← Daftar isi Kejadian (6) · bab 6/16

DIUBAH (3)

(5) Pengalaman di Betel

Kita telah nampak bahwa banyak benih kebenaran yang penting ditaburkan dalam Kitab Kejadian. Rumah Allah — Betel, adalah salah satu di antaranya. Tetapi tidak banyak orang Kristen yang mengetahui apa pengalaman rumah Allah itu. Tidak diragukan lagi banyak orang tahu bahwa menurut Perjanjian Baru, rumah Allah mengacu kepada gereja (1 Tim. 3:15). Tetapi, di manakah hidup gereja yang riil dan tepat? Meskipun ada jutaan orang Kristen di bumi, hanya sedikit yang mempunyai hidup gereja yang sejati. Sebagian besar hanya duduk mengikuti kebaktian hari Minggu pagi dan mendengarkan pendeta berkhotbah. Itu bukan hidup gereja yang riil dan tepat seperti yang diwahyukan Alkitab. Menurut Alkitab, dalam hidup gereja yang sejati, setiap orang yang diselamatkan harus menjadi anggota yang hidup dan berfungsi. Setiap anggota dari Tubuh Kristus haruslah berfungsi. Anggota-anggota itu tidak saja berfungsi, bahkan hidup bersama, setiap hari dengan lincah mengekspresikan Allah dalam Kristus. Inilah hidup gereja yang riil yang diwahyukan dalam Alkitab. Kebenaran-kebenaran mengenai hidup gereja yang riil ini ditaburkan sebagai benih dalam Kitab Kejadian.

Sebelum pasal 35, Allah disebut Allah seseorang, misalnya Allah Abraham atau Allah Ishak. Dia adalah Allah bagi perorangan. Tetapi dalam 35:7 kita memiliki “El-Betel”. Allah rumah Allah. Ia bukan lagi Allah bagi perorangan, Dia sekarang Allah milik Tubuh korporat, rumah Allah. Banyak orang Kristen hanya mengalami Allah sebagai Allah individu mereka. Sedikit sekali yang mengalami Allah sebagai Allah rumah Allah. Berapa banyak Anda mengalami Allah sebagai Allah Tubuh yang korporat? Kita semua harus mengalami Allah sedemikian rupa sehingga Ia tidak semata Allah bagi kita secara individu, tetapi juga Allah rumah Allah. Dua hal ini sangat berbeda.

Dalam Kejadian 35 kita melihat perpalingan yang penting dan mendasar. Tetapi, tidak banyak anak Allah yang mengapresiasi hal ini. Mereka membaca pasal ini berulang-ulang tanpa melihat perpalingan yang mendasar yang terdapat di dalamnya. Sebelum pasal ini, Allah adalah Allah bagi perorangan. Ia itu Allah Habel, Allah Enos, Allah Henokh, Allah Nuh, Allah Abraham, dan Allah Ishak. Namun di sini, Ia tidak lagi sekadar Allah bagi perorangan, melainkan El-Betel, Allah rumah Allah. Dalam bahasa Ibrani, “El” berarti Allah. Dalam kata Ibrani “El-Betel” ini, dua kali menggunakan kata “Allah”, pada permulaan dan akhir. Seolah-olah Allah rumah Allah itu ganda. Kita harus mengakui bahwa kita belum banyak mengalami ini. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa setelah memasuki hidup gereja, kita memiliki sejumlah pengalaman atas Allah sebagai Allah bagi kita sebagai Tubuh korporat. Dalam hidup gereja, kita betul-betul mengalami Allah secara korporat, bukan secara individu. Kita semua dapat bersaksi bahwa Allah yang kita alami dalam hidup gereja, jauh lebih kaya dan lebih manis daripada Allah yang kita alami dalam hidup pribadi kita. Inilah sebabnya kita lebih suka tinggal sepanjang waktu dalam hidup gereja. Secara individu, kita dapat mengalami Allah Abraham atau Allah Ishak, namun tidak dapat meng-alami Allah sebagai Allah Betel. Kita dapat mengalami Allah rumah Allah hanya dalam hidup gereja. Pada tahun-tahun yang lampau, jika orang memberitakan Allah itu Allah Tubuh korporat, mungkin kedengarannya asing bagi Anda. Tetapi hari ini tidaklah asing bagi kita. Kita sudah mengenal pengalaman ini dan kita lebih mengapresiasinya daripada peng-alaman individu kita terhadap-Nya.

