DIREMUKKAN
c. Diremukkan
Kejadian 32:22-32 mengisahkan pengalaman yang menentukan dalam hidup Yakub, orang pilihan Allah. Ini benar-benar merupakan bagian firman kudus yang luar biasa. Bagian ini sangat unik, sehingga tidak ada bagian lain dalam Alkitab yang bisa menyamainya. Namun berhubung kurangnya pengalaman, maka kebanyakan orang Kristen tidak menaruh perhatian yang memadai terhadap bagian Kitab Suci ini. Demi belas kasihan Allah, dalam berita ini kita harus melihat pengalaman yang penting dalam hidup Yakub serta memperoleh bantuan darinya.
Pengalaman Yakub dalam pasal ini sangatlah riil, pribadi, dan intim. Apa yang bisa lebih intim daripada bergulat dengan seseorang selama sedikitnya setengah malam? Tuhan dalam bentuk manusia bergulat dengan Yakub “sampai fajar menyingsing” (ayat 24). Tuhan Allah tidak pernah bergulat dengan orang yang tidak dikenal atau dengan orang dosa yang tidak percaya. Perhatikanlah, kita tidak diberi tahu bahwa orang itu “datang” untuk bergulat dengan Yakub. Tidak ada ayat yang mengatakan, “Sementara Yakub tinggal di sana seorang diri, memikirkan kesulitannya, Tuhan datang bergulat dengan dia.” Tidak, melainkan “seorang laki-laki bergulat dengan dia,” menyatakan bahwa orang itu sudah ada di sana sehingga ia tidak perlu datang. Ini menyatakan bahwa sejak semula Tuhan sudah beserta Yakub.
Mengapa Tuhan tiba-tiba mulai bergulat dengan Yakub? Tentu ada alasannya. Dan alasan ini berdasar pada latar belakang Yakub. Ketika ia kembali ke negeri ayahnya, ia menghadapi dua masalah — Laban di belakangnya dan Esau di depannya. Setelah terlepas dari tangan pemerasan Laban, sekarang ia merasa putus asa menghadapi konfrontasi yang akan muncul dengan saudaranya, Esau. Pada saat inilah timbul pergumulan itu. Utusan-utusan Yakub telah kembali dengan laporan bahwa Esau datang untuk menemui Yakub diiringi empat ratus orang. Mendengar laporan ini, Yakub sangat ketakutan. Menurut hemat Yakub, jika Esau memang datang untuk menyambut dia, tidak perlu diiringi empat ratus orang. Bagi Yakub, Esau seolah-olah seorang kapten yang memimpin tentaranya, sehingga tidak usah diragukan lagi, Yakub mengira Esau datang hendak membunuhnya. Meyakini hal ini, Yakub terpaksa berdoa. Setelah berdoa dengan bagusnya, ia kemudian membagi ternaknya menjadi sembilan kumpulan yang akan dihadiahkan kepada Esau. Tetapi ia tetap tidak tenteram, karena masalahnya masih ada di depannya. Ayat 22-23 mengatakan, “Pada malam itu Yakub bangun dan ia membawa kedua istrinya, kedua budaknya perempuan dan kesebelas anaknya, dan menyeberang di tempat penyeberangan sungai Yabok. Sesudah ia menyeberangkan mereka, ia menyeberangkan juga segala miliknya.” Setelah melakukan ini semua, Yakub tinggal sendirian, kemungkinan berpikir lebih lanjut mengenai situasi serta harus bertindak apa untuk menghadapi serangan Esau. Beban Yakub amat berat, situasinya sangat gawat, dia merasa putus asa.
Alkitab tidak menunjukkan bahwa ketika tinggal sendirian Yakub berdoa. Sering kali, ketika tanpa kesulitan, Anda bisa berdoa; tetapi ketika terbentur kesulitan yang sangat besar, Anda malah tidak bisa berdoa. Kesulitan lebih banyak, doa Anda lebih sedikit. Dikarenakan kesulitan terlalu besar dan situasi terlalu gawat, maka Anda tidak dapat berdoa. Mengapa? Karena Anda belum terpukul jatuh. Tidak peduli betapa seriusnya persoalan, Anda belum terpukul jatuh. Seperti Yakub, di satu pihak kita tidak dapat maju ke depan, di pihak lain, kita tidak berdoa. Kita malah berhenti di sana mempertimbangkan situasi, bertanya kepada diri sendiri apa yang akan kita perbuat.
