PENERAPAN ROH
Pembacaan Alkitab:
Kej. 1:2; Hak. 3:10; Luk. 1:35; Yoh. 7:39; Kis 16:6-7;
Rm. 8:2, 9; Flp. 1:19; 1 Kor. 15:45; 2 Kor. 3:6, 17-18;
Why. 1:4; 4:5; 5:6; 2:7; 14:13; 22:17; Yoh. 14:17; 15:26; 16:13-15;
1 Yoh. 5:7; Yoh 3:5-6; 2 Kor. 1:21-22; Ef. 1:13; 4:30;
1 Ptr. 1:2; Rm. 15:16; 1 Kor. 12:13
Doa: Tuhan, betapa kami bersyukur kepada-Mu atas firman-Mu. Kami berterima kasih kepada-Mu atas perhimpunan ini. Kami percaya bahwa semua ini adalah kedaulatan-Mu. Tuhan, kami datang kepada-Mu, mengitari firman-Mu. Sungguh suatu belas kasih dan kasih karunia! Kami bersandar kepada-Mu untuk memahami firman-Mu. Kami mengakui kekurangan kami. Kami penuh kekurangan — kurang pengertian, kurang kata-kata yang tepat, bahkan kurang dalam pendengaran. Urapilah telinga dan pikiran kami. Urapilah mulut yang berbicara. Semoga Tuhan berbicara melalui pembicaraan kami. Kami ingin berlatih menjadi satu roh dengan-Mu, khususnya saat ini, saat menyampaikan firman-Mu. Tuhan, basuhlah kami dengan darah adi-Mu. Kami sangat bersyukur kepada-Mu karena di mana ada darah, di situ ada pengurapan yang kaya. Kami bersandar kepada pengurapan-Mu. Malam ini, untuk firman yang demikian misterius, kami sungguh-sungguh menengadah kepada-Mu. Tuhan, kalahkanlah musuh dan campakkanlah semua kegelapan dari ruangan ini. Kunjungilah setiap peserta. Dalam nama-Mu yang penuh kuasa kami memohon. Amin.
Kita telah membahas dua butir pertama dari wahyu dasar dalam Kitab Suci — rencana Allah dan penebusan Kristus. Dalam bab ini, kita sampai pada butir yang ketiga — penerapan Roh. Ini adalah butir yang paling misterius dalam wahyu ilahi.
Percetakan dapat digunakan sebagai ilustrasi bagi penerapan Roh itu. Dalam percetakan, mula-mula ada konsep, naskah. Kemudian huruf-huruf naskah itu disusun di atas suatu lembar kertas untuk dibuat negatifnya. Setelah itu, barulah dapat mencetak dengan menggunakan negatifnya guna menghasilkan cetakan sebanyak yang diinginkan. Tahap terakhir dari percetakan, yaitu tahap yang menghasilkan banyak cetakan tersebut mengilustrasikan penerapan Roh itu.
Kristus melakukan pekerjaan besar "penyusunan huruf (typesetting)" dari apa yang telah ditetapkan Allah dalam rencana-Nya. Ia berinkarnasi dan hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Kemudian mati di atas salib, bangkit, dan naik ke surga. Melalui proses yang demikian panjang, dari inkarnasi sampai kenaikan, Tuhan Yesus telah melakukan pekerjaan typesetting (penyusunan huruf) yang luar biasa. Pekerjaan ini menghasilkan sebuah "negatif". Sekarang, Roh itu datang dan menerapkan kepada kita apa yang telah dikerjakan oleh Kristus. Bapa merencanakan, Putra merampungkan, dan Roh itu datang untuk menerapkan apa yang telah dirampungkan Kristus berdasarkan rencana Bapa.
Untuk mendapatkan hasil cetak yang terbaik, kita harus menggunakan kertas yang bersih, jernih. Itulah sebabnya perkara pertama yang diterapkan oleh Roh itu kepada kita adalah pembasuhan darah adi Tuhan Yesus (Ibr. 9:14). Roh itu membasuh kita dengan darah penebusan Kristus. Melalui darah adi, kita telah dicuci dan dibersihkan. Sekarang, kita adalah kertas yang bersih, jernih, dan baik untuk percetakan rohani ini.
ROH ITU DALAM SELURUH ALKITAB
Untuk memahami bagaimana pekerjaan Roh itu dalam menerapkan apa yang telah dirampungkan Kristus, marilah kita membahas bagaimana Roh itu diwahyukan secara bertahap dalam seluruh Kitab Suci.
Roh Allah
Roh Allah disebut untuk kali pertama dalam Kejadian 1:2. Itulah Allah Roh dalam penciptaan-Nya. Roh Allah mengerami air mati demi penciptaan Allah.
Roh Yehova
Setelah menciptakan manusia, Allah tetap berhubungan secara intim dengan manusia. Dalam hubungannya dengan manusia, panggilan Allah adalah Yehova. Itulah sebabnya, dalam Perjanjian Lama Roh Allah sering kali disebut Roh Yehova. Roh Yehova datang ke atas orang-orang tertentu. Hal ini menyatakan bahwa Roh Yehova berkaitan dengan Allah yang mencapai (berhubungan dengan) manusia (Hak. 3:10; Yeh. 11:5). Dalam Perjanjian Lama, panggilan utama yang digunakan untuk Roh Allah, adalah Roh Allah dan Roh Yehova.
