DIUBAH (2)
Kitab Kejadian mencakup hampir seluruh benih kebe-naran dalam Alkitab. Ditinjau dari prinsip ini, kita akan nampak bahwa butir-butir apa pun dalam kitab ini akan berkembang dalam kitab-kitab selanjutnya. Dengan perkataan lain, untuk memahami butir apa pun dalam Kitab Kejadian, kita perlu mengikuti perkembangannya dalam kitab-kitab selanjutnya. Tanpa kitab-kitab lain, kita tidak dapat memahami Kitab Kejadian. Kitab Kejadian bukan buku cerita semata. Jika kita mau mendapatkan hayat, suplai, wahyu, dan visi dari semua butir yang terkandung dalam Kitab Kejadian, kita harus mengikuti perkembangan mereka dalam tiap-tiap kitab berikutnya dalam Alkitab.
Kebenaran mengenai rumah Allah ini telah ditaburkan dalam pasal 28. Jika Anda membaca Alkitab dengan teliti, Anda akan menemukan bahwa rumah Allah disebutkan untuk kali pertama dalam pasal ini. Betel, rumah Allah, disebutkan secara sangat khusus dalam suatu visi yang diberikan kepada Yakub. Mula-mula Yakub bermimpi, kemudian mimpinya disingkapkan oleh wahyu ilahi. Dalam mimpi, Yakub melihat langit terbuka dan sebuah tangga di dirikan di bumi yang ujungnya mencapai langit. Malaikat-malaikat Allah naik dan turun di atas tangga. Mimpi apa pun, mula-mulanya terdapat fakta di dalam mimpi itu, kemudian ada penjelasannya yang sesuai. Yakub tidak mempunyai seorang Daniel untuk menjelaskan mimpinya, melainkan si perebut ini sendiri yang menjadi Danielnya. Memang bagus sekali penjelasannya terhadap mimpinya, katanya, “Alangkah dahsyatnya tempat ini. Ini tidak lain dari rumah Allah, ini pintu gerbang surga” (28:17). Yakub mengatakan bahwa Betel inilah tempat yang dahsyat. Mau ke surga, Anda harus melalui tempat yang dahsyat ini, karena rumah Allah adalah pintu gerbang surga.
Setelah bermimpi, Yakub berjanji pula, katanya, “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk di makan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku” (28:20-21). Ia tidak berdoa secara intim kepada Allah, melainkan bernazar. Dalam nazarnya Yakub berkata bahwa batu yang didirikannya sebagai tugu (tiang) ini akan menjadi rumah Allah (28:22). Dalam nazar Yakub ini kita nampak penjelasan lebih lanjut dari mimpinya. Ketika ia bangun, Yakub berkata bahwa tempat itu adalah rumah Allah. Kemudian ia berkata pula bahwa batu yang digunakannya sebagai bantal itu akan dibangun menjadi rumah Allah. Kita nampak di sini bahwa rumah Allah akan dibangun dengan batu sandaran Yakub. Batu yang digunakan Yakub sebagai alas kepala merupakan sebuah bayangan yang melambangkan Kristus. Hanya Kristus, batu karang sejati, yang dapat menjadi bantal di mana kita membaringkan kepala kita yang penat. Kristus yang pada-Nya kita beristirahat ini akan menjadi rumah Allah. Inilah bahan bangunan rumah Allah. Kejadian 28 adalah pasal pertama yang menyebutkan batu untuk pembangunan Allah. Pasal 2 memang menyebutkan batu krisopras, namun tidak dengan jelas. Batu sandaran kita itulah yang akan menjadi rumah Allah. Ini berarti Kristus yang kita alami sebagai perhentian dan sandaran kita akan menjadi bahan pembangun rumah Allah.
Dalam pasal 35 muncul lagi visi Betel. Tetapi kali ini bukan sekadar mimpi, melainkan suatu realitas. Bukan hanya satu visi, tetapi juga satu fakta, satu pengalaman. Perbedaan antara pasal 28 dengan 35 adalah: pasal 28 sekadar mimpi. Betel, pintu gerbang surga, tangga, malaikat — segala sesuatu tertampak dalam mimpi. Paling banyak kita dapat mengatakan bahwa mimpi ini merupakan sebuah visi; saat itu belum ada fakta, belum ada realitas. Penggenapan mimpi ini baru terdapat dalam pasal 35.
