SEKILAS PANDANG TENTANG PEMBANGUNAN ALLAH DALAM ALKITAB TUJUH MATA
Kitab Wahyu merupakan kitab kesimpulan dari Alkitab. Tanpa kitab ini, Alkitab tidak memiliki kesimpulan yang memadai. Sebagai sebuah kitab kesimpulan, hampir setiap hal yang terdapat dalam Kitab Wahyu telah disebutkan sebelumnya dalam Perjanjian Lama. Menurut kata-kata yang tercantum dalam Wahyu 4 dan 5 tidak terlihat masalah pembangunan Allah, namun di sini terdapat tujuh mata, yaitu tujuh Roh Allah. Jika kita ingin memahami tanda-tanda dan lambang-lambang dalam Kitab Wahyu, ada kunci rahasianya, yakni ketika muncul suatu lambang dalam kitab ini, hendaklah kita mencarinya dalam Perjanjian Lama yang pernah menyebut lambang itu. Misalnya Wahyu 1, mencantumkan kaki pelita sebagai lambang gereja. Kalau kita ingin mengerti makna kaki pelita ini, kita harus membaca Keluaran 25 yang menyinggung tentang kaki pelita untuk kali pertama, juga membaca Zakharia 4 yang menyinggung tentang kaki pelita untuk kali kedua. Sama prinsipnya, jika kita ingin tahu apakah tujuh mata Allah ini, kita juga harus kembali ke Perjanjian Lama.
Tujuh mata pernah disinggung dalam Zakharia 3:9 dan 4:10. Kitab Zakharia menyiratkan bahwa tujuh mata ini adalah tujuh pelita, menunjukkan itu sebagai Roh Kudus. Ketika Zakharia bertanya kepada malaikat, “Apakah arti semuanya ini?” Malaikat menjawab, “Inilah firman TUHAN kepada Zerubabel bunyinya: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam” (Za. 4:4-6). Perkataan ini menyiratkan bahwa ketujuh pelita ini berhubungan dengan Roh Allah. Kitab Wahyu dengan jelas memberi tahu kita bahwa tujuh mata Allah ini adalah tujuh pelita, adalah tujuh Roh Allah. Kitab Zakharia mewahyukan bahwa tujuh mata Allah, yaitu tujuh pelita pada kaki pelita, juga merupakan tujuh mata dari batu. Melalui tujuh mata ini, Kristus yang diwahyukan dalam Wahyu 5 sebagai Singa dan Anak Domba dapat dihubungkan dengan batu yang disebut dalam Zakharia 3. Jadi, Yang bermata tujuh ini, tidak hanya “Singa, Anak Domba”, tetapi juga batu. Ia adalah “Singa—Anak Domba— Batu”. Singa mengalahkan musuh, Anak Domba menebus kita, Batu membangun rumah Allah.
SASARAN EKONOMI ALLAH
Ekonomi Allah bukan untuk karunia keselamatan. Karunia keselamatan bukan sasaran ekonomi Allah, bukan pula penggenapan ekonomi Allah. Itu hanya merupakan suatu proses, prosedur, untuk mencapai sasaran ekonomi Allah. Sasaran Allah ialah membangun tempat kediaman-Nya yang kekal. Bangunan ini pada hari ini ialah gereja, pada kekekalan nanti ialah Yerusalem Baru.
KRISTUS ADALAH BATU
BAGI PEMBANGUNAN ALLAH
Banyak orang Kristen hafal Kisah Para Rasul 4:12 yang mengatakan, “Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Dalam penginjilan, saya sering menggunakan ayat ini, dengan berani memberi tahu orang-orang bahwa di seluruh jagad raya hanya ada satu nama yang mampu menyelamatkan mereka. Nama ini bukan nama tokoh agama atau Plato, melainkan Yesus. Akhir-akhir ini saya baru tahu bahwa Yesus yang dicantumkan dalam Kisah Para Rasul 4:12 adalah batu. Ayat sebelumnya berkata, “Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan — yaitu kamu sendiri — namun ia telah menjadi batu penjuru.” Membaca Kisah Para Rasul 4:10, kita akan paham bahwa batu ini jelas ditujukan kepada Yesus Kristus, orang Nazaret. Ia telah mati tersalib, kemudian bangkit dari kematian. Dia itulah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan Yahudi. Namun Ia telah menjadi batu penjuru, sehingga selain di dalam Dia tidak ada keselamatan. Siapa saja yang membuang Dia, bukan hanya membuang Juruselamat, tetapi juga membuang batu bangunan, yaitu batu penjuru.
