ROH ITU DAN GEREJA
Pembacaan Alkitab: Ef. 1:17; 2:22; 3:5, 16; 4:23; 5:18; 6:18
Dalam Efesus 4:17 Paulus berkata, “Sebab itu, kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia.” Orang-orang yang tidak mengenal Allah adalah orang-orang yang telah jatuh, yang pikirannya telah menjadi sia-sia (Rm. 1:21). Mereka hidup tanpa Allah dalam pikiran mereka yang sia-sia, dikuasai dan dikendalikan oleh pikiran mereka yang sia-sia. Apa saja yang mereka lakukan menurut pikiran mereka yang telah jatuh adalah sia-sia. Jadi, unsur pokok dalam kehidupan sehari-hari manusia yang telah jatuh ini adalah kesia-siaan pikiran.
Jika Anda mempelajari Alkitab dari Kejadian 6 hingga Wahyu 20, Anda akan nampak semua umat manusia yang telah jatuh hidup dalam pikiran yang sia-sia. Umat manusia telah jatuh dari roh ke dalam pikiran. Allah khusus menciptakan manusia dengan satu roh, dengan maksud agar manusia dapat hidup dan bertindak dalam roh. Tetapi karena kejatuhan, roh manusia telah mati, dan manusia mulai hidup menurut kesia-siaan pikiran. Mereka yang telah jatuh, kehidupannya dikendalikan oleh pikiran mereka. Setiap orang yang telah jatuh, tanpa terkecuali berada di bawah kuasa pikirannya. Sebelum kita beroleh selamat, kita berbicara dan berbuat menurut pikiran mentalitas yang telah jatuh.
HIDUP MENURUT ROH PIKIRAN
Dalam gereja sebagai manusia baru, kita tidak seharusnya hidup menurut kesia-siaan pikiran, melainkan menurut roh pikiran (Ef. 4:23). Inilah kunci kehidupan sehari-hari dari satu manusia baru yang korporat. Dulu pikiran kita penuh dengan kesia-siaan, sekarang pikiran harus dijenuhi dengan roh itu. Kita harus hidup menurut roh yang meluas ke dalam pikiran kita dan memenuhinya. Dengan demikian kehidupan sehari-hari manusia baru ini akan berada dalam roh pikiran. Inilah rahasia hidup gereja.
ROH HIKMAT DAN WAHYU
Roh manusia disinggung dalam tiap pasal Kitab Efesus. Efesus 1:17 mengatakan, “Dan meminta kepada Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar” (Tl.). Roh di sini pastilah roh kelahiran kembali kita yang dihuni oleh Roh Allah. Roh yang demikian diberikan Allah kepada kita agar kita memiliki hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dan ekonomi-Nya.
Mengenai gereja, kita perlu roh hikmat dan wahyu. Sejauh menyangkut masalah gereja, pikiran alamiah yang tajam pun tidak berguna. Sebaliknya, roh itu sangat penting. Seperti kita harus menggunakan organ-organ yang tepat untuk melihat, mendengar, dan mengecap, demikian pula kita harus menggunakan organ yang tepat — roh — dalam menghadapi gereja.
Selain itu, roh kita harus sebagai roh hikmat dan wahyu. Hikmat ada di dalam roh kita supaya kita dapat mengetahui rahasia Allah, dan wahyu berasal dari Roh Allah supaya Dia dapat menunjukkan visi kepada kita dengan membuka selubung. Pertama, kita memiliki hikmat, kemampuan untuk mengerti, yang memungkinkan kita mengerti hal-hal rohani; kemudian Roh Allah mewahyukan hal-hal rohani kepada pengertian rohani kita. Paulus mengenal bahwa roh itu sangat penting dalam kaitannya dengan gereja, maka ia berdoa agar Bapa yang mulia memberikan kepada kita satu roh hikmat dan wahyu yang demikian.
ROH KITA SEBAGAI
TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Dalam Efesus 2:22 Paulus berkata, “Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam Roh.” Ini ditujukan kepada roh manusia yang dihuni oleh Roh Kudus. Roh Allah sebagai penghuni, sedang roh kita sebagai tempat kediaman-Nya. Karena itu, tempat kediaman Allah berada dalam roh kita.
