← Daftar isi Efesus (3) · bab 6/23

MENGENAKAN MANUSIA BARU MELALUI BERTUMBUH KE DALAM KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Ef. 4:12-16, 22-24

Kita telah menunjukkan bahwa gereja bukan hanya Tubuh, tetapi juga manusia baru. Sebagai Tubuh, gereja perlu Kristus menjadi hayat. Tetapi sebagai manusia baru, gereja perlu Kristus menjadi persona (pribadi). Sebagai contoh, pohon mempunyai hayat, namun tidak mempunyai persona, karena itu, tidak memiliki personalitas (kepribadian). Akan tetapi, sebagai manusia, kita memiliki hayat dan personalitas, karena kita adalah persona-persona (pribadi-pribadi).

KRISTUS MENJADI PERSONA

DALAM HATI KITA

Karena gereja bukan hanya Tubuh Kristus yang memiliki Kristus sebagai hayat, tetapi juga manusia baru yang memiliki Kristus sebagai persona, maka dalam Efesus 3:17 Paulus menekankan pentingnya Kristus berumah dalam hati kita. Walaupun roh kita merupakan wadah untuk menampung Allah, tetapi roh itu bukan inti personalitas. Inti personalitas ialah hati. Berbagai fungsi dari personalitas kita — pikiran, emosi, dan tekad — langsung berkaitan dengan hati, bukan dengan roh. Karena seluruh fungsi personalitas berpusat pada hati, maka hati adalah tempat Kristus ingin berumah di dalamnya. Kristus sebagai Roh pemberi-hayat sekarang berada dalam roh kita. Akan tetapi, Ia ingin berkembang ke dalam hati kita dan berumah di sana.

Melalui kelahiran kembali kita memiliki Kristus sebagai Roh itu dalam roh kita. Akan tetapi melalui transformasi, Kristus akan meluas dari roh kita ke dalam hati kita. Setiap orang yang telah dilahirkan kembali telah memiliki Kristus dalam rohnya, tetapi tidak banyak yang telah membiarkan Kristus meluas ke dalam hatinya. Inilah sebabnya Paulus berdoa agar kita diteguhkan ke dalam manusia batiniah kita supaya Kristus dapat berumah dalam hati kita (Ef. 3:16). Paulus seolah-olah ingin berkata kepada orang-orang di Efesus, “Karena kalian telah diselamatkan dan dilahirkan kembali, maka Kristus ada di dalam roh kalian. Namun aku khawatir kalian belum membiarkan Kristus meluas ke dalam hati kalian. Karena itu, aku berdoa bagi kalian, supaya kalian diteguhkan dalam roh kalian oleh Roh itu, sehingga Kristus dapat berumah dalam hati kalian.”

Kita perlu menerima Kristus bukan hanya sebagai hayat dalam roh kita, tetapi juga sebagai persona dalam hati kita. Ketika Kristus berada dalam roh kita, Ia adalah hayat kita. Tetapi, ketika Ia meluas ke dalam hati kita, Ia menjadi persona kita. Kita semua memiliki Kristus dalam roh kita, tetapi saya tidak tahu berapa banyak Kristus meluas ke dalam hati kita.

Saudari-saudari, apakah Anda menerima Kristus sebagai persona Anda ketika Anda berbelanja? Apakah Anda membiarkan Dia berumah dalam hati Anda ketika Anda menentukan barang yang akan dibeli? Sebagian besar, Andalah yang membuat keputusan, bukan Kristus. Memang Anda memiliki Kristus sebagai hayat di dalam roh Anda, tetapi masalahnya ialah Anda membatasi-Nya dalam roh Anda. Dalam lubuk batin, saya khawatir jangan-jangan Anda berkata demikian kepada Tuhan, “Tuhan Yesus, Engkaulah hayatku dalam rohku. Tetapi ketika aku pergi berbelanja, aku ingin Engkau tetap dalam rohku. Biarlah aku berbelanja menurut apa yang ada dalam hatiku. Aku ingin membeli barang-barang yang kusukai. Tuhan, rohku adalah lingkungan-Mu, tetapi hatiku ini untuk aku sendiri.” Ketika Anda berdoa, Anda mungkin berkontak dengan Tuhan dalam roh Anda, tetapi Anda meninggalkan Dia dan berbelanja menurut kesukaan dan pilihan Anda sendiri. Tentu saja saudari-saudari tidak mengucapkan perkataan yang demikian, tetapi sikap mereka mungkin demikian. Saya tidak yakin banyak saudari berkonsultasi dengan Tuhan dalam hal berbelanja. Hal ini menunjukkan bahwa dalam hal berbelanja yang riil ini mereka tidak menerima Kristus sebagai per-sona dalam hati mereka.

