KETENTUAN-KETENTUAN DAN HIDUP GEREJA
Pembacaan Alkitab: Ef. 2:11-18; Gal. 6:15
Kitab Efesus mewahyukan bahwa ekonomi Allah ialah menggarapkan Kristus ke dalam umat pilihan-Nya untuk menghasilkan gereja. Kitab ini juga mengungkapkan beberapa hal negatif yang merusak hidup gereja. Menurut konsepsi alamiah kita, kita mungkin mengira Kitab Efesus menekankan hal-hal negatif seperti dosa atau keduniawian. Meskipun hal-hal itu juga dibahasnya, namun bukan merupakan faktor utama yang diwahyukan Kitab Efesus sebagai penyebab rusaknya hidup gereja.
Kita semua mudah sekali mengenal bahwa dosa bersifat merusak. Bahkan tanpa membaca Alkitab kita sudah mengetahui bahwa dosa adalah penyebab kerusakan. Karena itu, ketika kita membaca tentang dosa dalam Alkitab kita segera mengerti, sebab konsepsi tentang dosa sudah ada dalam mentalitas alamiah kita. Akan tetapi, jika kita mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan lebih merusak hidup gereja daripada dosa ini, bertentangan dengan konsepsi alamiah kita. Ayat-ayat yang mengatakan tentang ketentuan mungkin sedikit sekali kesannya bagi kita, karena hal itu tidak sesuai dengan konsepsi alamiah kita.
EMPAT KATEGORI HAL-HAL NEGATIF
Apakah faktor utama yang merusak hidup gereja menurut wahyu dalam Kitab Efesus? Kita telah menerangkan walaupun benar-benar merupakan penyebab kerusakan, tetapi dosa bukanlah faktor negatif utama yang tercantum dalam kitab ini. Dalam Kitab Efesus ada empat kategori hal-hal negatif yang merusak hidup gereja. Yang pertama ialah ketentuan-ketentuan. Dalam Efesus 2:14 dan 15 Paulus berkata bahwa Kristus “telah merubuhkan tembok pemisah, yaitu perseteruan, . . . telah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya.” Taurat dengan perintah-perintah yang termasuk dalam ketentuan-ketentuan adalah penyebab perseteruan. Ada ketentuan pasti ada peraturan, dan peraturan-peraturan ini ialah hukum dengan perintahnya. Ini dapat menimbulkan perseteruan. Hari ini masih ada perseteruan di antara orang-orang Kristen yang baik dan rohani, dan perseturuan itu disebabkan oleh ketentuan-ketentuan tentang praktek-praktek tertentu. Sebagai contoh, mereka yang mempraktekkan baptisan celup berseteru dengan yang mempraktekkan baptisan percik. Praktek-praktek itu berhubungan dengan ketentuan-ketentuan berikut hukum perintahnya. Ketentuan-ketentuan itu adalah kategori yang paling utama dari hal-hal negatif yang merusak hidup gereja.
Kategori kedua ialah doktrin. Dalam Efesus 4:14 Paulus berkata bahwa “kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran.” Kata pengajaran di sini mengacu kepada doktrin. Walaupun orang Kristen menganggap doktrin sebagai hal yang positif, tetapi ayat ini menunjukkan dengan jelas bahwa doktrin dapat dipakai untuk menjauhkan kita dari Kristus. Doktrin apa saja, bahkan yang alkitabiah pun, yang menyimpangkan kaum beriman dari Kristus adalah angin pengajaran yang memisahkan mereka dari ekonomi Allah. Karena itu, doktrin dapat merusak kehidupan Tubuh. Jika kita ingin memiliki hidup gereja yang wajar, kita harus mengenal perusakan yang disebabkan oleh doktrin terhadap Tubuh Kristus.
Dalam pasal 4 Paulus lebih lanjut mengatakan tentang manusia lama (ayat 22), kategori ketiga dari hal negatif yang merusak gereja. Manusia lama berasal dari Adam, meskipun diciptakan oleh Allah, tetapi telah jatuh karena dosa. Karena manusia lama menyebabkan begitu banyak kerusakan terhadap hidup gereja, maka kita harus menanggalkan manusia lama, agar kita memiliki praktek yang wajar dalam kehidupan Tubuh Kristus.
