← Daftar isi Efesus (3) · bab 13/23

KETENTUAN-KETENTUAN LAWAN KRISTUS

Pembacaan Alkitab: Ef. 2:11-22

SALIB MENANGGULANGI KETENTUAN-KETENTUAN

Efesus 2 adalah satu pasal yang penting, karena mewahyukan bahwa Kristus mati di atas salib untuk menciptakan satu manusia baru di dalam diri-Nya. Agar manusia baru dapat terlahir, maka hukum dan segala perintah dan ketentuan-ketentuannya harus dibatalkan. Orang-orang Kristen memahami bahwa di atas salib Kristus menanggulangi dosa, manusia lama, daging, dunia, dan Iblis. Tetapi jarang sekali orang Kristen nampak bahwa di atas salib Kristus juga menanggulangi ketentuan-ketentuan.

Agak mudah untuk memahami bahwa salib Kristus menanggulangi dosa. Mudah pula untuk memahami bahwa manusia lama dan daging adalah problem yang ditanggulangi oleh salib. Demikian pula, ketika kita membaca dalam Perjanjian Baru bahwa kematian Kristus menanggulangi dunia dan Iblis, kita tidak mempunyai problem dalam memahami kebenaran-kebenaran tersebut. Akan tetapi, kita mungkin tidak menyadari bahwa ketentuan-ketentuan juga menimbulkan suatu problem yang serius.

Ketentuan-ketentuan berkaitan dengan berbagai cara hidup dan penyembahan. Semua itu tampaknya tidak negatif. Sebaliknya tampaknya sangat baik. Misalnya ada beberapa ketentuan yang berkaitan dengan sopan santun dalam hal makan minum. Siapakah dapat mengatakan tidak baik jika kita menetapkan peraturan yang sewajarnya ketika kita bersantap? Tetapi, orang yang berbeda-beda itu memiliki sopan santun yang berbeda-beda pula. Karena itu, peraturan cara makan dapat menjadi suatu sumber perpecahan dan perseteruan di antara sesama manusia.

Ketentuan-ketentuan juga ada dalam masalah penyembahan. Orang Yahudi menyembah Allah menurut ketentuan-ketentuan mereka; penganut agama lain juga menyembah menurut peraturan-peraturan mereka. Demikian pula dengan berbagai macam denominasi pada hari ini. Karena kelihatannya membantu, maka kita sulit mengakui bahwa ketentuan itu juga perlu ditanggulangi oleh salib.

PENEBUSAN BERKAITAN DENGAN

KEHENDAK ALLAH

Kejatuhan umat manusia merupakan sumber segala ketentuan. Jika manusia tidak jatuh, hari ini tidak akan ada ketentuan. Setelah Allah menciptakan manusia, Ia tidak memberinya sebuah daftar ketentuan. Tetapi setelah manusia jatuh, maka ketentuan-ketentuan mulai ada. Lalu, di Babel, manusia yang diciptakan oleh Allah bagi kehendak-Nya itu telah terpecah belah dan berserakan menjadi sejumlah suku dan bangsa yang mulai berperang satu sama lain. Hal ini menyulitkan tergenapnya rencana kekal Allah.

