MENGIKIS PERATURAN-PERATURAN
Pembacaan Alkitab: Ef. 2:11-22
Kita mudah mengerti bagian-bagian Alkitab yang cocok dengan konsepsi alamiah kita. Misalnya, kita mudah mengerti ayat-ayat yang mengatakan kita berdosa, kita adalah orang-orang berdosa yang berada di bawah hukuman Allah, dan kita memerlukan pengampunan Allah. Akan tetapi, dalam Efesus 2:11-22 terdapat banyak masalah yang tidak cocok dengan konsepsi alamiah kita. Sebab itu, ketika orang-orang Kristen membaca Kitab Efesus, bagian ini tidak dipahami dengan memadai.
DEKAT OLEH DARAH KRISTUS
Salah satu masalah yang berbeda dengan konsepsi alamiah kita terdapat dalam ayat 13. Di sini kita nampak bahwa di dalam Kristus Yesus, kita “yang dahulu ‘jauh’, sudah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.” Dekat dengan siapa? Kita telah menjadi dekat dengan Allah dan dekat dengan satu sama lain. Namun, penekanan dalam ayat ini adalah melalui darah Kristus yang menebus kita, mengembalikan kita kepada Allah, kita menjadi dekat satu sama lain. Menurut ayat 12, ketika kita di luar (tanpa) Kristus kita “tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia.” Jika kita membahas ayat 13 dalam terang ayat 12, kita akan memahami bahwa yang ditekankan di sini adalah agar satu sama lain menjadi dekat. Karena kita telah jatuh, maka kita telah jauh dari Kristus, jauh dari kewargaan Israel, dan jauh dari janji-janji yang diberikan Allah. Tetapi darah penebusan Kristus telah membawa kita kembali. Karena itu, oleh darah Kristus kita telah menjadi dekat, baik dengan Allah maupun dengan sesama umat Allah.
INJIL DAMAI SEJAHTERA
Satu ungkapan lain yang tidak lazim terdapat dalam ayat 17, “Ia datang dan memberitakan damai sejahtera kepada kamu yang ‘jauh’ dan damai sejahtera kepada mereka yang ‘dekat’.” Subyek ayat ini adalah Kristus, yaitu “yang merubuhkan tembok pemisah, yang membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, dan yang memperdamaikan orang Yahudi dan kafir kepada Allah dalam satu Tubuh oleh salib” (ayat 15-16). Dialah yang memberitakan Injil damai sejahtera kepada kita yang jauh. Inilah kedatangan Kristus sebagai Roh itu untuk memberitakan kabar baik Injil (kabar baik) tentang damai sejahtera yang telah Ia rampungkan melalui salib-Nya. Ketika Paulus pergi ke Efesus, Kristus pergi bersamanya. Kepergian Paulus adalah kepergian Kristus. Setelah masuk ke dalam Paulus sebagai Roh itu, Kristus memberitakan Injil damai sejahtera.
Menurut ayat ini, Kristus terutama tidak memberitakan pengampunan atau keselamatan, melainkan Injil tentang damai sejahtera di antara umat manusia. Pernahkah Anda menyadari bahwa damai sejahtera yang demikian berkaitan dengan Injil? Injil damai sejahtera ini tidak saja meliputi damai sejahtera di antara manusia dengan Allah, tetapi khususnya antar manusia. Misalnya, perlu ada damai sejahtera antara orang Jerman dengan orang Prancis, antara orang China dengan orang Jepang. Sebagaimana terdapat perseteruan antara orang Yahudi dengan orang kafir pada masa Paulus, begitu pula ada perseteruan di antara manusia-manusia pada hari ini. Di antara bangsa-bangsa yang berbeda-beda tidaklah terdapat damai yang sejati, malahan ada permusuhan. Jadi ada satu keperluan yang mendesak, yaitu tidak saja memberitakan Injil tentang pengampunan, pembenaran, keselamatan, anugerah, dan kelahiran kembali, juga Injil damai sejahtera.