Tetapi ini bukan berarti tidak ada aspek pengalaman individu terhadap Allah. Bahkan hari ini, tetap ada aspek ini. Jangan lupa, kebenaran dalam Alkitab selalu mempunyai dua aspek. Demikian juga pengalaman terhadap Allah, ada aspek korporat, juga ada aspek individu. Banyak orang Kristen dewasa ini yang tidak mempunyai pengalaman ter-hadap Allah, atau hanya mengalami Allah secara individu. Mereka kekurangan pengalaman terhadap Allah secara korporat. Tetapi dalam sidang-sidang hidup gereja, kita mengalami Allah secara korporat.

Pada butir ini, saya perlu berterus terang kepada beberapa orang di antara Anda. Meskipun Anda bersidang dengan kami seminggu demi seminggu, namun Anda tidak memiliki pengalaman korporat terhadap Allah. Sebagai contoh, Anda berdoa setiap hari dalam hidup pribadi Anda, tetapi Anda tidak pernah berdoa dalam sidang-sidang gereja. Dalam sidang, Anda berlaku sebagai pengamat, seperti penonton permainan sepak bola. Anda menonton orang lain bermain, tetapi Anda sendiri tidak bermain. Anda tidak pernah mengambil bagian dalam sidang. Malahan beberapa di antara kalian ada yang mengkritik orang-orang yang mengambil bagian, mengatakan bahwa mereka terlalu berani atau terlalu cepat. Namun bagaimana dengan Anda? Apakah Anda di sini sebagai pengkritik, penonton, atau pengambil bagian dalam hidup gereja? Ini menunjukkan bahwa beberapa di antara kita tidak menghiraukan pengalaman korporat terhadap Allah. Beberapa orang di antara kita tetap tidak berdoa dalam sidang. Jika diminta untuk berdoa, Anda selalu menolak dengan alasan. Itu menandakan Anda menganggap orang lain golongan imam, sedang Anda sendiri golongan awam. Dengan demikian Anda telah membuat tingkatan kaum paderi. Ini justru penyimpangan dalam pandangan Allah. Kita semua harus berdoa untuk menyingkirkan sistem kaum paderiawam ini.

Jika sidang doa di suatu gereja lokal itu baik, itu pasti dikarenakan tidak ada tingkatan paderi dalam sidang doa tersebut. Meskipun banyak yang berdoa, namun tidak ada doa yang utuh sendirian, melainkan disempurnakan bersama banyak orang. Dalam cara yang usang dan tradisional, ketika seseorang berdoa, ia tidak hanya menyelesaikan sebuah doa bahkan memborong dua atau tiga doa. Ada yang tidak mau berdoa sama sekali, ada yang mendoakan beberapa topik secara berurutan. Tetapi dalam sidang doa yang tepat setelah seseorang berdoa beberapa kalimat pendek, yang lain akan mengikutinya. Dengan demikian, banyak orang berfungsi bersama untuk mempersembahkan satu doa. Inilah pengalaman El-Betel, pengalaman korporat terhadap Allah.

Kejadian 35 merupakan peralihan yang mendasar dari pengalaman individual terhadap Allah kepada pengalaman korporat terhadap Allah. Sebelum pasal ini, El-Betel tidaklah disebutkan. Elohim diwahyukan dalam pasal 1, dan Yehova dalam pasal 2. Kemudian, Allah memberi tahu Yakub bahwa Dialah Allah Abraham dan Allah Ishak. Tetapi sebagaimana kita telah tunjukkan dalam pasal 35, kita melihat sebuah gelar ilahi yang baru — El-Betel, Allah rumah Allah.

