← Daftar isi Efesus (3) · bab 5/23

MENERIMA KRISTUS SEBAGAI PERSONA KITA UNTUK HIDUP GEREJA

Pembacaan Alkitab:

Ef. 2:15-16; 3:17a; 4:13-15; 22-24

Kitab Efesus mewahyukan kepada kita bahwa gereja bukan hanya Tubuh, juga manusia baru. Sebagai manusia baru, gereja harus memiliki Kristus sebagai hayat dan persona. Pada tahun-tahun belakangan ini, baru terpulih aspek gereja sebagai manusia baru. Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah memperlihatkan dengan jelas kepada kita melalui Kitab Efesus, betapa gereja adalah manusia baru.

Sejak dua abad terakhir ini, banyak orang Kristen telah nampak gereja adalah Tubuh Kristus. Terutama Kaum Saudara (The Brethren) membicarakan tentang aspek ini. Tidak hanya demikian, setelah Perang Dunia II, banyak orang di Amerika mulai membicarakan masalah Tubuh. Hari ini, orang terbiasa mendengar istilah seperti ministri Tubuh. Akan tetapi, walau gereja adalah Tubuh Kristus, ini bukanlah wahyu yang tertinggi dari gereja. Kita harus maju lagi untuk melihat gereja adalah manusia baru.

MEMBATALKAN KETENTUAN-KETENTUAN DEMI PENCIPTAAN MANUSIA BARU

Efesus 2:15 mengatakan bahwa dalam daging-Nya, Kristus membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya untuk menciptakan keduanya (Yahudi dan Kafir) menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya. Melalui kematian-Nya di atas salib, Kristus tidak saja menanggulangi dosa kita, manusia lama, daging, dunia, dan Iblis, Ia pun menanggulangi hukum Taurat dan ketentuan-ketentuannya. Banyak berita yang baik telah disampaikan tentang bagaimana salib Kristus menanggulangi dosa, manusia lama, daging, dunia, dan Iblis. Tetapi pernahkah Anda mendengar Kristus di atas salib telah membatalkan hukum dan ketentuannya? Kristus melakukan hal ini bukan untuk keselamatan, pengudusan, atau bahkan untuk kemenangan. Ia membatalkan ketentuan-ketentuan untuk menciptakan manusia baru. Kita dengan sendirinya mengakui bahwa dosa, manusia lama, daging, dunia, dan Iblis semuanya perlu ditanggulangi oleh salib, dan kita memuji Tuhan bahwa segala perkara negatif ini telah disalibkan. Namun kita harus maju melihat pentingnya Kristus membatalkan hukum dengan ketentuan-ketentuannya, untuk menciptakan kita menjadi satu manusia baru.

Kenyataan bahwa orang-orang Yahudi dan kafir telah diciptakan menjadi satu manusia baru menunjukkan bahwa manusia baru merupakan wujud yang korporat dan universal. Orang beriman banyak, tetapi manusia baru hanya satu. Semua orang beriman merupakan bagian dari satu manusia baru yang korporat dan universal ini. Wahyu yang tertinggi dari gereja telah diberikan dalam Kitab Efesus, yakni manusia baru.

Dilahirkan kembali tidak saja berarti diselamatkan, juga berarti diciptakan sekali lagi. Di atas salib, Kristus telah membatalkan ketentuan sehingga penciptaan kembali ini dapat terlaksana. Orang Yahudi dan kafir telah terpisah karena ketentuan-ketentuan. Tetapi kedua golongan orang itu telah diciptakan dalam Kristus dengan esens ilahi menjadi satu wujud baru, satu manusia baru yang korporat.

Ketentuan-ketentuan merupakan berbagai bentuk atau cara hidup dan penyembahan. Sebagai contoh, orang Yahudi memiliki cara khas mereka untuk menyembah Allah. Berdasarkan cara penyembahannya, mereka memiliki peraturan-peraturan yang mengatur kehidupan mereka sehari-hari. Orang lain pun mempunyai cara hidup dan penyembahan mereka sendiri. Demikian pula di antara berbagai macam denominasi kekristenan dewasa ini. Aliran Baptis, Presbiterian, Methodis, Lutheran, dan Episkopal, semua mempunyai cara penyembahan yang berbeda-beda. Betapa luasnya dan betapa besar pengaruh masalah ketentuan-ketentuan tersebut!

Kehendak Allah bukanlah memiliki sejenis penyembahan tertentu, Ia ingin memiliki satu manusia baru. Tetapi, secara licik, Iblis, musuh Allah, memperalat ketentuan-ketentuan untuk merusak manusia baru dan menghalangi kaum beriman untuk mengenal manusia baru secara riil. Sasaran Iblis bukan mencegah orang Kristen masuk surga atau menuntut kerohanian, melainkan mencegah mereka melihat dan mengalami gereja sebagai satu manusia baru.

