← Daftar isi Kejadian (6) · bab 8/16

DIUBAH (5)

(f) Yang Dibuat Yakub

1) Mendirikan Tugu (Tiang)

Dalam berita ini kita tetap membicarakan pengalaman di Betel. Dalam Kejadian 35:14 tertulis Yakub akhirnya mendirikan tugu (tiang, Tl.) dari batu di Betel, seperti apa yang dibuatnya setelah ia bermimpi ketika ia di Betel untuk kali pertama (28:18). Di sana, tiang batu disebut rumah Allah (28:22). Jika Yakub tidak menyebut tiang ini rumah Allah, kita tidak akan pernah tahu kalau tiang batu adalah bagi pembangunan rumah Allah. Kita akan mengira bahwa itu hanyalah sebuah batu. Tetapi sekarang kita tahu bahwa batu ini dapat menjadi rumah. Ini menunjukkan bahwa ti-ang ini akan menjadi sebuah bangunan, yaitu rumah Allah.

Dalam Kitab Kejadian, ada dua jenis tiang — tiang batu (28:18; 35:14) dan tiang garam (19:26). Anda ingin menjadi tiang macam apa? Sudah tentu kita semua ingin menjadi tiang batu. Tiang batu menandakan membangun dalam kekuatan. Salomo mendirikan dua pilar pada serambi Bait Suci (1 Raj. 7:21). Tiang pertama dinamai “Yakhin”, yang berarti “Dia akan mendirikan”, tiang yang kedua dinamai “Boas”, yang berarti “di dalamnya ada kekuatan”. Tiang batu itu tidak saja menyiratkan suatu pembangunan, bahkan suatu pembangunan dalam kekuatan. Tiang garam menyiratkan hal yang memalukan, sebab tiang garam tidak berguna bagi kehendak Allah. Istri Lot, salah seorang yang terpanggil oleh Allah, menjadi tiang yang memalukan. Seharusnya ia menjadi bahan bangunan, namun karena jatuh, ia menjadi bahan yang memalukan.

Dalam masa pelajaran hayat selama ini, kita berulang-ulang melihat bahwa hampir setiap hal dalam Kitab Kejadian merupakan benih kebenaran yang berkembang di kitab-kitab berikutnya dalam Alkitab. Cara untuk mempelajari Kitab Kejadian ialah menelusuri setiap butir dalam kitab-kitab berikutnya dalam Alkitab. Sedang cara untuk mempelajari Kitab Wahyu adalah sebaliknya. Jika Anda ingin memahami Kitab Wahyu, Anda harus menelusuri kembali kitab-kitab yang di depannya. Dalam berita ini kita perlu mengikuti perkembangan benih tiang.

a) Sketsa Umum

a. Untuk Bait

Setelah Salomo membangun bait, ia sengaja menambahkan dua buah tiang. Menurut konsepsi alamiah kita, Salomo seharusnya mendirikan tiang dulu, baru kemudian baitnya. Tetapi ternyata setelah ia mendirikan bait, ia melanjutkan mendirikan dua buah tiang dan menempatkannya di depan bait (1 Raj. 7:15-22). Jika kita bisa melihat bait itu, tentunya mata kita bukan pertama-tama terarah kepada baitnya, melainkan kepada kedua tiang ini. Ukuran tiang-tiang ini nampaknya tidak sebanding dengan ukuran bait itu. Ukuran tiang-tiang yang tidak sebanding ini amat bermakna. Ini menyatakan bahwa kedua tiang pada bait ini seolah sebuah papan nama yang besar. Hari ini, bila kita mendekati sebuah bangunan, di sana terdapat sebuah papan yang menunjukkan bangunan apakah itu. Demikian pula, di depan bait terlihat dua tiang yang mengatakan, “Allah akan mendirikan”, dan “di dalamnya ada kekuatan”. Kedua tiang ini menyatakan kepada alam semesta, termasuk ma-nusia, Iblis, dan semua malaikat yang telah jatuh, bahwa TUHAN mendirikan dan di dalam bangunan ini ada kekuatan. Dengan tegas Alkitab mengatakan bahwa tiang pertama disebut Yakhin dan tiang kedua disebut Boas. Kita telah menunjukkan bahwa Yakhin berarti “Dia akan mendirikan” dan Boas berarti “di dalamnya ada kekuatan”. Ini jelas mewahyukan bahwa bangunan rumah Allah ini seluruhnya tergantung pada tiang. Inilah alasan Yakub tidak mendirikan rumah Allah, melainkan hanya mendirikan tugu.

