← Daftar isi Rencana Allah · bab 1/11

RENCANA ALLAH

Pembacaan Alkitab:

Ef. 1:4, 5, 9-11; 3:2, 8-9, 11; Kol. 1:25; 1 Kor. 9:17;

1 Ptr. 1:1-2; Rm. 8:30; Kej. 1:26a, 27; 2:7; Za. 12:1

Wahyu ilahi dalam keenam puluh enam kitab dalam Alkitab sangatlah dalam. Wahyu yang dalam ini memiliki tujuh butir dasar. Tiga butir yang pertama adalah rencana Allah, penebusan Kristus, dan penerapan Roh itu. Ketiga butir ini meliputi Trinitas ilahi — Allah, Kristus, dan Roh itu. Apa yang direncanakan Allah telah dirampungkan-Nya melalui penebusan Kristus. Apa yang telah dirampungkan-Nya di dalam Kristus, diterapkan-Nya kepada kita oleh Roh itu. Keempat butir yang terakhir adalah kaum beriman, gereja, kerajaan, dan perampungan sempurna — Yerusalem Baru. Dalam bab ini, kita akan membahas butir pertama dari wahyu dasar dalam Kitab Suci — rencana Allah.

PERKENAN ALLAH — HASRAT HATI-NYA

Alkitab dengan jelas mewahyukan rencana Allah. Kebanyakan orang Kristen memustikakan dua kitab dari antara tulisan-tulisan Paulus — Roma dan Efesus. Roma dimulai dengan keadaan kita sebagai orang berdosa, umat manusia yang jatuh, tetapi Efesus diawali dengan membawa kita masuk ke dalam hati Allah. Dalam Roma 1, kita dapat melihat keadaan kita sebagai orang berdosa, tetapi dalam Efesus 1, kita dapat melihat bahwa ada sesuatu di dalam hati Allah. Frase "perkenan Allah (kerelaan kehendak atau rencana kerelaan — LAI)" digunakan dalam pasal ini (ay. 5, 9). Allah mempunyai sebuah perkenan dan perkenan ini adalah hasrat hati-Nya. Dalam kekekalan yang lampau, Allah itu sendirian. Kita tidak dapat membayangkan kekekalan yang lampau itu seperti apa, tetapi Efesus 1 memberi tahu kita bahwa sebelum penciptaan alam semesta, Allah mempunyai hasrat hati. Ia mempunyai sebuah perkenan. Apa yang diinginkan Allah dapat diekspresikan dengan satu kata "keputraan (anak-anak — LAI)" (1:5). Keputraan adalah hasrat hati Allah.

Setelah Allah menjadikan Adam, Ia berkata bahwa tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja (Kej. 2:18). Perkataan ini juga berlaku bagi Allah dalam kekekalan yang lampau. Tidak baik kalau Allah itu seorang diri saja. Ia mempunyai hasrat untuk melahirkan banyak putra. Efesus 1 memberi tahu kita bahwa Allah menakdirkan kita kepada keputraan. Banyak orang Kristen mengira bahwa penakdiran Allah adalah sampai kepada keselamatan; tetapi menurut kitab Efesus, dalam kekekalan yang lampau, pemikiran (maksud) mula-mula yang timbul dalam hati Allah bukanlah keselamatan. Maksud-Nya yang terutama adalah keputraan. Sebelumnya, Allah telah mengetahui bahwa ciptaan-Nya akan jatuh. Karena kejatuhan itulah maka ada rencana keselamatan, jadi keselamatan dimaksudkan untuk keputraan. Hasrat Allah adalah melahirkan banyak putra.

Baru-baru ini pada sidang doa di Irving, Texas, saya melihat tiga orang muda. Dengan melihat wajah mereka, saya tahu bahwa mereka adalah anak-anak saudara tertentu. Karena ketiganya sangat mirip dengan ayah mereka. Mereka adalah ekspresi ayahnya.