Kita bersyukur kepada Tuhan karena Ia telah membuat kita mengenal tumpuan gereja dengan sangat jelas. Tetapi tidak cukup hanya mengetahui tumpuan gereja. Walaupun tumpuan gereja itu sangat penting, tetapi Allah bukan hanya sekadar ingin memiliki tumpuan gereja. Ia damba memiliki gereja sebagai manusia baru. ketentuan-ketentuan merupakan hambatan utama terhadap penggenapan keinginan Allah ini. Jika kita ingin mempunyai gereja dalam aspek manusia baru, kita perlu menyingkirkan cara-cara hidup kita. Di atas salib, Kristus telah membatalkan segala ketentuan. Tetapi, Ia berbuat demikian bukan sekadar untuk membatalkan ketentuan-ketentuan, melainkan untuk menciptakan satu manusia baru.

Dalam hikmat-Nya, Allah telah memilih kita keluar dari setiap suku, bahasa, bangsa, dan negara (Why. 5:9). Dalam gereja-gereja lokal hari ini terdapat kaum beriman dari berbagai suku dan negara. Sesungguhnya ujian yang terbesar dari apakah kita menerima Kristus sebagai hayat dan persona, itu berkaitan dengan ketentuan-ketentuan. Sebagai contoh, sukar sekali bagi orang-orang China yang pindah dari Timur Jauh ke Amerika Serikat untuk memahami gereja sebagai manusia baru, sebab mereka sukar mengesampingkan cara-cara hidup mereka sebagai orang China. Ketika beberapa saudara saudari China berada di Timur Jauh, mereka lebih berguna dalam hidup gereja (church life), dibandingkan sekarang di Amerika Serikat, sebab mereka mempertahankan ketentuan-ketentuan China mereka. Agar adil, kita perlu menunjukkan bahwa kita semua mempunyai problem mempertahankan ketentuan-ketentuan kita masing-masing. Dalam manusia baru tidak ada tempat bagi orang Yahudi, Yunani, Barbar, Skit, bersunat atau tak bersunat. Ini berarti dalam gereja sebagai manusia baru tidak boleh ada orang China, orang Amerika, orang Inggris, orang Jerman, atau bangsa lainnya. Hanya ada tempat bagi Kristus. Kita sangat perlu melihat bahwa lebih dari seribu sembilan ratus tahun yang lalu semua ketentuan-ketentuan kita telah dibatalkan oleh Kristus di atas salib.

PERLU PENGALAMAN YANG RIIL

Jika kita dengan tulus damba menerima Kristus sebagai hayat dan persona kita, kita wajib menyingkirkan ketentuan-ketentuan kita. Sebagai contoh, kita tidak seharusnya mempunyai satu ketentuan tentang gaya rambut. Sebaliknya, kita harus berkontak dengan Tuhan mengenai hal ini, dan berdoa, “Tuhan Yesus, aku adalah salah satu dari anggota-Mu. Gaya potong rambut manakah yang Kau kehendaki? Aku tidak memperhatikan cara penyembahan atau cara hidup apa pun, aku tidak memperhatikan adat istiadat atau kebiasaan. Tuhan, aku hanya memperhatikan Engkau menjadi hayat dan personaku.” Dengan spontan Tuhan Yesus yang hidup akan menunjukkan kepada Anda bagaimana seharusnya Anda memotong rambut Anda. Lalu Anda berbuat saja menurut apa yang Ia tunjukkan itu. Ini bukan satu ketentuan, melainkan satu pengalaman yang riil atas menerima Kristus sebagai persona Anda.

Kebutuhan kita dewasa ini bukanlah pengetahuan yang doktrinal, melainkan menerima Kristus sebagai persona kita secara riil dan dalam pengalaman sehari-hari. Pada tahun 1970, ketika kita baru mulai membicarakan gereja sebagai manusia baru, saat itu kita menunjukkan bahwa agar memiliki gereja dalam aspek manusia baru ini, kita perlu menerima Kristus sebagai persona kita. Sejak itu, banyak pembicaraan tentang manusia baru dan tentang menerima Kristus sebagai persona kita. Bahkan ada beberapa lagu yang baik telah ditulis menurut beban ini. Tetapi, menurut pengamatan saya, tidak banyak realitas di antara kita yang membuktikan kita benar-benar menerima Kristus sebagai persona kita. Kita tidak seharusnya merasa puas jika orang lain menganggap kita manusia yang baik. Kita harus menjadi orang yang menerima Kristus sebagai persona kita. Semoga kita semua datang menghadap Tuhan, dan bergumul tuntas dengan-Nya mengenai semua rincian kehidupan kita sehari-hari.

