PEMBANGUN TIANG — HIRAM TUKANG YANG AHLI (1)
Dalam berita ini, yang merupakan sisipan dalam pelajaran kita mengenai tiang, kita akan membahas Hiram, si pembangun tiang (1 Raj. 7:13-15). Kitab 1 Raja-raja dan 2 Tawarikh banyak menyinggung tentang Hiram. Meskipun Daud dan Salomo telah menyediakan banyak tenaga ahli bagi pembangunan bait Allah, namun Hiramlah satu-satunya tukang atau ahli yang namanya disebut-sebut. Bukan hanya demikian, bahkan secara rinci diberikan penjelasan tentang latar belakang keluarganya, tentang ibu, bapa, dan dirinya sendiri. Dalam mempelajari Alkitab, kita harus paham bahwa dalam Alkitab tidak ada perkataan yang sia-sia. Setiap hal yang ditekankan atau diulangi pasti bermakna. Jangan mengira ini sekadar ayat-ayat yang mengulangi saja, kita harus mencari makna dari setiap pengulangan.
Sekitar lima puluh tahun yang lalu, saya pernah menggunakan banyak waktu untuk mempelajari kedua tiang dalam 1 Raja-raja 7, tetapi saat itu saya tidak nampak terang sedikit pun. Saya hanya nampak nama kedua tiang, yaitu Yakhin berarti “Dia akan membangun”, dan Boas berarti “di dalamnya ada kekuatan”. Namun, setelah kita melihat mimpi Yakub dan pengalamannya di Betel, kemudian mempelajari kedua tiang ini, ada terang yang besar, seperti terang hari keempat (Kej. 1:14-19), yang menyinari saya. Ketika mempelajari tiang, saya menjumpai banyak ayat yang menyinggung Hiram, si pembangun tiang. Melalui Roh yang berbicara di dalam saya, saya merasa harus memperhatikan butir ini. Sewaktu mempelajari tiang, meskipun Alkitab tidak menyinggung nama ibu dan ayah Hiram, tetapi saya juga mendapatkan terang. 1 Raja-raja 7:14 mencantumkan bahwa Hiram tergolong suku Naftali, dan hal ini membingungkan saya. Setelah mempertimbangkan hal ini lebih lanjut, saya merasa perlu menyiapkan sebuah berita yang lengkap untuk mengutarakan beban saya mengenai Hiram, pembangun tiang.
Mendengar mengenai pembangun tiang, Anda mungkin berkata, “Aku tidak yakin kalau aku bisa menjadi pembangun tiang. Asal belas kasihan dan anugerah Allah menjadikan aku sebatang tiang, aku sudah merasa puas.” Tetapi jangan terbatas demikian, anugerah Allah itu tidak terbatas. Anugerah Allah bukan hanya dapat membuat Anda menjadi tiang, bahkan dapat membuat Anda menjadi seorang pembangun tiang. Saya tidak mengatakan bahwa setiap orang akan menjadi tiang atau pembangun tiang, namun di hari-hari mendatang, saya percaya banyak orang, bahkan saudari-saudari, akan menjadi tiang-tiang. Jika Anda tidak percaya akan perkataan saya ini, tunggu saja beberapa tahun lagi, Anda pasti nampak banyak tiang akan berdiri tegak di dalam pemulihan Tuhan. Sampai saat itu saya sungguh girang. Tidak hanya demikian, saya percaya bahwa akan ada sejumlah orang akan menjadi Hiram, pembangun tiang. Allah memerlukan Hiram-Hiram ini. Pada zaman Salomo, yang dibangun hanya satu bait, tetapi sekarang banyak gereja lokal harus dibangun. Betapa banyak Hiram dibutuhkan dalam proyek ini! Setiap gereja lokal sedikitnya perlu satu Hiram. Bila di satu gereja lokal ada seorang Hiram, niscaya gereja itu dalam kemuliaan. Puji Tuhan, dahulu Dia telah membangkitkan beberapa Hiram; saya percaya, di hari mendatang, Dia akan membangkitkan lebih banyak Hiram.