Batu penjuru adalah batu yang menghubungkan dinding-dinding sebuah rumah. Di sudut-sudut rumah terdapat batu-batu, di antaranya ada sebuah yang disebut batu penjuru. Pada zaman kuno, ketika orang-orang Yahudi di Palestina membangun rumah, mereka sangat mementingkan tiga batu: batu dasar, batu penjuru, dan batu atap. Seluruh rumah dibangun di atas batu dasar, keempat penjuru rumah dihubungkan oleh batu penjuru, dan di atap rumah ada batu atap. Ketiga batu ini menopang dan melindungi segenap rumah. Dalam Yesaya 28:16, Kristus adalah batu dasar; dalam Zakharia 4:7, Dia adalah batu atap; dan dalam Kisah Para Rasul 4:10-12, Dia adalah batu penjuru. Dalam Kisah Para Rasul 4 Petrus tidak hanya memberitakan Kristus sebagai Juruselamat, lebih-lebih memberitakan Kristus sebagai batu bangunan, batu penjuru yang menghubungkan semua dinding. Petrus mempunyai konsepsi demikian karena ia mengenal penebusan Allah dalam Kristus adalah untuk pembangunan-Nya. Sebab itu, dalam 1 Petrus ia menulis, “Datanglah kepada-Nya, batu yang hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Ptr. 2:4-5a).
PENEBUSAN ALLAH ADALAH
UNTUK PEMBANGUNAN-NYA
Pemberitaan Injil hari ini hampir tidak ada yang menyangkut pembangunan Allah. Injil yang diberitakan dalam agama Kristen sungguh telah meleset dari sasaran. Berhubung kita masih dipengaruhi oleh agama Kristen, maka kita tidak berkesan sedikit pun bahwa penebusan Allah dalam Kristus ialah untuk pembangunan. Dalam konsepsi keba-nyakan orang Kristen, karunia keselamatan adalah segala-galanya. Tidak jarang syair memuji Kristus sebagai Anak Domba, dengan kata-kata “Domba layak”. Namun, hampir tidak ada satu pun yang mengutarakan “Batu layak”. Bila Anda berdiri di dalam sidang serta memuji Tuhan, “Batu layak”, orang lain akan menganggap Anda sudah gila, atau mengira Anda telah menerima konsepsi yang lain. Beginilah keadaan hari ini. Dalam pemulihan Tuhan, Tuhan sudah membawa kita maju. Selain kita nampak seperti Martin Luther bahwa Kristus adalah Anak Domba bagi penebusan kita, agar kita dibenarkan karena iman, kita pun nampak bahwa Anak Domba ini bermata tujuh, tujuh mata ini adalah tujuh mata batu bangunan. Ekonomi Allah bukan untuk penebusan, melainkan melalui penebusan agar Ia tinggal bersama manusia. Karena manusia jatuh, maka perlu penebusan. Penebusan merupakan suatu prosedur yang membawa manusia yang telah jatuh kembali kepada Allah, agar merampungkan ekonomi Allah dalam pembangunan tempat kediaman-Nya. Agama Kristen yang kasihan justru berhenti pada prosedur, lalai dan melupakan tujuan Allah. Karena itu kita harus berseru dengan nyaring, “Batu layak!”
