← Daftar isi Kejadian (6) · bab 4/16

DIUBAH (1)

Alkitab dimulai dengan penciptaan Allah dan diakhiri dengan tempat kediaman Allah. Kita semua perlu terkesan dengan dua kata ini — penciptaan dan tempat kediaman. Perampungan Alkitab adalah tempat kediaman Allah yang kekal. Kalau ingin mengerti Alkitab, kita harus berpegang teguh pada kedua perkara ini, penciptaan Allah dan tempat kediaman-Nya. Kita telah melihat bahwa Kitab Kejadian memuat hampir seluruh benih kebenaran yang berkaitan dengan ekonomi Allah. Boleh jadi benih yang terakhir dalam kitab ini ialah Betel, tempat kediaman Allah. Tidak hanya pada bagian kesimpulan Alkitab, bahkan pada bagian akhir Kitab Kejadian, sudah kelihatan perampungan ekonomi Allah — Betel, tempat kediaman Allah. Kata “Betel” berarti “rumah Allah”, atau “bait Allah”, “tempat kediaman Allah”.

Kitab Kejadian merangkum biografi delapan tokoh: Adam, Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub serta Yusuf. Kita harus memandang kehidupan Yusuf sebagai bagian dari kehidupan Yakub. Pada Adam, terdapat penciptaan Allah, dan pada Yakub, terdapat tempat kediaman Allah, yaitu Betel. Pada Yakub kita bukan sekadar nampak pemilihan Allah. Sebagian besar guru Kristen pernah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari pemilihan Allah atas Yakub. Memang benar, pemilihan Allah merupakan permulaan, namun apakah kesudahannya, sasaran terakhir dari pemilihan Allah? Betel, tempat kediaman Allah. Allah menciptakan, memilih, memanggil, dan menyelamatkan kita dengan tujuan agar Ia mempunyai satu tempat kediaman, hingga kekal. Benih pembangunan ini, seperti benih-benih lainnya dalam Kitab Kejadian, berkembang sepanjang Alkitab. Jika kita ingin mengerti makna benih ini, kita harus meneliti seluruh Alkitab.

Setelah Yakub, terdapatlah rumah Israel. Rumah Israel pada hakikatnya adalah rumah Allah. Setelah keluar dari Mesir, di antara rumah Israel muncul pembangunan kemah, dan setelah kemah, muncul pembangunan bait. Jadi, Perjanjian Lama merupakan kisah delapan tokoh, dari Adam sampai Yakub, ditambah kemah dan bait. Pembangunan, penghancuran, serta pembangunan kembali bait itu membawa kita kepada penutupan Perjanjian Lama. Apa yang terdapat dalam Perjanjian Baru? Tetap ada dua perkara yang penting: kemah, yaitu Yesus (Yoh. 1:14) dan bait, yaitu gereja (1 Kor. 3:16). Gereja itulah bait, dan perampungannya itulah Yerusalem Baru. Satu cara yang bermakna dan sederhana supaya mudah mengingat Alkitab ialah mengingat delapan tokoh dari Adam sampai Yakub, lambang kemah dan bait pada Perjanjian Lama, serta realitas kemah dan bait dalam Perjanjian Baru yang hasil akhirnya adalah Yerusalem Baru. Ketiga belas hal ini meliputi seluruh Alkitab.

Apakah subyek (pokok) Alkitab? Ada yang mengatakan jatuhnya manusia, penebusan Allah, pertobatan kita, pengampunan Allah, kelahiran kembali, serta keselamatan kita. Memang jelas, semua ini terkandung dalam Alkitab. Ada juga yang mengatakan bahwa Alkitab menyebut hal-hal seperti ular, kalajengking, dan katak. Alkitab terdiri atas lebih dari seribu pasal, bukan kitab yang sederhana. Bahkan dalam satu pasal, mungkin terkandung banyak butir. Tetapi apakah subyek (pokok) Alkitab? Mempelajari Alkitab mirip seperti mempelajari manusia. Meskipun para sarjana kedokteran telah berabad-abad mempelajari anatomi dan psikologi, mereka belum juga selesai menyelidiki tubuh manusia, yaitu sepertiga bagian dari diri manusia. Mereka hanya mengetahui sedikit tentang tubuh manusia, sedangkan tentang jiwa dan roh manusia, mereka masih buta. Manusia itu sangat kompleks. Meskipun demikian, manusia tetap adalah satu kesatuan yang utuh. Kita tidak dapat mengatakan bahwa hati, ginjal, atau hidung itu manusia. Seorang manusia mempunyai hidung, tetapi ia bukan hidung, dan hidung bukan manusia. Ada yang mengatakan bahwa pokok Alkitab ialah pembenaran. Pembenaran memang terkandung dalam Alkitab, tetapi bukan pokok pembicaraan Alkitab. Sama halnya hidung manusia bukanlah manusia itu sendiri. Jika kita ingin tahu apa pokok Alkitab, kita harus nampak bahwa Alkitab memberi tahu kita tentang delapan tokoh, mulai dari Adam dalam penciptaan Allah sampai Yakub dengan rumah Allah (Betel), dan selanjutnya terdapat kemah dan bait dalam Perjanjian Lama serta realitas kemah dan bait dalam Perjanjian Baru, yang rampung dalam Yerusalem Baru. Wahyu 21 mencantumkan bahwa Yerusalem Baru adalah tabernakel (kemah) Allah dan Allah dengan Anak Domba sebagai bait di dalamnya. Jadi, Yerusalem Baru itulah kegenapan terakhir dari Betel.