(4) Di Betel
Dalam berita ini kita perlu melihat pengalaman Yakub di Betel (35:6-7, 9-15). Dalam Kejadian 35 Yakub mengalami perubahan yang besar. Sebagaimana telah kita lihat dalam berita yang lalu bahwa Allah menyuruh Yakub pergi ke Be-tel. Reaksi Yakub ialah bangkit dan mengadakan pembersihan total. Pembersihan total ini tidak hanya dilakukan oleh dirinya sendiri, tetapi juga oleh semua orang yang bersamanya. Yakub tidak sekadar memperhatikan dirinya sendiri, tetapi juga setiap orang yang bersamanya. Inilah bukti yang kuat bahwa ia mempunyai perubahan yang tuntas. Yang jelas, Yakub telah diubah.
(a) Yakub Mendirikan Mezbah bagi Allah
Yakub sampai di Betel, “ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia. Didirikannyalah mezbah di situ, dan dinamainyalah tempat itu El-Betel” (ayat 6-7). Perkara per-tama yang dilakukan Yakub di Betel ialah mendirikan mezbah. Meskipun Yakub mendirikan mezbah di Sikhem, tetapi ia tidak menamai mezbah itu “El-Sikhem”. Ia tidak dapat menggunakan sebutan Allah untuk mezbah yang dibangunnya di Sikhem. Ini menunjukkan bahwa mezbah di Sikhem tidak dapat menjamah hati Allah, itu bukan yang dikehendaki Allah. Demikian pula, kita dapat mendirikan mezbah di mana pun, namun itu bukanlah yang dikehendaki Allah. Boleh jadi Anda mendirikan mezbah di Las Vegas, tetapi Anda tidak dapat menyebutnya mezbah Allah di Las Vegas. Tetapi ketika Yakub melaksanakan firman Allah, bangkit dan berangkat ke Betel, tinggal di sana serta membangun mezbah bagi Allah, maka mezbah yang dibangunnya itu sesuai dengan hasrat Allah, bukan menurut maksudnya sendiri. Allah tidak menyuruh dia membangun mezbah di Sikhem, karena itu bukan tempat pilihan Allah. Hasrat Allah ialah membawa dia kembali ke Betel. Mezbah yang Yakub dirikan di Sikhem itu bukan menurut hasrat Allah atau firman-Nya. Namun, mezbah yang ia dirikan di Betel itu se-suai dengan firman Allah, karena itu ia berani menyebut-nya “El-Betel”.
Boleh saja Anda melakukan banyak perkara bagi Allah, misalnya memberitakan Injil dan melakukan berbagai pelayanan. Bahkan Anda boleh juga mendirikan sebuah perhimpunan dan menamainya gereja. Tetapi Anda tidak mempunyai keyakinan atau keberanian untuk mengatakan bahwa ini berasal dari Allah. Dalam perkara kecil pun demikian. Misalnya, Anda mengasihi seorang saudara, tetapi Anda tidak berani mengatakan bahwa kasih ini adalah kasih Allah. Anda mungkin betul-betul mengasihi saudara tersebut, namun Anda tidak mengasihinya menurut firman Allah. Sebaliknya, Anda mengasihinya menurut pilihan Anda sendiri, menurut selera pribadi Anda. Karena ini adalah kasih Anda, maka Anda tidak dapat mengatakan bahwa ini adalah “kasih-El”, kasih Allah. Anda tidak bisa menyebutnya kasih Allah kecuali Anda mengasihi seseorang menurut firman Allah, bukan menurut selera Anda. Ketika Allah menyuruh Anda mengasihi seorang saudara, Anda wajib mengasihinya menurut firman-Nya. Demikian, barulah kasih Anda itu kasih Allah.
Banyak pekerja misi memasuki ladang misi tanpa keyakinan bahwa misi mereka itu “El-misi”. Banyak yang memberi tahu saya bahwa ketika mereka bekerja, mereka tidak merasa damai sejahtera. Mereka tidak memiliki iman, keyakinan, atau keberanian untuk mengatakan bahwa pekerjaan misi mereka adalah pekerjaan Allah. Mereka menaruh tanda tanya atas pekerjaan mereka dan tidak dapat membubuhi nama Allah di atasnya.
