PENEBUSAN KRISTUS
Pembacaan Alkitab:
Yoh. 1:14; Ibr. 2:14; Rm. 8:3; 2 Kor. 5:21; Yoh. 3:14; 1 Ptr. 2:24;
1 Kor. 15:3; Ibr. 9:28; Rm. 6:6; Gal. 2:20; Ef. 2:15;
Yoh. 12:24, 31; 19:34; 7:39; Luk. 24:26; Kis. 13:33; Rm. 8:29;
Ibr. 2:11-12; 1 Ptr. 1:3; Ef. 2:6; 1 Kor. 15:45; 2 Kor. 3:17-18;
Yoh. 20:22; Ef. 1:20-21; Kis. 2:36; Ef. 1:22-23; Kis. 2:33
Allah menciptakan langit dan bumi dengan manusia sebagai kepala dan intinya. Tetapi, kemudian manusia jatuh. Dalam pandangan Allah, kejatuhan manusia melibatkan seluruh ciptaan. Untuk menebus ciptaan yang jatuh, Allah datang di dalam Putra.
Penebusan bukanlah suatu gagasan yang timbul kemudian. Penebusan telah ditentukan sebelumnya oleh Allah. Satu Petrus 1:19-20 memberi tahu kita bahwa sang Penebus, Kristus, telah dipilih oleh Allah sebelum dunia dijadikan. Dalam ayat ini, istilah "dunia" mengacu kepada alam semesta. Sebelum alam semesta dijadikan, Allah sudah mengetahui bahwa manusia akan jatuh. Karena itu, sebelumnya Allah telah menentukan sang Putra, Kristus, untuk menjadi Penebus. Dari sini kita dapat melihat bahwa penebusan Allah bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.
Selanjutnya, Wahyu 13:8 mengatakan bahwa Anak Domba, yaitu sang Penebus, Kristus, telah disembelih "sejak dunia dijadikan". Dalam pandangan Allah, sejak adanya ciptaan, Kristus, sebagai Anak Domba yang ditentukan oleh Allah, telah disembelih. Dalam pandangan kita, Kristus disalibkan kurang dari dua ribu tahun yang lalu. Tetapi dalam pandangan Allah, Kristus telah disembelih sejak adanya ciptaan, karena sebelumnya Allah telah mengetahui bahwa ciptaan-Nya akan jatuh.
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa penebusan Allah bukanlah suatu gagasan yang timbul kemudian, melainkan sesuatu yang ditentukan, direncanakan, dan dipersiapkan oleh Allah dalam kekekalan yang lampau. Betapa kita perlu menghargai fakta penebusan yang kita nikmati di dalam Kristus ini!
ALLAH YANG BERINKARNASI
Langkah pertama perampungan penebusan Allah adalah inkarnasi. Benar-benar luar biasa, Allah datang ke dalam manusia dan dilahirkan sebagai seorang manusia melalui seorang anak dara. Allah kita menjadi seorang manusia! Dalam penciptaan, Ia adalah sang Pencipta. Tetapi, meskipun Ia menciptakan segala sesuatu, Ia tidak masuk ke dalam satupun dari makhluk yang diciptakan-Nya. Bahkan, saat menciptakan manusia, Ia hanya mengembuskan nafas hidup ke dalamnya (Kej. 2:7). Ia masih berada di luar manusia. Menurut Ayub 33:4, nafas-Nya membuat manusia hidup; namun, Ia sendiri tidak masuk ke dalam manusia. Sebelum inkarnasi, Ia terpisah dari manusia. Tetapi melalui inkarnasi, Ia sendiri masuk ke dalam manusia. Pertama-tama dikandung, kemudian tinggal di dalam rahim seorang anak dara selama sembilan bulan, sesudah itu Ia dilahirkan.
Firman Menjadi Daging
Menurut Yohanes 1:14, Ia tidak hanya menjadi seorang manusia; Ia "menjadi daging". Daging dalam ayat ini mengacu kepada manusia setelah kejatuhan. Dalam Kejadian 1 dan 2, manusia belum jatuh, tetapi setelah Kejadian 3, manusia jatuh. Istilah daging mengacu kepada manusia setelah jatuh, dan selalu mengandung makna negatif. Sebab tidak ada satu daging pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah oleh karena melakukan hukum Taurat (Rm. 3:20). Daging mengacu kepada manusia yang jatuh, dan Kristus sebagai Anak Allah menjadi seorang manusia. Ia menjadi daging.