Dalam pasal 28 Yakub masih merupakan seorang perebut. Namun perebut ini telah menerima visi beserta penjelasannya. Dengan mendirikan sebuah tiang dan menyebutnya rumah Allah, ia telah menjelaskan visi yang adalah mimpinya itu. Penjelasan ini jauh lebih baik daripada penjelasan Daniel terhadap mimpi Nebukadnezar. Daniel hanya memberi keterangan, tanpa mendirikan atau melakukan sesuatu. Tetapi Yakub tidak hanya menjelaskan mimpinya secara lisan dengan mengatakan, “Inilah rumah Allah,” ia juga mendirikan tiang dan menyebutnya rumah Allah. Bagaimana mungkin Yakub, seorang perebut yang belum bertobat, belum diperbarui, dan belum diubah dapat melakukan perkara yang sangat mengagumkan itu? Namun, justru ia telah melakukannya. Kita semua harus berkata, “Terima kasih Yakub, engkau telah membuka langit, sehingga kami nampak rumah Allah.”

Untuk pembangunan rumah Allah, surga telah dibuka oleh seorang perebut. Saya percaya hal ini, karena Alkitab memberi tahu demikian. Saya tidak mempercayai konsepsi saya, karena menurut konsepsi saya, tidak mungkin seorang perebut berbuat demikian. Saya lebih mudah mempercayai seorang yang saleh dan alim seperti Daniel, yang berdoa setiap hari, untuk menjelaskan mimpi surgawi. Kelihatannya tidak adil dan tidak logis seorang perebut ber-buat demikian. Namun ia melakukan hal ini secara spontan. Ini mutlak merupakan masalah anugerah. Seperti yang dinyatakan oleh Roma 9:11, “Bukan berdasarkan perbuatan, tetapi berdasarkan panggilan-Nya.” Roma 9:13 mengatakan, “Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau.” Anugerah bukan masalah keadilan. Jangan bertanya kepada Allah, “Ya, Allah, mengapa Engkau membenci Esau? Bagiku Esau lebih baik daripada Yakub. Tidak adil jika Engkau mengasihi Yakub dan membenci Esau.” Jika demikian, Allah akan menjawab, “Sekalipun Aku mengasihi Yakub dan membenci Esau, apa urusanmu membantah perkara ini? Aku mempunyai posisi-Ku untuk membenci, dan Aku pun mempunyai anugerah untuk mengasihi.” Siapakah Anda — Esau atau Yakub? Seorang yang baik atau seorang perebut? Kita semua harus mengakui bahwa kita ini Yakub, si pemegang tumit, si perebut. Gereja penuh dengan pemegang tumit. Kalau Anda bukan seorang pemegang tumit, pasti Anda akan kehilangan anugerah Allah. Kita semua adalah pemegang tumit yang sejati, tetapi kita semua pemegang tumit di dalam anugerah. Tidak seorang pun dapat menyangkal hal ini. Saya dapat berseru dan mendeklarasikan, “Puji Tuhan, karena aku adalah seorang pemegang tumit di dalam anugerah. Anugerah membuat aku berbeda.”

Sekalipun dalam pasal 28 Yakub adalah seorang perebut, tetapi ketika kita sampai pada pasal 48, kita menemukan bahwa si perebut ini telah diubah seluruhnya menjadi manusia Allah. Manusia Allah ini adalah tiang itu. Dipandang dari satu aspek, rumah Allah dibangun dengan tiang ini. Ketika Anda memasuki rumah Allah dalam alam semesta ini, hal pertama yang Anda lihat adalah manusia Allah ini, Israel ini, berdiri di depan bangunan Allah. Sesudah Yakub diubah menjadi Israel, ia berdiri di depan bangunan Allah selaku papan petunjuk rumah Allah.

b. Untuk Pembangunan Gereja

Ketika kita maju ke Perjanjian Baru, kita melihat Tuhan Yesus datang melalui inkarnasi. Inkarnasi-Nya adalah pendirian Kemah Pertemuan (Yoh. 1:14). Kemah Pertemuan ini, yang didirikan supaya Allah bisa tinggal di antara manusia, merupakan pendahuluan bait. Ketika Anda melihat seorang anak kecil, dengan sendirinya Anda tahu bahwa anak itu akan bertumbuh dewasa. Demikian juga, ketika Anda melihat Kemah Pertemuan, Anda tahu bahwa Bait Suci akan muncul. Sebagai Kemah Pertemuan, Yesus adalah petunjuk bahwa bait Allah akan segera muncul. Inilah sebabnya Tuhan mengubah nama Simon, yang mewakili kelompok murid yang pertama, menjadi Kefas, yang berarti batu (Yoh. 1:42). Dalam Matius 16:18, setelah Petrus menjawab pertanyaan Tuhan, “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” dengan jawaban, “Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup!”, Tuhan Yesus segera membalas, “Engkau adalah batu” (Tl.). Tuhan sepertinya berkata, “Akulah Kristus, batu karang itu, dan engkau adalah batu yang terbangun di atas-Ku untuk pembangunan gereja-Ku.” Dalam suratnya yang pertama, Petrus berkata, “Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Ptr. 2:5). Perhatikan juga diri Rasul Paulus. Dulunya ia merupakan penentang pembangunan Allah, melakukan apa saja sebisanya untuk menganiaya, merusak, dan menelantarkan pembangunan Allah. Tetapi ketika ia sedang dalam perjalanan ke Damsyik untuk menganiaya gereja, ia ditangkap oleh Tuhan dan dijadikan bahan bangunan, bahkan ahli bangunan (mandor) yang cakap (1 Kor. 3:10).

