← Daftar isi Efesus (3) · bab 21/23

KEELOKAN MEMPELAI PEREMPUAN

Pembacaan Alkitab:

Ef. 1:9-11, 13b-14, 17-23; 3:16-17a, 19b; 5:25-27, 29-30, 32

CACAT DAN KERUT

Dalam berita-berita sebelumnya kita telah meninjau tiga kategori hal negatif yang merusak hidup gereja: ketentuan-ketentuan, doktrin, dan manusia lama. Sekarang kita tiba pada kategori keempat — cacat dan kerut. Paulus menyinggung hal ini dalam Efesus 5:27, di mana ia berkata bahwa Kristus akan “menempatkan (mempersembahkan) jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu.”

Dalam Kitab Efesus, Paulus menanggulangi keempat kategori hal negatif dengan urutan yang sangat baik. Berkaitan dengan penciptaan manusia baru, kita memiliki ketentuan-ketentuan. Berkaitan dengan pertumbuhan manusia baru untuk berfungsi, kita memiliki doktrin. Berkaitan dengan kehidupan sehari-hari manusia baru, kita memiliki manusia lama serta cara hidupnya yang lama. Untuk penciptaan manusia baru, ketentuan-ketentuan harus dibatalkan, disingkirkan. Untuk pertumbuhan manusia baru, doktrin harus direndahkan nilainya. Untuk kehidupan sehari-hari manusia baru yang wajar, manusia lama harus ditanggalkan. Akan tetapi, setelah ketiga kategori hal negatif ini ditanggulangi, kita masih harus menghadapi problem cacat dan kerut.

Karena cacat dan kerut begitu subyektif, maka cacat dan kerut lebih sulit ditanggulangi daripada ketentuan, doktrin, dan manusia lama. Kita tidak dapat hanya membatalkan atau menanggalkan cacat atau kerut, sebab mereka berada dalam jaringan organik dan susunan alamiah kita. Cacat berasal dari hayat alamiah, dan kerut adalah masalah ketuaan. Ditinjau dari segi kemanusiaan, kita tidak mampu melenyapkan hal-hal itu. Tetapi Allah mampu. Air hayat dalam firman dapat membersihkan kerusakan-kerusakan ini secara metabolis melalui transformasi hayat. Semakin Kristus menguduskan gereja dan mencucinya dengan pembasuhan air dalam firman, semakin berkuranglah cacat dan kerut itu. Lagi pula, ketika Kristus merawat dan mengasuh gereja, cacat dan kerut itu akan lenyap secara metabolis. Setiap cacat, kerusakan, dan ketidaksempurnaan akan tersingkir oleh hayat Kristus yang mentransformasi.

MENYALURKAN UNSUR KRISTUS YANG KAYA

Sebagai pengganti mengoreksi atau memperbaiki orang lain secara lahiriah, kita harus menyuplai mereka dengan unsur Kristus yang menguduskan, memurnikan, merawat, dan mengasuh. Unsur ini akan menghasilkan transformasi batiniah yang akan menyingkirkan ketuaan dan cacat. Kita tidak seharusnya mengandalkan cara atau metode apa pun. Jika ada satu cara khusus yang berguna, itu bukan karena cara itu sendiri, melainkan karena hayat yang terkandung dalam cara itu dan yang dibebaskan olehnya. Yang harus kita salurkan kepada orang lain bukan metode atau cara untuk melakukan sesuatu, melainkan unsur Kristus yang kaya yang akan menguduskan, memurnikan, merawat, dan mengasuh mereka. Jika Anda berkontak dengan orang-orang Kristen yang cara bersidangnya berbeda dengan cara Anda, janganlah mencoba mengubah mereka. Sebagai gantinya, ambillah kesempatan untuk menyuplaikan kekayaan Kristus kepada mereka. Kita tidak boleh memperhatikan cara, metode, atau bentuk. Kita harus memperhatikan membebaskan kekayaan Kristus dan menyalurkan kekayaan itu kepada orang lain. Kristuslah yang menguduskan dan membersihkan. Melalui pekerjaan transformasi-Nya semua cacat dan kerut akan dilenyapkan, dan diganti dengan unsur-Nya yang hidup.