Dalam Efesus 5:27 kita nampak kategori negatif yang keempat, yakni cacat dan kerut. Cacat berkaitan dengan hayat alamiah, dan kerut berkaitan dengan ketuaan. Baik cacat maupun kerut keduanya dapat menyebabkan kerusakan yang serius bagi hidup gereja dengan cara subyektif. Gereja mulia yang akan dipersembahkan Kristus kepada diri-Nya sendiri tidak akan bercacat atau berkerut atau yang serupa itu, melainkan kudus dan tidak bercela.
Boleh jadi Anda telah berkali-kali membaca Kitab Efesus, tetapi Anda tidak menyadari bahwa keempat kategori hal itu dapat menyebabkan kerusakan besar terhadap hidup gereja. Anda mungkin membaca kitab ini tanpa menaruh perhatian terhadap masalah ketentuan, doktrin, manusia lama, dan cacat atau kerut. Sebelum mulai nampak keseriusan keempat hal yang berhubungan dengan hidup gereja ini, saya pun pernah membaca Kitab Efesus selama beberapa tahun. Dalam berita ini kita akan khusus membahas masalah ketentuan.
BABEL, KETENTUAN, DAN PERPECAHAN
Ketentuan merupakan sumber utama dari perpecahan di antara orang Kristen dari abad ke abad. Kita dapat menelusuri ketentuan-ketentuan ini sampai ke zaman Babel. Kehendak Allah dalam penciptaan manusia ialah agar umat manusia itu menjadi satu. Itulah sebabnya Ia hanya menciptakan satu manusia, tidak menciptakan banyak manusia. Allah damba memperoleh satu manusia yang korporat. Akan tetapi, akibat adanya Babel, umat manusia telah terpecah belah menjadi banyak bangsa, dan menjadi berbagai suku. Di antara bangsa-bangsa dan suku-suku itu terdapat banyak perbedaan. Pada umumnya tidak saja terdapat perbedaan antara orang Yahudi dengan orang kafir, tetapi perbedaan itu terdapat pula di antara berbagai bangsa. Misalkan antara orang China dengan orang Jepang, antara orang Jerman dengan orang Prancis. Perbedaan-perbedaan itu menciptakan suatu perpecahan, dan perpecahan-perpecahan itu berkaitan dengan ketentuan-ketentuan.
Sejak zaman Babel, umat manusia sudah dipecah belah oleh ketentuan-ketentuan dari cara hidup dan cara penyembahan. Sumber dari usaha perpecahan ini ialah tipu muslihat musuh, yakni Iblis. Melalui ketentuan-ketentuan, Iblis telah merusak keesaan manusia yang diciptakan oleh Allah bagi penggenapan kehendak-Nya. Dari segi manusia, mustahillah keesaan manusia yang terpecah belah itu dapat terpulih. Meskipun ada organisasi internasional seperti Perserikatan Bangsa-bangsa, tetapi faktanya, bangsa-bangsa itu tidak mungkin bersatu. Sebaliknya, mereka telah dipecah belah karena ketentuan-ketentuan.
Satu unsur utama dari peraturan ialah bahasa. Seperti kita semua ketahui, perpecahan manusia di Babel berkaitan dengan perbedaan bahasa. Jadi, unsur utama dari peraturan ialah bahasa. Jika kita dapat mengatasi kesulitan yang ditimbulkan oleh bahasa, pasti sebagian besar dari problem ketentuan kita itu akan dapat dipecahkan.
Allah sendiri telah melakukan suatu hal yang sangat bermakna terhadap bahasa pada hari Pentakosta. Manu-sia dari berbagai bahasa telah beroleh selamat dan dibawa ke dalam keesaan. Pada hari itu pepecahan-perpecahan yang disebabkan oleh bahasa telah ditanggulangi, dan lahirlah gereja sebagai satu manusia baru. Gereja menjadi manusia baru berarti gereja adalah satu manusia baru, satu umat manusia baru, dan satu suku bangsa baru. Manusia lama yang Allah ciptakan bagi diri-Nya sendiri itu telah terpecah belah karena ketentuan-ketentuan. Tetapi pada hari Pentakosta, gereja terlahir sebagai manusia baru, umat manusia baru.