Dalam Galatia 2:9 Paulus mengatakan bahwa Yakobus, Kefas, dan Yohanes disebut sebagai soko guru (tiang utama). Waktu itu, mereka dipandang oleh kaum saleh sebagai soko guru. Soko guru dalam 1 Raja-raja 7:21 ditujukan kepada pembangunan bait Allah dalam Perjanjian Lama, tetapi dalam Galatia 2:9 ditujukan kepada pembangunan rumah Allah dalam Perjanjian Baru. Banyak orang Kristen yang tahu bahwa Petrus dan Yohanes adalah murid pun rasul, namun jarang yang tahu bahwa mereka juga adalah soko guru. Mereka bukan saja sebagai murid-murid yang diajar Tuhan dan rasul-rasul yang mengajar, mendidik, dan memperlengkapi orang lain, mereka juga tiang, papan petunjuk bangunan Allah dalam Perjanjian Baru. Kalau Anda datang kepada Petrus, Yohanes, dan Yakobus, mereka tidak akan mengajarkan doktrin atau agama kepada Anda. Sebagaimana tiang di depan bait bukan menyatakan agama, ajaran-ajaran, atau perintah dan hukum, melainkan menyatakan bait, demikian juga mereka akan menyatakan rumah Allah. Siapa saja yang melihat kedua tiang di depan bait, akan segera tahu bahwa bait ada di sana. Demikian pula, ketika kita melihat Petrus, Yakobus, dan Yohanes, kita segera tahu bahwa pembangunan Allah sedang berlangsung di sini. Banyak orang Kristen melihat sesuatu dengan kacamata berwarna. Jika Anda membicarakan Petrus kepada mereka, mereka hanya menganggap Petrus sebagai seorang rasul. Pernahkah Anda berkonsepsi bahwa Petrus itu sebuah tiang? Bertahun-tahun, tiap kali teringat akan Petrus dan Yohanes, saya selalu menganggap mereka sebagai rasul, bukan sebagai tiang yang kokoh. Namun belakangan ini Tuhan merombak konsepsi saya. Sekarang setiap kali teringat akan Petrus, Yakobus dan Yohanes, saya memikirkan tiga tiang yang besar tegak di depan saya. Ketika kita melihat tiang-tiang ini, kita tidak memikirkan agama atau doktrin; kita memikirkan rumah Allah. Tiang-tiang ini berdiri di alam semesta untuk mendeklarasikan Betel, bait Allah.

c. Di Dalam Yerusalem Baru

Jangan mengira bahwa saya telah mengiaskan arti Alkitab atas tiang-tiang ini. Huruf-huruf A-l-l-a-h merupakan ejaan dari kata Allah, sedang huruf-huruf a-n-j-i-n-g merupakan ejaan dari kata anjing; ini bukan kiasan, ini ejaan. Allah adalah penyusun huruf yang terbaik, telah mencetak kata-kata yang sangat jelas untuk kita mengerti. Pertama-tama dalam Kejadian 19:26 Ia memasang tiang negatif, tiang garam. Melalui tiang negatif ini, Allah bertanya kepada kita apakah kita mau menjadi tiang garam. Dalam pasal 28, kita mempunyai tugu (tiang) batu, dan dalam 1 Raja-raja 7 kita mempunyai dua tiang di depan bait. Galatia 2:9 menyebut pula tiang-tiang. Kali ini berhubungan dengan bait Allah dalam Perjanjian Baru. Dalam Wahyu 3:12, sekali lagi Tuhan membicarakan tiang, kata-Nya, “Siapa yang menang, ia akan Kujadikan tiang di dalam Bait Suci Allah-Ku.” Tiang dalam ayat ini bukan mengacu kepada bait dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, melainkan kepada Yerusalem Baru dalam kerajaan yang akan datang dan dalam kekekalan. Bait Allah terbagi tiga tahap, tiga masa, tahap Perjanjian Lama, tahap Perjanjian Baru, dan tahap kerajaan dan kekekalan. 1 Raja-raja 7 mengung-kapkan tahap Perjanjian Lama, Galatia 2:9 mengungkapkan tahap Perjanjian Baru, sedang Wahyu 3:12 mengungkapkan pembangunan dalam zaman kerajaan dan kekekalan. Inilah cara penyusunan huruf yang dibuat Allah. Bila kita menjajarkan huruf-huruf A-l-l-a-h, akan terbaca kata “Allah”. Demikian pula ketika kita mengajarkan 1 Raja-raja 7:21, Galatia 2:9, dan Wahyu 3:12, kita dapat mengatakan, “Se-karang aku tahu, mengapa dalam menjelaskan visi tentang rumah Allah, Betel, Yakub mendirikan sebuah tiang. Tiang merupakan sebuah petunjuk, tanda, sebutan rumah Allah.”