MENGALAMI UNSUR PENGUDUSAN KRISTUS

Kita telah menunjukkan bahwa cacat dan kerut lebih sulit ditanggulangi daripada doktrin, atau manusia lama, karena kekurangan dan ketidaksempurnaan ini merupakan bagian dari manusia alamiah kita yang subyektif. Cacat dan kerut telah terjalin ke dalam jaringan organik kita. Karena itu, hanya suplai hayat yang batiniah yang dapat menanggulangi cacat dan kerut. Jika kita ingin agar cacat dan kerut itu tersingkir, kita harus hanya mengandalkan unsur Kristus yang menguduskan, memurnikan, merawat, dan mengasuh. Menanggulangi ketentuan tidak sesulit menanggulangi doktrin, menanggulangi doktrin tidak sesulit menanggulangi manusia lama, dan menanggulangi manusia lama tidak sesulit menanggulangi cacat dan kerut. Sekalipun kita mungkin tidak ada problem dalam hal ketentuan, doktrin, atau manusia lama, tetapi kita masih harus bertanya apakah kita masih diganggu oleh cacat dan kerut.

Cacat dan kerut harus dilenyapkan agar mempelai perempuan dapat dipersiapkan bagi Kristus. Sudah tentu, mempelai perempuan yang dipersembahkan kepada Kristus tidak boleh ada cacat dan kerutnya sedikit pun. Dikatakan dalam Wahyu 19:7, “Marilah kita bersukacita dan bersorak sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia.” Sudah pasti pada waktu ini sang istri telah disingkirkan dari segala cacat dan kerut.

Janganlah kita menaruh kepercayaan kita hanya pada perubahan yang di luar. Perubahan demikian dapat terjadi secara mendadak tanpa efek apa pun atas cacat dan kerut dalam diri kita. Allah bukan hanya ingin agar kita berubah pada aspek penampilan lahiriah kita, tetapi juga agar cacat dan kerut kita terbasuh melalui unsur Kristus yang menguduskan. Hanya melalui proses pengudusan yang demikian barulah kita dapat menjadi mempelai perempuan yang elok dan mulia bagi Kristus, yaitu mempelai perempuan yang tanpa noda atau ketidak-sempurnaan. Kita harus melupakan usaha untuk memperbaiki diri sendiri dan hanya memperhatikan pengalaman atas kekayaan Kristus yang menguduskan. Kita semua perlu lebih banyak mengalami unsur Kristus yang menyucikan. Semakin kita mengalami unsur ini, cacat dan kekurangan kita akan semakin tersingkir secara metabolis. Sebagai akibat dari proses ini, kita akan menjadi mempelai perempuan yang elok yang siap untuk dipersembahkan kepada Kristus. Hanya melalui suplai hayat dari Kristus barulah cacat alamiah dan noda-noda organik kita dapat dilenyapkan.

Jika kita jelas akan hal ini, kita akan memahami bahwa ajaran-ajaran semata tidak dapat melenyapkan cacat dan kerut. Kita ulangi hanya unsur pengudus yang berasal dari perawatan dan pengasuhan Kristus yang dapat menanggulangi hal itu. Puji Tuhan karena unsur Kristus sedang berangsur-angsur melenyapkan cacat kerut kita!

PERSIAPAN MEMPELAI PEREMPUAN

Saya percaya kita sedang hidup di hari-hari di mana Tuhan sedang mempersiapkan mempelai perempuan-Nya. Tidak hanya demikian, saya berkeyakinan penuh bahwa kita sekarang sedang mengalami proses persiapan ini. Jika tidak, kapan, di mana, dan dengan siapakah Wahyu 19 akan digenapkan? Pasal ini sedang digenapkan di antara kita dalam pemulihan Tuhan.