Memiliki Kristus sebagai hayat saja tidak akan menghasilkan hidup gereja. Untuk memiliki hidup gereja yang wajar kita harus menerima Kristus sebagai persona kita. Ingatlah bahwa gereja adalah manusia baru juga Tubuh. Sebagai manusia baru, gereja perlu Kristus menjadi persona. Problem utamanya bukan pada hayat, melainkan pada persona. Tidak perlu mengatur hayat, tetapi perlu mengubah persona. Pikiran, emosi, dan tekad kita seluruhnya perlu dibenahi. Dalam hidup gereja, problemnya bukan hanya dalam menerima Kristus sebagai hayat, juga dalam menerima Kristus sebagai persona kita. Sedikit sekali orang kudus yang menerima Kristus sebagai persona mereka dengan memadai. Memiliki Kristus sebagai persona kita lebih dalam, lebih tinggi, dan lebih limpah daripada sekadar menerima-Nya sebagai hayat. Dalam Efesus 3 Paulus tidak berdoa agar kaum saleh memiliki Kristus sebagai hayat, melainkan agar kaum saleh menerima Dia sebagai persona mereka melalui membiarkan Dia berumah di dalam hati mereka. Inilah keperluan kita hari ini.

Apa saja yang kita lakukan, haruslah melalui menerima Kristus sebagai persona kita. Yang penting bukan apa yang kita lakukan, melainkan siapa yang melakukan, kita atau Kristus? Mengenai berbelanja, yang penting bukan apa yang hendak kita beli, melainkan siapa yang membelinya, kita atau Kristus? Jika kita tidak menerima Kristus sebagai persona kita, sekalipun yang kita beli adalah sebuah Alkitab, dalam pandangan Tuhan tetap salah. Jadi, yang penting bukanlah apa yang kita lakukan atau apa yang kita beli, melainkan siapa yang melakukan atau siapa yang membeli.

KRISTUS TEREKSPRESI DALAM GEREJA

Satu-satunya jalan bagi Kritus untuk menjadi persona kita ialah Ia berumah di dalam hati kita. Kaum saleh di setiap gereja lokal harus menerima Kristus sebagai hayat mereka dan sebagai persona mereka melalui membiarkan Dia berumah di dalam hati mereka. Tiap-tiap gereja adalah kesaksian Tuhan di bumi ini. Namun kesaksian ini harus memiliki suatu realitas batiniah. Saya dengan menyesal mengatakan bahwa gereja mungkin saja menjadi suatu wadah yang hampa, tanpa isi. Isi gereja seharusnya adalah Kristus yang kita terima sebagai hayat dan persona. Jika kita menerima Kristus se-bagai persona kita, maka ketika kita berhimpun bersama dalam sidang, Kristus akan terekspresi dari roh kita dan melalui hati kita. Semua orang yang datang akan merasa bahwa Kristus hadir baik sebagai hayat maupun sebagai persona kita.

Persidangan gereja lokal seharusnya merupakan ekspresi Kristus. Kristus tidak saja sebagai hayat yang menang dan unggul, juga sebagai persona yang hidup, riil, dan hadir. Bila kita bersaksi dalam sidang, orang lain akan mengatakan apakah kita menerima Kristus sebagai persona kita atau tidak. Bila kita setia menerima Kristus sebagai persona kita, kita akan menikmati penyertaan Tuhan Yesus dalam sidang-sidang kita. Pada faktanya, sidang-sidang itu sendiri merupakan penyertaan-Nya, sebab Ia akan terekspresi dari dalam kita.