Dalam 1 Raja-raja 7:21 hanya ada dua tiang, sedang dalam Galatia 2:9 ada tiga tiang. Berapa banyakkah tiang yang akan ada di masa yang akan datang? Bilangannya bukan ditulis oleh Allah, melainkan oleh Anda dan saya. Tidak seorang pun tahu berapa banyaknya tiang yang akan ada di sana. Kita hanya bisa berkata, “Siapa yang mau, boleh saja.” Siapa yang mau, akan menjadi tiang dalam bait Allah. Pintu terbuka lebar-lebar. Sudah tentu tidak seperti universitas-universitas terkenal yang hanya menerima sejumlah kecil dari calon-calon yang mendaftarkan diri. Di sini tidak ada batasan jumlah orang yang ingin menjadi tiang dalam bait Allah di masa yang akan datang. Seribu atau sejuta, tetap saja terbuka. Jika jumlahnya dibatasi hanya dua, mustahillah di antara kita ada yang mempunyai kesempatan itu. Takkan ada harapan bagi kita menjadi tiang. Namun jumlah ini tidak terbatas — “Siapa mau, boleh saja.” Inginkah Anda menjadi tiang? Saya mau. Alangkah besar belas kasihan Allah atas kita!

Perhatikan ukuran ruang maha kudus dalam Kemah Pertemuan, yaitu sebuah kubus yang masing-masing sisinya berukuran 10 hasta (Kel. 26:8, 16). Ruang maha kudus dalam Bait Suci agak lebih besar, yaitu sebuah kubus yang masing-masing sisinya berukuran 20 hasta (1 Raj. 6:20). Namun perhatikan berapakah besarnya ruang maha kudus dalam Yerusalem Baru yang akan datang? Seluruh kota dengan ukuran panjang, lebar, dan tingginya 12.000 hasta (kira-kira 1.363 mil, atau kurang lebih jarak dari Los Angeles ke Texas). Ruang maha kudus yang kecil cukup ditopang dengan dua tiang saja. Namun berapakah tiang yang diperlukan untuk ruang maha kudus yang diperluas? Jawabannya, “Siapa mau, boleh saja menjadi tiang.” Di sana tersedia tempat bagi Anda. Tanpa Anda mengisi tempat ini, niscaya terdapat kekosongan dalam kekekalan.

Saya telah membaca dan mempelajari Alkitab selama 50 tahun lebih. Alkitab terlampau dalam, tidak seorang pun dapat memahami sepenuhnya. Saya percaya apa yang saya sajikan kepada Anda dalam berita ini telah digali dari tempat yang dalam dari kitab ini. Dalam Perjanjian Lama, kedua tiang tersebut menyatakan bait Allah, sedang dalam Perjanjian Baru, ketiga tiang menyatakan pembangunan Allah. Tetapi dalam Yerusalem Baru di masa yang akan datang dan kekekalan, jumlah tiangnya tidak terhitung. Hari ini, siapa saja mau, ia bisa menjadi salah satu di antara tiang-tiang ini.