MENERIMA KRISTUS

Dalam banyak aspek kita masih sangat agamis. Bahkan cara kita memberitakan Injil dan membantu orang lain beroleh selamat pun mungkin secara agamis. Kita mungkin memberi tahu orang bahwa mereka berdosa dan Kristus telah mati di atas salib bagi dosa-dosa mereka. Kita mungkin mengatakan bahwa bila mereka percaya kepada-Nya, mereka akan diampuni, dibenarkan, diselamatkan, dan dipersiapkan untuk ke surga. Dipandang dari suatu segi, pemberitaan-pemberitaan Injil yang demikian itu baik, fundamental, bahkan alkitabiah, tetapi itu mungkin agamis. Faktor yang penting dalam penginjilan ialah membantu orang membuka diri kepada Tuhan Yesus dan menerima-Nya ke dalam mereka. Bahkan sekalipun seseorang tidak memiliki konsepsi pengampunan, pembenaran, atau surga, ia akan memiliki realitas dari semuanya itu asalkan ia mau menerima Kristus ke dalam hatinya. Ketika kita memiliki Kristus, kita memiliki pengampunan, penebusan, pembenaran, keselamatan, dan pengudusan.

Kehendak Allah tidak hanya sekadar mengampuni dosa-dosa kita, membenarkan kita, lalu membawa kita ke surga. Kehendak-Nya ialah menggarapkan Kristus ke dalam kita. Sebelum dunia dijadikan, Ia telah memilih kita di dalam Kristus dan memberi tanda di atas kita. Kemudian, dalam waktu, Ia memanggil kita. Ketika Ia memanggil kita, Ia ingin kita memusatkan perhatian kita bukan pada pengampunan atau pembenaran, melainkan pada menerima Putra terkasih-Nya ke dalam kita. Selama Kristus hidup di dalam kita, kita tidak akan mempunyai masalah dalam pengampunan, pembenaran, keselamatan, atau surga.

Hanya dengan memiliki Kristus di dalam kita, barulah kita dapat menjadi bagian dari Tubuh Kristus. Hanya Kristuslah satu-satunya yang dapat menyusun kita menjadi bagian dari diri-Nya. Untuk ini, pengampunan, pembenaran, dan pengudusan tidaklah memadai. Semoga Tuhan menunjukkan kepada kita bahwa kita tidak saja telah diampuni, dibenarkan, diselamatkan, dan dikuduskan, tetapi juga telah diciptakan kembali di dalam Kristus dan bersama Kristus.

Karena saya pernah mengalami berbagai macam kekristenan, termasuk yang fundamental, yang pentakosta, dan yang hayat batiniah, maka saya mengenal banyak praktek agama. Saya dapat bersaksi, hari ini saya bukan untuk praktek mana pun, melainkan hanya untuk menerima Kristus sebagai persona saya secara sejati dan hidup. Kedambaan saya ialah membantu orang lain menerima dan mengalami Kristus yang hidup. Ia bukan satu bentuk, agama, ketentuan, peraturan, atau praktek — Ia adalah Roh yang hidup. Kebutuhan kita hanya satu, yaitu membuka diri kepada-Nya dan menerima Dia ke dalam batin kita.

MEMBIARKAN KRISTUS BERUMAH

DI DALAM HATI KITA

Tanpa Efesus 3, Efesus 2 akan menjadi doktrin belaka bagi kita. Kristus memang telah membatalkan ketentuan dengan segala peraturannya demi menciptakan orang Yahudi dan kafir menjadi satu manusia baru. Tetapi untuk menjadikan hal ini riil dalam pengalaman kita sehari-hari, kita harus membiarkan Kristus berumah di dalam hati kita (Ef. 3:17). Apakah Anda masih memiliki peraturan atau tidak dapat diperiksa dari apakah Kristus berumah di dalam hati Anda atau tidak. Apakah Anda membiarkan Dia berumah di dalam hati Anda? Jika kita jujur, kebanyakan kita akan berkata bahwa kita tidak memberi-Nya banyak kesempatan untuk berbuat demikian. Alasannya ialah kita tidak memperhatikan Kristus lebih dulu, melainkan cara kita sendiri.

Renungkanlah pengalaman Petrus dalam Kisah Para Rasul 10. Ketika ia berdoa di atas sotoh rumah, “Ia melihat langit terbuka dan turunlah sesuatu seperti kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya, yang diturunkan ke tanah” (ayat 11). Dalam kain ini “terdapat berbagai jenis binatang berkaki empat, binatang melata dan burung” (ayat 12). Kemudian ada suara berkata kepada Petrus, “Bangunlah, Petrus, sembelihlah dan makanlah!” (ayat 13). Tetapi jawab Petrus, “Tidak, Tuhan, sebab aku belum pernah makan apa pun yang haram dan yang najis” (ayat 14). Dalam kesempatan ini, Petrus tidak menerima Kristus sebagai personanya. Sebaliknya, Petrus tetap dalam personanya sendiri.