Hari ini, banyak orang Kristen membentuk kelompokkelompok. Kelompok yang besar menjadi denominasi dan kelompok yang lebih kecil menjadi kelompok - kelompok bebas. Bagaimanapun, pendiri kelompok - kelompok itu tidak berkeyakinan untuk menyebut diri mereka gereja. Tetapi ketika kita yang berada dalam pemulihan Tuhan mengatakan bahwa kita adalah gereja, mereka merasa tersinggung. Dalam batin, mereka kurang yakin untuk mengatakan bahwa mereka adalah gereja. Laki-laki itu ya laki-laki, perempuan itu ya perempuan. Anda tidak dapat menyebut seorang laki-laki sebagai seorang perempuan. Lima puluh tahun yang lalu, saya mulai menegaskan, “Ini gereja.” Semakin berkata demikian, semakin beriman, karena ini memang benar-benar gereja. Jika bukan gereja, lalu apa? Saya ini laki-laki, semakin saya berkata bahwa saya ini laki-laki, saya semakin yakin bahwa saya ini laki-laki. Jika Anda tidak mengatakan bahwa saya laki-laki, lalu Anda akan mengatakan apa? Anda bisa melakukan bermacam-macam perkara — mulai dari pekerjaan misi, mendirikan satu perhimpunan, membentuk Kelompok Penelaahan Alkitab — tetapi semuanya itu hanyalah pekerjaan-pekerjaan yang baik di Sikhem, bukan di Betel. Karena itu, Anda tidak mungkin menamai pekerjaan-pekerjaan itu “El-Betel”. Namun, ketika Yakub mendirikan mezbah di Betel, ia berani menamainya “El-Betel”.
Makna mezbah ialah persembahan. Mezbah didirikan untuk mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Sebelum saya memasuki hidup gereja, saya mempersembahkan diri saya seluruhnya kepada Tuhan. Tetapi setelah masuk ke dalam hidup gereja, saya memperbarui persembahan saya. Persembahan yang diperbarui ini sama sekali berbeda dengan persembahan saya sebelum memasuki hidup gereja. Banyak di antara kita yang bisa bersaksi tentang hal ini. Boleh jadi Anda sudah berkali-kali mempersembahkan diri kepada Tuhan sebelum masuk ke dalam gereja, namun begitu Anda masuk ke dalam gereja, Anda mempunyai perasaan yang sangat dalam: perlu memperbarui persembahan Anda, bahkan persembahan ini amat berbeda dengan sebelumnya. Persembahan Anda yang lampau paling banyak merupakan mezbah di Sikhem, bukan mezbah di Betel. Persembahan sebelum masuk ke dalam gereja dan persembahan di dalam gereja adalah dua hal yang berbeda.
(b) Allah Menampakkan Diri kepada Yakub
Setelah mezbah didirikan, Allah kembali menampakkan diri kepada Yakub (ayat 9). Pengalaman Yakub sedikit berbeda dengan pengalaman Abraham. Ketika untuk kali pertama Allah menampakkan diri kepada Abraham, di sana tidak ada mezbah. Namun Allah menampakkan diri kepada Yakub di Betel, di depan mezbah. Sebelum kita masuk ke dalam gereja, kita boleh jadi telah sedikit mengalami penampakan Allah, tetapi bukan di depan mezbah di Betel. Di Betel, di depan mezbah, sangatlah berbeda. Sekarang, setelah masuk ke dalam gereja dan setelah mendirikan mezbah, Allah kembali menampakkan diri. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa setelah masuk ke dalam hidup gereja dan memperbarui persembahan diri kita, batin kita sangat merasakan bahwa Allah telah menampakkan diri kepada kita. Dalam pengalaman kita pribadi telah memiliki penampakan Allah. Ini bukan sekadar teori. Asal kita membangun mezbah di Betel, kita pasti mengalami penampakan Allah. Hal ini bukan terjadi satu kali setelah sejangka waktu, melainkan terus-menerus. Setiap hari bahkan setiap jam, kita mengalami penampakan Allah. Dengan kata lain, kita harus berjalan di hadapan Tuhan.
(c) Allah Memberkati Yakub
Sewaktu Allah menampakkan diri kepada Yakub di Betel, Ia memberkatinya (ayat 9). Alangkah besar berkat yang kita terima sejak tiba di Betel dan membangun mezbah! Selagi muda, saya suka kidung yang mengatakan, “Perincilah satu per satu” (Hitunglah berkatmu satu per satu). Saya mendorong Anda menghitung berkat-berkat yang Anda peroleh. Buatlah daftar untuk mencantumkan berkat-berkat yang Anda alami dalam hidup gereja. Betapa berlimpah berkat dalam gereja! Di luar gereja, mustahil seseorang beroleh berkat-berkat di Betel.