Kita harus merangkaikan Wahyu 19 dengan Efesus 5. Di luar Efesus 5, mempelai perempuan tidak bisa dipersiapkan, dan Wahyu 19 tidak bisa digenapi. Sangat bermakna sekali Tuhan berkata kepada kita tentang ketentuan, doktrin, manusia lama, serta cacat dan kerut. Penting sekali kita mengalami kekayaan Kristus yang merawat, mengasuh, menguduskan, dan menyucikan guna melenyapkan ketuaan dan cacat kita. Bila semua hal itu telah terhapus, kita akan menjadi gereja yang kudus, mulia, dan tanpa cela. Kemudian kita akan menjadi mempelai perempuan dalam Wahyu 19. Ketika mempelai perempuan telah siap, Kristus akan datang sebagai mempelai laki-laki. Puji Tuhan, kita berada dalam proses menjadi mempelai perempuan Kristus yang kudus dan mulia! Betapa kita memuji Tuhan karena Ia memperlihatkan kepada kita jalan untuk dipersiapkan menjadi mempelai perempuan, dan siap bagi kembali-Nya! Kristus akan memiliki gereja yang tanpa ketentuan, doktrin, manusia lama, cacat dan kerut. Gereja yang demikian akan menjadi mempelai perempuan yang elok untuk memuaskan kedambaan hati-Nya.

KEELOKAN UNTUK DIPERSEMBAHKAN

Dalam pasal 1 kita nampak sketsa umum tentang gereja, dalam pasal 2, ada penciptaan, kelahiran, dan pembentukan satu manusia baru. Dalam pasal 4 kita nampak pertumbuhan manusia baru ini untuk berfungsi. Dalam pasal ini juga kita nampak kehidupan sehari-hari dari manusia baru. Lalu dalam pasal 5 kita nampak gereja dipersembahkan bagi Kristus. Pada waktu persembahan, gereja akan menjadi mempelai perempuan, bukan manusia baru. Sebagai manusia baru, gereja perlu berfungsi, tetapi sebagai mempelai perempuan, gereja perlu keelokan. Pertumbuhan dalam pasal 4 untuk berfungsinya manusia baru, sedang keelokan dalam pasal 5 untuk dipersembahkannya mempelai perempuan.

Cacat dan kerut tidak mempengaruhi fungsi gereja. Tetapi, sangat mengurangi keelokan gereja. Yang pertama-tama dicari oleh seorang laki-laki pada diri mempelai perempuan bukanlah kepandaiannya, melainkan kecantikannya. Sebagai mempelai perempuan Kristus, gereja juga harus cantik atau elok. Karena itu, dari membicarakan fungsi dan kehidupan sehari-hari manusia baru dalam pasal 4, Paulus lalu membicarakan perihal mempersembahkan mempelai perempuan yang tanpa cacat atau kerut dalam pasal 5. Jika kita bertumbuh di dalam Tuhan, pada akhirnya fungsi kita sebagai anggota Tubuh akan terwujud. Tetapi, kita boleh jadi dapat berfungsi dengan wajar dan mempunyai kehidupan sehari-hari yang baik sekali menurut roh pikiran, namun kita masih tidak elok dalam pandangan Tuhan, karena kita bercacat dan kerut. Setelah membicarakan banyak tentang gereja dalam pasal 1—4, dalam pasal 5 Paulus membicarakan gereja sebagai mempelai perempuan. Dalam pasal ini ia tidak menyinggung penciptaan dan pertumbuhan gereja atau kehidupan sehari-harinya, melainkan membicarakan keelokan gereja. Ketika Kristus mempersembahkan ge-reja kepada diri-Nya sendiri, gereja tidak menjadi seorang yang perkasa, melainkan seorang mempelai perempuan yang elok. Kristus adalah Laki-laki yang universal. Sebagai Laki-laki universal ini, Dia perlu gereja sebagai mempelai perempuan-Nya untuk bersanding dengan Dia. Untuk menjadi mempelai perempuan Kristus, gereja harus menjadi elok, tanpa cacat dan kerut.