Sebelum penciptaan dunia, Allah telah memilih manusia dari berbagai bangsa untuk menjadi bagian dari satu Tubuh dan satu manusia baru. Di bawah kedaulatan Allah, manusia-manusia yang berbeda-beda ini telah dimasukkan ke dalam hidup gereja. Menurut susunan alamiah, mustahillah orang China bersatu dengan orang Jepang, atau orang Prancis bersatu dengan orang Jerman. Satu-satunya jalan untuk menyatukan orang-orang yang berbeda-beda itu ialah melalui menerima Injil damai sejahtera. Pada suatu hari, Tuhan Yesus datang dan memberitakan Injil damai sejahtera ini kepada kita. Hasilnya, kita menyadari bahwa kita sekarang bersatu dengan kaum saleh dari setiap suku dan bangsa. Hari ini semua orang yang percaya Kristus memiliki satu sumber, dan sumber ini adalah Kristus sendiri. Sumber kita tidak lagi kebudayaan atau kebangsaan kita, melainkan Kristus, dan Kristus semata. Dahulu kita telah terpecah belah oleh sumber kita yang berbeda-beda, tetapi sekarang kita telah bersatu dalam Kristus sebagai satu-satunya sumber kita.
Membicarakan masalah ini memang mudah, tetapi mempraktekkannya tidak mudah. Di atas salib Kristus telah membatalkan semua ketentuan, dan kemudian Ia datang memberitakan Injil damai sejahtera kepada kita. Tetapi setelah kita diselamatkan dan dimasukkan ke dalam Kristus sebagai satu-satunya sumber, ketentuanketentuan itu muncul lagi.
DIBAWA KEMBALI
Dalam ayat 11-12 Paulus menyuruh kita mengingat situasi kita sebelum kita diselamatkan. Ia mengingatkan kita betapa kita dahulu sebagai orang kafir menurut daging, yaitu orang-orang “yang disebut orang-orang tak bersunat oleh mereka yang menamakan dirinya ‘sunat’, yaitu sunat lahiriah yang dikerjakan oleh tangan manusia.” Ia juga mengingatkan kita betapa kita waktu itu tanpa (di luar) Kristus, tidak termasuk kewargaan Israel, dan tidak mendapat bagian dalam ketentuan-ketentuan yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Ayat 13 diawali dengan kata-kata “Tetapi sekarang di dalam Kristus Yesus.” Kata-kata ini menunjukkan suatu perubahan sumber. Dahulu kita di luar Kristus, sekarang kita di dalam dan memiliki Kristus. Di dalam Kristus Yesus, kita yang dahulu ‘jauh’ telah menjadi ‘dekat’ oleh darah Kristus.
Mengapa Paulus menghubungkan darah Kristus dengan menjadi dekatnya kita satu sama lain? Hal ini mengingatkan kita sebelum kita menjadi dekat, kita berada di tengah-tengah orang yang telah jatuh. Kita perlu ditebus dan dibawa kembali oleh darah Kristus yang mustika. Karena kejatuhanlah maka umat manusia telah terpecah belah dan berserakan. Karena kita telah jatuh, maka kita perlu ditebus dan dibawa kembali kepada Allah. Penebusan telah dirampungkan oleh darah Kristus. Dalam ayat ini darah melambangkan penebusan. Sebagai umat tebusan, kini kita telah menjadi umat yang dibawa kembali. Ketika kita jatuh, kita terpecah belah dan berserakan, tetapi setelah ditebus dengan Kristus yang mustika, dengan spontan kita telah menjadi dekat de-ngan Allah juga dengan sesama kita.