(d) Allah Menyebut Kembali Nama Baru Yakub
Ketika Allah menampakkan diri kepada Yakub, Ia menyebut kembali nama baru Yakub, kata-Nya, “Namamu Yakub; dari sekarang namamu bukan lagi Yakub, melainkan Israel, itulah yang akan menjadi namamu” (ayat 10). Seolah-olah Allah berkata, “Yakub, bukankah Aku telah mengubah namamu? Mengapa engkau tetap memanggil dirimu Yakub? Sekarang Aku mengingatkan kembali bahwa namamu bukan lagi Yakub dan engkau harus menamai dirimu Israel. Jangan memanggil dirimu Yakub lagi, karena itu berarti engkau hidup, berjalan, bertindak, dan membawakan dirimu secara ‘Yakub’. Engkau seharusnya hidup, berjalan, dan membawakan diri seperti Israel. Bukankah engkau telah bergulat dengan-Ku dan mengalahkan Aku? Engkau harus menunjukkan kepada alam semesta bahwa engkau seorang pemenang. Engkau bukan saja pangeran Allah, tetapi juga pegulat terhadap Allah. Hidupmu harus demikian.” Allah mengingatkan Yakub berdasarkan latar belakang Yakub terjepit oleh persoalan yang ditimbulkan anak-anaknya sekarang ia merasa takut dan kehilangan keberanian. Meskipun ia berani bergulat dengan Allah, namun ia kecil hati menghadapi penduduk di sekeliling kota itu. Faktanya, ia gentar kepada mereka. Tetapi Allah mengingatkan kembali nama barunya, Israel. Allah sepertinya berkata, “Kamu tidak perlu takut kepada mereka. Kalau kamu takut, berarti kamu telah melupakan nama pemberian-Ku. Aku telah menyebut kamu pegulat terhadap Allah. Jika kamu mampu bergulat dengan Allah, kamu pasti mampu bergulat dengan siapa pun juga. Jika kamu sanggup mengalahkan Aku, siapakah lagi yang tidak sanggup kamu kalahkan? Yakub, kamu tidak perlu takut kepada siapa pun. Aku telah mengaruniai kamu nama Israel. Aku tidak akan sakit hati karena kamu bergulat dengan Aku, sebaliknya, Aku menghargai itu. Sebab itulah Aku memahkotaimu dengan sebutan “pegulat Allah”. Mulai hari ini, kamu jangan lagi menjadi perebut, melainkan pegulat Allah. Ke mana saja kamu pergi, wajarlah menyiarkan, ‘Aku inilah pegulat Allah! Pegulat Allah telah datang!’ Yakub, perlakukan dirimu sebagai pegulat Allah. Mengapa kamu demikian kecil hati? Setelah kamu menaati firman-Ku datang ke Betel, seluruh warga kota takut kepadamu. Kamu tidak perlu gentar terhadap mereka. Mengapa mau menjadi Yakub kembali? Lupakan Yakub dan panggillah dirimu Israel.”
Nama Yakub berarti perebut, penangkap tumit. Anda ingin menjadi yang mana — perebut, atau pegulat Allah? Nama asli kita adalah Yakub, tetapi sekarang nama kita Israel. Percayakah Anda? Bila percaya, mengapa Anda masih takut kepada temperamen Anda? Mengapa Anda tidak segera bangkit dan tegaskan, “Hai temperamen, kamu harus tahu aku ini pegulat Allah. Aku ini Israel.” Apa yang Anda takuti akan menjadi bagian Anda. Kalau Anda takut kepada temperamen Anda, Anda pasti akan marah - marah. Tetapi, bila Anda memberi tahu temperamen Anda bahwa Anda adalah Israel, pegulat Allah, maka “kutu busuk” kecil itu pasti lenyap. Mungkin Anda akan berkata, “Aku tidak merasa kalau aku ini Israel.” Tidak ada yang menyuruh Anda merasakan. Allah tidak menuntut Yakub, “Yakub, tidakkah kamu merasa bahwa kamu adalah Israel?” Jika demikian, Yakub tentu akan menjawab, “Tidak, aku tidak pernah merasa sebagai Israel. Menurut perasaanku, aku masih tetap Yakub.” Perhatikanlah firman Allah. Mana yang lebih dapat diandalkan
— perasaan Anda atau firman Allah? Lupakanlah pera-saan, pertimbangan, pengertian, dan pandangan alamiah Anda dan dengarkan saja firman Allah serta peringatan-Nya. Allah telah berfirman bahwa nama kita seharusnya Israel. Mengapa Anda tetap Yakub? Mulai sekarang, kita semua harus menjadi Israel. Di Betel, Yakub mulai memanggil dirinya Israel. Bisakah Anda menyebut diri Anda Israel? Beranikah Anda mengumumkan ini, atau Anda tetap mau mengatakan bahwa Anda begitu lemah? Kita di Betel dan kita Israel. Baik Betel maupun Israel berak-hir dengan huruf “el”, menandakan kedua nama itu mengandung nama Allah. Janganlah melihat diri Anda sendiri, dengarkan saja peringatan-Nya. Ini akan mendorong kita dan menyiapkan diri kita untuk mengalami janji Allah.