Semakin banyak seorang ayah memiliki anak, semakin banyak pula ekspresinya. Roma 8:29 memberi tahu kita bahwa Putra tunggal Allah menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Melalui kebangkitan (Kis. 13:33), Putra tunggal Allah dalam Yohanes 1:18 dan 3:16 menjadi Putra sulung. Putra sulung menyiratkan bahwa setelah Dia masih ada putra-putra lain. Sekarang, Allah bukan hanya mempunyai satu Putra, tetapi banyak putra. Putra sulung Allah, Kristus, mempunyai berjuta-juta saudara. Selama dua puluh abad ini, banyak orang yang telah dilahirkan kembali sehingga mereka menjadi putra-putra Allah. Semua putra ini adalah saudara-saudara Putra sulung Allah (Yoh. 20:17; Ibr. 2:10-12). Betapa hebat dan luar biasanya keputraan ini! Ketika masih muda, saya tinggal bersama beberapa orang kudus yang sangat mengenal Alkitab. Mereka menitikberatkan penakdiran Allah, tetapi saya tidak pernah mendengar mereka mengatakan apakah sasaran penakdiran Allah tersebut. Setelah bertahun-tahun mempelajari Alkitab, saya melihat bahwa kita ditakdirkan untuk menjadi putra Allah. Tetapi secara tidak sadar, saya tetap berpikir bahwa kita ditakdirkan untuk beroleh selamat. Beberapa orang mengatakan bahwa kita ditakdirkan untuk masuk surga. Sasaran penakdiran Allah bukan keselamatan dan juga bukan masuk surga, melainkan keputraan (Ef. 1:5).

Versi King James menerjemahkan istilah ini menjadi "pemungutan anak-anak", tetapi istilah tersebut dalam bahasa aslinya berarti keputraan. Itu bukan berarti anak-anak yang dipungut (diadopsi) oleh seorang ayah, melainkan anak-anak yang dilahirkan langsung oleh seorang ayah yang memperanakkan. Jadi, hasrat hati Allah adalah mempunyai sejumlah besar anak yang mengekspresikan Dia, bukan hanya di zaman ini tetapi juga sampai kekal.

TUJUAN ALLAH — RENCANA-NYA

Berdasarkan hasrat hati-Nya, Allah membuat sebuah tujuan (Ef. 3:11). Tujuan Allah dibuat berdasarkan perkenan-Nya. Efesus 1:9 mengatakan, Allah menetapkan perkenan-Nya (rencana kerelaan-Nya). Ini berarti Ia membuat sebuah rencana berdasarkan hasrat-Nya. Karena Allah mempunyai perkenan yang demikian, maka Ia membuat sebuah rencana. Dalam Efesus 3:11, Paulus sekali lagi memberi tahu kita bahwa Allah membuat sebuah rencana di dalam Kristus, sebuah rencana sepanjang abad, sebuah rencana abadi, sebuah tujuan kekal.

EKONOMI ALLAH —

PENGATURAN ADMINISTRATIF-NYA

Ekonomi (oikonomia) adalah sebuah istilah Yunani yang diinggriskan. Istilah ini berarti hukum rumah tangga atau administrasi rumah tangga. Dalam 1 Timotius 1:4, istilah ini diterjemahkan menjadi tertib hidup keselamatan (pengaturan, rencana, administrasi, atau pengelolaan — Tl.). Rumah Firaun dalam Perjanjian Lama memerlukan pengelolaan atau pengaturan, dan Yusuf diserahi kedudukan untuk mengurus pengelolaan tersebut. Apa yang dilakukannya terutama adalah membagikan makanan yang berlimpah kepada orang-orang yang menderita kelaparan (Kej. 41:33-41, 54-57). Pembagian tersebut adalah suatu penyaluran. Pengelolaan rumah Firaun adalah suatu ekonomi yang dilaksanakan dengan membagikan kekayaan kepada orang banyak. Dalam Perjanjian Baru, istilah ini terutama digunakan oleh Paulus. Tetapi, istilah yang sama, yang digunakan oleh Tuhan Yesus dalam Lukas 16:2-4 (Alkitab bahasa Indonesia menerjemahkannya menjadi bendahara), mengacu kepada tugas penyelenggaraan (penatalayanan) dari seorang pengurus rumah tangga. Yusuf dapat dianggap sebagai pengurus rumah tangga Firaun, dan tanggung jawabnya adalah tugas penyelenggaraannya. Kewajiban tersebut, tugas penyelenggaraan tersebut, adalah membagikan makanan berlimpah milik Firaun untuk memberi makan orang-orang yang menderita kelaparan.