Jika kita memandang penebusan Kristus dari sudut kehendak Allah, konsepsi kita terhadap penebusan akan diperluas. Kebanyakan orang Kristen hanya memandang penebusan Kristus dari aspek keselamatan pribadi mereka saja. Mereka tidak memperhatikan penggenapan kehendak Allah, tetapi hanya memperhatikan keselamatan dari neraka dan jaminan untuk dapat menempuh alam kekal di surga kelak. Konsepsi mereka atas kematian Kristus di atas salib terlalu sempit. Penting sekali bagi kita untuk nampak bahwa kehendak kekal Allah ialah menyalurkan diri-Nya sendiri ke dalam manusia dan menjadi satu dengan manusia, agar Ia dapat mengekspresikan diri-Nya melalui manusia. Namun Iblis telah berusaha menggagalkan penggenapan kehendak Allah dengan merusak manusia melalui memecah belahnya men-jadi bangsa yang berbeda-beda dan yang saling berperang. Kristus datang menebus manusia yang telah jatuh sehingga kehendak Allah dapat digenapkan, bukan hanya agar kita bisa beroleh selamat dari neraka dan terjamin masuk ke surga. Untuk menebus manusia yang terpecah belah ini, Kristus telah mati di atas salib dan menanggulangi segala hal yang negatif, termasuk ketentuan-ketentuan. Di atas salib Kristus telah membatalkan segala ketentuan tentang kehidupan dan penyembahan, yaitu ketentuan-ketentuan yang telah memecah belah bangsa-bangsa. Allah tidak memperhatikan ketentuan yang mana pun. Ia hanya memperhatikan agar kita bersatu dan Kristus digarapkan ke dalam kita. Kristus membatalkan segala ketentuan bukan supaya kita bisa masuk ke surga atau menjadi orang yang rohani dan menang. Ia membatalkan ketentuan-ketentuan tidak lain untuk menciptakan satu manusia baru yang korporat dalam diri-Nya. Ia menciptakan manusia baru bukan hanya di dalam diri-Nya sendiri sebagai lingkungannya, tetapi juga dengan diri-Nya sendiri sebagai unsurnya. Melalui membatalkan ketentuan-ketentuan dan mencip-takan kaum beriman Yahudi dan kafir menjadi satu manusia baru, maka Kristus telah mengadakan damai sejahtera. Kini manusia yang berbeda-beda kebangsaannya telah memiliki damai sejahtera di dalam Kristus.

DI DALAM KRISTUS

Dalam Efesus 2:11-12 Paulus mengingatkan kita tentang situasi kita ketika kita terpisah dari Kristus. Kita tidak termasuk kewargaan Israel dan tidak menda-pat bagian dalam janji-janji yang dijanjikan, tanpa pengharapan dan tanpa Allah di dalam dunia. Kita tidak ada sasaran, dan tidak ada Allah. Tetapi pada suatu hari kita dipanggil oleh Allah, dan kita menjawab panggilan-Nya melalui menyeru nama Tuhan Yesus. Ketika kita berbuat demikian, Allah Tritunggal masuk ke dalam kita. Tidak peduli ke mana saja kita pergi, sekalipun kita mencoba melarikan diri dari Tuhan atau tidak mau lagi percaya kepada-Nya, Ia senantiasa beserta kita. Alangkah ajaib-nya kita telah terlibat di dalam Kristus! Tetapi, sekalipun nampaknya hal tersebut tidak begitu ajaib dalam pengalaman kita, kita tidak dapat keluar dari Dia. Kita mungkin mencoba meninggalkan Dia, tetapi Dia tidak mungkin meninggalkan kita.

Sebagai orang-orang yang telah diselamatkan, kita kini berada di dalam Kristus. Ia adalah ruang lingkup dan sumber kita. Kini di dalam Kristus Yesus, kita yang dahulu jauh dari Allah dan jauh dari sesama kita, telah menjadi dekat oleh darah Kristus. Seperti dikatakan dalam ayat 14, Kristus itu sendiri yang adalah damai sejahtera kita telah menjadikan kita esa dan telah merubuhkan tembok pemisah itu. Dia telah memperdamaikan kita kepada Allah di dalam satu Tubuh, dan Dia telah datang memberitakan Injil damai sejahtera kepada kita (ayat 16-17). Sebagai akibatnya, kita bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah (ayat 19).

Walaupun Kristus adalah ruang lingkup kita, sumber kita, dan damai sejahtera kita, dan walau Dia telah membatalkan ketentuan-ketentuan, tetapi banyak orang Kristen tetap berpegang pada ketentuan-ketentuan tertentu. Dalam praktek-praktek mereka, mereka lebih memperhatikan ketentuan-ketentuan daripada Kristus. Banyak orang Kristen mengabaikan Kristus dan memperhatikan ketentuan-ketentuan yang justru telah dibatalkan oleh Tuhan di atas salib. Kasihan sekali keadaan yang demikian!

