Daftar isi Efesus (4) · Berita Ketujuh Puluh Delapan · bab 5/24

Berita Ketujuh Puluh Delapan

MENERIMA KRISTUS SEBAGAI PERSONA KITA UNTUK HIDUP GEREJA

Pembacaan Alkitab:

Ef. 2:15-16; 3:17a; 4:13-15; 22-24

Kitab Efesus mewahyukan kepada kita bahwa gereja bukan hanya Tubuh, juga manusia baru. Sebagai manusia baru, gereja harus memiliki Kristus sebagai hayat dan persona. Pada tahun-tahun belakangan ini, baru terpulih aspek gereja sebagai manusia baru. Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah memperlihatkan dengan jelas kepada kita melalui Kitab Efesus, betapa gereja adalah manusia baru.

Sejak dua abad terakhir ini, banyak orang Kristen telah tampak gereja adalah Tubuh Kristus. Terutama Kaum Saudara (The Brethren) membicarakan tentang aspek ini. Tidak hanya demikian, setelah Perang Dunia II, banyak orang di Amerika mulai membicarakan masalah Tubuh. Hari ini, orang terbiasa mendengar istilah seperti ministri Tubuh. Akan tetapi, walau gereja adalah Tubuh Kristus, ini bukanlah wahyu yang tertinggi dari gereja. Kita harus maju lagi untuk melihat gereja adalah manusia baru.

MEMBATALKAN KETENTUAN-KETENTUAN DEMI PENCIPTAAN MANUSIA BARU

Efesus 2:15 mengatakan bahwa dalam daging-Nya, Kristus membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya untuk menciptakan keduanya (Yahudi dan Kafir) menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya. Melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus tidak saja menanggulangi dosa kita, manusia lama, daging, dunia, dan Iblis, Ia pun menanggulangi hukum Taurat dan ketentuan-ketentuannya. Banyak berita yang baik telah disampaikan tentang bagaimana salib Kristus menanggulangi dosa, manusia lama, daging, dunia, dan Iblis. Tetapi pernahkah Anda mendengar Kristus di atas salib telah membatalkan hukum dan ketentuannya? Kristus melakukan hal ini bukan untuk keselamatan, pengudusan, atau bahkan untuk kemenangan. Ia membatalkan ketentuan-ketentuan untuk menciptakan manusia baru. Kita dengan sendirinya mengakui bahwa dosa, manusia lama, daging, dunia, dan Iblis semuanya perlu ditanggulangi oleh salib, dan kita memuji Tuhan bahwa segala perkara negatif ini telah disalibkan. Namun kita harus maju melihat pentingnya Kristus membatalkan hukum dengan ketentuan-ketentuannya, untuk menciptakan kita menjadi satu manusia baru.

Kenyataan bahwa orang-orang Yahudi dan kafir telah diciptakan menjadi satu manusia baru menunjukkan bahwa manusia baru merupakan wujud yang korporat dan universal. Orang beriman banyak, tetapi manusia baru hanya satu. Semua orang beriman merupakan bagian dari satu manusia baru yang korporat dan universal ini. Wahyu yang tertinggi dari gereja telah diberikan dalam Kitab Efesus, yakni manusia baru.

Dilahirkan kembali tidak saja berarti diselamatkan, juga berarti diciptakan sekali lagi. Di atas salib, Kristus telah membatalkan ketentuan sehingga penciptaan kembali ini dapat terlaksana. Orang Yahudi dan kafir telah terpisah karena ketentuan-ketentuan. Tetapi kedua golongan orang itu telah diciptakan dalam Kristus dengan esens ilahi menjadi satu wujud baru, satu manusia baru yang korporat.

Ketentuan-ketentuan merupakan berbagai bentuk atau cara hidup dan penyembahan. Sebagai contoh, orang Yahudi memiliki cara khas mereka untuk menyembah Allah. Berdasarkan cara penyembahannya, mereka memiliki peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan mereka sehari-hari. Orang lain pun mempunyai cara hidup dan penyembahan mereka sendiri. Demikian pula di antara berbagai macam denominasi kekristenan dewasa ini. Aliran Baptis, Presbiterian, Methodis, Lutheran, dan Episkopal, semua mempunyai cara penyembahan yang berbeda-beda. Betapa luasnya dan betapa besar pengaruh masalah ketentuan-ketentuan tersebut!

