← Daftar isi Kejadian (6) · bab 2/16

SETELAH REMUK

2 Timotius 3:16 mengatakan bahwa segala tulisan dalam Alkitab diilhamkan (dihembuskan) Allah. Percayakah Anda bahwa Kejadian 34 yang akan dibicarakan dalam berita ini adalah yang dihembuskan Allah? Kita perlu menengadah kepada Tuhan, mohon Dia menunjukkan kepada kita, betapa semua firman ini adalah yang dihembuskan Allah. Semasih muda, setelah membaca sekali, dua kali, ayat-ayat segolongan Kejadian 34 ini, dan setelah hafal akan ceritanya, ketika membaca lagi, saya melewatinya begitu saja. Maka, setiap kali membaca Alkitab Perjanjian Lama sampai pasal ini, saya teringat bahwa di sini tercantum putri Yakub ternoda, putra-putranya dengan kejam membunuh penduduk di kota itu, merampas harta benda mereka, dan sebagainya. Lalu dengan ingatan begitu saya anggap sudah membacanya. Namun kemudian Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa pasal ini pun merupakan hembusan hayat. Firman dalam bagian ini mengandung hayat, namun kita perlu mengenalnya demi pengalaman.

d. Setelah Remuk

Untuk memahami hayat dalam pasal 34, kita perlu membaca catatan sebelum dan sesudah pasal ini. Sebelum pasal ini, Yakub telah dilepaskan dari berbagai macam kesulitan. Selama dua puluh tahun di bawah pemerasan Laban, Yakub sangat menderita. Akhirnya ia tidak tahan tinggal bersama Laban, maka ia meninggalkan rumah pamannya. Allah menyuruh dia kembali ke tempat orang tuanya. Yakub tidak dapat melupakan perkara yang pernah dilakukannya di tempat itu. Ia menipu Ishak, ayahnya, merebut Esau, kakaknya. Meskipun ia mau pulang ke rumah orang tuanya, tetapi ia harus menghadapi satu masalah yang besar, yakni bagaimana menghadapi Esau? Walaupun demikian, ia menerima firman Allah. Ia menggunakan taktik dan kecerdikannya, secara diam-diam melarikan diri dari rumah pamannya, tanpa pamit. Demikianlah ia mengatasi kesulitan yang pertama, yaitu tangan pemerasan Laban. Namun setelah itu ada kesulitan yang kedua: Laban mengejar Yakub, dan akhirnya Yakub terkejar. Akan tetapi Allah datang, melarang Laban untuk mengata - ngatai Yakub. Dengan demikian, Yakub sepenuhnya terselamatkan dari tangan Laban. Tetapi kesulitan terbesar masih menghadang di depan Yakub, yaitu bagaimana berhadapan dengan Esau. Karena hal ini ia ber-gulat semalaman dengan seorang lawan yang tidak dikenal; lawan ini sesungguhnya adalah Allah sendiri. Namun akhirnya Yakub melewati kesukaran ini, dan Tuhan melepas-kannya dari permasalahannya dengan Esau. Setelah peristiwa ini, untuk sementara boleh dikata Yakub tidak lagi menghadapi persoalan.