e. Diubah

Dalam Kejadian 35, Yakub seharusnya telah berusia sekitar 100 tahun. Meskipun Yakub telah mengalami banyak masalah, namun sebelum pasal ini, kita tidak melihat ia pernah mengadakan pembersihan yang tuntas. Ia banyak menderita oleh kakaknya, pamannya, serta sepupunya, menderita selama 20 tahun di bawah tangan Laban, pamannya. Tetapi Kitab Kejadian tidak pernah mengatakan bahwa sewaktu melewati penderitaan itu Yakub menguduskan dirinya atau melakukan pembersihan yang tuntas atas dirinya. Sebaliknya, kita malah nampak kelicikan dan perebutan Yakub. Namun, seperti yang akan kita lihat, ketika Allah memberi tahu dia supaya bangun dan berangkat ke Betel, Yakub mengadakan pembersihan yang tuntas.

Kali pertama Allah menampakkan diri kepada Yakub terjadi dalam mimpi (Kej. 28:10-22), dalam mimpi itu Yakub melihat langit terbuka dan di bumi berdiri sebuah tangga yang ujungnya sampai ke langit dan para malaikat Allah naik turun di tangga itu. Ketika Yakub terjaga, ia mendapat wahyu untuk menamai tempat itu Betel, dan batu yang ia gunakan sebagai bantal didirikannya sebagai tugu (tiang) dan ia menuangkan minyak ke atasnya. Selanjutnya, ia berjanji jika Allah akan membawanya kembali ke rumah ayahnya dengan selamat, batu yang didirikan sebagai tugu (tiang) itu akan dibangun menjadi rumah Allah (Kej. 28:22). Dalam mimpi itu Allah mengunjungi Yakub dengan penuh anugerah dan membuat dia (sudah tentu di dalam roh) berbicara mengenai ekonomi kekal Allah. Jika Yakub tidak diberi wahyu oleh Roh Allah, mana mungkin ia, seorang perebut, bisa mengungkapkan maksud tujuan kekal Allah? Mustahil. Allah menyingkapkan hasrat hati-Nya kepada Yakub, yaitu ingin mendapatkan Betel.

Namun, mimpi di Betel itu sama sekali tidak mengubah Yakub. Kelihatannya setelah mimpi berlalu, wahyu pun kembali ke langit. Cara hidup Yakub belum terpengaruh. Demikian pula kita. Di Betel, Yakub bernubuat dengan begitu ajaib, mengutarakan tentang rumah Allah, namun kelihatannya nubuat itu telah kembali ke langit. Sama seperti Yakub, banyak di antara kita yang mempunyai mimpi, wahyu, atau inspirasi yang di dalamnya kita mengutarakan perkataan nubuat, kalau bukan kepada manusia, paling sedikit kepada malaikat. Tetapi keesokan harinya kita tetap menempuh hidup seperti semula. Setelah mimpinya di Be-tel, Yakub masih tetap merebut, terutama merebut Laban, seolah-olah ia tidak pernah bermimpi. Faktanya, setelah bermimpi, ia malah lebih “Yakub” — merebut.