Roh Kudus
Pada saat inkarnasi, Roh Allah disebut Roh Kudus (Mat. 1:18, 20; Luk. 1:35). Andrew Murray, dalam karya agungnya, Roh Kristus, mengemukakan bahwa sebutan ilahi Roh Kudus tidak digunakan dalam Perjanjian Lama. Dalam Mazmur 51:13 dan dalam Yesaya 63:10-11, istilah "Roh Kudus" seharusnya diterjemahkan menjadi "Roh kekudusan". Saat tiba waktunya untuk mempersiapkan jalan bagi kedatangan Kristus dan mempersiapkan satu tubuh manusia bagi-Nya untuk memulai zaman Perjanjian Baru, istilah "Roh Kudus" baru digunakan (Luk. 1:15, 35).
Roh itu belum ada
Sekarang, kita sampai pada bagian yang paling sulit. Dalam Yohanes 7:37-38 Tuhan Yesus berseru, "Barangsiapa haus, baiklah ia datang kepada-Ku dan minum! Barangsiapa percaya kepada-Ku, seperti yang dikatakan oleh Kitab Suci: Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup." Kemudian dalam ayat 39 Yohanes menjelaskan bahwa yang dimaksud oleh Tuhan ialah "Roh yang akan diterima oleh mereka yang percaya kepada-Nya; sebab Roh itu belum ada (belum datang — LAI), karena Yesus belum dimuliakan". Yohanes tidak menyebutkan Roh Allah, Roh Yehova, atau Roh Kudus, tetapi "Roh itu". Ia mengatakan bahwa "Roh itu belum ada" saat Yesus sedang berseru kepada orang banyak. Versi King James mengatakan, "Roh itu belum diberikan," tetapi kata "diberikan" ini sebenarnya disisipkan, karena kata tersebut tidak terdapat dalam teks bahasa Yunaninya. Roh Allah ada dalam Kejadian 1, dan Roh Yehova turun ke atas nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Lalu mengapa dalam Yohanes 7 Roh itu "belum ada"?
Andrew Murray, dalam bukunya yang berjudul Roh Kristus menyatakan bahwa sebelum Kristus dimuliakan, yaitu sebelum kebangkitan-Nya (Luk. 24:26), Roh Allah hanya mempunyai keilahian. Tetapi, ketika Kristus dibangkitkan, Roh Allah menjadi Roh Yesus yang dimuliakan. Jika masih sebagai Roh Allah, Ia hanya akan memiliki unsur ilahi. Perkataan Murray menyiratkan bahwa Roh itu — menjadi Roh Yesus yang dimuliakan setelah kebangkitan Kristus — sekarang mempunyai unsur keinsanian.
Roh Majemuk
Ketika masih muda, saya diberi tahu bahwa minyak urapan dalam Keluaran 30:22-30 adalah lambang Roh Kudus. Tetapi setelah menerima penjelasan dari buku Andrew Murray, saya kembali mempelajari Keluaran 30. Minyak urapan ini terdiri dari minyak zaitun yang dicampur dengan empat macam rempah-rempah: mur, kayu manis, tebu, dan kayu teja. Minyak zaitun melambangkan Roh Kudus, lalu apakah sebenarnya keempat macam rempah-rempah tersebut? Banyak yang sudah mengetahui bahwa mur mengacu kepada kematian Kristus. Kayu manis seharusnya menyatakan kemanisan khasiat kematian tersebut. Tebu adalah sejenis buluh yang tumbuh di tanah berlumpur dan menjulang tinggi di udara. Hal ini mengacu kepada kebangkitan. Pada zaman dahulu, kayu teja digunakan sebagai penangkal serangga, khususnya ular. Hal ini seharusnya menyatakan kuat kuasa kebangkitan Kristus yang menang atas Iblis.
Keempat macam rempah-rempah ini terdiri atas tiga satuan. Mur lima ratus syikal. Kayu manis dan tebu masing-masing dua ratus lima puluh syikal, sedangkan kayu teja lima ratus syikal. Jika anak domba melambangkan Kristus dan minyak zaitun melambangkan Roh Kudus, maka keempat macam rempah-rempah ini pasti juga melambangkan Kristus. Tiga satuan masing-masing lima ratus syikal seharusnya mengacu kepada Trinitas. Jumlah total berat kayu manis dan tebu dibagi menjadi dua, masing-masing setengah bagian yaitu dua ratus lima puluh syikal, hal ini menandakan persona kedua dari Trinitas "terbelah" di atas salib, sama seperti tabir yang terbelah dari atas sampai bawah.
Angka satu pada satu hin minyak zaitun mengacu kepada Allah yang unik. Angka empat pada empat macam rempah-rempah mengacu pada makhluk ciptaan. Dalam kitab Yehezkiel, dan kitab Wahyu ada empat makhluk hidup yang mengacu kepada ciptaan Allah (Yeh. 1:5, 10; Why. 4:6-9).