d. Perlu Berada di Betel

Sekarang kita perlu melihat cara untuk menjadi sebuah tiang. Saya yakin bahwa di antara kita, baik muda maupun tua, semuanya ingin sekali mengetahui hal ini. Untuk mengetahui cara untuk menjadi tiang, perlulah memperhatikan lima tempat yang berbeda: tempat istri Lot menjadi tiang garam; tempat Yakub mendirikan tiang di Betel; tempat Salomo mendirikan dua tiang; tempat Petrus, Yakobus dan Yohanes menjadi tiang-tiang gereja dalam Perjanjian Baru; dan tempat gereja di Filadelfia di mana terlihat siapa saja yang mau, ia bisa menjadi tiang. Apakah Anda berada pada posisi istri Lot? Terhadap pertanyaan ini, Anda harus tegas menjawab, “Tidak.” Tetapi apakah Anda berada pada posisi Yakub, atau pada posisi tiga tiang dalam Perjanjian Baru, atau salah satu tiang di Filadelfia dalam Wahyu 3:12? Terhadap pertanyaan ini, Anda harus menjawab, “Ya,” karena Anda seharusnya berada pada keempat posisi ini. Pertama Anda perlu memiliki posisi Yakub, kemudian posisi tiang-tiang Salomo, lalu posisi tiga tiang, dan akhirnya posisi Filadelfia. Jika Anda ingin menjadi tiang dalam Yerusalem Baru yang akan datang, Anda harus melarikan diri dari tempat istri Lot. Selama Anda bersamanya, Anda tidak akan bisa menjadi tiang batu. Ingatlah peringatan Tuhan dalam Lukas 17:32 “Ingatlah akan istri Lot!” Hari ini banyak orang Kristen yang berada pada posisi istri Lot. Hal ini bahkan benar-benar terjadi pada beberapa orang di antara kita. Seolah-olah banyak yang tidak peduli apakah mereka akan menjadi tiang garam atau tiang batu. Padahal Anda justru harus mempedulikannya. Jika hari ini Anda mengabaikannya, suatu hari kelak, Anda tetap harus memperhatikannya. Pada suatu hari, Anda tidak hanya akan bertobat atas ketidakacuhan Anda, bahkan sangat menyesalinya.

Setelah kita melarikan diri dari posisi istri Lot, kita harus datang ke Betel. Selama 50 tahun yang lampau, kita telah diberi amanat oleh Allah sehingga menaruh beban berat terhadap Betel ini. Kita tidak bisa meninggalkan gereja. Atas hal ini kita dipersalahkan orang-orang. Mereka berkata bahwa kita terlalu memperhatikan gereja dan tidak memperhatikan pemberitaan Injil, penelaahan Alkitab, atau pekerjaan - pekerjaan Kristen lainnya. Jawaban saya terhadap tudingan-tudingan ini, ialah, “Aku masih belum cukup untuk gereja. Aku masih belum cukup ‘gila’ untuk gereja.” Janganlah menganggap ini konsepsi saya. Kalau Anda membaca Perjanjian Baru, Anda pasti menemukan bahwa tiang-tiang seperti Petrus, Yakobus, Yohanes, dan Paulus semuaya tanpa kecuali “gila” untuk pembangunan Allah. Selama bertahun-tahun, tidak sedikit orang berdebat dengan saya, mengatakan, “Asal kami menginjil, memperoleh jiwa-jiwa, mengajar orang membaca Alkitab, dan membawa mereka mengasihi Tuhan, bukankah ini sudah cukup baik?” Jawaban saya, “Di manakah gereja? Dalam Matius 16:18 Tuhan Yesus berkata, “Aku akan mendirikan gereja-Ku.” Di manakah gereja yang terbangun ini? Perkataan Tuhan tidak dapat tidak tergenap. Di mana, melalui siapa, dan dengan cara apa Ia akan mendirikan gereja-Nya?” Sekarang inilah waktunya membangun gereja. Di sini dan sekarang, melalui kita, Tuhan mendirikan gereja-Nya. Banyak orang Kristen mencurahkan perhatian mereka untuk mempelajari nubuat-nubuat. Namun nubuat yang terbesar adalah ucapan Tuhan Yesus dalam Matius 16:18 —”Aku akan mendirikan gereja-Ku”. Janganlah mengasyikkan diri dengan Israel, Antikristus, pemulihan Kerajaan Romawi, atau sepuluh tanduk. Curahkanlah sepenuhnya perhatian Anda kepada pernyataan Tuhan dalam Matius 16:18. Sepanjang abad, bahkan hingga dewasa ini, gereja masih belum juga terbangun. Inilah yang mendorong kita menaruh beban terhadap gereja.

Jika Anda mau menjadi tiang batu, Anda harus berada di Betel. Betel itulah tempat satu-satunya. Posisi istri Lot merupakan tempat menjadi tiang yang memalukan, sedangkan Betel merupakan tempat yang tepat untuk jadi tiang bagi pembangunan. Mendengar hal ini, mungkin ada orang Kristen akan berkata, “Saudara Lee, maksud Anda, apakah hanya di dalam gereja sajalah orang baru bisa menjadi tiang batu? Lalu bagaimana dengan kami yang tidak berada dalam gereja?” Jawaban saya, “Cara yang paling dapat diandalkan untuk menjadi tiang adalah di dalam gereja.” Kita semua tahu betul akan perlunya asuransi. Mungkin Anda cukup beruntung karena tidak pernah mengalami kecelakaan, tetapi akan lebih bijaksana bila Anda ikut asuransi. Orang-orang di luar gereja mendebat saya atas perkara ini, dan saya sering berkata, “Teman, batinku sangat damai. Jalanku benar atau salah aku tidak peduli. Aku hanya tahu bahwa selama aku menempuh jalan ini, aku merasa sangat damai. Bagaimana dengan Anda? Sementara Anda mendebat aku, adakah rasa damai pada diri Anda?” Banyak yang berkata, “Tidak, aku tidak merasa damai.” Kemudian saya berkata, “Mengapa aku memiliki damai, sedang Anda tidak? Ini dikarenakan Anda tidak berada pada jalan ini. Silakan jangan berdebat dengan aku.” Kepada semua teman Kristen lainnya, aku berkata demikian: “Datanglah ke Betel dan masuklah ke dalam gereja. Inilah perusahaan asuransi yang terbaik. Di sini kita semua diasuransikan.” Dalam pasal 28 dan 35, Yakub mendirikan tiang di Betel, rumah Allah, ini sangatlah bermakna. Hari ini, rumah Allah adalah gereja. Dalam 1 Timotius 3:15 Paulus berkata, “Jadi, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” Jika Anda ingin menjadi tiang batu, Anda wajib berada di Betel.