Dalam pasal 33, Yakub tetap sebagai Yakub. Mimpi surgawi dan penderitaan belum mengubahnya. Tetapi dalam pasal 34 terjadilah sesuatu yang menjamah hati Yakub. Putri tunggalnya dinodai dan para putranya menyusahkan dia karena membunuh banyak penduduk dan merampas kota mereka. Peristiwa ini sangat menjamah lubuk batin Yakub sehingga ia berubah total. Setelah ini, Allah berbicara kepadanya.

(1) Peringatan Allah — Kembali ke Betel

Allah tidak berkhotbah kepada Yakub. Berhubung hati Yakub telah terjamah, maka ia sudah siap untuk menuruti firman Allah, karena itu Allah hanya berkata dengan singkat, “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu” (Kej. 35:1). Di sini kita melihat Allah menyuruh Yakub melakukan empat hal: bersiap, pergi ke Betel, tinggal di situ, dan membuat di situ mezbah bagi Allah yang telah menampakkan diri kepadanya. Perubahan yang dialami Yakub dalam pasal 35 sangatlah bermakna.

(2) Reaksi Yakub

Dalam Kejadian 35:2-7 kita melihat reaksi Yakub terhadap firman Allah. Sebelum pasal ini, tidak pernah ada catatan mengenai seseorang yang berjalan di hadirat Allah serta membersihkan seluruh dirinya berikut seisi keluarganya. Ayat 2 mengatakan, “Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua yang bersama-sama dengan dia: ‘Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu.” Demi menuju Betel, Yakub dengan setiap orang dalam keluarganya harus melakukan pembersihan tuntas dan menguduskan diri mereka. Dalam pasal ini Allah tidak berkata, “Yakub, pergilah ke Betel untuk membangun mezbah di sana. Engkau harus tahu bahwa engkau harus kudus. Aku kudus, dan engkau pun harus kudus. Engkau harus menjauhkan dirimu dari semua dewa asing, menguduskan dirimu dari setiap noda, dan menukar pakaianmu.’”

Baru-baru ini seorang Kristen kawakan, yang sudah berkhotbah selama 40 tahun lebih, bertanya apakah kita mengajar orang-orang kita cara berpakaian. Ia telah mengamatamati cara saudara saudari (di tengah-tengah kita) berpakaian dan bertanya-tanya apakah kita mengajar mereka demikian. Saya memberi tahu dia bahwa selama 14 tahun ini, kita tidak pernah menetapkan peraturan-peraturan tentang berpakaian. Tetapi siapa saja yang terjamah oleh Allah bagi tempat kediaman-Nya, tentu merasa bahwa dalam batinnya ada sesuatu yang menghendaki dia membersihkan dan menguduskan dirinya. Boleh jadi Anda membiarkan suatu kekenduran dan noda dalam hidup Anda. Namun bila Anda menjamah gereja dan betul-betul mau menempuh hidup gereja di hadapan Tuhan, dalam batin Anda akan timbul perasaan yang menunjukkan barang-barang apa yang tidak sesuai dengan hidup gereja. Segera setelah Allah menyuruh Yakub bersiap dan pergi ke Betel, Yakub menyuruh keluarganya menyingkirkan dewa-dewa asing, menguduskan diri dan menukar pakaian. Nanti kita akan nampak bahwa menukar pakaian berarti mengganti cara hidup kita, yaitu menanggalkan cara hidup kita yang lama, mengenakan manusia baru. Meskipun Allah tidak memberi tahu Yakub untuk berbuat demikian, tetapi sesuatu di dalam batinnya menghendaki dia berbuat demikian. Jika ia disuruh ke tempat duniawi, ia tidak akan merasa perlu menguduskan diri. Sebaliknya, ia akan lebih banyak mencemarkan dirinya. Yakub memiliki perubahan yang begitu radikal karena ia telah terjamah bagi Betel, bagi tempat kediaman Allah yang kekal.

(a) Melakukan Satu Kali Pembersihan yang Tuntas

1) Menyingkirkan Dewa-dewa Kafir — Berhala

Pertama-tama, Yakub memberi tahu seisi rumahnya dan semua orang yang bersama-sama dengan dia agar menyingkirkan dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah mereka (Kej. 35:2). Ketika Yakub dan keluarganya lari dari Laban, Rahel mencuri terafim dari rumahnya (Kej. 31:34-35). Sebelum pasal 35, Yakub tidak pernah menyuruh Rahel menyingkirkannya. Tetapi setelah Allah menyuruhnya pergi ke Betel, setiap orang harus membuang dewa-dewa kafir atau berhala mereka. Ini merupakan suatu bayangan, suatu lambang, yang berkembang di sepanjang Alkitab. Menurut Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, hal pertama yang harus kita singkirkan demi tempat kediaman Allah adalah berhala-berhala kita.

