← Daftar isi Efesus (3) · bab 23/23

GEREJA SEBAGAI PEJUANG ALLAH

Pembacaan Alkitab: Ef. 6:10-18

BERBAGAI ASPEK GEREJA

Dalam Efesus 1 kita nampak pandangan umum tentang apa adanya gereja dan bagaimana gereja dihasilkan. Dalam pasal 2 kita nampak gereja adalah manusia baru yang diciptakan oleh Kristus di dalam diri-Nya sendiri. Dalam pasal 3 kita nampak satu visi yang jelas tentang Kristus berumah dalam hati mereka yang berada dalam gereja. Kristus berumah dalam hati gereja berarti Ia ditransfusikan ke dalam pusat batiniah gereja. Melalui transfusi yang demikian, gereja akan dipenuhi ke dalam segala kepenuhan Allah. Dengan cara ini gereja berbaur dengan sifat ilahi dan dijenuhi olehnya. Karena itu, gereja merupakan sifat insani yang dibaurkan, diresapi, dan dijenuhi oleh sifat ilahi.

Dalam pasal 4 kita nampak gereja sebagai manusia baru. Manusia baru dalam pasal 2 sudah sempurna secara organik, namun belum sempurna secara fungsional. Agar sempurna secara fungsional, gereja sebagai manusia baru harus bertumbuh dalam hayat. Semakin manusia baru ini bertumbuh, ia akan semakin dapat berfungsi. Dalam Efesus 4 kita juga nampak kehidupan sehari-hari dari manusia baru. Seperti telah kita tunjukkan, manusia yang telah jatuh hidup menurut pikiran yang sia-sia, tetapi hidup gereja sebagai manusia baru berada dalam roh pikiran.

Dalam Efesus 5 kita melihat aspek lain dari gereja: gereja adalah mempelai perempuan yang dipersiapkan untuk Kristus. Di satu aspek, gereja adalah manusia baru yang perlu bertumbuh, berfungsi, dan menempuh hidup sehari-hari dengan wajar. Di aspek lainnya, gereja adalah mempelai perempuan yang harus diperelok guna dipersembahkan kepada Kristus pada saat Ia datang lagi. Sebagai mempelai perempuan, problem yang dihadapi gereja bukanlah ketentuan, doktrin, atau manusia lama, melainkan cacat dan kerut, kekurangan yang organik dan yang merusak kecantikan gereja. Untuk membebaskan diri dari kekurangan atau cacat itu, gereja harus dikuduskan, disucikan, dirawat, dan diasuh melalui unsur Kristus yang tergarap ke dalamnya secara metabolis. Unsur ini akan melenyapkan cacat dan kerut, dan akan memperelok mempelai perempuan untuk dipersembahkan kepada Kristus. Akhirnya, melalui proses transformasi metabolis yang demikian, gereja akan menjadi mulia.

MEMPELAI PEREMPUAN DAN PEJUANG

Dalam Efesus 6 kita nampak gereja pada aspek lain lagi. Dalam pasal ini gereja bukan Tubuh, tempat kediaman, keluarga, kerajaan, manusia baru, atau mempelai perempuan; di sini gereja adalah pejuang Allah. Gereja bukan hanya sebagai Tubuh untuk mengekspresikan Kristus, atau tempat kediaman Allah, dan manusia baru bagi kegenapan ekonomi Allah, gereja pun harus sebagai pejuang, laskar untuk mengalahkan musuh Allah.

Menurut Wahyu 19, gereja adalah mempelai perempuan yang dipersembahkan kepada Kristus, juga pejuang yang berperang bersama-Nya melawan musuh Allah. Pada saat Dia datang lagi, Tuhan Yesus pertama-tama akan mendapatkan mempelai perempuan-Nya. Setelah mendapatkan mempelai perempuan, Kristus dan para pemenang akan terjun ke medan perang untuk melawan musuh. Menurut Wahyu 19:11, Tuhan akan menunggang kuda putih, dan pasukan yang di surga akan mengikuti Dia dengan menunggang kuda putih pula, dengan berpakaian lenan halus, putih lagi bersih (ayat 14). Wahyu 17:14 juga mengatakan, “Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Dialah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka yang bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia.”