e. Dua Kali Datang ke Betel

Dua kali Yakub datang ke Betel. Menurut pengalaman saya, ini menyatakan bahwa kita semua juga dua kali masuk ke dalam gereja. Kali pertama adalah masuk di dalam mimpi, dan yang kedua adalah benar-benar masuk. Pada tahun 1925, saya mendapatkan mimpi yang sangat jelas, tetapi baru tujuh tahun kemudian, yaitu tahun 1932, saya benar-benar masuk ke dalam realitas dan pelaksanaan hidup gereja. Banyak di antara Anda yang berpengalaman sama. Kali pertama Anda masuk ke dalam gereja, sejangka waktu lamanya hanya berupa mimpi. Boleh jadi Anda sudah mimpi bertahun-tahun lamanya. Tetapi setelah lewat tahun-tahun itu, hal itu bukan lagi mimpi, Anda dapat berkata, “Oh, kini aku benar-benar secara riil berada dalam hidup gereja. Tahun-tahun yang lampau cuma mimpi. Puji Tuhan, Tuhan telah memeliharaku dalam mimpi ini, namun sekarang aku mempunyai pengalaman yang riil.” Mula-mula Yakub bermimpi, dua puluh tahun lebih kemudian, ia dibawa masuk ke dalam pengalaman.

Bandingkan pasal 28 dengan pasal 35, Anda akan nampak perbedaan besar di antara keduanya. Segala sesuatu dalam pasal 28 adalah mimpi, agak samar-samar, kurang mantap. Akan tetapi, pengalaman dalam pasal 35, segala sesuatunya mantap dan riil. Bagaimanapun, kita bersyukur kepada Tuhan, berhubung mimpi permulaan itu merupakan suatu gambar yang nyata. Segala sesuatu yang di dalam realitas sama dengan yang ada di dalam mimpi. Dalam hal ini tidak ada perbedaan; bedanya hanyalah mimpi itu tidak nyata, sedang yang sebenarnya itu nyata. Kita memerlukan kedua-duanya, baik mimpi maupun realitas. Terima kasih kepada Tuhan, sebab hari ini kita ada dalam praktek hidup gereja.

Praktek terdapat di Betel dalam pasal 35. Yakub bukan hanya mendirikan tiang, bahkan menuangkan kurban curahan ke atasnya. Dalam pasal 28 tidak ada kurban curahan, yang ada hanyalah penuangan minyak. Namun, di sini penuangan minyak didahului oleh persembahan kurban curahan. Pengalaman ini sangat subyektif. Di Betel, mula-mula kita bermimpi, kemudian ada realitas. Dalam realitas kita mendirikan tugu (tiang) dan menuangkan diri kita ke atasnya. Ini sungguh bermakna. Yakub bukan menuangkan kurban curahan ke atas dirinya atau ke atas bumi, melainkan ke atas tiang itu. Kita akan melihat lebih lanjut tentang hal ini dalam berita selanjutnya.

f. Kristus yang di Atas-Nya

Kita Mengaso Menjadi Sebuah Tiang

Menurut 28:18 Yakub “mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu (tiang).” Tiang ini adalah batu yang tadinya dipakai Yakub sebagai bantal. Batu ini menggambarkan Kristus sebagai perhentian kita. Yakub tidak mengalami mimpi ini ketika ia di rumah, melainkan ketika ia mengembara. Kita juga adalah pengembara seperti Yakub. Ketika kita sedang dalam perjalanan, kita nampak visi gereja. Setiap orang yang sedang mengembara akan merasa lelah dan memerlukan perhentian. Di manakah kita bisa mendapatkan perhentian? Jawabannya terdapat dalam Matius 11:28, sabda Tuhan sendiri, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” Kristus adalah batu yang pada-Nya kita boleh meletakkan kepala kita yang letih sehingga kita mendapatkan perhentian. Kristus yang kepada-Nya kita beristirahat itu menjadi unsur penyusun tiang. Kita ini bukan bahan bangunan tiang tersebut. Bahannya justru Kristus yang di atas-Nya kita beristirahat dan yang kita alami. Kristus yang tergarap ke dalam kita ini menjadi bahan penyusun tiang ini.