Kehendak Allah bukanlah memiliki sejenis penyembahan tertentu, Ia ingin memiliki satu manusia baru. Tetapi, secara licik, Iblis, musuh Allah, memperalat ketentuan-ketentuan untuk merusak manusia baru dan menghalangi kaum beriman untuk mengenal manusia baru secara riil. Sasaran Iblis bukan mencegah orang Kristen masuk surga atau menuntut kerohanian, melainkan mencegah mereka melihat dan mengalami gereja sebagai satu manusia baru.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah membuat kita mengenal tumpuan gereja dengan sangat jelas. Tetapi tidak cukup hanya mengetahui tumpuan gereja. Walaupun tumpuan gereja itu sangat penting, tetapi Allah bukan hanya sekadar ingin memiliki tumpuan gereja. Ia damba memiliki gereja sebagai manusia baru. ketentuan-ketentuan merupakan hambatan utama terhadap penggenapan keinginan Allah ini. Jika kita ingin mempunyai gereja dalam aspek manusia baru, kita perlu menyingkirkan cara-cara hidup kita. Di atas salib, Kristus telah membatalkan segala ketentuan. Tetapi, Ia berbuat demikian bukan sekadar untuk membatalkan ketentuan-ketentuan, melainkan untuk menciptakan satu manusia baru.

Dalam hikmat-Nya, Allah telah memilih kita keluar dari setiap suku, bahasa, bangsa, dan negara (Why. 5:9). Dalam gereja-gereja lokal hari ini terdapat kaum beriman dari berbagai suku dan negara. Sesungguhnya ujian yang terbesar dari apakah kita menerima Kristus sebagai hayat dan persona, itu berkaitan dengan ketentuan-ketentuan. Sebagai contoh, sukar sekali bagi orang-orang China yang pindah dari Timur Jauh ke Amerika Serikat untuk memahami gereja sebagai manusia baru, sebab mereka sukar mengesampingkan cara-cara hidup mereka sebagai orang China. Ketika beberapa saudara saudari China berada di Timur Jauh, mereka lebih berguna dalam hidup gereja (church life), dibandingkan sekarang di Amerika Serikat, sebab mereka mempertahankan ketentuan-ketentuan China mereka. Agar adil, kita perlu menunjukkan bahwa kita semua mempunyai problem mempertahankan ketentuan-ketentuan kita masing-masing. Dalam manusia baru tidak ada tempat bagi orang Yahudi, Yunani, Barbar, Skit, bersunat atau tak bersunat. Ini berarti dalam gereja sebagai manusia baru tidak boleh ada orang China, orang Amerika, orang Inggris, orang Jerman, atau bangsa lainnya. Hanya ada tempat bagi Kristus. Kita sangat perlu melihat bahwa lebih dari seribu sembilan ratus tahun yang lalu semua ketentuan-ketentuan kita telah dibatalkan oleh Kristus di atas salib.

PERLU PENGALAMAN YANG RIIL

Jika kita dengan tulus damba menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita, kita wajib menyingkirkan ketentuan-ketentuan kita. Sebagai contoh, kita tidak seharusnya mempunyai satu ketentuan tentang gaya rambut. Sebaliknya, kita harus berkontak dengan Tuhan mengenai hal ini, dan berdoa, “Tuhan Yesus, aku adalah salah satu dari anggota-Mu. Gaya potong rambut manakah yang Kau kehendaki? Aku tidak memperhatikan cara penyembahan atau cara hidup apa pun, aku tidak memperhatikan adat istiadat atau kebiasaan. Tuhan, aku hanya memperhatikan Engkau menjadi hayat dan personaku.” Dengan spontan Tuhan Yesus yang hidup akan menunjukkan kepada Anda bagaimana seharusnya Anda memotong rambut Anda. Lalu Anda berbuat saja menurut apa yang Ia tunjukkan itu. Ini bukan satu ketentuan, melainkan satu pengalaman yang riil atas menerima Kristus sebagai persona Anda.

Kebutuhan kita dewasa ini bukanlah pengetahuan yang doktrinal, melainkan menerima Kristus sebagai persona kita secara riil dan dalam pengalaman sehari-hari. Pada tahun 1970, ketika kita baru mulai membicarakan gereja sebagai manusia baru, saat itu kita menunjukkan bahwa agar memiliki gereja dalam aspek manusia baru ini, kita perlu menerima Kristus sebagai persona kita. Sejak itu, banyak pembicaraan tentang manusia baru dan tentang menerima Kristus sebagai persona kita. Bahkan ada beberapa lagu yang baik telah ditulis menurut beban ini. Tetapi, menurut pengamatan saya, tidak banyak realitas di antara kita yang membuktikan kita benar-benar menerima Kristus sebagai persona kita. Kita tidak seharusnya merasa puas jika orang lain menganggap kita manusia yang baik. Kita harus menjadi orang yang menerima Kristus sebagai persona kita. Semoga kita semua datang menghadap Tuhan, dan bergumul tuntas dengan-Nya mengenai semua rincian kehidupan kita sehari-hari.