Serupa dengan Daging yang Dikuasai Dosa
Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa Ia menjadi orang berdosa. Alkitab sangat berhati-hati mengenai perkara ini. Jika Alkitab hanya mencantumkan Yohanes 1:14, kita mungkin mengira bahwa Ia menjadi orang berdosa. Tetapi Alkitab juga mencantumkan Roma 8:3 yang mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya "yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa". Kristus menjadi daging, tetapi Ia hanya serupa dengan daging yang dikuasai dosa. Tidak ada dosa dalam daging-Nya. Ia hanya memiliki rupa daging, bukan sifat dosa daging. Paulus menyusun frase ini dengan tiga kata: rupa, daging, dan dosa. Hanya mengatakan daging yang dikuasai dosa, bisa berarti daging yang berdosa. Puji syukur kepada Tuhan karena Alkitab menambahkan "yang serupa", menunjukkan bahwa dalam sifat insani Kristus tidak terdapat dosa, meskipun sifat insani tersebut memiliki rupa, penampilan dari daging yang dikuasai dosa. Selain itu, Paulus tidak mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya yang serupa dengan daging lalu berhenti di situ. Tetapi, ia menambahkan "yang dikuasai dosa". Istilah serupa menyatakan dengan jelas bahwa keinsanian Kristus tidak mempunyai dosa, tetapi bagaimanapun juga keinsanian-Nya masih berkaitan dengan dosa.
Dalam ayat yang lain, yaitu 2 Korintus 5:21, Paulus mengatakan bahwa Kristus "tidak mengenal dosa". Ini berarti bahwa Ia tidak mempunyai dosa. Namun, 2 Korintus 5:21 juga mengatakan bahwa Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat menjadi dosa oleh Allah. Daya nalar kita tidak dapat memahami hal ini. Jika Kitab Suci tidak ditulis dengan cara demikian, maka kelihatannya adalah bidah kalau mengatakan bahwa Kristus telah dibuat menjadi dosa; tetapi Kristus telah dibuat menjadi dosa karena kita sebagai pengganti kita sepenuhnya. Jika hal ini tidak terjadi, kita tidak mungkin dapat diselamatkan. "Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita." Dia — yang telah dibuat menjadi dosa oleh Allah — tidak mengenal dosa.
Dalam Perjanjian Lama, perkara ini digambarkan dengan ular tembaga, seperti yang dijelaskan dalam kitab Bilangan 21. Ketika bangsa Israel berdosa terhadap Allah, mereka digigit oleh ular dan banyak di antara mereka yang mati. Musa berdoa bagi mereka, dan Allah menyuruh Musa untuk membuat sebuah ular tembaga serta meninggikannya dengan menaruhnya pada sebuah tiang. Siapa saja yang memandang ular tembaga itu akan hidup, dan banyak yang berbuat demikian (ay. 6-9).
Kemudian dalam Yohanes 3, Tuhan Yesus berbicara dengan Nikodemus mengenai kelahiran kembali. Nikodemus adalah seorang pengajar Israel (ay. 10) dan mengajarkan Perjanjian Lama, khususnya kelima kitab Musa. "Kata Nikodemus kepada-Nya, Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?" (ay. 4). Tuhan secara tidak langsung mengatakan, walaupun ia dapat masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan sekali lagi, ia masih tetap daging, "Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging" (ay. 6). Dilahirkan kembali bukan dilahirkan dari daging untuk kedua kalinya, tetapi dilahirkan dari Roh. "Apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh" (ay. 6).
Nikodemus merasa heran, bagaimana mungkin semuanya ini dapat terjadi. Kemudian Tuhan Yesus berkata kepadanya dengan nada menegur, "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?" (ay. 10). Kemudian, Ia menunjukkan kepada Nikodemus catatan dalam Bilangan 21, "Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal" (ay. 14-15).
Gambaran ini dengan jelas menyatakan bahwa ular tembaga hanya memiliki bentuk, rupa ular, tetapi tidak mempunyai sifatnya yang berbisa. Ini sesuai dengan perkataan Paulus "serupa dengan daging yang dikuasai dosa".