Dalam kekristenan hari ini, orang sangat sulit memperoleh bahan penyusun tiang, karena sedikit orang yang diajar bagaimana mengalami Kristus secara subyektif. Dulu ketika Anda berada dalam agama Kristen, adakah orang memberi tahu Anda bagaimana mengalami Kristus sehingga tergarap ke dalam Anda? Belakangan ini saya memberi tahu beberapa saudara dan saudari bahwa dalam gereja, kita bukan saja harus mengasihi Tuhan dan hidup bagi-Nya, juga harus hidup berdasarkan Dia. Oh, ada perbedaan yang sangat besar antara kita hidup untuk Kristus dengan hidup berdasarkan Kristus. Hidup untuk Kristus berarti Anda yang melakukan segala sesuatu untuk-Nya, diri Anda tetap Anda dan Kristus tidak tergarap ke dalam Anda. Tetapi, hidup berdasarkan Kristus berarti membiarkan Kristus tergarap ke dalam kita. Melalui Kristus tergarap ke dalam kita, kita menjadi bahan bangunan. Batu dari tiang itu pertama-tama adalah Kristus sendiri, kemudian adalah Kristus yang kita alami dan tergarap ke dalam kita. Sekarang batu ini bukan hanya Kristus, melainkan Kristus di dalam kita. Kristus tergarap ke dalam kita, dan kita menjadi satu dengan-Nya. Dengan demikian, kita dijadikan bahan pembangunan tiang.

Pengalaman ini hanya didapatkan dalam hidup gereja. Sedikitnya dapat kita katakan bahwa kemungkinan terbesar untuk mengalami hal ini ada dalam hidup gereja. Karena di luar gereja, yaitu di dalam apa yang dinamakan “agama Kristen”, sangat sedikit orang yang diajar untuk membiarkan Kristus tergarap ke dalam mereka. Saya sangat yakin bahwa mulai sekarang akan ada berita-berita yang mengajar kita bagaimana hidup berdasarkan Kristus. Kristus tergarap ke dalam kita inilah pengubahan yang sejati. Begitu unsur Kristus ditambahkan ke dalam kita, kita pun menjadi bahan bangunan untuk tiang. Kesemuanya ini terjadi di Betel, di mana Yakub berada.

Pada tahun 1964, saya diminta berbicara di suatu kelompok tertentu di Dallas. Tuan rumah sangat menghargai ministri saya, sikapnya terhadap saya ramah-tamah. Tetapi secara terang-terangan maupun secara usulan mereka memberi tahu saya bahwa orang-orang di Dallas tidak siap mendengarkan perihal gereja. Mereka berkata, “Saudara Lee, bersimpatilah kepada kami, janganlah mengatakan sepatah pun tentang gereja.” Saya tidak berjanji memenuhi permintaan mereka. Saya menjawab, “Aku benar-benar menyadari situasi ini. Tetapi aku berani menjamin bahwa semakin aku memberitakan Kristus dan menyuplaikan Kristus sebagai hayat kepada orang-orang, mereka akan semakin damba mendapatkan gereja. Walau tanpa menyinggung sepatah kata pun tentang gereja, kecuali hanya menyuplaikan Kristus sebagai hayat, mereka tetap akan mendambakan gereja.” Pada pertemuan yang terakhir, saya merasa berbeban untuk membicarakan perihal gereja. Ketika saya berdiri dan meminta para hadirin untuk membaca Roma 12, mereka merasa dikecewakan. Namun saya berkata kepada diri sendiri, “Aku tidak peduli apakah menyalahi Anda atau tidak. Jika aku tidak melepaskan bebanku, aku tidak akan dapat hidup.” Kemudian dengan kuat saya menyampaikan berita mengenai gereja, namun hal itu menyalahi mereka. Kemudian saya mendengar kabar bahwa ada seorang saudara, yang tadinya belum menempuh hidup gereja, menghadiri pertemuan yang terakhir itu. Banyak orang yang telah berdoa bagi saudara ini. Dalam pertemuan itu, satu-satunya pertemuan yang dihadiri olehnya, ia tertangkap oleh hidup gereja. Sekalipun saya telah menyalahi orang-orang itu, namun Tuhan telah memperoleh saudara ini. Sekarang saudara ini menjadi sebuah tiang.