MENERIMA KRISTUS

Dalam banyak aspek kita masih sangat agamis. Bahkan cara kita memberitakan Injil dan membantu orang lain beroleh selamat pun mungkin secara agamis. Kita mungkin memberi tahu orang bahwa mereka berdosa dan Kristus telah mati di atas salib bagi dosa-dosa mereka. Kita mungkin mengatakan bahwa bila mereka percaya kepada-Nya, mereka akan diampuni, dibenarkan, diselamatkan, dan dipersiapkan untuk ke surga. Dipandang dari suatu segi, pemberitaan-pemberitaan Injil yang demikian itu baik, fundamental, bahkan alkitabiah, tetapi itu mungkin agamis. Faktor yang penting dalam penginjilan ialah membantu orang membuka diri kepada Tuhan Yesus dan menerima-Nya ke dalam mereka. Bahkan sekalipun seseorang tidak memiliki konsepsi pengampunan, pembenaran, atau surga, ia akan memiliki realitas dari semuanya itu asalkan ia mau menerima Kristus ke dalam hatinya. Ketika kita memiliki Kristus, kita memiliki pengampunan, penebusan, pembenaran, keselamatan, dan pengudusan.

Kehendak Allah tidak hanya sekadar mengampuni dosa-dosa kita, membenarkan kita, lalu membawa kita ke surga. Kehendak-Nya ialah menggarapkan Kristus ke dalam kita. Sebelum dunia dijadikan, Ia telah memilih kita di dalam Kristus dan memberi tanda di atas kita. Kemudian, dalam waktu, Ia memanggil kita. Ketika Ia memanggil kita, Ia ingin kita memusatkan perhatian kita bukan pada pengampunan atau pembenaran, melainkan pada menerima Putra terkasih-Nya ke dalam kita. Selama Kristus hidup di dalam kita, kita tidak akan mempunyai masalah dalam pengampunan, pembenaran, keselamatan, atau surga.

Hanya dengan memiliki Kristus di dalam kita, barulah kita dapat menjadi bagian dari Tubuh Kristus. Hanya Kristuslah satu-satunya yang dapat menyusun kita menjadi bagian dari diri-Nya. Untuk ini, pengampunan, pembenaran, dan pengudusan tidaklah memadai. Semoga Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak saja telah diampuni, dibenarkan, diselamatkan, dan dikuduskan, tetapi juga telah diciptakan kembali di dalam Kristus dan bersama Kristus.

Karena saya pernah mengalami berbagai macam kekristenan, termasuk yang fundamental, yang pentakosta, dan yang hayat batiniah, maka saya mengenal banyak praktik agama. Saya dapat bersaksi, hari ini saya bukan untuk praktik mana pun, melainkan hanya untuk menerima Kristus sebagai persona saya secara sejati dan hidup. Kedambaan saya ialah membantu orang lain menerima dan mengalami Kristus yang hidup. Ia bukan satu bentuk, agama, ketentuan, peraturan, atau praktik — Ia adalah Roh yang hidup. Kebutuhan kita hanya satu, yaitu membuka diri kepada-Nya dan menerima Dia ke dalam batin kita.

MEMBIARKAN KRISTUS BERUMAH

DI DALAM HATI KITA

Tanpa Efesus 3, Efesus 2 akan menjadi doktrin belaka bagi kita. Kristus memang telah membatalkan ketentuan dengan segala peraturannya demi menciptakan orang Yahudi dan kafir menjadi satu manusia baru. Tetapi untuk menjadikan hal ini riil dalam pengalaman kita sehari-hari, kita harus membiarkan Kristus berumah di dalam hati kita (Ef. 3:17). Apakah Anda masih memiliki peraturan atau tidak dapat diperiksa dari apakah Kristus berumah di dalam hati Anda atau tidak. Apakah Anda membiarkan Dia berumah di dalam hati Anda? Jika kita jujur, kebanyakan kita akan berkata bahwa kita tidak memberi-Nya banyak kesempatan untuk berbuat demikian. Alasannya ialah kita tidak memperhatikan Kristus lebih dulu, melainkan cara kita sendiri.

Renungkanlah pengalaman Petrus dalam Kisah Para Rasul 10. Ketika ia berdoa di atas sotoh rumah, “Ia melihat langit terbuka dan turunlah sesuatu seperti kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah” (ayat 11). Dalam kain ini “terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang melata dan burung” (ayat 12). Kemudian ada suara berkata kepada Petrus, “Bangunlah, Petrus, sembelihlah dan makanlah!” (ayat 13). Tetapi jawab Petrus, “Tidak, Tuhan, sebab aku belum pernah makan apa pun yang haram dan yang najis” (ayat 14). Dalam kesempatan ini, Petrus tidak menerima Kristus sebagai personanya. Sebaliknya, Petrus tetap dalam personanya sendiri.