JALAN UNTUK DIPERSIAPKAN

Kita telah nampak bahwa berkenaan dengan penciptaan manusia baru, fungsi manusia baru, dan kehidupan sehari-hari manusia baru, kita menghadapi problem ketentuan, doktrin, dan cara hidup yang lama. Tetapi berkenaan dengan mempersembahkan gereja sebagai mempelai perempuan, kita mempunyai masalah cacat dan kerut. Persoalan yang penting adalah bagaimana menyingkirkan cacat dan kerut itu. Setiap mempelai perempuan ingin memiliki kulit atau wajah yang sehat dan berseri-seri pada hari pernikahannya. Jika ia khawatir akan cacat dan kerutnya, ia harus jauh-jauh hari mempersiapkan dirinya untuk pernikahan melalui makan makanan bergizi yang bisa membuat kulit wajahnya sehat. Seprinsip dengan itu, hari ini kita harus mempersiapkan diri kita untuk menjadi mempelai perempuan melalui menerima unsur kekayaan Kristus sebagai makanan kita. Kristus adalah makanan bagi gereja. Karena itu, ketika gereja mempersiapkan dirinya untuk dipersembahkan kepada Kristus, gereja harus makan Kristus. Tidak ada jalan lain untuk mempersiapkan diri kecuali dengan makan Yesus. Melalui makan Yesus, kita akan menjadi satu mempelai perempuan yang elok lagi mulia.

PEMANTULAN KRISTUS

Kristus sekarang sedang mempersiapkan kita untuk menjadi mempelai perempuan. Suatu hari Dia akan mempersembahkan mempelai perempuan ini bagi diri-Nya sendiri. Sudah tentu pada waktu dipersembahkan kepada Kristus, mempelai perempuan ini tidak lagi bercacat dan kerut. Pada diri mempelai perempuan-Nya, Kristus tidak nampak lainnya kecuali keelokan. Keelokan ini adalah pemantulan dari apa adanya Kristus. Tahukah Anda, dari manakah keelokan mempelai perempuan ini? Keelokan ini berasal dari Kristus yang tergarap ke dalam gereja dan yang kemudian terekspresi melalui gereja. Keelokan kita bukan perilaku kita. Keelokan kita adalah pemantulan Kristus semata, yakni terpantulnya Kristus dari dalam batin kita. Apa yang diapresiasi Kristus atas diri kita ialah ekspresi diri-Nya sendiri di dalam kita. Selain ini tidak ada hal lain yang dapat memenuhi standar-Nya dan menimbulkan apresiasi-Nya.

Pertama-tama Kristus harus masuk ke dalam kita dan diserap oleh kita. Lalu Dia akan terpantul keluar dari dalam kita. Pemantulan ini adalah kemuliaan mempelai perempuan, adalah ekspresi sifat ilahi melalui sifat insani. Keelokan yang sejati adalah ekspresi pekerti ilahi melalui sifat-sifat insani. Dalam alam semesta tidak ada hal lain yang seindah ekspresi ini. Karena itu, keelokan mempelai perempuan adalah pemantulan Kristus dari dalam kita. Itulah masalah terekspresikannya sifat ilahi melalui sifat insani. Melalui sifat insani kita terekspresikan warna ilahi, penampilan ilahi, cita rasa ilahi, sifat ilahi, dan karakter ilahi. Haleluya bagi keelokan yang demikian!

Pada hari pernikahan, mempelai laki-laki lebih banyak memperhatikan keelokan mempelai perempuannya daripada kepandaiannya. Demikian pula, dalam hidup gereja keelokan kita akhirnya akan lebih penting bagi Tuhan daripada fungsi kita. Pada permulaan hidup gereja, mungkin kita menekankan kepandaian dan fungsi. Tetapi pada akhirnya, kita akan menekankan keelokan. Tuhan Yesus lebih memperhatikan keelokan kita dari-pada fungsi kita. Jangan menaruh perhatian begitu banyak untuk menjadi pandai, bersyarat, dan berkarunia dalam fungsi. Pada mulanya mungkin hal-hal itu terhitung dalam hidup gereja, tetapi pada akhirnya Tuhan akan menunjukkan kepada kita betapa Dia tidak memperhatikan kepandaian kita, melainkan keelokan diri-Nya sendiri yang terekspresi melalui sifat insani kita. Kristus tidak mau mempersembahkan satu gereja yang pandai kepada diri-Nya sendiri. Gereja yang akan dipersembahkan kepada-Nya adalah gereja yang mulia, elok, tanpa cacat, kerut, atau yang serupa itu. Jika cacat dan kekurangsempurnaan kita ingin tersingkir, kita perlu lebih banyak menerima Kristus. Dia tidak hanya memperkuat kita untuk menunaikan fungsi, Dia pun memperelok kita agar kita boleh menjadi mempelai perempuan-Nya.