Administrasi-Nya

Dalam surat Efesus, Paulus memberi tahu kita bahwa ia ditunjuk sebagai seorang pengurus rumah tangga oleh Allah, dan bersamaan dengan itu, Allah juga memberinya tanggung jawab, kewajiban, yang disebut tugas penyelenggaraan (penatalayanan) (3:2). Istilah Yunani untuk tugas penyelenggaraan sama dengan istilah pembagian. Karena itu, apakah istilah tersebut hendak diterjemahkan menjadi tugas penyelenggaraan atau pembagian, sangat tergantung kepada konteksnya Dalam Efesus 3:2, Paulus mengatakan bahwa Allah memberikan tugas penyelenggaraan kasih karunia kepadanya. Kemudian istilah Yunani yang sama, oikonomia, ditemukan dalam 1:10 dan 3:9 yang kelihatannya lebih sesuai jika diterjemahkan menjadi pembagian. Istilah "ekonomi" terutama mengacu kepada sebuah rencana, sebuah administrasi, sebuah pengelolaan, untuk membagikan kekayaan seseorang kepada orang lain.

Paulus berpendapat bahwa Allah mempunyai sebuah keluarga besar yang perlu disuplai dengan kekayaan-Nya. Dalam Efesus 3:8, ia mengatakan bahwa Allah menunjuk dia untuk memberitakan, melayankan, membagikan, atau menyalurkan kekayaan Kristus yang tidak terduga. Kekayaan-kekayaan ini ada di dalam rumah tangga Allah. Ada gudang kekayaan Kristus yang tidak terduga, dan Allah menunjuk rasul-rasul (Petrus, Yohanes, Yakobus, dan Paulus) menjadi pengurus rumah tangga untuk membagikan kekayaan-kekayaan ini kepada semua orang pilihan Allah.

Tugas penyelenggaraan sama dengan pekerjaan pembagian. Yusuf melaksanakan tugas penyelenggaraannya dengan membagi-bagikan makanan. Tanggung jawab, tugas, dan kewajibannya adalah membagikan makanan yang berlimpah kepada mereka yang membutuhkan. Pembagian tersebut adalah suatu penyaluran.

Beberapa guru Alkitab mengajarkan bahwa di dalam Alkitab ada tujuh zaman. Dalam Perjanjian Lama ada zaman tanpa dosa, zaman hati nurani, zaman pemerintahan manusia, zaman janji, dan zaman hukum Taurat. Kemudian, dalam Perjanjian Baru, ada zaman kasih karunia pada masa ini dan zaman kerajaan pada masa yang akan datang. Mereka mengatakan bahwa dalam ketujuh zaman itu, Allah berhubungan dengan manusia melalui tujuh cara yang berbeda.

Hal ini mungkin saja benar, tetapi jangan lupa bahwa zaman-zaman tersebut merupakan administrasi rumah tangga Allah. Allah mempunyai sebuah keluarga yang besar, dan di dalam rumah tangga ini, Ia memerlukan administrasi, rencana, dan pengelolaan untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam anggota rumah tangga-Nya. Bahkan sejak kekekalan yang lampau, Allah bermaksud untuk memiliki suatu pengaturan dari zaman ke zaman demi menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat yang telah dipilih dan ditakdirkan-Nya. Orang-orang ini akan dijadikan putra-putra-Nya dengan cara membagikan diri-Nya sendiri ke dalam mereka sehingga melalui kelahiran kembali, mereka dapat memiliki hayat ilahi.