Jangan mengira kita lebih rohani daripada Petrus. Sering kali kita pun gagal dalam menerima Kristus sebagai persona kita. Ketika Tuhan berbicara tentang sesuatu kepada kita, kita sering menjawab, “Bukan begitu, Tuhan.” Kita mungkin berkata, “Tuhan, aku tidak percaya Engkau akan menyuruhku melakukan hal demikian.” Pengalaman kita membuktikan bahwa setiap kali kita menolak menuruti kehendak Tuhan, kita akan kehilangan penyertaan-Nya dan pengurapan-Nya. Namun, bila kita setuju dengan Tuhan, kita menikmati penyertaan-Nya dan mengalami pengurapan batin yang menyegarkan. Bahkan mungkin kita akan lupa diri karena sukacita di dalam Tuhan.

Marilah kita lupakan agama, ketentuan, peraturan, segala praktek yang berbeda-beda dalam menyembah Allah, dan cara-cara hidup kita sendiri, agar kita hanya membiarkan Kristus berumah di dalam hati kita. Kristus telah masuk ke dalam kita menjadi hayat dan persona kita, dan Ia tidak akan merasa puas sebelum kita menerima-Nya sebagai persona kita secara riil. Bila kita tidak menerima Dia sebagai persona kita, kita akan merasa dalam batin bahwa tidak peduli seberapa banyak kita mengasihi Kristus dan gereja, dan tidak peduli seberapa banyak kita untuk pemulihan Tuhan, kita masih kekurangan sesuatu. Perasaan kekurangan ini berasal dari kekurangan Kristus sebagai persona kita.

Hati kita tidak seharusnya menjadi tempat kediaman diri atau ego kita, tetapi menjadi tempat kediaman Kristus. Saya bertanya sekali lagi, siapakah persona yang hidup di dalam Anda, Anda atau Kristus? Dalam hal ini saya tidak memperhatikan doktrin, saya hanya memperhatikan realitas. Kristus membatalkan ketentuan-ketentuan itu, bukan supaya kita mempunyai ketentuan-ketentuan yang lain. Kehendak-Nya tidak lain ialah ingin berumah di dalam hati kita.

Banyak saudari yang telah menikah enggan membaca Efesus 5, sebab di situ dikatakan para istri harus me-matuhi suami mereka. Ketika mereka membaca pasal ini, mereka tersingkap dan menyadari betapa mereka tidak patuh. Ada sementara yang menyalahkan suami atau lingkungan mereka sebagai penyebab ketidakpatuhan mereka. Mereka bahkan mungkin menyalahkan Tuhan dan mengatakan kepada-Nya, jika Tuhan memberi mereka suami yang lain, mereka pasti dapat mematuhinya. Saudari, jangan mencoba mematuhi suami Anda tetapi biarkanlah Kristus berumah di dalam hati Anda. Jika Anda menerima Dia sebagai persona Anda dan membiarkan Dia berumah dalam hati Anda, Anda pasti dapat mematuhi suami Anda.

Kita harus melupakan setiap perkara yang agamis dan hanya menerima Kristus sebagai persona kita. Jika kita berbuat demikian, kita akan beroleh pertumbuhan yang dikatakan dalam pasal 4, dan kita akan mengenakan manusia baru. Inilah hidup gereja yang wajar.

Allah tidak menghendaki kita mencoba secara agamis untuk mematuhi suami atau mengasihi istri. Perhatian-Nya tertuju pada perihal kita menerima Kristus sebagai persona kita dan mengesampingkan segala ketentuan. Allah menghendaki manusia-manusia yang di dalam hati mereka ada Kristus yang berumah. Inilah kebutuhan kita dalam hidup gereja dewasa ini.

FAKTOR UNIK DALAM PEMULIHAN TUHAN

Pemulihan Tuhan bukan suatu pemulihan ajaran. Dalam pemulihan Tuhan faktor yang unik ialah Kristus. Tentu kita menghormati, menghargai, dan menerapkan Alkitab. Kita memelihara firman Tuhan sebanyak yang dilakukan orang Kristen lain, kalau tidak dikatakan “lebih banyak”. Namun, kita harus jelas bahwa pemulihan Tuhan tidak hanya satu masalah mengikuti ajaran Alkitab, melainkan juga satu masalah Kristus hidup dan berumah di dalam hati kita, agar dalam segala perkara kita dapat bertumbuh ke arah Dia sebagai Kepala. Semakin kita bertumbuh ke arah Kristus, kita akan semakin mengenakan manusia baru, yakni hidup gereja yang wajar dan riil. Kebutuhan kita yang unik hari ini ialah menerima Kristus sebagai persona kita demi hidup gereja.