DIBANGUN DI ATAS KRISTUS SEBAGAI DASAR

Sekarang kita berada di dalam Kristus. Dia seharus-nya menjadi satu-satunya dasar yang di atasnya kita dibangun. Dalam Efesus 2:20 Paulus menyinggung dasar para rasul dan nabi. Ini ditujukan kepada Kristus yang kepadanya rasul percaya dan yang disuplaikan kepada orang lain. Dasar Musa adalah hukum Taurat, dasar nabi adalah nubuat, namun satu-satunya dasar para rasul dan nabi adalah Kristus. Dalam 1Korintus 3:11 Paulus berkata, “Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Dasar dalam Efesus 2 tidak berkaitan dengan ketentuan-ketentuan yang mana pun; itu adalah Kristus sendiri. Dasar agama Yahudi terdiri atas Sabat, sunat, dan peraturan-peraturan tentang makanan. Tetapi ketika para rasul datang menunaikan tugas mereka, satu-satunya dasar yang mereka letakkan ialah Kristus yang hidup ini.

Gereja dibangun di atas Kristus, bukan di atas ketentuan atau peraturan. Tetapi hari ini berbagai denominasi memiliki dasar selain Kristus. Misalkan denominasi Baptis, selain Kristus mereka memiliki baptisan celup sebagai satu dasar. Denominasi-denominasi itu mempunyai sesuatu selain Kristus yang menjadi dasar mereka. Gereja justru telah terpecah belah karena adanya ketentuan yang berbeda-beda yang digunakan sebagai dasar.

Semoga Tuhan mencelikkan mata kita agar kita nampak betapa mengerikan jika kita mempertahankan ketentuan. Kita mungkin mengaku telah nampak gereja, dan kita mungkin mengumumkan bahwa kita bersidang sebagai gereja lokal. Namun jika kita tetap mempertahankan praktek-praktek khusus, praktek-praktek itu akan menjadi ketentuan, dan dengan spontan tumpuan keesaan kita ini akan rusak, bahkan akan lenyap. Akibatnya, kita bukan bersidang di atas tumpuan keesaan, melainkan di atas tumpuan ketentuan. Kalau ketentuan tertentu menjadi tumpuan kita, kita bukan lagi gereja, melainkan sekte. Bila kita mempertahankan praktek-praktek khusus, kita akan kehilangan tumpuan keesaan yang unik. Itulah sebabnya kita tidak boleh mempertahankan praktek-praktek seperti doa-baca atau menyeru nama Tuhan, sekalipun praktek-praktek tersebut memberi banyak faedah bagi kita.

HAL-HAL YANG HARUS KITA TENTANG

Ada beberapa hal yang harus kita tentang, yaitu penyembahan berhala, perbuatan amoral, perpecahan, dan penyangkalan ke-Allahan Kristus. Dalam gereja mutlak tidak ada tempat bagi berhala. Penyembahan berhala merupakan suatu penghinaan terhadap Allah. Demikian pula, gereja tidak dapat membiarkan tindakan amoral yang merusak kemanusiaan yang diciptakan Allah bagi kehendak-Nya. Selain itu, seorang yang menimbulkan sekte, harus ditolak bila setelah diperingatkan ia tidak mau menghentikan perbuatannya itu. Keempat, kita tidak dapat menerima siapa pun yang tidak mengakui ke-Allahan Tuhan Yesus ke dalam gereja, yaitu orang-orang yang tidak mengakui bahwa Kristus adalah Allah yang berinkarnasi. Keempat hal tersebut di atas merupakan ragi yang harus dibersihkan dari dalam hidup gereja. Namun, selain keempat hal ini, Perjanjian Baru tidak menyuruh kita menolak kaum beriman dengan alasan apa pun. Menurut Roma 14:1, asal seseorang beriman, haruslah kita menerimanya, sekalipun ia lemah. Dalam Perjanjian Baru tidak ada satu tempat yang mengajar kita menolak seseorang kalau ia tidak percaya terhadap baptisan celup. Kita pun tidak dianjurkan menolak saudari-saudari yang tidak mengenakan penudung kepala. Kaum beriman tidak seharusnya ditolak karena ukuran cawan dalam pemecahan roti atau karena praktek pembasuhan kaki. Selain keempat hal yang kita sebutkan di atas itu, dalam hidup gereja tidak ada hukum lain. Kita wajib menerima semua orang saleh dan harus bebas dari ketentuan-ketentuan yang mana pun.