Dalam keempat belas surat Paulus, kita dapat melihat bahwa Allah mempunyai sebuah perkenan, dan berdasarkan perkenan tersebut, Ia membuat sebuah rencana, sebuah tujuan. Ia menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri, dan dalam kegenapan waktu, Ia membagikan diri-Nya sendiri ke dalam semua orang yang telah diciptakan dan dipilih-Nya itu sehingga mereka bisa menjadi putra-putra-Nya, untuk mengekspresikan Dia. Inilah rencana Allah dan inilah administrasi Allah untuk penyaluran-Nya.

Dalam bahasa Inggris, kata administrasi (dispensation) dan penyaluran (dispensing) berasal dari kata kerja menyalurkan (to dispense). Ketika saya menggunakan kata administrasi (dispensation), yang saya maksudkan adalah ekonomi, pengaturan, atau pengelolaan. Tetapi ketika saya menggunakan kata penyaluran (dispensing), yang saya maksudkan adalah pembagian kekayaan-kekayaan ilahi ke dalam umat Allah. Administrasi (dispensation) mengacu kepada pengaturan, pengelolaan, rencana, ekonomi. Penyaluran (dispensing) mengacu kepada pembagian diri Allah sendiri sebagai hayat dan suplai hayat ke dalam umat pilihan-Nya di dalam Kristus.

Penyaluran-Nya

Dalam Efesus 1:10 dan 3:9, istilah oikonomia digunakan untuk administrasi rumah tangga, yaitu rencana Allah untuk menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya. Dalam Efesus 3:2, Kolose 1:25, dan 1 Korintus 9:17, istilah yang sama mengacu kepada tugas penyelenggaraan (penatalayanan) Paulus. Istilah tugas penyelenggaraan digunakan dengan pengertian penyaluran. Tugas penyelenggaraan Paulus adalah menyalurkan kekayaan Kristus yang tidak terduga ke dalam umat pilihan Allah. Bagi Paulus, istilah tugas penyelenggaraan mengacu kepada penyaluran ilahi.

Istilah pengurus rumah tangga digunakan dalam 1 Petrus 4:10 yang mengatakan bahwa kita semua perlu menjadi pengurus yang baik, menyalurkan bermacam-macam kasih karunia Allah. Bermacam-macam kasih karunia Allah yang kaya itu memerlukan banyak pengurus rumah tangga agar dapat disalurkan; penyaluran ini adalah tugas penyelenggaraan mereka.

Apa yang saya lakukan saat menunaikan ministri adalah menyalurkan kekayaan Kristus. Jika Anda berkata kepada saya bahwa saya adalah guru Alkitab yang baik, saya menghargai perkataan Anda, tetapi saya tidak senang mendengarnya. Jangan menganggap saya sebagai seorang guru! Saya adalah seorang penyalur! Saya bukan hanya mengajarkan Alkitab; saya menyalurkannya. Saya pernah pergi untuk mendapatkan suntikan influenza, di sana ada banyak orang mengantre, dan semua orang harus menyodorkan lengannya untuk mendapatkan suntikan. Dalam ministri saya, saya ingin memberikan suntikan, injeksi, dan kekayaan Kristus kepada orang-orang! Saya sangat yakin bahwa siapa saja yang datang kepada ministri ini akan mendapatkan suntikan yang sedemikian!

Tugas penyelenggaraan kita hari ini sama seperti tugas Paulus. Tugas penyelenggaraan Paulus hanyalah memberikan sebuah suntikan kepada orang-orang, yaitu membagikan dan menyalurkan kekayaan Kristus yang tidak terduga ke dalam umat pilihan Allah. Inilah ekonomi Allah, rencana-Nya, dan administrasi-Nya.

