DIUBAH (6)
Saya masih mempunyai beban terhadap tiang. Setiap hal dalam Kitab Kejadian merupakan benih yang akan berkembang dalam kitab-kitab selanjutnya dalam Alkitab. Berdasarkan prinsip ini mari kita melihat 1 Raja-raja 7:13-22 yang merupakan firman Alkitab yang kuat mengenai tiang. Terpanggilnya Yakub dan terubahnya Yakub terutama berkaitan dengan tiang. Sesudah mimpinya di Betel, Yakub lalu mendirikan sebuah tiang (tugu) (28:18). Ketika ia kembali ke Betel, ia berkata, “Batu yang kudirikan sebagai tugu (tiang) ini akan menjadi rumah Allah” (28:22). Ini menunjukkan bahwa tiang ini bukan sekadar tiang, bahkan akan menjadi Betel — rumah Allah. Dalam Kitab 1 Raja-raja, bait disebutkan untuk kali pertama. Sebelum ini hanya ada Kemah Pertemuan, bukan bait. Benda yang paling mencolok di luar bait ialah dua tiang. Dalam 1 Raja-Raja 7 kita menemukan gambar mendetail mengenai kedua tiang ini. Setelah melihat benih tiang ini dalam Kitab Kejadian, kini saya mempunyai beban untuk memperhatikan perkembangan benih ini dalam kitab-kitab dalam Perjanjian Lama. Kemudian kita akan melihat penyempurnaan benih ini dalam Perjanjian Baru.
b) Berkenaan dengan Pembangunan Bait
a. Oleh Salomo Melalui Hiram
Tiang-tiang dalam bait didirikan oleh Salomo melalui Hiram, “seorang tukang tembaga” yang “penuh dengan keahlian, pengertian, dan pengetahuan untuk melakukan segala pekerjaan tembaga” (1 Raj. 7:14). Kebanyakan yang di-temukan dalam Perjanjian Lama, seperti Kemah Pertemuan dan bait, merupakan bayang-bayang, lambang. Kita perlu mengetahui penggenapan dari semua lambang ini. Salomo merupakan lambang Kristus, dan Hiram merupakan lambang orang-orang yang berkarunia dalam Perjanjian Baru. Tidak usah diragukan, Rasul Paulus adalah orang yang berkarunia, ia adalah Hiram Perjanjian Baru. Efesus 4:11-12 mencantumkan, “Dialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita - pemberita Injil maupun gembala - gembala dan pengajar - pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus.” Orang - orang berkarunia diberikan oleh Kepala kepada Tubuh untuk memperlengkapi orang-orang kudus. Tiang-tiang itu bukan didirikan langsung oleh Salomo, melainkan oleh Salomo melalui Hiram; ini menyatakan bahwa Kristus hari ini tidak mendirikan tiang-tiang secara langsung, melainkan melalui orang-orang yang berkarunia. Jadi kita harus menyerahkan diri ke tangan orang-orang yang berkarunia, seperti halnya tembaga di tangan Hiram yang trampil dan berkarunia.
b. Dua Tiang
Menurut 1 Raja-Raja 7:15, Hiram “membentuk dua tiang”. Dalam Alkitab, angka dua adalah angka kesaksian. Kedua tiang ini berdiri di depan bait sebagai suatu kesaksian. Konsepsi yang terkandung dalam istilah tiang ini dalam Kitab Kejadian, ialah kesaksian. Setelah Yakub membereskan masalah dengan Laban, ia “mengambil sebuah batu dan didirikannya menjadi tugu (tiang)” (31:45), dan tiang ini menjadi suatu kesaksian (31:51-52). Tidak diragukan, ketika Yakub mendirikan tiang ini dalam pasal 28, pastilah konsepsinya juga mengartikan itu sebagai kesaksian. Di bawah inspirasi Roh Allah, ia mengatakan bahwa kesaksian ini akan menjadi rumah Allah. Bait dalam Perjanjian Lama sudah tentu kesaksian Allah. Sama halnya prinsip gereja hari ini. Menurut 1 Timotius 3:15, rumah Allah adalah gereja, juga tiang. Ini berarti gereja berdiri di bumi agar bersaksi bagi Allah terhadap jagad raya. Jadi, dua tiang di depan bait pada Perjanjian Lama memberikan kesaksian yang kuat atas pembangunan Allah.