DIPERELOK MELALUI KRISTUS

YANG BERHUNI DI BATIN

Kita perlu maju dari fungsi dalam Efesus 4 kepada keelokan dalam Efesus 5. Dalam memelihara anak-anak, para ibu mungkin menghargai kekuatan pada anak lakilaki, tetapi mereka menghargai keelokan pada anak perempuan. Demikian pula, dalam gereja sebagai manusia baru terdapat kekuatan dan kepandaian, tetapi dalam gereja sebagai mempelai perempuan terdapat keelokan dan kemuliaan. Kita wajib belajar meremehkan kepandaian dan kekuatan kita, sebab sebagai bagian mempelai perempuan, kita tidak seharusnya menjadi pria, melainkan wanita. Pada waktu pernikahan, yang diperlukan gereja ialah keelokan bukan kekuatan. Oh, gereja sedang diperelok melalui menerima Kristus, mencerna Kristus, dan menyerap Kristus. Semakin kita mengalami Kristus yang berhuni di batin sedemikian rupa, Dia akan semakin menyingkirkan cacat dan kerut kita dengan unsur-Nya, dan semakinlah kekayaan dan sifat ilahi-Nya menjadi keelokan kita. Setelah itu kita akan siap untuk dipersembahkan kepada Kristus sebagai mempelai perempuan-Nya yang tersayang.

BERPAKAIAN LENAN HALUS

Kita telah menunjukkan bahwa pengalaman atas Efesus 5 diperlukan bagi penggenapan Wahyu 19. Kitab Efesus memperlihatkan betapa Kristus mempersiapkan mempelai perempuan melalui menguduskan, membasuh, merawat, dan mengasuh kita dengan diri-Nya sendiri. Dengan cara ini kita diubah secara metabolis dan kita menjadi elok dan mulia, siap untuk dipersembahkan kepada Kristus sesuai dengan Wahyu 19.

Berbicara mengenai istri, mempelai perempuan Kristus, Wahyu 19:8 mengatakan, “Kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan putih bersih! [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.]” Karena mempelai perempuan mengenakan pakaian yang demikian, maka dapat diumumkan bahwa ia “telah siap sedia” (ayat 7). Ini menunjukkan bahwa pada Wahyu 19, mempelai perempuan telah dipersiapkan. Arti mempelai perempuan telah dipersiapkan ialah ia telah mengenakan pakaian “lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih”. Putih ditujukan kepada sifat, sedang berkilau-kilauan mengacu kepada ekspresi. Lenan halus ini adalah “perbuatan yang benar dari orang-orang kudus”. Tidak perlu diragukan, kebenaran ini berkaitan dengan kebenaran dalam Efesus 4:24, yang mengatakan bahwa manusia baru diciptakan dalam kebenaran. Putihnya pakaian mempelai perempuan tidak saja berarti tanpa kotoran, juga tanpa campuran. Lenan halus yang adalah kebenaran orang-orang kudus tidak ditujukan kepada kebenaran (Kristus) yang kita terima untuk keselamatan kita (Flp. 3:9; 1Kor. 1:30). Kebenaran yang kita terima untuk keselamatan kita bersifat obyektif dan memungkinkan kita memenuhi tuntutan Allah yang adil. Namun, kebenaran mempelai perempuan di sini bersifat subyektif, yaitu Kristus sebagai kebenaran tergarap ke dalam diri kita. Semakin kebenaran subyektif ini tergarap ke dalam gereja, gereja akan semakin dipersiapkan untuk menjadi mempelai perempuan. Orang-orang yang menyusun mempelai perempuan telah ditebus dan dilahirkan kembali. Tetapi mereka perlu memiliki kebenaran subyektif yang teranyam ke dalam diri mereka agar mereka memiliki lenan halus yang berkilau-kilauan, yang putih dan bersih. Sebenarnya, baju lenan ini adalah keelokan mempelai perempuan.