Ketika Yakub sedang memikirkan bagaimana mengha-dapi persoalannya, di luar dugaannya, ada seseorang mulai bergulat dengan dia. Saya ulangi, kita tidak diberi tahu bahwa seseorang datang bergulat dengan dia. Teks Alkitab hanya mengatakan, “Seorang laki-laki bergulat dengan dia.” Hari ini saat kita membaca bagian firman ini, kita segera mengetahui bahwa orang ini adalah TUHAN. Tetapi pada awal pergulatannya, Yakub tidak mengenal bahwa orang ini adalah Allah. Dia mungkin mengira bahwa yang menyerangnya adalah salah satu dari empat ratus orang pengiring Esau. Sewaktu orang itu mulai bergulat dengan dia, Yakub tidak mau membiarkan orang itu menang. Mungkin Yakub berkata kepada dirinya, “Orang ini datang untuk menangkap aku, aku tidak mau membiarkannya berbuat demikian.”
Sampai di sini kita perlu mengajukan empat pertanyaan. Pertama, mengapa Tuhan menjadi seseorang dan bergulat dengan Yakub? Apa perlunya demikian? Ketika Tuhan menampakkan diri kepada Abraham, Dia menyatakan diri sebagai Allah yang mulia. Tetapi di sini kita tidak melihat Tuhan menampakkan diri kepada Yakub, melainkan sebagai manusia bergulat dengan Yakub. Kedua, bagaimana mungkin Tuhan yang Mahakuasa tidak mampu mengalahkan Yakub, manusia yang kecil ini? Ketiga, mengapa Tuhan menunggu sekian lama baru mau menjamah pangkal paha Yakub? Mengapa Dia tidak menjamah sejak mulanya? Tuhan harus bergulat dengan Yakub sedikitnya enam jam, boleh jadi mulai dari tengah malam hingga fajar menyingsing. Mengapa Tuhan bertoleransi atas pergulatan yang begitu panjang? Dan keempat, mengapa Tuhan menolak memberitahukan nama-Nya kepada Yakub? Dalam kebanyakan kesempatan yang lain, Tuhan selalu mewahyukan nama-Nya kepada orang, memberi tahu mereka siapa Dia. Tetapi di sini, ketika Yakub mohon Dia menyatakan nama-Nya, Ia tidak mau memberi tahu, bahkan merahasiakan nama-Nya. Meskipun saya tidak sanggup memberi jawaban yang sempurna terhadap pertanyaan-pertanyaan ini, namun berdasarkan pengalaman saya, sedikitnya saya dapat juga menjawab sebagian.
Dalam bagian firman ini tidak ada penampakan Allah yang mulia, juga tidak ada kunjungan Tuhan. Terhadap Abraham, pertama-tama Tuhan menampakkan diri sebagai Allah yang mulia (Kis. 7:2). Kemudian dalam Kejadian 18, Tuhan mengunjungi dia serta makan bersama dia. Tetapi pengalaman Yakub di sini bukan penampakan diri Allah, juga bukan kunjungan Tuhan; melainkan suatu penanggulangan. Ketika Anda beroleh selamat, Tuhan menampakkan diri kepada Anda dan kemudian Anda sering kali dikunjungi Tuhan dengan manis dan menyenangkan. Namun, se-lain Tuhan menampakkan diri ketika kita beroleh selamat, dan kunjungan-Nya ketika bersekutu, ada pula sekali demi sekali penanggulangan Tuhan terhadap kita. Pada permulaan penanggulangan ini, kita tidak menyadari bahwa Tuhan hadir. Kita mengira suami kita, istri kita, atau seorang penatua yang membawa kita ke dalam kesulitan. Akhirnya kita baru menemukan bahwa persoalannya bukanlah suami kita, istri kita, atau penatua, melainkan Allah ada di sini sedang menanggulangi kita.