(1) Hanya Kembali ke Sikhem

Sesudah Yakub terselamatkan dari berbagai macam kesulitan, ia “berangkat ke Sukot, lalu mendirikan rumah, dan untuk ternaknya dibuatnya gubuk-gubuk” (33:17). Sukot terletak di sebelah timur Sungai Yordan. Ini menunjukkan bahwa Yakub belum menyeberang Sungai Yordan, belum masuk ke daerah inti Tanah Kanaan. Kejadian 33:17 tidak menyebutkan bahwa Yakub tiba di Kanaan. Sampai ayat berikutnya barulah menyinggung Kanaan, yakni sampailah Yakub dengan selamat “ke Sikhem, di tanah Kanaan” (ayat 18). Dalam pandangan Allah, tibanya Yakub di Sukot, mendirikan rumah bagi dirinya sendiri, itu berarti Yakub belum kembali ke inti tanah permai. Yakub mendirikan rumah bagi dirinya sendiri dan membuat gubuk-gubuk untuk ternaknya. Hal ini menampakkan bahwa Yakub masih sangat alamiah, masih mementingkan diri sendiri. Ia pasti telah melupakan mimpinya di Betel. Setelah Yakub melarikan diri dari Esau, di tengah perjalanan ia bermimpi; dalam mimpinya itu ia nampak sebuah tangga dari bumi menjulang ke langit. Setelah bangun, ia menamai tempat itu Betel dan kemudian menuang minyak ke atas batu yang ia pakai sebagai alas kepala, sambil berkata, “Dan batu yang kudirikan sebagai tugu (tiang) ini akan menjadi rumah Allah” (28:22). Di Betel, Yakub berjanji kepada Allah bahwa batu itu akan dijadikan rumah Allah. Dengan kata lain, ia berjanji kepada Allah untuk membangun rumah Allah. Hal ini tentu telah dilupakan oleh Yakub. Seandainya saya di samping Yakub, saya akan berkata, “Yakub, mengapa engkau kembali? Apakah Allah ingin engkau mendirikan rumah bagi dirimu sendiri, membuat gubuk-gubuk bagi ternakmu? Bagaimana dengan rumah Allah?” Sewaktu Yakub mengembara di negeri asing, kita bisa menaruh simpati, karena setiap orang yang menumpang di kampung halaman orang lain pasti merasa menderita. Namun kini ia telah kembali ke lingkungan yang dijanjikan Allah.

Jika Anda membaca Perjanjian Lama dengan saksama, Anda akan nampak bahwa Allah tidak pernah memandang tanah di sebelah timur Sungai Yordan sebagai bagian yang terbaik dari tanah permai. Namun dua setengah suku Israel terpikat setelah tiba di tempat ini, hal itu membuat Musa sangat tidak senang terhadap mereka. Kemudian dua setengah suku Israel itu benar-benar menerima tempat ini, namun mereka kehilangan sebagian berkat Allah. Ketika orang Asyur menyerang bani Israel, mereka terlebih dahulu datang ke timur Sungai Yordan dan menawan dua setengah suku ini (1 Taw. 5:26). Kota-kota yang strategis, seperti: Yerusalem dan Betlehem, semuanya terletak di daerah pusat sebelah barat Sungai Yordan. Jadi, Sukot yang terletak di timur Sungai Yordan jelas bukan pusat tempat yang dijanjikan Allah.

Alkitab dengan ringkas menceritakan Yakub di Sukot. Kemudian, Yakub menemukan bahwa Sukot bukan tempat yang tepat baginya untuk tinggal bersama Allah, maka ia menyeberangi sungai dan menuju ke Sikhem. Dalam perjalanan kembali ke tanah permai, Yakub telah menyeberangi tiga sungai: Sungai Efrat, Sungai Yabok, dan Sungai Yordan. Yakub tiba di Sikhem, adalah menelusuri jejak-jejak Abraham nenek moyangnya (lihat Kej. 12:5-6). Ini menunjukkan bahwa Yakub telah terbawa ke atas jalan yang tepat. Di Sikhem, Yakub membangun kemah dan mendirikan mezbah (Kej. 33:18-20). Ini mewahyukan bahwa ia mulai menempuh hidup berkemah dan mempunyai kesaksian mezbah. Ini jauh lebih baik daripada membangun rumah untuk dirinya sendiri dan membuat gubuk-gubuk bagi ternaknya. Di Sukot ia tidak melakukan apa-apa bagi Allah. Sebaliknya, di Sikhem ia tidak berbuat apa-apa bagi dirinya sendiri atau bagi ternaknya, malahan membangun mezbah untuk Allah, sedang ia sendiri menempuh hidup berkemah. Ia bukan hanya mengikuti jejak moyangnya, tetapi juga hidup berkemah, mempunyai kesaksian mezbah. Alangkah baiknya ini!