c. Terbuat dari Tembaga
Sekarang kita sampai pada butir yang penting — dua tiang yang dibuat dari tembaga (1 Raj. 7:15). Dalam Kitab Kejadian, tiangnya terbuat dari batu, sedang dalam 1 Raja-Raja 7, tiangnya terbuat dari tembaga. Batu mengacu kepada pengubahan. Meskipun kita adalah tanah liat, kita dapat diubah menjadi batu. Akan tetapi, tembaga menyatakan apa? Tembaga menyatakan penghakiman Allah. Mi-salnya, mezbah di depan pintu masuk ke Kemah Pertemuan itu disalut dengan tembaga yang menyatakan penghakiman Allah (Kel. 27:1-2; Bil. 16:38-40). Bejana pembasuhan juga dibuat dari tembaga (Kel. 30:18). Selanjutnya ular tembaga yang ditaruh pada ujung tiang (Bil. 21:8-9) juga memberi kesaksian bahwa Kristus telah dihakimi oleh Allah bagi kita (Yoh. 3:14). Karena itu dalam perlambangan, tembaga se-lalu menyatakan penghakiman Allah. Kedua tiang yang terbuat dari tembaga jelas menunjukkan jika kita ingin menjadi tiang, kita harus mengenal bahwa kita berada di bawah penghakiman Allah. Bukan saja di bawah penghakiman Allah, bahkan juga di bawah penghakiman kita sendiri. Sama seperti Paulus dalam Galatia 2:19b-20, kita harus bisa berkata, “Aku telah disalibkan. Aku disalibkan karena atas diriku tidak ada satu pun barang yang layak dalam ekonomi Allah. Aku hanya layak mati.” Banyak saudara yang pandai dan cakap, banyak saudari yang baik, namun ketahuilah, sebenarnya atas diri kita tidak ada yang baik, bahkan diri kita tidak berharga sama sekali. Kita hanya patut mati. Kita mengatakan, “Aku telah disingkirkan, dihakimi, dan dimatikan,” inilah semacam penghakiman atas diri sendiri. Apakah penghakiman atas diri Anda? Anda harus menjawab, “Penghakiman atas diriku sendiri adalah tidak ada sesuatu apa pun yang baik atas diriku, aku telah disalibkan.”
Jika Anda menganggap diri sendiri memenuhi syarat sebagai tiang, itu berarti Anda tidak memenuhi syarat. Izinkan saya menceritakan sedikit tentang pelaksanaan pengangkatan penatua oleh Saudara Watchman Nee. Saudara Nee berkata, “Tidak ada seorang pun yang berambisi menjadi penatua yang boleh menjadi penatua.” Karena itu, banyak di antara kita yang berada di daratan China berkata, “Jangan mengira Anda bisa menjadi penatua dan jangan berambisi menjadi penatua. Jika Anda berambisi menjadi penatua, Anda selamanya tidak akan bisa menjadi penatua.” Kali pertama saya datang ke Shanghai tahun 1933, saya berjumpa dengan seorang saudara. Kemudian saya mengetahui bahwa ia sangat berambisi untuk menjadi penatua. Saudara Nee berkata kepada saya bahwa karena saudara ini sangat berambisi menjadi penatua, maka ia tidak memenuhi syarat menjadi penatua. Siapa saja berambisi menjadi penatua, orang itu tidak layak menjadi penatua. Ada beberapa saudara yang sedikit banyak bisa bersaksi bahwa tahun-tahun belakangan ini kita telah mempraktekkan hal ini di Amerika. Beberapa saudara di antara kita ingin menjadi penatua. Mereka bahkan berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari kesempatan menjadi penatua. Setelah mengetahui bahwa kedudukan penatua pada lokal tertentu telah terisi, mereka lalu pindah ke lokal lain yang masih ada lowongannya. Tetapi lowongan-lowongan ini hanya dapat diisi oleh orang-orang yang tidak berambisi menjadi penatua. Begitu kita tahu seorang saudara berambisi menjadi penatua, maka ia kehilangan syarat menjadi penatua untuk selamanya, karena ia tidak berada di bawah penghakiman Allah. Kita semua harus berkata, “Aku tidak layak, aku miskin, penuh dosa, jatuh dan bejat.” Tidak hanya demikian, kita pun harus berkata, “Tuhan, aku demikian jatuh, berdosa, dan bejat. Bagaimana aku bisa memikul tanggung jawab sebagai penatua? Aku tidak layak untuk ini.” Inilah pengalaman tembaga. Membenarkan dan menganggap diri sendiri patut itu tidak ada hubungannya dengan tembaga. Orang yang mengalami tembaga adalah orang yang secara terus-menerus berada di bawah penghakiman.
Pada tahun-tahun awal di China, saya sering merasa heran, mengapa Saudara Nee demikian ketat dalam hal ini. Akhirnya saya tahu, setiap orang yang menaruh ambisi menjadi pemimpin, dalam aspek mana pun dalam hidup gereja, ia pasti menjadi kesulitan dalam gereja. Tidak seorang pun yang terkecuali. Sebaliknya, orang-orang yang benar-benar berfaedah bagi pembangunan gereja, tidak pernah merasa bahwa dirinya cukup syarat menjadi pemimpin. Mereka selalu berkata, “Aku tidak layak. Aku terlalu miskin. Keadaanku tidak sesuai. Aku masih terlampau alamiah. Aku tidak menganggap diriku baik.” Berkata demikian ini adalah berada di bawah penghakiman Allah, juga di bawah penghakiman diri sendiri. Sampai di manakah penghargaan Anda terhadap diri sendiri? Jangan sekali-kali mengatakan, “Tidak ada yang baik kecuali aku.” Jika Anda berkata demikian, berarti Anda sudah tamat, dan Tuhan tidak akan pernah mengkonfirmasi penghargaan Anda terhadap diri sendiri. Kita semuanya perlu sadar bahwa kita telah jatuh, bejat dan bobrok. Kita semua harus sadar bahwa di dalam kita, yaitu dalam daging kita, tidak ada satu pun yang baik (Rm. 7:18). Kita seharusnya mengatakan, “Aku ini tidak layak apa-apa, kecuali mati. Mengapa saudara-saudara memandang aku pantas menjadi penatua? Aku takut memikirkan kemungkinan ini.” Saya tidak berkata sembarangan. Pada tahun-tahun yang lampau, beberapa orang berkata, “Mengapa si Anu diangkat menjadi penatua, sedang aku tidak?” Ia diangkat sebagai penatua dan Anda tidak, itu disebabkan Anda menganggap diri Anda cukup layak. Melayakkan diri itu membuktikan Anda tidak layak. Tuhan tidak akan pernah memilih orang yang memandang dirinya layak. Jika Anda mengira diri Anda layak, niscaya Anda tidak ada hubungannya dengan tembaga, melainkan Anda membuat emas sendiri. Pengalaman tembaga adalah senantiasa berada di bawah penghakiman Allah dan di bawah penghakiman diri sendiri. Kita semua harus menerapkan perkataan ini ke atas diri kita, “Tuhan, belas kasihani diriku, karena pada diriku tidak ada satu pun yang baik.” Inilah alasannya mengapa kita telah disalibkan. Jika kita mengira masih ada kebaikan pada diri kita, berarti kita adalah pembohong.