PEMILIHAN ALLAH

Allah mempunyai sebuah perkenan, dan berdasarkan perkenan-Nya, Ia membuat sebuah rencana. Selanjutnya, Ia menetapkan sebuah administrasi rumah tangga universal untuk menyalurkan kekayaan-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Kemudian Ia memilih kita, bukan hanya sebelum kita diciptakan, bahkan sebelum dunia dijadikan (Ef. 1:4; 1 Ptr. 1:1-2). Tidak ada satu pun dari ciptaan-Nya yang telah ada ketika Ia memilih kita.

Tidak mudah untuk membeli barang-barang di suatu pusat pertokoan karena begitu banyak barang yang dipilih. Orang-orang tidak membeli secara membabi buta; mereka akan mempertimbangkan dan memilih dengan hati-hati barang yang akan mereka beli. Dalam kekekalan yang lampau, sebelum penciptaan-Nya, Allah melihat Anda dan berkata, "Saya menyukai yang itu." Tanpa dipilih, saya tidak percaya bahwa saya dapat menjadi seorang Kristen. Meskipun saya dilahirkan dalam kekristenan, saya baru menjadi orang Kristen ketika berusia sembilan belas tahun. Saya dididik di dalam kekristenan, tetapi saya belum percaya kepada Tuhan. Walaupun demikian, pada suatu hari Allah menjamah saya dan berkata, "Saya menginginkan Anda." Pada hari itu saya ditangkap. Bagaimana dengan Anda? Di balik layar ada sebuah tangan kekal dan Mahakuasa yang mengatur segala sesuatu. Pemilihan kita merupakan suatu perkara yang menakjubkan.

Bapa surgawi sangat senang ketika Ia melihat kita. Kitalah hasrat hati-Nya, perkenan-Nya. Perkenan Allah bukanlah bulan, matahari, langit, atau bumi. Dalam Firman-Nya, Ia memberi tahu kita dengan jelas bahwa Ia tidak puas dengan bumi dan langit saja. Yang memuaskan Dia adalah orang-orang pilihan-Nya. Kitalah perkenan-Nya; dan rencana-Nya dibuat untuk kita.

PENAKDIRAN-NYA

Setelah pemilihan-Nya, Allah menakdirkan (menentukan) kita (Ef. 1:5; Rm. 8:30). Terjemahan baru dari Alkitab Darby, menerjemahkan istilah "menakdirkan" dalam Efesus 1:5 menjadi "ditandai sebelumnya". Pernahkah Anda menyadari bahwa sebelum dunia dijadikan Anda telah ditandai? Anda tidak bisa lari dari tangan Allah. Saya telah mencoba beberapa kali tetapi tidak pernah berhasil! Semakin sering mencoba, semakin kuat Ia menggenggam saya. Ke mana Anda dapat pergi untuk melarikan diri dari Allah? Ke mana saja Anda pergi, Ia ada di sana (Mzm. 139:7-10). Kadang-kadang, Anda mungkin bosan untuk datang ke sidang-sidang gereja dan memutuskan untuk pergi ke tempat lain. Ketika Anda sampai di sana, Tuhan Yesus sedang menunggu Anda! Hal ini menunjukkan bahwa Anda telah ditandai.

PENCIPTAAN ALLAH

Setelah perkenan Allah, setelah rencana-Nya (pengaturan-Nya, administrasi-Nya, ekonomi-Nya), setelah pemilihan-Nya, dan setelah penakdiran-Nya, Ia sampai kepada penciptaan-Nya. Catatan mengenai penciptaan Allah atas manusia sangatlah singkat. Hanya ada dua ayat. Kejadian 1:26 adalah perkataan Allah sendiri, dan ayat berikutnya adalah catatan Musa. Dalam kedua ayat itu ada tiga hal yang penting.