Dalam Wahyu 19:7-8 kita nampak mempelai perem-puan berpakaian “lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih”. Lalu dalam ayat 14 kita nampak pa-sukan yang mengikuti Tuhan berperang dengan berpakaian “lenan halus yang putih bersih”. Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa pakaian pernikahan mempelai perempuan juga merupakan seragam yang ia kenakan sebagai pasukan Allah untuk memerangi musuh-Nya. Karena itu, mengenakan pakaian pernikahan sama artinya dengan mengenakan seragam.

Dalam Efesus 5—6 kita nampak gereja sebagai mempelai perempuan dan pejuang. Dalam Wahyu 19 kita juga nampak gereja dalam kedua aspek ini. Sebagai gereja, kita bukan hanya Tubuh, tempat kediaman Allah, Kerajaan Allah, keluarga Allah, dan manusia baru; kita juga mempelai perempuan dan pejuang. Sebagai mempelai perempuan, kita harus elok, tanpa cacat atau kerut, dan berpakaian lenan halus. Sebagai pejuang, kita harus diperlengkapi untuk memerangi musuh Allah.

PEPERANGAN ROHANI —

SUATU MASALAH TUBUH

Dalam ekonomi Allah ada satu pasukan yang terbentuk dari satu pejuang korporat. Ini berarti pejuang dalam Efesus 6 merupakan satu wujud korporat. Hanya sebagai wujud korporat, Tubuh, barulah kita dapat me-genakan seluruh perlengkapan senjata Allah. Hal ini bertentangan dengan konsepsi yang dipegang oleh kebanyakan orang Kristen, yaitu satu orang beriman dapat mengenakan seluruh perlengkapan senjata secara perorangan. Perlengkapan senjata dalam Efesus 6 bukan bagi orang Kristen secara individual, melainkan bagi gereja secara korporat sebagai Tubuh. Apa yang diwahyukan dalam pasal ini bukanlah kaum beriman berperang secara individual, melainkan satu pasukan yang korporat berperang bagi kepentingan Allah di bumi.

Peperangan rohani bukanlah satu masalah individual, tetapi satu masalah Tubuh, yakni satu wujud korporat berperang melawan musuh Allah. Tidak ada prajurit dalam suatu pasukan modern yang terjun ke medan perang sendirian. Sebaliknya, ia berperang sebagai bagian dari satu pasukan yang terlatih baik dan dengan persenjataan lengkap. Setelah kita dibentuk menjadi satu pasukan secara korporat, kita akan dapat berperang melawan musuh Allah. Siasat perang Allah ialah memakai gereja sebagai pasukan-Nya untuk berperang melawan musuh. Karena itu, sangat berbahaya jika kita memisahkan diri dari pasukan. Dengan tinggal dalam pasukan barulah kita memiliki perlindungan yang kita butuhkan.

Pada tahun-tahun yang lampau, umat Tuhan mengira peperangan rohani adalah suatu masalah individual. Namun dalam beberapa tahun ini kita nampak bahwa hal ini sepenuhnya masalah gereja sebagai pasukan Allah yang korporat. Bila Anda memisahkan diri Anda dari gereja, Anda akan dikalahkan. Siasat Iblis justru memi-sahkan Anda dari gereja sebagai pasukan Allah. Kita sangat perlu memahami peperangan rohani adalah suatu masalah Tubuh. Jika kita memahami hal ini, dan tinggal bersama gereja, kita akan menang. Peperangan ini bukan untuk kita sebagai kaum beriman individual, melainkan untuk gereja sebagai pasukan Allah.