Kita harus berdoa bagi diri sendiri dan orang lain, agar kita semua memiliki realitas menerima Kristus sebagai persona kita dalam kehidupan kita sehari-hari. Setiap perkara yang kita lakukan tidak seharusnya dilakukan oleh diri sendiri, melainkan oleh Kristus. Selera dan pilihan-Nya harus menjadi selera dan pilihan kita. Kemudian, Kristus bukan hanya menjadi hayat kita, te-tapi juga menjadi persona kita. Demikianlah Tuhan akan meluas di dalam hati kita, menempati hati kita, dan berumah dalam hati kita secara menyeluruh. Terakhir, Ia akan menjenuhi seluruh diri kita dengan diri-Nya sendiri, dan kita akan hidup bukan oleh kita sendiri lagi, melainkan oleh Kristus. Semakin hal ini menjadi pengalaman kita, sidang-sidang gereja akan semakin menjadi penyertaan Tuhan Yesus. Dalam sidang-sidang yang demikian, pengkhotbahan, pengajaran, atau penggunaan karunia-karunia tidak begitu perlu, sebab Kristus telah terekspresi melalui kaum saleh. Karena Kristus begitu kaya, praktis, hadir, dan riil dalam pengalaman kaum saleh, maka mereka dapat saling membagi-nikmatkan Kristus. Betapa berbedanya sidang-sidang yang demikian dengan “kebaktian” kekristenan hari ini!

TERSUSUN MENJADI KARUNIA-KARUNIA

Dalam Efesus 4 kita nampak bahwa ketika Kristus yang menang naik ke surga, Ia memimpin serombongan musuh yang tertawan dan menyusun mereka menjadi karunia-karunia bagi Tubuh-Nya. Kita telah menunjukkan bahwa kita telah menjadi karunia-karunia melalui mengalami turun naiknya Kristus di batin kita.

Paulus adalah karunia yang paling berguna yang diberikan oleh Kristus kepada Tubuh-Nya. Sebelum disusun menjadi satu karunia bagi gereja, Paulus adalah seorang seteru Kristus dan penganiaya gereja. Akan tetapi, ketika Tuhan Yesus menyatakan diri kepadanya, ia pun ditaklukkan. Ia rebah ke tanah dan berkata, “Siapakah Engkau, Tuhan?” Melalui menyeru nama Tuhan Yesus, ia diselamatkan, dan Tuhan masuk ke dalamnya. Pada saat itu, Paulus dari Tarsus menjadi seorang musuh yang tertawan. Pada tahun-tahun berikutnya ia maju terus mengalami turun naiknya Kristus di dalam batinnya. Terakhir, melalui mengalami Kristus yang berwisata ini, Paulus menjadi karunia yang luar biasa bagi Tubuh.

Pada prinsipnya kita juga demikian. Walau dahulu kita adalah seteru-seteru Tuhan, pada suatu hari Ia menjumpai kita, mungkin ketika kita dalam perjalanan menuju Damsyik. Tuhan lalu menawan kita, menangkap kita, dan menempatkan kita dalam rombongan musuh-musuh yang tertawan itu. Kini, melalui turun naik-Nya di batin kita, Ia telah menyusun kita menjadi karunia-karunia bagi Tubuh-Nya.

Banyak orang Kristen mengira hanya para rasul, nabi-nabi, pemberita Injil, dan gembala-gembala dan pengajar-pengajar ternama yang menjadi karunia-karunia bagi gereja. Padahal, jika kita membaca Efesus 4:7, kita akan nampak bahwa menurut konteksnya setiap anggota, termasuk kita masing-masing, juga merupakan satu karunia bagi Tubuh. Dalam Efesus 4:16 Paulus mengatakan setiap bagian, yakni setiap anggota. Setiap anggota Tubuh bisa menjadi satu karunia jika ia telah tersusun oleh turun naiknya Kristus.

MEMPERLENGKAPI KAUM SALEH

MELALUI MELAYANKAN KRISTUS

Efesus 4:12 membicarakan masalah memperlengkapi kaum saleh. Memperlengkapi kaum saleh terutama bukan dengan mengajar mereka, melainkan menyuplaikan Kristus kepada mereka. Yang diperlukan kaum saleh bukanlah pengetahuan doktrin, melainkan penyuplaian Kristus. Setiap kali ada orang menyuplaikan Kristus kepada kita, dengan spontan kita akan merasa bahwa kita diberi makan dan dirawat, yaitu menerima Kristus sebagai suplai makanan kita. Melalui suplai inilah kita diteguhkan dan diterangi.