Rapat Trinitas Ilahi

Pertama, ayat 26 menunjukkan Trinitas ilahi. Kata Allah (Elohim — Tl.) berbentuk jamak, dan dalam percakapan Allah sendiri, Ia menggunakan kata ganti "Kita".Allah berkata, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa kita." Kata ganti yang mengacu kepada Allah berbentuk jamak. Kita dapat dengan mudah mengenali bahwa pada ayat tersebut tersirat Trinitas Ilahi.

Beberapa guru telah menunjukkan bahwa ketika Allah berkata, "Baiklah Kita ...", itu adalah percakapan yang terjadi dalam sebuah rapat. Trinitas Ilahi mengadakan rapat untuk mempertimbangkan masalah penciptaan manusia. Saat menciptakan makhluk yang lain, tidak tercatat percakapan semacam itu. Karena itu, penciptaan manusia pasti sangat penting. Menciptakan langit dan bumi tidaklah sepenting menciptakan manusia. Manusia adalah pusat dari tujuan Allah dalam penciptaan.

Penciptaan Manusia Menurut Gambar Allah,

Menurut Rupa Allah

Kedua, hanya manusia yang dibuat menurut gambar Allah dan menurut rupa Allah. Harimau tidak dibuat menurut gambar Allah; gajah tidak dibuat menurut rupa-Nya. Kejadian 1:26 mengatakan, "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita."

Gambar mengacu kepada bagian batin; rupa mengacu kepada ekspresi lahir. Anda mungkin menunjuk kepada Kolose 1:15 yang membicarakan Kristus sebagai "gambar Allah yang tidak kelihatan." Bagaimana mungkin Allah yang tidak terlihat mempunyai rupa di luar? Saya tidak bisa menjelaskannya. Ini adalah suatu misteri. Demikian juga dengan Yohanes 1:14 yang mengatakan bahwa Allah sebagai Firman telah menjadi daging. Tetapi dalam Kejadian 18, Ia menampakkan diri kepada Abraham sebagai seorang manusia. Abraham membasuh kaki-Nya dan menyiapkan makanan bagi-Nya (ay. 4-8). Ia menampakkan diri sekali lagi dalam Hakim-hakim 13, kali ini kepada ibu Simson. Ibu Simson melihat Manusia ini, naik ke langit, setelah berbicara kepadanya dan kepada suaminya (ay. 20). Di sini terdapat kenaikan sebelum Kisah Para Rasul 1! Bagaimana kita dapat mencocokkan bagian-bagian dalam Perjanjian Lama ini dengan Perjanjian Baru? Kita tidak dapat.

Begitu pula, perbuatan Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya adalah suatu keajaiban, suatu misteri. Dua Korintus 3:18 mengatakan bahwa kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya. Roma 12:2 mengatakan bahwa kita "diubah oleh pembaruan pikiran (budi — LAI)." Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa gambar merupakan sesuatu yang di batin, terdiri dari pikiran, emosi, dan tekad. Organ untuk berpikir, organ untuk mencintai, dan organ untuk mengambil keputusan, menyusun bagian batin. Manusia dibuat secara luar biasa. Bahkan setelah kejatuhan, manusia masih tetap ajaib (Mzm. 139:14). Kita adalah makhluk yang sangat ajaib karena kita diciptakan oleh Allah secara demikian.

Untuk Ekspresi Allah

Ketiga, manusia dibuat untuk mengekspresikan Allah. Baik gambar maupun rupa menunjukkan ekspresi. Ketika Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya dan menurut rupa-Nya, Ia tidak menaruh hayat ilahi ke dalamnya. Hayat ilahi baru diberikan kepada manusia ciptaan ketika Yesus datang dan mati, serta dibangkitkan untuk kita. Sekarang, siapa saja yang percaya kepada-Nya memperoleh hidup yang kekal (Yoh. 3:16). Jika kita memiliki Anak, kita memiliki hayat ilahi ini. Jika kita tidak memiliki Anak, kita tidak memiliki hayat ini (1 Yoh. 5:12). Hayat Allah baru masuk ke dalam manusia ciptaan ketika penebusan sempurna Kristus telah rampung.