BERITA KETUJUH PULUH SEMBIILAN

LIMA ASPEK DARI KRISTUS

Pembacaan Alkitab:

Ef. 5:25-27; 2:15-16; 1:20-23; 4:7-8, 11-12; 3:17a

Kristus adalah jelmaan Allah dan isi gereja. Meskipun semua orang Kristen yang sejati mengakui bahwa Kristus adalah Putra Allah, tetapi tidak banyak yang memiliki pengertian yang memadai tentang Dia sebagai jelmaan Allah. Berbicara tentang Kristus adalah jelmaan Allah berarti di dalam Kristus terkandung segala apa adanya Allah. Dalam kekekalan yang lampau, Allah membuat satu rencana di dalam Kristus, memilih kita, dan menentukan kita, atau menandai kita. Lalu, di dalam dan melalui Kristus, Allah menciptakan segala sesuatu. Akhirnya, Kristus berinkarnasi, menggenapkan penebusan melalui penyaliban, dikubur, dibangkitkan, dan kemudian dinaikkan ke langit tingkat ketiga. Selain itu, Ia telah turun sebagai Roh itu ke atas Tubuh-Nya. Sekarang Ia sedang menunggu manusia agar mau terbuka kepada-Nya dan berseru kepada-Nya supaya Ia dapat masuk ke dalam mereka, melahirkan mereka kembali, dan berumah dalam hati mereka. Pada suatu hari, Ia akan datang lagi dari surga melalui tertampil keluar dari dalam umat-Nya. Kemudian, Ia akan menjadi Raja atas seluruh bumi, dan umat pilihan-Nya akan menjadi raja bersama Dia da-lam kerajaan-Nya. Untuk selama-selamanya, Ia akan menjadi inti Yerusalem Baru. Tidak mungkin kita memahami segala apa adanya Allah dan segala yang telah dan akan Ia lakukan di dalam Kristus.

Selagi saya muda, saya mendengar tentang Yesus, tetapi yang saya dengar jauh sekali terpautnya dengan wahyu Kristus sebagai jelmaan Allah ini. Banyak di antara kita dapat bersaksi, sebelum kita datang ke dalam pemulihan Tuhan, kita tidak mengenal Kristus sebagai jelmaan Allah secara memadai. Akan tetapi, setelah kita datang ke dalam hidup gereja (church life), kita baru mulai memahami betapa Kristus kita adalah jelmaan dari segala apa adanya Allah.

ISI GEREJA

Sebagai jelmaan Allah, Kristus merupakan isi gereja. Efesus 3 mengatakan bahwa Roh meneguhkan kita ke dalam manusia batiniah kita agar Kristus dapat berumah dalam hati kita (ayat 16-17). Terakhir, kita akan dipenuhi ke dalam seluruh kepenuhan Allah (ayat 19). Hal ini menunjukkan bahwa isi gereja adalah jelmaan Allah.

Gereja bukan sekadar sekelompok orang yang telah diselamatkan dari neraka, yang menunggu naik ke surga, dan yang meminta kepada Tuhan memberinya damai sejahtera, sukacita, dan kehidupan yang enak. Gereja dalam pemulihan Tuhan tidak meminta benda-benda itu kepada Allah. Sebaliknya, dalam gereja-gereja lokal kita memuji Tuhan karena segala apa ada-Nya bagi kita. Puji Dia, karena gereja memiliki jelmaan Allah sebagai isinya! Betapa kita bersyukur kepada Tuhan, karena Ia mewahyukan hal ini kepada kita!

Gereja adalah satu manusia baru dengan Kristus sebagai persona. Sebagai persona manusia baru, Kristus adalah jelmaan Allah. Apakah Anda menyadari bahwa Tuhan yang Anda terima sebagai persona Anda ialah jelmaan Allah sendiri? Jika kita nampak visi ini, kita akan lupa diri karena sukacita. Oh, alangkah indahnya Persona yang kita miliki dalam kita! Kita semua sangat perlu nampak bahwa gereja adalah satu wadah yang memiliki Kristus yang hidup sebagai satu-satunya isi.

NAMPAK KRISTUS SEPENUHNYA

Dalam berita ini kita akan membahas lima aspek dari Kristus. Jika kita ingin nampak aspek ini dengan jelas, kita harus mohon Tuhan meniup awan-awan yang telah beberapa abad lamanya menutupi orang Kristen sehingga mereka tidak dapat nampak Kristus sepenuhnya. Dalam berita sebelumnya telah kita tunjukkan betapa Kristus tidak terbatas, tidak terukur, dan tidak terselidiki. Ia adalah Sang almuhit yang memenuhi semua dalam segala sesuatu (Ef. 1:23). Ia bahkan adalah dimensi-dimensi alam semesta itu sendiri: lebar, panjang, tinggi, dan dalam (Ef. 3:18). Dia adalah Kristus yang sungguh ajaib!