Ini memang baik, namun ini bukan Betel. Jika Anda membaca Kejadian 12 Anda akan nampak bahwa setelah Abraham tiba di Sikhem, ia masih terus maju ke Betel (12:6-8). Yakub pernah bermimpi di Betel (28:10-22). Ketika Allah menyuruh dia kembali ke tempat moyangnya, berarti Allah menyuruh dia kembali ke Betel untuk membayar janji serta membangun rumah Allah. Saya tidak tahu apakah Yakub itu lupa akan mimpinya atau tidak mau membayar harga. Mula-mula ia pergi ke Sukot, kemudian ke Sikhem. Di Sikhem ia mulai menempuh hidup kaum yang terpanggil. Sebelum ini, ia belum pernah menempuh hidup sebagai orang yang terpanggil. Dengan perkataan orang Kristen hari ini, Yakub belum menempuh kehidupan orang Kristen. Dulu ia terus-menerus merebut. Sejak dilahirkan ia sudah menempuh hidup sedemikian. Ia merebut orang lain, memegang tumit orang lain. Tetapi ketika Esau datang menyambutnya, Yakub telah diremukkan. Meskipun Esau menyambutnya dengan hati yang tulus dan baik, namun Yakub yang telah diremukkan itu masih saja merebut. Perebutannya berlangsung terus sampai detik terakhir ia tiba di Sikhem, barulah ia mulai hidup berkemah dan mempunyai kesaksian mezbah.

Meskipun di Sikhem Yakub memiliki kemah dan mezbah, namun belum mencapai standar Allah. Yakub memiliki kemah, tetapi Allah belum mempunyai rumah. Ia sudah membangun mezbah bagi Allah, namun Allah belum mempunyai rumah. Menurut Perjanjian Lama, membangun mezbah selalu membimbing kita sampai kepada pembangunan bait. Dalam pembangunan kembali Bait Suci, yang pertama dipulihkan adalah mezbah (Ezr. 3:1-3). Di depan kemah dan Bait Suci selalu ada mezbah. Pengalaman kita juga demikian. Pertama-tama mempersembahkan diri dengan mutlak, membangun mezbah; kemudian kita maju terus mencapai pembangunan gereja — rumah Allah.

(2) Masih Perlu Penanggulangan dalam Situasi

Meskipun di Sikhem Yakub sudah cukup baik, namun ia masih perlu penanggulangan dalam situasi (34:1-31), karena ia belum kembali ke Betel. Di Sikhem, Yakub sudah cukup girang dan puas. Sikhem berarti “bahu”, melambang-kan tenaga. Abraham beroleh tenaga setelah tiba ke Sikhem, demikian juga tentunya pengalaman Yakub. Di sana Yakub bahkan membeli sebidang tanah, mendirikan kemah di atasnya (33:19). Di sana ia betul-betul beroleh tenaga dan hidup sebagai orang yang terpanggil. Tetapi ia belum mencapai sasaran Allah. Pada suatu hari, tiba-tiba terjadi suatu peristiwa, Dina, satu-satunya putrinya, dinodai (34:1-2). Saat itu, Yakub memiliki sebelas anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Seandainya ia mempunyai sebelas orang anak perempuan dan seorang anak laki-laki, keadaannya pasti berlainan. Karena satu di antara sebelas anak perempuan yang ternoda akan jauh lebih ringan daripada anak perempuan yang tunggal dinodai orang. Ternodanya putri tunggal Yakub merupakan satu perkara yang sangat serius.