Dalam Galatia 2:20 Paulus berkata, “Bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kita pun boleh memakai perkataannya dalam 1 Korintus 15:10 yang mengatakan, “Tetapi karena anugerah Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan anu-gerah yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan anugerah Allah yang menyertai aku.” Dalam Galatia 2:20 Paulus mengatakan, “Bukan aku, melainkan Kristus,” dan dalam 1 Korintus 15:10 ia mengatakan, “Bukan aku, melainkan anugerah Allah.” Seolah-olah Paulus berkata, “Adanya aku ini karena anugerah Allah. Diriku sendiri tidak mempunyai apa-apa. Diriku sendiri tidak pernah bisa menjadi seorang rasul maupun pelayan firman Allah yang hidup. Aku bekerja lebih keras daripada yang lain, tetapi bukan aku yang bekerja — melainkan anugerah Allah.” Inilah pengalaman tembaga.
Dalam lambang dan gambar, kedua tiang tembaga dalam 1 Raja-raja 7 menunjukkan bahwa kita harus berada di bawah penghakiman Allah dan di bawah penghakiman diri sendiri. Kita harus menghakimi diri sendiri sebagai orang yang tidak mempunyai apa-apa dan hanya layak disalibkan. Saya berkata demikian bukan hanya kepada saudara saja, tetapi juga kepada saudari. Tidak seorang pun di antara kita yang baik dalam hal apa saja. Kita harus memandang diri kita sama dengan orang-orang yang berada di bawah penghakiman Allah. Jika seorang penatua tidak di bawah penghakiman Allah, ia tidak akan dapat menjadi penatua yang baik. Jika seorang saudari yang memimpin tidak berada di bawah penghakiman Allah, ia tidak bisa menjadi seorang pemimpin yang tepat. Saya benar - benar tahu dan dapat bersaksi bahwa untuk melayankan firman Allah, saya harus selalu berada di bawah penghakiman diri sendiri. Mungkin saya hanya memakai waktu yang singkat untuk mendoakan sidang, namun saya memakai waktu yang panjang untuk menghakimi diri sendiri, menghakimi diri sendiri sebagai orang yang kasihan, tidak layak, karnal (dalam daging) dan alamiah. Kadangkala saya malahan mengeluh, “Ya Tuhan, kapan aku bisa tidak di dalam daging menyuplaikan firman-Mu?” Jangan mengira karena saya berdiri di sini menyuplai Anda, maka keadaan saya sangat baik. Tidak, keadaan saya sangat kasihan. Selama kita berada dalam hayat alamiah, dalam ciptaan lama, keadaan kita sangat kasihan. Kita harus melayani di bawah penghakiman Allah, juga di bawah kesadaran diri sendiri akan penghakiman Allah. “Aku ini sudah dihakimi. Orang alamiahku, dagingku, dan diriku, semuanya telah dihakimi oleh Allah, dan masih tetap di bawah penghakiman ini.” Jika kita memiliki kesadaran ini, kita akan menjadi tembaga.
Meskipun tembaga itu mengkilat, namun tidak memiliki kemuliaan. Sebaliknya, kilauan emas menunjukkan kemuliaan. Kilauan tembaga menyatakan kita berada di bawah penghakiman Allah. Bila seorang penatua mengkilat seperti tembaga, berarti ia adalah penatua yang pernah dihakimi Allah dan tetap tinggal di bawah penghakiman Allah. Ia bukan kaki pelita emas yang berdiri untuk kemuliaan Allah; ia adalah tiang tembaga yang berdiri untuk penghakiman Allah. Di antara anak-anak Allah, maukah Anda menjadi tiang atau pemimpin? Kalau Anda mau, Anda harus di bawah penghakiman Allah. Saya harap Roh Kudus berbicara mengenai ini kepada Anda. Dalam bait Allah tidak ada kesombongan, tidak ada bangga diri. Dalam bait Allah, tiang-tiang terbuat dari tembaga. Mereka yang memikul beban adalah mereka yang pernah dihakimi. Semua penatua adalah saudara-saudara yang pernah dihakimi Allah dan tetap tinggal di bawah penghakiman Allah. Mereka menyadari sepenuhnya penghakiman ini. Mereka jelas bahwa mereka berada di bawah penghakiman Allah, karena mereka menyadari bahwa mereka penuh dosa, telah jatuh, dan bejat, tidak ada satu pun yang baik pada diri mereka, dan mereka sama sekali tidak layak dalam ekonomi Allah. Saya dapat mengulangi kata-kata ini sekali dan sekali dan sekali lagi. Tahukah mengapa demikian banyak pertengkaran dalam kalangan kekristenan? Sebabnya adalah tidak ada tembaga, tidak ada penghakiman Allah. Rupa-rupanya “tiang” yang ada di sana itu tiang-tiang kayu. Semakin banyak tanggung jawab yang Anda pikul dalam hidup gereja yang normal, Anda harus semakin mengenal bahwa Anda berada di bawah penghakiman Allah. Anda adalah tembaga yang di bawah penghakiman Allah. Jangan sekali-kali melarikan diri dari penghakiman meski hanya sejenak saja. Anda harus tetap sadar akan penghakiman ini, dan tetap tinggal berkaitan dengan tembaga.