I. IBUNYA SEORANG PEREMPUAN DAN
Sekarang kita akan melihat kadar atau konstitusi Hiram. Kita perlu mengetahui konstitusi dari pembangun-pembangun ini berhubung mereka bukan pembangun ba-ngunan yang biasa, tetapi ahli tiang. Pertama-tama, ibunya seorang perempuan Dan (2 Taw. 2:14 dalam bahasa aslinya tidak ada kata “bani”). Di sini tidak dijelaskan suku Dan, atau di dalam kota Dan. Bagaimanapun, dia itu berasal dari Dan, karena kota Dan juga merupakan tempat tinggal bani Dan. Ayah Hiram adalah orang Tirus, yang berasal dari kota Tirus, sebuah kota yang beragama kafir. Jadi, ibu Hiram berasal dari tanah kudus, sedang ayahnya berasal dari negara beragama kafir. Yang sangat mengherankan, Alkitab mengatakan pula bahwa Hiram berasal dari suku Naftali (1 Raj. 7:14). Jadi, ibunya dari Dan, ayahnya dari Tirus, dan Hiram sendiri dari suku Naftali. Kalau ayahnya dari Tirus, bagaimana dia bisa menjadi orang suku Naftali? Alkitab tidak memberitahukan. Ini adalah satu rahasia. Mungkin dalam terang Perjanjian Baru, kita dapat memahami rahasia ini. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa kita tadinya orang dosa sejak lahir, milik dunia; tetapi kita telah dilahirkan kembali, diubah, sehingga menjadi orang yang di dalam kebangkitan. Dilahirkan kembali, diubah, menjadi orang yang di dalam kebangkitan, berarti beralih kepada suku “Naftali”, bukan lagi orang “Dan” atau orang “Tirus”.
Izinkan saya mengambil contoh seorang penatua yang telah diubah. Seorang penatua tidak seharusnya seperti seorang satria, melainkan seorang yang telah diubah. Ada penatua yang lahir dari perempuan “Dan” dengan lelaki “Tirus”, tetapi dia harus diubah sehingga menjadi orang dari suku “Naftali”. Dalam hidup gereja, suku “Naftali” adalah suku perubahan. Begitu kita di dalam suku “Naftali”, maka kita tidak lagi seperti ibu “Dan” atau ayah “Tirus” kita. Mungkin Anda mengira bahwa mengartikan suku “Naftali” sebagai suku perubahan itu agak keterlaluan; namun coba baca seterusnya, Anda akan yakin bahwa memang sesungguhnya demikian. Di dalam kedua belas suku, hanya suku Naftali itulah suku perubahan. Yehuda adalah suku kerajaan; Lewi suku imam; Yusuf mendapatkan warisan ganda, Naftali adalah suku kebangkitan. Kebangkitan itulah perubahan.
Suku Dan merupakan suku berhala, yang menyebabkan umat Allah menyimpang keluar dari jalan Allah. Kejadian 49:17 mencantumkan, “Dan menjadi seperti ular di jalan, seperti ular beludak di denai yang memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang.” Menurut Hakim-Hakim 18, Dan benar-benar telah melakukan perkara-perkara ini. Mereka merebut imam upahan Mikha dan patung di ru-mah Mikha. Hakim-Hakim 18:31 mengatakan, “Demikianlah mereka (suku Dan) menempatkan bagi mereka sendiri patung pahatan yang telah dibuat Mikha itu.” Inilah ketersandungan bani Israel yang paling besar; inilah ular beludak memagut tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang. Tidak hanya demikian, Yerobeam, raja suku-suku di utara, menaruh dua anak lembu emas masing-masing di Dan dan di Betel, yang menyebabkan kejatuhan bani Israel (1 Raj. 12:28-30). Sebab itu, 1 Tawarikh 2—9 telah menyinggung secara detail setiap suku bangsa Israel, kecuali suku Dan. Dalam beberapa pasal itu, suku Dan telah dihapus dari catatan umat Allah. Selain itu, dalam Wahyu 7, di antara orang-orang Israel yang dimeteraikan, juga tidak disinggung suku Dan.
