DIUBAH (7)
Dalam berita ini kita masih akan mencurahkan perhatian kita kepada dua buah tiang pada bait. Kita telah melihat bahwa kali pertama Yakub di Betel, ia mendirikan tiang batu yang sebelumnya digunakan sebagai bantal, dan menyebutnya rumah Allah (28:18, 22). Kita telah berkali-kali menunjukkan bahwa hampir setiap hal yang terdapat dalam Kitab Kejadian merupakan benih yang berkembang dalam kitab-kitab selanjutnya dalam Alkitab. Perkembangan yang sempurna dari benih tiang ini terdapat dalam Wahyu 3:12, di mana Tuhan Yesus berkata, “Siapa yang menang, ia akan Kujadikan tiang di dalam Bait Suci Allah-Ku.” Di antara Kitab Kejadian dan Kitab Wahyu, terdapat banyak bagian firman yang menyinggung tentang tiang. Setiap kali kedua tiang dalam bait ini disebut, kita makin nampak mengenai tiang-tiang ini. Segala aspek atas tiang-tiang ini tidak dibicarakan dalam satu bagian firman.
Orang-orang Kristen dewasa ini sangat sedikit memperhatikan pembangunan Allah, yang merupakan penggenapan ekonomi Allah. Meskipun kebanyakan orang Kristen mengabaikan hal ini, tetapi Alkitab dengan tegas menekankan hal ini. Jika kita ingin memahami pembangunan sesuai dengan jalan Alkitab, terlebih dulu kita harus melihat tiang, karena tiang merupakan “papan nama” pembangunan Allah. Jika kita tahu apakah tiang itu dan memutuskan ingin menjadi tiang, kita sudah berada pada jalan pembangunan Allah. Tiang sangatlah penting, karena itu Alkitab menyebutnya sekali dan sekali lagi. Sayang, kebanyakan orang Kristen tidak paham akan pembangunan Allah, sehingga mereka tidak menaruh perhatian terhadap bagian Kitab Suci yang menyebut tiang. Namun oleh belas kasihan Allah, kita memiliki kesan yang demikian dalam terhadap tiang, sehingga kita tidak dapat mengesampingkannya dan tidak membicarakannya. Alkitab tidak pernah menyianyiakan kata-kata sepatah pun. Karena itu, apa saja yang diungkapkan Alkitab pasti bermakna dan penting bagi kita. Pada zaman akhir ini, Allah sedang merampungkan pembangunan-Nya, karena itu kita harus memperhatikan dengan cermat apakah tiang itu dan bagaimana menjadi tiang.
Sekarang saya ingin menekankan tiga aspek positif dan dua aspek negatif dari tiang-tiang dalam berita yang lalu. Ketiga aspek positif tersebut ialah tembaga, bunga bakung, dan buah delima. Tiang-tiang itu sendiri terbuat dari tembaga. Pada ganja tiang terdapat bunga bakung, sedang di sekeliling ganja itu terdapat buah delima. Saya tidak yakin apakah pernah ada perancang yang menggabungkan ketiga benda ini bersama-sama. Ketiga benda ini sangat penting dan bermakna bagi kita! Tembaga melambangkan kematian di bawah penghakiman. Kita harus di bawah penghakiman, mengenal bahwa kita tidak patut apa-apa, kecuali mati, bahkan kita telah disalibkan (Gal. 2:19). Tidak hanya demikian, kita semua juga telah dikuburkan dalam baptisan (Rm. 6:4). Kita adalah orang-orang yang berada di bawah penghakiman maut. Namun setelah maut datanglah kebangkitan, dan bunga bakung bertumbuh pada diri kita di dalam kebangkitan. Buah delima yang meliliti ganja me-lambangkan ekspresi kelimpahan hayat. Jadi, atas tiang-tiang kita nampak maut, kebangkitan, dan ekspresi hayat. Puji Tuhan, banyak di antara kita boleh bersaksi bahwa hari demi hari kita adalah tembaga yang menumbuhkan bunga bakung dan menampilkan buah delima. Orang macam inikah Anda? Kalau bukan, Anda tidak memenuhi syarat untuk menjadi tiang dan Anda tidak ada sangkut-pautnya dengan pembangunan Allah.