DIKUATKAN DI DALAM TUHAN

Sebagai pejuang Allah, gereja tidak dapat berperang dengan kekuatannya sendiri. Efesus 6:10 mengatakan, “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.” Ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa kita tidak boleh berperang dalam kekuatan kita sendiri. Sebaliknya, kita harus dikuatkan di dalam Tuhan dan di dalam kekuatan kuasa-Nya. Istilah “kuat” di sini dalam bahasa Yunani memiliki akar kata yang sama dengan “kuasa” dalam 1:19. Untuk menanggulangi musuh Allah, berperang melawan kuasa-kuasa gelap yang jahat, kita perlu dikuatkan dengan kekuatan kuasa yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di surga, jauh melampaui semua roh jahat di udara. Dalam peperangan rohani melawan Iblis dan kerajaan jahatnya, kita hanya dapat berperang di dalam Tuhan, bukan di dalam diri kita sendiri. Bila kita berada di dalam diri kita sendiri, kita akan kalah.

MENGENAKAN KRISTUS

SEBAGAI PERLENGKAPAN SENJATA

Menurut Efesus 6, Tuhan dengan kuasa-Nya adalah perlengkapan senjata yang kita pakai untuk perlindungan kita. Ini berarti sebagai Tubuh, kita perlu mengenakan Kristus sendiri sebagai perlengkapan senjata kita. Untuk berperang dalam peperangan rohani kita harus memiliki Kristus sebagai seluruh perlengkapan senjata Allah.

Dalam Efesus 6:14-17 terdapat enam aspek dari Kristus sebagai perlengkapan senjata: ikat pinggang realitas, baju zirah kebenaran, fondasi Injil damai sejahtera yang kokoh (kasut), perisai iman, ketopong keselamatan, dan pedang Roh. Sebab itu, seluruh perlengkapan senjata Allah ini terdiri atas ikat pinggang, baju zirah, kasut, perisai, ketopong, dan pedang. Perisai untuk pertahanan, sedangkan pedang untuk penyerangan. Sebenarnya pedang merupakan satu-satunya peralatan perang untuk melakukan perlawanan yang ofensif.

MENGGUNAKAN PERLENGKAPAN SENJATA

MELALUI DOA

Menurut ayat 18, kita menerima ketopong keselamatan dan pedang Roh melalui segala doa dan permohonan. Sebenarnya doa adalah alat yang olehnya kita menerima semua aspek dari seluruh perlengkapan senjata Allah. Tahukah Anda bagaimana menggunakan ikat pinggang realitas? Melalui berdoa di dalam roh. Doa juga adalah cara untuk memakai baju zirah, kasut, perisai, ketopong, dan pedang.

DOA-BACA FIRMAN

Dalam bahasa Yunani, kata yang mendahului kata pengganti “yaitu” dalam ayat 17 ialah Roh, bukan pedang. Ini menunjukkan Roh adalah firman Allah. Roh maupun firman adalah Kristus (2Kor. 3:17; Why. 19:13).

Kita perlu menerima firman Allah melalui segala doa dan permohonan. Menurut ayat 17 dan 18, kita menerima firman Allah melalui segala doa. Ayat ini menunjukkan bahwa kita dapat menerima firman melalui doa-baca, yaitu melalui berdoa dengan perkataan Alkitab, dan menggunakan kata-kata Alkitab sebagai doa kita kepada Allah. Istilah doa-baca tidak terdapat dalam Alkitab, tetapi fakta doa-baca itu sesuai dengan Alkitab. Sebagaimana Alkitab mewahyukan fakta Allah Tritunggal, walaupun istilah tritunggal itu tidak terdapat dalam Alkitab, begitu pula Alkitab memuat fakta doa-baca, walaupun istilah tersebut tidak pernah dipakai.

Saya dapat bersaksi bahwa doa-baca firman lebih baik, lebih tinggi, lebih kaya, dan lebih lengkap daripada sekadar membaca. Dari hari ke hari saya didiris, dipenuhi, dipuaskan, dihidupkan, dikuatkan, dirawat, dan diasuh melalui doa-baca firman Allah. Selain itu, melalui doa-baca saya dikuduskan, dimurnikan, dan diubah. Walaupun saya tentu saja tidak akan memaksa orang lain melakukan doa-baca, tetapi saya selamanya tidak akan membuangnya. Hal ini terlalu manis, terlalu baik. Hanya mendoakan Yohanes 1:1 misalnya, saya sudah dirawat, dipenuhi, dan dipuaskan di dalam Tuhan.