Sekarang mari melihat Matius 21. Ayat 9 mengatakan, “Orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, ‘Hosana bagi Anak Daud, terpujilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!’” Ayat ini diserukan ketika orang-orang menyambut Tuhan Yesus dengan meriah, yaitu mengutip perkataan dari Mazmur 118, “Diberkatilah dia yang datang dalam nama TUHAN!” (ayat 26). Siapakah yang datang dalam nama Tuhan pada ayat ini? Jawabannya terdapat dalam Kitab Mazmur yang sama ayat 22, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Dalam Matius 21:42 Tuhan Yesus telah mengutip Mazmur 118:22-23 ini. Mazmur 118:23-24 mengatakan, “Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita. Inilah hari yang dijadikan TUHAN, marilah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya!” Hari yang dite-tapkan Tuhan ini adalah hari kebangkitan. Pada hari kebangkitan, Tuhan Allah menjadikan Yesus orang Nazaret sebagai batu bangunan. Inilah hari yang ditetapkan Yehova, hendaklah kita bersorak-sorak dan bersukacita karenanya. Setiap hari Tuhan kita harus bergembira dan bersukacita.
Ketika tukang-tukang bangunan Yahudi tidak senang dan iri hati karena semua orang menyambut Tuhan Yesus, Tuhan berkata kepada mereka dalam Matius 21:42, “Belum pernahkah kamu baca dalam Kitab Suci: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Seolah-olah Tuhan Yesus berkata, “Tidakkah kalian mendengar semua orang sedang memuji Aku? Mereka berseru: Diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan. Pujian mereka adalah mengutip Mazmur 118, di sana dikatakan pula bahwa batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru. Hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan yang ajaib di mata kita. Belum pernahkah kalian baca ayat ini?” Tuhan memakai ayat-ayat dalam Mazmur 118 untuk menjelaskan bahwa orang-orang Yahudi sebagai tukang-tukang bangunan Allah telah membuang Juruselamat, juga membuang batu bangunan. Akibatnya, mereka tidak berbagian dalam pembangunan Allah. Kita harus memiliki kesan yang dalam bahwa kita beroleh selamat bukan semata-mata untuk beroleh selamat. Kita beroleh selamat adalah untuk menjadi bagian dari pembangunan Allah. Kita menginjil tidak seharusnya sekadar memberitakan penebusan dan karunia keselamatan, harus pula memberitakan pembangunan Allah. Kita harus mengabarkan kepada orang-orang, bila mereka tidak me-nerima Tuhan Yesus, mereka tidak mempunyai batu utama bangunan, yaitu tidak mempunyai bagian dalam pembangunan Allah. Sasaran karunia keselamatan Allah adalah tempat kediaman-Nya, Yerusalem Baru. Ketika mengabarkan Injil, kita harus seperti Petrus memberi tahu orang-orang bahwa penebusan Allah dalam Kristus membuat mereka menjadi bagian dari tempat kediaman Allah.
TUJUAN ALLAH YANG KEKAL
Dalam berita sebelum ini, kita telah nampak Allah menyuruh Yakub pergi ke Betel (Kej. 35:1). Akhirnya, Yerusalem Baru akan menjadi Betel yang kekal. Yakub tidak pernah membangun sesuatu, namun keturunannya mula-mula membangun kemah, kemudian membangun Bait Suci. Kitab Wahyu mengatakan bahwa Yerusalem Baru adalah kemah Allah. Allah sendiri dan Anak Domba itulah Bait Suci (Why. 21:22), inilah Betel. Tujuan Allah yang kekal ialah ingin memperoleh tempat kediaman ini. Hari ini Ia sedang bekerja untuk hal ini. Dalam seumur hidup Yakub, Allah menggarapkan hal ini atas dirinya, bagi tempat kediaman-Nya, bagi Betel.