Dari perkara ini kita dapat menyadari bahwa minyak urapan itu seharusnya merupakan lambang almuhit dari Roh majemuk yang disebutkan dalam Yohanes 7:39. Ini berarti bahwa Roh Allah sebagai unsur dasar telah ditambah dengan keilahian, keinsanian, kematian, dan kebangkitan Kristus sebagai rempah-rempah. Dalam Roh majemuk ini ada Allah yang unik, Trinitas, manusia, makhluk ciptaan, kematian Kristus, kemanisan dan khasiat kematian-Nya, kebangkitan Kristus, dan kuasa kebangkitan-Nya. Mula-mula, Roh itu adalah Roh Allah yang hanya memiliki esens ilahi. Tetapi, setelah Allah dalam Putra menjadi seorang manusia dan mati di atas salib, melewati kematian dan kebangkitan, dan masuk ke dalam kenaikan, Roh itu menjadi Roh Yesus Kristus (Flp. 1:19), telah ditambah dengan esens Allah dan keinsanian Yesus serta kematian dan kebangkitan-Nya. Roh itu tidak lagi hanya memiliki esens ilahi, tetapi sebagai tambahan, sekarang Roh itu mempunyai keinsanian Yesus serta kematian Kristus, khasiat kematian-Nya, kebangkitan, dan kuat kuasa kebangkitan-Nya.
Melalui tulisan orang-orang dari golongan hayat batini, saya menerima bantuan untuk mengetahui bahwa saya telah disalibkan sebelum saya dilahirkan (Gal. 2:20). Dalam pandangan Allah, kita telah disalibkan sebelum dilahirkan. Sebagai umat pilihan Allah, kita dilahirkan dalam keadaan tersalib. Mrs. Jesse Penn Lewis mengatakan bahwa setiap orang Kristen harus mati untuk hidup (Yoh. 12:24; 1 Kor. 15:31; 2 Kor. 4:11). Tetapi, pengalaman saya membuktikan bahwa semakin berusaha untuk mati, saya semakin hidup. Sebuah kidung yang ditulis oleh A.B. Simpson mengatakan bahwa ada sepatah kata yang telah diberikan Tuhan ... memandang (menganggap). Berdasarkan Roma 6:11, kita harus memandang diri kita sendiri mati. Saya telah berlatih demikian, tetapi tidak berhasil. Semakin saya memandang diri sendiri mati, kelihatannya saya semakin hidup! Dalam buku karangan Watchman Nee yang berjudul Penghidupan Orang Kristen yang Normal, ada bab yang menitikberatkan hal ini. Buku tersebut merupakan kumpulan berita yang disampaikan oleh saudara Nee sebelum tahun 1939. Setelah tahun 1939, ia mulai memberi tahu orang-orang bahwa kita baru dapat mengalami kematian Kristus seperti yang diwahyukan dalam Roma 6 jika kita mempunyai pengalaman atas Roh Kristus dalam Roma 8. Kematian Kristus dalam Roma 6 hanya dapat dialami oleh Roh-Nya dalam Roma 8. Dengan kata lain, jika kita tidak berada dalam Roh itu, maka memandang (menganggap) diri kita mati tidak akan berhasil.
Kristus adalah Kristus dan Anda adalah Anda; kematian-Nya bukanlah kematian Anda kecuali jika Anda bersatu dengan-Nya secara organik melalui Roh. Dalam Roh majemuk terdapat elemen-elemen kematian Kristus dan khasiat-Nya yang dilambangkan oleh mur dan kayu manis. Ketika berada di dalam Roh itu, di dalam Roh majemuk, kita tidak perlu memandang (menganggap) diri sendiri mati, karena dalam Roh itu terdapat elemen kematian Kristus.
Beberapa obat-obatan mempunyai elemen yang dapat membunuh kuman-kuman. Jika mencoba untuk membunuh kuman dengan diri sendiri, Anda akan gagal. Tetapi, jika Anda minum obat yang tertulis dalam resep, maka suatu elemen dalam obat tersebut akan membunuh kuman-kuman untuk Anda. Hari ini, Roh majemuk merupakan satu dosis yang almuhit. Para dokter akan memberi tahu Anda bahwa dosis yang terbaik adalah dosis yang membunuh kuman-kuman dan sekaligus merawat (memberi makan) pasien. Hal ini dapat digunakan untuk mengilustrasikan Roh majemuk. Dalam Roh majemuk, ada kematian Kristus yang mempunyai kekuatan membunuh; ada juga kebangkitan Kristus yang merupakan sumber bergizi dari hayat ilahi. Elemen yang membunuh dan bergizi ini secara bersamaan ditambahkan ke dalam satu Roh itu.
Roh Yesus
Dalam Kisah Para Rasul 16:6-7, Roh Kudus disebut Roh Yesus. Yesus adalah seorang manusia yang menderita penganiayaan. Sebagai seorang penginjil, Paulus pergi untuk memberitakan, ia juga menderita. Dalam penderitaan tersebut, Ia memerlukan Roh Yesus karena dalam Roh Yesus ada elemen penderitaan. Jika Anda pergi ke suatu negeri kafir untuk memberitakan Injil, Anda perlu Roh Yesus untuk menghadapi penentangan dan penganiayaan. Kekuatan menderita untuk menahan semua penganiayaan ada dalam Roh Yesus.