Dua aspek negatif dari tiang-tiang adalah jala-jala berkotak-kotak dan rantai. Jala-jala berkotak-kotak dan rantai merupakan situasi yang simpang siur dan ruwet. Jala-jala berkotak-kotak tersusun dari kisi-kisi yang bersilangan. Ini menunjukkan bahwa dalam pengalaman kita, kita ditanggulangi setiap hari. Ketika kita ditanggulangi, kita pun diikat oleh rantai. Sering kali kita para saudara ditanggulangi oleh istri kita sendiri. Ingin melarikan diri, namun kita terbelenggu oleh rantai, sehingga mustahil meloloskan diri. Boleh jadi kita dipotong menjadi potongan - potongan, namun tidak satu potong pun dapat melarikan diri. Para saudari juga bersaksi bahwa hubungan mereka dengan suami mereka juga demikian. Beberapa di antara orang-orang yang menempuh hidup gereja mengatakan bahwa mereka tidak tahan ditanggulangi oleh penatua. Tetapi, rantai tetap ada di sana. Dalam hidup gereja kita memiliki kedua-duanya, baik jala-jala maupun rantai. Pujilah Tuhan bagi kedua hal negatif ini, karena hanya dua hal inilah yang bisa menggabungkan tembaga, bunga bakung, dan buah delima.
Tidak lama setelah saya beroleh selamat, saya sudah tahu bahwa saya telah disalibkan dengan Kristus, tetapi saya tidak tahu bagaimana penerapan yang riil atas diri saya. Sekarang saya tahu bahwa hal ini dapat diterapkan melalui jala-jala berkotak-kotak. Tanpa jala-jala dan rantai, maka perihal kita disalibkan dengan Kristus dan Dia hidup bagi kita akan merupakan doktrin atau teori melulu. Boleh saja kita paham akan doktrin disalibkan dengan Kristus, bahkan berulang-ulang membacakan Galatia 2:19-20, namun itu tidak ada gunanya. Saya sendiri telah mencobanya berkali-kali, namun tanpa hasil. Saya mengulangi terus-menerus, “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Kemudian, dalam hidup gereja saya mengalami jala-jala berkotak-kotak dan rantai; melalui kedua hal negatif ini barulah penyaliban dan kebangkitan Kristus secara riil diterapkan dalam kehidupan saya. Karena itu, ketiga aspek positif dan kedua aspek ne-gatif ini akhirnya bergabung menjadi satu. Kita mempunyai tembaga, bunga bakung, dan buah delima serta dihubungkan oleh jala - jala berkotak - kotak dan rantai. Kelima hal ini bergabung jadi satu pada tiang.
l. Dua Bulatan Bola di Puncak Tiang Itu,
Dua Hasta Tingginya
Selain butir-butir di depan itu, dalam berita ini kita masih akan menambahkan sembilan butir yang lainnya. Allah, firman-Nya dan penanggulangan-Nya terhadap kita, bukanlah hal yang sederhana.
Di kepala ganja yang terletak pada tiang-tiang itu terdapat dua bulatan (2 Taw. 4:12; 2 Raj. 25:17). Tiap bulatan, termasuk jala-jala berkotak-kotak, tingginya dua hasta (lihat penjelasan di bawah). Apakah artinya ini? Bulatan-bulatan ini berbentuk bola bundar. Di kepala tiap ganja terdapat dua buah bulatan yang satu letaknya di atas yang lain. Di sekeliling ganja terdapat “untaian rantai seperti sebuah kalung” atau “untaian rantai pada kerah” (2 Taw. 3:16, Darby), yang membagi ganja itu menjadi dua bagian. Bagian yang pertama ialah tempat duduk (dasar). Meskipun 1 Raja-raja 7:16 mengatakan bahwa ganja itu setinggi lima hasta, namun 2 Raja-raja 25:17 mengatakan ganja itu setinggi tiga hasta. Alasannya adalah yang tiga hasta merupakan tinggi dari tempat duduk ganja itu, sedang lima hasta merupakan tinggi keseluruhan ganja itu. Dengan kata lain, tempat duduknya setinggi tiga hasta, sedang bulatan-bulatan itu setinggi dua hasta. Di sini, angka tiga bukan ditujukan kepada Allah Tritunggal, melainkan proses kebangkitan. Dalam Alkitab, angka tiga dan delapan kedua-duanya ditujukan kepada kebangkitan. Angka tiga menyatakan tahap kebangkitan, sedang angka delapan merupakan hari pertama dalam seminggu, yaitu mewakili kesegaran kebangkitan, atau permulaan baru dalam kebangkitan. Tempat duduk ganja yang berketinggian tiga hasta itu berhubungan erat dengan jala-jala berkotak-kotak dan rantai, ini mewahyukan bahwa jala-jala berkotak dan rantai itu adalah untuk proses kebangkitan. Selain itu, angka dua yang merupakan tinggi kedua bola itu menandakan kesaksian. Kedua bulatan pada dua ganja dari dua tiang itu melambangkan kehidupan bunga bakung dan kesaksian atas penyataan kelimpahan hayat.