Mungkin banyak orang akan berkata bahwa mereka tidak pernah berhubungan dengan berhala. Secara materi, memang Anda tidak punya berhala. Tetapi Anda harus tahu, apakah yang dimaksud dengan berhala secara rohani. Berhala ialah sesuatu yang menggantikan Allah. Pendidikan Anda, ambisi Anda, kedudukan Anda, nama Anda, hasrat Anda, dan harapan Anda dapat menggantikan Allah dalam hidup Anda, sehingga menjadi berhala. Bila Anda memandang perkara itu di dalam terang ini, Anda harus mengakui bahwa Anda memiliki dewa-dewa asing. Begitu sanak saudara atau teman Anda menggantikan Allah dalam hidup Anda, itulah berhala Anda. Orang tua kita, pasangan kita, dan putra putri kita, semuanya bisa menjadi berhala kita.

Tahukah Anda mengapa manusia menyembah berhala? Tidak diragukan, mereka menyembah berhala karena bujukan Iblis. Tetapi di pihak manusia sendiri ada alasan mengapa mereka berbuat demikian. Manusia menyembah berhala dengan harapan beroleh panjang umur dan kebahagiaan. Iblis menggertak manusia bahwa jika manusia tidak menyembah berhala, manusia tidak akan panjang umur dan bahagia. Sebaliknya, jika mereka menyembah berhala, mereka akan panjang umur dan bahagia. Bahagia itu meliputi banyak hal: uang, kedudukan, ambisi, ketenaran, nama. Banyak yang menyembah berhala karena mereka ingin sehat. Mengapa Anda memiliki sesuatu yang menggantikan Allah? Tidak lain karena hal itu membuat Anda gembira. Yakub berbeda dengan Rahel, ia tidak mempunyai berhala yang konkret. Tetapi di dalam perebutannya terdapat beberapa berhala. Bahkan sesungguhnya perebutannya sendiri adalah suatu berhala. Mengapa Yakub merebut orang lain? Karena hasratnya terhadap kebahagiaan dan kenikmatan. Hari ini, manusia telah kehilangan Allah, mencari dewa-dewa asing, menuntut kebahagian dari berhala-berhala itu. Namun Allah itulah sebenarnya panjang umur dan kebahagiaan kita.

Ketika Allah membicarakan tentang Betel kepada Yakub, Yakub mendapatkan wahyu mengenai seumur hidupnya dan menyadari bahwa hidupnya di bumi ini bukanlah untuk kesejahteraan dirinya sendiri, melainkan untuk Betel, rumah Allah. Jadi, Betel menjadi sasarannya, tujuan seumur hidupnya. Semula, sasarannya adalah kebahagiaannya sendiri, sekarang, sasaran dan tujuannya telah beralih. Sasarannya bukan lagi untuk dirinya sendiri, melainkan mutlak untuk Allah. Di Sikhem, Yakub telah memiliki segala sesuatu. Namun, karena kesukaran yang ditimbulkan putra-putranya, ia kehilangan keamanan dan kedamaiannya. Pada kesempatan inilah, Allah seolah berkata, “Yakub, pergilah ke rumah-Ku. Di Sikhem kau tidak memiliki keamanan dan kedamaian. Keamanan dan kedamaian ada di Betel. Kau harus pergi ke sana.” Demikianlah, Betel menjadi tujuan dan sasaran Yakub. Yakub tahu bahwa rumah Allah itu kudus, bukan sesuatu yang biasa atau umum. Tidak seorang pun dapat masuk ke dalam rumah Allah dengan membawa berhala, tercemar, dan mengenakan pakaian yang usang dan kotor. Karena itu, Yakub menyuruh keluarganya dan setiap orang yang bersamanya untuk menyingkirkan semua dewa kafir.

2) Mentahirkan (Menyucikan) Diri

Yakub juga menyuruh setiap orang untuk mentahirkan (menyucikan) dirinya (Kej. 35:2). Kita tidak hanya harus menyingkirkan dewa-dewa asing, tetapi juga harus menyucikan diri kita seluruhnya. Dengan kata lain, seluruh orang kita, cara hidup kita, dan penampilan kita haruslah diubah. Ini bukan sekadar dilahirkan kembali atau sedikit perubahan dalam hidup, melainkan perubahan yang menyeluruh. Dalam Kejadian 35 ini Yakub telah diubah.