Terdiri Dari Tiga Bagian

Allah menciptakan manusia dengan maksud agar suatu hari Ia dapat masuk ke dalam manusia sehingga manusia dapat menerima Dia. Roma 9 mewahyukan bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah merupakan sebuah bejana untuk diisi sesuatu. Sama seperti sebuah cangkir adalah sebuah bejana untuk diisi air, manusia juga diciptakan sebagai sebuah bejana untuk diisi Allah. Kejadian 2:7 memberi tahu kita bagaimana Allah menciptakan manusia. Pertama, Ia membentuk tubuh manusia dari debu tanah. Kemudian Ia mengembuskan nafas hidup ke dalam lubang hidung pada tubuh debu ini, sehingga manusia menjadi jiwa yang hidup. Di sini, dalam satu ayat ini, terdapat tubuh, jiwa, dan nafas hidup. Istilah Ibrani untuk nafas dalam Kejadian 2:7 diterjemahkan menjadi "roh" dalam kitab Amsal 20:27 yang mengatakan, "Roh manusia adalah pelita Tuhan" (lit.). Ini menunjukkan bahwa nafas hidup yang diembuskan ke dalam Adam adalah roh manusia. Jadi, ada dua bahan yang digunakan untuk membentuk manusia: debu dan nafas hidup. Debu menjadi tubuh, dan nafas hidup menjadi roh. Ketika kedua benda ini bersatu, timbullah produk sampingan: jiwa. Sebab itu, dalam 1 Tesalonika 5:23 Paulus memberi tahu kita, seorang manusia terdiri dari tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh.

Kejadian pasal 1 memberi tahu kita bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya sendiri, menurut rupa-Nya sendiri; dengan demikian manusia dapat diisi Allah. Sebuah wadah harus mempunyai bentuk yang sama dengan benda yang akan mengisinya. Jika benda tersebut bujur sangkar, Anda tentu tidak akan membuat wadah bundar untuknya. Jika benda tersebut bundar, Anda tentu tidak akan membuat wadah bujur sangkar untuknya. Bentuk suatu wadah dibuat menurut bentuk isinya. Manusia dijadikan menurut gambar dan rupa Allah.

Kejadian pasal 1 memberi tahu kita bahwa segala sesuatu yang diciptakan, dihasilkan menurut jenisnya (ay. 11-12, 21, 24-25). Pohon apel dihasilkan menurut jenisnya, dan harimau dilahirkan menurut jenisnya. Manusia dibuat menurut jenis Allah. Jika dua pohon diokulasikan, keduanya pasti sejenis; kalau tidak, okulasi tersebut tidak akan berhasil. Haleluya! Manusia berasal dari jenis yang sama dengan Allah! Karena kita diciptakan menurut jenis Allah dengan maksud agar kita dapat diokulasikan dengan Allah, maka "okulasi" ini akan berhasil dan kita dapat dijadikan satu dengan Allah.

Bagian yang Penting — Roh Manusia

Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang memiliki roh, meskipun pada waktu penciptaan, manusia tidak mempunyai hayat Allah. Itulah sebabnya, Alkitab mengatakan, "tetapi roh yang di dalam manusia" (Ayb. 32:8). Dua puluh dua tahun yang lalu, ketika saya mulai melayani di negara ini, saya menyampaikan berita demi berita mengenai roh manusia. Banyak orang kudus memberi tahu saya bahwa mereka sebelumnya tidak pernah mendengar berita tersebut. Andrew Murray dan Mrs. Jesse Penn-Lewis, sama-sama menitikberatkan roh. Allah tidak hanya menciptakan mulut dan perut bagi kita untuk menerima makanan jasmani; Ia juga menciptakan roh bagi kita untuk menerima Dia.