Selesai membaca semua catatan yang berkaitan dengan tiang, Anda akan nampak bahwa bulatan-bulatan itu justru adalah susunan dari jala-jala berkotak-kotak, rantai, bunga bakung, dan buah delima. Buah-buah delima itu bukannya terletak di tempat duduk ganja, melainkan pada rantai yang mengelilingi bulatan-bulatan itu. Jala-jala yang berkotak-kotak ini menutupi bulatan, rantai mengelilingi bulatan; delimanya bertumbuh di atas rantai, sedang bunga bakung bertumbuh pada jala-jala berkotak-kotak. Jika semua hal itu digabung jadi satu, terbentuklah bulatannya. Jika Anda mempertimbangkan ini di dalam terang pengalaman Anda, Anda akan nampak bahwa melalui penanggulangan jala-jala berkotak-kotak dan pembatasan rantai, Anda akan hidup seperti bunga bakung yang mengekspresikan kelimpahan hayat Kristus. Inilah kesaksian yang hidup yang berasal dari proses kebangkitan.
Dalam rumah tangga kita, kita berada pada jala-jala berkotak-kotak dan terikat oleh rantai. Demikian juga di dalam gereja di antara saudara saudari. Yang melayani dalam kantor diaken, tidak usah diragukan lagi, mereka pun meng-alami jala-jala berkotak-kotak dan rantai. Tetapi justru dengan adanya jala-jala berkotak dan rantai ini, maka di sana terdapat pula “hari ketiga”. Semua orang yang bekerja di dalam kantor diaken adalah di atas jalan “hari ketiga”, yaitu dalam proses kebangkitan.
Bunga bakung muncul di puncak bulatan-bulatan pada hari ketiga. Tidak peduli betapa manis, lemah lembut, rendah hatinya kita, semua itu bukanlah bunga bakung. Itu hanyalah hayat alamiah kita. Semakin kita mengalami penanggu-langan, semakin kita menumbuhkan bunga bakung pada hari ketiga. Setiap saudara ingin memiliki istri yang manis, dan setiap saudari ingin memiliki suami yang lembut. Akan tetapi, tidak peduli betapa manis dan lembutnya keadaan kita, kita ini bukanlah bunga bakung. Bunga bakung hanya bertumbuh dan berkembang pada hari ketiga di tengah-tengah jala-jala berkotak-kotak dan rantai. Kapan kala dalam kesimpangsiuran dan keruwetan kita memasuki hari ketiga, bunga bakung akan bertumbuh. Kita pun akan memiliki buah-buah delima, yakni ekspresi kelimpahan hayat. Inilah bulatan-bulatan — kemuliaan, keelokan, hiasan, dan mahkota. Inilah kesaksian. Saya berharap Roh Kudus berbicara lebih banyak kepada Anda.