Dalam Alkitab, menyucikan diri berarti membersihkan, menyingkirkan segala cemar nista. Seluruh diri kita harus dibersihkan dari segala perkara yang Allah pandang najis. Dalam 2 Korintus 7:1 Paulus berkata, “Saudara-saudaraku yang terkasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.” Konsepsi Paulus dalam 2 Korintus 6 dan 7 sama seperti konsepsi Yakub dalam Kejadian 35. Karena orang-orang Korintus adalah bait Allah, maka Paulus menyuruh mereka agar menyucikan diri. Bait Allah tidak ada kaitannya dengan berhala (2 Kor. 6:16). Berhala itu berhala dan bait Allah itu bait Allah. Di pihak manakah Anda? Mau berhala, pergilah kepada berhala. Mau bait Allah, bersihkanlah semua berhala.

Ketika Anda masuk ke dalam hidup gereja, tidak ada yang memberi tahu Anda apa-apa, namun di lubuk batin Anda ada sesuatu yang memberi tahu Anda bahwa untuk menempuh hidup gereja yang benar, ada beberapa hal yang harus disingkirkan. Setiap orang di antara kita yang telah masuk ke dalam gereja, pernah mengadakan pembersihan sedemikian ini. Pada waktu itu, meskipun tidak semuanya, kita telah menyingkirkan banyak dewa kafir, menyingkirkan banyak benda, hal, bahkan orang yang kita andalkan sebagai kebahagiaan kita. Kita berkata, “Aku tidak mau lagi menahan benda-benda ini. Semua dewa asing harus disingkirkan.” Dalam hidup gereja, tidak boleh tanah seinci pun diduduki dewa-dewa asing. Tambahan pula, ketika kita masuk ke dalam hidup gereja, kita disucikan. Sedikitnya, kita damba dibersihkan; kita berkata, “Demi hidup gereja, aku rela seluruh diri, pikiran, emosi, dan tekadku disucikan.” Kita mempunyai hasrat yang sama seperti Yakub. Pada hari orang-orang Yakub pergi ke Betel, mereka semua telah menyucikan diri, tidak ada dewa-dewa asing di tengah-tengah mereka.

Banyak di antara kita, termasuk saya sendiri, menyadari bahwa diri kita ini kurang baik. Boleh jadi sampai hari ini Anda masih mengatakan, “Aku belum begitu baik. Pikiranku belum begitu murni bersih.” Akan tetapi, ban-dingkanlah cara hidup Anda yang sekarang dengan yang lampau. Walaupun Anda tidak boleh sombong, namun Anda harus mengatakan, “Terima kasih, Tuhan. Aku tidaklah puas akan diriku. Tetapi bila aku membandingkan yang sekarang dengan yang lampau, aku harus bersyukur dan memuji Engkau, aku telah banyak berbeda.” Meskipun dalam pasal 35 Yakub masih belum matang, tetapi tidak dapat dibantah, ia telah berubah. Dalam berita berikutnya kita akan melihat bahwa Yakub benar-benar telah berubah secara mendasar. Sekali lagi Allah mengganti namanya dari Yakub menjadi Israel. Allah memberi tahu dia agar jangan lagi menyebut dirinya Yakub, melainkan Israel.

Saya mengenal sebagian besar dari Anda selama dua belas tahun atau lebih. Saya tahu bahwa hari ini banyak dari Anda yang tidak puas akan diri Anda sendiri. Ketika Anda ditanya bagaimana keadaan Anda sekarang, menurut kebiasaan, Anda akan menjawab, “Baik.” Namun menurut perasaan dalam batin, Anda merasa kurang baik. Mungkin Anda baru saja bertobat dan menyeru nama Tuhan; jika ada orang bertanya kepada Anda bagaimana keadaan Anda, Anda akan menjawab, “Baik.” Terhadap saudara Anda mengatakan “baik”, namun Anda tidak pernah mengatakan demikian kepada Tuhan. Kita tidak selayaknya sombong, tetapi jangan pula putus asa. Bandingkanlah diri Anda de-ngan dua belas tahun yang lalu. Bukankah ada perubahan besar? Siapa yang mengubah kita? Kita semua mengakui bahwa kita tidak pernah mengubah diri kita. Kita berubah karena kita berada di Betel, dalam hidup gereja. Jika Anda sengaja meninggalkan hidup gereja untuk beberapa minggu, keburukan Anda yang lampau akan muncul kembali, ekor kancil Anda akan tersingkapkan, lidah ular Anda akan bergerak lagi, dan semua kutu busuk Anda akan ikut aktif. Tetapi jika Anda terus-menerus datang ke gereja, senantiasa berkontak dengan gereja, pastilah ekor kancil Anda akan tersingkirkan, lidah ular Anda akan terkerat, dan kutukutu busuk Anda akan terbunuh. Asalkan Anda datang ke gereja, kutu-kutu busuk niscaya akan musnah.