KRISTUS YANG MENGASIHI GEREJA

Efesus 5:25 mengatakan bahwa Kristus “mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya.” Ayat ini menunjukkan bahwa Kristus adalah Kristus yang mengasihi gereja. Galatia 2:20 mengatakan bahwa Kristus “mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Walaupun orang-orang Kristen menaruh perhatian atas ayat ini, tetapi mereka mungkin tidak memperhatikan Efesus 5:25, yang mengatakan bahwa Kristus mengasihi gereja dan menyerahkan diri-Nya bagi gereja.

Menguduskan Gereja

Dalam Efesus 5:25-27 kita nampak Kristus menyerahkan diri-Nya bagi gereja, tidak saja untuk menyelamatkan gereja dari neraka dan membawanya ke surga, bahkan untuk menguduskannya dan menyucikannya dengan memandikannya dengan air dalam firman. Melalui pembasuhan ini Ia akan mempersembahkan gereja ke-pada diri-Nya sendiri dengan mulia tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu. Gereja yang akan dipersembahkan oleh Kristus kepada diri-nya sendiri akan menjadi kudus tanpa cela.

Maksud Kristus dalam menyerahkan diri-Nya bagi gereja adalah untuk menguduskannya. Ia tidak hanya akan memisahkan gereja bagi diri-Nya dari segala perkara yang umum, tetapi juga akan menjenuhi gereja dengan diri-Nya, agar gereja dapat menjadi pasangan-Nya. Hal ini digenapkan melalui pembasuhan air dalam firman. O, betapa Kristus mengasihi gereja! Kristus yang berhuni dalam batin kita adalah Kristus yang mengasihi gereja. Setelah menyerahkan diri-Nya demi dan bagi gereja, kini Ia sedang menguduskannya. Dalam kasih-Nya bagi gereja, Ia sedang membasuh dan memurnikannya untuk membuatnya menjadi kudus tanpa cela.

Menurut Efesus 5:27, suatu hari gereja akan bebas dari cacat dan kerut. Cacat berasal dari luka-luka dan kerut berasal dari ketuaan. Melalui pekerjaan pengudusan Kristus, maka pada akhirnya gereja akan menjadi tidak bercacat atau berkerut. Gereja akan menjadi kudus tanpa cela. Menjadi kudus berarti dijenuhi dan diubah dengan Kristus, dan menjadi tanpa cela berarti tanpa cacat dan kerut. Pada suatu hari, gereja akan diubah sepenuhnya. Hanya Kristus yang dapat membawa gereja ke dalam keadaan yang sedemikian. Kristus yang menjadi jelmaan Allah ialah Kristus yang mengasihi gereja dan yang sedang menyucikannya melalui pembasuhan air dalam firman.

Pemulihan Penuh Hidup Gereja

Saya yakin bahwa sebelum Tuhan kembali, Ia akan sepenuhnya memulihkan hidup gereja yang wajar. Tetapi banyak guru agama Kristen tidak percaya bahwa hal ini bisa terjadi. Menurut pendapat mereka kita tidak dapat menempuh hidup gereja dalam zaman ini, hidup gereja hanya bisa terwujud pada zaman yang akan datang. Mereka yang memiliki pandangan demikian mengatakan bahwa kita tidak perlu membicarakan masalah gereja, sekarang kita cukup mengasihi Tuhan, memberitakan Injil, dan membantu orang-orang beriman menjadi rohani. Banyak yang mengambil posisi ini menentang pemulihan Tuhan hari ini. Walaupun demikian, kita yakin bahwa hidup gereja akan terpulih sepenuhnya pada zaman ini, bukan pada zaman yang akan datang.

Sangat bertentangan dengan Alkitab bila kita me-ngatakan hidup gereja hanya dapat terwujud pada zaman yang akan datang. Zaman yang akan datang itu bukan lagi zaman gereja, melainkan zaman kerajaan. Karena itu pada zaman ini, sebelum Ia kembali, Tuhan harus memiliki hidup gereja untuk mempermalukan musuh. Saya percaya bahwa berabad-abad lamanya Iblis, seteru Allah, telah menantang Kristus dalam masalah gereja. Mungkin Iblis berkata kepada Tuhan, “Di manakah gereja-Mu? Tunjukkanlah kepadaku gereja yang Engkau janjikan untuk dibangun itu. Beberapa hamba-Mu bahkan mengajar orang bahwa hidup gereja itu mustahil terwujud pada zaman ini.” Mungkin Kristus berkata kepada Iblis, “Iblis, lihatlah gereja-gereja lokal di bumi hari ini. Pikirkanlah berapa banyak umat-Ku yang bersaksi bahwa hidup gereja dapat diwujudkan pada zaman ini juga. Mereka tidak saja untuk hidup gereja, tetapi juga berada dalam hidup gereja secara riil.”