BERDOA SETIAP WAKTU DI DALAM ROH

Ketika kita menerima setiap firman melalui segala doa dan permohonan, kita harus berdoa, “setiap waktu di dalam roh”. Roh dalam ayat 18 adalah roh kelahiran kembali yang dihuni oleh Roh Allah. Jadi roh ini adalah roh yang telah berbaur, yaitu roh kita berbaur dengan Roh Allah. Setiap kali kita berdoa sebagai satu sarana untuk menerima firman, kita harus berada di dalam roh. Roh adalah organ yang tepat untuk berdoa. Seperti telah kita tunjukkan berkali-kali, kita dapat berada di dalam roh hanya dengan menyeru nama Tuhan Yesus dari lubuk batin kita. Ketika kita berseru, “O, Tuhan Yesus”, kita akan beralih dari kesia-siaan pikiran kepada roh pikiran. Alangkah manis dan nikmatnya perihal menyeru nama Tuhan Yesus di dalam roh!

Melalui berdoa di dalam roh, kita memakai Kristus sebagai seluruh perlengkapan senjata Allah. Ketika kita menerima firman melalui berdoa di dalam roh, dengan spontan kita berkontak dengan Kristus sebagai Roh pemberi-hayat. Doa dan baca kita akan segera menjadi hidup lincah, dan kita akan dikuatkan oleh Kristus dan ditutupi oleh-Nya sebagai perlengkapan senjata kita. Lagi pula, kita akan memahami bahwa kita berada di dalam Tubuh dan Kristus dengan segala apa ada-Nya dan milik-Nya menjadi bagian kita. Dengan cara inilah kita memakai Dia sebagai perlengkapan senjata yang almuhit.

BUKAN BERPERANG MELAINKAN MENIKMATI

Ketika kita berada di dalam Tubuh, kita sebenarnya bukan menempuh peperangan rohani, melainkan menikmatinya. Tidak saja tidak susah payah dalam peperangan, malahan peperangan itu akan menjadi suatu kenikmatan. Karena kita berdoa di dalam roh untuk memakai seluruh aspek Kristus sebagai perlengkapan senjata, maka peperangan rohani ini menjadi suatu kenikmatan. Kita menikmati Kristus sebagai realitas yang mengikat pinggang kita, dan sebagai kebenaran yang menutupi dan melindungi hati nurani kita. Tidak hanya demikian, kita menikmati Dia sebagai fondasi yang kokoh dari Injil damai sejahtera, dan sebagai perisai iman kita. Kristus sendiri adalah iman bagi kita. Seperti dikatakan Ibrani 12:2, Ia adalah Pencipta dan Penyempurna iman. Dengan Kristus sebagai perisai kita, kita dapat menahan panah-panah api dari si jahat. Tambahan pula, kita menikmati Kristus sebagai ketopong keselamatan yang menudungi kepala kita, dan juga sebagai pedang Roh itu, yaitu firman Allah. Mazmur 23:5 mengatakan, “Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.” Ini menunjukkan medan peperangan itu adalah tempat berpesta. Kita berpesta di hadapan lawan, menikmati Kristus sebagai realitas, kebenaran, damai sejahtera, iman, keselamatan, dan firman Allah yang hidup. Kita menikmati Dia dan memakai Dia melalui berdoa di dalam roh.

KUASA PEMBUNUH DARI FIRMAN

Kita telah menunjukkan bahwa melalui doa-baca kita menerima firman Allah ke dalam kita. Biasanya bila kita mengatakan menerima firman Allah ke dalam kita, kita menganggap firman sebagai makanan. Tetapi dalam Efesus 6 penekanannya tidak pada firman yang memberi makan, melainkan firman yang membunuh. Firman yang memberi makan itu untuk membangun kita, sedang firman yang membunuh adalah untuk menanggulangi musuh. Dalam konteks ini, kita harus melakukan doa-baca firman terutama bukan untuk menerima makanan, melainkan untuk mengalami pedang sebagai alat pembunuh. Semakin kita melakukan doa-baca firman, kita akan semakin mengalami kuasa pembunuh dari firman tersebut.

