DIUBAH (4)
Kita perlu memperhatikan lebih lanjut mengenai pengalaman di Betel. Dalam berita ini kita sampai pada janji Allah.
(e) Janji Allah
Boleh jadi kita sudah sangat terbiasa dengan istilah janji. Tetapi, dalam potongan firman ini, janji Allah bukanlah suatu hal yang biasa. Allah yang memberikan janji dalam pasal 35 ini adalah Allah yang serba cukup (ayat 11 Tl.). Kita perlu memperhatikan wahyu mengenai nama Allah dalam Kitab Kejadian ini. Dalam pasal 1, Allah diwahyukan sebagai Elohim, dalam pasal 2 kita mendapatkan nama Yehova (TUHAN). Elohim adalah nama Allah sebagai Pencipta, berkaitan dengan penciptaan-Nya, dan Yehova adalah nama-Nya dalam hubungan-Nya dengan manusia, menyingkapkan bagaimana Allah berhubungan dengan manusia. Sebutan Allah yang serba cukup tidak diungkapkan sebelum 17:1, di mana Allah berbicara kepada Abraham, “Akulah Allah yang serba cukup, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela” (Tl.). Di masa lampau kita kurang memahami arti sebutan ini. Kita menganggap itu hanyalah berarti Allah adalah segala sesuatu kita. Memang tidak perlu diragukan dan itu benar bahwa keserbacukupan Allah itu berarti Allah adalah segala sesuatu bagi kita. Tetapi apa tujuannya gelar Allah ini diwahyukan? Di masa lampau saya telah menyampaikan sejumlah berita atas gelar Allah ini, memberi tahu orang bahwa Allah itu kaya dan Dialah suplai kita yang serba cukup. Dialah segala sesuatu yang memenuhi semua keperluan kita. Di satu aspek, ini tidak salah. Allah itu serba cukup untuk menyuplai kita. Namun, untuk apakah Ia menyuplai kita? Apakah Ia menyuplai kita hanya supaya kita beroleh selamat atau menjadi rohani? Bukan. Jika kita ingin memahami tujuan Allah menjadi Sang serba cukup, perlu membaca Kejadian 35 dan membandingkannya dengan Kejadian 17.
Tujuan Allah mewahyukan diri-Nya sebagai Allah yang serba cukup adalah untuk pembangunan-Nya. Sebagaimana Elohim untuk penciptaan Allah, maka Allah yang serba cukup adalah untuk pembangunan Allah. Janganlah memahami firman kudus dengan imajinasi Anda. Pahamilah Alkitab berdasarkan Alkitab itu sendiri, melalui membandingkan bagian firman yang satu dengan bagian yang lain. Dari mana kita tahu bahwa Elohim adalah untuk penciptaan Allah? Semua pelajar Alkitab setuju bahwa kali pertama sesuatu disebut dalam Alkitab menjadi suatu prinsip bagi hal tertentu itu. Kali pertama Elohim disebutkan adalah dalam Kejadian 1. Dalam pasal ini Allah diwahyukan untuk penciptaan-Nya. Karena itu, hal ini menjadi prinsip bahwa Elohim secara mendasar ditujukan kepada Allah yang menciptakan, Allah Sang Pencipta.