g. Disempurnakan Menjadi Tiang

Bagaimana Anda tahu bahwa seseorang telah menjadi sebuah tiang? Dalam hidup gereja kita nampak bahwa jika saudara-saudara tertentu “diambil”, maka banyak urusan akan runtuh; namun jika mereka tinggal di sana, maka seluruh bangunan tertopang oleh tiang-tiang itu. Tuhan tidak memperhatikan orang-orang yang disalahi; Ia memperhatikan orang-orang yang akan menjadi tiang. Tiang hanya mungkin disempurnakan di Betel. Dengan kata lain, tiang hanya bisa didirikan di Betel. Tidak ada tiang bagi rumah Allah yang didirikan di luar Betel. Jika kita tidak masuk ke dalam gereja, dan tetap tinggal di denominasi, kita tidak akan bisa disempurnakan sehingga menjadi tiang. Kita di-sempurnakan di Betel, dalam hidup gereja. Setelah mengalami Kristus secara subyektif, dan hidup dalam gereja secara tepat dan mutlak, kita masih memerlukan banyak penyempurnaan.

Mari kita perhatikan lebih lanjut perihal tiang-tiang yang disinggung dalam Galatia 2:9. Ketika Tuhan memanggil Petrus, ia masih sebagai penangkap ikan, mentah, kasar, belum terolah. Tetapi setelah Tuhan menghabiskan tiga setengah tahun bekerja di atas dirinya, ia disempurnakan. Pada hari Pentakosta, ia ditegakkan sebagai tiang. Sesaat Petrus berdiri pada hari Pentakosta, mungkin malaikat-malaikat ikut bersorak gembira, “Inilah Boas. Inilah tanda pembangunan Allah tiba.” Membaca Kitab Kisah Para Rasul, Anda akan nampak bahwa Petrus berdiri sebagai tiang di depan bait Allah dalam Perjanjian Baru.

Hai, kaum muda, inilah kata-kata yang berasal dari lubuk hati saya. Pemulihan Tuhan sedang berkembang, saya yakin pemulihan ini akan berkembang dengan pesat. Tetapi kecepatan perkembangan pemulihan Tuhan tergantung pada tiang-tiang. Saya percaya bahwa di kota-kota besar di Amerika dan di setiap negara besar di bumi ini pasti akan ada gereja. Untuk ini, tiang diperlukan di mana-mana. Saya harap Anda, kaum muda, nampak hal ini. Jika Anda nampak ini, Anda akan berkata, “Tuhan, aku tidak dapat menyangkal bahwa Engkau telah menetapkan aku di atas jalan-Mu, aku telah mendengarkan perkataan-Mu yang terkini. Aku paham bahwa aku harus mengalami Kristus secara subyektif dan harus disempurnakan di Betel, di dalam hidup gereja. Ya Tuhan, belas kasihanilah aku, berilah anugerah yang aku perlukan.”

Kaum muda, beban saya adalah membuat Anda mengenal alangkah besar tanggung jawab Anda. Jika di masa-masa mendatang, banyak di antara Anda yang disempurnakan, pemulihan Tuhan akan berkembang dengan pesat. Tuhan akan melakukan banyak hal melalui Anda! Beban saya bukan hanya menyampaikan satu berita saja, melainkan membantu Anda agar nampak bahwa hari ini kita semua mempunyai masa keemasan untuk disempurnakan dan dijadikan tiang-tiang. Karena kita berada di Betel, maka kesempatan kita jauh lebih besar daripada Petrus. Petrus hidup dalam zaman Injil, pada awal Perjanjian Baru, sedang kita justru pada akhir Perjanjian Baru, bahkan dalam Wahyu 3:12. Saya yakin bahwa kesempatan yang kita miliki pada hari ini merupakan kesempatan yang tidak pernah ada dalam sejarah sebelum ini. Dari dulu tidak pernah ada hidup gereja seperti di Anaheim seperti hari ini, dan tidak pernah ada ministri firman Tuhan yang sejernih dan selimpah sekarang. Jangan menggarap otak Anda atau mengukuhi opini Anda. Opini-opini Anda tidak akan membawa Anda ke sana. Buanglah opini Anda! Kasihilah Tuhan, terimalah Dia sebagai hayat Anda, sebagai persona Anda, dan hiduplah berdasarkan Dia dalam hidup gereja. Perlu setiap hari dijenuhi dengan hidup gereja dan firman Tuhan. Jika Anda berbuat demikian, saya percaya, beberapa tahun kemudian, banyak di antara Anda yang akan menjadi tiang-tiang. Kemudian ke mana pun Anda pergi, tiang pembangunan Allah akan menyertai Anda. Kita semua ada di dalam gereja dan di bawah ministri ini. Hari ini benar-benar merupakan masa keemasan yang telah ditentukan oleh Tuhan!