d. Masing-masing Setinggi Delapan Belas Hasta
Tinggi masing-masing tiang itu delapan belas hasta (1 Raj. 7:15). Seperti yang akan kita bahas bahwa keliling masing-masing tiang itu dua belas hasta. Delapan belas hasta merupakan separuh dari tiga satuan, di mana masing-masing unit dua belas hasta. Dengan kata lain, delapan belas ialah separuh dari tiga unit yang sempurna. Tiga unit menunjukkan Allah Tritunggal yang telah disalurkan ke dalam kita. Jika ingin menjadi tiang, pertama-tama kita harus menghakimi diri kita dan kemudian dipenuhi, dijenuhi, dan diresapi oleh Allah Tritunggal. Ketika saya tidak paham mengapa setiap tiang merupakan separuh dari tiga unit yang utuh, Tuhan berkata, “Hai orang bodoh, bukankah kamu telah menyampaikan beberapa berita yang mengatakan bahwa papan-papan tegak dalam Kemah Pertemuan masing-masing lebarnya satu setengah hasta? Bukankah kamu mengatakan bahwa tidak ada papan yang dapat berdiri sendiri dan harus tersusun dengan yang lainnya? Tidakkah kamu nampak bahwa tiang pun demikian? Sama seperti dua papan berdiri bersama - sama menjadi tiga unit yang sempurna, demikian juga dua tiang menjadi tiga unit yang sempurna.” Lalu saya berkata, “Ya Tuhan, sekarang aku paham, terima kasih Tuhan!”
Jika Anda ingin menjadi tiang, maka Anda harus dipenuhi, dijenuhi, dan diresapi oleh Allah Tritunggal. Namun, entah berapa banyak Anda dipenuhi dengan Allah, Anda tetap hanya merupakan sebagian saja. Paling banyak Anda itu satu setengah. Anda mustahil memiliki Allah seluruhnya. Allah yang di dalam Anda, juga ada di dalam saudara Anda. Karena Anda bukanlah satuan yang lengkap. Anda memerlukan yang lainnya untuk melengkapi Anda. Semua tokoh atau raksasa rohani mengira mereka bisa saja menjadi sempurna secara individu. Tetapi Alkitab memperlihatkan bahwa setiap orang hanya separuh. Papan tegak yang di Kemah Pertemuan masing - masing adalah setengah (Kel. 26:15-16), setiap tiang dalam bait juga adalah setengah.
Setelah mendengar ini, boleh jadi beberapa orang akan berkata, “Saudara Lee terlalu mengiaskan Alkitab.” Jika saya mengiaskan, itu ada dasarnya. Mengapa Alkitab tidak menyebutkan tiang-tiang itu setinggi tujuh belas atau sembilan belas hasta? Jika tiang-tiang itu setinggi tujuh belas atau sembilan belas hasta, mungkinkah dikiaskan? Tidak, tidak mungkin. Namun, ketika saya menuntut di hadirat Tuhan, Ia menunjukkan kepada saya bahwa dalam potongan firman ini, angka dua belas adalah satu unit yang sempurna, sedang delapan belas adalah satu setengah unit yang sempurna. Ini menunjukkan bahwa sekalipun kita mungkin dipenuhi oleh Allah Tritunggal, namun Allah tidak akan mengamanatkan seluruh diri-Nya kepada kita secara individu. Tidak peduli berapa banyak Allah telah kita peroleh, kita tidak pernah memilikinya secara keseluruhan; hanya sebagian saja. Kita saling memerlukan. Saya memerlukan Anda dan Anda memerlukan saya. Tuhan selalu mengutus murid-murid-Nya pergi berdua-dua (Mrk. 6:7; Luk. 10:1; Kis. 13:2). Angka kita bukan tiga puluh enam, melainkan paling banyak delapan belas saja. Tidak peduli seberapa tingginya Anda, Anda harus tahu bahwa Anda hanya delapan belas hasta, masih memerlukan orang lain. Jangan berkata, “Aku sudah sempurna dan lengkap, Anda memerlukan aku, bukan aku yang memerlukan Anda.” Perkataan demikian itu bodoh. Paling-paling kita hanya delapan belas hasta. Ada saudari memimpikan dipenuhi oleh Allah. Tetapi tidak peduli bagaimana mereka dipenuhi Allah, mereka mustahil melebihi setengah unit. Mereka tetap memerlukan orang lain.