Kita harus diterangi, dijenuhi sepenuhnya oleh konsepsi ini: nampak bahwa dalam alam semesta ini Allah hanya melakukan satu hal — membangun tempat kediaman-Nya yang kekal. Ia tidak tertarik pada hal lain apa pun. Penciptaan dan penebusan adalah untuk tujuan ini. Semua berkat yang Dia berikan kepada kita juga untuk tujuan ini. Namun kebanyakan orang Kristen telah menjadikan hal-hal yang lain, misalnya karunia keselamatan, kerohanian, kekudusan, kemenangan, dan lain-lain sebagai tujuan Allah. Tetapi itu semua tidak lain rumah-rumah perorangan, bukan bangunan Allah. Kerohanian itu adalah rumah perorangan. Jika Anda tidak memperhatikan tujuan Allah, bahkan keselamatan Anda pun dapat menjadi sebuah rumah perorangan. Jika kita jelas nampak tujuan Allah, niscaya kita akan merasa sedih terhadap situasi hari ini. Hampir setiap orang Kristen sedang membangun rumah kecil pribadi. Beberapa orang Kristen, bahasa lidahnya menjadi rumah kecil mereka, ada pula yang mengambil kekudusan menjadi rumah mereka, lebih-lebih ada orang yang kerohaniannya menjadi kemah kecil mereka. Hari ini, hampir-hampir tidak ada orang Kristen yang memperhatikan pembangunan Allah. Karena itu, kita dengan berani berkata bahwa dalam pemulihan Tuhan, kita inilah satu-satunya kelompok Kristen yang memperhatikan pembangunan Allah. Begitu kita semua memperhatikan pembangunan Allah, niscaya Allah akan melakukan perkara besar di tengah-tengah kita. Tetapi saya khawatir kalau ada orang setelah membaca berita ini, tetap berkata, “Aku tidak tertarik akan hal ini, aku ingin damai dan sukacita. Aku harap Saudara Lee lebih banyak membicarakan belas kasihan dan anugerah Tuhan, memberi tahu kami bagaimana Tuhan mengaruniai kami sukacita dan berkat-berkat-Nya.” Boleh jadi, sampai-sampai sukacita, damai, berkat, malah menjadi obat bius. Dalam gedung - gedung kebaktian hari Minggu, pengajaran - pengajaran yang diberitakan sepekan demi sepekan, sebagian besar merupakan obat bius. Asal Anda ada di sana, Anda akan terbius. Tidak akan terdengar sepatah kata yang jelas, yang menjernihkan pikiran kita. Saya harap melalui berita ini, pikiran kita bisa dijernihkan. Dengan berani kita mengumumkan, “Aku hanya memperhatikan pembangunan Allah, tidak memperhatikan karunia keselamatanku, sukacitaku, damaiku, kekudusanku, atau kerohanianku.” Asal Anda memperhatikan pembangunan Allah, setiap hal, termasuk karunia keselamatan, kekudusan, kemenangan, kerohanian, kedamaian, dan sukacita, semuanya menjadi milik Anda.
SEKILAS PANDANG
TENTANG PERJANJIAN LAMA
Terhadap pembangunan Allah yang dinyatakan dalam Alkitab, perlu ada tinjauan sekilas pandang. Alkitab meru-pakan sebuah kitab besar yang mencakup ribuan perkara. Jika kita tidak mempunyai tinjauan sekilas pandang, kita mudah sekali tersesat. Kita perlu melihat titik-titik yang penting dalam Alkitab. Setelah Allah bekerja pada ras Adam, kemudian Allah memiliki suatu permulaan yang baru de-ngan memanggil Abraham agar ia menjadi ras bangsa yang lain, menjadi bapa ras terpanggil. Sejak saat itu Allah tidak bekerja pada ras ciptaan, melainkan pada ras terpanggil. Sesudah Abraham, kemudian ada Ishak dan Yakub. Jika kita tidak mempunyai tinjauan sekilas pandang, kita tidak akan mengerti tujuan Allah memanggil Abraham, tidak mengerti juga tujuan-Nya pada Ishak dan Yakub, si perebut itu. Ketika Yakub melarikan diri dari Esau, kakaknya, di tengah perjalanan ia bermimpi (Kej. 28:10-22). Setelah terjaga, ia berkata-kata. Kata-kata itu merupakan nubuat yang ajaib. Yakub menyebut tempat itu Betel, serta batu yang dipakai sebagai alas kepalanya didirikan menjadi tiang (tugu). Sebab itu Betel bukan sekadar tempat, tetapi juga tiang yang telah dicurahi minyak. Inilah nubuat yang terbesar dalam Alkitab, karena hal inilah yang mengendalikan seluruh Alkitab. Setelah mengucapkan nubuat ini, Yakub lalu berjanji, “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu (tiang) ini akan menjadi rumah Allah” (Kej. 28:20-22). Allah itu setia dan benar-benar membawanya kembali dengan aman. Namun Yakub tidak menepati janjinya, sebaliknya ia malah bermukim dulu di Sukot, kemudian di Sikhem. Lalu terjadi peristiwa yang menyusahkan, sehingga Yakub kehilangan keamanan dan kedamaian. Saat itulah Allah datang berfirman kepada Yakub, “Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ” (Kej. 35:1). Dalam seumur hidup Yakub tidak ada Betel yang sejati, ia belum pernah melihat rumah Allah. Sampai waktu Musa memimpin bani Israel keluar dari Mesir serta mendirikan kemah, barulah Betel terwujud di antara bani Israel. Kemudian, Daud mempersiapkan Bait Suci yang dibangun oleh Salomo sebagai pengganti kemah, baru ketika itulah Betel didirikan di bumi.