Akan tetapi, bila seseorang datang kepada kita dengan pertanyaan-pertanyaan yang membujuk, keadaannya akan berbeda sama sekali. Ketika si ular menjumpai Hawa di taman, ia bertanya, “Tentulah Allah berfirman . . . , bukan?” Demikian pula, orang-orang yang negatif sering mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat menggoda. Kita harus segera menyadari bahwa pertanyaan-pertanyaan demikian bukan berasal dari Tuhan. Orang-orang yang berkontak dengan kita secara demikian bukanlah menyuplaikan Kristus. Mereka tidak menyuplai kita dengan makanan, tidak mendiris kita, dan tidak meneguhkan, menerangi, atau melengkapi kita. Pertanyaan-pertanyaan mereka mendatangkan kegelapan dan maut. Begitu kita menyadari pembicaraan yang demikian, kita harus menutup diri terhadap hal-hal itu dan menolaknya.

Yang diperlukan kaum saleh ialah Kristus disuplaikan ke dalam mereka. Hal ini perlu bagi hidup gereja. Dalam seluruh kontak kita dengan kaum saleh haruslah ada Kristus yang disuplaikan sebagai suplai hayat. Karunia-karunia yang utama itu adalah untuk memperlengkapi kaum saleh melalui menyuplaikan Kristus yang sedemikian. Semakin kaum saleh disuplai dengan Kristus yang hidup, mereka akan semakin diperlengkapi.

BERTUMBUH ATAS HAL-HAL KHUSUS

Ketika kaum saleh diperlengkapi melalui penyuplaian Kristus, mereka akan bertumbuh ke dalam Kristus. Kita memiliki Kristus di batin kita, namun atas banyak hal kita masih berada dalam diri sendiri. Karena itu, kita perlu pertumbuhan yang membawa kita keluar dari diri sendiri dan masuk ke dalam Kristus. Pengajaran-pengajaran tidak mampu melakukan hal ini. Hal ini hanya dapat dilakukan melalui menyuplaikan Kristus sebagai makanan dan pemeliharaan.

Pertumbuhan ke dalam Kristus dalam Efesus 4:15 sama artinya dengan mengenakan manusia baru dalam ayat 24. Jalan satu-satunya untuk mengenakan manusia baru ialah bertumbuh ke dalam Kristus. Semakin kita bertumbuh ke dalam Kristus, kita akan semakin menge-nakan manusia baru. Mengenakan manusia baru adalah berada di dalam hidup gereja yang wajar. Kita tidak mungkin berada dalam hidup gereja bila kita tidak bertumbuh ke dalam Kristus. Kita perlu bertumbuh ke dalam Kristus atas setiap rincian kehidupan kita sehari-hari, misalnya atas hal berbelanja dan bercakap-cakap. Sering kali percakapan kita sangat alamiah dan tanpa Kristus. Cara satu-satunya untuk dibebaskan dari cara bercakap-cakap yang alamiah ialah menyingkirkannya melalui bertumbuh ke dalam Kristus. Jika kita bertumbuh ke dalam Kristus atas hal percakapan, maka percakapan kita akhirnya akan berada di dalam Kristus. Melalui bertumbuh ke dalam Kristus atas hal-hal khusus, kita akan dengan spontan lebih banyak mengenakan manusia baru.

Di beberapa tempat kaum saleh sangat mengasihi Tuhan; tetapi mereka sangat alamiah. Hampir-hampir setiap hal — perilaku, pekerti, dan cara-cara mereka berbicara — bersifat alamiah. Pada diri mereka tidak tampak tanda-tanda bahwa mereka telah bertumbuh ke dalam Kristus. Hal tersebut sangat menghambat Roh yang berhuni di batin, yang mendambakan agar gereja terwujud sebagai manusia baru. Untuk mengenakan hidup gereja sebagai ekspresi satu manusia baru, kita perlu melepaskan setiap hal yang alamiah melalui bertumbuh ke dalam Kristus. Jika kita memiliki perlengkapan dengan pertumbuhan yang dikatakan dalam Efesus 4:13 dan 15, pastilah kita akan mengenakan manusia baru.