e. Lingkaran Tiang Sebesar Dua Belas Hasta
Sekarang kita mempelajari ukuran lingkaran tiang. 1 Raja-raja 7:15 mengatakan, “. . . dan dapat dililit oleh tali yang dua belas hasta panjangnya.” Dipandang dari sudut bahasa, susunan kalimat ini sangat khusus. Di sini tidak disebutkan berapa ukuran lingkaran tiang, melainkan “dapat dililit oleh tali yang dua belas hasta panjangnya.” Meski dikatakan demikian, belum juga merupakan terjemahan kata demi kata yang persis, itu hanya suatu penjelasan saja. Terjemahan yang lain mengatakan, “ukuran lingkaran tiang dua belas hasta.” Terjemahan ini sangat sederhana, saya lebih menyukai yang ini. Tetapi dalam Alkitab tidak pernah ada kata-kata yang sia-sia, dan kita tidak boleh tidak memperhatikan susunan ayat ini yang sesungguhnya. Maksudnya adalah memakai seutas tali untuk mengukur lingkaran tiang. Tujuannya supaya kita mempunyai kesan yang dalam tentang kelengkapan dan kesempurnaan perbauran antara Allah dengan manusia di dalam pemerintahan Allah yang kekal. Angka tujuh terbentuk dari tiga ditambah empat, menyatakan kelengkapan dan kesempurnaan dalam masa kini. Ini merupakan satu pertambahan. Tetapi angka dua belas terbentuk dari tiga dikali empat, ini merupakan suatu perkalian, menyatakan makhluk ciptaan berbaur dengan Allah Tritunggal, dan perbauran ini dalam pemerintahan kekal Allah harus lengkap dan sempurna. Tiang bukanlah berbentuk kubus, persegi empat, atau prisma, melainkan bulat, yang menyatakan kesempurnaan sampai selama-lamanya.
Jika semua ini digabungkan, yakni tiang tembaga, tinggi delapan belas hasta, keliling dua belas hasta, niscaya terlihat bahwa kalau kita mau menjadi tiang, kita harus berada di bawah penghakiman Allah dan juga harus dijenuhi oleh Allah seluruhnya hingga penuh dan sempurna. Kita harus sebagai tembaga, dan harus berkeliling dua belas hasta. Namun tidak peduli berapa banyak kita berbaur dengan Allah, kita tetap tidak lebih dari setengah; kita memerlukan setengah lainnya. Jika penatua seperti ini, sudah tentu dia adalah penatua yang luar biasa. Jika saudari yang memimpin seperti ini, pasti ia adalah saudari yang sangat bermutu. Orang-orang semacam ini dengan sendirinya bisa memikul tanggung jawab.
Problem kita adalah kita tidak mau menyalahkan diri kita sendiri, sebaliknya membela, membenarkan, memperkenankan, dan memaafkan diri sendiri. Kita sering berkata, “Ini bukan kesalahanku; ini kesalahan si Anu. Aku selalu berhati-hati. Aku tidak bersalah.” Inilah membela diri. Setelah membela diri, kemudian maju selangkah lagi yaitu membenarkan diri dan memperkenan diri. Tidak perlu diuji dulu, kita sudah memperkenan diri. Dalam pandangan kita, tidak ada masalah pada diri kita. Adakalanya kita jatuh ke dalam kesalahan, mungkin kita memaafkan diri sendiri, berkata, “Aku melakukan kesalahan ini karena sidangnya terlalu lama, aku sangat lelah.” Alangkah seringnya kita mencari jalan keluar bagi diri sendiri! Kita mempunyai empat jalan keluar: membela diri, membenarkan diri, memperkenan diri, dan memaafkan diri. Sampai-sampai ketika kita bersalah, kita masih memaafkan diri. Contohnya, seorang saudari berkata, “Ketikanku jelek, karena orang lain memiliki mesin tik yang baik, sedangkan mesin tik yang diberikan kepadaku adalah yang paling jelek.” Pada waktu-waktu yang lampau, saya juga banyak membela, membenarkan, memperkenan, dan memaafkan diri.
Pada awal percecokan, jarang sekali seorang suami atau istri mengatakan, “Maafkan, ini kesalahanku. Sekali lagi maafkan aku.” Sang istri sering beralasan, “Tahukah Anda mengapa aku bersikap keras kepada suamiku? Ia selalu terlambat. Selama perkawinan kami, keterlambatannya selalu mempersulit aku.” Sang suami kemudian ber-kata, “Istriku tidak pernah bersimpati kepadaku. Aku sibuk dan banyak pekerjaan yang harus dikerjakan. Pekerjaanku demikian berat, bagaimana aku dapat tidak terlambat?” Inilah pembelaan dirinya, membenarkan, memperkenankan, dan memaafkan diri. Jika kita setiap hari menyalibkan keempat hal ini, pasti tidak akan pernah ada pertengkaran dalam keluarga kita.