DAMAI SEJAHTERA KITA
Dalam ayat 14 Paulus mengatakan lebih lanjut, “Dia-lah damai sejahtera kita.” Kata “kita” ditujukan kepada manusia yang berbeda-beda, yaitu kaum beriman Yahudi dan kafir. Damai sejahtera yang dikatakan di sini bukan damai sejahtera antara manusia dengan Allah, melainkan antara manusia dengan manusia. Setelah menggenapkan penebusan yang sempurna bagi kita, Kristus sendiri menjadi damai sejahtera kita dan keserasian kita. Setelah Allah memanggil suku bangsa pilihan keluar dari manusia yang jatuh, di antara Israel dengan bangsa-bangsa lain terjadi suatu pemisahan. Tetapi melalui penebusan Kristus, pemisahan itu telah disingkirkan. Karena itu, dalam Kristus yang menebus kita, kita sekalian telah menjadi satu. Karena alasan ini, maka Paulus berkata bahwa Kristus “telah mempersatukan kedua pihak”. Kata “kedua pihak” ditujukan kepada kaum beriman Yahudi dan kafir.
MENCIPTAKAN SATU MANUSIA BARU
Dalam bagian selanjutnya dari ayat 14-15 Paulus mengumumkan bahwa Kristus telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, dan “dengan kematian-Nya sebagai manusia Ia telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya, untuk menciptakan keduanya menjadi satu manusia baru di dalam diri-Nya, dan dengan itu mengadakan damai sejahtera.” Ketika Kristus disalibkan, semua ketentuan turut terpaku di atas salib. Ia merubuhkan tembok pemisah melalui pembatalan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya. Sasaran perbuatan-Nya yang demikian ini ialah menciptakan orang Yahudi dan orang kafir menjadi “satu manusia baru di dalam diri-Nya”. Melalui Kristus membatalkan ketentuan-ketentuan hukum Taurat dan menciptakan kaum beriman Yahudi dan kaum beriman kafir menjadi satu manusia baru, maka terciptalah damai sejahtera di antara semua orang beriman. Sekali lagi kita nampak bahwa damai sejahtera dalam bagian firman ini berarti damai sejahtera di antara orang-orang yang percaya kepada Kristus.
Dalam ayat 16 Paulus mengatakan bahwa orang Yahudi dan orang kafir telah diperdamaikan kepada Allah dalam satu Tubuh oleh salib. Lalu dalam ayat 17 ia mengatakan bahwa Kristus memberitakan Injil damai sejahtera kepada mereka yang jauh, yakni orang kafir, dan yang dekat, yakni orang Yahudi. Hasilnya adalah “melalui Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa” (ayat 18). Semua konsepsi yang terkandung dalam ayat-ayat ini tidak terdapat dalam pengertian alamiah kita. Karena itulah kita perlu diterangi oleh Tuhan, agar kita dapat memahaminya.
KAWAN SEWARGA DAN
ANGGOTA-ANGGOTA KELUARGA
Dalam ayat 19 Paulus meneruskan, “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah.” Frase “kawan sewarga dari orang-orang kudus” ini menunjukkan Kerajaan Allah, dan “anggota-anggota keluarga Allah” menunjukkan rumah, keluarga Allah. Di satu aspek, kita adalah warga kerajaan, di aspek lain, kita adalah anggota keluarga. Keluarga merupakan masalah hayat dan kenikmatan, sedang kerajaan merupakan masalah hak dan kewajiban.
SEGALA PERBEDAAN TERHAPUS OLEH SALIB
Hal yang menjadi beban dalam kita untuk ditekankan dalam berita ini ialah Kristus telah menghapus segala ketentuan di atas salib. Ketentuan-ketentuan itu berkaitan dengan perbedaan-perbedaan di antara umat manusia. Banyak orang Kristen mengetahui bahwa di atas salib Kristus telah menanggulangi dosa, daging, ego, manusia lama, dunia, dan Iblis. Tetapi tidak banyak yang memahami betapa Kristus di atas salib juga telah menanggulangi ketentuan-ketentuan. Haleluya! Semua ketentuan telah dihapus! Salib telah menanggulangi dosa sehingga kita beroleh selamat; telah menanggulangi dunia, manusia lama, daging, dan ego, sehingga kita dikuduskan; dan telah menanggulangi Iblis, Satan, agar kita beroleh kemenangan. Sekarang, kita nampak bahwa salib pun telah menghapus ketentuan-ketentuan, agar kita menjadi satu manusia baru.