(e) Allah Berjanji kepada Yakub
1) Berkembang Biak
Dalam ayat 11 Allah berkata, “Akulah Allah Yang Mahakuasa. Beranak cuculah dan bertambah banyak.” Inilah hal pertama yang Allah janjikan. Di Betel, Allah berjanji kepada Yakub bahwa ia akan beranak cucu dan bertambah banyak. Dalam hidup gereja, termasuk yang terkecil dan paling muda, semuanya perlu percaya kepada janji ini serta mengumumkan penggenapannya, “Tuhan, aku tidak setuju menjadi orang percaya sendirian. Berdasarkan janji-Mu, aku ingin beranak cucu dan bertambah banyak.” Kalau Anda demikian, setelah sejangka waktu, Anda akan berlipat ganda tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, dan seratus kali lipat. Semasih muda, saya berkali-kali berdoa demikian, dan Tuhan sungguh-sungguh menjawab doa saya. Kita semua harus berdoa sehingga menjadi bertambah banyak. Tuhan akan menjawab doa kita dan mengindahkan janji-Nya. Jalan pemulihan Tuhan memang sempit, selamanya tidak akan menjadi gerakan massal. Tidak ada gerakan massal yang berasal dari pemulihan Tuhan, berhubung pemulihan Tuhan adalah perkara perkembangbiakan hayat. Lihatlah tumbuh-tumbuhan, mereka berhayat dan bertambah banyak. Kita hidup demi hayat ilahi, dan hayat adalah hayat yang bertambah banyak. Kita beriman bahwa kita pasti bertambah banyak. Doakanlah hal ini dan pegang janji-Nya, berdiri pada firman-Nya. Beberapa orang mungkin berkata bahwa janji ini cuma untuk Yakub dan semua janji dalam Perjanjian Lama bukan untuk kita hari ini. Secara harfiah, itu memang benar. Tetapi, semua janji kepada Israel merupakan lambang. Karena hari ini kita berada dalam realitas, maka janji-janji dalam bentuk lambang itu adalah untuk kita juga. Berdirilah saja pada firman Tuhan dan tegaskan, “Tuhan, apa yang Kaujanjikan kepada Yakub adalah suatu bayangan, namun harus menjadi realitas terhadapku.”
2) Menjadi Bangsa-bangsa dan Raja-raja
Allah berjanji juga kepada Yakub, kata-Nya, “Bahkan sekumpulan bangsa-bangsa, akan terjadi dari padamu dan raja-raja akan berasal dari padamu.” Mula-mula ada “sekumpulan bangsa-bangsa”, berarti bertambah banyak, kemudian ada raja-raja, berarti kerajaan. Setelah Yakub, ada bangsa-bangsa dari keturunannya. Dan kemudian ada ke-rajaan dari keturunannya di bawah penguasaan Daud dan Salomo. Pada zaman Perjanjian Baru ada kerajaan di bawah keturunannya yaitu Yesus Kristus. Kelak pada zaman yang akan datang ada Kerajaan Seribu Tahun dan sesudah itu ada kerajaan kekal dalam langit baru dan bumi baru. Penggenapan perkara raja-raja ini membutuhkan semua kitab berikutnya dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Wahyu 11:15 merupakan sebagian dari janji Allah kepada Yakub, “Pemerintahan atas dunia dipegang oleh Tuhan kita dan Dia yang diurapi-Nya, dan Ia akan memerintah sebagai Raja sampai selama-lamanya.” Bahkan gereja yang hari ini sebagai Kerajaan Allah di bumi pun termasuk dalam janji ini. Saya tahu, ada orang setelah mendengar ini akan membantah bahwa mencampurbaurkan gereja dengan Israel itu adalah ajaran yang salah. Secara harfiah, mungkin ini benar, tetapi ingatlah bahwa segala sesuatu dalam hidup Yakub adalah lambang yang akan terbukti pada kita.
Janganlah puas bila ada satu atau dua orang beroleh selamat lewat Anda. Sebaliknya Anda harus mengatakan, “Tuhan, aku tidak hanya gembira dengan ini. Aku ini nampak kerajaan. Aku perlu berkembang biak sehingga menghasilkan kerajaan.” Perkara ini sangat besar. Apakah Anda beriman terhadapnya? Kita semua harus berkata, “Tuhan, kiranya aku beriman agar bertambah banyak, bukan untuk kerajaanku, melainkan untuk kerajaan-Mu.”