Jangan mengira kita lebih rohani daripada Petrus. Sering kali kita pun gagal dalam menerima Kristus sebagai persona kita. Ketika Tuhan berbicara tentang sesuatu kepada kita, kita sering menjawab, “Bukan begitu, Tuhan.” Kita mungkin berkata, “Tuhan, aku tidak percaya Engkau akan menyuruhku melakukan hal demikian.” Pengalaman kita membuktikan bahwa setiap kali kita menolak menuruti kehendak Tuhan, kita akan kehilangan penyertaan-Nya dan pengurapan-Nya. Namun, bila kita setuju dengan Tuhan, kita menikmati penyertaan-Nya dan mengalami pengurapan batin yang menyegarkan. Bahkan mungkin kita akan lupa diri karena sukacita di dalam Tuhan.

Marilah kita lupakan agama, ketentuan, peraturan, segala praktik yang berbeda-beda dalam menyembah Allah, dan cara-cara hidup kita sendiri, agar kita hanya membiarkan Kristus berumah di dalam hati kita. Kristus telah masuk ke dalam kita menjadi hayat dan persona kita, dan Ia tidak akan merasa puas sebelum kita menerima-Nya sebagai persona kita secara riil. Bila kita tidak menerima Dia sebagai persona kita, kita akan merasa dalam batin bahwa tidak peduli seberapa banyak kita mengasihi Kristus dan gereja, dan tidak peduli seberapa banyak kita untuk pemulihan Tuhan, kita masih kekurangan sesuatu. Perasaan kekurangan ini berasal dari kekurangan Kristus sebagai persona kita.

Hati kita tidak seharusnya menjadi tempat kediaman diri atau ego kita, tetapi menjadi tempat kediaman Kristus. Saya bertanya sekali lagi, siapakah persona yang hidup di dalam Anda, Anda atau Kristus? Dalam hal ini saya tidak memperhatikan doktrin, saya hanya memperhatikan realitas. Kristus membatalkan ketentuan-ketentuan itu, bukan supaya kita mempunyai ketentuan-ketentuan yang lain. Kehendak-Nya tidak lain ialah ingin berumah di dalam hati kita.

Banyak saudari yang telah menikah enggan membaca Efesus 5, sebab di situ dikatakan para istri harus mematuhi suami mereka. Ketika mereka membaca pasal ini, mereka tersingkap dan menyadari betapa mereka tidak patuh. Ada sementara yang menyalahkan suami atau lingkungan mereka sebagai penyebab ketidakpatuhan mereka. Mereka bahkan mungkin menyalahkan Tuhan dan mengatakan kepada-Nya, jika Tuhan memberi mereka suami yang lain, mereka pasti dapat mematuhinya. Saudari, jangan mencoba mematuhi suami Anda tetapi biarkanlah Kristus berumah di dalam hati Anda. Jika Anda menerima Dia sebagai persona Anda dan membiarkan Dia berumah dalam hati Anda, Anda pasti dapat mematuhi suami Anda.

Kita harus melupakan setiap perkara yang agamis dan hanya menerima Kristus sebagai persona kita. Jika kita berbuat demikian, kita akan beroleh pertumbuhan yang dikatakan dalam pasal 4, dan kita akan mengenakan manusia baru. Inilah hidup gereja yang wajar.

Allah tidak menghendaki kita mencoba secara agamis untuk mematuhi suami atau mengasihi istri. Perhatian-Nya tertuju pada perihal kita menerima Kristus sebagai persona kita dan mengesampingkan segala ketentuan. Allah menghendaki manusia-manusia yang di dalam hati mereka ada Kristus yang berumah. Inilah kebutuhan kita dalam hidup gereja dewasa ini.

FAKTOR UNIK DALAM PEMULIHAN TUHAN

Pemulihan Tuhan bukan suatu pemulihan ajaran. Dalam pemulihan Tuhan faktor yang unik ialah Kristus. Tentu kita menghormati, menghargai, dan menerapkan Alkitab. Kita memelihara firman Tuhan sebanyak yang dilakukan orang Kristen lain, kalau tidak dikatakan “lebih banyak”. Namun, kita harus jelas bahwa pemulihan Tuhan tidak hanya satu masalah mengikuti ajaran Alkitab, melainkan juga satu masalah Kristus hidup dan berumah di dalam hati kita, agar dalam segala perkara kita dapat bertumbuh ke arah Dia sebagai Kepala. Semakin kita bertumbuh ke arah Kristus, kita akan semakin mengenakan manusia baru, yakni hidup gereja yang wajar dan riil. Kebutuhan kita yang unik hari ini ialah menerima Kristus sebagai persona kita demi hidup gereja.