Marilah kita melihat lebih mendetail mengenai suku Dan. Kejadian 49:17 menyebut “Dan” sebagai “ular di jalan, ular beludak di denai”. “Dan” adalah seekor ular yang berbisa, seekor ular beludak, menggigit tumit kuda, “sehingga penunggangnya jatuh ke belakang”. Dalam perlombaan ekonomi Allah, ular ini menggigit tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang. Perkataan ini bukan diucapkan oleh mulut pemfitnah; melainkan oleh Yakub, ketika ia memberkati anak-anaknya. Saat ini Yakub memang ingin membagikan berkat kepada “Dan”, tetapi Yakub harus setia kepada inspirasi Allah. Segera setelah 49:17, Yakub lalu mengatakan, “Aku menanti-nantikan keselamatan yang dari pada-Mu, ya TUHAN.” Artinya: “Ya TUHAN, tolonglah aku terlepas dari ular ini, ular beludak ini.” Dalam 49:16 Yakub berkata, “Dan, ia akan mengadili bangsanya sebagai salah satu suku Israel.” Di sini Yakub berdoa, menghendaki Dan tetap sebagai salah satu suku Israel. Ini menyatakan bahwa “Dan” ada kemungkinan dihapus. Sebab itu, doa ayahnya merupakan juga nubuat. Allah telah mendengar doa Yakub. Dalam Kitab Yehezkiel kita nampak bahwa pada Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, suku Dan dipulihkan kembali (Yeh. 48:1).
Perkara-perkara yang detail mengenai Dan, menyatakan bahwa yang menjadi ibu adalah perempuan dari suku Dan, yaitu menyatakan bahwa dia berdosa. Ibu kita semuanya berdosa. Dalam Mazmur 51:7 Daud mengatakan, “Dalam dosa aku dikandung ibuku.” Ibu Hiram adalah perempuan dari Dan, fakta ini menyatakan sumbernya yang sama dengan kita, yaitu berasal dari orang yang berdosa. Paulus bahkan mengaku bahwa di antara mereka (orang-orang berdosa) “akulah yang paling berdosa” (1 Tim. 1:15). Dari sudut rohani, ibu Paulus juga seorang “perempuan Dan”. Kita harus mengakui ibu kita adalah perempuan “Dan” juga. Jika Anda ingin menjadi seorang pembangun tiang, maka pertama-tama Anda harus mengakui bahwa Anda adalah seorang yang terlahir dalam dosa. Mungkin kita nampaknya baik, rendah hati, bajik, lembut, dan murni; namun karena ibu kita “perempuan Dan”, maka sumber kelahiran kita ialah sumber ular. Dalam Matius 23:33 Tuhan Yesus menyebut agamawan-agamawan saat itu “ular” dan “turunan ular beludak”. Andaikata Anda berkata kepada saya, “Saudara Lee, Anda bukan orang yang baik; Anda keturunan ular beludak.” Saya akan menganggukkan kepala tanda menyetujui perkataan Anda. Di dalam kita, yakni di dalam daging kita, tidak ada yang baik (Rm. 7:18). Kita harus mengetahui apa sumber kita itu. Sumber kita ialah seorang perempuan “Dan”, yaitu seekor ular beludak, suku yang menggigit tumit kuda, sehingga penunggangnya jatuh ke belakang dari ekonomi Allah.
II. AYAHNYA ORANG TIRUS
Ayah Hiram adalah orang Tirus (1 Raj. 7:14). Menurut Yehezkiel 28, Tirus ialah tempat perdagangan yang ramai (Yeh. 28:16). Tirus merupakan pusat perdagangan, tempat perdagangan internasional, seperti Hongkong hari ini. Berhubung Tirus penuh transaksi-transaksi, sehingga mustahil terpisah dari Iblis (Satan) (Yeh. 28:12). Yehezkiel 28 menunjukkan bahwa raja Tirus bersatu dengan Iblis, bahkan adalah jelmaan Iblis. Di mana ada perdagangan, di situ ada Iblis, karena Iblis bersembunyi di dalam perdagangan. Jika Anda hari ini hendak melihat Iblis, pergilah ke Hongkong, kota perdagangan itu.