Hidup gereja adalah penyucian (pembersihan) yang paling efektif. Akhir-akhir ini, saya mengalami banyak sekali penyucian dalam sidang doa. Ketika saya duduk dalam sidang dan berdoa bersama-sama, serta merta saya disiram dan dibersihkan. Saya bukan mengatakan bahwa saya disucikan oleh doa, melainkan oleh gereja. Gereja adalah “kamar mandi” yang besar di mana kita semua disiram dan dibersihkan. Tanpa fungsi ini, saya khawatir itu bukan gereja. Asalkan gereja itu benar-benar gereja, tentulah akan berfungsi demikian. Sering kali menjelang waktu pergi bersidang, dalam batin terdapat sesuatu yang mulai menyucikan kita, menyuruh kita menyucikan diri. Dalam perjalanan menuju balai sidang, kita sering berdoa, “Tuhan, aku akan pergi bersidang. Ampunilah aku atas hal ini, bersihkanlah aku atas perkara itu, dan singkirkan itu dariku.” Inilah penyucian yang diperlukan guna menuju Betel. Mari kita semua menyucikan diri, karena kita harus bangkit, pergi ke Betel, menjumpai Allah kita. Kita tidak boleh menjumpai-Nya dalam keadaan yang usang dan tercemar. Kita harus disucikan. Pencucian ini bukanlah pekerjaan kita, melainkan pekerjaan tangan Allah atas diri kita. Ketika kita memperhatikan Betel-Nya, tangan ilahi-Nya akan menyucikan kita.

3) Menukar Pakaian

Selain menyingkirkan dewa-dewa asing dan mentahirkan diri, mereka juga menukar pakaian (35:2). Menurut Alkitab, menukar pakaian berarti mengubah cara hidup Anda. Efesus 4:22-24 mewahyukan bahwa cara hidup yang lama adalah kehidupan insani yang telah jatuh dan cara hidup yang baru adalah hidup gereja (church life). Gereja adalah ciptaan baru yang telah dilahirkan kembali, dan sifat insani adalah ciptaan lama yang telah jatuh. Cara hidup kita sebelum diselamatkan merupakan kehidupan ciptaan lama yang telah jatuh. Sekarang setelah diselamatkan, dilahirkan kembali, dan dibawa ke dalam hidup gereja, kita harus mempunyai cara hidup yang baru. Kita harus menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru. Menanggalkan manusia lama berarti menanggalkan pakaian yang lama, cara hidup yang lama; mengenakan manusia baru berarti mengenakan cara hidup yang baru, yakni gereja.

Setelah menyingkirkan dewa-dewa kafir dan menyucikan diri, kita harus menukar pakaian kita, mengubah cara hidup kita. Kita tidak lagi menyatakan diri kita yang lama, melainkan menyatakan diri kita sebagai gereja, yakni sebagai manusia baru dengan cara hidup yang baru. Tadinya kita ini ciptaan lama yang telah jatuh, tetapi kini adalah ciptaan baru yang telah dilahirkan kembali. Banyak sanak famili, handai taulan, teman sekantor, dan tetangga kita dapat memberi kesaksian bahwa setelah kita memasuki hidup gereja, cara hidup kita mengalami perubahan besar. Gereja telah mengubah dan terus mengubah cara hidup kita. Ini untuk Betel.

4) Menanam Anting-anting

Ayat 4 mengatakan, “Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.” Selain menanam berhala-berhala, mereka juga menanam anting-anting. Anting-anting adalah benda untuk mempercantik diri. Benda ini pun harus dibereskan sama seperti berhala. Dalam pandangan Allah, anting-anting dan perhiasan kebanyakan orang sama dengan berhala. Orang-orang di dalam rumah Yakub menyingkirkan dewa-dewa orang kafir, juga membereskan anting-anting mereka. Ini menunjukkan bahwa hati nurani mereka menyadari, anting-anting itu sama dibenci seperti dewa-dewa kafir. Banyak saudari setelah menjamah gereja mempunyai kesadaran yang sama, juga menanggalkan perhiasan yang membencikan itu. Ini bukan sesuatu yang berhubungan dengan moral, melainkan berhubungan dengan rumah Allah.