3) Mewarisi Negeri Itu Bersama Keturunannya
Janji Allah kepada Yakub masih memiliki aspek lain yang disebut dalam ayat 12, “Dan negeri ini yang telah Ku-berikan kepada Abraham dan kepada Ishak, akan Kuberikan kepadamu dan juga kepada keturunanmu.” Di sini, Yakub diberi janji untuk mewarisi negeri itu bersama keturunannya. Janji ini bagaikan sebuah gunung besar. Jangan mengira bahwa negeri yang disebut di sini semata-mata Tanah Palestina yang kecil dan sempit. Tanah yang kecil dan sempit itu melambangkan Kristus sebagai tanah yang permai. Kristus sebagai tanah permai yang diwariskan kepada kita akhirnya akan menjadi batu yang jatuh dari langit dalam Daniel 2. Batu ini akan menjadi sebuah gunung yang memenuhi seluruh bumi. Percayakah Anda bahwa seluruh bumi akan menjadi sebuah gunung yang besar dan tidak akan ada daratan, kecuali sebuah gunung kudus? Gunung besar ini adalah Kristus.
(f) Reaksi Yakub terhadap Janji Allah
Dalam ayat 14 dan 15, kita nampak reaksi Yakub terhadap janji Allah. Setiap kali Tuhan berbicara kepada kita, kita harus bereaksi. Tidak boleh dungu, bisu, atau mati. Karena saya hidup, saya selalu mempunyai reaksi terhadap apa saja yang dikatakan oleh orang. Bila seorang saudara tidak mempunyai reaksi terhadap apa yang saya katakan kepadanya, saya akan menarik kesimpulan bahwa ia itu bisu atau mati. Ketika saya berbicara kepada cucu saya, mereka sangat aktif dan lincah karena mereka hidup. Ketika Allah berfirman kepada Yakub, ia segera bereaksi.
1) Mendirikan Sebuah Tugu Batu
Ayat 14 mengatakan, “Yakub mendirikan tugu (tiang) di tempat itu, yakni tugu batu.” Hal pertama yang dilakukan Yakub sebagai reaksi terhadap firman Allah adalah mengulangi apa yang ia lakukan di Betel pada kali pertama — mendirikan tugu (tiang) batu. Kita tidak akan pernah melupakan mimpi pertama yang Allah berikan kepada kita. Begitu kita kembali kepada visi itu, kita pasti mengulangi perkara yang kita lakukan untuk kali pertama. Dalam Kejadian 28:18 Yakub mendirikan batu yang ia gunakan sebagai alas kepala itu sebagai tugu (tiang) dan menamainya Betel. Ia mengulangi hal ini dalam Kejadian 35. Inilah butir yang sangat menentukan. Dalam batin, Yakub sangat yakin bahwa ia didapatkan Allah untuk membangun bait Allah di bumi. Mungkin Yakub berkata kepada dirinya sendiri, “Aku selamanya tidak akan melupakan pengalaman di Betel. Sekarang, setelah kembali ke Betel, Allah berbicara kepadaku jauh lebih banyak daripada sebelumnya. Beberapa tahun yang silam aku telah mendirikan tugu batu bagi rumah-Nya. Kini, setelah mendengar-Nya lagi, aku harus mengulangi hal ini.” Yakub telah berjanji mau membangun bait Allah di bumi. Akhirnya, ini digenapkan oleh Salomo yang mendirikan bait sebagai rumah Allah.
2) Mempersembahkan Kurban Curahan di Atas Tugu Batu
Kini kita akan melihat perkara yang sangat penting — mempersembahkan kurban curahan (menuangkan arak persembahan) di atas tugu (tiang) batu (ayat 14). Dalam pasal 28, Yakub menuangkan minyak ke atas batu yang ia dirikan sebagai tugu (tiang). Dalam pasal 35 terdapat perkembangan yang lebih lanjut. Sebelum ia menuangkan minyak ke atas tugu, ia mempersembahkan kurban curahan di atasnya. Mungkin tidak banyak orang yang mengetahui makna sesungguhnya dari arak persembahan. Bila Anda menyelidiki atau mencari definisinya melalui tafsiran Alkitab, Anda tidak akan menemukannya. Tetapi dengan membaca ayat-ayat lain, seperti Bilangan 15:1-5; 28:7-10; Filipi 2:17, dan 2 Timotius 4:6, ditambah dengan pengalaman kita, dapatlah kita peroleh makna sesungguhnya dari arak persembahan itu.