Namun sebelum mendirikan kemah, sudah ada rumah Israel, yang hampir sama dengan rumah Allah, karena dalam nama “Israel” ini ternyata nama Allah. (Dua huruf terakhir nama “Israel”, “El” dalam bahasa Ibraninya berarti Allah). Israel berkembang menjadi rumah Israel, menyiratkan rumah ini adalah rumah Allah. Jadi, rumah Israel adalah rumah Allah. Satu-satunya perbedaannya ialah rumah Israel tidak berbentuk tetap seperti kemah atau Bait Suci. Namun asal rumah Yakub menjadi rumah Israel, dalam pan-dangan Allah itu sama dengan rumah Allah. Akhirnya, dalam rumah Israel terdapat kemah, kemudian Bait Suci, keduanya ini merupakan lambang bahwa rumah Israel adalah tempat kediaman Allah. Inilah sejarah Betel. Kemudian Bait Suci diruntuhkan oleh tentara Babilon, bani Israel tertawan selama 70 tahun; setelah itu muncul sebuah perintah untuk membangun kembali Bait Suci (Ezr. 1:1-3). Jadi, dari awal hingga akhir, dalam Perjanjian Lama hanya terdapat beberapa hal yang penting: Yakub, rumah-Nya, kemah, Bait Suci, serta pembangunan kembali Bait Suci. Inilah sekilas pandang tentang Perjanjian Lama.
SEKILAS PANDANG
TENTANG PERJANJIAN BARU
Semua butir penting dalam Perjanjian Lama di atas hanya merupakan lambang, maka perlu Tuhan Yesus menjadi realitasnya. Ketika Tuhan datang berinkarnasi, Ia mendirikan kemah bagi Allah, bahkan mendirikannya di antara kita (Yoh. 1:14 Tl.). Dalam Yohanes 2, Ia memberi wahyu kepada orang-orang Yahudi bahwa Ia tidak saja sebagai kemah, tetapi juga bait Allah (Yoh. 2:18-21). Jadi, ketika di bumi, Ia itu kemah juga bait. Ketika Petrus, rasul-Nya yang terkemuka, dibawa ke hadapan Tuhan untuk kali pertama, Tuhan mengganti namanya dari Simon menjadi Kefas; kefas berarti batu (Yoh. 1:42). Dalam Yohanes 1:51 Tuhan Yesus berkata kepada Natanael, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” Perkataan ini menunjukkan bahwa perwujudan mimpi Yakub tergantung pada pembangunan rumah Allah.