Ketika Kristus mati di atas salib, dalam pandangan Allah, Ia bukan hanya seekor Anak Domba tetapi juga seekor ular. Kedua aspek Kristus ini terdapat dalam kitab Yohanes. Yohanes 1:29 mengacu kepada Anak Domba Allah, dan Yohanes 3:14 mengacu kepada Anak Manusia, Kristus, yang ditinggikan seperti ular tembaga di padang gurun. Ketika Kristus, sang Penebus kita berada di atas salib, di satu pihak, Ia adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa kita; di pihak lain, Ia juga adalah seekor ular. Firman kudus memberi tahu kita bahwa ketika Kristus mati di atas salib, dalam pandangan Allah, Ia sama seperti seekor ular tembaga. Saya menekankan hal ini karena kita perlu mengetahui penebusan macam apa yang telah dirampungkan Tuhan Yesus bagi kita.
Agar dapat merampungkan penebusan yang sempurna, Ia, sebagai Putra Allah, menjadi daging. Firman berinkarnasi. Meskipun demikian, Yohanes tidak mengatakan bahwa Firman menjadi seorang manusia; ia berkata, "Firman itu telah menjadi daging." Pada saat inkarnasi, daging merupakan istilah yang negatif. Tetapi kita harus hati-hati ketika mengatakan hal ini. Seekor ular pasti negatif, tetapi ular ini adalah ular tembaga. Ular tembaga hanya memiliki bentuk seekor ular; tidak mempunyai sifatnya. Apakah Anda mengira bahwa ketika Kristus dibuat menjadi dosa, Ia mempunyai sifat dosa? Tentu saja tidak! Itulah sebabnya Paulus memberi keterangan pada perkataannya dengan mengatakan, "yang tidak mengenal dosa". Meskipun Ia telah dibuat menjadi dosa oleh Allah, Ia tidak mempunyai dosa di dalam diri-Nya dan tidak mengenal dosa. Tuhan kita adalah penebus yang luar biasa. Alkitab memberi tahu kita bahwa Allah menjadi seorang manusia yang serupa dengan daging yang jatuh, dan dikuasai dosa.
Mengambil Bagian dalam Darah dan Daging Manusia
Inkarnasi juga mempunyai segi yang positif. Inkarnasi membawa Allah ke dalam manusia. Ia menyatukan Allah dengan manusia. Kurang lebih dua ribu tahun yang lalu, ada seorang manusia di bumi yang merupakan perbauran antara Allah dengan manusia. Apakah Yesus Kristus hanya seorang manusia? Apakah Ia hanya Allah? Ia adalah Allah juga manusia. Banyak guru Alkitab yang menyebut-Nya manusia Allah. Ia bukan hanya seorang manusia milik Allah, tetapi seorang manusia Allah. Ia adalah Allah yang lengkap dan manusia yang sempurna.
Berdasarkan wahyu murni Alkitab, dalam inkarnasi yang sedemikian, tidak ada sifat Allah maupun sifat manusia yang hilang, dan juga tidak ada sifat ketiga yang dihasilkan. Kristus adalah manusia Allah yang memiliki sifat ilahi maupun sifat insani, dan masing-masing berada di dalam dia secara terpisah.
Penebus kita adalah seorang manusia Allah. Untuk merampungkan penebusan, Ia yang adalah Allah, berinkarnasi untuk menyatukan diri-Nya dengan manusia. Ia mengambil bagian dalam darah dan daging manusia. Ibrani 2:14 memberi tahu kita, "Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka." Jika Ia tidak mempunyai darah manusia, bagaimana mungkin Ia dapat menumpahkan darah-Nya bagi dosa-dosa manusia? Tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan (Ibr. 9:22). Sebagai umat manusia, kita memerlukan darah manusia untuk membasuh dosa-dosa kita. Karena penebus kita mengambil bagian dalam darah manusia, maka Ia dapat menumpahkan darah-Nya bagi dosa-dosa kita.
Tetap bersama Bapa
Ketika Putra Allah berinkarnasi, Ia tidak meninggalkan Bapa di surga. Meskipun lebih dari lima puluh tahun yang lalu saya selalu mengira demikian, tetapi melalui mempelajari Firman, perlahan-lahan saya menemukan bahwa Putra dan Bapa tidak dapat dipisahkan. Mereka berbeda tetapi tidak terpisah. Putra sendiri memberi tahu kita dengan jelas bahwa Ia datang dalam nama Bapa (Yoh. 5:43) dan Bapa menyertai Dia sepanjang waktu (Yoh. 16:32). Ia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30; 17:22).