Menurut Imamat 1—7, Allah menyuruh umat-Nya mempersembahkan berbagai macam kurban persembahan, namun tidak menyebutkan kurban curahan (arak persembahan), karena persembahan ini adalah tambahan. Kemudian, Allah menyuruh Musa agar setelah umat-Nya masuk ke dalam tanah permai, hendaklah mempersembahkan kepada-Nya kurban curahan selain kurban pokok dalam Imamat 1— 7.
Jadi, kurban curahan adalah kurban yang ditambahkan pada kurban pokok. Kurban pokok mencakup kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan (kurban pendamaian), kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Di samping semua kurban pokok ini, umat Israel harus mempersembahkan kurban curahan (Bil. 15:1-10; 28:5-10). (Kurban curahan dalam Keluaran 29:40-41 dipersembahkan untuk imam dan kurban curahan dalam Imamat 23:13, 18, dan 37 adalah hasil pertama yang dipersembahkan kepada Allah setelah orang Israel memasuki tanah permai dan perolehan dari bercocok tanam — ayat 10). Dalam Filipi 2:17 dan 2 Timotius 4:6, Paulus menganggap dirinya sebagai kurban curahan. Dalam Filipi 2:17 ia berkata, “Tetapi sekalipun darahku dicurahkan pada kurban dan ibadah iman-mu, aku bersukacita dan aku bersukacita dengan kamu sekalian.” Di sini, Paulus memberi tahu orang-orang Filipi bahwa ia telah dicurahkan sebagai kurban curahan di atas kurban persembahan mereka. Seolah-olah Paulus berkata, “Kamu orang-orang Filipi mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Aku bersukacita dicurahkan sebagai kurban curahan di atas persembahanmu.” Sebelum Paulus mati martir ia berkata kepada Timotius, “Darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat” (2 Tim. 4:6). Di mana kurban curahan dituangkan? Menurut Perjanjian Lama, kurban curahan selalu dituangkan ke atas salah satu persembahan pokok. Menjelang Paulus mati martir, ke atas apakah ia dituangkan sebagai kurban curahan? Sebagaimana kita akan nampak, ia dituangkan ke atas Kristus. Menurut Kitab Imamat, kita dapat mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai persembahan pokok. Dengan mempersembahkan Kristus demikian, kita akan sedikit banyak mengalami Kristus. Pengalaman ini membuat kita bersukacita dan menjadi orang yang penuh sukacita, penuh arak (anggur) baru. Seperti mereka yang mempersembahkan Kristus kepada Allah, kita akan dipenuhi dengan arak (anggur) baru. Di dalam kita ada arak. Akhirnya, arak ini akan menjenuhi seluruh diri kita, sehingga kita ini menjadi arak. Ketika Paulus berkata bahwa ia tercurah sebagai kurban curahan, ia sendiri, melalui pengalamannya yang kaya akan Kristus, menjadi arak yang dituangkan sebagai kurban curahan di atas Kristus yang ia alami dan dipersembahkan kepada Allah. Bila Anda bertanya kepada para martir seperti Petrus dan Paulus, me-reka akan bersaksi bahwa mati martir mereka adalah pe-nuangan sukacita dan seluruh diri mereka ke atas Kristus. Semua martir dituangkan sebagai kurban curahan ke atas Kristus dan dipersembahkan kepada Allah. Mereka mengalami Kristus sampai suatu taraf, sehingga mereka mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai persembahan pokok, bahkan mereka sendiri pun dituangkan sebagai kurban curahan ke atas Kristus. Jika hari demi hari kita mengalami Kristus dengan sungguh-sungguh, pengalaman ini akan membuat kita penuh dengan sukacita bagaikan dipenuhi arak ilahi. Kemudian kita akan mabuk oleh arak dan menjadi arak yang dipersembahkan kepada Allah, berseru, “Ya, Allah, aku mau dituangkan ke atas Kristus sebagai kurban curahan untuk-Mu.” Sering kali dalam sidang pemecahan roti, saya nampak sejumlah orang saleh telah mengalami Kristus sedemikian rupa sampai sewaktu mereka mempersembahkan Kristus kepada Allah di meja Tuhan, doa dan pujian mereka memperlihatkan bahwa mereka telah siap menuangkan diri mereka ke atas Kristus kepada Allah. Inilah kurban curahan, dan kurban curahan ini hanya dapat dialami di Betel.