PENYEBAB UTAMA PERPECAHAN
Akan tetapi berabad-abad lamanya ketentuan-ketentuan telah merayap masuk untuk memecah belah orang Kristen. Teristimewa sejak zaman Reformasi, orang-orang Kristen telah terpecah belah karena ketentuan-ketentuan tentang macam-macam praktek. Ada sementara orang Kristen telah membuat baptisan celup sebagai satu ketentuan. Dengan ketentuan itu sebagai dasar, mereka membentuk denominasi Baptis. Lainnya telah melakukan hal serupa dalam hal kepercayaan mereka ter-hadap sistem kepenatuaan (presbytery atau eldership). Dengan peraturan yang berkaitan dengan kepenatuaan itu sebagai dasar, mereka membentuk denominasi Presbyterian. Hal yang demikian telah terjadi terus-menerus. Alasan atau penyebab utama dari perpecahan orang Kris-ten ialah ketentuan-ketentuan tentang berbagai praktek agama.
Ada praktek pasti ada ketentuannya. Sebagai contoh, kita mungkin memiliki satu ketentuan tentang doa-baca. Walaupun kita merasa bahwa doa-baca itu sangat membantu, tetapi kita tidak boleh membuat satu ketentuan doa-baca, atau memaksa orang lain untuk mempraktekkannya. Memaksa orang lain melakukan doa-baca atau menentang doa-baca kedua-duanya tidak benar. Tidak peduli berapa banyaknya suplai hayat yang Anda terima melalui doa-baca, Anda tidak boleh membuat suatu ketentuan tentang doa-baca. Lagi pula, jangan biarkan gereja lokal Anda menjadi gereja doa-baca. Dengan kata lain, jangan mempertahankan atau memaksa semua orang yang mengikuti sidang mempraktekkan doa-baca. Mempertahankan doa-baca dengan cara itu akan mengakibatkan perpecahan.
Memang ada kecenderungan orang Kristen membuat ketentuan-ketentuan baru yang berkaitan dengan praktek-praktek yang secara pribadi dianggap berfaedah. Karena alasan inilah maka muncul banyak ketentuan tentang praktek-praktek seperti pembasuhan kaki dan berbahasa lidah. Mereka yang mendukung bahasa lidah mungkin mempunyai satu ketentuan untuk mempertahankannya, tetapi, mereka yang menentang bahasa lidah pun mungkin mempunyai satu ketentuan untuk melarangnya. Dengan adanya ketentuan-ketentuan seperti inilah orang Kristen menjadi terpecah belah. Karena itu, adalah hal yang penting sekali bahwa kita harus menerima semua orang Kristen yang sejati dan tidak berpecah belah karena ketentuan-ketentuan.
Ada kelompok-kelompok Kristen memiliki praktek-praktek yang agak tidak lazim. Salah satu kelompok di Taiwan memiliki praktek khas, yaitu menggoyang-goyang kursi. Dalam sidang mereka, mereka sering berlutut, memegang kaki-kaki kursi dan kemudian menggoyang-goyang kursi itu. Mereka mengira itulah cara yang ter-baik untuk dibebaskan dari pikiran alamiah dan untuk dipenuhi oleh Roh Kudus. Kita tidak boleh hanya karena tidak setuju dengan cara itu lalu mengkritik orang-orang yang berbuat demikian. Banyak di antara orang-orang Kristen dalam kelompok menggoyang kursi itu sangat berhasil dalam memberitakan Injil di kalangan suku pedalaman di Taiwan. Lagi pula, ada sejumlah orang terpelajar yang telah tertarik oleh kelompok ini, dan menerima bantuan rohani. Saya sama sekali tidak menentang orang menggoyang kursi, tetapi saya menentang ketentuan-ketentuan yang mana pun yang mungkin terbentuk karenanya.
Di satu aspek, kita nampak kesalahan denominasi, dan di aspek lainnya kita nampak kebenaran tumpuan keesaan — kebenaran satu gereja di satu kota. Kita pun telah berhimpun bersama sebagai gereja di atas kedudukan yang wajar ini. Akan tetapi, walau kita telah melihat kebenaran tumpuan gereja dan kita pun hidup untuk kebenaran ini dengan tegas dan riil, namun kita mungkin tetap mempunyai ketentuan-ketentuan. Jika kita tidak membuang ketentuan-ketentuan ini, akhirnya kita akan memiliki problem dalam hal keesaan.