III. PERNIKAHAN ORANG TUANYA BERTENTANGAN
DENGAN KETETAPAN ALLAH YANG KUDUS
Pernikahan orang tua Hiram bertentangan dengan ketetapan Allah yang kudus (Ul. 7:3). Seorang perempuan suku ular beludak menikah dengan laki-laki kerajaan Iblis, kesatuan macam apakah ini! Seorang perempuan suku ular beludak, oleh karena harta kekayaan dan perdagangan, menikah dengan seorang laki-laki negara Tirus. Bukan saja pada zaman Hiram, bahkan hari ini, Anda juga perlu mempunyai keahlian mencari uang. Itulah sebabnya hari ini demikian banyak sekolah kejuruan di Amerika. Sekolah kejuruan ini mengajarkan ketrampilan, tehnik, dan perniagaan, agar orang-orang bisa mencari uang. Tujuan akademi dan universitas ialah melatih orang-orang menjadi pencari uang.
Saya juga menganjurkan Anda belajar mencari uang. Saya mendorong cucu-cucu saya untuk belajar kedokteran. Namun ada umat saleh menganjuri mereka agar jangan belajar ilmu kedokteran. Menurut mereka, asalkan membaca Alkitab dan mengasihi Tuhan saja sudah cukup. Tetapi anjuran saya, “Jangan mendengarkan kata-kata itu. Orang-orang yang berkata begitu tidak mengetahui apakah kehidupan ini. Kamu harus mendengarkan perkataan kakek, karena kakek lebih mengetahui perkara hidup. Belajarlah ilmu kedokteran.” Janganlah menganggap ini adalah mengasihi dunia, Anda akan nampak bahwa saya mempunyai tujuan yang pasti dalam mengerjakan hal ini. Hiram menjadi seorang ahli tiang. Jika ayahnya bukan orang “Tirus”, dia tidak akan mempunyai ketrampilan membuat tiang. Kita semua dilahirkan oleh ibu “Dan” dan kita semua memerlukan seorang ayah “Tirus”. Makin “Tirus” makin baik. Jika Anda mengira berkata demikian ini terlampau ekstrim, maka saya mohon Anda membaca berita ini sampai habis.
IV. MENJADI SEORANG SUKU NAFTALI
Menurut teks bahasa Ibrani, 1 Raja-raja 7:14 memberi tahu kita bahwa Hiram itu suku Naftali. Meskipun ibunya seorang perempuan Dan, dan ayahnya orang Tirus, tetapi akhirnya Hiram menjadi orang milik suku Naftali.
A. RUSA BETINA YANG TERLEPAS
Dalam Kejadian 49:21 Yakub mengatakan, “Naftali ada-lah seperti rusa betina yang terlepas, ia akan mengeluarkan kata-kata yang indah” (Tl.). Di sini Yakub sangat menghargai Naftali. Seekor rusa betina kelihatannya tidak ada hubungannya dengan kata-kata yang indah-indah. Namun kita tidak boleh memahami Alkitab menurut pikiran alamiah kita; kita harus memahami Alkitab menurut Alkitab.
1. Bersandar kepada Allah
dan Bersukaria di Dalam Allah
Rusa betina melambangkan orang yang bersandar kepada Allah di dalam situasi yang tanpa harapan. Habakuk 3:17-18 mengatakan, “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.” Pada situasi yang tanpa harapan, saat segala sumber suplai terputus, sekelompok orang masih tetap bersandar kepada Allah dan bersukaria di dalam Allah, orang-orang inilah rusa betina.