Walaupun ditinjau dari ciri khas jasmani kita masing-masing berbeda, tetapi sebenarnya tidak boleh lagi ada perbedaan apa pun di antara orang-orang yang ber-ada dalam satu manusia baru. Menurut Kolose 3:11, dalam manusia baru, “tidak ada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Dalam manusia baru ini tidak saja tidak terdapat manusia alamiah, bahkan tidak ada kemungkinan untuk menjadi manusia alamiah yang mana pun. Dalam manusia baru ini hanya ada satu persona — Kristus yang adalah semua dan di dalam segala sesuatu. Perbedaan-perbedaan di antara manusia telah terhapus oleh salib. Alangkah indahnya Injil ini! Ketentuan-ketentuan yang dahulu pernah memecah belah manusia kini telah dibatalkan, dan sekarang kita memiliki damai sejahtera yang sejati. Kita bukan lagi orang asing — kita adalah kawan sewarga dari orang-orang kudus. Kita bukan lagi pendatang — kita adalah anggota-anggota keluarga Allah. Kita semua adalah warga Kerajaan Allah dan kerabat keluarga Allah.
Di dalam roh yang telah berbaur, wahyu ini akan menjadi riil bagi kita. Di dalam roh, kita adalah satu manusia baru di dalam Kristus. Tetapi bila kita memikirkan situasi kita melalui analisis dalam pikiran, maka perbedaan-perbedaan alamiah itu akan menjadi nyata lagi. Mereka yang berasal dari suatu negara atau daerah mungkin menganggap dirinya lebih unggul daripada orang lain. Hal ini akan memberi suatu perasaan kepada orang lain bahwa mereka adalah pendatang atau orang asing. Demikian pula bila mereka yang berasal dari gereja lokal tertentu menganggap gerejanya lebih unggul. Jika kita setia terhadap visi dalam bagian-bagian firman ini, kita harus tinggal dalam roh di mana kita akan mengalami pembangunan yang sejati dengan orang lain. Jadi kesimpulan Paulus dalam pasal ini ialah baik secara universal maupun lokal gereja seharusnya terbangun menjadi tempat kediaman Allah di dalam roh.
MENYUPLAIKAN HAYAT DALAM SEMUA SIDANG
Kita tidak seharusnya memiliki ketentuan-ketentuan apa pun dalam sidang. Kita mungkin menikmati pembebasan roh dengan suatu cara yang khas, tetapi kita tidak boleh bersikeras agar orang lain mengikuti cara-cara itu. Sekalipun dalam sidang-sidang di tempat tertentu ada cara-cara yang sangat berbeda dengan cara-cara yang biasa kita lakukan, kita tetap harus bisa menyuplaikan hayat dan menyuplaikan kekayaan Kristus kepada orang lain. Selain itu, kita juga harus bersedia menerima bantuan dari orang lain. Dengan cara demikian kita akan memiliki persekutuan yang sejati dan mengalami suatu suplai secara timbal balik.
Kita bahkan tidak boleh membiarkan istilah-istilah yang sering kita pakai menjadi suatu hambatan persekutuan. Mungkin orang Kristen lain tidak mengenal kata “ekonomi”. Jika demikian, kita mungkin lebih baik mengatakan “kehendak” Allah, daripada mengatakan “ekonomi” Allah. Kita mungkin membagi-nikmat kepada orang lain dengan mengatakan bahwa kehendak Allah ialah menggarapkan Kristus ke dalam kita. Kita boleh mengutip Efesus 3:17 untuk membuktikan inti pembi-caraan kita; ayat tersebut mengatakan tentang Kristus berumah di dalam hati kita.