Allah tidak menyuruh Yakub melakukan pembersihan sedemikian. Ia tidak memerintahkan, “Yakub, kau harus memberi tahu seisi rumahmu dan setiap orang yang bersamamu agar melakukan suatu pembersihan, suatu penyucian diri.” Lalu mengapa Yakub menyuruh setiap orang berbuat demikian? Karena rumah Allah bukanlah perkara individu. Bukan hanya Yakub seorang. Rumah Allah seharusnya rumah Yakub yang menjadi rumah Israel. Akhirnya semua keturunan Yakub menjadi rumah Allah, Betel. Betel yang sejati bukan kemah (tabernakel), melainkan umat Israel. Demikian pula, kita harus nampak bahwa hari ini kita inilah gereja. Kita pun harus disucikan, bukan hanya karena akan pergi ke Betel, lebih-lebih karena kita ini akan menjadi Betel. Kita harus menyingkirkan semua dewa kafir dan perhiasan yang membencikan, menyucikan diri kita, dan mengganti pakaian kita. Menyingkirkan dewa-dewa asing berarti pula menyingkirkan semua sandaran yang di luar. Kita harus disucikan seluruhnya, baik lahir maupun batin, dari segala pencemaran, juga harus mengubah cara hidup kita. Semua ini adalah untuk hidup gereja.

5) Menggentarkan Musuh

Ayat 5 mengatakan, “Sesudah itu berangkatlah mereka. Dan kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka, sehingga anak-anak Yakub tidak dikejar.” Melihat musuh-musuh mereka gentar, ini sangatlah mendorong kita. Karena keonaran yang ditimbulkan oleh anak-anak laki-lakinya, Yakub was-was, kalau-kalau orang-orang di sekeliling kota itu akan menyerang mereka dan membunuhnya. Namun, setelah Yakub dan semua orang yang bersamanya menyingkirkan berhala-berhala, menyucikan diri, dan menukar pakaian mereka, segera kedahsyatan yang dari Allah meliputi kota-kota sekeliling mereka. Pember-sihan dan penyucian diri mereka menggentarkan musuh-musuh. Ini menunjukkan, jika untuk hidup gereja, kita menyingkirkan semua dewa kafir, benda-benda yang mempercantik diri atau perhiasan yang membencikan itu, menyucikan diri kita, dan menukar pakaian kita, niscayalah setan-setan dan dosa-dosa yang menyusahkan kita akan gemetar. Kita tidak perlu berperang untuk mencapai kemenangan; musuh-musuh akan gemetar, dan kemenangan ada pada kita. Pernahkah Anda membuat dosa gemetar? Pernahkah Anda membuat perkara-perkara perjudian, minuman keras, atau merokok gemetar? Mungkin Anda merasa tidak berdaya mengalahkan itu semua. Bila demikian, itu disebabkan Anda belum menyingkirkan dewa-dewa asing, menyucikan diri, dan menukar pakaian. Jika Anda sudah melakukan semua ini, segala “kutu busuk”, “kalajengking”, dan “ular” pasti gemetar, pasti kabur. Empat puluh atau lima puluh tahun yang lalu, saya mempraktekkan cara-cara yang saya peroleh dari buku-buku yang pernah saya baca mengenai mengalahkan dosa dan dunia. Semakin saya praktekkan, saya semakin dikalahkan, karena saya tidak di dalam gereja. Melalui berada di dalam gereja, menyingkirkan sandaran-sandaran luaran, menyucikan diri, dan menukar pakaian, kita menggentarkan dosa dan dunia, kita pun menang. Apakah Anda sedang diusik oleh “tikus tanah” kecil tabiat Anda? Dia akan gemetar. Kejadian 35:5 menuliskan bahwa orang-orang di sekeliling kota itu tidak berani mengejar Yakub. Allah membuat Yakub berjalan dengan lancar menuju Betel. Kapan saja kita di dalam gereja, semua “tikus tanah” akan gemetar.