Sebagai seorang Kristen, kita percaya bahwa Allah hanya satu. Penganut aliran tritheisme yang mengatakan bahwa Allah ada tiga adalah bidah besar. Kita hanya mempunyai satu Allah, namun Allah kita Tritunggal. Ia tiga dalam keAllahan-Nya: Bapa, Putra, dan Roh. Tetapi Ia adalah satu Allah. Kita tidak mungkin mempertemukan kedua hal ini. Tetapi, kita mengetahui fakta yang telah dinyatakan — Allah kita Tritunggal, Ia adalah satu-tiga.
Rencana Allah terutama merupakan pekerjaan Bapa, penebusan-Nya terutama merupakan pekerjaan Putra, dan penerapan-Nya terutama merupakan pekerjaan Roh itu. Bapa merencanakan, Putra menebus, dan Roh itu menerapkan.
Ketiganya berbeda tetapi tidak terpisah. Ketika Putra datang, Bapa datang bersama Dia. Ketika Roh datang, Putra dan Bapa datang (Yoh. 14:17, 23). Kita tidak percaya aliran modalisme — suatu bidah yang mengatakan bahwa ketika Putra datang, Bapa tidak ada lagi (sudah berakhir), dan ketika Roh itu datang, Putra tidak ada lagi (sudah berakhir). Kita percaya bahwa Allah adalah satu-tiga; Bapa, Putra, dan Roh itu adalah satu Allah yang serentak ada dan saling huni dari kekekalan sampai kekekalan.
TERSALIB
Inkarnasi sangatlah menakjubkan, dan ketersaliban sungguh mengagumkan. Tidak ada kata-kata manusia yang dapat menerangkan inkarnasi dengan sempurna; demikian juga, kita tidak dapat menerangkan fakta kematian Kristus dengan sempurna.
Menanggung Dosa-dosa Kita
Di atas salib, Kristus menanggung dosa-dosa kita. Ada tiga ayat yang sangat jelas mengenai hal ini: 1 Petrus 2:24, 1 Korintus 15:3, dan Ibrani 9:28. Semua ayat ini mengatakan bahwa Kristus menanggung dosa-dosa kita. Menurut Yesaya 53:6, ketika Kristus berada di atas salib, Allah menimpakan semua dosa kita ke atas Anak Domba Allah ini.
Jika membaca tentang kematian Kristus dalam keempat kitab Injil, Anda akan melihat bahwa Ia disalibkan mulai dari jam sembilan pagi, jam ketiga (Mrk. 15:25), sampai jam tiga sore, jam kesembilan (Mrk. 15:33; Mat. 27:46). Pada pertengahan enam jam tersebut ada waktu siang hari, jam keenam (Mrk.15:33). Waktu siang hari itu (jam keenam) membagi keenam jam ini menjadi dua, masing-masing tiga jam. Penyiksaan manusia terjadi pada tiga jam pertama. Manusia memaku Dia di atas salib, menghina Dia, dan membuat Dia menderita dengan segala cara yang mungkin. Kemudian dalam tiga jam yang terakhir, Allah datang menghakimi Dia (Yes. 53:10). Hal ini ditandai dengan kegelapan yang meliputi seluruh daerah itu pada siang hari. Allah menimpakan semua dosa umat manusia ke atas diri-Nya.
Dibuat Menjadi Dosa karena Kita
Pada tiga jam yang terakhir, dalam pandangan Allah, Kristus telah dibuat menjadi dosa. Kemudian di atas salib, Allah menghukum dosa dalam daging Kristus. Roma 8:3 mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa (sama seperti ular tembaga yang mempunyai bentuk ular — Yoh. 3:14), menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging. Dosa dihukum. Dosa dihakimi di atas salib. Kristus tidak hanya menanggung dosa-dosa kita; Ia telah dibuat menjadi dosa karena kita (2 Kor. 5:21) dan dihakimi oleh Allah sekali untuk selamanya.