2. Berjalan di Tempat yang Tinggi
Habakuk 3:19 “ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.” Orang-orang yang bersandar ke-pada Allah, bukan berjalan di lembah, melainkan berjalan di puncak bukit. Jika Anda tidak tahu bersandar kepada Allah di dalam situasi yang tanpa harapan, saat itu Anda akan merangkak di lembah, Anda tidak akan berjalan dan melompat lincah di puncak gunung. Hanya orang-orang yang bersandar kepada Allah itulah yang bisa melompat lincah di puncak gunung dalam situasi yang tanpa harapan. Mungkin orang-orang berkata, “Tengoklah, pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang. Oh, situasi sungguh tanpa harapan, kita akan habis!” Ketika Anda mendengarkan perkataan demikian, Anda harus berkata, “Puji Tuhan! Sekarang inilah waktunya aku bersandar kepada-Nya.” Demikianlah Anda tidak akan putus asa, sebaliknya akan seperti rusa betina yang melompat-lompat di puncak gunung.
3. Hidup dalam Kebangkitan
Judul Mazmur 22 juga menyinggung rusa, di sana dikatakan, “Menurut lagu: Rusa di kala fajar.” Mazmur ini mengutarakan kebangkitan dalam Kristus setelah melalui penyaliban. Ayat 2 adalah kalimat yang diucapkan oleh Tuhan di kayu salib, “Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Tetapi ayat 23 mengatakan, “Aku akan memasyhurkan nama-Mu kepada saudara-saudaraku dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaah.” Ayat ini dikutip oleh Ibrani 2:12, yang menghubungkan ke-bangkitan Kristus dengan gereja. Sebab itulah Mazmur 22 dinyanyikan menurut nada lagu Rusa di kala fajar, yang menyatakan Kristus dalam kebangkitan untuk gereja. Dalam Perjanjian Lama, rusa betina tidak hanya mengacu kepada orang-orang yang bersandar kepada Allah dan berjalan di puncak gunung, juga mengacu kepada orang-orang yang hidup dalam kebangkitan untuk jemaah Allah, untuk hidup gereja.
Anda “rusa betina” atau “kura-kura”? Saya belum pernah melihat kura-kura melompat-lompat di puncak gunung. Kura-kura sering berada di tempat yang rendah, di pinggir air. Mereka yang bersandar kepada Allah bukanlah “kura-kura”, melainkan “rusa betina”. Mereka di dalam kebangkitan untuk jemaah Allah, untuk gereja. Hanya melalui dilahirkan kembali dan diubah, barulah kita bisa menjadi orang yang demikian. Naftali merupakan suku rusa betina. Rusa betina mewakili orang-orang yang dilahirkan kembali dan diubah, orang-orang yang bersandar kepada Allah, berjalan di puncak gunung, hidup dalam kebangkitan untuk hidup gereja. Alangkah indahnya hal ini!
B. MENGELUARKAN KATA-KATA
YANG INDAH
Naftali juga mengeluarkan kata-kata yang indah. Naftali terletak di tanah Galilea (Mat. 4:15) Angkatan rasul yang pertama berasal dari Galilea. Kisah Para Rasul 1:11 menyebut mereka “orang-orang Galilea”. Dari orang-orang Galilea, bangsa Naftali, terucap kata-kata yang indah, yaitu Injil yang mereka beritakan. Dalam Perjanjian Baru, kita nampak dari mulut orang-orang Galilea ini terucap firman hayat (Kis. 5:20), firman anugerah (Kis. 14:3), firman karunia keselamatan (Kis. 13:26), firman hikmat (1 Kor. 12:8), firman pengetahuan (1 Kor. 12:8), dan firman pembangunan (Kis. 20:32).