KEHIDUPAN KOMUNITAS YANG WAJAR

Ketika kita bertumbuh ke dalam Kristus, kita pun akan menanggalkan manusia lama, khususnya dalam cara-cara hidup yang lama. Cara-cara hidup dari manusia lama ialah hidup sosial, atau hidup komunitas yang lama. Melalui penciptaan, setiap manusia perlu suatu kehidupan komunitas. Sebelum kita diselamatkan, kita memiliki corak hidup sosial tertentu. Kini setelah kita diselamatkan, maka kehidupan sosial kita perlu diubah. Hal ini berarti kita perlu suatu perubahan komunitas. Hidup gereja merupakan “kehidupan sosial” yang terbaik. Kita dapat bersaksi bahwa dalam hidup gereja, kehidupan sosial kita yang lama telah diganti dengan kehidupan komunitas yang terbaik. Puji Tuhan atas “kehidupan sosial” dalam gereja ini!

HIDUP GEREJA YANG STABIL

Namun, jika kita mengumumkan bahwa gereja adalah kehidupan komunitas kita, tetapi kita tidak bertumbuh ke dalam Kristus, hidup gereja kita akan tidak stabil. Ada orang berkata bahwa mereka adalah untuk hidup gereja, tetapi ketika mereka kecewa terhadap suatu hal dalam gereja, mereka lalu pergi. Hal ini menunjukkan bahwa mereka belum benar-benar mengenakan hidup gereja melalui bertumbuh ke dalam Kristus. Satu-satunya jalan untuk mengenakan hidup gereja ialah bertumbuh ke dalam Kristus atas segala perkara. Misalkan seorang saudari tidak bertumbuh ke dalam Kristus atas hal berbelanja. Selama ia kurang bertumbuh atas hal berbelanja, hidup gerejanya pun tidak akan mantap sepenuhnya. Kemantapan hidup gereja kita tergantung pada pertumbuhan kita ke dalam Kristus atas hal-hal tertentu. Jika kita tidak bertumbuh ke dalam Kristus, kita mungkin hadir dalam gereja hari ini tetapi absen pada hari berikutnya. Maka, demi kestabilan hidup gereja, kita harus bertumbuh ke dalam Kristus secara khusus. Sekali lagi kita nampak bahwa mengenakan manusia baru berarti bertumbuh.

Yang kita perlukan bukan bertumbuh secara umum, melainkan secara khusus. Sebagai contoh, seorang saudara mungkin harus bertumbuh ke dalam Kristus atas hal mencukur rambut atau memperlakukan istrinya. Jika kita tidak memperlihatkan pertumbuhan apa pun pada aspek-aspek demikian dalam kehidupan kita sehari-hari, orang lain pasti akan mempertanyakan kemantapan hidup gereja kita. Hanya dengan bertumbuh atas hal-hal khusus barulah hidup gereja kita menjadi stabil dan mantap. Semakin kita bertumbuh dalam Kristus, sema-kinlah kita mengenakan hidup gereja.

Hidup gereja bukan masalah karakter yang baik atau pekerjaan yang baik, melainkan sepenuhnya merupakan masalah bertumbuh ke dalam Kristus atas hal-hal khusus. Melalui bertumbuh dalam Kristus dari hari ke hari kita akan berangsur-angsur menanggalkan kehidupan so-sial yang lama, dan mengenakan gereja, manusia baru, sebagai kehidupan komunitas baru. Ketika kita bertumbuh, kita menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita. Pertumbuhan tergantung pada Kristus berumah dalam hati kita. Jika kita tidak memberi kesempatan kepada Kristus untuk berumah di dalam kita, kita tidak dapat menerima-Nya sebagai persona kita, dan tidak bisa memiliki pertumbuhan sejati dalam Kristus. Kita bertumbuh dalam Kristus hanya melalui menerima Dia sebagai persona kita. Semakin kita menerima Kristus sebagai persona kita, kita akan semakin bertumbuh ke dalam Kristus atas hal-hal khusus. Sebagai akibatnya, kita akan mengenakan lebih banyak hidup gereja.

Ada kemungkinan kita berada dalam hidup gereja hanya secara luaran. Tetapi, jika kita tidak bertumbuh dalam Kristus melalui menerima Dia sebagai persona kita, kita tidak akan berada dalam hidup gereja secara riil. Realitas dan praktek hidup gereja tergantung pada pertumbuhan kita ke dalam Kristus, yang berdasarkan menerima Kristus sebagai persona kita atas masalah-masalah khusus. Ketika kita menerima Kristus sebagai persona kita dan bertumbuh ke dalam Dia, maka hidup gereja akan tersusun ke dalam diri kita, dan kita akan menjadi bagian dari gereja. Inilah hidup gereja yang wajar.