PEKERJAAN TUHAN DALAM PEMULIHAN-NYA

Tidak perlu disangsikan bahwa Wahyu 19 akan tergenap dengan seluruhnya. Selanjutnya, kita percaya bahwa proses penggenapan ini sedang berlangsung pada hari ini. Karena Yerusalem sudah dikembalikan kepada bangsa Israel, kembalinya Tuhan Yesus seharusnya sudah tidak lama lagi. Tetapi mempelai perempuan tidak dapat dipersiapkan dengan terburu-buru. Persiapan ini merupakan usaha yang berangsur-angsur, yang terjadi dalam sejangka waktu. Tuhan tentu harus melakukan suatu pekerjaan di bumi untuk mempersiapkan mempelai perempuan-Nya. Di manakah pekerjaan-Nya ini dilaksanakan? Pada siapakah pekerjaan-Nya ini akan terjadi? Ada sementara orang mungkin berkata bahwa persiapan mempelai perempuan ini terjadi di antara orang-orang rohani di kalangan Katolik, dalam pelbagai denominasi, atau dalam kelompok-kelompok bebas. Menurut pandangan yang demikian, Kristus akan mengumpulkan semua orang rohani itu dan membentuk mereka menjadi mempelai perempuan-Nya ketika Dia kembali. Namun, itu bukan cara Tuhan; Tuhan tidak datang untuk memilih mereka yang akan menyusun mempelai perempuan, melainkan Dia akan datang untuk mempersembahkan kepada diri-Nya sendiri mempelai perempuan yang sudah dipersiapkan. Saya percaya bahwa persiapan ini mencakup usaha pembangunan yang korporat. Orang-orang yang menyusun mempelai perempuan harus tidak saja matang hayatnya, mereka juga harus terbangun bersama sebagai satu mempelai perempuan. Karena itu, saya percaya dengan teguh bahwa Tuhan sedang mempersiapkan mempelai perempuan-Nya di tengah-tengah orang yang berada dalam pemulihan-Nya.

Saya berbeban agar kita semua dapat memahami bahwa pemulihan Tuhan bukan satu gerakan kekristenan atau pekerjaan kekristenan yang biasa. Pekerjaan dalam pemulihan Tuhan merupakan pekerjaan Tuhan yang sejati untuk mempersiapkan mempelai perempuan-Nya. Saya percaya bahwa dalam tahun-tahun mendatang, lebih banyak orang yang setia menuntut Tuhan akan beralih ke jalan pemulihan-Nya ini. Mereka akan menyadari bahwa tidak ada tempat lainnya yang memberikan penegasan dalam batin mereka. Bila kita beralih ke jalan pemulihan Tuhan, kita merasa sedalam-dalamnya bahwa Tuhan telah membubuhkan meterai-Nya di jalan yang kita tempuh ini. Pekerjaan utama Tuhan dalam pemulihan-Nya bukan-lah memberitakan Injil ke seluruh pelosok bumi, melainkan mempersiapkan mempelai perempuan-Nya.

Tuhan bukan hendak membangunkan kekristenan secara menyeluruh. Dalam pemulihan-Nya, Dia sedang memanggil sisa-sisa dari mereka yang mengasihi Dia dan setia kepada-Nya. Dia telah mengeluarkan panggilan untuk mengatasi kemerosotan kekristenan, agar sejumlah orang yang mencari Dia boleh dipersiapkan menjadi mempelai perempuan-Nya. Dalam hal ini Tuhan maju terus, kita pun maju bersama-Nya. Alangkah besarnya hak yang kita miliki sehingga kita dapat hidup dalam zaman ini!