Kita semua sudah pernah dihakimi dan kita perlu menghakimi diri sendiri di bawah penghakiman Allah. Menjadi tiang tembaga itu mudah, cukup mengatakan, “Aku jatuh, bobrok, jahat, dan tidak patut apa-apa, kecuali patut mati.” Namun sangat sulit untuk menempuh tiga hari proses kebangkitan di tengah-tengah penanggulangan jala-jala berkotak-kotak dan pembatasan rantai. Akan tetapi semakin kita di dalam jala-jala berkotak-kotak dan rantai, kita akan semakin di dalam tiga hari tahap kebangkitan, semakin banyak menghasilkan bunga bakung dan semakin banyak menampilkan buah delima. Dengan demikian kita menjadi kesaksian yang hidup, bukan berasal dari barang yang alamiah, melainkan berasal dari proses kebangkitan di bawah penanggulangan jala-jala berkotak-kotak dan pembatasan rantai. Kita tidak bisa melarikan diri, kita harus tinggal di dalam jala-jala berkotak-kotak dan rantai, persis seperti dikuburkan tiga hari, kemudian muncul kembali melalui proses kebangkitan. Setelah kita mempunyai pengalaman ini, bunga bakung akan bertumbuh dan buah delima akan muncul. Setiap tiang harus menjadi kesaksian hidup berdasarkan iman, agar di bawah penanggulangan jala-jala berkotak-kotak dan pembatasan rantai seraya melewati proses kebangkitan, mengekspresikan kelimpahan Kristus. Tembaga dari kedua tiang di depan Bait Suci menandakan kita di bawah penghakiman maut, yang membawa kita ke dalam proses kebangkitan, dan proses ini dilambangkan oleh ketinggian tempat duduk ganja yang berukuran tiga hasta. Proses kebangkitan ini membawa kita melewati jala-jala berkotak-kotak dan rantai, sehingga menumbuhkan bunga bakung dan menghasilkan buah-buah delima untuk kesaksian. Inilah cara tiang mengemban tanggung jawab, yang dilambangkan oleh lima hasta tingginya seluruh ganja.
Bulatan-bulatan yang terdapat pada ganja-ganja bukan berbentuk persegi, melainkan berbentuk bola. Ini melambangkan bahwa hidup berdasarkan iman di dalam Allah dan memikul tanggung jawab di tengah-tengah keruwetan bukan menurut Taurat atau hukum, melainkan fleksibel (luwes). Ketika kita hidup di dalam roh, segala sesuatunya bukanlah Taurat, melainkan dalam segala situasi bersifat fleksibel. Orang yang tua maupun orang yang muda mempunyai Tauratnya masing-masing. Yang tua pakai yang usang, yang muda pakai yang baru. Karena itulah saya tidak mau memberi banyak petunjuk selama pelatihan. Jika saya melakukannya, petunjuk saya akan diterima oleh kaum muda sebagai Taurat yang baru. Hampir setiap orang Kristen memiliki Taurat dan berbentuk kotak. Jika bukan persegi empat, tentu berbentuk segi tiga atau segi lima. Ada saudari tua yang senang makan, istirahat, tepat pada waktu-waktu tertentu; peraturan-peraturan itu telah membunuh banyak orang muda. Bagi diri Anda peraturan itu baik; namun bagi orang lain, berilah keluwesan sedikit. Ada penatua yang terlampau persegi empat; tetapi ada yang sangat bulat licin, terlampau diplomatik, seolah tidak ada garis pinggirnya. Kita memang harus bulat, tetapi bukan licin. Mereka yang melayani dalam kantor diaken haruslah jadi bulat. Pelayanan yang terlalu kotak akan membunuh semua orang. Janganlah mengotak, melainkan luwes dan dapat menghadapi segala situasi. Inilah jalan yang harus kita miliki dalam kehidupan sehari-hari. Berhubung kita berada di tengah-tengah jala-jala berkotak-kotak dan rantai, kita harus memiliki keluwesan.