MUSUH DAN LAWAN

Kita sudah menunjukkan bahwa pedang adalah satu-satunya aspek perlengkapan senjata untuk melakukan peperangan secara ofensif, yaitu satu-satunya perlengkapan senjata Allah yang dipakai untuk menyerang musuh. Mungkin Anda heran apa hubungannya hal ini dengan pengalaman subyektif kita atas kuasa pembunuh dari firman itu. Jika kita ingin mengerti hal ini, kita harus nampak bahwa dalam peperangan rohani kita tidak saja harus menanggulangi musuh-musuh yang obyektif, tetapi juga menanggulangi lawan-lawan yang subyektif. Iblis tidak saja adalah musuh yang di luar kita, ia pun adalah lawan yang di dalam kita. Hari ini kita menghadapi problem yang lebih besar karena lawan yang di dalam daripada karena musuh yang di luar. Serangan-serangan musuh dari luar tidak sehebat serangan lawan dari dalam. Untuk menanggulangi lawan di dalam kita perlu mengalami kuasa pembunuh dari firman. Benar, musuh berada di luar kita, tetapi unsur-unsur musuh berada di batin kita, maka kita perlu kuasa pembunuh dari firman yang diterapkan secara subyektif ke dalam diri kita. Musuh telah menyuntikkan dirinya sendiri ke dalam diri kita, maka yang kita perlukan ialah penerapan kuasa pembunuh dari firman ke dalam kita untuk me-nanggulangi unsur-unsur musuh yang ada di batin kita.

Jika Anda merenungkan pengalaman rohani Anda, Anda akan menyadari bahwa serangan musuh atas Anda kebanyakan berasal dari dalam. Panah-panah api kebanyakan tidak datang dari musuh di luar, melainkan dari musuh di dalam. Jika Anda mengasingkan diri, Anda akan diserang dari dalam oleh panah-panah api lawan. Dengan ini kita nampak bahwa kita harus menghadapi lawan dan musuh. Dalam pengalaman kita, pada akhirnya kita akan menyadari bahwa musuh kita yang tersulit ialah diri (ego) kita. Ego adalah musuh kita yang terja-hat. Sering kali kita tergoda bukan oleh musuh yang obyektif, tetapi oleh ego, yaitu diri kita sendiri.

MEMBUNUH LAWAN

MELALUI DOA-BACA FIRMAN

Karena ego merupakan musuh yang terbesar, maka kita perlu mengalami kuasa pembunuh dari firman Allah. Ketika kita melakukan doa-baca, kita akan beroleh makanan di satu pihak, tetapi ada beberapa unsur akan terbunuh di pihak lain. Boleh jadi Anda diganggu oleh kecurigaan, kebencian, kecemburuan, kesombongan, atau keegoisan. Tahukah Anda bahwa hal-hal itu dapat terbunuh melalui doa-baca firman? Semakin kita menerima firman bersama kuasa pembunuhnya, maka kesombongan kita dan semua unsur negatif yang di dalam kita akan semakin dimatikan. Melalui doa-baca, lawan yang di da-lam itu akan terbunuh. Setelah sesaat melakukan doa-baca firman, kita nampak bahwa lawan yang menyerang kita akan lenyap. Lawan-lawan itu dengan praktis telah terbunuh oleh firman yang kita terima ke dalam kita.

Jangan mengira medan perang rohani itu berada di luar kita. Medan perang berada di dalam kita; khususnya dalam pikiran kita. Semua unsur lawan dapat ditemukan dalam pikiran. Cara untuk membunuh mereka ialah melakukan doa-baca firman. Ketika kita melakukan doa-baca firman, unsur lawan yang ada dalam pikiran kita akan terbunuh satu per satu. Dengan cara inilah kita akan meraih kemenangan.