Kita wajib senantiasa memusatkan perhatian kita kepada Kristus dan tidak terlibat dalam perdebatan tentang doktrin atau praktek-praktek. Memang, untuk mengetahui bagaimana menyuplaikan Kristus kepada orang lain dengan cara yang demikian kita harus banyak belajar dan banyak mengalami. Namun demikian, yang terpenting bagi kita ialah belajar bagaimana menyesuaikan diri dengan sidang-sidang yang berbeda dengan sidang kita dan bagaimana berfungsi dengan wajar dalam sidang-sidang tersebut. Misalkan mereka yang di lokal tertentu mempraktekkan doa atau kesaksian yang panjang, kita harus mengikuti saja cara mereka, jangan mempertahankan doa dan kesaksian yang pendek dan singkat. Jika kita mempertahankan cara doa dan kesaksian kita, kita akan melukai orang lain dan menyebabkan mereka berpikiran yang tidak-tidak, yaitu mengira kita orang asing atau orang yang aneh.
Kita semua perlu belajar menyuplaikan hayat dalam segala macam persidangan orang Kristen. Jangan sekali-kali meremehkan cara sidang yang berbeda dengan cara sidang kita. Sebaliknya, dalam sidang mana pun kita harus dapat menyalurkan kekayaan Kristus ke dalam kaum saleh. Jika kita telah benar-benar menggusur semua ketentuan dalam pengalaman kita, kita akan dapat melakukan hal ini. Untuk kesatuan dan untuk penyuplaian hayat, kita harus dapat menyesuaikan diri dengan cara-cara yang dipraktekkan oleh orang lain di dalam sidang mereka.
Jangan hanya karena suatu gereja lokal menekankan karunia-karunia Pentakosta, lalu kita menganggap mereka bukan gereja lokal yang wajar. Asalkan mereka memiliki tumpuan gereja, mereka adalah gereja di lokal itu, sekalipun sidang-sidang mereka itu penuh dengan aktivitas yang sering dihubungkan dengan golongan Penta-kosta. Jika mereka adalah orang-orang Kristen sejati yang telah nampak jalan gereja dan telah mulai mem-praktekkan hidup gereja, kita harus mengakui mereka sebagai gereja. Boleh jadi sidang-sidang mereka berbeda dengan sidang kita, tetapi itu tidak berarti mereka bukan gereja di lokal itu. Kalau Anda bersikeras menganggap mereka bukan gereja lokal yang sejati, mereka mungkin mengatakan demikian pula terhadap gereja di lokal Anda. Jika Anda terlibat dalam perdebatan mengenai cara bersidang, Anda mungkin mengaku atau menganggap cara Anda benar, tetapi mereka pun mungkin bersikeras menganggap praktek mereka juga benar. Terlibat dalam perdebatan yang demikian berarti sekali lagi terlibat dalam ketentuan-ketentuan. Jika kita berpegang pada ketentuan-ketentuan tertentu dan mempertahankan praktek-praktek tertentu, kita segera menjadi sekte. Karena itu, untuk hidup gereja yang wajar, kita harus mengesampingkan semua ketentuan dan memusatkan perhatian kita hanya pada menyuplaikan Kristus kepada kaum saleh.
KEHIDUPAN GEREJA
TANPA KETENTUAN-KETENTUAN
Dalam pemulihan Tuhan kita tidak berniat membentuk suatu denominasi lain. Sebaliknya kita perlu diselamatkan dari semua perpecahan dan menerima semua orang Kristen yang sejati. Dalam sidang kita boleh mempraktekkan doa-baca dan menyeru nama Tuhan, tetapi kita tidak boleh membiarkan praktek-praktek itu menjadi suatu ketentuan. Mungkin saja pada tahun-tahun yang mendatang Tuhan akan memberi kita praktek-praktek yang baru yang berkaitan dengan membebaskan roh. Iman kita dalam Kristus dan kepercayaan kita kepada Alkitab tidak dapat diubah, tetapi cara-cara bersidang kita harus senantiasa terbuka untuk menerima sesuatu yang baru dan yang lebih baik dari Tuhan. Dengan demikian kita akan mempraktekkan hidup gereja tanpa berpegang pada ketentuan apa pun.