Menjadi angka empat belumlah cukup. Kita harus menjadi angka tujuh — empat ditambah Allah Tritunggal. Namun ini baru tahap yang awal, bukan tahap yang sempurna. Angka yang sempurna adalah dua belas. Untuk menjadi angka dua belas, kita harus dipenuhi, dijenuhi, dan dibaurkan dengan Allah. Setelah kita sepenuhnya dijenuhi dan dibaurkan dengan Allah, barulah kita cocok bagi pemerintahan Allah yang kekal. Akan tetapi seperti yang telah kita tunjukkan, meskipun kita telah menjadi angka dua belas, kita tetap hanya setinggi delapan belas hasta, baru setengah unit. Jika kita semua demikian, pasti tidak akan ada masalah apa-apa. Kita tidak akan bertengkar dengan orang lain, malahan akan menyalahkan diri serta berkata, “Tuhan, aku memerlukan Engkau. Aku telah disalibkan, Kristus hidup di dalamku. Bukan lagi aku, melainkan anugerah yang menyertai aku.” Inilah tembaga, inilah penghakiman, inilah dua belas hasta, inilah perbauran Allah dengan manusia. Karena kita ini paling banyak hanya setengah, maka dalam ekonomi dan pemerintahan Allah, kita memerlukan orang lain. Jika Anda mendoakan butir-butir ini, Anda akan nampak bahwa inilah tiang yang mampu memikul tanggung jawab dalam rumah Allah.
Tinggi kedua ganja di puncak masing-masing tiang itu adalah lima hasta (1 Raj. 7:16). Ganja-ganja itu adalah penutup puncak tiang-tiang itu. Ganja itu setinggi lima hasta, bukan enam atau tujuh hasta. Ini sungguh bermakna. Telah berkali-kali kita tunjukkan bahwa angka lima dalam Alkitab berarti memikul tanggung jawab. Perhatikan tangan Anda; empat jari ditambah satu jari, ini demi untuk menanggung kewajiban. Jika hanya empat jari, kita tidak mungkin memikul tanggung jawab dengan baik. Angka empat menyatakan makhluk ciptaan dan angka satu menunjukkan Allah yang Maha Esa. Allah yang Maha Esa ditambahkan dalam ciptaan-Nya, maka angka kita menjadi lima.
Misalnya, sepuluh perintah Allah terbagi atas dua kelompok, masing-masing berisikan lima perintah, tertulis pada dua buah loh batu. Sepuluh gadis dipisahkan menjadi dua kelompok, satu kelompok terdiri atas lima gadis yang bijaksana dan yang lain terdiri atas lima gadis yang bodoh. Jadi dua ganja yang masing-masing setinggi lima hasta, menyatakan memikul tanggung jawab. Jika Anda mengatakan ini terlalu dikiaskan, maka saya akan menjawab bahwa ini ada dasarnya. Alkitab tidak mengatakan tinggi ganja itu empat setengah hasta atau enam hasta, melainkan lima hasta. Dua ganja ditambahkan menjadi sepuluh hasta. Sepuluh menyatakan kesempurnaan dalam tanggung jawab. Sepuluh hukum Taurat dan sepuluh gadis semuanya menyatakan kesempurnaan. Maka dalam Alkitab, angka sepuluh menyatakan kesempurnaan tanggung jawab manusia terhadap Allah. Sepuluh jari tangan kita untuk bekerja, sepuluh jari kaki untuk bergerak dan berjalan, menyatakan maksud ini juga.
g. Jala-jala Berkotak-kotak dan Rantai Kawat Berpilin
1 Raja-raja 7:17 mencantumkan, “Dibuatnya pula dua jala-jala (berkotak-kotak) untuk ganja yang ada di kepak tiang itu — jala-jala itu semacam kawat berpilin, semacam untaian rantai — tujuh pada ganja yang satu dan tujuh pada ganja yang lainnya” (Tl). Jala-jala berkotak-kotak dan rantai kawat berpilin itu ditujukan kepada apa? Setelah memeriksa banyak versi terjemahan, saya menemukan bahwa jala-jala berkotak-kotak itu serupa rangka terali pohon anggur yang berkotak-kotak kecil. Disamping itu, istilah “dibuatnya”, “kawat berpilin”, “untaian rantai” di sini, mengandung arti rancangan (desain). Kita akan nampak bahwa desain berkotak-kotak itu adalah untuk pertumbuhan bunga bakung. Terali yang berkotak-kotak kecil ini adalah untuk rambatan bunga bakung. Boleh dikatakan bahwa terali ini merupakan jala-jala untuk menunjang bunga bakung. Untaian kawat berpilar sepertilah karangan bunga yang menyelubungi luaran ujung atas tiang. Jadi, pada ganja terdapat jala-jala berkotak-kotak dan karangan bunga yang berbentuk rantai.
Apa maksud kesemuanya ini? Kita telah melihat angka lima, yaitu tinggi ganja, yang menyatakan bertanggung jawab, dan dua kali lima adalah bertanggung jawab sepenuhnya. Tetapi mengapa pada ganja masih ada jala-jala berkotak-kotak dan rantai? Ketika saya berbeban untuk memahami perkara-perkara ini, Tuhan memperlihatkan kepada saya, inilah situasi yang ruwet dan simpang siur. Tanggung jawab dan beban yang dipikul oleh tiang baik di rumah tangga, gereja, maupun di pelayanan selalu menghadapi situasi yang ruwet dan simpang siur. Kita sering senang menang-gulangi situasi yang ruwet ini, namun tidak mampu. Keruwetan yang satu Anda bereskan, segera menyusul tiga situasi yang ruwet. Semakin Anda bermaksud membereskan suatu perkara, perkaranya makin ruwet. Semakin Anda berusaha dipahami oleh orang lain, semakin disalahpahami orang lain. Jangan mengatakan, “Kemarin malam saudara Anu tidak senang kepada istrinya.” Jika demikian Anda sudah terlibat ke dalamnya. Semakin kita memberikan penjelasan, semakin menimbulkan kesalahpahaman, bahkan kesalahpahaman itu berlipat ganda. Melalui pengalaman bertahun - tahun ini, saya telah mempelajari cara yang paling baik untuk menghindari kesalahpahaman, yaitu berbicara sesedikit mungkin. Adakalanya, bahkan kata-kata semacam “puji Tuhan” tidak perlu dikatakan kepada istri Anda. Ka-lau Anda mengatakannya, mungkin dia berkata, “Eh, sok rohani? Bukankah puji-pujianmu berarti menyalahkan aku? Kamu memuji Tuhan, berarti kamu rohani, aku karnal.” Hidup gereja adalah jala-jala berkotak-kotak, rantai kawat berpilin. Penatua adalah terali yang paling ruwet diikat oleh rantai yang paling ulet.