CARA YANG RIIL UNTUK MEMBUNUH

UNSUR-UNSUR NEGATIF

Orang Kristen hari ini sering kabur dan tidak tegas terhadap masalah-masalah. Mereka mungkin membicarakan masalah-masalah seperti kesatuan, kesucian, kasih, atau kedatangan Tuhan, tetapi sering kali mereka tidak tegas atau tidak tuntas, sehingga tidak dapat menjamahnya. Situasi di antara kita dalam pemulihan Tuhan harus berbeda. Kita harus tegas dan tuntas dalam pengalaman kita terhadap Tuhan. Banyak di antara kita dapat bersaksi, ketika kita melakukan doa-baca firman, kita ditangkap oleh Tuhan. Misalkan seorang yang sedang berurusan dengan istrinya, mungkin mendoabacakan perkataan Paulus tentang suami mengasihi istri. Semakin ia mendoabacakan ayat ini, ia semakin merasa bahwa kasih kepada istrinya sedang disalurkan ke dalamnya secara riil, dan menelan unsur negatif dari problemnya itu.

Sebagai orang-orang yang berada dalam pemulihan Tuhan, kita harus riil. Kita tidak boleh hanya memiliki teori-teori yang menumpuk, tetapi kita perlu satu jalan untuk mempraktekkan teori-teori itu. Doa-baca merupakan satu cara yang riil untuk membunuh unsur-unsur negatif di dalam kita. Semakin kita menerima firman Allah melalui segala doa dalam roh, hal-hal negatif dalam kita akan semakin dimatikan. Karena itu, doa-baca tidak saja merupakan pesta, juga merupakan satu cara untuk berperang. Ketika kita melakukan doa-baca, peperangan pun berkecamuk, sebab unsur-unsur negatif dalam diri kita sedang dibunuh. Pada akhirnya, ego, musuh yang terjahat akan dimatikan. Bila hal-hal negatif dalam kita telah terbunuh melalui doa-baca, Tuhan akan menang. Karena Dia menang, kita juga menang.

Perhatian saya dalam berita ini tidak hanya membeberkan Efesus 6 secara obyektif, melainkan membantu kita semua mengalami Kristus secara subyektif sebagai semua aspek perlengkapan senjata, terutama sebagai pedang Roh itu. Kita telah berkali-kali menunjukkan bahwa doa-baca adalah cara untuk membunuh lawan kita yang di dalam. Setiap hari dan dalam setiap macam situasi kita harus melakukan doa-baca. Kapan saja kita diganggu oleh sesuatu yang negatif di dalam kita, terimalah pedang Allah melalui berdoa dalam roh. Bila kita melakukan hal ini, unsur negatif itu akan terbunuh.

Dalam Efesus 5 firman berfungsi sebagai makanan yang akan memperelok mempelai perempuan. Tetapi dalam Efesus 6 firman berfungsi sebagai pembunuh yang memungkinkan gereja sebagai pejuang korporat melakukan peperangan rohani. Melalui firman pembunuh ini, lawan dalam batin kita akan terbunuh. Adakalanya kita meraih kemenangan atas musuh secara obyektif, tetapi kita dikalahkan oleh lawan secara subyektif. Walau kita bisa bergembira karena musuh yang di luar telah melarikan diri, tetapi kita tetap diganggu oleh lawan yang masih bercokol di dalam kita. Karena itu, kita harus lebih menaruh perhatian terhadap lawan yang bersembunyi di batin kita. Marilah kita membunuh lawan melalui mendoabacakan firman.

BERKAT DALAM PEMULIHAN TUHAN

Ketika kita membahas semua berita tentang Kitab Efesus ini, kita harus bersyukur kepada Tuhan karena kita berada dalam pemulihan. Alangkah berkatnya kita berada dalam pemulihan Tuhan! Dari hari ke hari kita menikmati kepuasan yang di batin ketika kita maju ke depan di bawah berkat-Nya. Tuhan akan menang, Dia akan memperoleh seluruh kedudukan di batin kita, dan Dia akan mempersiapkan jalan bagi kembali-Nya.

?

PELAJARAN HAYAT

SURAT FILEMON

BERITA

01 02