Peristiwa yang luar biasa ini pasti di bawah kedaulatan Allah. Dina pergi mengunjungi perempuan-perempuan di negeri itu (34:1). Andaikata Dina tidak pergi, ia tidak akan ternoda. Karena pergi mengunjungi perempuan-perempuan di negeri itu, ia terbentur kesulitan. Terjadilah malapetaka ini. Apakah Anda mengira ini terjadi secara kebetulan? Yakub dan keluarganya mungkin mengira demikian, tetapi dalam pandangan Allah, bukanlah demikian. Peristiwa ini terjadi di bawah tangan kedaulatan-Nya. Ini bukan berarti Allah menghendaki anak perempuan Yakub dinodai, tetapi peristiwa yang malang ini terjadi di bawah tangan kedaulatan Allah, agar Yakub yang dipilih-Nya itu dapat disempurnakan.

Hari ini pun sama prinsipnya. Terhadap Yakub, Allah mempunyai satu tujuan, demikian juga terhadap setiap orang yang dipilih, Allah mempunyai tujuan-Nya. Tujuan Allah pada Yakub bukanlah menghendaki Yakub mengikuti jejak moyangnya, mendirikan kemah, membangun mezbah, dikuatkan, dan menetap. Semuanya ini bukanlah tujuan Allah. Pendek kata, tujuan Allah ingin memperoleh sebuah rumah di bumi, membangun Betel di bumi. Sikhem sangat baik terhadap Yakub, namun tidak dapat memuaskan hati Allah. Maka ketika Yakub menetap, puas, dan girang, terjadilah peristiwa yang malang ini.

Andaikata Yakub mempunyai sebelas anak perempuan dan satu anak laki-laki, tentunya satu anak laki-laki tersebut tidak berdaya bertindak apa-apa dalam menghadapi hal ini, dan mustahil menimbulkan kesukaran. Tetapi ketika seorang anak perempuan ternoda, maka kesebelas anak laki-laki bangkit (34:7-31), mereka tidak membiarkan hal ini. Akhirnya, kedua anak Yakub, Simeon dan Lewi, membunuh setiap laki-laki dan merampas segala yang ada di negeri itu. Bayangkan keadaan Yakub. Ia adalah orang yang dipilih dan dipanggil Allah; ia adalah kesaksian Allah di bumi. Ia mengikuti jejak kaum terpanggil, hidup berkemah, men-dirikan mezbah dan menyembah Allah; ia adalah satu-satunya kesaksian Allah di bumi pada waktu itu. Namun peristiwa apa yang terjadi! Putri tunggalnya dinodai. Mengapa hal ini bisa terjadi pada orang yang baru mulai menempuh hidup terpanggil, berkemah, dan mendirikan mezbah? Andai-kata saya adalah Yakub, mungkin saya akan ragu-ragu sambil bertanya, “Perkara apa ini? Aku lebih mencintai Tuhan daripada sebelumnya. Aku baru mulai menempuh hidup normal. Baru mengikuti jejak Abraham, sudah menjumpai kasus ini. Mengapa?”

Anak-anak Yakub mengatur pembalasan, meniru kelicikan ayah mereka. Mereka pura-pura menerima permintaan Sikhem dan Hemor, dan sengaja mengabulkan mereka memperistri Dina, asalkan setiap laki-laki mereka disunat (34:13-17). Hemor dan Sikhem girang karenanya, sehingga segera menerima usul ini (34:18-19). Pada hari yang ketiga, ketika semua laki-laki yang disunat itu menderita kesakitan, kedua kakak Dina, Simeon dan Lewi, “masing-masing mengambil pedangnya, menyerang kota itu dengan tidak takut-takut serta membunuh setiap laki-laki. Juga Hemor dan Sikhem, anaknya, dibunuh mereka dengan mata pedang, dan mereka mengambil Dina dari rumah Sikhem, lalu pergi” (34:25-26). Setelah itu, mereka menjarah kota itu, membawa kawanan kambing, domba, lembu, keledai, kekayaan, anak-anak dan perempuan. Bahkan seluruh yang ada di rumah-rumah pun dijarah (34:27-29). Dalam Kejadian 49:5-7 Yakub menyinggung peristiwa pembunuhan ini.