Kita harus melatih diri sendiri agar kita tidak memiliki ketentuan apa pun. Tetapi harus kita akui, tidak mudah bagi kita untuk membuang ketentuan-ketentuan. Ada beberapa orang beriman yang mempunyai ketentuan dalam hal alat musik. Saya tahu ada sementara perhimpunan The Brethren telah terpecah-belah karena masalah penggunaan piano. Akhirnya terjadilah dua kelompok, yang satu menyukai piano, yang lainnya menentang piano. Jelas bahwa kedua kelompok itu terbentuk karena ketentuan.
Pada masa-masa pertama dalam hidup gereja di Los Angeles, ada beberapa orang saleh menghadapi satu problem tentang penggunaan rebana dalam sidang. Ada orang yang memegang satu ketentuan dalam hal menyukai rebana, sementara yang lainnya juga memegang satu ketentuan untuk menentangnya. Lalu saya merasa bahwa saya harus memerangi kedua ketentuan itu demi menjaga keesaan yang wajar. Kepada saudara yang menentang keras penggunaan rebana, saya berkata, “Tolong beri tahu saya, apakah perbedaan antara memainkan rebana dengan memainkan piano dalam pandangan Allah?” Saudara itu mengakui bahwa dalam pandangan Allah keduanya tidak berbeda. Tetapi dengan cepat ia menunjukkan bahwa bagi dirinya hal itu ada bedanya. Lalu saya berkata bahwa perbedaan itu berasal dari latar belakangnya. Ia mengakui, tetapi ia tetap menentang penggunaan rebana. Akhirnya, ketentuan tentang rebana ini telah menyebabkan banyak orang beriman keluar dari hidup gereja. Ini hanya satu dari sekian banyak contoh yang dapat kita ketengahkan yang membuktikan betapa ketentuan-ketentuan dapat meruntuhkan hidup gereja.
Demi hidup gereja, kita tidak boleh memiliki ketentuan apa pun mengenai cara kita bersidang. Bersatu saja dengan gereja di lokal Anda, jangan pedulikan cara sidangnya. Bersatu saja dengan gereja hanya karena ia adalah gereja. Janganlah menentang praktek-praktek yang mana pun, dan jangan pula memaksakan suatu praktek. Baik memaksakan atau menentang, kedua-duanya dapat mendatangkan ketentuan-ketentuan.
SATU CIPTAAN BARU DALAM KRISTUS
Rasul Paulus sangat jelas tentang ketentuan-ketentuan, ia juga tahu bahwa memperdebatkan kebenaran suatu praktek tidaklah berguna. Pada masa dia hidup, telah terjadi perdebatan-perdebatan yang sengit tentang masalah sunat. Tidak perlu diragukan, banyak yang mengatakan bahwa Paulus tidak menurut Alkitab, sebab ia telah mengakhiri praktek itu. Dalam Galatia 6:15 Paulus mengucapkan kata-kata yang sangat bermakna yang berkaitan dengan perselisihan tersebut: — “Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya.” Paulus menyadari bahwa bersunat atau tidak bersunat tidak bersangkut paut apa pun dengan ekonomi Allah. Satu-satu-nya yang terbilang dalam ekonomi Allah ialah menjadi ciptaan baru di dalam Kristus. Menjadi ciptaan baru berarti memiliki Kristus yang tergarap di dalamnya.
Dengan menerapkan prinsip ini ke dalam situasi kita hari ini, kita akan nampak bahwa masalah yang penting dan yang menentukan bukanlah bagaimana kita menggo-yang-goyang kursi, berbahasa lidah, atau berdoa-baca, melainkan Kristus tergarap ke dalam kita dan berumah di hati kita. Seperti pada zaman Paulus, satu-satunya perkara yang terhitung ialah satu ciptaan baru di dalam Kristus Yesus.
