← Daftar isi Efesus (3) · bab 22/23

MENJADI KEPALA ATAS SEGALA SESUATU BAGI GEREJA

Pembacaan Alkitab: Ef. 1:9-11, 22-23; 3:17a

Pasal-pasal yang terdalam dalam Kitab Efesus ialah pasal 1 dan 3. Hal-hal positif yang diungkap dalam pasal-pasal ini jauh di luar kemampuan kita untuk memahaminya. Sebagai contoh, dalam Efesus 1:10 Paulus berkata, “sebagai persiapan kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi.” Saya kira tidak banyak orang Kristen yang mempunyai pengertian yang memadai terhadap ayat ini. Perkataan ini tidak ditujukan kepada keutamaan Kristus, wewenang Kristus, atau ekspresi Kristus. Ayat ini unik, tidak ada ayat lain dalam Alkitab yang dapat dibandingkan dengannya. Ketika kita membaca tentang suami mengasihi istri atau istri patuh kepada suami, kita mengerti dengan mudah, sebab hal-hal seperti kasih dan patuh cocok sekali dengan konsepsi alamiah kita. Tetapi untuk memahami arti ayat-ayat seperti Efesus 1:10 ini kita perlu roh hikmat dan wahyu.

PEMERINTAHAN KEKAL ALLAH

Ketika kita merenungkan Efesus 1:9-10 kita nampak bahwa ekonomi atau pengelolaan yang Allah tetapkan sejak dini dalam diri-Nya sendiri ialah mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus pada kegenapan waktunya. Waktu ditujukan kepada zaman. Jadi kegenapan waktu berarti waktu tibanya langit dan bumi baru, setelah semua pengelolaan Allah dalam segala zaman tergenapkan. Ketika ekonomi Allah sudah genap, Kristus akan mempersatukan segala sesuatu secara universal di bawah satu kepala. Allah telah menjadikan Kristus Kepala atas segala sesuatu (Ef. 1:22). Melalui seluruh pengelolaan Allah dalam segala zaman, segala se-suatu akan dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus dalam langit baru dan bumi baru. Inilah pemerintahan dan ekonomi kekal Allah.

Karena tubuh jasmani kita mempunyai satu kepala, maka tubuh dapat berdiri tegak. Walau kita berdiri di atas kaki, tetapi sebenarnya kepalalah yang memungkinkan kita berdiri tegak. Hal ini menunjukkan bahwa kepala kitalah yang membuat seluruh tubuh kita tertopang. Jika kepala seseorang dipenggal, tubuhnya akan rubuh. Karena kepala membuat setiap bagian tubuh tertopang, maka segala yang melekat pada tubuh — pakaian, se-patu, kaca mata — tertopang pula.

Alam semesta berada di bawah topangan Kristus sebagai Kepala. Namun, ada beberapa benda yang masih dalam keadaan rubuh, karena proses penyatuan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus belum rampung. Pada ekonomi kegenapan waktu kelak, setiap hal akan dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus. Tidak ada yang akan berlarut-larut dalam keadaan rubuh, dan tidak ada yang akan jatuh. Di dalam Kristus Allah akan menopang segala sesuatu sebagai Kepala. Pada masa ini masih banyak hal dalam alam semesta yang jatuh atau rubuh. Tetapi pada ekonomi kegenapan waktu kelak, tidak ada lagi yang jatuh, daun-daun pun tidak akan jatuh dari pohonnya.

KRISTUS MEMERLUKAN TUBUH

Kita telah menunjukkan bahwa kepala kita berfungsi untuk menopang setiap bagian dari tubuh jasmani kita. Seprinsip dengan ini, Allah sedang memakai Kristus untuk mempersatukan segala sesuatu dalam alam semesta di bawah satu kepala. Sebagai Kepala universal atas segala sesuatu, Kristus memerlukan Tubuh; Tubuh ini adalah gereja. Seperti pakaian dan barang-barang lainnya mendapat perhentian di atas tubuh seseorang, begitu pula pada suatu hari setiap benda dalam alam semesta akan mendapat perhentian di atas Tubuh Kristus, gereja. Kita telah nampak bila kepala seseorang dipenggal, tubuhnya dan segala yang ada padanya akan runtuh. Sama prinsipnya dengan Kristus sebagai Kepala atas segala sesuatu bagi gereja. Jika segala hal dalam alam semesta tidak dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus melalui Tubuh-Nya, semua itu akan berada dalam keadaan rubuh.