Dalam berita ini kita akan melihat arti dari Allah memberi tahu Yakub bahwa namanya bukan lagi Yakub, tetapi Israel. Allah berkata kepada Yakub, “Namamu . . . Israel” (ayat 10), dan Yakub seolah-olah berkata kepada Allah, “Nama-Mu El-Betel.” Siapakah Anda hari ini — Yakub atau Israel? Apakah arti Israel? Menjawab pegulat Allah itu terlalu doktrinal. Israel itu justru orang gereja, dan El-Betel itulah hidup gereja. Kita adalah orang-orang gereja dalam hidup gereja. Ini bukan masalah doktrin, melainkan pengalaman. Orang-orang gereja adalah orang-orang yang dipenuhi Allah dan hidup gereja adalah hidup korporat Allah. Orang gereja adalah orang yang dipenuhi Allah, hidup bersama-sama untuk menikmati Allah dan mengekspresikan Dia. Inilah Israel dalam El-Betel.

(a) Mezbah Yakub

Di Betel, Yakub membangun sebuah mezbah (ayat 6-7). Pengalaman Yakub akan mezbah terus maju. Ketika ia nampak visi di Betel (28:18-19), ia tidak mendirikan sebuah mezbah. Walaupun ia mengartikan mimpinya dengan sangat baik, ia hanya mendirikan sebuah tugu. Sepanjang tahun-tahun di Padan-Aram, Yakub tidak membangun sebuah mezbah untuk mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Se-bagai gantinya, ia menggunakan bermacam muslihat untuk merebut sesuatu dari Laban. Setelah meninggalkan Padan-Aram, pertama-tama Yakub kembali ke sebelah timur Yordan menuju Sukot (33:17). Dalam Kejadian 33:17-18, Alkitab tidak mengatakan bahwa Sukot termasuk “Tanah Kanaan”, sebagaimana Sikhem. Di Sukot, Yakub membangun rumah untuk dirinya dan gubuk-gubuk untuk ternak-nya, tetapi tidak mendirikan mezbah bagi Allah. Ini menunjukkan bahwa ia mementingkan dirinya dan ternaknya, tidak memperhatikan Allah. Akhirnya Yakub meninggalkan Sukot dan pergi ke Sikhem bagian dari Tanah Kanaan, di mana ia memasang kemahnya dan mendirikan mezbah (33:18-20). Mezbah itu dinamainya “El-elohe-Israel”, yang artinya Allah Israel (ialah Allah). Mezbah ini didirikan bagi Allah dari pengalaman pribadi Yakub. Dalam menamai mezbah itu El-elohe-Israel, sesungguhnya ia menyebutnya Allah yang untuk dirinya sendiri. Banyak orang Kristen sama seperti ini. Mereka mencari pengalaman rohani untuk mereka secara individu. Mereka telah belajar bagaimana mengalami Kristus dan bagaimana bersandar kepada Allah secara individu. Allah bukan El-Betel bagi mereka, melainkan El-elohe-Israel. Hanya sedikit orang Kristen yang menaruh perhatian atas Allah sebagai Allah rumah Allah. Sebaliknya, di pihak lain hampir semua orang Kristen menuntut Allah sekadar sebagai Allah mereka. Mungkin mereka akan berdalih, “Bukankah Allah itu Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Apa salahnya kalau mengatakan Allah itu Allahku? Allah yang ajaib itu Allahku!” Kitab Kejadian mereka mungkin tidak lebih dari 30 pasal. Mereka harus maju ke pasal 35 dan nampak bahwa Allah bukan hanya Allah bagi perorangan, lebih-lebih Allah rumah Allah.

Di Betel dalam pasal 28, di Padan-Aram, dan di Sukot, Yakub tidak mempunyai mezbah. Di Sikhem barulah ia membangun mezbah. Walau membangun mezbah di Sikhem itu baik, namun mezbah tersebut tidak dibangun di rumah Allah; tidak dibangun di dalam hidup gereja, melainkan di tempat yang meninggalkan hidup gereja. Bila Anda memeriksa peta, Anda akan menemukan bahwa Sikhem tidaklah begitu jauh dari Betel. Kata “sikhem” berarti “bahu”, menunjukkan kekuatan. Ketika Yakub tiba di Sikhem, ia dikuatkan, karena Sikhem adalah tempat kekuatan. Demikian pula, ketika kita sampai di “Sikhem” kita, kita pun dikuatkan. Hampir semua sidang kebangunan kekristenan hari ini ter-jadi di “Sikhem”. Sidang kebangunan ini hanya menguatkan orang. Banyak orang Kristen memerlukan “Sikhem”, sidang kebangunan setahun sekali, untuk menguatkan mereka. Tidak seorang pun pemimpin kebangunan itu yang memperhatikan hidup gereja. Mereka hanya tahu memikirkan menguatkan orang-orang untuk maju dalam penempuhan hidup kekristenan. Mereka tidak membicarakan masalah yang berkaitan dengan gereja.