V. AYAH TIRUSNYA MENINGGAL,
IBU DAN-NYA MENJADI JANDA
Rasul Paulus itu betul-betul Hiram. Entah siapa ibu Paulus, namun dari sudut rohani, saya sungguh-sungguh yakin bahwa ibunya seorang “perempuan Dan”, anak pe-rempuan suku ular beludak. Tidak perlu diragukan lagi bahwa ayah Paulus menurut prinsip juga “seorang Tirus”. Paulus dididik dengan ketatnya di bawah pimpinan Gamaliel (Kis. 22:3), seorang ahli hukum Taurat. Saat itu hukum Taurat di antara orang Yahudi adalah ilmu pengetahuan yang paling tinggi. Siapa yang menjadi ahli hukum Taurat, ia dianggap orang yang paling hebat. Gamaliel mengajarkan segala sesuatu mengenai agama nenek moyangnya kepada Paulus. Menerima didikan di bawah pimpinan Gamaliel, sama dengan kuliah pada seminari hari ini. Meskipun seminari tidak mengajarkan tehnik-tehnik berdagang dan industri, tetapi dalam prinsipnya, kedua-duanya mengajarkan pengetahuan seperti sekolah-sekolah kejuruan.
Coba lihat Musa. Musa dilahirkan oleh ibu orang Yahudi, dan dibesarkan di istana Mesir. Kisah Para Rasul 7:22 mengatakan, “Musa pun dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.” Dia itu seorang terpelajar di Mesir. Paulus adalah seorang terpelajar yang memiliki pengetahuan agama, sedang Musa adalah seorang terpelajar yang memiliki pengetahuan duniawi, namun prinsipnya sama saja. Akhirnya Musa dan Paulus menjadi orang yang membangun tiang. Dalam 1 Korintus 3:10 Paulus berkata bahwa dia adalah “seorang ahli bangunan yang terampil”. Musa dan Paulus kedua-duanya mempunyai seorang ibu “Dan” dan seorang ayah “Tirus”. Keluarga kerajaan Mesir adalah ayah “Tirus” Musa, karena di sana dia telah mempelajari segala ilmu pengetahuan orang Mesir. Inilah sumber kecakapan Mesirnya. Pendidikan Gamaliel adalah sumber pengetahuan Paulus. Jadi, Gamaliel adalah ayah “Tirus” Paulus.
Sekarang kita harus melihat satu butir yang menentukan, yaitu semua ayah “Tirus” haruslah mati. Hiram mewarisi kecakapan dari ayah Tirusnya, tetapi akhirnya ayahnya meninggal dunia. Bagi Musa, keluarga istana Mesirnya juga sudah mati dan putus hubungan. Musa telah mempelajari semua ilmu pengetahuan Mesir, lalu terputuslah sumber Mesirnya. Demikian pula, setelah Paulus mempelajari segala yang diperolehnya dari Gamaliel, lalu sumber Gamalielnya terputus. Kita pun demikian, kita semua seharusnya anak janda. Ayah kita harus mati, dan ibu kita hidup sebagai janda. Ayah Mesir kita atau ayah Gamaliel kita harus mati, dan meninggalkan kita sebagai anak yatim bersama ibunya yang janda. Artinya sumber kecakapan dan duniawi atau pun agama kita harus terputus, tetapi sumber insani kita harus tetap tinggal. Hari ini kita semua harus mempunyai ayah almarhum dan seorang ibu yang hidup sebagai janda.