Kejadian 17:1, kali pertama menyinggung sebutan Allah yang serba cukup — El-Shaddai, dengan jelas mewahyukan makna sebutan ini. Sebelum itu, Abraham telah dipanggil Allah dengan tujuan untuk menjadi bapak banyak orang yang dipanggil Allah. Allah tidak ingin Abraham menggenapkan hal ini dengan memakai kekuatan alamiahnya, dan Allah tidak memberi Abraham seorang anak sampai kekuatan alamiahnya habis. Tetapi Abraham kurang memahami kehendak Allah, pula tidak beriman kepada-Nya dalam hal ini. Ia malah mengikuti usul istrinya dan menggunakan kekuatan alamiahnya untuk melahirkan seorang anak dari seorang selir. Perkara ini menyalahi Allah, sehingga Allah tidak berbicara dengan Abraham selama 13 tahun. Jangan berpikir bahwa Allah tidak mungkin tersinggung, atau Ia selalu sabar terhadap Anda. Alkitab tidak pernah memberi tahu kita bahwa Allah itu serba sabar. Dalam kasus Abraham, Allah tersinggung, bukan karena dosa, melainkan karena penggunaan kekuatan alamiah Abraham. Dalam ekonomi Allah, tidak ada sesuatu yang lebih menyinggung-Nya daripada penggunaan kekuatan alamiah Anda. Bila seseorang yang dipanggil Allah menggunakan kekuatan alamiahnya untuk berbuat sesuatu dalam menggenapkan kehendak Allah, Allah akan tersinggung. Di satu pihak, penggunaan kekuatan alamiah Anda merupakan suatu penghinaan terhadap Allah. Allah tidak memerlukan pertolongan Anda. Menggunakan kekuatan alamiah Anda berarti Anda mampu menolong Allah. Itu menandakan bahwa Allah tidak serba cukup dan Ia perlu pertolongan Anda. Sewaktu Allah kembali berbicara dengan Abraham setelah membungkam selama 13 tahun, Ia berkata, “Akulah Allah yang serba cukup” (Tl.). Jika Anda membaca pasal ini dengan cermat, Anda akan menemukan bahwa keserbacukupan Allah adalah agar kita menghasilkan bahan-bahan bagi rumah-Nya.
Kejadian 17 dan 35 saling berkaitan sedikitnya dalam tiga hal. Pertama, kedua pasal ini mewahyukan bahwa Allah itu serba cukup. Allah mewahyukan sebutan ilahi ini baik kepada Abraham maupun Yakub. Kedua, dalam kedua pasal ini terdapat pengubahan nama. Nama Abraham diubah dari Abram menjadi Abraham, dan nama Yakub diubah dari Yakub menjadi Israel. Dalam hayat rohani, pengubahan nama berarti transformasi, bukan sekadar pergantian sebutan. Mungkin Anda berkata, “Saudara Lee, Anda telah berbuat sesuatu yang keliru. Sejak hari ini, Anda bukan lagi Witness Lee tetapi Charles Ford.” Pergantian sebutan semacam ini tidak berarti sama sekali. Menurut Alkitab, meng-ubah nama berarti mengubah orangnya. Tadinya Anda Abram, sekarang Anda Abraham. Sebelumnya, Anda adalah Yakub si perebut; sekarang, Anda Israel, pegulat Allah. Inilah pengubahan, bukan sekadar pengubahan sebutan, melainkan pengubahan apa adanya Anda, susunan Anda. Karena itu, pasal 17 membicarakan transformasi Abraham, dan pasal 35 membicarakan transformasi Yakub.
Ketiga, dalam kedua pasal ini terdapat janji Allah. Janji Allah kepada Abraham diulangi dalam janji-Nya kepada Yakub. Janji Allah kepada Yakub dalam pasal 28 tidak tegas. Dalam 28:14 Allah berkata, “Keturunanmu akan menjadi seperti debu tanah banyaknya.” Jika saya adalah Yakub, saya akan menjawab, “Tuhan, aku tidak menginginkan keturunan yang sebanyak debu tanah. Sebagai pengganti laksaan debu tanah, aku lebih suka memiliki beberapa raja.” Meskipun janji Allah dalam pasal 28 ini membicarakan mengenai debu tanah, namun pasal 35 membicarakan tentang raja-raja dan bangsa-bangsa (ayat 11). Bangsa menandakan kerajaan. Janji Allah dalam 35:11 merupakan ulangan janji-Nya dalam 17:6. Dalam kedua janji tersebut, Ia menjanjikan bangsa-bangsa dan raja-raja akan terbit. Dalam mimpi Yakub di Betel, Allah memberi tahu kepadanya bahwa keturunannya akan sebanyak debu tanah. Tetapi sekarang dalam pengalaman nyata di Betel pada pasal 35, janji Allah telah lebih maju. Di sini tidak disebutkan debu, melainkan bangsa-bangsa serta raja-raja. Fokus janji dalam pasal ini ialah berbuah dan bertambah banyak agar melahirkan bangsa-bangsa dan raja-raja. Jadi, Kejadian 17 dan 35 saling berkaitan dalam 3 hal: pewahyuan sebutan ilahi, Allah yang serba cukup; pengubahan nama orang; dan janji pelipatgandaan untuk melahirkan bangsa-bangsa dan raja-raja.