Dalam Keluaran 32, tangan pembunuhan Lewi menjadi penyebab berkat. Bani Israel menyembah patung lembu emas. Musa berkata, “‘Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!’ Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi” (Kel. 32:26). Kemudian Musa berkata, “‘Baiklah kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian ke mari melalui perkemahan itu dari pintu gerbang ke pintu gerbang, dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya dan temannya dan tetangganya.’ Bani Lewi melakukan seperti yang dikatakan Musa” (Kel. 32:27-28). Pada Kejadian 34, Lewi dan Simeon membunuh semua laki-laki di negeri Hemor, kemudian di kaki Gunung Sinai, suku Lewi membunuh orang-orang yang menyembah patung lembu emas. Tidak hanya demikian, dalam Bilangan 25:7-8, seorang keturunan Lewi membunuh orang yang berzina. Karena tindakan dalam Keluaran 32, maka orang Lewi menjadi imam Allah.

Lihatlah keadaan Yakub dalam pasal ini: anak perempuannya ternoda, anak-anak laki-lakinya menyiasati orang-orang, membunuh mereka, menjarah negeri mereka. Apakah ini keluarga orang yang terpanggil? Satu-satunya keluarga kesaksian Allah di bumi? Mengapa perkara-perkara ini menimpa Yakub? Dina, sebelas anak laki-laki, dan semua orang yang terbunuh dijadikan korban untuk menyempurnakan seseorang — Yakub. Boleh jadi Anda kurang percaya bahwa demi Anda seorang, Allah bisa saja mengorbankan banyak orang. Akan tetapi mengorbankan banyak orang untuk menyempurnakan seseorang adalah perkara yang besar. Orang yang terdapat dalam Kejadian 34 ini adalah satu-satunya orang yang atas dirinya, demi dia, dan melalui dia, kehendak kekal Allah akan tercapai. Dina, sebelas anak laki-laki, dan semua orang Sikhem, bisa saja terhindar dari malapetaka ini, namun jika satu-satunya Yakub ini dirusak, bagaimanakah dengan kehendak Allah nanti? Sering kali, untuk menyempurnakan Anda, Allah bisa mengorbankan orang lain. Saya sendiri pernah melihat dan mengalami hal ini. Jika Anda memiliki pandangan, Anda akan nampak bahwa pada hari ini pun Allah masih mengorbankan banyak orang, agar Anda disempurnakan. Sikhem, Hemor, dan orang-orang senegerinya, bahkan Dina serta kesebelas anak laki-laki Yakub, semuanya menjadi korban karena Yakub. Setiap perkara yang termuat dalam pasal ini seluruhnya untuk menyempurnakan Yakub.

Dalam Kejadian 34:30 Yakub berkata kepada Simeon dan Lewi, “Kamu telah mencelakakan aku dengan membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini, kepada orang Kanaan dan orang Feris, padahal kita ini hanya sedikit jumlahnya; apabila mereka bersekutu melawan kita, tentulah mereka akan memukul kita kalah, dan kita akan dipunahkan, aku beserta seisi rumahku.” Yakub seolah berkata, “Kalian mencelakakan aku, membusukkan namaku kepada penduduk negeri ini. Kini aku tidak memiliki kedamaian dan keamanan. Jika mereka menyerang kita, kita semua akan terbunuh.” Dengan aman dan damai Yakub telah tiba di Sikhem, namun kini keamanan dan kedamaiannya telah hilang, mungkin ia tidak lagi dapat tidur nyaman. Anak perempuannya telah ternoda, sekarang karena kesulitan yang ditimbulkan oleh putra-putranya, ia tidak dapat lagi tinggal di Sikhem.