Roh Kristus
Dalam Kisah Para Rasul 16, Paulus memerlukan Roh Yesus untuk menghadapi penganiayaan, tetapi dalam Roma 8 ada Roh Kristus di dalam kebangkitan. Dalam Roma 8:9-10 terdapat tiga sebutan: Roh Allah, Roh Kristus, dan Kristus. Tiga sebutan ini penggunaannya dapat ditukar-tukar. Hal ini menyatakan bahwa Roh Allah adalah Roh Kristus, dan Roh Kristus adalah Kristus sendiri. Tiga sebutan ini sinonim (muradif). Roh Kudus Allah bukan hanya Roh Allah, tetapi juga Roh Yesus yang menderita, dan Roh Kristus yang bangkit. Selama mempunyai Roh yang sedemikian, kita mempunyai kekuatan menderita untuk menghadapi penganiayaan, dan kuasa kebangkitan untuk menempuh kehidupan yang bangkit, menang atas dosa dan maut (Rm. 8:2).
Roh Yesus Kristus
Dalam Filipi 1:19 Paulus menyebutkan "pertolongan (suplai serba limpah lengkap — Tl.) Roh Yesus Kristus." Suplai serba limpah lengkap ada dalam roh Yesus Kristus. Roh ini membawa Yesus menempuh inkarnasi dan menempuh kehidupan manusia di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Selama bertahun-tahun Tuhan Yesus menempuh kehidupan yang kudus, tanpa dosa, dengan Roh di dalam-Nya. Roh yang sama ini membawa Yesus menempuh kematian dan masuk ke dalam kebangkitan. Kemudian, Roh Allah menjadi Roh Yesus Kristus. Melalui proses yang demikian panjang, elemen keinsanian, kehidupan manusia, dan penderitaan, ketersaliban Kristus, kebangkitan-Nya, dan bahkan kenaikan-Nya, semuanya telah ditambahkan ke dalam Roh yang satu ini.
Roh yang telah kita terima bukan hanya Roh Allah yang hanya memiliki elemen ilahi. Roh yang telah kita (orang-orang Kristen) terima adalah Roh yang telah ditambah dengan keilahian, keinsanian, kehidupan manusia, penderitaan, ketersaliban, kebangkitan, dan kenaikan. Allah ada dalam Roh. Keinsanian Yesus yang ditinggikan dan kehidupan manusia serta penderitaan-Nya juga ada dalam Roh itu. Kematian, kebangkitan, dan kenaikan Kristus, semuanya ada dalam Roh yang satu itu sehingga di dalam Roh tersebut ada suplai serba limpah lengkap. Paulus dapat menahan derita aniaya dan hukuman penjara karena suplai serba limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus. Suplai ini menjadi keselamatan pribadinya dan keselamatannya sehari-hari. Meskipun diikat dan dipenjara, ia masih memperbesar Kristus dan memperhidupkan Kristus (Flp. 1:19-21a). Ia memperbesar Kristus bukan dengan tenaganya atau dengan kekuatannya sendiri, tetapi dengan suplai serba limpah lengkap dari Roh Yesus Kristus.
Roh Tuhan
"Roh Tuhan (Roh Allah — LAI)" (2 Kor. 3:17) menunjukkan bahwa elemen kenaikan Kristus juga ditambahkan ke dalam Roh ini. "Tuhan" dalam ayat ini mengacu kepada Kristus yang tersalib, bangkit, dan naik. Saat Ia ditinggikan (dimuliakan), Ia dijadikan Tuhan (Kis. 2:36).
Dua Korintus 3:17 mengatakan, "Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Tuhan (Roh Allah — LAI), di situ ada kemerdekaan." Pertama, ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa keduanya adalah satu. Kedua, ia menunjukkan kepada kita bahwa keduanya masih tetap dua. Demikian pula dengan Yohanes 1:1 yang mengatakan, "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah." Firman dan Allah adalah satu, namun Firman itu bersama-sama dengan Allah, hal ini menandakan bahwa Firman dan Allah itu sebenarnya dua.
Roh Itu Identik dengan Tuhan
Roh itu identik dengan Tuhan. Pada waktu yang lalu, istilah Kristus yang pneumatik (berwujud Roh) digunakan dalam kristologi. Kristus yang pneumatik menyatakan bahwa Kristus itu sendiri adalah Roh. Tetapi, jangan mengira bahwa ketika Alkitab mengatakan Tuhan adalah Roh, Alkitab menghapus perbedaan antara Putra dan Roh. Mereka adalah satu, namun tetap dua. Mereka adalah satu, tetapi tetap berbeda.
Setiap kebenaran dalam Alkitab memiliki dua aspek. Mengenai Allah Tritunggal, jika Anda terlalu condong pada aspek satu, Anda adalah penganut aliran modalisme. Jika Anda terlalu condong pada aspek tiga, Anda adalah penganut aliran tritheisme. Kita berpegang pada Firman, maka kita bukan penganut aliran modalisme maupun tritheisme. Kita percaya kepada Trinitas yang murni, bahwa Allah adalah tiga-esa. Secara khusus, Allah adalah satu, namun ke-Allahan-Nya adalah Trinitas. Istilah Tritunggal berasal dari bahasa Latin. Tri- berarti tiga; -tunggal berarti satu. Karena itu, tritunggal berarti tiga-esa.
