitab adalah perampungan Allah Tritunggal yang telah melalui proses, dan sang istri yang adalah totalitas dan perampungan dari semua manusia tripartit yang telah ditebus, dilahirkan kembali, diubah, dan dimuliakan. Haleluya! Allah Tritunggal menikah dengan manusia tripartit. Inilah pasangan kekal yang akan mengekspresikan Allah Tritunggal sampai selama-lamanya. Manusia tripartit di dalam kekekalan akan menikmati Allah Tritunggal yang kaya ini.

Kita telah dipilih dan ditakdirkan (ditentukan), dan kita telah dipanggil, diselamatkan, dan dilahirkan kembali. Sekarang kita sedang diubah untuk menjadi bahan-bahan berharga sehingga kita dapat dibangun menjadi suatu rumah rohani untuk melayani Allah dan menjadi Tubuh Kristus untuk mengekspresikan Dia. Inilah sasaran kita. Kita adalah anak-anak Allah yang sedang diubah sehingga kita dapat dibangun menjadi rumah untuk melayani Allah dan menjadi Tubuh untuk mengekspresikan Kristus.