m. Empat Ratus Buah Delima pada Kedua Jala-jala Itu
2 Tawarikh 4:13 mengatakan, “Keempat ratus buah delima untuk kedua jala-jala itu, dua jajar buah delima untuk satu jala-jala guna menutupi kedua bulatan ganja yang di atas tiang itu.” Terdapat 400 buah delima pada kedua jala-jala itu, dengan dua jajar buah delima untuk satu jala-jala guna menutupi kedua bulatan ganja yang di atas tiang itu. Mengapa bukannya disebut 300 atau 500 buah delima? Tuhan Yesus pernah mengatakan bahwa kita dapat berbuah 30 kali, 60 kali, dan 100 kali lipat (Mat. 13:8). Seratus kali lipat merupakan pertambahan yang paling tinggi. Jadi kita dapat mengekspresikan kelimpahan hayat 100 kali lipat. Kita tahu bahwa angka empat mewakili kita sebagai makhluk ciptaan. Ekspresi kelimpahan hayat yang seratus kali lipat terdapat pada manusia ciptaan. Bahwa keempat ratus buah delima ini tersusun dalam dua jajar buah delima untuk satu jala-jala menunjukkan kesaksian. Kita harus kuat, bukan hanya mengumumkan bahwa kita adalah kesaksian Kristus, tetapi juga memiliki kesaksian dalam kehidupan sehari-hari. Kita memerlukan kesaksian atas pengalaman terhadap kelimpahan hayat Kristus 400 kali lipat. Meski kita tidak luput dari masalah dalam hidup gereja, pekerjaan, dan rumah tangga kita, namun kita juga memiliki hayat bunga bakung, yang dalam Alkitab melambangkan hayat yang bersandar kepada Allah. Tuhan tahu bahwa setiap hari kita menemui masalah demi masalah. Jika hidup demi diri sendiri, kita tidak sanggup memikul masalah-masalah ini. Tetapi kita adalah bunga-bunga bakung di antara duri-duri. Duri-duri itulah masalahnya. Istri, anak-anak, cucu-cucu, penatua-penatua, dan para sekerja, semuanya adalah “duri”. Meskipun kita dikelilingi oleh “duri-duri” demikian banyak, tetapi puji Tuhan, kita masih hidup, tidak mati tertusuk. Hari ini kita hidup bukan sebagai raksasa, melainkan seperti bunga bakung. Kita bukan hidup berdasarkan kekuatan kita, melainkan hidup di dalam Allah berdasarkan iman. Kita hanyalah bunga bakung yang hidup di tengah-tengah duri. Semakin ada duri di sana, semakinlah baik, sebab duri-duri itu memberi kesempatan lebih banyak bagi pengekspresian kekuatan Allah. Kita berbeda dengan orang-orang dunia, mereka tidak memiliki Allah sebagai sandarannya.
Banyak orang Kristen yang menuntut mencari-cari semacam hidup gereja yang di dalamnya setiap hal bersifat surgawi. Mereka menginginkan setiap orang dalam hidup gereja yang surgawi ini seperti malaikat. Saya sendiri tidak pernah berpikir demikian. Namun saya benar-benar pernah menjumpai orang-orang yang seperti ini. Mereka banyak yang lari dari satu “gereja” ke “gereja” yang lain untuk mencari “gereja” yang surgawi. Ketika mereka merasa telah menemukan “gereja” surgawi, tidak lama kemudian, keadaan “gereja itu” terbongkar bahkan lebih jelek daripada yang duniawi. Menentukan normal atau tidaknya gereja terutama adalah berdasarkan tumpuan (lokalitas gereja), bukan berdasarkan tingkatan kesurgawian. Hari ini di bumi mustahil ada gereja surgawi yang seperti malaikat. Asal Anda masuk ke dalam hidup gereja, tidak lama kemudian, Anda akan me-nemukan bahwa diri Anda berada di tengah-tengah “duri”, Anda akan berkata, “Aku mengira orang-orang di sini semuanya adalah malaikat, tetapi sekarang aku tahu bahwa mereka kebanyakan bukan malaikat, melainkan duri. Aku tidak tahan lagi.” Meskipun saya mungkin adalah duri bagi Anda, namun Anda juga adalah duri bagi saya. Akhirnya kita saling “menusuk”, namun juga saling mengasihi satu sama lain. “Tusukan-tusukan” inilah yang membantu kita bertumbuh. Dalam tahun-tahun belakangan ini, “tusukan” di Ana-heim telah membantu kita bertumbuh. Jika segala sesuatu yang di dalam gereja lancar semua, seperti malaikat, niscaya tidak akan ada kesaksian kelimpahan hayat.