Dalam Kejadian 35:1 dikatakan, “(Dan) Allah berfirman kepada Yakub, ‘Bersiaplah, pergilah ke Betel, tinggallah di situ, dan buatlah di situ mezbah bagi Allah, yang telah menampakkan diri kepadamu, ketika engkau lari dari Esau, kakakmu.’” Menurut bahasa aslinya, ada kata “dan” pada permulaan ayat ini, menunjukkan bahwa firman Allah yang dikatakan kepada Yakub ini adalah lanjutan dari perkara yang terdapat dalam pasal sebelumnya. Setelah Yakub mengalami peristiwa dalam pasal sebelumnya, kini ia dapat menerima apa pun firman Allah yang disampaikan kepadanya. Jika lebih dini beberapa hari Allah mengucapkan perkataan yang sama, mungkin Yakub akan merespon, “Dapatkah Allah berfirman demikian? Tentulah ini khayalanku. Aku telah mengikuti jejak moyangku, hidup berkemah, mendirikan mezbah menyembah Allah, mengapa harus meninggalkan tempat ini? Tidak diragukan, Allah sejak dini telah ingin berkata demikian kepada Yakub. Bagi Yakub, di Sikhem segalanya sudah baik, namun semuanya itu tidak bisa memuaskan keinginan Allah. Sebelum terjadi kesulitan dalam pasal 34, Allah tidak berdaya berkata demikian kepada Yakub; kalaupun Allah berkata demikian, Yakub tidak akan mau mendengar. Namun kini, anak perempuannya telah ternoda, anak-anak laki-lakinya menimbulkan “celaka” yang begitu hebat, Yakub kehilangan kedamaian dan keamanan. Ketika ia sedang mempertimbangkan harus bagaimana, Allah datang berfirman kepadanya, menyuruhnya pergi ke Betel. Setelah terjadi peristiwa ini, barulah Yakub dapat menerima firman Allah yang menyuruhnya pergi ke Betel. Kita sering tidak dapat menerima firman Allah tanpa adanya kesulitan. Allah tidak pernah begitu “bodoh” mengucapkan kata-kata kepada kita dengan sia-sia. Sering kali Ia harus menunggu kita setelah menjumpai masalah, baru mau berkata kepada kita.

Allah menyuruh Yakub pergi ke Betel. Menurut geografisnya, Betel terletak di sebelah selatan Sikhem. Ke Betel berarti ke selatan; mengapa Allah tidak mengatakan “turun ke Betel”? Berdasarkan konsepsi alamiah kita, kita tidak bisa memahami hal ini. Allah seolah berkata kepada Yakub, “Yakub, engkau masih berada di tempat yang rendah, kare-na engkau belum mencapai taraf keinginan hati-Ku. Engkau harus bangun dan pergi ke Betel.” Perkataan Allah kepada Yakub penuh makna, juga sangat khidmat. Dia menyuruh Yakub ke Betel, tinggal di sana, mendirikan mezbah bagi Allah, yaitu bagi Allah yang telah menampakkan diri kepadanya, ketika ia melarikan diri dari Esau, kakaknya. Perkataan ini pendek, tetapi sangat dalam maknanya. Dengan kata lain, Allah seakan-akan berfirman, “Yakub, apakah engkau lupa akan janjimu? Setidaknya engkau telah lupa memenuhinya. Setelah mimpimu di Betel, engkau pernah berjanji untuk mendirikan rumah bagi-Ku. Bagaimana sekarang? Aku menyuruhmu kembali, menolongmu keluar dari tangan Laban, menyelamatkanmu dari kesulitan Esau, dan membawamu kembali dengan aman ke tempat moyangmu. Aku melakukan semuanya ini bukan supaya engkau menetap di sini, ini bukan tujuan-Ku. Tujuan-Ku ialah engkau bangun dan menuju tempat di mana engkau bermimpi, berjanji membangun rumah bagi-Ku. Janganlah menetap di Sikhem, ini bukan tempat kediamanmu, melainkan hanya satu tempat yang menuju Betel. Sekarang pergilah ke Betel, tinggallah di sana, serta dirikanlah mezbah bagi Allah yang telah menampakkan diri-Nya kepadamu.”