Kristus yang adalah damai sejahtera kita, sumber kita, dan ruang lingkup kita harus menjadi satu-satunya dasar kita. Tidak seharusnya menambah dasar lain yang mana pun kecuali Kristus. Kita harus memeriksa diri kita sendiri dalam masalah ini. Apakah kita mempunyai dasar lain kecuali Kristus? Jika kita tidak mempunyai ketentuan apa pun, barulah Kristus menjadi satu-satunya dasar kita.

BATU PENJURU

Kristus juga harus menjadi batu penjuru kita. Sebagai batu penjuru, Ia telah merangkaikan kedua dinding, yaitu kaum beriman Yahudi dan kaum beriman kafir. Dalam Efesus 2 Kristus khusus disebut sebagai batu penjuru (ayat 20). Ketika tukang-tukang bangunan Yahudi menolak Kristus, mereka menolak-Nya sebagai batu penjuru (Kis. 4:11; 1Ptr. 2:7) yang merangkaikan orang-orang kafir dengan mereka untuk pembangunan rumah Allah.

Jika kita hanya berpegang pada Kristus yang almuhit, bukan pada ketentuan-ketentuan yang mana pun, Ia akan menjadi batu penjuru untuk merangkaikan kita bagi pembangunan tempat kediaman Allah.

GEREJA UNIVERSAL DAN GEREJA LOKAL

Dalam ayat 21 Paulus mengatakan lebih lanjut, “Di dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang kudus, di dalam Tuhan.” Dalam Kristus yang sebagai batu penjuru, seluruh bangunan, termasuk kaum beriman Yahudi dan kaum beriman kafir tersusun bersama dengan rapi dan bertumbuh menjadi bait Allah yang Kudus. Bait ini merupakan gereja universal. Seperti akan kita lihat nanti bahwa ayat 22 ditujukan kepada gereja lokal.

Setiap gereja lokal tidak seharusnya bersikap independen, dan tidak seharusnya menutup diri satu sama lain. Jika kita bersikap independen, kita akan menjadi sekte lokal, bukan gereja lokal. Dalam alam semesta, Kristus hanya memiliki satu Tubuh. Jika setiap gereja lokal merupakan satu tubuh yang independen bagi Kristus, ini berarti Kristus memiliki banyak tubuh. Tidak peduli ada berapa banyak gereja lokal, Kristus tetap hanya mempunyai satu Tubuh. Karena itu, gereja-gereja lokal perlu tersusun bersama dan bertumbuh menjadi satu bait yang universal. Di dalam Kristus sebagai dasar dan batu penjuru ini, seluruh bangunan, gereja universal, tersusun rapi bersama dan bertumbuh terus di dalam Tuhan.

Sementara orang yang bersikap independen terhadap gereja di lokal mereka mungkin akan menunjukkan perbedaan antara ketujuh gereja dalam Wahyu 2 dan 3 sebagai pembenaran mereka atas sikap mereka itu. Namun, ketujuh gereja sebagai tujuh kaki pelita merupakan benda yang sama dalam sifat, substansi, dan bentuknya. Selain itu, Yerusalem Baru dalam alam baka pun memiliki corak dan materi yang sama pada keempat sisinya. Gereja-gereja lokal tidak seharusnya terorganisir. Tetapi jika seluruh gereja hanya berpegang kepada Kristus, mereka akan tersusun bersama dengan rapi menjadi bangunan Allah yang universal.