n. Seratus Buah Delima,
Sembilan Puluh Enam Mengarah ke Udara
Dari 100 buah delima, 96 buah delima mengarah ke udara (Yer. 52:23). Setiap jajar terdiri dari 100 buah delima, lalu mengapa Yeremia 52:23 mengatakan 96 buah? Karena catatan dalam Yeremia 52:23 berhubungan dengan perusakan tiang-tiang yang dilakukan oleh tentara Babilon, maka ada orang menyangka bahwa keempat buah delima dalam setiap deret rantai telah putus. Tetapi jika Anda membaca pasal ini dengan saksama, Anda akan nampak bahwa sebetulnya bukan demikian. Terjemahan King James mengatakan, “Ada sembilan puluh enam buah delima pada tiap sisi.” Terjemah-an ini tidak tepat. Menurut bahasa Ibrani “pada tiap sisi” seharusnya diterjemahkan “mengarah ke udara”. Jadi ayat ini seharusnya dibaca, “Ada sembilan puluh enam buah de-lima yang mengarah ke udara (LAI: yang merupakan gambar timbul); seluruhnya buah-buah delima itu ada seratus pada jala-jala itu berkeliling.” Perhatikanlah bahwa semua buah delima yang terdapat pada jala-jala berkotak-kotak ada 100 buah. Semuanya di sana, tetapi yang 96 mengarah ke udara. Terjemahan King James menyebut “sisi”, tetapi dalam bahasa Ibraninya “ruach”. Kata “ruach” ini berarti roh, angin, nafas, dan udara; menunjukkan sesuatu yang riil namun tidak kelihatan. The New American Standard Version menerjemahkan: ada 96 buah delima yang tersembul dan catatannya diberi penjelasan: “arah angin”, ditujukan mengarah ke angin atau mengarah ke udara.
Sembilan puluh enam buah delima merupakan gambar timbul sedang yang 4 tersembunyi. Apakah maknanya? Sembilan puluh enam adalah 12 kali 8. Dua belas menunjukkan kesempurnaan yang kekal, delapan menyatakan kebangkitan, sedang udara menyatakan Roh Kudus. Karena itu, ekspresi dari kelimpahan hayat adalah kesempurnaan yang kekal, di dalam kebangkitan, dan di dalam Roh. Inilah sifat dan atmosfir pengekspresian hayat kita. Ekspresi kelimpahan hayat kita adalah 12, yang kekal; bukannya 7, yang sementara. Selain itu, juga 8, yang menunjukkan kesegaran kebangkitan; bukannya 3, yang menunjukkan proses kebangkitan. Di sini bukannya proses kebangkitan, melainkan kesegaran, permulaan, awal dalam kebangkitan. Lagi pula ini mutlak merupakan perkara di dalam Roh. Kesembilan puluh enam buah delima itu “mengarah ke udara”, berarti ekspresi kelimpahan hayat adalah realitas udara rohani yang tidak kelihatan, tidak teraba namun terasa. Dalam Yohanes 3:8 Tuhan Yesus menyinggung angin maupun Roh, katanya, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” Kelahiran kembali dari Roh serupa gerakan angin. Angin bertiup dan Roh melahirkan kembali. Kita mengekspresikan kelimpahan hayat yang bukan hanya bersifat kekal dan di dalam kesegaran kebangkitan, lebih-lebih yang seluruhnya di dalam atmosfer Roh. Kapan saja orang-orang nampak kelimpahan hayat terekspresi atas diri kita, mereka segera merasa berada di dalam Roh, merasa ada semacam angin, udara, dan atmosfer yang segar. Sebaliknya, kapan saja kita masuk ke dalam suasana maut, kita segera merasa pengap. Tetapi ketika kita berada di dalam situasi yang penuh dengan ekspresi kelimpahan hayat, kita pun merasa diri kita berada di dalam atmosfer rohani dan merasa ada udara yang segar. Inilah makna 96 buah-buah delima yang mengarah ke udara.