Setelah Tuhan hidup bersama murid-murid-Nya sekitar tiga tahun lamanya, suatu hari Tuhan membawa mereka keluar dari ruang lingkup dan suasana agama, tiba di pinggiran tanah suci, di sana bertanya kepada mereka, “Siapakah Aku ini?” (Mat. 16:15). Jawab Petrus, “Engkaulah Mesias (Kristus), Anak Allah yang hidup.” Lalu Tuhan berkata, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya” (Mat. 16:16, 18). Tuhan mewahyukan bahwa diri-Nya adalah batu karang, Petrus adalah batu. Perkataan ini tentu sangat berkesan dalam diri Petrus, karena tidak lama kemudian ketika ia mencela tukang-tukang bangunan Yahudi, ia seolah berkata, “Kalian tukang-tukang bangunan Yahudi memaku Dia di kayu salib, sama sekali membuang batu bangunan itu. Namun Allah telah menyuruh-Nya bangkit kembali, dan menjadikan Dia batu penjuru.” Dalam 1 Korintus 3:11 Paulus mengatakan bahwa gereja dibangun di atas dasar Kristus ini. Dalam 1 Petrus, Petrus berkata bahwa kita datang kepada Tuhan sebagai batu yang hidup, untuk pembangunan rumah rohani (1 Ptr. 2:4-5). Inilah Betel, rumah Allah. Akhirnya, Betel ini akan berkembang menjadi Yerusalem Baru. Di satu pihak, Yerusalem Baru adalah kemah Allah di antara manusia, di pihak lain, Allah sendiri dan Anak Domba sebagai bait di sana. Inilah sekilas pandang tentang pembangunan Allah.
JALAN YANG UTAMA
Dalam mempelajari peta apa pun, pertama kita harus mencari dulu jalan-jalan yang utama. Masalah pembangunan ini merupakan jalan yang utama dalam Alkitab. Berabad-abad terdapat ribuan macam buku Kristen, namun kebanyakan telah melalaikan jalan yang utama ini, hanya memperhatikan jalan-jalan yang kecil. Kekudusan, kesempurnaan tanpa dosa, kerohanian, bahasa lidah, kesembuhan ilahi, dan lain-lain, semua itu adalah lorong-lorong kecil. Semua orang yang memperhatikan lorong - lorong kecil ini pasti akan kehilangan sasaran, yaitu Betel, rumah Allah. Dalam Ulangan 12:5-6 Allah seakan-akan berkata, “Kalian tidak boleh mempersembahkan kurban bakaran dan persem-bahan persepuluhan di tempat yang kalian pilih. Kalian harus pergi ke tempat yang Kupilih bagi nama-Ku dan tempat kediaman-Ku.” Hari ini, tempat ini adalah gereja. Dalam Perjanjian Baru kita nampak bahwa gereja itulah tempat pilihan Allah bagi nama-Nya dan tempat kediaman-Nya. Banyak pengajar Kristen yang ternama mengatakan, asalkan ada dua atau tiga orang berhimpun di bawah nama Tuhan, itulah gereja. Mereka mengatakan demikian karena mereka buta, tidak nampak visi jalan-jalan raya yang utama.
PEMBERSIHAN YANG TUNTAS
BAGI PEMBANGUNAN ALLAH
Perkara pembangunan Allah ini mempunyai makna yang sangat besar. Siang malam saya terus berbeban terhadap pembangunan rumah Allah. Saya percaya bahwa beberapa tahun yang akan datang, beban ini akan makin bertambah kuat. Berita-berita tentang pembangunan Allah ini akan diberitakan terus-menerus. Hari ini, Roh Kudus sedang menggali semua emas dari tambang firman Allah untuk membangun rumah-Nya.
Dalam berita berikutnya kita akan melihat apa yang dilakukan Yakub setelah mendengar Allah menyuruhnya ke Betel. Ia melakukan suatu pembersihan total, bukan hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi juga terhadap seluruh keluarganya. Hari ini sangat sedikit orang Kristen yang melakukan pembersihan semacam ini. Sewaktu Yakub dan keluarganya lari dari Laban, Rahel, istri yang paling disayangi itu, mencuri terafim dari rumah ayahnya (Kej. 31:34). Sebelum pasal 35, tidak terlihat Yakub berbuat sesuatu terhadap terafim itu, ia memperbolehkan istrinya membawa semua terafim yang membencikan itu. Namun setelah Allah memberi tahu dia untuk pergi ke Betel, “Lalu berkatalah Yakub kepada seisi rumahnya dan kepada semua orang yang bersama-sama dengan dia: ‘Jauhkanlah dewa-dewa asing yang ada di tengah-tengah kamu, tahirkanlah dirimu dan tukarlah pakaianmu’” (Kej. 35:2). Selain menjauhkan dewa-dewa asing, harus pula menukar pakaian, yaitu menanggalkan manusia lama, mengenakan manusia baru (Ef. 4:22-24). Kejadian 35:4 mengatakan, “Mereka menyerahkan kepada Yakub segala dewa asing yang dipunyai mereka dan anting-anting yang ada pada telinga mereka, lalu Yakub menanamnya di bawah pohon besar yang dekat Sikhem.” Di sini kita nampak, anting-anting sama dengan berhala, Yakub menanam semua itu. Yakub melakukan suatu pembersihan total, memberi tahu keluarganya bahwa mereka harus pergi ke Betel, untuk mendirikan mezbah bagi Allah (Kej. 35:3).