Dalam Yohanes 14:23, Tuhan Yesus memberi tahu kita bahwa barangsiapa mengasihi Dia, Ia dan Bapa akan datang kepadanya dan tinggal bersama-sama dengan dia. Dalam Yohanes 14:17, Tuhan Yesus juga memberi tahu kita bahwa Roh itu sebagai Roh realitas akan datang untuk tinggal dalam kaum beriman. Jadi, dalam pasal yang sama, kita diberi tahu bahwa Bapa dan Putra akan tinggal bersama orang yang mengasihi-Nya dan Roh itu juga akan tinggal dalam orang yang mengasihi-Nya. Hal ini memperlihatkan kepada kita bahwa ketiganya berada di dalam kaum beriman secara bersamaan. Allah Tritunggal berada di dalam kita. Ini adalah suatu misteri, tetapi melalui pengalaman kita, kita mengetahui bahwa hal itu memang demikian.
Dalam Matius 28:19 Tuhan Yesus mengatakan, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama (bentuk tunggal) Bapa dan Anak dan Roh Kudus." Istilah Yunani yang sama dengan istilah "dalam" pada ayat ini juga digunakan dalam Roma 6:3. Ketika dibaptis dalam Kristus, kita dibaptis dalam kematian-Nya. Matius 28:19 memerintahkan kita untuk membaptis orang beriman baru dalam nama Allah Tritunggal. M.R. Vincent mengatakan, "Pembaptisan dalam nama Trinitas kudus menyiratkan kesatuan yang rohani dan ajaib dengan Dia." Selanjutnya, ia mengatakan bahwa nama "sama dengan personanya". Dibaptis dalam nama ilahi berarti dicelup dalam persona ilahi.
Sebuah catatan dalam referensi Alkitab Scofield mengatakan, "Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah nama akhir dari satu Allah yang benar." Dalam beberapa terjemahan bahasa Inggris tidak terdapat kata of (dari) sebanyak tiga kali, sehingga jika diterjemahkan menjadi: nama dari Bapa dan Putra dan Roh Kudus. (Terjemahan bahasa Indonesia tidak menggunakan kata "dari" sehingga menjadi: nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus). Allah kita adalah Tritunggal: Bapa, Putra, dan Roh. Tetapi, sebutan yang demikian, nama yang demikian, baru dinyatakan setelah kebangkitan Yesus. Matius 28:19 diungkapkan setelah kebangkitan Yesus yang dimuliakan. Ayat ini dinyatakan setelah proses inkarnasi sampai kebangkitan Juruselamat kita lengkap.
Sebelum kebangkitan Kristus, Roh yang demikian, Roh majemuk, belum ada (Yoh. 7:39). Tetapi setelah kebangkitan-Nya, Roh Allah mendapat tambahan sehingga sekarang menjadi Roh yang telah melewati proses, almuhit, majemuk. Roh majemuk yang identik dengan Tuhan ini, seperti yang diwahyukan dalam 2 Korintus 3, adalah Roh pemberi hayat, Roh yang membebaskan, dan Roh yang mengubah, yang memberi kita hayat ilahi (ay. 6), membebaskan kita dari belenggu hukum Taurat (ay. 17), dan mengubah kita menjadi serupa dengan gambar Kristus dari kemuliaan kepada kemuliaan yang semakin besar (ay. 18).
Roh Pemberi Hayat
Paulus mengatakan bahwa melalui kebangkitan-Nya dan dalam kebangkitan-Nya, Adam yang akhir menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45). Ia tidak hanya menjadi Roh, tetapi khususnya Roh pemberi hayat. Istilah "pemberi-hayat" menyatakan Roh macam apakah itu. Dalam 2 Korintus 3:6 Paulus mengatakan bahwa Roh itu menghidupkan (memberikan hayat). Yohanes 6:63 mengatakan, "Rohlah yang memberi hidup." Dalam 2 Korintus 3, terjemahan Darby yang baru memberikan tanda kurung pada ayat 7 hingga ayat 16. Jika kita menganggap bahwa bagian ini adalah bagian yang menerangkan, maka ayat 17 adalah kelanjutan dari ayat 6. Roh itu menghidupkan (memberikan hayat) (ay. 6), dan Tuhan adalah Roh (ay. 17).
Banyak penulis sependapat bahwa dalam surat-surat Paulus, Kristus yang bangkit identik dengan Roh itu. Tetapi, hal ini tidak menghapus perbedaan antara Kristus dengan Roh itu. Kebenaran selalu mempunyai dua aspek. Dalam 2 Korintus 3:17, Tuhan dan Roh itu adalah satu. Dalam 2 Korintus 13:13, kita memiliki kasih karunia Kristus, kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus. Dari sini dapat dilihat bahwa Kristus dan Roh itu berbeda.