Inilah jawaban atas pertanyaan yang pertama, mengenai Tuhan bergulat dengan Yakub dalam rupa manusia. Allah tidak menanggulangi kita dengan cara-cara yang nyata, menampakkan diri sebagai Allah yang mulia. Pada tiap permulaan penanggulangan, kita selalu mengira seseorang bergulat dengan kita. Sering kali pergulatan ini berlangsung dalam waktu yang lama. Bagi Yakub mungkin berlangsung selama enam jam; tetapi bagi kita, mungkin selama enam minggu, enam bulan, atau sampai enam tahun. Saudari-saudari, sudah berapa lama Anda bergulat dengan suami Anda? Boleh jadi Anda bergulat dengannya setiap hari. Anda tahu bahwa orang Kristen tidak mengenal bercerai. Namun Anda tentunya merasa bebas bersilat kata dengannya. Boleh jadi Anda berkata kepada diri sendiri, “Sungguh sial aku menikah dengan laki-laki ini. Kalau aku tidak boleh bercerai, sedikitnya aku boleh bertengkar dengan dia.” Ada istri yang telah lama bergumul dengan suaminya. Demikian juga bagi kita para suami, kita juga bergulat dengan istri kita. Bagi kebanyakan orang di antara kita, kehidupan pernikahan sama dengan kehidupan bergu-lat. Menurut hemat kita, kita sedang bergulat dengan istri atau suami kita, sebenarnya lawan kita bukannya istri, suami, penatua, atau keadaan lingkungan, melainkan Tuhan sendiri yang bergulat dengan kita. Dalam pengalaman kita, akhirnya kita menyadari bahwa Tuhan hadir di sini. Misalnya, seorang saudari akhirnya bisa berkata, “Bukan suamiku yang bergulat dengan aku, melainkan Tuhan.”
Jika kita paham jawaban atas pertanyaan yang pertama, tentunya kita bisa menjawab ketiga pertanyaan yang lain. Dalam menyelamatkan kita, Tuhan menyatakan diri-Nya sebagai Allah yang mulia; tetapi dalam menanggulangi kita, Dia menyembunyikan diri-Nya. Setiap kali kita melewati suatu penanggulangan, kita mengira bahwa itu berasal dari seseorang atau keadaan, kita tidak mengira itu berasal dari Tuhan. Seharusnya, setiap kali penanggulangan menimpa, kita harus menyadari bahwa Tuhan ada di sana. Jangan menanyakan nama-Nya. Para saudari sering bertanya kepada saya, “Saudara Lee, mengapa Tuhan membe-riku suami macam ini?” Para saudara juga sering berkata, “Saudara Lee, bukankah Tuhan itu Mahatahu? Mengapa Ia tidak berbuat sesuatu pada diri istriku?” Jawabannya ada-lah: penanggulangan Tuhan itu suatu rahasia. Melalui pengalaman Yakub, kita dapat mengetahui siapa nama Orang yang bergulat dengan kita itu. Terhadap saudari, nama Tuhan mungkin “suami”; terhadap saudara, nama Tuhan mungkin “istri”. Dalam beberapa kasus, nama Tuhan mungkin “penatua yang payah”. Jika kita mau berterus-terang dan terbuka, banyak orang yang akan mengakui bahwa mereka telah mempertanyakan pernikahan mereka. Banyak yang bertanya, “Mengapa?” Seorang saudara bertanya, “Banyak saudari mu-da dalam gereja, mengapa aku menikah dengan yang ini?” Setiap kali kita ditanggulangi, pada mulanya kita tidak menyangka bahwa inilah perbuatan Tuhan. Adakalanya kita paham, namun tidak mau mengakuinya. Jika kita benar-benar mengakuinya, kita pasti segera menghentikan pergu-mulan. Itulah sebabnya kita meronta-ronta sebisanya agar jangan sampai ditaklukkan, sebaliknya kita berusaha sekuatnya untuk menaklukkan lawan kita. Dalam kebanyakan kasus kita tidak menyadari bahwa sebetulnya kita bergumul dengan Tuhan.
Sekarang mari kita melihat pertanyaan yang kedua dan ketiga. Jika Tuhan cepat-cepat menaklukkan kita, bagaimana kita dapat disingkapkan? Mungkin ada orang bertanya, “Sudah bertahun-tahun aku berdoa bagi istriku, mengapa Tuhan tidak menjawab? Mengapa dia tetap tidak berubah?” Jawabannya adalah Anda perlu disingkapkan. Tuhan bergulat dengan Yakub untuk menyingkapkan betapa Yakub itu alamiah. Penyingkapan ini memerlukan se-dikitnya setengah malam. Kita juga memerlukan kesulitan jangka panjang. Banyak di antara kita yang masih tetap bergulat. Tuhan ingin menaklukkan Anda, tetapi Anda ma-lah bergumul, berusaha mengatasi lingkungan Anda. Boleh jadi istri Anda dipakai oleh Tuhan untuk menaklukkan Anda, tetapi Anda memakai kekuatan Anda untuk mengalahkan dia. Demikianlah pergulatan berlangsung terus. Saya harap dalam berita ini terang akan menyoroti Anda dan Anda mau berkata, “O, kini aku nampak! Bertahun-tahun aku bergulat terus. Sekarang aku nampak bahwa tujuan semua ini ialah menyingkapkan betapa alamiahnya aku ini. Masalahnya bukan pada istriku, melainkan pada kekuatan alamiahku. Aku tetap sebagai orang yang alamiah.”