Bersama dengan Manusia Lama Kita
dan Seluruh Ciptaan Lama
Selanjutnya, ketika Kristus disalibkan, seluruh kaum beriman disalibkan bersama Dia (Gal. 2:20). Saat Ia berinkarnasi, Ia mengenakan kita ke atas diri-Nya. Ia mengenakan darah dan daging. Karena itu, ketika Dia disalibkan, kita disalibkan bersama Dia. Dilihat dari sudut pandang Allah, sebelum kita dilahirkan, kita telah disalibkan dalam Kristus. Ketika Kristus disalibkan, tidak hanya dosa-dosa kita yang dibereskan, dan tidak hanya orang dosa kita yang ditanggulangi; diri kita sendiri juga disalibkan. Karena itu Roma 6:6 mengatakan, "Manusia lama kita telah turut disalibkan."
Selain itu, seluruh ciptaan juga disalibkan di sana. Ketika Kristus mati, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah (Mat. 27:51). Terbelah dari atas sampai ke bawah menunjukkan bahwa hal itu bukan dilakukan oleh manusia, tetapi oleh Allah dari atas. Allah membelah tabir menjadi dua bagian. Pada tabir terdapat sulaman kerub (Kel. 26:31). Menurut Yehezkiel 1:5, 10 dan 10:14-15, kerub merupakan makhluk ciptaan yang hidup. Jadi, kerub pada tabir menunjukkan makhluk ciptaan yang hidup. Di atas keinsanian Kristus terletak semua makhluk ciptaan. Ketika tabir terbelah, semua makhluk ciptaan disalibkan. Dari perkara ini kita dapat melihat bahwa kematian Kristus sungguh almuhit. Kematian-Nya membereskan dosa-dosa kita, sifat dosa kita, diri kita, manusia lama kita, dan seluruh ciptaan lama. Dosa-dosa, sifat dosa, manusia lama, dan seluruh ciptaan, semuanya dibereskan di atas salib.
Membatalkan Hukum Taurat dengan Segala Perintah dan Ketentuannya
Dalam Efesus 2:15, Paulus memberi tahu kita bahwa melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya. Dalam Perjanjian Lama ada banyak ketentuan. Yang paling utama adalah sunat. Sunat memisahkan orang-orang Yahudi dari orang-orang bukan Yahudi. Orang-orang Yahudi bahkan menggunakan istilah "tidak bersunat" untuk menyebut orang-orang bukan Yahudi, sementara mereka menganggap diri mereka sendiri orang-orang yang bersunat. Karena itu, sunat adalah tanda pemisahan. Orang-orang Yahudi juga memelihara hari ketujuh, ketentuan lain yang membuat mereka berbeda dengan orang-orang bukan Yahudi. Kedua ketentuan ini telah dibatalkan oleh Kristus di atas salib (Kol. 2:14, 16).
Ketentuan-ketentuan milik orang Yahudi yang lain adalah peraturan-peraturan yang berkenaan dengan makan. Tetapi dalam Kisah Para Rasul 10, ketika Petrus sedang berdoa di atas rumah, suatu penglihatan datang kepadanya (ay. 9-16). Tuhan menyuruh Petrus memakan binatang-binatang yang dianggapnya haram dan tidak tahir. Jadi, sunat, hari sabat, dan peraturan-peraturan yang berkenaan dengan makan, semuanya telah dibatalkan. Ketentuan-ketentuan ini merupakan tembok pemisah yang tinggi dan kuat antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang bukan Yahudi, tetapi sekarang telah dirobohkan. Tidak lagi ada pemisahan sedikitpun. Orang-orang Yahudi dan orang-orang bukan Yahudi dapat dibangun bersama menjadi Tubuh Kristus.
Ketentuan-ketentuan telah dibatalkan, tetapi bagaimana dengan perbedaan-perbedaan antar ras, seperti perbedaan antara orang-orang kulit hitam dengan orang-orang kulit putih? Dalam penebusan Kristus yang sempurna, semua perbedaan ini juga telah dibatalkan. Ia telah melenyapkan semua perseteruan. Tetapi banyak orang yang tidak hidup berdasarkan hal ini. Orang-orang Yahudi masih memelihara sunat, Sabat, dan peraturan-peraturan yang berkenaan dengan makan. Bahkan banyak orang Kristen masih memiliki perseteruan.