Sekarang kita dapat melihat tujuan sebutan Allah yang serba cukup. Allah yang serba cukup adalah untuk pembangunan rumah Allah. Kita semua perlu memahami perkataan ini. Allah yang serba cukup adalah untuk pembangunan di Betel. Allah itu serba cukup untuk hidup gereja, untuk pembangunan rumah-Nya di bumi. Anda tidak dapat mengalami Allah yang serba cukup secara individu. Agar bisa mengalami Allah yang serba cukup, Anda harus ada di Betel, dalam rumah Allah, dalam hidup gereja.
Kebenaran ini dapat dibuktikan melalui pengalaman kita. Sebelum kita menempuh hidup gereja, banyak di antara kita yang mempunyai beberapa pengalaman akan Allah. Tetapi seperti yang kita semua persaksikan, kita tidak mengalami Allah sebagai Allah yang serba cukup. Meskipun saya pernah mengalami-Nya dalam berbagai aspek, saya tidak mengalami-Nya sebagai Sang serba cukup sebelum saya menempuh hidup gereja. Setelah menempuh hidup gereja beberapa tahun, saya dapat mengucapkan, “Haleluya, alangkah banyak pengalaman akan Allah yang serba cukup yang kumiliki dalam hidup gereja!” Allah itu terlampau serba cukup untuk dialami hanya oleh beberapa orang beriman perorangan. Sebagai individu, kita sangat terbatas. Keserbacukupan Allah memerlukan satu Tubuh yang korporat. Kita memerlukan rumah untuk mengalami Allah dalam aspek ini.
Belakangan ini, kami mempunyai sidang doa yang amat indah di Anaheim. Saya percaya bahwa sidang itu akan menjadi kenangan sampai di alam kekal. Semua pengutaraan dalam doa-doa itu selaras sekali. Dalam doa-doa itu, kami mendoakan masalah perempuan yang menderita sakit bersalin, dan tentang anak laki-laki yang menang. Sungguh mengagumkan! Secara individu dalam kamar-kamar kita tidak akan ada doa seperti ini; kita harus ada di dalam gereja. Kaum saleh setempat yang melalaikan sidang doa itu, sudah tentu rugi besar. Ini bukan pengalaman terhadap Elohim atau Yehova, melainkan terhadap Allah yang serba cukup. Dalam sidang doa itu saya seolah berada di langit tingkat tiga sambil menikmati Allah yang serba cukup. Ha-nya dalam hidup gereja baru kita dapat memahami keserbacukupan Allah kita.
Ketika saya mendengar kritikan dari orang-orang yang menentang, saya tidak merasa benci kepada mereka; malahan merasa kasihan kepada mereka. Alangkah besar kerugian mereka! Agama tradisional menghalangi mereka sehingga mereka tidak dapat masuk ke dalam pergerakan Allah hari ini. Betapa Allah yang serba cukup ini kita alami dalam pergerakan-Nya hari ini! Ini bukan suatu ajaran atau su-atu pengertian doktrinal; ini adalah pengalaman kita terhadap Allah dalam hidup gereja. Allah yang serba cukup diwahyukan untuk pembangunan Betel dan Ia kita alami dalam hidup gereja.
“Gereja” dalam Perjanjian Baru merupakan penjelasan dari istilah “rumah Allah” dalam Perjanjian Lama. Dalam 1 Timotius 3:15 Paulus berkata, “Jadi, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” Bagi kita hari ini, Betel bukan sebuah sejarah, melainkan gereja Allah yang hidup. Betel dalam Perjanjian Lama melambangkan hidup gereja yang riil. Alangkah miskinnya keadaan kekristenan hari ini! Kebanyakan orang Kristen memandang Betel sebagai sebuah sejarah yang sudah lampau. Mereka tidak menyadari bahwa hidup gereja hari ini adalah Betel. Mengapa mereka tidak mengerti hal ini? Karena mereka tidak memiliki hidup gereja. Terpujilah Tuhan, karena dalam pemulihan Tuhan, kita memiliki hidup gereja!