Pada zaman Musa, tidak ada seorang pun yang bisa seperti Musa mengerti rencana Allah atas pembangunan kemah, dikarenakan tidak ada orang yang telah memperoleh seluruh pengetahuan Mesir. Sebelum berusia 40 tahun, Musa telah menguasai pengetahuan-pengetahuan Mesir. Setelah mendapatkan pengetahuan ini, dia lalu mengira bahwa dirinya sudah memenuhi syarat untuk menyelamatkan bangsanya dari tangan orang Mesir (Kis. 7:23-25), tetapi ia gagal. Setelah Musa melarikan diri dari Mesir, dia lalu hidup di padang belantara selama 40 tahun. Ketika mencapai umur 80 tahun, dia memandang dirinya seolah-olah sudah mati. Dalam Mazmurnya, yakni Mazmur 90, Musa berkata bahwa, hidup manusia tujuh puluh tahun, jika kuat, delapan puluh tahun (ayat 10). Mungkin pada usianya yang kedelapan puluh, Musa berkata kepada dirinya, “Aku sudah habis! Apa yang bisa kulakukan? Empat puluh tahun yang lalu mungkin aku masih sanggup melakukan sesuatu, tetapi hari ini aku mustahil melakukan sesuatu. Meski aku belum mati, namun aku sudah mendekati mati.” Tatkala hampir mati di padang belantara, pada suatu hari Musa nampak semak duri yang menyala-nyala (Kel. 3:2). Semak durinya menyala, tetapi tidak termakan oleh api. Dalam penglihatan semak duri yang menyala-nyala, Allah seakan-akan berkata kepada Musa, “Musa, kamu akan Kubakar, tetapi tidak membakar habis kamu. Aku tidak membutuhkan kamu sebagai bahan bakar. Ketika kamu berusia 40 tahun, kamu masih mempunyai banyak bahan bakar, tetapi sekarang ini kamu sudah tua renta, tidak mempunyai bahan bakar apa-apa lagi. Sekarang inilah Aku akan menyalakan kamu.” Di saat Musa nampak visi ini, ayah “Tirus”-nya telah meninggal. Kemudian ketika dia memimpin bani Israel di padang belantara, segala ilmu pengetahuan yang ia pelajari di istana baru berguna semuanya. Karena tidak ada orang lain yang menguasai seluruh ilmu pengetahuan Mesir, maka tidak ada orang lain yang dapat melakukan pekerjaan yang dia lakukan di padang belantara.
Sama prinsipnya bagi saudara yang telah memperoleh pengetahuan Alkitab di masa lampau. Pengetahuan Alkitab ini merupakan ayah “Tirus”-nya. Dan ayah “Tirus” ini harus mati, sumber pengetahuan Alkitab harus ditamatkan. Kemudian apa yang telah dia pelajari di masa lampau itu barulah berguna dalam kebangkitan, barulah dia dapat memberitakan kata-kata yang jarang dapat diberitakan oleh orang lain. Sama seperti ilmu pengetahuan yang Musa pelajari di Mesir, berguna pada diri Musa dalam kebangkitan; demikian juga, apa yang kita pelajari dalam universitas, akademi teologi, seminari Alkitab, semua akan berguna dalam kebangkitan. Selama ayah “Tirus” kita masih hidup, kita masih tetap tinggal dalam hayat alamiah kita. Kecakapan “Tirus” tidak ada gunanya dalam pembangunan bait Allah.
Saya menganjuri kaum muda untuk meraih gelar sarjana. Jangan hal-hal kerohanian dijadikan alasan untuk tidak bersekolah. Sebaliknya, harus lebih rajin daripada murid-murid duniawi, mendapatkan nilai yang paling tinggi, meraih gelar yang paling tinggi. Jangan puas dengan menggondol sebuah gelar Ph.D, tetapi rangkaplah dua atau tiga gelar Ph.D. Belajarlah juga beberapa bahasa. Warisilah keahlian “Tirus” dan pengetahuan “Mesir”. Jadilah Doktor di bidang biologi, kedokteran, atau fisika nuklir. Setelah itu, biarkanlah ayah “Tirus” Anda mati. Saya telah memberi tahu Anda betapa saya mendorong cucu saya belajar ilmu kedokteran. Sekarang saya akan mengatakan isi hati saya yang sesungguhnya kepada Anda. Nanti setelah dia menyelesaikan pelajaran di perguruan tinggi ilmu kedokteran, saya akan memberi tahu dia, “Lupakan rencana dan keinginanmu menjadi dokter, gunakanlah pelatihan yang kamu peroleh dari ilmu kedokteran untuk menjelaskan Alkitab.” Pelatihan ilmu kedokterannya itu akan membuat dia menjadi seorang yang sangat berguna. Kaum muda, kuasailah pengetahuan yang terkini, tamatkan pelajaran Anda di perguruan tinggi, kemudian katakan selamat tinggal kepada ayah “Tirus” Anda. Ikuti kuliah Anda di seminari sampai lulus, dan kemudian katakan, “Selamat tinggal dan terima kasih seminari. Aku tidak ada lagi hubungan dengan kamu, namun aku akan memakai kecakapan yang kuperoleh darimu.”