Jika kita ingin mempraktekkan hidup gereja, kita harus berada dalam roh. Pikiran alamiah tidak ada guna-nya dalam hidup gereja sebagai manusia baru. Dalam sekolah atau profesi kita, kita perlu memakai pikiran kita, tetapi dalam gereja, kita harus mengandalkan roh, harus memahami bahwa dalam pikiran alamiah tidak ada yang lain kecuali kesia-siaan. Menurut Efesus 2:22, tempat kediaman Allah di antara umat-Nya hari ini adalah dalam roh mereka, bukan dalam pikiran mereka.
WAHYU DALAM ROH
Berbicara tentang rahasia Kristus, Paulus berkata dalam Efesus 3:5, “Yang pada zaman orang-orang dahulu tidak diberitahukan kepada anak-anak manusia, tetapi sekarang dinyatakan di dalam roh kepada rasul-rasul dan nabi-nabi-Nya yang kudus” (Tl.). Sekali lagi roh di sini ditujukan kepada roh manusia yang telah dilahirkan kembali dan dihuni oleh Roh Kudus Allah. Karena itu, dapat dianggap sebagai roh yang telah berbaur, roh manusia berbaur dengan Roh Allah. Roh perbauran ini ada-lah sarana untuk menyatakan wahyu Perjanjian Baru tentang Kristus dan gereja kepada rasul-rasul dan nabi-nabi. Hari ini kita perlu roh semacam ini untuk melihat wahyu seperti ini.
“Anak-anak manusia” dalam ayat ini diwakili oleh “rasul-rasul dan nabi-nabi yang kudus”. Ketika Allah mewahyukan rahasia Kristus kepada manusia yang sebagai wakil-wakil itu, Ia mewahyukannya kepada roh mereka. Dengan ini kita nampak bahwa roh, bukan pikiran, merupakan organ yang sangat penting dalam hubungannya dengan ekonomi Allah.
MANUSIA BATINIAH
Dalam Efesus 3:16 Paulus terus mengatakan tentang manusia batiniah: “Supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan kamu dengan kuasa melalui Roh-Nya ke dalam manusia batiniahmu” (Tl.). Manusia batiniah adalah roh kelahiran kembali kita yang memiliki hayat Allah sebagai hayatnya. Untuk mengalami Kristus sebagai jelmaan Allah, kita perlu dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita. Namun, secara alamiah, saudara-saudara kuat dalam pikiran dan tekad, sedang saudari-saudari kuat dalam emosi. Semoga Tuhan menguatkan kita dalam roh, manusia batiniah kita!
Kita semua perlu dikuatkan ke dalam manusia batiniah kita agar Kristus dapat berumah dalam hati kita. Hati kita tersusun dari semua bagian jiwa (pikiran, emosi, dan tekad) ditambah hati nurani (bagian utama roh kita). Ini semua adalah bagian-bagian dalam dari diri kita. Melalui kelahiran kembali, Kristus masuk ke dalam roh kita (2Tim. 4:22). Selanjutnya, kita harus membiarkan-Nya memperluas diri-Nya ke dalam tiap bagian hati kita. Karena hati kita merupakan gabungan bagian-bagian batin kita dan inti bagian-bagian batin kita, maka ketika Kristus berumah di hati kita, Ia dapat mengontrol segenap manusia batiniah kita dan menyuplai serta menguatkan setiap bagian batin kita dengan diri-Nya sendiri. Rahasia Kristus berumah dalam hati kita ialah dikuatkannya manusia batiniah kita. Karena Paulus mengetahui rahasia ini, maka ia berdoa agar Bapa menurut kekayaan kemuliaan-Nya menguatkan kita dengan kuasa ke dalam manusia batiniah kita.
ROH YANG DIPERBARUI
Ketika kita maju ke pasal 4, kita nampak bahwa roh yang telah dikuatkan harus menjadi roh yang telah diperbarui dalam pikiran kita. Dalam Efesus 4:23 Paulus berkata, “supaya kamu dibarui di dalam roh pikiranmu” (Tl.). Sekali lagi, roh di sini adalah roh kelahiran kembali kaum beriman yang berbaur dengan Roh Allah yang berhuni. Roh perbauran ini meluas ke dalam pikiran kita, sehingga menjadi roh pikiran kita. Di dalam roh inilah kita diperbarui bagi pengubahan kita (Rm. 12:2; 2Kor. 3:18).