Janganlah menganggap ini sekadar cerita tentang Yakub. Anda harus memandangnya sebagai biografi Anda. Saya dapat bersaksi bahwa saya pernah seperti Yakub, yaitu lupa akan janji dan konsikrasi (persembahan) saya. Saya yakin bahwa kita semua pernah mempersembahkan diri kepada Tuhan, lebih-lebih ketika mengalami pencobaan atau kesukaran. Kita berjanji, “Ya, Tuhan, jika Engkau membawaku keluar dengan selamat dari kesulitan ini, maka aku akan mempersembahkan diriku kepada-Mu. Menjadikan Engkau sebagai Allahku, dan di sini membangun rumah bagi-Mu.” Secara prinsip, kita semua pernah berjanji seperti ini. Te-tapi apakah Anda melaksanakan janji Anda? Mungkin tidak ada seorang pun di antara kita yang melaksanakannya. Demikianlah kita tahu bahwa kita semua adalah Yakub. Sejarahnya itu justru otobiografi kita. Mempersembahkan kepada Allah, berjanji kepada Allah itu suatu perkara; namun melaksanakan janji dan mewujudkan persembahan kita, boleh jadi perlu mengorbankan satu anak perempuan, sebelas anak laki-laki, satu Sikhem, satu Hemor, serta banyak orang, perkara, dan benda-benda lain.

Kehidupan orang Kristen sering merupakan kehidupan di bawah badai topan. Sewaktu baru mendengarkan Injil, kita mengira setelah menjadi orang Kristen, kehidupan kita akan nyaman tanpa badai topan. Boleh jadi kita mengira bahwa kapal kehidupan kita akan dalam Kristus berlayar penuh aman sentosa, teduh laju sepanjang jalan. Namun dalam kehidupan saya sebagai orang Kristen selama lebih dari lima puluh tahun ini, saya mengalami badai demi badai. Akhirnya saya paham bahwa kehidupan orang Kristen penuh dengan badai. Apa tujuan badai ini? Lima puluh tahun yang lampau saya tidak mengerti, kini saya jelas seluruhnya — sesungguhnya bukan masalah damai atau badai, melainkan masalah kita diubah untuk bangunan Allah, agar tujuan Allah tercapai. Adanya badai dalam kehidupan Anda dikarenakan Anda keras kepala, Anda sangat mirip Yakub. Anda membutuhkan badai sebanyak itu karena Anda belum terubah sebagai Israel. Mungkin Anda berkata kepada diri sendiri, “Aku di Sikhem, segalanya aman. Biarlah kita maju dengan aman sentosa.” Aman sentosa ini mungkin berlanjut sesaat, namun badai mendadak timbul, Dina Anda ternoda, semuanya jungkir balik. Inilah kehidupan kita. Jangan menyalahkan Tuhan, kita sendiri yang membuat-Nya susah bekerja pada diri kita. Walaupun kita tidak pernah berdoa, “Tuhan, berilah aku badai,” namun beraneka ragam badai justru menimpa diri kita. Akan tetapi tidak satu pun dari badai itu yang dapat membunuh kita. Setelah melalui beraneka ragam badai itu, kita tetap hidup. Tuhan sungguh-sungguh telah mengorbankan banyak orang demi kita. Saudara saudari yang terkasih, kalian kebanyakan masih muda, kini kalian sudah di atas kapal ini, menyesal dan ingin keluar sudah terlambat. Kalian memerlukan semua badai ini.