Misalkan gereja-gereja di suatu tempat bersikap sebagai gereja-gereja lokal yang independen, mereka lalu ingin maju sendiri-sendiri dan tidak mau berhubungan dengan gereja-gereja lokal lainnya. Dalam pandangan Tuhan, mereka akan menjadi sekte lokal. Seluruh gereja wajib berpegang pada Kristus; tersusun bersama dan bertumbuh bersama menjadi satu bait yang kudus di dalam Tuhan. Ketika gereja-gereja tersusun bersama, maka kekayaan apa saja yang dialami satu gereja dengan spontan akan ditransfusikan kepada seluruh gereja lainnya. Sebagai contoh, misalkan seorang dokter menyuntikkan sesuatu ke dalam lengan seseorang, maka unsur yang disuntikkan itu segera tersalur ke seluruh tubuh orang itu. Demikianlah seluruh tubuh menerima manfaat dari suntikan itu. Betapa bodohnya jika ada sementara anggota tubuh menganggap suntikan itu hanya untuk dirinya saja! Apa saja yang diterima oleh satu gereja adalah untuk seluruh Tubuh. Maka, kita tidak boleh mencoba membatasi pengalaman atas Kristus yang mana pun di dalam gereja kita. Kita harus menyadari bahwa apa saja yang kita terima dari Kristus harus disalurkan ke dalam bagian-bagian lain dari Tubuh.

Dalam ayat 22 Paulus berkata, “Di dalam Dia kamu juga turut dibangun menjadi tempat kediaman Allah, di dalam roh.” Kata “juga” di sini menunjukkan bahwa pembangunan dalam ayat 21 bersifat universal dan pembangunan dalam ayat ini bersifat lokal. Menurut konteksnya, bait kudus dalam ayat 21 bersifat universal, sedang tempat kediaman Allah dalam ayat 22 bersifat lokal.

PERCAYA KEPADA KRISTUS

Setelah kita mengatakan tidak berpegang pada ketentuan, melainkan berpegang pada Kristus, mungkin ada orang masih menaruh pertanyaan tentang hal-hal seperti cara-cara pembaptisan. Pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan bahwa mereka sendiri masih memiliki ketentuan. Bahkan mungkin mereka mempertahankan pertanyaan-pertanyaan mereka melalui mengatakan bahwa kita harus riil dan harus mengetahui bagaimana cara membaptis orang-orang yang baru bertobat. Kapan saja kita menghadapi problem yang seriil ini, kita harus ingat kata-kata Paulus dalam ayat 18, “Karena melalui Dia kita kedua pihak dalam satu Roh beroleh jalan masuk kepada Bapa.” Janganlah berdebat, tetapi kembalilah ke dalam roh, berdoa, dan bersekutulah. Tuhan itu dekat, hadir, dan tersedia. Jika kita mencari pimpinan-Nya dengan serius, Ia pasti memimpin kita, dan kita akan mengetahui bagaimana seharusnya kita mengatasi berbagai masalah yang riil itu. Saya dapat bersaksi, bertahun-tahun ini demikian riil, mustika, hadir, dan tersedianya Tuhan bagi kita. Kita hanya perlu membuka diri kepada-Nya terhadap setiap perkara yang bersangkutan dengan kita. Ketika kita berbuat demikian, kita harus rela mengesampingkan konsepsi yang menduduki kita. Setelah itu Tuhan akan memimpin kita dengan cara yang hidup.

Ketika kita memperhatikan masalah gereja, kita wajib ingat bahwa Kristus memelihara dan merawat gereja. Ia lebih memperhatikan gereja daripada kita. Karena itu, kita harus percaya kepada-Nya. Asalkan kita tidak melakukan hal-hal yang berkaitan dengan pemujaan berhala, tindakan amoral, perpecahan, atau menyangkal ke-Allahan Kristus, tidak ada satu kesalahan pun yang begitu serius. Janganlah berusaha menghindari kesalahan melalui berpegang pada ketentuan-ketentuan. Kita harus sepenuhnya percaya kepada Kristus yang almuhit, dan hanya bersandar kepada-Nya. Jika kita percaya kepada hal-hal yang di luar Kristus, hal-hal itu akan menjadi satu ketentuan yang akhirnya akan merusak hidup gereja. Namun, jika kita semua menerima Kristus sebagai segala sesuatu kita, niscaya semua gereja lokal di seluruh dunia akan bertumbuh dan maju dengan sehat.