Roh kita yang telah diperkuat adalah sarana untuk diperbaruinya seluruh diri kita. Ketika roh kita telah menjadi kuat, ia akan meluas ke dalam pikiran kita dan membuatnya mengalami pembaruan. Setelah roh kita memperbarui pikiran kita, ia maju terus untuk memperbarui emosi dan tekad kita. Melalui roh perbaruan yang sedemikian ini, gereja memiliki kehidupan yang wajar sebagai manusia baru.
DIPENUHI DALAM ROH
Dalam Efesus 5:18 Paulus melanjutkan membicarakan masalah dipenuhi dalam roh. Ayat ini mengatakan, “Janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu dipenuhi di dalam roh” (Tl.). Mabuk oleh anggur adalah dipenuhi di dalam tubuh, sedangkan dipenuhi di dalam roh kelahiran kembali adalah dipenuhi dengan Kristus
(1:23) sampai mencapai seluruh kepenuhan Allah (3:19). Mabuk oleh anggur dalam tubuh jasmani membuat kita tidak bermoral, tetapi dipenuhi di dalam roh dengan Kristus, dengan kepenuhan Allah, membuat kita meluap-luap dengan Kristus dalam berkata-kata, bernyanyi, bermazmur, dan mengucap syukur kepada Allah (5:19-20), dan juga membuat kita saling merendah (ayat 21). Yang kita perlukan bagi hidup gereja bukan dipenuhi dalam pikiran dengan pengetahuan yang obyektif, melainkan di-penuhi di dalam roh dengan kekayaan Kristus ke dalam seluruh kepenuhan Allah.
BERDOA DALAM ROH
Bagian terakhir yang menyinggung tentang roh manusia yang dilahirkan kembali yang dihuni oleh Roh Allah dalam Kitab Efesus adalah dalam Efesus 6:18. Di sini Paulus menyuruh kita berdoa “setiap waktu di dalam roh”, yakni berdoa dalam roh kita yang berbaur dengan Roh Allah. Roh ini disebutkan dalam konteks peperangan rohani. Ketika gereja telah menjadi manusia baru yang fungsinya normal dan kehidupan sehari-harinya wajar, dan ketika cacat dan kerutnya telah terhapus oleh perawatan dan pengasuhan Kristus, maka gereja akan menjadi pejuang yang perkasa, laskar untuk berperang bagi kepentingan Allah. Untuk mengambil bagian dalam peperangan rohani, kita perlu berdoa dalam roh perbauran.
Saya harap kita semua memiliki kesan yang dalam atas ayat-ayat mengenai roh manusia dalam Kitab Efesus ini. Dalam pasal 1 kita nampak roh hikmat dan wahyu; dalam pasal 2 kita nampak roh sebagai tempat kediaman Allah; dalam pasal 3 kita nampak roh sebagai alat penerima wahyu dan organ yang perlu diperkuat; dalam pasal 4 kita nampak roh yang diperbarui meluas ke dalam pikiran kita untuk memperbarui seluruh bagian batin kita; dalam pasal 5 kita nampak roh dipenuhi dengan Kristus ke dalam segala kepenuhan Allah, dan dalam pasal 6 kita nampak roh perbauran sebagai organ yang di dalamnya kita berdoa untuk berperang bagi Tuhan. Ketika kita melihat semua acuan tentang roh dalam kitab yang singkat ini, kita tahu bahwa hidup gereja sepenuhnya merupakan masalah dalam roh. Untuk mempraktekkan hidup gereja, kita perlu beralih ke roh kita dan tinggal di situ. Kehidupan sehari-hari dari manusia baru yang korporat mutlak berada dalam roh pikiran.
LANGIT YANG CERAH
Kita telah sering kali mengatakan pentingnya kita memiliki langit yang cerah. Sebenarnya memiliki langit yang cerah tidak lain berarti memiliki satu roh yang cerah. Secara rohani, roh kita adalah langit kita. Karena itu, bila roh kita cerah, langit kita pun cerah. Tetapi, jika roh kita mendung, langit kita pun akan mendung.