Para ilmuwan mencoba menjelaskan gejala seperti jatuhnya daun dari pohonnya. Mereka mengemukakan pemikiran mereka atas berbagai perubahan fisik yang terjadi dalam alam semesta. Penjelasan atau keterangan ilmiah itu mungkin untuk sementara dapat dianggap benar, tetapi tidak benar selamanya. Saya tidak mengerti fisika atau biologi, tetapi saya mengerti proses penyatuan segala sesuatu di bawah satu kepala yang ilahi ini. Lagi pula, saya percaya Efesus 1:10 yang mengatakan dalam ekonomi kegenapan waktu proses ini akan rampung. Mulai waktu itu dan seterusnya, dalam alam semesta tidak ada suatu pun yang akan rubuh. Segala sesuatu akan mendapat perhentian di atas gereja sebagai Tubuh Kristus. Kristus adalah Kepala, dan gereja adalah Tubuh. Kristus mempersatukan Tubuh di bawah satu kepala, dan semua benda dalam alam semesta akan mendapat perhentian di atas Tubuh yang telah dipersatukan di bawah satu kepala ini. Walaupun pada hari ini kita tidak dapat melihat lukisan lengkapnya, tetapi kita dapat melihat miniaturnya. Kita pun dapat menikmati suatu pencicipan dari dipersatukannya segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus ini.

Kita tidak boleh mengira seseorang dapat berdiri tegak terutama karena kekuatan kaki, tumit, atau pahanya. Kita telah menunjukkan bahwa sebenarnya kepalalah yang memungkinkan kita berdiri tegak. Tanpa dipersatukannya tubuh di bawah satu kepala, tubuh berikut segala yang ada di atasnya akan jatuh ke bawah. Inilah lukisan dari dipersatukannya segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus. Pertama-tama, Kristus mempersatukan Tubuh-Nya di bawah satu kepala. Kemudian, pada ekonomi kegenapan waktu, Allah akan mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus melalui Tubuh.

WARISAN, METERAI, DAN JAMINAN

Dalam Efesus 1:11 Paulus berkata selanjutnya, “Karena di dalam Dialah kami diberi warisan — kita yang dari semula sudah dipilih-Nya sesuai dengan maksud Allah, yang mengerjakan segala sesuatu menurut keputusan kehendak-Nya.” Kata “diberi warisan” dapat diterjemahkan sebagai “dijadikan warisan”. Kecuali kita memiliki sedikit pengertian terhadap ayat 10, kita tidak dapat mengerti ayat 11. Kata “di dalam Dia” dalam ayat 11 ditujukan kepada Kristus sebagai Kepala. Di dalam Dia, Kepala yang universal, kita telah dijadikan warisan Allah. Kata “dijadikan warisan” ini berarti dipilih atau ditetapkan dengan undian. Jadi anak kalimat ini secara harfiah berarti di dalam Kristus kita telah dijadikan wa-risan pilihan untuk mewarisi Allah sebagai warisan kita. Di satu pihak, kita telah menjadi warisan Allah (ayat 18) bagi kenikmatan Allah; di pihak lain, kita mewarisi Allah sebagai warisan kita (ayat 14) bagi kenikmatan kita.

Dalam ayat 13 Paulus berkata, “Di dalam Dia kamu juga — karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.” Seperti yang diterangkan dalam ayat 14, Roh Kudus yang dijanjikan itu adalah “jaminan warisan kita sampai kita memperoleh penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” Dimeteraikan Roh Kudus berarti diberi tanda oleh Roh Kudus sebagai meterai yang hidup.

Kita telah menjadi warisan Allah. Pada waktu kita beroleh selamat, Allah menaruh Roh Kudus-Nya ke dalam kita sebagai meterai untuk menandai kita, menyatakan bahwa kita adalah milik Allah. Roh Kudus ini merupakan jaminan, cicipan, garansi, persekot atau uang panjer. Karena kita adalah warisan Allah, maka Roh Kudus adalah meterai di atas diri kita. Karena Allah adalah warisan kita, maka Roh Kudus adalah jaminan warisan ini bagi kita. Allah memberikan Roh Kudus-Nya kepada kita, bukan hanya sebagai garansi warisan kita, menjamin warisan kita, tetapi juga sebagai pencicipan terhadap apa yang akan kita warisi dari Allah, sebelumnya memberi kita suatu cita rasa akan warisan yang sepenuhnya.