Apakah salah Yakub, sehingga Tuhan harus bergulat dengannya? Tidak ada kesalahan apa-apa. Alasan Tuhan bergulat dengan Yakub, hanya karena dia tetap begitu alamiah. Di sini bukan menanggulangi hal kedosaan, melainkan menanggulangi hayat alamiah, menanggulangi manusia alamiah. Untuk menyingkapkan hayat alamiah kita diperlukan waktu yang panjang. Sebelum penyingkapan ini tercapai, kita memerlukan masa pergulatan yang panjang. Melalui masa pergulatan ini, alamiah kita, seperti halnya alamiah Yakub, akan mutlak tersingkapkan. Membaca pasal 31, 32, dan 33, tertampaklah betapa alamiahnya diri Yakub. Dia pernah ditanggulangi, telah mengalami banyak penderitaan, tetapi dalam pasal 32, dia tetap alamiah. Dia tidak bersandar kepada Tuhan, dan sama sekali tidak bisa mengekspresikan Tuhan. Dia itu alamiah, dan ekspresinya penuh dengan diri sendiri.
Pada saat tertentu di malam pergulatan tersebut, Tuhan menjamah pangkal paha Yakub. Kejadian 32:25 mengatakan, “Ketika orang itu melihat bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul (menjamah) sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.” Allah menjamah urat paha Yakub. Urat paha merupakan otot kita yang paling kuat. Maksud Tuhan bukan untuk menaklukkan Yakub, melainkan untuk menyingkapkan Yakub. Setelah menyingkapkan hayat alamiah Yakub, Tuhan menjamah pahanya. Segera Yakub terpelecok, dan ia menjadi pincang. Sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat 31, “Yakub pincang karena pangkal pahanya.”
Begitu pahanya terpelecok, boleh jadi Yakub berpikir, “Pegulat ini lebih hebat daripadaku. Dia tidak membunuhku, tetapi dia telah menjamahku dan membuatku pincang.” Begitu Yakub sadar bahwa pegulat ini lebih besar daripada dirinya, Yakub segera mohon berkat darinya (ayat 26). Saya sangsi kalau waktu itu Yakub mengenal bahwa pegulat ini adalah Allah. Setelah menjamah Yakub, pegulat itu berkata kepadanya, “’Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.’ Sahut Yakub, ‘Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku’” (ayat 26). Setelah Yakub berkata demikian, Tuhan bertanya kepada Yakub siapa namanya (ayat 27). Tuhan telah tahu nama Yakub, mengapa mengajukan pertanyaan ini? Tidak lain agar Yakub sadar siapa dirinya, dan memaksanya mengakui bahwa dirinya adalah Yakub, si perebut. Setelah Yakub menyebutkan namanya, pegulat itu berkata, “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang” (ayat 28). Nama “Israel” berarti “bergulat dengan Allah”. Banyak orang Kristen mengetahui arti Israel adalah “pangeran Allah”. Menurut kamus dan terjemahan yang terbaik, ini adalah makna yang sekunder. Makna pertama dari istilah Israel adalah “bergulat dengan Allah”.