Di dalam sebuah radio ada alat penerima. Tanpa alat penerima, tidak akan ada satu gelombang radio pun di udara yang dapat diterima oleh radio tersebut. Alat penerima kita untuk menerima Allah adalah roh kita. Dalam Yohanes 4:24 Tuhan Yesus mengatakan, "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Hanya roh yang dapat menyembah Roh. Karena Allah sendiri adalah Roh, Ia menciptakan roh di dalam kita dengan satu tujuan yang pasti, yaitu agar kita dapat menyembah Dia. Menyembah Dia meliputi berhubungan dengan Dia, bercakap-cakap dengan Dia, dan menerima Dia. Ia datang ke dalam kita melalui masuk ke dalam roh kita.

Roma 8:16 mengatakan bahwa Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita. Hal ini berarti, melalui kita percaya kepada Tuhan Yesus, Roh Allah masuk ke dalam roh kita. Satu Korintus 6:17 mengatakan, "Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia." Pada permulaan Alkitab, Allah mempersiapkan manusia menurut gambar dan rupa-Nya dan memberinya sebuah roh untuk menerima, menampung, dan mengekspresikan Dia. Tetapi pada saat penciptaan, manusia tidak menerima Allah, Roh ilahi, ke dalam rohnya.

Setiap manusia mempunyai gambar Allah, rupa Allah, dan roh. Ketika Injil mencapai kita, ia menyentuh kita dalam hati nurani kita, yang merupakan bagian dari roh (cf. Rm. 8:16; 9:1). Melalui sentuhan itu, roh kita dihidupkan dan kita bertobat. Kita membuka insan batin kita untuk bertobat, percaya, dan menerima Tuhan Yesus; Ia masuk ke dalam kita dan kita diselamatkan. Banyak pemberita Injil bertanya, "Maukah Anda membuka diri dan mengundang Yesus masuk ke dalam hati Anda?" Hal itu tidak salah, tetapi untuk mengalami Kristus sebagai hayat kita setelah diselamatkan, kita harus mengetahui bahwa sekarang Ia ada di dalam roh kita (2 Tim. 4:22).

Tujuan Allah adalah untuk keputraan, dan keputraan dirampungkan melalui pembagian apa adanya Allah ke dalam kita sebagai hayat kita. Pembagian ini terjadi di dalam roh kita. Yohanes 3:6 mengatakan, "Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh." Sekali lagi, di sini ada dua roh. Kita tidak dilahirkan kembali dalam mentalitas kita atau dalam tubuh kita. Nikodemus mengira bahwa dilahirkan kembali adalah dilahirkan kembali dalam tubuh jasmani, tetapi Tuhan Yesus mengoreksi dia. Dilahirkan kembali adalah dilahirkan kembali dari Allah Roh di dalam roh kita, bukan dari orang tua kita. Bahkan, seandainya kita dapat kembali ke dalam rahim ibu kita dan dilahirkan lagi secara jasmani ratusan kali, kita masih tetap daging. Kita harus dilahirkan dari Roh ilahi dalam roh kita.

Zakharia 12:1 memberi tahu kita bahwa dalam penciptaan Allah terdapat tiga hal yang penting: langit, bumi, dan roh manusia. Ayat tersebut mengatakan bahwa Yehovalah yang "membentangkan langit dan yang meletakkan dasar bumi dan yang menciptakan roh dalam diri manusia." Betapa agungnya roh kita! Langit adalah untuk bumi. Tanpa langit, bumi tidak akan memiliki kehidupan. Bumi adalah untuk manusia dan manusia adalah untuk Allah. Supaya manusia bisa untuk Allah, ia memerlukan sebuah alat penerima. Alat penerima ini adalah roh manusia. Puji Tuhan, karena di sini kita berada di bawah rencana Allah dan berada dalam rencana-Nya; karena kita telah dijadikan oleh-Nya menurut gambar-Nya dan menurut rupa-Nya; karena kita mempunyai roh untuk menerima Dia; dan karena Dia, sebagai Roh ilahi, telah masuk ke dalam roh kita, menjadikan kita anak-anak-Nya untuk ekspresi-Nya! Inilah rencana-Nya.