Dalam hidup gereja, pengalaman kita terhadap Allah yang serba cukup bertambah terus dari hari ke hari, bahkan dari menit ke menit. Hidup gereja kita di Anaheim maju pesat dalam dua tahun terakhir ini. Jika Anda membandingkan Januari 1977 dengan Januari 1975, Anda akan nampak perbedaannya. Sudah tentu, tahun 1977 merupakan tahun yang besar dalam pemulihan Tuhan. Hidup gereja itu terus bergerak maju; baik siang atau malam selalu maju. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa hidup gereja telah maju sejak sore ini. Haleluya, Allah yang serba cukup ini bagi hidup gereja, Betel hari ini!
1) Bukan di Padan-Aram
Di Padan-Aram, Allah tidak memberikan janji kepada Yakub (31:3). Mengapa Allah tidak memberikan janji-Nya di sana? Bukan karena Allah berubah, Allah tidak pernah berubah. Tidak adanya janji yang diberikan kepada Yakub di Padan-Aram karena tempat itu bukan tempat yang tepat. Di Padan-Aram, Yakub tidak di atas posisi yang tepat untuk menerima janji Allah. Kalau kita ingin menerima janji Allah, kita harus ada di tempat yang tepat. Dengan tegas saya katakan bahwa banyak perkara hanya dapat diterima dalam gereja lokal. Di luar gereja lokal, Anda tidak mempunyai kedudukan untuk memperoleh perkara-perkara ini.
2) Bukan di Sukot, Juga Bukan di Sikhem
Akhirnya, Yakub meninggalkan Padan-Aram dan pergi ke Sukot, yang berarti “gubuk” (33:17). Di Sukot, yang terletak di perbatasan tanah permai, Yakub mendirikan rumah bagi dirinya dan gubuk-gubuk bagi ternaknya, namun ia tidak mendirikan mezbah bagi Allah. Kemudian Yakub melanjutkan perjalanannya dari Sukot ke Sikhem. Kita tahu bahwa di Sikhem ia mendirikan mezbah. Tetapi mezbah ini didirikan pada tempat kesenangan dirinya sendiri, bukan pada tempat yang menyenangkan Allah. Karena itu, Allah mengubah suasana sekeliling Yakub, agar ia tergugah sehingga mau menerima pesan yang menyuruhnya bangun dan pergi menuju Betel. Yakub menerima janji Allah bukan di Sukot, juga bukan di Sikhem.
3) Hanya di Betel
Hanya di Betel Allah mengaruniakan janji-Nya kepada Yakub (35:11-12). Janji dalam pasal 35 ini lebih solid daripada janji yang diberikan kepada Yakub dalam mimpi (28:13-14). Sebelum kita menempuh hidup gereja, kita tidak pernah memiliki janji yang solid dari Allah. Janji-janji yang paling solid selalu diberikan dalam hidup gereja. Penga-laman kita setelah menempuh hidup gereja adalah hampir setiap hari merupakan hari janji. Ini berarti setiap hari penuh dengan pengharapan. Di luar gereja, kita tidak ada pengharapan. Apakah Anda memiliki pengharapan sebelum menempuh hidup gereja? Tidak, kita hanya mempunyai kekecewaan dan keputusasaan belaka. Sekarang, dalam hidup gereja, segala sesuatu menjadi pasti dan bermakna. Pagi, siang, dan malam kita memiliki pengharapan. Semua pengharapan ini merupakan janji yang kita terima setiap hari.