Mendengar namanya diganti menjadi Israel, yang berarti “bergulat dengan Allah”, segera Yakub paham bahwa pegulat ini adalah Allah. Boleh jadi ia berkata kepada dirinya, “O, Orang ini adalah Allah, dan Ia telah menyebut aku sebagai orang yang bergulat dengan Allah.” Yakub berkata, “Katakanlah juga namamu” (ayat 29). Tuhan membalas, “Mengapa engkau menanyakan namaku?” (ayat 29). Allah tidak memberi tahu Yakub nama-Nya. Dalam pengalaman kita, Tuhan yang menanggulangi kita itu selalu misterius. Meskipun tidak mewahyukan nama-Nya kepada Yakub, te-tapi Tuhan telah memberkatinya. Setelah memberkati Yakub, tidak ada catatan yang mengisahkan Tuhan meninggalkan dia. Tuhan senantiasa beserta dengannya. Bahkan setelah bergulat, Dia tetap tinggal di sana. Tuhan tidak datang atau pergi; Dia sekadar bergulat dengan Yakub. Kalau itu adalah pengalaman Yakub dalam Perjanjian Lama, lebih-lebih bagi kita hari ini. Allah tidak pernah meninggalkan kita. Kapan saja kita memerlukan penanggulangan, Dia akan memberikan penanggulangan yang paling cocok dengan kebutuhan kita.
Kejadian 32:30 mengatakan, “Yakub menamai tempat itu Pniel, sebab katanya: ‘Aku telah melihat Allah berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!’” Sesudah Tuhan memberkatinya, Yakub sadar sepenuhnya bahwa pegulat itu adalah Allah, lalu ia menamai tempat itu Pniel, artinya “wajah Allah”.
Setelah melihat pengalaman Yakub dalam pasal ini, kita mungkin mengira bahwa ia telah diubah karenanya. Faktanya, ia tidak berubah sama sekali. Pasal 33 mewahyukan bahwa Yakub tetap Yakub. Penempuhan hidupnya tidak berubah, ia masih saja membuat rencana, membagi orang-orangnya dan melakukan segala sesuatu yang mungkin dapat mengatasi situasi. Walaupun tidak ada perubahan di dalam cara hidupnya, tetapi jelas telah ada perubahan atas hayatnya, hayatnya telah terjamah. Setelah pengalamannya di Pniel, ia menjadi pincang. Sebelum dan sesudah Tuhan menjamah dia, ia mampu melakukan segala sesuatu. Namun setelah Tuhan menjamahnya, segala yang dilakukannya itu ia lakukan dengan kaki pincang.
Atas diri kita sebagai orang Kristen ada dua macam kegagalan dan kelemahan — yakni pincang dan tidak pincang. Misalnya, kita bisa saja marah dengan pincang atau tidak pincang. Saya bisa saja marah kepada seorang saudara, tetapi justru dalam hal ini, orang lain bisa memperhatikan bahwa saya pincang. Jika Anda tidak melakukan sesuatu, orang lain tidak akan nampak kepincangan Anda. Namun semakin banyak Yakub berbuat sesuatu, semakin tersingkap kepincangannya. Namun saya ingin berkata, jangan meniru-niru pincang, meniru tidak akan berhasil.
Dalam gereja pemulihan Tuhan, kita adalah orang-orang pilihan Allah. Kita berada di tangan-Nya, kita berada di atas jalan-Nya, dan saya yakin sepenuhnya bahwa kita berada di bawah penanggulangan-Nya. Entah Anda paham atau tidak, mengenal atau tidak, mengakui atau tidak, faktanya Anda berada di bawah penanggulangan Tuhan. Cepat atau lambat, Anda pasti akan merasakan bahwa Anda telah dijamah oleh-Nya. Bila saat itu tiba, Anda akan tahu bahwa Anda telah pincang, dan Anda tidak bisa lagi sama seperti dulu. Anda boleh saja masih memiliki kelemahan, tetapi Anda tidak dapat sama seperti dulu. Jika Anda masih bisa sama seperti dulu, itu menunjukkan bahwa Anda belum mengalami jamahan Tuhan.
Bagi Yakub, jamahan Tuhan adalah sekali untuk selamanya. Tetapi bagi kita, mungkin beberapa kali jamahan. Namun prinsipnya sama. Di antara kita banyak yang dapat bersaksi bahwa sejak hari pertama kita mengasihi Tuhan, terutama sejak kita masuk dalam hidup gereja serta mulai mengikuti Tuhan dalam pemulihan-Nya, kita menemukan bahwa diri kita berada dalam lingkungan di mana kita se-dang ditanggulangi. Kita bergulat terus-menerus. Sejangka waktu yang lama kita tidak memahami bahwa Tuhan sedang menanggulangi kita. Pada suatu hari, Tuhan tiba-tiba menjamah kita, dan kita menjadi pincang. Sejak saat itu, kita tidak sama lagi. Mungkin kita masih alamiah dan lemah, tetapi kita tidak sama lagi.