Mezbah yang dibangun di Sikhem dinamai El-elohe-Israel, nama yang sekadar menghubungkan Allah dengan pribadi, bukan El-Betel, nama yang menghubungkan Allah dengan satu Tubuh korporat. Beberapa orang akan bertanya, “Bukankah baik dikuatkan di Sikhem?” Lihat saja apa yang terjadi pada Yakub dalam pasal 34. Setelah ia menetap di Sikhem, kesulitan menimpa dirinya. Ia memasang kemah untuk tempat tinggalnya dan mezbah untuk mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Yakub mungkin telah puas, tetapi Allah tidak. Jadi, pengalaman pasal 34 memang diperlukan. Kesulitan telah menimpa dan kesulitan ini membuat Yakub kehilangan kedamaian. Selanjutnya dalam 35:1, Allah dapat berkata, “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah.” Seakan-akan Allah berkata kepada Yakub, “Aku tidak ingin engkau tinggal di Sikhem. Hanya dikuatkan dalam kehidupan kristiani tidaklah cukup. Kehidupan yang dikuatkan tidak per-nah memuaskan Aku. Aku mendambakan hidup gereja, Aku tidak menginginkan kekuatan — Aku menuntut rumah Allah. Aku tidak mau kau tinggal di Sikhem, berangkatlah ke Betel.” Setelah Yakub tiba di Betel, ia mendirikan mezbah dan menamainya El-Betel.

Pengalaman Yakub mengenai mezbah makin hari makin maju. Di Padan-Aram atau di Sukot tidak ada mezbah. Mezbah di Sikhem didirikan bagi Allah menurut pengalaman individunya, bukan mezbah menurut pengalaman Allah secara korporat. Pengalaman individual akan Allah itu baik, namun tidak cukup. Kita perlu maju dari pengalaman individual ke pengalaman korporat.

Mezbah adalah untuk persembahan. Boleh jadi kalian telah mempersembahkan diri kepada Tuhan. Namun, di ma-nakah persembahan itu — di Sikhem atau di Betel? Apakah itu pengalaman El-elohe-Israel atau El-Betel? Sebelum memasuki hidup gereja, saya telah mempersembahkan diri lebih dari sekali. Tetapi persembahan saya setelah masuk ke dalam hidup gereja, jauh lebih tinggi daripada pesembahan-persembahan sebelumnya. Persembahan saya sebelum hi-dup gereja hanya untuk diri saya sendiri. Agar menjadi kudus, rohani, menang, dan diperkenankan oleh Allah. Tetapi persembahan saya setelah masuk ke dalam hidup gereja itu berbeda. Ketika Anda hidup sendirian, Anda tidak perlu banyak persembahan. Tetapi setelah Anda menikah, Anda segera menemukan bahwa pasangan Anda justru seorang yang menyulitkan, sehingga Anda perlu mempersembahkan diri untuk situasi yang baru ini. Anda boleh berkata kepada Tuhan, “Tuhan, sebelum menikah, aku mempersembahkan diri kepada-Mu supaya kudus, rohani, dan menang. Sekarang aku telah menikah, aku harus mempersembahkan diri kepada-Mu untuk ini. Aku suka membuka jendela, namun istriku lebih suka menutupnya. Aku perlu persembahan untuk menyesuaikan situasi ini.” Persembahan ini baru dan berbeda. Kemudian Anda mempunyai putra putri, ini memerlukan persembahan yang lebih lanjut. Sewaktu Anda memasuki hidup gereja, Anda tidak saja menjumpai seorang penyulit, malahan ratusan. Banyak orang yang takut datang ke gereja yang besar, mereka menganggap gereja terlalu besar, dan penatuanya terlalu kuat. Mereka lebih suka pergi ke tempat yang lebih kecil. Ini menandakan bahwa ketika kita masuk ke dalam hidup gereja, kita perlu persembahan yang makin besar dan makin besar lagi. Waktu menikah, Anda memerlukan persembahan; waktu mempunyai anak, Anda memerlukan persembahan yang lebih besar; dan waktu Anda masuk ke dalam hidup gereja, Anda memerlukan persembahan yang paling besar. Tanpa adanya persembahan yang paling besar, Anda tidak akan tahan terhadap hidup gereja di tempat-tempat tertentu. Mungkin Anda berkata kepada diri sendiri, “Ah, alangkah sulitnya berada di gereja ini! Di sana sini ‘polisi’ melulu. Aku tidak cocok dengan situasi ini.” Karena Anda tidak mampu menyesuaikan diri dengan situasi ini, Anda perlu mendirikan mezbah untuk penyesuaian. Sebagaimana kita semua tahu, di depan bait terdapat mezbah, dan tidak seorang pun dapat masuk ke dalam bait tanpa berhenti dulu pada mezbah. Anda harus berhenti pada mezbah serta menyerahkan diri, menaruh diri ke atas mezbah agar disembelih. Kemudian, setelah Anda dibangkitkan, Anda akan bebas memasuki bait.