Semua janji yang dikaruniakan Allah dan yang kita terima dalam hidup gereja adalah bagi pembangunan Allah. Janji-janji ini bukan untuk pondok atau gubuk kita. Pada waktu-waktu lampau, beberapa di antara kita ingin mendirikan pondok kecil kekudusan, dan beberapa saudari berharap membangun gubuk kecil kehidupan pernikahan yang bahagia. Banyak istri yang tidak menemukan kehidupan pernikahan yang menyenangkan, berusaha mencarinya dalam kekristenan. Bahkan setelah menempuh hidup gereja, tidak sedikit saudari yang dalam batinnya masih tetap berharap menemukan kehidupan pernikahan yang bahagia yang selama ini mereka cari. Tujuan mereka bukan untuk membangun rumah Allah, melainkan untuk membangun gubuk-gubuk kecil bagi kehidupan pernikahan mereka. Tetapi pengalaman kebanyakan di antara kita adalah demikian: ketika kita sedang sibuk berusaha membangun gubuk kecil bagi diri sendiri, Allah meniupnya. Dalam pengalaman saya beberapa tahun yang lalu, pertama-tama Allah meniup atapnya, kemudian dinding-dindingnya. Akhirnya, gubuk saya runtuh seluruhnya. Namun jangan menganggap bahwa umat gereja itu kasihan karena gubuk kehidupan pernikahan mereka dihancurkan. Kita memiliki kehidupan pernikahan yang lebih baik, tetapi bukan dalam gubuk kecil kita, melainkan dalam rumah Allah. Hari ini, dalam hidup gereja, saya dapat bersaksi dan bermegah kepada si musuh mengenai kehidupan pernikahan yang indah yang saya miliki dalam gereja. Jika Anda tidak memiliki hidup gereja, kehidupan pernikahan yang Anda miliki akan sangat kasihan! Ketika kita mencoba membangun gubuk kecil untuk diri sendiri, kita tidak akan pernah sukses. Tetapi begitu kita membawa kehidupan pernikahan kita ke dalam gereja, kita akan menemukan diri kita ada dalam rumah yang besar. Puji Tuhan, kita di sini untuk rumah Allah!
Sebelum saya menempuh hidup gereja, saya juga mencoba membangun gubuk kecil kesabaran. Seperti kebanyakan dari Anda tahu, saya adalah orang yang cepat. Orang yang cepat memerlukan banyak tenaga untuk menjadi sabar. Sampai-sampai ketika mendengar tanda sibuk sewaktu menelepon pun saya tidak sabar. Ketika masih muda saya menyadari bahwa saya kurang sabar, saya mencoba membangun gubuk kecil kesabaran. Saya juga berusaha sekuat tenaga untuk mendirikan gubuk-gubuk kecil kesucian dan kemenangan. Saya ingin sekali mengalahkan temperamen saya. Orang yang bersifat cepat tidak sabar, dan ketidaksabaran menyebabkan orang gampang marah. Saya cukup menyadari bahwa saya ini kurang sabar, tidak kudus, dan sering gagal. Meski saya berusaha mendirikan gubuk-gubuk kecil kesabaran, kesucian, dan kemenangan, namun tidak satu pun yang berhasil. Ketika saya menempuh hidup gereja, saya tidak bisa langsung melupakan gubuk-gubuk ini. Sebaliknya, saya tetap mencoba membuatnya. Pada suatu hari saya nampak alangkah bodohnya mendirikan gubuk-gubuk seperti itu, karena saya sudah memiliki sebuah rumah yang besar — hidup gereja. Selama kita hidup dalam hidup gereja, kelembutan, kesucian, dan kemenangan adalah milik kita.
Izinkan saya membagi nikmat atas pengalaman yang berkali-kali saya alami. Setiap kali saya hampir marah, saya memikirkan gereja, dan kemarahan itu segera sirna. Mungkin saya berkata kepada diri saya, “Aku hampir marah-marah kepada penatua.” Tetapi, oleh belas kasihan Allah, saya memikirkan gereja, dan amarah saya segera sirna. Jangankan mengalami hidup gereja, memikirkan hidup gereja saja dapat memadamkan amarah kita. Boleh jadi Anda berkata, “Saudara Lee, itu takhayul. Mana mungkin sedikit memikirkan gereja sudah dapat menghapus amarah?” Saya tidak dapat menerangkan hal ini, tetapi saya tahu bahwa saya telah mengalami melalui memikirkan gereja, saya bisa menang. Asalkan Anda benar-benar menempuh hidup gereja, tentu Anda akan memiliki kekudusan dan kemenangan! Sewaktu Anda memasuki Yerusalem Baru, masihkah Anda mencari kekudusan, kerendahan hati, dan kesabaran? Tidak, ketika Anda memasuki Yerusalem Baru, semua perbendaharaan kata-kata ini telah diakhiri. Tidak akan ada kesabaran di sana, kecuali Allah sendiri sebagai Sang serba cukup. Hari ini kita memiliki miniatur Yerusalem Baru dalam hidup gereja. Tidak ada orang Kristen lain yang mengalami kekudusan sebanyak yang kita alami. Bukannya kita membangun gubuk-gubuk dan pondok-pondok. Kita hanya bagi satu-satunya bangunan — rumah Allah. Rumah ini merupakan tempat tinggal bersama. Kita dan Allah tinggal di sana. Puji Tuhan, kita sekarang berada di dalam hidup gereja yang mengalami Allah secara korporat!