(b) Ke Betel

Setelah melakukan pembersihan tuntas, Yakub dan semua orangnya berangkat ke Betel (ayat 3, 6). Di Betel, ia mendirikan mezbah bagi Allah dan menamai “tempat itu El-Betel” (ayat 7), ia mengenal bahwa Allah itu Allahnya yang di Betel. Kita harus bersaksi terhadap panggilan dan gugahan Allah untuk ke gereja, di mana kita dapat mendirikan mezbah untuk mempersembahkan diri kita dengan sungguh-sungguh serta mengalami Allah secara riil. Setelah masuk ke dalam gereja, kita semua memahami perlunya persembahan yang sungguh-sungguh. Melalui persembahan yang demikian, kita mengalami Dia sebagai Allah kita di dalam rumah Allah, yaitu gereja.

(3) Pembersihan Allah

Ayat 8 mengatakan “Ketika Debora, inang pengasuh Ribka, mati, dikuburkanlah ia di sebelah hilir Betel di bawah pohon besar (tarbantin), yang dinamai orang: Pohon Besar Penangisan.” Lama sekali saya tidak paham mengapa inang Ribka meninggal pada waktu ini. Alkitab tidak memuat kata-kata yang sia-sia. Debora adalah inang Ribka, ibu Yakub. Ribka tentu telah meninggal sebelum Yakub kembali. Maka dengan sendirinya Debora sangat mengasihi Yakub, menggantikan ibunya sebagai penghiburnya. Bertepatan pada saat Yakub mengalami Betel, Debora, penghiburnya, di ambil Allah. Banyak di antara kita dapat bersaksi, setelah kita menyingkirkan dewa-dewa asing, menyucikan diri, menukar pakaian, dan memasuki hidup gereja, Allah datang mengambil pergi “Debora” kita, ibu inang kita. Banyak di antara kita yang memiliki “Debora”, yaitu seseorang atau sesuatu yang mengasihi, bersimpati, dan menghibur kita. Tetapi ketika kita masuk ke dalam hidup gereja, saat itulah Allah mengambil inang kita, “Debora” kita meninggal. Hidup gereja tidak memerlukan ibu inang. Maafkan saya mengatakan bahwa beberapa di antara kita masih suka mempunyai inang-inang yang bersimpati serta menghibur kita seperti seorang ibu mengasuh bayinya. Tentang ibu inang, positifnya adalah ditujukan kepada bayi. Setelah dalam hidup gereja sekian lamanya, masihkah Anda perlu diasuh? Sampai-sampai yang sudah dewasa pun ada yang masih menginginkan seorang “Debora” untuk menghibur dan memperhatikan mereka. Jika kita serius bagi Betel di hadapan Tuhan, Dia menyingkirkan inang-inang kita.

Dalam ayat-ayat ini, kita nampak ada tiga barang yang dipendam: berhala, anting-anting, dan inang. Semuanya di pendam di bawah pohon tarbantin. Pohon tarbantin adalah lambang hayat yang makmur. Jadi, dewa-dewa orang kafir, benda-benda yang mempercantik diri, serta inang-inang, semuanya ditanam di bawah hayat yang makmur, terutama ditanam di bawah hayat dalam gereja. Ini bukan teori, melainkan sesuai dengan pengalaman kita. Hayat dalam gereja seperti pohon tarbantin yang rimbun, di bawahnya terpendamlah “Debora”. Kita menyingkirkan berhala, menanggalkan anting-anting, namun Allah membuat “Debora” meninggal. Inilah penyucian yang sejati dari pihak kita dan dari pihak Allah. Kita menyingkirkan, Allah mengambil. Kita menyingkirkan dewa-dewa asing, anting-anting, pencemaran, dan pakaian usang, namun Allah mengambil pergi inang-inang. Dalam hidup gereja, kita tidak memerlukan simpati dan pengasuhan. Semua “Debora” kita harus dikuburkan.

Lokasi pohon tarbantin tempat Debora dikuburkan adalah “di sebelah hilir Betel” (ayat 8). Ini menunjukkan bahwa pengalaman “Debora” kita disingkirkan dan dikubur bukanlah pada taraf yang tinggi, sebaliknya di bawah taraf gereja. Gereja sebagai rumah Allah adalah pada tingkat yang tertinggi, dan di dalam gereja kita harus memiliki pengalaman-pengalaman di taraf tertinggi, misalnya mengalami Kristus sebagai hayat dan persona kita. Pengalaman akan penguburan “Debora” kita adalah rendah sekali, di bawah Betel. Sebab itulah tempat pohon tarbantin, di mana inang dikubur, disebut Allon-bacuth — artinya Pohon Besar Penangisan”. Ini bukan perkara yang patut menyenangkan kita.