Saya tahu ada seorang beriman yang mempunyai konsepsi yang demikian: Di mana saja dia berada, semua orang di sekelilingnya haruslah menjadi malaikat. Mereka harus berkerohanian tinggi semua, tidur pagi, bangun pagi, dan doa-baca firman Tuhan. Jika setiap orang demikian rohaninya, dia sangat senang. Namun di bumi tidak ada tempat yang begitu ideal. Banyak keluarga, senang berbincang-bincang sampai larut malam, sehingga esoknya tidak bisa bangun pagi. Setelah bangun, ada yang menggerutu semalaman jendela dibuka terus, sehingga kedinginan; ada juga yang mengomel kamarnya terlalu pengap, sehingga ia susah bernafas.
Setiap situasi yang dihadapi oleh anggota Tubuh dalam gereja adalah jala-jala berkotak-kotak, dan terali yang dilingkari semak belukar. Saya mempunyai keluarga yang besar, juga di dalam gereja yang besar. Banyak anak dan cucu saya, dan banyak pula saudara saudari yang terkasih. Baik di Taipei, atau di Anaheim, saya tidak berdaya melarikan diri dari jala-jala berkotak-kotak dan rantai. Di satu pihak, Anaheim adalah tempat yang indah, tetapi penuh dengan jala-jala berkotak-kotak dan rantai. Bahkan malaikat pun mengetahui bahwa saya sering dalam situasi yang simpang siur. Problem yang ditimbulkan oleh anak-anak saya dan saudara saudari dalam gereja, menciptakan banyak jala-jala yang berkotak-kotak terhadap saya. Situasi yang sedemikian ini memang nasib kita. Kita bukan cuma bertanggung jawab dalam keadaan yang ruwet dan simpang siur ini, kita pun harus hidup di antara semua ini.
h. Pada Ganjanya Terukir Bunga Bakung
Ingin bertanggung jawab dalam situasi yang ruwet ini, kita perlu hidup berdasarkan iman dalam Allah. 1 Raja-raja 7:19 menyatakan, “Dan ganja yang di kepala tiang dekat balai depan itu terukir bunga bakung” (Tl). Bunga bakung melambangkan kehidupan iman di hadapan Allah. Pertama-tama kita harus menghakimi diri sendiri, mengenal bahwa kita adalah orang yang telah jatuh, tidak berdaya, tidak patut, dan tidak mempunyai apa-apa. Kemudian kita harus hidup berdasarkan iman dalam Allah, bukan hidup berdasarkan apa adanya kita atau kemampuan kita. Kita harus seperti bunga bakung, yang hidup berdasarkan apa adanya Allah, bukan berdasarkan apa adanya kita (Mat. 6:28, 30). Hari ini hidup kita di bumi ini tergantung pada Dia. Bagaimanakah kita dapat bertanggung jawab dalam hidup gereja yang demikian ruwet dan simpang siur? Berdasarkan diri kita, kita tidak mungkin melakukan perkara-perkara itu; namun jika kita hidup berdasarkan iman di hadapan Allah, kita dapat mengerjakannya. Bukan lagi saya, melainkan Kristus yang hidup di dalam saya — inilah bunga bakung. Bukan saya yang menanggung kewajiban ini — melainkan Dia yang menanggung kewajiban ini. Saya hidup bukan berdasarkan diri sendiri, melainkan berdasarkan Dia. Saudari-saudari, jika Anda adalah para ibu dalam hidup gereja, Anda harus berkata, “Dalam gereja aku bukan menjadi ibu berdasarkan diri sendiri, melainkan berdasarkan Dia.” Dalam Kidung Agung 2:1-2, orang yang menuntut Tuhan akan berkata, “Aku, bunga bakung di lembah-lembah.” Lalu Tuhan menyahut, ”Seperti bunga bakung di antara duri-duri, demikianlah manisku di antara gadis-gadis.”