Roh Hayat
Satu Korintus 15:45 menyebut Kristus sebagai Roh pemberi hayat (Roh yang menghidupkan). Tentu saja, tidak mungkin ada dua Roh yang memberikan hayat. Kristus, Roh pemberi hayat, juga adalah Roh hayat. Istilah ini dinyatakan dalam Roma 8:2. Roma 8 membicarakan Roh hayat (Roh yang memberi hidup — LAI — ay. 2), Roh Allah (ay. 9), dan Roh Kristus (ay. 9), yang adalah Kristus sendiri (ay.10). Dalam pasal yang sama, Roh itu juga disebut sebagai karunia sulung (ay. 23).
Tujuh Roh Allah
Dalam kitab terakhir dari Alkitab, tujuh Roh Allah dinyatakan (Why. 1:4; 4:5; 5:6). Kredo (pengakuan iman) Nicea tidak menyebutkan mengenai tujuh Roh. Pada tahun 395 sesudah masehi, ketika Kredo Nicea dibuat, kitab Wahyu belum diakui sebagai bagian dari Alkitab. Keputusan bahwa kitab Wahyu termasuk dalam Alkitab terjadi pada tahun 397 sesudah masehi oleh dewan Carthage.
Selain itu, urutan Trinitas dalam Wahyu 1 juga diubah. Matius 28 memperlihatkan kepada kita: Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Tetapi dalam Wahyu 1:4-5, Bapa sebagai sang Kekal disebut pertama, kemudian tujuh Roh, dan yang terakhir adalah Putra.
Selanjutnya, Wahyu 5:6 mengatakan bahwa tujuh Roh adalah tujuh mata Anak Domba. Hal ini berarti bahwa yang ketiga dari Trinitas adalah mata dari yang kedua.
Semua butir ini menyatakan bahwa dalam kitab terakhir dari wahyu ilahi, bagi pembangunan gereja-gereja di zaman yang gelap ini, Roh Allah menjadi Roh yang diperkuat, Roh tujuh ganda. Roh tujuh ganda ini melaksanakan administrasi universal Allah untuk menggenapkan tujuan kekal Allah dan mengekspresikan Kristus dengan sepenuhnya sebagai pengurus universal Allah demi membawa masuk kerajaan Allah ke dalam milenium (Why. 20:4, 6), dan demi membawa kerajaan pada perampungan sempurnanya sebagai Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru (Why. 21:1-2).
Roh itu
Pada akhirnya, sebutan Roh yang menakjubkan ini menjadi begitu sederhana: Roh itu (Why. 2:7, 11, 17, 29; 3:6, 13, 22; 14:13; 22:17). Dalam kitab Wahyu, kita mempunyai tujuh Roh dan Roh itu. Pada pembukaan setiap surat dari ketujuh surat kepada gereja-gereja dalam kitab Wahyu disebutkan bahwa Tuhan Yesus sebagai penulis kepada gereja di tempat tertentu. Kemudian pada akhir setiap surat memberi tahu kita untuk "mendengarkan apa yang dikatakan Roh". Wahyu 22:17 mengatakan, "Roh dan pengantin perempuan itu berkata...."
Roh itu majemuk, melewati proses, dan almuhit. Ia adalah perampungan Allah Tritunggal yang mencapai umat pilihan-Nya. Menurut Yohanes 4:24, Allah kita adalah Roh. Bukan hanya Roh dari Trinitas saja yang adalah Roh, tetapi keseluruhan Allah — Bapa, Putra, dan Roh — adalah Roh. Allah adalah Roh, dan Allah ini meliputi Bapa, Putra, dan Roh.
Yohanes memberi tahu kita bahwa ketika Putra datang, Ia datang dalam nama Bapa (Yoh. 5:43). Kemudian Bapa mengutus Roh dalam nama Putra (14:26). Putra datang dalam nama Bapa; ini berarti Ia datang sebagai Bapa. Kemudian, Roh itu datang dalam nama Putra; ini berarti Roh itu datang sebagai Putra. Putra mengutus Roh itu kepada kita dari dengan (lihat catatan 261 dalam Yohanes 15) Bapa; dan Roh itu keluar dari dengan Bapa kepada kita (15:26). Ketika Roh itu datang, Putra ada di sana, demikian juga dengan Bapa. Putra dalam Bapa, dan Bapa juga dalam Putra (14:10). Ketika Putra ada di sana, Bapa juga ada di sana. Ketiganya ada di sana karena mereka adalah satu Allah. Anda tidak dapat memisahkan-Nya, walaupun Mereka tetap berbeda sebagai Bapa, Putra, dan Roh itu.
FUNGSI ROH ITU
Roh itu adalah realitas Kristus (Yoh. 14:17; 15:26; 1 Yoh. 5:7). Ketika menyeru nama Tuhan Yesus, kita menerima Roh itu sebagai realitas Kristus (Yoh. 14:17), dan Kristus ini, Putra Allah, adalah perwujudan Bapa (Kol. 2:9). Bapa diwujudkan dalam Putra, dan Putra diwujudkan sepenuhnya sebagai Roh itu. Kolose 2:9 mengatakan seluruh kepenuhan ke-Allahan tinggal dalam Kristus secara jasmani. Jadi, Kristus adalah perwujudan Allah, diwujudkan sepenuhnya sebagai Roh itu. Hal ini diwahyukan dalam Yohanes 16:13-15.