Kita harus mengenal satu fakta bahwa Allah menggunakan berbagai cara untuk membawa orang kepada-Nya. Ada sementara orang mengkritik praktek bahasa lidah, tetapi banyak orang beriman pernah beroleh bantuan melaluinya. Demikian pula, ada kaum saleh tertentu di Taiwan yang beroleh bantuan melalui menggoyang-goyang kursi. Siapakah kita ini, hingga kita dapat menghakimi mereka karena praktek-praktek itu, dan memaksa orang menghentikan praktek-praktek itu? Jika ada sementara orang ingin berbahasa lidah, kita tidak boleh mencegah mereka. Demikian pula terhadap orang-orang yang ingin berdoa-baca atau menggunakan praktek-praktek lainnya, asalkan itu bukan dosa. Gereja harus mencakup segala-galanya, menerima semua orang beriman yang sejati di dalam Kristus. Hanya dengan jalan inilah baru kita dapat memelihara keesaan.
KRISTUS SATU-SATUNYA SUMBER KITA
Nampak masalah satu kota satu gereja memang baik, tetapi itu tidak cukup. Jika kita tidak menanggulangi ketentuan-ketentuan kita, akhirnya kita akan terpecah belah karena opini-opini atau praktek-praktek kita. Kristus seharusnya menjadi sumber kita satu-satunya. Kita tidak boleh mengizinkan apa pun dari latar belakang atau kebudayaan kita menjadi sumber kita. Jika tidak, kita akan memasukkan berbagai ketentuan menurut berbagai latar belakang dan kebudayaan kita itu. Kristuslah sumber dari hidup gereja, bukan ketentuan-ketentuan kita.
Jika kita tidak mengasihi Tuhan, perpecahan tidak akan menimbulkan problem yang seserius itu, sebab kita semua mungkin sudah terpesona oleh daya tarik hal-hal duniawi. Namun, karena kita mengasihi Tuhan, kita juga mengasihi Alkitab, dan memperhatikan kebenaran Alkitab, maka timbullah perdebatan-perdebatan tentang doktrin. Perdebatan-perdebatan yang demikian mungkin lebih lanjut menyebabkan perpecahan. Jika demikian, kita akan mengulangi sejarah perpecahan agama Kristen.
KEMBALI KE KEESAAN YANG SEJATI
Dalam pemulihan Tuhan, kita perlu dikeluarkan dari setiap perpecahan dan kembali ke keesaan yang sejati. Namun, jika kita hanya nampak tumpuan keesaan tanpa nampak masalah ketentuan, keesaan kita tidak akan kokoh. Sebaliknya, kita mungkin berada dalam bahaya menjadi satu sekte atau perpecahan. Boleh jadi kita ingin memaksakan suatu praktek yang khas di dalam gereja, tetapi berbuat demikian berarti menciptakan satu ketentuan. Persidangan gereja harus bersifat umum, tidak seharusnya istimewa dengan praktek-praktek tertentu. Jika ada seorang ingin berbahasa lidah, ia boleh melakukannya dengan bebas. Tetapi ia tidak seharusnya mencoba membuat bahasa lidah itu menjadi inti sidang. Keesaan kita tidak tergantung pada praktek-praktek, melainkan pada Kristus sebagai segala sesuatu. Mempertahankan suatu praktek akan merusak keesaan kita. Kita harus memberi kaum saleh kebebasan tanpa mempertahankan praktek-praktek khas yang mana pun. Dengan demikian keesaan kita baru akan terpelihara.
Asalkan kaum saleh dalam suatu gereja lokal hidup untuk Tuhan dan berdiri di atas tumpuan gereja yang wajar, kita harus dapat bersatu dengan mereka. Jangan memaksakan praktek-praktek apa pun ke atas diri mereka, melainkan suplaikanlah kekayaan Kristus. Yang kita butuhkan ialah diteguhkan ke dalam manusia batiniah kita dan dipenuhi dengan kekayaan Kristus ke dalam segala kepenuhan Allah. Lalu kita menyuplaikan Kristus kepada mereka, bukan mengatur atau membetulkan me-reka. Roh Kudus akan selalu menghormati apa yang berasal dari Kristus. Jika kita menyuplaikan Kristus kepada orang lain, Roh Kudus akan selalu menghormati apa yang berasal dari Kristus. Jika kita menyuplaikan Kristus kepada orang lain, Roh Kudus akan menghormati hal ini, dan orang akan beroleh bantuan. Dengan cara inilah kita mempraktekkan hidup gereja secara wajar, bebas dari perusakan yang ditimbulkan oleh ketentuanketentuan.