Kita harus memahami ayat 13 dan 14 dalam terang ayat 10 dan 11. Kita telah nampak bahwa di dalam Kristus, Allah sedang dalam proses mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala, baik yang ada di surga maupun yang ada di bumi. Namun, tanpa gereja sebagai Tubuh untuk dipadukan dengan Kristus sebagai Kepala, tidak mungkin Allah mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala dalam Kristus. Hal ini dirampungkan oleh Kepala, tetapi tidak dapat dirampungkan tanpa satu Tubuh bagi Kepala. Tubuh ini adalah warisan Allah, pusaka Allah. Karena kita telah hilang, kita harus ditebus, dibeli kembali oleh Allah. Melalui penebusan kita telah menjadi milik yang dibeli Allah. Sebagai orang-orang tebusan Allah, kita, gereja adalah pusaka Allah, yang telah dibeli-Nya dengan darah Kristus yang adi (Kis. 20:28). Dalam ekonomi Allah, Allah menjadi warisan kita, dan kita menjadi pusaka Allah. Sebagai warisan dan pusaka Allah, kita adalah Tubuh Kristus, yang melalui-Nya segala sesuatu dalam alam semesta akan dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus.

DIJENUHI ROH BAGI PENYATUAN

SEGALA SESUATU DI BAWAH SATU KEPALA

Mengetahui betapa Allah memperoleh warisan dan pusaka-Nya itu sangat penting. Pertama-tama, Dia membeli kita dengan darah Kristus. Kedua, Dia memeterai kita dengan Roh Kudus-Nya. Roh Kudus yang sebagai meterai di atas Tubuh itu sebenarnya adalah Allah sendiri. Hal ini berarti Allah menaruh diri-Nya sendiri sebagai meterai atas gereja yang telah dibeli dengan darah Kristus. Roh Kudus sebagai meterai atas Tubuh tidak hanya bersifat obyektif. Sebaliknya, melalui proses pemeteraian, meterai ini akan meresapi atau menjenuhi seluruh diri kita secara subyektif. Semakin kita, warisan Allah, dijenuhi dengan Roh sebagai meterai hidup itu, maka penyatuan di bawah satu kepala itu akan semakin terjadi di alam semesta. Sebagai warisan dan pusaka Allah, kita telah ditentukan dan dibeli. Kini kita berada dalam proses untuk dijenuhi seluruhnya oleh Roh Kudus. Bila pusaka Allah telah dijenuhi seluruhnya oleh Roh Kudus sebagai meterai hidup ini, maka penyatuan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus akan rampung.

Setelah segala sesuatu di alam semesta dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus, segala sesuatu itu akan menjadi teratur. Tidak ada yang keluar dari tempatnya, dan tidak ada yang akan rubuh atau jatuh. Selama musim rontok, daun-daun berjatuhan dari pohon. Hal ini menunjukkan sesuatu yang telah keluar dari aturan. Dalam langit baru dan bumi baru, daun-daun pasti tidak jatuh lagi dari pohon, sebab pada saat itu segala sesuatu akan berada dalam aturan yang sempurna, dan telah disatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus. Seperti telah kita lihat, penyatuan segala sesuatu di ba-wah satu kepala di dalam Kristus ini tergantung pada pusaka Allah, gereja, dijenuhi dengan diri-Nya sendiri.

Dalam hidup gereja dalam pemulihan Tuhan, kita da-pat mengalami pencicipan dari dipersatukannya segala sesuatu di bawah satu kepala. Bila hidup gereja di suatu kota kuat, kota itu akan menjadi lebih teratur. Sebagai contoh, polisi-polisi yang bertugas di daerah Elden Hall di Los Angeles memberi tahu kami bahwa kehadiran gereja telah mendatangkan banyak perubahan positif di daerah tersebut. Daerah-daerah yang berdekatan telah mengalami perbaikan, khususnya yang berhubungan dengan kriminalitas. Hal ini menunjukkan bahwa melalui gereja, Allah sedang mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus. Semakin gereja yang sebagai pusaka Allah dijenuhi dengan Allah Tritunggal, semakin banyak terjadi penyatuan segala sesuatu di bawah satu kepala. Pertama gereja dipersatukan di bawah satu kepala, kemudian hal-hal yang berkaitan dengan gereja dan yang meletakkan dirinya di atas gereja juga dipersatukan di bawah satu kepala. Jika kita membiarkan Kristus menjenuhi kita dengan tuntas, pada akhirnya kita akan nampak kegenapan dipersatukannya segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus.