Apakah arti mezbah? Mezbah adalah untuk penyembelihan. Ada yang mengatakan, “Hidup gereja memang baik, tetapi aku tidak tahan akan saudara-saudara pemimpin.” Yang lain mengatakan, “Aku menyukai hidup gereja, tetapi aku tidak tahan akan saudari-saudari pemimpin. Mereka terlalu suci. Kesucian mereka menyembelih aku.” Lalu akan ke mana Anda — kembali ke Sikhem atau Padan-Aram? Anda tidak ada pilihan lain kecuali naik ke atas mezbah di Betel dan disembelih. Mezbah di Sikhem merupakan mezbah individu, tetapi mezbah di Betel merupakan mezbah korporat. Inilah mezbah rumah Allah, dan Anda harus mempersembahkan diri Anda bagi rumah Allah. Saya telah ber-ulang-ulang melakukan hal ini, dan bertahun-tahun yang lampau, saya telah disembelih. Kini, tidak seorang pun dapat menjatuhkan saya. Anda tidak dapat menjatuhkan seseorang yang telah tersembelih. Bila Anda tidak meneri-ma kata-kata ini dan tidak mendirikan mezbah di El-Betel, Anda tidak akan dapat tinggal selamanya dalam gereja. Pada suatu hari, Anda akan pergi meninggalkannya atau menjadi acuh tidak acuh. Bila Anda senang, Anda bersi-dang, bila Anda kesal, Anda tidak datang. Jadi gereja itu gereja, Anda itu Anda. Anda dan gereja tidak ada hubungannya. Kalau bukan acuh tidak acuh, Anda akan pergi meninggalkannya karena jatuh. Gereja penuh dengan orang-orang yang menjatuhkan. Saya telah lama tersembelih bagi hidup gereja di daratan China. Jadi, tidak seorang pun dari Anda yang dapat menyembelih saya lagi. Mustahil saya Anda jatuhkan. Inilah pengalaman mezbah yang dibangun di Betel. Jika Anda masih bisa dijatuhkan, itu berarti Anda mungkin mempunyai mezbah di Sikhem, tetapi tidak mempunyai mezbah di Betel. Mempunyai mezbah di Betel berarti mempunyai persembahan bagi hidup gereja. Anda perlu secara khusus dan sungguh-sungguh mempersembahkan diri kepada Tuhan bagi hidup gereja. Jika demikian, Anda tidak akan bisa dijatuhkan. Sebaliknya, Anda siap menghadapi pencobaan, pengujian, dan penderitaan. Kita semua memerlukan mezbah yang demikian. Inilah pengalaman di Betel, pengalaman hidup gereja.