Peristiwa dalam Kejadian 34 memberi Yakub kesan yang sangat dalam. Pada usianya yang sudah lanjut, ketika memberkati kedua belas anaknya, ia masih tidak melupakan perbuatan Simeon dan Lewi. Dalam Kejadian 49:5-6 Yakub mengucapkan, “Simeon dan Lewi bersaudara; senjata mereka ialah alat kekerasan. Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permufakatan mereka, janganlah kiranya rohku bersatu dengan perkumpulan mereka, sebab dalam kemarahannya mereka telah membunuh orang dan dalam keangkaraannya mereka telah memotong urat keting lembu.” Menurut ucapan Yakub, Simeon dan Lewi tidak hanya membunuh orang, bahkan memotong urat keting lembu, yaitu memotong urat keting lembu sehingga lembu dibuatnya cacat. Yakub tidak pernah dapat melupakan hal ini, karena hal ini merupakan kesulitan terbesar yang menimpa dirinya, yang melampaui sengketa antara dirinya dengan Esau. Hal ini membuatnya sangat gentar, khawatir kalau-kalau orang-orang di negeri itu akan datang menyerang dan membunuh seisi rumahnya. Sampai-sampai pada waktu Yakub memberkati anak-anaknya, ia masih tidak dapat mempercayai mereka. Ia berkata, “Janganlah kiranya jiwaku turut dalam permufakatan mereka,” artinya, menjauhi mereka. Kesulitan yang ditimbulkan oleh Simeon dan Lewi ini telah menjamah lubuk batinnya. Setelah peristiwa tersebut, Yakub dengan spontan menuruti firman Allah untuk berangkat ke Betel. Sejak saat itu, Yakub mulai diubah. Sebelum ini, dia belum berubah.

Yakub meninggalkan Padan-Aram, dikejar Laban, Allah menolong dia dari tangan Laban. Kesukarannya dengan Esau juga dibawa lewat oleh Allah. Kemudian ia tiba di Sukot, di sana mendirikan rumah bagi dirinya sendiri, membuat gubuk-gubuk untuk ternaknya. Saya yakin bahwa di Sukot Yakub tidak merasa damai, karena itu ia maju terus ke Sikhem, mengikuti jejak moyangnya, mulai memiliki kehidupan berkemah yang tepat, memiliki kesaksian mezbah, menempuh hidup sebagai orang terpanggil. Namun kehidupannya di Sikhem masih belum mencapai taraf kehendak Allah. Sasaran Allah ialah ingin memperoleh Betel, yaitu rumah-Nya di bumi. Hari ini banyak saudara saudari yang seperti Yakub, tetap tinggal di Sikhem. Mereka telah mengikuti jejak kaum saleh yang di depan, serta beroleh kekuatan. Mereka hidup berkemah, berkesaksian mezbah, menempuh kehidupan orang terpanggil. Namun berhubung mereka belum mencapai taraf kehendak Allah, maka hati Allah belum dipuaskan. Demikianlah perkara malang, satu demi satu menimpa diri mereka. Ini adalah untuk menyiapkan hati mereka agar mau mendengarkan firman Allah, yang menyuruh mereka pergi ke Betel, tinggal di sana, membangun mezbah bagi Allah. Kita perlu nampak langkah -langkah ini. Dalam berita berikutnya kita akan nampak bahwa dalam pasal 35, Yakub mulai diubah. Perubahannya dimulai dari saat Allah berbicara ke-padanya, menyuruhnya pergi ke Betel.

Hari ini, hampir semua orang Kristen yang menuntut mempunyai keadaan seperti Yakub, memiliki kehidupan yang nyaman di Sikhem, tetapi melalaikan sasaran Allah di Betel. Namun dalam pemulihan Tuhan, Ia menghendaki kita menuju ke Betel melalui Sikhem, yakni melalui kehidupan individual kita mencapai hidup gereja yang korporat. Jika kita belum mencapai hidup gereja yang korporat, kita belum mencapai sasaran Allah. Bagaimanapun baiknya kita di Sikhem, tetap tidak akan ada damai sentosa yang memuaskan. Ini memaksa kita untuk mendengarkan firman Tuhan. Meninggalkan Sikhem, menuju Betel, menempuh hidup gereja yang normal di dalam rumah-Nya yang di bumi.