Di bumi ini, arsitek mana yang dapat merancang sebuah tiang tembaga, pada kepalanya ada ganja, dan pada ganja terukir bunga bakung? Ditinjau dari sudut manusia, ini tidak berarti apa-apa; tetapi ditinjau dari sudut rohani, ini sangat berarti. Di satu pihak, kita adalah tembaga yang disalahkan, dihakimi, di pihak lain, kita adalah bunga bakung yang hidup. Arti tembaga ialah “bukan lagi aku”; arti bunga bakung ialah “melainkan Kristus”. Bunga-bunga bakung itu dapat mengucapkan, “Kehidupanku sekarang adalah hidup karena iman Kristus Yesus.” Melalui semua ini kita dapat nampak bahwa kita ini bunga bakung, di antara jala-jala berkotak-kotak dan rantai, yaitu situasi yang ruwet dan simpang siur, untuk memikul tanggung jawab di luar kemampuan kita. Penatua tidak seharusnya berkata, “Ya Tuhan, singkirkanlah keadaan yang ruwet ini.” Sebaliknya mereka harus menantikan situasi yang lebih ruwet lagi. Saya yakin, semakin Anda berdoa minta keruwetan dikurangi, situasi malah menjadi semakin ruwet. Semua jala-jala berkotak-kotak hanyalah sebagai dasar, rangka, agar bunga bakung bertumbuh di atasnya.
Menurut konteksnya, rantai berpilin ini merupakan suatu hiasan. Tetapi hiasan ini amat ruwet. Ketika Anda datang ke rumah saya, janganlah mengharap segala sesuatu di sana beres dan sederhana. Jika Anda tinggal beberapa waktu bersama saya, Anda akan menemukan banyak hal yang ruwet dan bisa dipermasalahkan. Tetapi itu justru keindahan rumah tangga saya, karena itu seperti karangan bunga dan mahkota. Setiap penatua mengharapkan hidup gereja bisa seperti tahu di China, yang dipotong-potong persegi dan rapi. Mereka menghendaki setiap urusan dalam gereja tepat dan bagus. Tetapi hanya satu tempat yang demikian, yaitu kuburan. Hidup gereja yang normal, misalnya hidup gereja di Anaheim, adalah sebuah jala-jala berkotak-kotak, dan rantai kawat berpilin. Di sinilah tempat penatua dapat menanggung kewajiban dengan sepenuhnya. Hal ini mustahil kita pahami hanya berdasarkan mempelajari potongan firman, melainkan harus dipahami dalam terang pengalaman kita.
i. Dua Ratus Buah Delima
Ayat 20 mencatat, “Ganja-ganja yang di atas kedua tiang itu, di sebelah atas sekali, lewat jala-jala yang meliliti perut ganja itu; dan buah-buah delima ada dua ratus berjajar berkeliling pada ganja yang satu, demikian juga pada yang kedua.” Haleluya, ada dua ratus buah delima! Meliliti setiap ganja ada sesuatu yang menonjol seperti perut buncit. Yang meliliti perut ganja, adalah dua ratus buah delima yang berjajar dua baris. Ini menyatakan dua kali lipat ekspresi kekayaan hayat yang seratus kali ganda. Jika Anda bersentuhan dengan penatua yang setiap hari menanggung kewajiban dalam situasi yang ruwet dan simpang siur, Anda akan nampak bahwa mereka sedang mengekspresikan buah delima, mengekspresikan hayat yang limpah. Semua gerutuan, ketidakpuasan, dan telepon-telepon yang merepotkan, akhirnya menjadi suatu tonjolan yang di atasnya penuh buah-buah delima. Alangkah ajaibnya hal ini!
j. Garis Tengah Ganja Adalah Empat Hasta
Garis tengah setiap ganja adalah empat hasta (1 Raj. 7:19). Ini menyatakan bahwa lingkaran tiang yang berukuran dua belas hasta, terdiri dari tiga kali empat. Lingkaran tiang sebesar dua belas hasta, garis tengah ganja sebesar empat hasta, menyatakan angka tiang dan ganja adalah empat. Empat mewakili makhluk ciptaan, umat manusia, tetapi mereka telah dilipatgandakan oleh Allah Tritunggal. Mereka telah terbaur dengan Allah Tritunggal, sehingga akhirnya menjadi dua belas. Jika Anda menjajarkan semuanya ini, Anda akan menemukan alangkah bermaknanya semuanya ini. Ini berarti mereka yang menghakimi dan menyalahkan diri sendiri itu memandang dirinya tidak punya apa-apa, kemampuan mereka memikul tanggung jawab penuh dalam keadaan yang ruwet dan simpang siur adalah karena mereka tidak hidup berdasarkan diri sendiri, melainkan berdasarkan Allah. Akhirnya, mereka bukan mewujudkan kemampuan, kualifikasi, kepandaian, pemahaman, dan hikmat mereka, melainkan mengekspresikan buah-buah delima, yaitu dua ratus kali lipat kekayaan hayat.
k. Dua Tiang Tegak di Depan Serambi Bait
Akhirnya, kita mengetahui bahwa nama kedua tiang itu adalah Yakhin dan Boas (1 Raj. 7:21). Yakhin berarti “Dia akan mendirikan” Boas berarti “Di dalamnya ada kekuatan”. Kedua tiang ini tegak pada serambi bait, mempersaksikan Allah akan mendirikan pembangunan-Nya, dan kekuatan yang sejati terkandung dalam pembangunan ini. Bahkan pada hari ini, pembangunan gereja juga mempersaksikan ini. Melalui rincian gambar pada 1 Raja-raja 7, kita nampak bagaimana kita bisa menjadi tiang dalam pembangunan Allah, yaitu dengan menghakimi diri, hidup berdasarkan iman, memikul tanggung jawab, dan mengekspresikan kelimpahan hayat.