Dalam Efesus 4:17-19 Paulus berkata bahwa orang-orang yang hidup dalam pikiran yang sia-sia, gelap dalam pengertian dan jauh (terpisah) dari hayat Allah karena kebodohan yang ada dalam mereka. Dia menunjukkan bahwa hati mereka keras, sehingga perasaan mereka tumpul, dan mereka menyerahkan diri mereka kepada hawa nafsu. Karena itu, berada dalam pikiran yang sia-sia berarti berada dalam kegelapan yang pekat. Sebaliknya, kaum beriman yang dulu sebagai kegelapan, “sekarang adalah terang di dalam Tuhan” (Ef. 5:8). Karena itu, kita wajib “hidup sebagai anak-anak terang”. Dalam Efesus 5:14 Paulus berkata, “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu.” Kapan saja kita berada dalam roh, kita berada dalam terang, di bawah penyinaran Tuhan. Hasilnya, kita akan memiliki langit yang cerah. Semakin cerah roh kita, semakin cerah pula langit kita.
Jika kita melatih pikiran tetapi tidak melatih roh, langit dalam batin kita akan mendung. Demikian pula jika kita kuat dalam emosi atau tekad kita, tetapi tidak kuat dalam roh kita. Namun, jika kita menyangkal pikiran, emosi, dan tekad alamiah kita, dan mengambil pendirian yang tegas bersama Tuhan dalam roh kita, langit kita akan segera dan spontan menjadi cerah. Bila kita ragu-ragu dalam mengikuti Tuhan, langit kita akan berawan. Tetapi bila kita tegas dan mutlak dalam mengikuti Tuhan, langit kita akan cerah.
Alasan kita ragu-ragu mengikuti Tuhan ialah kita terlalu banyak berpikir dalam pikiran atau memperhatikan hal-hal yang emosional. Mungkin Anda khawatir melukai seseorang. Seorang saudara mungkin khawatir akan reaksi istrinya terhadap keputusannya untuk menempuh jalan gereja. Pertimbangan dan kekhawatiran yang demikian akan menyebabkan roh kita mendung. Tetapi jika kita mengesampingkan pertimbangan dan kekhawatiran kita dan membuat keputusan yang tegas untuk mengikuti Tuhan dengan mutlak, langit kita akan cerah. Tidak akan ada awan dalam roh kita. Dalam roh kita tidak ada kecemasan dan kekhawatiran, hanya ada Roh Kudus yang berhuni.
Jika kita hidup menurut pikiran yang sia-sia, kita akan berada dalam kegelapan dan jauh dari hayat Allah. Tetapi jika kita beralih ke roh pikiran, Kristus akan bercahaya di atas kita, dan kita akan memiliki langit yang cerah. Alasan adanya orang-orang tertentu yang telah bersama kita beberapa tahun tidak mengalami banyak kemajuan, adalah karena mereka hidup dalam pikiran yang sia-sia. Mereka jarang beralih ke roh pikiran. Jika saudara-saudara yang demikian beralih dari pikiran yang sia-sia ke roh pikiran, mereka akan mengalami perubahan yang besar. Mendengarkan berita-berita saja tidak banyak membantu, kecuali kita berada dalam roh pikiran dan bukan berada dalam pikiran yang sia-sia. Kita tidak dapat menerima bantuan rohani melalui berita-berita jika kita lebih banyak melatih pikiran daripada melatih roh. Kita perlu melompat keluar dari kesia-siaan pikiran un-tuk hidup menurut roh pikiran.
UNSUR BARU TERGARAP KE DALAM KITA
Ketika kita hidup menurut roh pikiran kita, kita akan diperbarui. Diperbarui bukan berarti diperbaiki, dikoreksi, atau dibenahi secara lahiriah saja, melainkan memiliki satu unsur baru, unsur ilahi digarapkan ke dalam kita. Ini berarti dalam hidup gereja kita tidak seharusnya memperhatikan koreksi atau perbaikan lahiriah, tetapi kita harus memperhatikan pembaruan batiniah.
Jika kita ingin diperbarui, kita harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Perhatikanlah, Paulus tidak mengatakan kita harus berusaha memperbaiki manusia lama. Banyak orang saleh tidak mau menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru; sebaliknya, mereka ingin memperbaiki diri mereka, bahkan ingin menyempurnakan diri mereka. Mereka mungkin berusaha memperbaiki diri mereka guna menyesuaikan diri dengan hidup gereja. Ini suatu kekeliruan. Dalam hidup gereja yang sejati tidak ada perbaikan atau koreksi, yang ada hanyalah menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Sebenarnya, menanggalkan dan mengenakan yang demikian berarti pembaruan.