Roh itu memberikan hayat kepada kaum beriman, (1 Kor. 15:45; 2 Kor. 3:6) dan melahirkan mereka kembali di dalam roh mereka (Yoh. 3:5-6). Ia mengurapi kaum beriman (2 Kor. 1:21), memeteraikan mereka (Ef. 1:13; 4:30; 2 Kor. 1:22a), dan Roh itu sendiri adalah jaminan Allah yang diberikan kepada mereka (2 Kor. 1:22b). Melalui pengurapan yang membawa masuk elemen ilahi ini, Ia mengisi kaum beriman. Pemeteraian membuat elemen itu menjadi cap dan tanda. Jaminan berarti Ia sebagai penjamin bahwa Allah adalah warisan kita. Pada satu pihak, pemeteraian membuktikan bahwa kita adalah warisan Allah; pada pihak lain, Allah sebagai warisan kita untuk kenikmatan kita juga dijamin oleh Roh yang berdiam di dalam sebagai jaminan.
Ia juga adalah suplai serba limpah lengkap bagi kaum beriman (pertolongan — LAI — Flp. 1:19). Ia menguduskan kita, bukan hanya secara kedudukan tetapi juga di dalam watak (1 Ptr. 1:2; Rm. 15:16) dan di dalam pengalaman pula. Ia mengubah kaum beriman (2 Kor. 3:18).
Semua kaum beriman telah dibaptis dalam satu Roh ini menjadi satu Tubuh (1 Kor. 12:13). Pada hari Pentakosta dan di rumah Kornelius, ketika Kristus, sang Putra, yaitu Dia yang dinaikkan, mencurahkan Roh ke atas kaum beriman, hal itu merupakan pembaptisan Tubuh-Nya ke dalam Roh. Satu Korintus 12:13 mengatakan bahwa kita semua telah dibaptis dalam satu Roh menjadi satu Tubuh. Kristus merampungkan pembaptisan ini sama seperti Ia merampungkan ketersaliban-Nya. Semua orang yang percaya telah disalibkan (Gal. 2:20). Dalam prinsip yang sama, kita semua telah dibaptis pada hari Pentakosta dan di rumah Kornelius. Kita telah dibaptis dan diberi minum dari satu Roh (1 Kor. 12:13). Sekarang kita sedang minum dari Roh ini. Dibaptis adalah sesuatu yang lahiriah; minum adalah sesuatu yang di dalam batin. Secara lahiriah kita telah dibaptis; di dalam batin kita sedang minum dari satu Roh. Bersamaan dengan kenaikan Tuhan ke surga dan pencurahan Roh, seluruh pekerjaan Allah Tritunggal telah selesai. Bapa merencanakan bersama Putra dan Roh, dan Putra datang bersama Bapa dan Roh untuk merampungkan apa yang telah direncanakan Bapa. Akhirnya, Roh datang bersama Bapa dan Putra untuk menerapkan apa yang telah direncanakan Bapa dan apa yang telah dirampungkan Putra. Roh yang menerapkan ini merupakan perampungan Allah Tritunggal. Ia bukannya berdiri sendiri sebagai Roh yang terpisah, tidak ada hubungannya dengan Bapa dan tidak berhubungan dengan Putra; Ia adalah perampungan Allah Tritunggal, perampungan Trinitas ilahi, untuk mencapai kita.
Roh yang mencapai kita mempunyai dua aspek: aspek batin dan aspek lahiriah. Aspek batin telah dirampungkan pada hari kebangkitan. Pada hari itu, Tuhan yang bangkit datang kembali kepada murid-murid-Nya dan mengembuskan diri-Nya sendiri ke dalam mereka (Yoh. 20:22). Semua ini sepenuhnya adalah untuk hayat, hayat batin.
Lima puluh hari kemudian, yaitu pada saat Pentakosta, Ia mencurahkan Roh ke atas murid-murid seperti tiupan angin keras. (Kis. 2:1-2). Embusan adalah untuk hayat, tetapi angin adalah untuk kuasa. Saat Pentakosta, murid-murid diperlengkapi (diberi jubah) dengan kekuasaan dari tempat tinggi (Luk. 24:49). Berjubahkan Roh adalah seperti mengenakan seragam. Seragam memberikan kuasa, otoritas kepada pemakainya. Seorang polisi yang mengenakan seragam mempunyai otoritas untuk menghentikan kita. Jika ia tidak mengenakan seragam, kita tidak akan mendengarkan dia. Roh itu sebagai hayat kita, Roh pemberi hayat, bahkan Roh hayat, juga adalah Roh yang berada di luar kita, dicurahkan ke atas kita sebagai Roh kuasa dari tempat tinggi. Semua ini telah dirampungkan.
PERAMPUNGAN ALLAH TRITUNGGAL
Roh yang majemuk, yang melewati proses, dan yang almuhit ini, merupakan perampungan Allah Tritunggal. Apa saja yang Ia rencanakan, apa saja yang Ia rampungkan, apa saja yang akan Dia terapkan kepada kita, semuanya terbungkus dalam Roh majemuk ini. Keilahian terbungkus dalam-Nya; keinsanian Kristus juga terbungkus dalam-Nya. Kematian-Nya, penebusan-Nya, kematian yang memberikan hayat, terbungkus dalam-Nya. Kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya juga terbungkus dalam Roh majemuk yang satu ini, yang telah mencapai kita. Dalam batin, Ia adalah terang dan hayat kita; secara lahiriah Ia adalah kekuatan kita.