Melalui kematian-Nya yang unik, Kristus membereskan dosa-dosa dan sifat dosa kita, Ia menyalibkan manusia lama, Ia menamatkan ciptaan lama, dan Ia membatalkan perbedaan-perbedaan antar suku bangsa. Sekarang kita bukan di dalam diri kita sendiri — kita ada dalam Kristus. Dalam Dia, tidak ada dosa-dosa. Dalam Dia, tidak ada sifat dosa. Dalam Dia, tidak ada manusia lama dan tidak ada ciptaan lama. Gereja benar-benar adalah Kristus (1 Kor. 12:12). Isi, unsur pokok dari gereja adalah Kristus (Kol. 3:10-11). Dalam manusia baru, tidak ada lagi orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada perbedaan status sosial, tidak ada perbedaan ras, tidak ada perbedaan bangsa; Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu (Kol. 3:11). Di dalam Kristus itulah dosa-dosa, sifat dosa, manusia lama, ciptaan lama, dan semua ketentuan telah disingkirkan.
Memusnahkan Iblis dan Menghakimi Dunia
Daging telah disalibkan bersama Kristus. Karena daging berkaitan dengan Iblis, maka pada saat menyalibkan daging, Kristus telah memusnahkan Iblis. Itulah sebabnya Ibrani 2:14 mengatakan bahwa oleh kematian-Nya Ia telah memusnahkan Iblis. Dari Yohanes 12:31 kita mengetahui bahwa saat Kristus disalibkan, Ia mencampakkan Iblis, penguasa dunia, dan Ia menghakimi dunia.
Sekitar tahun 1935, saya mendengar sebuah berita yang disampaikan oleh saudara Watchman Nee di Shanghai. Ia mengatakan, jika Anda pergi kepada seorang beriman yang baru dan bertanya kepadanya, siapakah yang mati di atas salib, maka ia akan mengatakan bahwa Penebusnya telah mati di kayu salib untuk dosa-dosa dan sifat dosanya. Jika Anda pergi kepada orang lain yang lebih maju dan bertanya kepadanya, siapakah yang mati di atas salib, ia akan mengatakan bahwa Kristuslah yang mati di sana, menanggung dosa-dosanya, sifat dosanya, dan dirinya sendiri (Gal.2:20). Seseorang yang lebih maju lagi dalam hidup kristiani akan memberi tahu Anda, bahwa Kristus mati di atas salib untuk dosa-dosanya, sifat dosanya, dan dirinya sendiri beserta semua ciptaan. Golongan kelima dari orang-orang Kristen akan mengatakan bahwa Kristus mati di atas salib bukan hanya untuk dosa-dosa mereka, sifat dosa mereka, dan diri mereka sendiri beserta semua ciptaan, tetapi juga untuk memusnahkan Iblis dan menghakimi dunia.
Kemudian saya mulai melihat keperluan untuk mengenal kematian Kristus lebih jauh lagi, yaitu membatalkan ketentuan-ketentuan. Semua ketentuan — kebiasaan, adat istiadat, tradisi, dan praktek-praktek di antara umat manusia — telah dibatalkan di atas salib. Ketersaliban Kristus merupakan pengakhiran universal dari semua perkara-perkara negatif. Haleluya untuk pengakhiran yang sedemikian!
Membebaskan Hayat Ilahi
Kematian Kristus bukan hanya suatu kematian yang mengakhiri tetapi juga suatu kematian yang melepaskan. Kematian-Nya melepaskan hayat ilahi yang tersembunyi dalam Dia (Yoh. 1:4). Yohanes 12:24 mengatakan, sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja. Jika ia jatuh ke dalam tanah, mati, ia akan menghasilkan banyak butir. Hal ini melukiskan kematian Kristus yang melepaskan. Kematian-Nya tidak hanya mengakhiri semua perkara negatif, tetapi juga melepaskan hayat ilahi — perkara positif satu-satunya dalam alam semesta.
Ketika Kristus mati, seorang prajurit menikam lambung-Nya sehingga mengalirlah darah dan air (Yoh. 19:34). Ini merupakan simbol. Darah menandakan penebusan, dan air menandakan hayat. Darah dan air merupakan simbol dari dua aspek kematian Kristus. Aspek negatifnya adalah penebusan, dan aspek positifnya adalah pelepasan hayat ilahi. Ia mati, dan hayat yang berada di dalam-Nya dilepaskan. Melalui kematian-Nya, bukan hanya mengalir keluar darah penebusan; hayat ilahi juga mengalir keluar dari pada-Nya. Hari ini, ketika percaya kepada Dia, kita menerima darah dan mendapatkan air hidup, hayat ilahi. Kita menerima penebusan dan mendapatkan hayat kekal.