Kembali ke Yerusalem

Saya percaya bahwa pada tahun-tahun mendatang Tuhan akan menyebarluaskan hidup gereja ke Inggris, Jerman, Prancis, dan Italia. Lagi pula, saya percaya bahwa pada suatu hari akan ada gereja di Roma, bahkan di Yerusalem, di mana hidup gereja yang pertama dimulai lebih dari 19 abad yang lampau. Kisah Para Rasul 1:9-12 menerangkan betapa Kristus naik dari Bukit Zaitun, dan Zakharia 14:4 mewahyukan betapa Kristus akan kembali lagi ke Bukit Zaitun tersebut. Seprinsip dengan itu, Tuhan memulai gereja-Nya di Yerusalem, dan saya percaya, Ia akan mengirimkan kembali pemulihan gereja-Nya ke Yerusalem.

Bertahun-tahun lamanya saya sangat risau karena kehilangan daratan China. Setelah berjerih payah lebih dari 20 tahun, pada tahun 1948 telah berdiri gereja-gereja di kota-kota besar di China. Tetapi tiba-tiba semuanya hilang. Pada suatu hari, setelah lewat beberapa tahun, saya melihat sesuatu yang membuat saya terdorong. Saya menyadari bahwa pada tahun 1920-an Tuhan menghendaki hidup gereja yang wajar. Akan tetapi, karena Eropa dan Amerika Serikat telah dirusak oleh agama, Tuhan terpaksa beralih ke negara-negara kafir di Timur Jauh bagi pemulihan hidup gereja. Saudara Watchman Nee pernah berkata bahwa Tuhan datang ke China karena negeri ini merupakan tanah yang belum terbuka untuk penanaman hidup gereja. Namun, Tuhan mengetahui, karena masalah bahasa, China bukanlah tempat yang terbaik untuk mengembangkan pemulihan-Nya. Banyak hal yang Tuhan wahyukan kepada kita terkubur dalam bahasa China. Tetapi Tuhan memakai tanah China ini sebagai kebun bibit. Watchman Nee ditaburkan seperti sebutir benih ke dalam tanah ini, dan hidup gereja mulai tumbuh. Kemudian, melalui jatuhnya daratan China, pemulihan telah dipindahkan ke Amerika Serikat. Tetapi Amerika Serikat bukanlah sasarannya, melainkan hanya merupakan batu loncatan untuk menyebarluaskan pemulihan ke Eropa dan akhirnya ke Yerusalem. Tuhan memulai dari Yerusalem dan kemudian menyebarluaskan gereja ke Yunani dan Italia. Saya percaya, Ia pun akan kembali lagi ke Yerusalem melalui jalan Italia dan Yunani. Saya damba sekali ada sebuah gereja di Yerusalem yang menantikan Tuhan ketika Ia kembali.

Tentang pemulihan hidup gereja, Tuhan Yesus tidak mungkin gagal. Ketika tentara Jepang menduduki Filipina selama Perang Dunia II, Jenderal Mac Arthur terpaksa mundur, tetapi ia bersumpah akan kembali lagi. Seperti kita ketahui, akhirnya Jenderal Mac Arthur benar-benar kembali lagi. Demikian pula, tidak peduli bagaimana Iblis merusak gereja, Tuhan Yesus akan kembali lagi, dan gereja-Nya akan menantikan Dia. Mungkin di Yerusalem akan ada satu gereja, dan balai sidangnya tidak jauh dari Bukit Zaitun, tempat Ia naik ke surga, dan tempat Ia turun lagi ketika Ia kembali nanti. Tuhan Yesus akan merasa malu jika Ia kembali tanpa satu gereja yang menyiapkan diri bagi-Nya di Yerusalem. Tuhan tidak akan menanggung rasa malu yang demikian. Karena itu, Ia sedang menantikan pemulihan-Nya tersebar ke Eropa, dan pada akhirnya kembali ke Yerusalem.

Semoga Tuhan membangkitkan kita melalui pergerakan-Nya dalam pemulihan-Nya! Semoga Ia menyebarluaskan hidup gereja ke seluruh Eropa, Timur Tengah, dan Yerusalem. Mungkin pada suatu hari kita akan mengadakan sidang doa di Taman Getsemani yang berlokasi di kaki Bukit Zaitun, dan dengan tekun berdoa kepada Tuhan untuk kembali-Nya!

Kita semua perlu menikmati Kristus dan mengalami-Nya sebagai Kristus yang mengasihi gereja. Karena kita juga mengasihi gereja, kita bersatu dengan Dia untuk menyebarkan pemulihan-Nya ke seluruh dunia, dan kembali ke Yerusalem. Oh, Kristus sangat mengasihi gereja! Dia di dalam kita adalah Kristus yang mengasihi gereja. Kasih-Nya bagi gereja mendorong kita untuk rela menyerahkan segala sesuatu kita bagi pemulihan hidup gereja.