Diperbarui berarti unsur yang lama diganti dengan unsur yang baru. Roh kita adalah roh yang telah diperbarui, karena telah dihuni oleh Kristus yang hidup sebagai unsur pembaru. Karena kita memiliki unsur kebaruan dalam roh kita, maka kita dapat diperbarui dalam roh pikiran begitu roh yang diperbarui itu meluas ke dalam pikiran kita. Semakin kita beralih ke roh pikiran dan hidup dalam roh pikiran, pikiran kita akan semakin diperbarui. Lalu dengan riil unsur lama diganti dengan unsur baru. Dengan cara inilah kita menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru.
EKSPRESI ALLAH
Hasil dari kehidupan sehari-hari yang demikian ialah kita akan memiliki gambar Allah. Hal ini berarti kehidupan kita menjadi ekspresi Allah. Dalam Efesus 4:24 Paulus berkata bahwa manusia baru ini adalah menurut Allah. Ini berarti hidup gereja sesuai dengan Allah sen-diri dan adalah ekspresi Allah. Sasaran Allah ialah memperoleh satu umat yang melaluinya Dia dapat mengekspresikan diri-Nya sendiri. Dalam gereja sebagai manusia baru yang sesuai dengan Allah ini, sasaran ilahi ini telah tercapai. Hal ini sama sekali berbeda dengan agama, yang mengajar orang berperilaku secara lahiriah. Allah tidak hanya ingin memperoleh suatu umat yang baik, sopan, dan rendah hati secara lahiriah. Dia ingin memiliki satu Tubuh, manusia baru, bagi ekspresi-Nya. Untuk mencapai sasaran yang demikian, manusia baru harus terlebih dulu diciptakan dalam Kristus. Hal ini dibicarakan Paulus dalam pasal 2. Kemudian, menurut perkataan Paulus dalam pasal 4, manusia baru ini harus bertumbuh dan hidup melalui berperilaku dalam roh pikiran dan harus diperbarui dari hari ke hari. Hasilnya manusia baru yang korporat ini akan menjadi gambar Allah, ekspresi-Nya. Dengan cara ini kehendak Allah tercapai.
KARAKTER ILAHI TEREKSPRESI
MELALUI KEBAJIKAN INSANI
Dalam Efesus 4:24 Paulus berkata bahwa manusia baru diciptakan dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Kebenaran di sini berarti benar terhadap Allah dan terhadap manusia sesuai dengan jalan kebenaran Allah; sedangkan kekudusan adalah ibadah dan kesalehan di hadapan Allah.
Dalam ayat ini, kata Yunani yang diterjemahkan “kekudusan” ialah hosiotees, yaitu suatu kesalehan yang sejati. Karena itu ada beberapa versi yang menerjemahkan “kesalehan”. Jika kita mengamati konteks ayat ini, kita akan nampak bahwa hidup gereja adalah satu kehidupan kesalehan yang sejati. Sayangnya, kata ini telah dirusak oleh penggunaan yang tradisional dan diberi arti yang agamis. Dalam Perjanjian Baru, kata ini kadang kala diterjemahkan kesalehan, berarti kebajikan sesuai dengan karakter ilahi yang terekspresi melalui sifat manusia. Pada satu aspek kata ini mencakup kebajikan insani, pada aspek lain, kata ini menyatakan sifat dan karakter ilahi. Kita perlu menempuh kehidupan sehari-hari yang di dalamnya karakter ilahi itu terekspresi melalui kebajikan kita.