Kalau Anda kembali membaca pasal 28 sampai 35, sambil memperhatikan masalah mezbah ini, Anda akan melihat kemajuan dari tidak memiliki mezbah sampai memiliki mezbah yang tertinggi, yakni mezbah di El-Betel. Kita perlu suatu persembahan yang tegas dan khusus bagi hidup gereja. Kita perlu mengatakan, “Tuhan, sekarang aku me-lakukan persembahan tuntas dan khusus kepada-Mu, bukan agar aku menjadi suci, rohani, atau menang, melainkan supaya aku dapat mengalami rumah-Mu serta tinggal di dalamnya.” Dalam 1 Timotius 3:15 Paulus berpesan kepada Timotius, “Jadi, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup.” Kita perlu mengalami Allah dalam rumah-Nya dan hidup dalam rumah Allah. Ini memerlukan persembahan yang tegas dan mezbah yang khusus. Mezbah biasa yang kita alami pada masa lampau tidaklah cocok untuk ini. Kita semua perlu persembahan yang tertinggi pada mezbah di Betel.

Pada abad-abad yang silam, banyak buku tentang persembahan yang diterbitkan oleh guru-guru Kristen. Namun sepanjang yang saya tahu, tidak ada yang memberi tahu orang - orang Kristen agar mempersembahkan diri bagi rumah Allah. Buku Mrs. Hannah W. Smith yang terkenal, The Christian’s Secret of A Happy Life, sangat menekankan masalah persembahan, namun itu hanya untuk kehidupan orang Kristen yang sukacita belaka. Ia menganggap persembahan sebagai rahasia sukacita orang Kristen, sama sekali tidak pernah menyinggung perihal hidup gereja. Sidang Keswick yang sangat bersangkutan dengan Mrs. Smith, menekankan persembahan juga. Sebetulnya, berita-berita pada masa permulaan Sidang Keswick memang dititikberatkan pada persembahan. Tetapi, sepanjang yang saya ketahui, tidak pernah menyebutkan tentang persembahan bagi hidup gereja. Hampir semua kebangunan dalam kalangan Kristen menekankan persembahan, namun orang hampir tidak pernah mendengar tentang persembahan bagi rumah Allah. Karena orang-orang Kristen tidak melihat hidup gereja, maka semua mezbah hanya didirikan di “Sikhem”. Tetapi, dalam pemulihan Tuhan hari ini, kita harus membangun mezbah kita di Betel. Kita perlu persembahan yang tertinggi bagi hidup gereja untuk menggenapkan maksud tujuan Allah yang kekal dan memenuhi cita-cita-Nya.

(b) Penampakan Allah

Yakub juga mengalami kemajuan yang lebih lanjut dalam hal penampakan Allah. Allah menampakkan diri-Nya kepada Yakub melalui mimpi dalam pasal 28. Tetapi penampakan itu kurang solid, juga kurang konkret. Apa yang kita lihat dalam mimpi tidak ada yang konkret. Mungkin saja benar, tetapi tidak konkret. Nebukadnezar melihat suatu patung tubuh manusia yang besar dalam mimpi (Dan. 2:31), namun potongan itu tidak serupa tubuh manusia yang riil. Dan dua kaki besi dalam mimpi itu tidaklah sesolid dua bagian Kerajaan Romawi. Nebukadnezar nampak hal itu dalam mimpi tanpa mengalaminya. Demikian pula, sekalipun Yakub mengalami penampakan Allah dalam mimpinya, tetapi di El-Betel barulah ia mengalami penampakan Allah dengan solid. Tuhan berbicara kepada Yakub ketika ia di Padan-Aram (31:3), namun itu bukan penampakan Allah yang solid. Dalam Kejadian 35:1 Tuhan juga berbicara kepadanya, tetapi itu pun bukan penampakan yang solid. Hanya di El-Betel, Yakub benar-benar mengalami penampakan Allah secara konkret. Inilah kemajuan dalam pengalaman Yakub atas penampakan Allah.

Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa sebelum masuk ke dalam hidup gereja, kita mengalami penampakan Allah. Allah memang telah menampakkan diri kepada kita, tetapi tidak solid. Namun setelah kita masuk ke dalam hidup gereja dan menempuh beberapa saat dalam hidup gereja, kita dapat bersaksi bahwa penampakan Allah di sini tidak saja riil, tetapi juga solid. Jika seseorang meninggalkan hidup gereja setelah tinggal di dalamnya beberapa saat, ia mustahil bisa menyangkal bahwa ketika ia di dalam hidup gereja ia telah mengalami penampakan Allah secara solid. Sebelum kita masuk ke dalam hidup gereja, penampakan Allah terasa samar-samar. Namun penampakan Allah dalam gereja selalu konkret, sehingga kita seolah-olah menjamah-Nya. Pengalaman penampakan Allah yang terbaik hanya di dalam gereja.

(c) Berkat Allah

Berkat Allah juga terus maju. Dalam visi di Betel (28:13-15), di Padan-Aram, dan di Sikhem (31:3; 35:1), Allah tidak memberi Yakub berkat. Memang Allah telah memberkati Yakub di Pniel, tetapi di sana Ia tidak memberkatinya dengan tegas (32:29). Allah tidak memberi Yakub berkat yang nyata, berhubung ia belum mencapai tempat yang dikehendaki Allah. Di Pniel, kita tahu bahwa Allah memberkati Yakub, namun kita tidak diberi tahu bagaimana Ia memberkatinya. Tetapi dalam pasal 35, di Betel, berkat itu sangat solid. Di sana, Allah memberkati Yakub, “Akulah Allah Yang Mahakuasa. Beranakcuculah dan bertambah banyak; satu bangsa, bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu. Dan negeri ini yang telah Kuberikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada keturunanmu” (ayat 11-12). Inilah hal-hal yang solid dalam berkat Allah di Betel.

(d) Pengalaman Yakub atas Nama Barunya

Di Betel, Yakub mengalami nama barunya. Namanya telah diganti di Pniel (32:28, 30), namun ia mengalami nama barunya di Betel (35:10). Di Betel, seluruh diri Yakub diubah sehingga menjadi orang yang baru — Israel. Betapapun baiknya kita sebagai orang Kristen, sebelum masuk ke dalam hidup gereja, kita belumlah baru. Tetapi setelah kita masuk ke dalam hidup gereja, sesuatu di dalam menuntut kita menjadi orang baru. Kita harus menjadi suami yang baru, orang tua yang baru, anak yang baru. Kita semua mengalami tuntutan batiniah ini setiap hari. Kita sadar bahwa sejak kini, kita seharusnya menjadi orang yang berbeda. Inilah pengalaman pengubahan.

Hidup gereja adalah kehidupan pengubahan. Dalam gereja, setiap orang berada di bawah proses pembaruan. Kita diperbarui dari hari ke hari (Rm. 12:2; 2 Kor. 4:16). Kita bukan dikoreksi, itu tidak akan berarti, melainkan diperbarui. Gereja seluruhnya adalah manusia baru (Ef. 2:15), dan hidup gereja adalah kehidupan Israel yang telah diubah, suatu kehidupan baru dengan manusia baru dalam ciptaan baru. Di Betel ini, kita mengalami hayat yang baru, yaitu Allah di dalam Kristus. Dalam hidup gereja ini, setiap hari kita makin diperbarui. Semakin lama kita tinggal di dalam hidup gereja, semakin baru kita. Umur jasmani Anda dapat menjadi tua, namun manusia batiniah Anda makin baru dari hari ke hari. Semua saudara saudari yang lebih tua harus lebih baru, lebih lincah, lebih kuat, dan lebih segar. Dalam pembagian nikmat mereka harus lebih nyaring dan lebih gesit daripada yang muda.

Saya harap semua butir dalam berita ini akan menjadi praktek pengalaman Anda. Dalam hidup gereja, kita perlu persembahan yang tertinggi, persembahan bagi rumah Allah, bukan bagi kelimpahan individu. Jika kita mempunyai persembahan yang demikian, kita akan mengalami penampakan Allah yang konkret dan menikmati berkat-Nya yang limpah. Kemudian hari demi hari kita akan menjadi makin baru. Inilah pengalaman di Betel, pengalaman hidup gereja.