TRANSMISI DARI KEPALA KE TUBUH

Manusia adalah inti penciptaan Allah. Penyatuan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus terjadi ketika Allah Tritunggal menggarapkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia sebagai inti penciptaan-Nya. Menurut Efesus 1:22, Allah telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus yang telah bangkit dan naik ke surga dan “Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada.” Kata “kepada” yang pendek ini sangat penting, karena menyiratkan semacam transmisi. Apa saja yang telah dicapai dan diperoleh Kristus, Sang Kepala, kini telah ditransmisikan kepada Tubuh-Nya, gereja. Melalui transmisi ini, gereja mengambil bagian atas semua yang dicapai Kristus. Ge-reja mengambil bagian atas kebangkitan-Nya dari antara orang mati, atas duduknya Dia di tempat yang tinggi, atas ditaklukkannya segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan atas jabatan-Nya sebagai Kepala atas segala sesuatu. Ketika unsur Kristus ditransmisikan ke dalam gereja, segala yang telah Ia rampungkan, yang Ia capai dan peroleh, juga telah ditransmisikan ke dalam gereja. Melalui transmisi yang ajaib ini kita menjadi Tubuh Kristus, kepenuhan Dia yang memenuhi semua di dalam segala sesuatu. Kemudian, sebagai Tubuh-Nya, kita akan menjadi perantara yang olehnya Allah akan mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus. Faktor yang teramat penting di sini ialah transmisi ilahi, yakni transfusi Kristus ke dalam diri kita.

KRISTUS BERUMAH DI DALAM HATI KITA

Dalam Efesus 3, dari pengalaman kita nampak bahwa Kristus yang adalah Kepala dari segala sesuatu sebenarnya telah ditransmisikan ke dalam kita. Menurut ayat 17, Kristus diam (berumah) di dalam hati kita. Kristus berumah di dalam hati kita berarti Ia ditransmisikan ke dalam kita sepenuhnya. Kita boleh mengatakan bahwa hati kita seperti baterai atau aki, dan Kristus seperti listrik surgawi yang ditransmisikan ke dalam aki itu. Dengan cara demikianlah, aki akan disetrum dengan apa adanya Kristus dan dengan apa yang telah dicapai dan diperoleh-Nya. Dengan transmisi atau transfusi secara batiniah ini, Kristus akan berumah di dalam hati kita. Jadi, transmisi surgawilah yang membawa Kristus ke dalam hati kita. Sebagaimana darah beredar dari jantung ke seluruh tubuh jasmani kita, begitu pula Kristus yang telah ditransmisikan ke dalam hati kita secara rohani akan meluas ke dalam setiap bagian manusia batiniah kita. Melalui transmisi dan perluasan Kristus di batin kita, Allah akan mempersatukan segala sesuatu di bawah satu kepala di dalam Kristus melalui gereja.

KEESAAN DALAM TRANSMISI SURGAWI

Banyak orang Kristen kagum ketika mereka melihat keesaan kaum saleh dalam hidup gereja. Mereka heran melihat orang-orang yang berbeda suku, kebudayaan, dan latar belakang kebangsaan bisa benar-benar bersatu. Dalam kekaguman mereka terhadap keesaan ini, ada beberapa orang yang mengira kita pasti memiliki suatu organisasi untuk menjaga keesaan yang demikian. Namun, kita tidak memiliki organisasi semacam itu dan organisasi mana pun tidak mungkin menghasilkan keesaan yang sedemikian. Kesatuan kita tidak bersandar pada organisasi; kita bersatu dalam transmisi ilahi. Bila transmisi surgawi Kristus dalam manusia batiniah kita berhenti, keesaan kita akan lenyap. Kita dapat menjadi satu hanya karena dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus melalui transmisi Kristus ke dalam diri kita. Hal inilah yang memungkinkan kita hidup bersama dalam keesaan di dalam hidup gereja.

Kita percaya pada tahun-tahun yang mendatang Allah akan lebih banyak mempersatukan kita di bawah satu kepala. Sebagai akibatnya, kondisi gereja akan menjadi jauh lebih baik daripada hari ini. Akhirnya, dalam ekonomi kegenapan waktu, alam semesta akan dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus melalui gereja. Kita telah sering mengatakan tentang pembangunan gereja, tetapi penekanan dalam berita ini ialah dipersatukan di bawah satu kepala di dalam Kristus melalui transmisi ilahi. Semakin Kristus ditransmisikan ke dalam kita, proses penyatuan di bawah satu kepala ini akan semakin maju. Saya yakin sekali, jika Tuhan “menunda” kedatangan-Nya kembali, lebih banyak orang Kristen akan disatukan di bawah satu kepala dalam Kristus melalui Tubuh-Nya. Orang-orang dunia akan mengagumi penyatuan di bawah satu kepala ini, sebab semakin mereka berusaha mempersatukan diri melalui organisasi seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, mereka menjadi semakin terpecah belah. Suatu hari, bumi akan nampak tidak saja ada persatuan, juga bukan hanya pembangunan, melainkan penyatuan di bawah satu kepala di dalam Kristus. Kristus adalah Kepala di atas segala sesuatu bagi gereja, dan kini Dia sedang dalam proses menyatukan segala sesuatu di bawah satu Kepala di dalam Kristus melalui gereja. Ini adalah yang sedang Tuhan lakukan di antara kita hari ini.