GEREJA ADALAH KEMAH
Sejangka waktu kemudian, kemah didirikan, terdapat banyak hal yang berhubungan dengan kemah. Di pelataran luar ada mezbah kurban bakaran dan bejana pembasuhan; di tempat kudus ada meja roti sajian, kaki pelita emas, dan mezbah pembakaran ukupan; di tempat maha kudus ada tabut hukum (kesaksian), meliputi buli-buli emas, tongkat yang bertunas, serta loh hukum. Semuanya ini untuk Betel. Setiap langkah dalam seumur hidup Yakub berhubungan dengan Betel. Ini adalah lambang. Hari ini di dalam gereja kita memiliki Betel, karena gereja adalah kemah yang penuh berisi. Di dalam gereja ada mezbah, bejana pembasuhan, meja roti sajian, dan tabut hukum. Setiap benda dalam kemah adalah untuk pembangunan gereja.
KITA PERLU NAMPAK SATU VISI
YANG MENGENDALI
Kita perlu berdoa, “Ya, Tuhan, perlihatkan kiranya ke-padaku visi yang mengendali ini. Aku sungguh memerlukan tinjauan sekilas pandang ini.” Dalam visi ini kita memiliki segalanya — kekudusan, kerohanian, karunia, kesembuhan ilahi. Kini kita bisa nampak mengapa setelah menunggu 19 abad ini Tuhan masih belum juga datang. Dia belum da-tang kembali karena Betel belum dibangun dengan mantap. Tuhan telah lama menunggu, kini tetap menunggu penggenapan pembangunan-Nya. Dalam Matius 16:18 Ia berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Perkataan ini tidak akan sia-sia; pasti terlaksana. Inilah beban kita hari ini. Ketika saya kembali ke dalam roh, beban ini siang malam beriringan datang. Beban ini bukan semacam teori, melainkan pembangunan Tuhan terhadap gereja. Kita harus berkata, “Tuhan, bantulah kami agar menyingkirkan segala sesuatu yang lain; ya Tuhan, kami hanya memperhatikan pembangunan gereja-Mu.” Inilah pemulihan Tuhan hari ini. Inilah pembangunan Betel, perwujudan mimpi Yakub. Beban kita hanya untuk ini.
Sejak tahun 1932 saya sudah mengikuti pemecahan roti, tetapi saya dapat bersaksi, tidak pernah senikmat malam ini. Ini menunjukkan bahwa Tuhan ingin memalingkan ki-ta dari segala perkara kecil kepada tujuan-Nya yang utama, yaitu Betel. Sebelum Anda masuk ke dalam hidup gereja, Anda menghadiri apa yang disebut perjamuan suci dalam denominasi, pernahkah Anda mendengar perihal keesaan, Tubuh, dan Betel? Namun malam ini dalam sidang perja-muan malam Tuhan, kita mengumumkan kepada alam semesta, bahwa kita adalah esa, kita adalah Betel, adalah rumah Allah. Siapakah yang dapat menyangkal hal ini? Ketika kita demikian mengumumkan, kita sungguh puas marem. Ini merupakan suatu bukti bahwa Tuhan puas akan Betel-Nya, puas akan pembangunan rumah-Nya. Saudara saudari, seharusnya kita semua menyiapkan diri untuk beban ini. Mulai hari ini, kita akan nampak Tuhan menjelajahi seluruh bumi, membangun gereja-Nya. Ia akan benar-benar membuktikan nubuat-Nya — “Aku akan mendirikan jemaat-Ku.”