Kehidupan yang semacam ini sangat berlainan dengan kebajikan insani semata. Sebagai manusia, kita memiliki kebajikan-kebajikan tertentu, tetapi kebajikan-kebajikan itu harus menjadi ekspresi karakter ilahi. Sebagai contoh, Perjanjian Baru mengajarkan istri wajib patuh kepada suami. Kong Hu Cu juga mengajarkan demikian. Sebenarnya Kong Hu Cu mengajarkan kepatuhan tiga ganda: patuh kepada ayah, patuh kepada suami, dan jika suami mati, patuh kepada anak. Apakah perbedaan antara kepatuhan menurut ajaran Kong Hu Cu dengan kepatuhan menurut ajaran Alkitab? Kepatuhan menurut ajaran Kong Hu Cu tidak lebih daripada kebajikan insani. Dalam kepatuhan semacam ini tidak terkandung cita rasa Kristus dan karakter ilahi. Tetapi jika seorang saudari dalam Tuhan dipenuhi di dalam roh dan mematuhi suaminya karena kepenuhan ini, dalam kepatuhannya akan ada sejumlah cita rasa Kristus. Ini berarti dalam kepatuhannya terdapat ekspresi karakter ilahi.
Mari kita mengambil contoh lain: perihal menghormati orang tua. Alkitab memang mengajar kita untuk menghormati orang tua. Kong Hu Cu juga mengajarkan hal ini. Tetepi perbedaan antara penghormatan orang tua versi ajaran Kong Hu Cu dengan ajaran versi Alkitab ialah yang pertama tanpa cita rasa Kristus, sedang yang kedua mengandung cita rasa Kristus dan ekspresi karakter ilahi. Ketika kita dipenuhi dalam roh ke dalam segala kepenuhan Allah dan menghormati orang tua dengan pemenuhan di dalam yang sedemikian, itu adalah ekspresi Allah dalam hubungan kita dengan orang tua kita. Perilaku kita tidak akan berupa kebajikan insani saja, melainkan merupakan kebajikan yang disertai karakter ilahi dan bercita rasa Kristus. Ketika kita menghormati orang tua kita, itu akan menjadi bau-bau Kristus yang harum. Inilah ekspresi Allah melalui kebajikan insani. Misalkan seorang pemuda menghormati orang tuanya dengan roh yang dipenuhi ke dalam segala kepenuhan Allah, maka kebajikannya ini akan mengandung karakter ilahi. Inilah ekspresi Allah dalam sifat manusia.
Ekspresi Allah yang demikian mutlak berbeda dengan perilaku etis semata. Walaupun penganut-penganut Kong Hu Cu dapat mencapai standar etika yang tinggi, tetapi tanpa cita rasa Kristus. Saya ulangi, dalam kebajikan kita perlu ada karakter Allah dan cita rasa Kristus. Ekspresi ilahi yang melalui kebajikan insani ini oleh kata Yunani disebut sebagai kekudusan dalam Efesus 4:24. Hidup gereja harus dipenuhi dengan ekspresi karakter ilahi melalui kebajikan insani yang sedemikian.
Dalam kejujuran dan kemurahan hati kita harus ada ekspresi karakter ilahi. Kejujuran dan kemurahan hati ada dua macam: kejujuran dan kemurahan hati yang hanya merupakan kebajikan insani dan kejujuran dan kemurahan hati yang mengekspresikan karakter Allah. Kejujuran dan kemurahan hati dalam hidup gereja harus mengandung cita rasa Kristus. Ketika orang lain berkontak dengan kita, mereka tidak seharusnya hanya merasa kita ini bajik, tetapi mereka juga merasakan ada cita rasa Kristus dan nampak ekspresi karakter ilahi dalam kebajikan kita.
Kunci hidup gereja adalah roh pikiran. Jika kita hidup menurut roh pikiran, maka dalam hidup gereja akan ada ekspresi karakter ilahi. Lalu kita akan menjadi umat yang korporat yang memiliki cita rasa Kristus dan ekspresi Allah. Bila kita hanya memberi kesan kepada orang lain akan kebaikan, kebenaran, dan keramahan kita saja, kehidupan kita akan gagal. Dalam kebaikan, kebenaran, dan keramahan kita harus ada ekspresi Allah Tritunggal. Hidup gereja harus dipenuhi dengan aroma dan cita rasa Kristus dan karakter Allah. Kehidupan yang demikian adalah kehidupan Allah Tritunggal melalui sifat insani kita. Berabad-abad lamanya Allah damba akan hidup gereja yang demikian. Kita berdoa agar dalam waktu yang tidak terlalu lama hidup gereja semacam ini dapat dipraktekkan sepenuhnya di antara kita dalam pemulihan Tuhan. Semoga Tuhan dipuaskan karena nampak suatu ekspresi diri-Nya sendiri melalui manusia baru yang korporat di bumi ini!