Janji dalam Kejadian 35:11 diberikan oleh Allah yang serba cukup, terutama agar kita beranak cucu dan bertambah banyak. Nampaknya mirip dengan pemberitaan Injil, tetapi walaupun ada beberapa kesamaan antara janji ini dengan penginjilan, penginjilan hari ini adalah suatu bentuk berbuah. Pemberitaan Injil mungkin merupakan aktivitas yang di luar, berbuah merupakan keluapan hayat yang di dalam. Beranak cucu dan bertambah banyak berarti melahirkan anak-anak, menghasilkan sesuatu dari kelimpahan hayat batiniah Anda. Ini hanya bisa terjadi melalui keluapan kelimpahan hayat batiniah.
Andaikata, kita semua adalah kera dan Allah berkata, “Hai kera, berkembangbiaklah!” Kalau demikian halnya, sejumlah besar kera akan dilahirkan. Sudah tentu, Allah tidak menginginkan perbanyakan jenis ini. Yang Allah inginkan adalah perbanyakan Israel, bukan Yakub. Seperti yang telah kita ketahui, di dalam nama Israel terkandung huruf-huruf Ibrani yang mewakili Allah — El. Perbanyakan kita haruslah merupakan perbanyakan Allah. Perbanyakan “kera” bukanlah perbanyakan Allah karena “kera” tidak mengandung esens dan unsur Allah. Kera kekurangan “El”. Tetapi Israel mengandung bagian Allah. Kita perlu diubah untuk perbanyakan. Sebelum Abram menjadi Abraham, Allah tidak pernah memberi tahu dia untuk berkembang biak. Jika Allah telah mengutarakan perkataan ini sebelum Abram menjadi Abraham, maka manusia alamiah, orang yang belum diubah itu yang akan diperbanyak. Hanya setelah Abraham disunat dan mengalami pengubahan nama, barulah Allah berjanji untuk menjadikan dia “beranak cucu sangat banyak” (17:6). Ini sama dengan Yakub. Dalam pasal 28, Allah tidak menjanjikan Yakub bahwa ia akan beranak cucu dan bertambah banyak. Di sana Ia hanya mengatakan bahwa keturunan Yakub akan sebanyak debu tanah. Tetapi berbeda dalam pasal 35. Di sini Allah berjanji kepada Israel bahwa ia akan beranak cucu dan bertambah banyak dan bangsa-bangsa serta raja-raja akan berasal darinya. Ini bukan perbanyakan “kera”, melainkan Israel.
Dalam penginjilan mereka, banyak orang Kristen telah melahirkan “kera-kera”, yang tidak menguntungkan bagi hidup gereja. Maukah Anda mempunyai suatu perbanyakan yang terdiri dari “kera-kera”? Tidak, kita harus mempunyai perbanyakan Israel. Untuk memiliki ini, kita perlu diubah dari Yakub menjadi Israel, karena hanya Israel yang dapat melahirkan Israel. Jadi, janji dalam pasal ini didasarkan atas fakta Yakub telah diubah. Ini juga untuk pembangunan rumah Allah.
Meskipun saya telah membawa sejumlah orang kepada Tuhan sebelum saya masuk ke dalam hidup gereja, namun tidak seorang pun di antara mereka yang menempuh hidup gereja. Saya membawa mereka masuk ke dalam kekristenan, tetapi tidak peduli sekuat tenaga saya berusaha, saya tidak bisa membawa mereka ke dalam hidup gereja. Tetapi setelah saya masuk ke dalam hidup gereja, beratus-ratus orang lain yang dibawa ke hadapan Tuhan pada penginjilan-penginjilan saya yang lampau bukan saja beroleh selamat, bahkan masuk ke dalam hidup gereja. Mungkin Anda berkata, “Saudara Lee, sebelum Anda masuk ke dalam hidup gereja, Anda adalah Yakub, jadi Anda melahirkan Yakub.” Itu benar. Tetapi setelah saya masuk ke dalam hidup gereja, dan mengalami pengubahan, hampir semua orang yang pernah saya bawa kepada Tuhan menjadi bahan bangunan bagi hidup gereja setempat, bagi pembangunan rumah Allah. Ada perbedaan besar antara penginjilan dan perbanyakan seperti ini. Kita bukan hanya menginjil dengan melaksanakan aktivitas luaran tertentu; kita menempuh hidup gereja untuk melahirkan buah-buah yang layak bagi hidup gereja.