DIBANGKITKAN
Pada hari ketiga setelah kematian-Nya, Kristus bangkit. Beberapa hal yang luar biasa telah terlaksana melalui kebangkitan-Nya.
Dimuliakan dalam Hayat Ilahi
Pertama, dalam kebangkitan-Nya Kristus dimuliakan. Jika benih bunga anyelir ditaburkan, ia mati dalam tanah, kemudian bertumbuh. Saat benih itu berbunga itulah saat kemuliaannya. Yesus adalah benih hayat ilahi yang unik. Sebelum kematian-Nya, hayat ilahi tersembunyi di dalam Dia. Keinsanian-Nya adalah kulit (kelongsong). Ketika keinsanian-Nya terbelah di atas salib, hayat ilahi mengalir keluar dari dalam-Nya, dan Ia dimuliakan di dalam hayat itu (Yoh. 7:39; Luk. 24:26). Masuknya Kristus ke dalam kebangkitan adalah seperti mekarnya benih bunga anyelir: Ia dimuliakan.
Menjadi Putra Sulung Allah yang Memiliki Banyak Saudara
Kedua, dalam kebangkitan, Kristus dilahirkan menjadi Putra sulung Allah. Tidak banyak orang Kristen yang menyadari bahwa bagi Yesus Kristus kebangkitan merupakan satu kelahiran. Inkarnasi merupakan kelahiran-Nya sebagai seorang manusia, tetapi kebangkitan merupakan kelahiran-Nya sebagai Putra sulung Allah dalam keinsanian-Nya (Kis. 13:33).
Kristus sebagai Putra Allah mempunyai dua aspek. Sebelum kebangkitan-Nya, Ia adalah Putra tunggal (Yoh. 1:14; 3:16); dalam kebangkitan, Ia dilahirkan Allah sebagai Putra sulung. Ketika Kristus berinkarnasi, Ia mengenakan keinsanian; keinsanian-Nya belum ilahi. Melalui kematian dan kebangkitan, barulah keinsanian-Nya dibawa masuk ke dalam keilahian. Karena itu, Kisah Para Rasul 13:33 memberi tahu kita bahwa dalam kebangkitan-Nya, Ia dilahirkan. Putra tunggal menjadi Putra sulung (Rm. 8:29).
Efesus 2:6 memberi tahu kita bahwa dalam kebangkitan Kristus, kita, kaum beriman juga dibangkitkan. Saat Ia disalibkan, kita disalibkan. Saat Ia dibangkitkan, kita dibangkitkan. Dalam kebangkitan-Nya, Ia dilahirkan sebagai Putra sulung Allah, dan kita juga dilahirkan sebagai banyak Putra Allah. Ia menjadi yang sulung, dan kita menjadi banyak saudara-Nya (Yoh. 20:17; Ibr. 2:11-12).
Alkitab menjelaskan bahwa sebelum kita dilahirkan, kita telah disalibkan bersama Kristus dan dibangkitkan bersama Dia. Dalam kebangkitan, Ia dilahirkan sebagai Putra sulung Allah, dan dalam kebangkitan-Nya, kita juga dilahirkan sebagai banyak Putra Allah (1 Ptr. 1:3). Ia menjadi yang sulung di antara kita, banyak saudara-Nya.
Menjadi Roh Pemberi Hayat
Dalam kebangkitan, Kristus juga menjadi Roh pemberi hayat (1 Kor. 15:45). Ayat dalam 1 Korintus ini adalah salah satu dari ayat-ayat dalam Alkitab yang paling diabaikan. Dalam kebangkitan, pokok dari 1 Korintus 15, Kristus sebagai Adam yang akhir, melalui kematian dan kebangkitan-Nya, menjadi Roh pemberi hayat. Banyak orang Kristen menganggap Kristus sebagai Penebus mereka, tetapi sangat sedikit yang menganggap-Nya sebagai Roh pemberi hayat. Tetapi Penebus kita adalah Roh pemberi hayat dalam kebangkitan. Melalui kematian-Nya, Ia menebus kita; dalam kebangkitan-Nya, Ia membagikan diri-Nya sendiri sebagai hayat ke dalam kita.