o. Dari 400 Buah Delima,
Ada 16 Buah (Setiap 100 Buah Ada 4) yang Tersembunyi
Dari 100 buah delima ada 4 yang tersembunyi. Berhubung Alkitab tidak pernah ada kata-kata yang sia-sia, maka ayat-ayat ini pasti mengandung makna yang berkaitan dengan pengalaman kita. Satu-satunya jalan untuk memahami ini ialah melalui pengalaman. Dari setiap 100 buah delima, ada 4 buah yang tersembunyi, menunjukkan walaupun ekspresi kelimpahan hayat kita memang kekal, di dalam kebangkitan, dan di dalam Roh, namun apa adanya alamiah kita (yang ditunjukkan oleh angka 4), haruslah tertutup. Hayat alamiah kita, apa adanya alamiah kita, diri kita, dan ego kita harus tersembunyi seluruhnya. Meskipun saya pernah mencari tahu bagaimana buah-buah delima itu tersembunyi, tetapi saya gagal. Misteri ini hanya diketahui oleh Tuhan sendiri. Akan tetapi, jika kita mau meneliti pengalaman kita sendiri, kita akan berkata, “Amin.” Ketika kekayaan Kristus terekspresikan, orang lain bisa nampak ekspresi kekayaan hayat kekal ini di dalam atmosfer rohani dan di dalam kebangkitan, namun sukar untuk mengatakan di mana manusia alamiah kita tersembunyi. Ego kita tertutup, ini sangatlah berarti! Kapan saja “aku” muncul, di situ juga terdapat “4” yang besar, dan tidak ada “96”. Di sana tidak ada lagi udara, yang ada hanyalah hayat alamiah, manusia lama, dan ego. Tetapi kapan saja “4” tidak muncul, niscayalah terdapat 96 buah delima, yaitu ekspresi kelimpahan hayat Kristus di udara terbuka.
p. Tiang Itu Geronggang di Dalam, dan Tebalnya Empat Jari
Yeremia 52:21 mengatakan, “Adapun tiang-tiang itu . . . tebalnya empat jari dan geronggang dari dalam.” Setiap tiang merupakan silinder, tebal dindingnya empat jari, ruang dalam tiang merupakan rongga yang besar. Ini menunjukkan bahwa pembangunan Allah itu berasal dari manusia (yang diwakili oleh empat), yang di dalamnya penuh dengan Roh Kudus. Tidak perlu diragukan bahwa tiang tembaga menga-cu kepada orang-orang yang telah melalui penghakiman. Di dalam orang-orang yang telah dihakimi itu terdapat rongga, yang dipenuhi oleh realitas yang tidak kelihatan. Kita tidak seharusnya berupa tanah lumpur, yang tipis dan banyak pasir, sehingga di dalamnya tidak ada rongga. Sebaliknya, kita haruslah berupa tembaga, yang tebalnya empat jari, geronggang di dalam. Kemudian geronggang itu barulah mungkin dipenuhi oleh realitas, yaitu Roh itu.
q. Ukuran Dua Tiang Adalah 35 Hasta,
Satu Hastanya Tertutup
2 Tawarikh 3:15 mengatakan, “Di depan rumah itu dibuatnya dua tiang, yang tingginya tiga puluh lima hasta.” Dua tiang digabungkan tingginya mencapai 35 hasta, ada satu hasta yang tertutup. Dalam berita yang lalu saya pernah menyinggung bahwa papan-papan yang tegak di dalam kemah masing-masing selebar satu setengah hasta, papan-papan ini berdiri horizontal, berderetan satu demi satu. Namun tiang itu tidak hanya mempunyai aspek horizontal, juga mempunyai aspek vertikal. Kedua tiang tersebut diukur secara vertikal, satu tiang terletak di atas tiang yang lain. Ini menunjukkan bahwa pembangunan Allah bukan hanya secara horizontal, tetapi juga secara vertikal, bahkan ada sebagian yang tertutup. Dua saudara berdiri berdampingan itu mudah, namun menghendaki yang satu berdiri di bawah yang lain itu benar-benar sulit. Mau berdiri di atas orang lain pun tidaklah mudah. Ingin pembangunan itu kokoh, haruslah vertikal. Semakin vertikal, akan semakin terbentuk ruangan. Kita tidak seharusnya hanya berdiri berdampingan dengan orang lain, perlu pula berada di atas dan di bawah orang lain. Berdampingan tidak memerlukan kurban, juga tidak perlu ditutup sebagian. Tetapi jika kita hendak berdiri bersamaan secara vertikal, perlu ada sebagian yang ditutupi.