ROH DAN FIRMAN
Allah telah memberi kita dua karunia besar — Roh dan Firman. Roh majemuk adalah totalitas Allah Tritunggal dan semua yang telah dikerjakan-Nya. Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa Roh majemuk ini, termasuk Firman-Nya, adalah perampungan sempurna Allah Tritunggal yang mencapai kita. Persona ilahi dan Firman ilahi terbungkus dalam Roh majemuk yang satu ini. Semua berkat, semua pusaka Perjanjian Baru telah diwariskan kepada anak-anak Allah. Pusaka-pusaka ini juga terbungkus dalam Roh majemuk yang satu ini. Ada dua ayat dalam Perjanjian Baru yang mengindikasikan bahwa Roh itu dan Firman adalah satu. Dalam Yohanes 6:63 Tuhan berkata, "Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah Roh." Efesus 6:17 juga menyebutkan pedang Roh, (Roh tersebut) yaitu firman Allah. Bukan hanya firman Tuhan adalah Roh, Roh itu juga adalah Firman.
Itulah sebabnya dalam Roma 10 Paulus mengatakan bahwa ketika Anda mendengarkan pemberitaan Injil, Firman itu dekat kepada Anda, yakni di dalam mulut Anda dan di dalam hati Anda (ay. 8). Selama bertahun-tahun saya tidak mengerti apa yang dimaksudkan oleh Paulus. Bagaimana mungkin firman itu di dalam mulut saya dan di dalam hati saya? Pada akhirnya Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa di mana saja Perjanjian Baru diajarkan, diberitakan, dibaca, atau dipelajari oleh seseorang dengan hati yang sungguh-sungguh, Roh itu bekerja sama dengan Firman. Melalui Roh itu, Firman masuk ke dalam mulut Anda. Melalui Roh itu, Firman masuk ke dalam hati Anda. Tanpa Roh itu, firman yang tercetak tidak dapat masuk ke dalam mulut dan hati Anda. Ketika Anda melatih roh Anda untuk mendoakan ayat dalam Alkitab, ayat tersebut masuk ke dalam mulut Anda dan hati Anda. Anda tidak seharusnya membaca Alkitab tanpa berdoa. Anda harus membaca Alkitab, Firman kudus, dengan penuh doa. Anda tidak seharusnya hanya melatih pikiran Anda untuk mempelajari Firman. Anda harus datang kepada Firman dengan berdoa. Anda tidak perlu menggunakan kata-kata Anda sendiri; melainkan berdoa menggunakan Firman tersebut.
Kami semua tahu, ketika kami berdoa dengan cara ini, firman di atas kertas masuk ke dalam mulut dan hati kami, sehingga kami menerima terang, perawatan, penyiraman, kekuatan, hiburan, dan suplai hayat. Selain itu, Roh itu diterapkan ke atas kami sebagai perampungan Allah Tritunggal.
Roh itu dan Firman bekerja bersama-sama. Kita seharusnya selalu menjamah Alkitab melalui menjamah Roh itu. Kita seharusnya berdoa sambil membaca, dan membaca sambil berdoa. Maka kita akan menikmati Allah Tritunggal. Beban kami bukanlah berargumentasi atau berdebat, melainkan menyajikan kebenaran dasar kepada umat Allah hari ini, sehingga mereka dapat mengenal bahwa Allah kita sesungguhnya adalah Allah Tritunggal, bukan untuk kita mengerti, tetapi untuk kita nikmati. Kami menyajikan kebenaran untuk membantu orang-orang kudus mengenal bahwa Allah kita Tritunggal agar kita mendapat bagian dalam-Nya, menikmati-Nya, dan mengalami-Nya.
ROH MANUSIA
Kami juga menitikberatkan roh manusia (Za. 12:1; Ams. 20:27; Rm. 8:16; 2 Tim. 4:22). Sama seperti kita mempunyai mulut dan lambung untuk makanan kita, kita juga mempunyai roh manusia, yang merupakan mulut rohani dan lambung rohani kita. Alat penerima pada sebuah radio sangat penting. Kita mungkin mempunyai radio yang indah, berkualitas bagus, tetapi jika tidak ada alat penerimanya, radio tersebut kosong. Kita adalah sebuah "radio" untuk menerima kekayaan-kekayaan ilahi ke dalam "alat penerima" di dalam kita — roh manusia.
Kami sangat menitikberatkan kedua roh ini, Roh majemuk dari Trinitas dan roh manusia di dalam kita, karena Roh majemuk merupakan perampungan Allah Tritunggal yang mencapai kita untuk kenikmatan kita, dan roh manusia adalah alat bagi kita untuk menerima Roh majemuk yang begitu kaya sehingga kita dapat menikmati kekayaan-kekayaan Allah Tritunggal dan mengalami Dia sehari-hari, bahkan setiap jam. Kami di sini bagi satu kesaksian agar semua umat Allah hari ini dapat mempunyai visi yang jelas mengenai Trinitas ilahi dan agar kami sendiri dapat mengambil bagian dalam-Nya dan menikmati Dia sepanjang hari.