Setelah kebangkitan-Nya dan dalam kebangkitan-Nya, Ia menjadi Kristus yang pneumatik(berwujud Roh). Kristus yang pneumatik sama dengan Roh itu. Itulah sebabnya 2 Korintus 3:17 mengatakan, "Tuhan adalah Roh." Hari ini, dalam kebangkitan, Kristus, sang Penebus kita, adalah Roh yang memberi kita hayat.
Mengembusi Kaum Beriman-Nya
Yohanes 20 mewahyukan bahwa setelah kematian-Nya dan dalam kebangkitan-Nya, Kristus datang kembali. Ia kembali dengan cara yang menakjubkan. Murid-murid berkumpul di sebuah rumah dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi (ay. 19). Tiba-tiba, Yesus berdiri di sana dan berkata kepada mereka, "Damai sejahtera bagi kamu!" Ia tidak mengajar mereka, dan Ia tidak berkhotbah kepada mereka seperti yang dilakukan-Nya di atas gunung. Ia hanya mengembusi mereka dan berkata kepada mereka, "Terimalah Roh Kudus" (ay. 22), Nafas Kudus, Pneuma Kudus.
Kristus menampakkan diri tanpa mengetuk pintu, karena dalam kebangkitan Ia adalah Roh. Ia memiliki tubuh yang bangkit, yang disebut tubuh rohani (1 Kor. 15:44; Yoh. 20:27). Kita tidak dapat menjelaskan hal ini, tetapi ini merupakan fakta yang diwahyukan dalam Alkitab. Sejak kebangkitan-Nya, Kristus sama sekali tidak pernah meninggalkan kaum beriman. Ia memang menampakkan diri kepada mereka sekali-sekali, tetapi sebenarnya Ia selalu menyertai mereka.
Bayangkan apa saja yang tercakup dalam kebangkitan-Nya: Ia dimuliakan; Ia menjadi Putra sulung Allah, membuat kita semua menjadi saudara-saudara-Nya; dan Ia menjadi Roh pemberi hayat yang diembuskan ke dalam kita untuk menyertai kita selama-lamanya (Yoh. 14:16-20).
Ditinggikan
Setelah kebangkitan-Nya, yaitu dalam kenaikan-Nya, Kristus sangat ditinggikan (Ef. 1:20-21). Dia dijadikan Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36), dan Dia telah diberikan kepada gereja sebagai Kepala dari segala yang ada. Gereja adalah Tubuh-Nya (Ef. 1:22-23). Kepala kita, Kristus, bukan hanya sebagai Kepala kita, melainkan Kepala atas segala sesuatu bagi kita.
Dalam kenaikan-Nya, Kristus mencurahkan Roh Kudus ke atas semua orang beriman-Nya (Kis. 2:33). Ini merupakan baptisan Roh Kudus yang sejati, yang membentuk Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13). Dalam kebangkitan-Nya, Ia mengembuskan Roh Kudus ke dalam murid-murid-Nya; kemudian dalam kenaikan-Nya, Ia mencurahkan Roh-Nya ke atas kaum beriman-Nya. Hal ini berarti bahwa di dalam kaum beriman dan di atas mereka hanya ada Roh. Di dalamnya ada Roh, dan di luarnya ada Roh. Di dalam adalah Roh yang mengisi, dan di luar adalah Roh yang dicurahkan. Hal ini dirampungkan sekali untuk selamanya. Hal ini juga adalah satu fakta kekal yang di dalamnya kita ada bagian.
Inkarnasi merupakan satu fakta; ketersaliban dan semua hal yang dirampungkan Tuhan di atas salib juga merupakan satu fakta. Kebangkitan juga merupakan satu fakta. Dalam kebangkitan-Nya, Kristus menjadi Putra sulung, membuat kita semua menjadi saudara-saudara-Nya; Ia juga menjadi Roh pemberi hayat yang diembuskan ke dalam kita. Kemudian, kenaikan juga merupakan satu fakta. Dalam kenaikan-Nya, Kristus dijadikan Kepala atas segala yang ada, Ia dijadikan Tuhan dan Kristus, dan Ia mencurahkan diri-Nya sendiri sebagai Roh ke atas kita semua. Sekarang kita berada di dalam Dia. Dia berada di surga, demikian juga dengan kita (Ef. 2:6). Ia di dalam kita dan di atas kita, dan kita berada di dalam Dia. Inilah penebusan Kristus yang sempurna.