Benih kurban curahan itu ditabur dalam Kejadian 35.
Kalau kita ingin memahaminya, kita harus membaca Bilangan 15 dan 28, Filipi 2:17, dan 2 Timotius 4:6. Setelah itu kita akan mengerti bahwa kita tidak saja harus mempersembahkan Kristus kepada Allah sebagai kurban pokok, juga sebagai kurban curahan. Kita perlu dipenuhi sukacita dengan jalan mengalami Kristus sampai kita menjadi arak yang dipersembahkan kepada Allah serta rela dituangkan sebagai kurban curahan ke atas Kristus untuk dipersembahkan kepada Allah. Pengalaman ini sangat dalam dan subyektif. Boleh jadi Anda mengatakan, “Ya, Allah Bapa, aku menyerahkan diriku sebagai kurban curahan ke atas Kristus untuk dipersembahkan kepada-Mu.” Meskipun Anda berkata demikian, namun jika Anda tidak mengalami Kristus sedemikian rupa sampai dipenuhi sukacita dan mabuk oleh arak surgawi, Anda tidak akan memiliki sukacita dan ke-sediaan untuk dituangkan sebagai kurban curahan kepada Allah. Dalam hidup gereja, kesediaan mengalami Kristus bisa mencapai suatu tingkat, sehingga dijenuhi arak ilahi bahkan menjadi arak. O, dalam hidup gereja saya dipenuhi sukacita dan siap dituangkan ke atas Kristus sebagai kurban curahan bagi kepuasan Allah.
Allah menyenangi arak. Bukan arak anggur, tetapi arak yang dihasilkan oleh kejenuhan Kristus pada diri kita. Allah tidak tertarik kepada anggur, Ia tertarik kepada Anda dengan Kristus. Kita harus menjadi arak melalui mengalami Kristus. Gereja adalah satu-satunya tempat di mana kita dapat menjadi arak. Saya menjamin bahwa dalam gereja pengalaman Anda terhadap Kristus akan membuat Anda dipenuhi oleh sukacita surgawi dan akan menjadi arak ilahi yang siap dituangkan ke atas Kristus bagi kepuasan Allah. Inilah reaksi Israel di Betel. Saya yakin sepenuhnya, bahwa mulai sekarang akan timbul banyak reaksi seperti ini dalam gereja-gereja lokal. Banyak orang saleh terkasih berkata, “Tuhan, aku mabuk karena dipenuhi sukacita-Mu sampai meluap. Aku telah menjadi arak untuk memuaskan Allahku. Kini aku siap dituangkan, bahkan mati martir.” Ingatlah kembali, Paulus berkata bahwa ia sudah siap dituangkan ke atas Kristus bagi kepuasan Allah. Dalam hidup gereja kita semua dapat mengalami Kristus sampai suatu tingkat sehingga rela dituangkan sebagai kurban curahan.
3) Menuangkan Minyak ke Atas Tugu Batu
Sebagaimana telah kita tunjukkan dalam pasal 28 bahwa menuangkan minyak ke atas tugu (tiang) berarti penuangan Roh Allah pada umat pilihan Allah bagi pembangunan rumah Allah. Namun di sini penuangan minyak ke atas tugu adalah sesudah penuangan kurban curahan ke atas tugu. Ini menunjukkan bahwa penuangan diri kita sebagai kurban curahan kepada Allah menghasilkan penuangan Roh Allah bagi pembangunan-Nya. Semakin kita menuangkan diri kita dengan Kristus sebagai persembahan kepada Allah untuk rumah-Nya, semakin banyak pula penuangan Roh Allah. Pembangunan rumah Allah membutuhkan ini.
4) Menamai Tempat Itu Betel
Ayat 15 mengatakan, “Yakub menamai tempat di mana Allah telah berfirman kepadanya ‘Betel’.” Dalam Kejadian 28, Yakub menyebut tempat itu Betel, tetapi dalam Kejadian 35, ia yakin bahwa tempat itu Betel dan ia ulangi menyebutnya kembali. Makin lama kita tinggal dalam gereja, makin sering kita mengalami Kristus dalam gereja, makin yakinlah kita bahwa tempat ini adalah Betel, sehingga kita makin berani mengatakan, “Inilah gereja dan aku di dalamnya.” Ini bukan istilah belaka, lebih-lebih bukan sebut-an atau denominasi. Inilah keyakinan kita dan pengumuman kita terhadap suatu fakta. Kita percaya penuh bahwa inilah Betel. Puji Tuhan kita semua dapat berkata, “Kini aku di Betel. Inilah gereja.”