1 Raja-raja 7:15 mencantumkan bahwa setiap tiang tingginya 18 hasta; tetapi 2 Tawarikh 3:15 mencantumkan bahwa dua tiang tingginya 35 hasta. Jadi, menurut 2 Tawarikh 3:15, kurang satu hasta. Satu hasta ini pasti tertutup, dan menjadi kurban. Ada buku referensi menuliskan bahwa setengah hasta dari tiap tiang tertancap di dalam kaki tiang. Saya tidak menerima penjelasan semacam ini, karena Alkitab tidak mengatakan bahwa tiang itu berkaki. Buku referensi yang lain mengatakan bahwa kekurangan satu hasta itu terdapat pada sambungan dengan puncak tiang atau ganja. Saya percaya bahwa penjelasan ini yang tepat. Artinya, untuk berdiri vertikal, harus ada pengorbanan. Kalau Anda melihat pengalaman Anda sendiri, Anda tentu tahu bahwa berdiri berdampingan dengan orang lain tidak memerlukan pengorbanan apa-apa. Tetapi berdiri di bawah seseorang, seperti tiang di bawah ganja, itu perlu berkorban. Tanpa berkorban, Anda mustahil bisa berdiri di bawah orang lain. Kalau bukan membanting orang lain, Anda pasti melompat ke atas orang lain. Agar orang lain berdiri di atas, Anda perlu mengalah, mengorbankan bagian Anda. Saudari-saudari, Anda harus berkorban, barulah orang lain mungkin berdiri di atas Anda. Bukan saja diukur secara horizontal, Anda juga harus diukur secara vertikal. Bertahun-tahun lamanya saya terus berada di bawah beberapa orang. Berada di bawah orang lain, berarti memikul mereka, bahkan ada bagian kita yang tertutup oleh mereka. Karena berkorban demikian, barulah ada pembangunan yang vertikal.
r. Jala-jala Berkotak-kotak dan Rantai
pada Dua Puncak Tiang Masing-masing Tujuh Buah
1 Raja-raja 7:17 mengatakan, “Jala-jala (berkotak-kotak) untuk ganja yang ada di tengah tiang itu . . .tujuh pada ganja satu dan tujuh pada ganja yang lainnya.” (Tl.). Di sini diperlihatkan bahwa setiap ganja mempunyai tujuh kotak (kerawang) dan rantai kawat berpilin. Ini menyatakan bahwa semua keadaan yang ruwet hanyalah sementara, bukan kekal. Semua penanggulangan, peremukan, tekanan, adalah sementara, namun itu juga sempurna. Karena semuanya ini adalah angka tujuh. Pada suatu hari, semuanya ini akan lewat, tidak ada lagi jala-jala berkotak-kotak dan rantai. Kita akan beroleh mahkota emas sebagai pengganti jala-jala berkotak dan rantai kawat berpilin.
s. Angka Tiga Disembunyikan
Perhatikan, di atas dua tiang ini, angka tiganya tersembunyi. Ini menandakan bahwa Allah Tritunggal adalah tersembunyi. Lingkaran tiang 12 hasta, garis tengah ganja 4 hasta, di dalamnya terkandung angka 3, yaitu Allah Tritunggal, yang riil, tetapi tidak dapat dilihat. Dalam setiap keadaan, Allah Tritunggal itu riil, tetapi juga tersembunyi.
t. Tembaga, Bunga Bakung, Buah Delima,
Semuanya di Atas Kedua Tiang
Tembaga, bunga bakung, buah delima, semuanya di atas kedua tiang. Ini mewahyukan bahwa maut, kebangkitan, dan ekspresi hayat, semuanya adalah kesaksian di dalam pembangunan Allah. Hari ini kita di sini untuk kesaksian ini. Butir-butir ini sangat penting. Saya mengharapkan Anda mau menggunakan waktu untuk mendoabacakan dan mempersekutukan butir-butir ini, sampai butir-butir ini meresap dalam batin Anda, dan menjadi pengalaman Anda. Kemudian kita akan mengetahui apakah tiang dan bagaimanakah kita bisa menjadi tiang.