Janganlah mengharapkan sekali dijamah oleh Tuhan maka seluruh kehidupan Anda akan berubah, Anda akan berubah tuntas. Tidak, bagi Yakub, jamahan itu terjadi pada pasal 32, tetapi kematangannya terwujud penuh dalam pasal 47. Dari pasal 25—32, terdapat banyak kegagalan, kekeliruan, dan pelanggaran. Setelah dijamah oleh Allah, dalam pasal 33 secara luaran tidak kelihatan banyak perubahan, tetapi sesungguhnya, dalam hayatnya, ia mengalami perubahan yang besar. Sebelum pasal 32, Yakub itu alamiah, belum pernah dijamah oleh Tuhan. Namun sesudah pasal 32, apa pun yang ia kerjakan, ia kerjakan dengan pincang. Sejak saat itu, kesan yang ia berikan kepada orang sudah sangat berbeda. Ketika bersujud kepada Esau, ia masih tetap alamiah, tetapi kepincangannya itu memberi kesaksian akan jamahan Tuhan. Nampakkah Anda bahwa Yakub itu pincang ketika ia berjalan kepada Esau sambil bersujud kepadanya? Esau tidak melihat seorang Yakub yang utuh, hanya melihat seorang Yakub yang pincang. Di sini kita nampak bahwa meskipun dalam cara hidupnya ia tidak berubah, tetapi suatu perubahan telah terjadi atas hayatnya. Bukan kehidupan sehari-hari luaran yang dijamah Tuhan, melainkan kekuatan alamiah yang di dalam yang dijamah oleh-Nya. Otot paha Yakub telah terjamah.
Tidak banyak orang Kristen yang mengenal makna penting dari pengalaman Yakub dalam potongan firman ini. Kebanyakan orang memusatkan perhatian kepada penanggulangan dosa, pelanggaran, dan keduniawian yang di luar. Mereka tidak pernah memikirkan bahwa hayat alamiahnya, kekuatan alamiahnya harus dijamah. Tuhan tidak sekadar memperhatikan perubahan kehidupan kita yang di luar, Dia lebih-lebih ingin menjamah hayat alamiah kita. Entah Anda bertengkar dengan istri atau tidak, asal hayat alamiah Anda belum dijamah oleh Allah, Anda tetap alamiah. Di mata Allah, Anda marah terhadap istri Anda atau mengendalikan amarah Anda, tidak banyak berbeda. Jika Anda marah, Anda adalah Anda; jika Anda menahan amarah, Anda tetaplah Anda. Namun sekali Yakub dijamah oleh Allah, walaupun lahirnya tetap sama seperti dulu, tetapi hayat alamiah yang di dalamnya sudah ditanggulangi. Dari segi manusia, saya memang senang melihat saudara saudari mengubah sikapnya terhadap pasangannya; tetapi tanpa perubahan di lubuk batin mereka, saya tidak akan menghargai perubahan lahiriah itu. Kalau kelakuan Anda jelek, memang sukar bagi Tuhan untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam Anda; tetapi sekalipun kelakuan Anda baik, keadaannya tetap sama. Faktanya, kelakuan Anda yang baik itu justru lebih menyulitkan Tuhan untuk menggarapkan diri-Nya ke dalam Anda. Ini bukan soal perubahan atau kemajuan lahiriah, melainkan soal jamahan batiniah. Otot batiniah Anda, kekuatan alamiah Anda, harus dijamah Tuhan. Kita semua memerlukan jamahan ini.
Kita yang mengikuti jalan Yakub, boleh jadi berkalikali dijamah oleh Tuhan, karena kita bukanlah sekali dijamah langsung jadi. Setelah kita bergulat sebentar, kita lalu menyadari dalam-dalam bahwa kita telah dijamah oleh Tuhan. Tuhan selalu menjamah titik-titik penting pada diri kita. Ka-pan kala Dia menjamah salah satu bagian kita, maka kita menjadi pincang, sehingga manusia batiniah kita mustahil sama dengan yang dulu. Sejak saat itu dan seterusnya, kita menjadi pincang, tidak lagi utuh.