Perhatikanlah bahwa ayat 11 tidak mengatakan perbanyakan ini adalah untuk Betel. Sebaliknya, perbanyakan di sini adalah untuk bangsa - bangsa dan raja-raja. Ini menyatakan, atau sedikitnya menyiratkan bahwa hidup gereja yang tepat harus merupakan kerajaan. Hasil perbanyakan kita haruslah hidup gereja, dan hidup gereja ini harus menjadi kerajaan.
Ada satu masalah dalam menafsirkan frase “sekumpulan bangsa-bangsa” dalam ayat 11. Berapa banyakkah sebenarnya bangsa yang berasal dari Yakub? Hanya bangsa Israel saja yang berasal darinya. Tetapi dalam bahasa Ibrani, kata yang diterjemahkan “sekumpulan” berarti sejumlah besar. Selanjutnya, dalam Kejadian 17:5 Abraham disebut “bapa sejumlah besar bangsa”. Abraham menjadi bapak sejumlah besar bangsa manakah? Hanya satu bangsa, yaitu bangsa Israel, yang berasal dari Abraham. Kita memerlukan seluruh Alkitab untuk perkembangan benih-benih yang ditemukan dalam Kitab Kejadian. Tidak usah diragukan, Israel merupakan satu bangsa, satu kerajaan. Gereja, Kerajaan Seribu Tahun, dan Yerusalem Baru dalam kekekalan juga merupakan kerajaan.
Bahkan hari ini, hidup gereja harus merupakan satu bangsa, satu kerajaan. Perbanyakan kita harus menghasilkan bangsa-bangsa. Artinya, buah apa saja yang kita hasilkan haruslah menghasilkan hidup gereja, yang akan menjadi Kerajaan Allah yang sejati dengan raja-rajanya. Kita di sini bukan sekadar untuk hidup gereja, tetapi juga untuk kerajaan. Untuk hidup gereja, kita tidak perlu banyak disiplin, namun untuk kerajaan kita memerlukan disiplin yang cukup banyak.
Pada akhir Injil Markus, Tuhan berpesan kepada murid-murid-Nya, “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil” (Mrk. 16:15), dan pada bagian kesimpulan Injil Lukas tertulis, “Dalam nama-Nya berita tentang pertobatan untuk pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa” (Luk. 24:47). Tetapi dalam Matius 28:19 Tuhan berkata, “Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku.” Injil Matius berhubungan dengan kerajaan, dan dalam Injil ini hidup gereja hari ini adalah kerajaan. Matius 16:18-19 menyatakan demikian, “Di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga.” Dalam ayat-ayat ini, kata-kata gereja (jemaat) dan kerajaan dipakai bergantian. Ini memperlihatkan bahwa gereja adalah kerajaan dan kerajaan adalah gereja. Hidup gereja hari ini harus merupakan kerajaan. Karena dalam kekristenan tidak ada kerajaan, maka dapat dikatakan bahwa dalam kekristenan tidak ada gereja yang tepat. Dalam kekristenan tidak ada pemuridan, tidak ada pendisiplinan. Kita harus melahirkan buah-buah yang akan menjadi murid-murid yang sejati, yaitu orang-orang yang berada di bawah pendisiplinan ilahi, sehingga hidup gereja benar-benar dapat menjadi kerajaan. Dalam hidup gereja hari ini, perlu ada pendisiplinan. Jika kita tidak mau menerima pendisiplinan hari ini, bagaimana mungkin kita mengharapkan memerintah dalam kerajaan? Kalau Anda tidak pernah mengalami pendisiplinan di bawah kedaulatan Allah, Anda tidak akan tahu bagaimana memerintah bangsa-bangsa. Hidup gereja merupakan persiapan bagi kerajaan, dan di dalamnya kita sekarang menerima pendisiplinan agar bisa meraja bersama Kristus.