KRISTUS YANG MENCIPTAKAN MANUSIA BARU

Dalam Efesus 2:15-16 kita nampak bahwa Kristus juga adalah yang menciptakan manusia baru. Berabad-abad lamanya orang Kristen telah membicarakan kematian Kristus di atas salib tanpa melihat butir yang tertinggi, yakni kematian Kristus adalah untuk penciptaan manusia baru. Dalam daging-Nya, Ia telah membatalkan peraturan-peraturan agar dapat menciptakan satu manusia baru di dalam diri-Nya. Salib bukan hanya untuk keselamatan, kelepasan, dan kemenangan, salib pun untuk penciptaan manusia baru. Penciptaan manusia baru memerlukan pembatalan semua peraturan. Puji Tuhan, Ia adalah Kristus yang menciptakan manusia baru! Melalui membatalkan peraturan-peraturan di atas salib, Ia telah menciptakan orang-orang Yahudi dan orang-orang kafir menjadi satu manusia baru.

KRISTUS YANG MENYATUKAN

SEGALA SESUATU DI BAWAH SATU KEPALA

Dalam Efesus 1:20-23 kita lihat Kristus juga sebagai Kristus yang menyatukan segala sesuatu di bawah satu Kepala. Allah telah mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga dan telah menundukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya. Lagi pula, Kristus telah dijadikan Kepala atas segala sesuatu bagi gereja. Kekepalaan atas segala sesuatu itu telah diberikan kepada Kristus oleh Allah sebagai karunia.

KRISTUS YANG MENGHASILKAN KARUNIA DAN YANG MEMBERI KARUNIA

Pasal 4 mewahyukan bahwa Kristus adalah Kristus yang menghasilkan karunia dan yang memberi karunia (4:7-8, 11-12). Karena Kristus adalah Kepala atas segala sesuatu bagi gereja, maka Ia dapat menghasilkan karunia dan memberikannya kepada gereja. Efesus 1:22 mengatakan bahwa Kristus adalah Kepala dari segala yang ada kepada gereja. Kata “kepada” yang kecil ini sangat penting dan menentukan, ini menyiratkan semacam transmisi. Apa saja yang sudah dicapai dan diraih oleh Kristus, Sang Kepala, telah ditransmisikan kepada gereja, Tubuh-Nya. Dalam transmisi demikian, gereja mengambil bagian atas Kristus dalam segala pencapaian-Nya. Karena segala apa adanya Kristus dan milik Kristus telah disalurkan kepada gereja, maka Ia dapat menyusun kita menjadi karunia bagi Tubuh.

Kita telah menunjukkan bahwa melalui turun naiknya Kristus, kita disusun menjadi karunia-karunia bagi gereja. Melalui perjalanan-Nya, melalui turun dan naik-Nya dalam batin kita, kita dijadikan karunia-karunia yang berguna bagi gereja.

Ketika hidup gereja dimulai di Los Angeles, kita semua merasa bahwa kita lemah dan tidak berguna. Kita bingung bagaimana kita memperhatikan gereja. Akan tetapi, melalui turun naiknya Kristus, banyak orang yang telah disusun menjadi karunia-karunia yang berguna. Kepemimpinan yang diperlukan untuk menyebarluaskan hidup gereja dihasilkan secara demikian. Ketika saudara-saudara mengalami turun naiknya Kristus, mereka lalu menjadi pemimpin yang wajar untuk memperhatikan gereja-gereja yang dibangunkan oleh Tuhan. Kepemimpinan ini tidak dihasilkan oleh pendidikan atau pelatihan manusia, melainkan disusun oleh turun naiknya Kristus. Kita harus memuji Tuhan karena perjalanan-Nya, yakni lalu lintas dua arah antara surga dengan bumi, dan antara bumi dengan surga. Melalui lalu lintas yang sedemikianlah, Kristus Sang pembuat karunia dan Kristus Sang pemberi karunia menghasilkan karunia-karunia bagi Tubuh-Nya.

KRISTUS YANG BERUMAH

Terakhir, seperti diwahyukan Efesus 3:17, Kristus adalah Kristus yang berumah. Ia tidak lagi tunawisma, sebab Ia telah berumah dalam hati kita. Semakin Ia tinggal dalam hati kita, maka Ia semakin dapat bermegah terhadap Iblis bahwa Ia telah mempunyai sebuah rumah dalam kaum beriman-Nya.

Semoga kita semua berkesan dengan kelima aspek dari Kristus ini. Ia adalah Kristus yang mengasihi gereja, Kristus yang menciptakan manusia baru, Kristus yang menyatukan segala sesuatu di bawah satu Kepala, Kristus yang menghasilkan dan memberi karunia, dan Kristus yang berumah. Alangkah ajaibnya Kristus yang kita miliki!