Di antara ribuan orang yang menempuh hidup gereja, ada berbagai macam orang: yang pandai, yang berhikmat, yang berliku-liku, yang angkuh, yang sok besar. Menurut agama, jalan yang benar adalah mengubah kelakuan kita yang di luar. Tetapi jalan Allah atau jalan hayat berbeda. Allah tidak berkata kepada Yakub, “Hai Yakub, Aku sudah bergulat denganmu, sudah menjamahmu, mengubah nama-mu, juga memberkatimu. Mulai hari ini kamu tidak boleh lagi memakai tipu muslihat dan kekuatan alamiahmu untuk menghadapi situasi dengan kakakmu, Esau. Jangan berlaku licik lagi. Bersandarlah kepada-Ku, biar Aku yang membereskan perkara ini.” Alkitab tidak mencatat demikian. Alkitab mencatat Yakub dijamah. Tuhan menjamah pahanya, mengubah namanya, memberi berkat-Nya — hanya ini. Tidak ada khotbah, tidak ada pengajaran untuknya. Setelah ini, perkara apa pun yang Yakub kerjakan, misalnya membagi keluarganya ke dalam tiga kelompok, itu terserah pada Yakub. Sering kali setelah Tuhan menjamah kita, Dia tidak memberi tahu apa yang harus kita lakukan. Dia membiarkan kita berbuat menurut apa yang kita sukai. Kalau kita memeriksa pengalaman kita, kita akan melihat memang demikian halnya.
Orang-orang yang merawat orang lain, terutama para penatua, suka sekali mengajar orang. Mereka sering berkata, “Saudara, Anda keliru. Kalaupun Tuhan telah memberkati Anda, maka Anda tidak seharusnya memperlakukan istri Anda seperti dulu lagi. Untuk kemuliaan Tuhan, Anda harus berubah.” Para saudari yang menggembalakan boleh jadi berpesan kepada orang, “Saudari, Anda tidak boleh bertengkar lagi dengan suami Anda. Anda tidak boleh berbuat ini, Anda tidak boleh berbuat itu.” Ini cara kita, bukan cara Allah. Setelah menjamah paha Yakub dan memberkatinya, Tuhan tidak memberinya instruksi apa-apa. Bahkan sepatah kata pun tidak. Malah sesudah jamahan itu, Yakub tetap berusaha sendiri. Seolah-olah Yakub berkata kepada orang-orangnya, “Kalian semua tinggal di belakang, biar aku yang tampil ke depan untuk menghadapi Esau, kakakku.” Tetapi ketika dia maju menghampiri Esau, dia melakukannya dengan pincang. Alangkah besarnya perbedaan antara konsepsi kita dengan cara Allah! Alangkah besar perbedaan antara praktek agamawi dengan jamahan Tuhan!
Saya tidak suka mendengar banyak instruksi yang diberikan kepada kalian; lebih baik saya melihat kalian satu per satu dijamah oleh Tuhan. Sering kali saudari-saudari datang kepada saya untuk mengadukan suami mereka; tetapi ketika mereka di depan saya “mendakwa” suami mereka, saya merasa gembira karena dalam pengaduan mereka itu saya nampak mereka pincang. Mungkin beberapa hari sebelumnya mereka pernah datang kepada saya tanpa tanda-tanda telah terjamah. Kini, meskipun mereka tetap mengeluh dan mendakwa suaminya, namun terlihat ada tanda-tanda pincang. Saya tidak mencela saudari-saudari yang terkasih ini, sebab saya gembira melihat mereka telah terjamah. Satu kali jamahan lebih baik daripada segala macam pengajaran. Jamahan Tuhan terhadap hayat alamiah kita jauh lebih baik daripada seratus kali khotbah. Inilah yang kita butuhkan hari ini.
Kejadian 32:31 mengatakan, “Lalu tampaklah kepadanya matahari terbit, ketika ia telah melewati Pniel; dan Yakub pincang karena pangkal pahanya.” Setelah dijamah, terbitlah matahari menyoroti Yakub. Ia pincang, namun di dalam terang. Dalam pemulihan Tuhan, siapa saja yang mempunyai terang pastilah pincang. Tidak seorang pun yang di dalam terang tetap tinggal utuh; setiap orang yang di bawah sorotan terang surgawi, pastilah pincang. Di malam yang gelap gulita, Yakub itu kuat, setiap bagian tubuhnya utuh. Setelah dia dijamah, matahari terbit menyinari dia, dia penuh dengan terang. Dia berada di dalam sorotan terang surgawi, namun dia sudah pincang. Karena kita benar-benar di dalam tangan Tuhan serta menempuh jalan-Nya, maka banyak di antara kita mempunyai pengalaman yang demikian.