Kaum muda, Anda harus belajar. Janganlah menjadikan pelajaran hayat yang diadakan seminggu tiga kali sebagai alasan untuk tidak belajar. Anda harus rajin belajar, tetapi harus pula membaca berita pelajaran hayat. Tanpa demikian, saya tidak berani mempercayai Anda, karena Allah pun tidak akan mempercayai Anda. Anda harus lulus dari perguruan tinggi “Tirus”, mendapatkan ilmu pengetahuan orang Tirus. Namun, Anda harus meletakkan ayah “Tirus” Anda ke dalam keranda serta menguburkannya setelah Anda mendapatkannya, supaya ibu “Dan” Anda menjadi janda. Demikianlah Anda akan menjadi milik suku Naftali, dipakai oleh Allah bagi pembangunan dalam kebangkitan.
Mungkin ada orang bertanya mengenai Rasul Petrus dan Yohanes yang tidak begitu berpendidikan. Kisah Para Rasul 4:13 menyebut mereka “orang biasa yang tidak terpelajar”. Ini memang betul. Tetapi siapakah tiang yang terkemuka dalam Perjanjian Baru? Tidak usah diragukan lagi, Paulus. Petrus hanya menulis dua surat, sedangkan Paulus menulis empat belas surat. Bahkan Petrus sendiri mengetahui kekurangannya, sehingga dia memperkenalkan Paulus dalam tulisannya, “Seperti yang telah dituliskan kepada kamu oleh Paulus, saudara kita yang terkasih, sesuai dengan hikmat yang dikaruniakan kepadanya” (2 Ptr. 3:15). Petrus sendiri mengakui bahwa dalam surat yang ditulis oleh Paulus ada hal-hal yang sukar dipahami (2 Ptr. 3:16). Seolah-olah Petrus berkata, “Kalian harus membaca Surat Kiriman dari Paulus, untuk mempelajari perkara-perkara yang lebih dalam, yang tidak dapat kuberikan kepada kalian.” Hari ini kita juga membutuhkan banyak Petrus, dan juga banyak Paulus, yang mampu menulis Surat Kiriman yang lebih banyak. Ada orang masih tetap berkata, “Lalu bagaimana dengan Yohanes? Bukankah dia telah menulis 21 pasal Injil Yohanes, dan 22 pasal Kitab Wahyu?” Pendidikan “Tirus” Yohanes hanya mengizinkan dia menulis sekian banyak; dia tidak mampu mengerjakan apa yang dikerjakan Paulus. Yohanes dapat berkata, “Pada mulanya ada Firman,” “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia,” dan juga, “ Lihatlah Anak Domba Allah!” Yohanes dapat memberi tahu orang, jika mereka percaya ke dalam Dia, mempunyai hayat; tidak percaya, pasti binasa. Namun Yohanes tidak sanggup menulis Roma pasal 4, pasal 7, atau Surat Efesus. Kalau orang menghendaki Yohanes berbuat demikian, dia akan berkata, “Aku tidak dapat melakukannya, pergilah kepada Saudara Paulus saja.” Yohanes mempunyai syarat untuk nampak visi perempuan pelacur besar dan Yerusalem Baru, namun tidak sanggup menulis Surat Roma, Surat Efesus, dan Surat Ibrani.
Dalam pemulihan Tuhan hari ini, diperlukan orang yang pernah menempuh pendidikan tinggi. Wahai kaum muda, Anda harus berusaha mencapai pendidikan yang paling baik. Aturlah jadwal hidup Anda sehari-hari sebagai berikut: tujuh setengah jam tidur, satu setengah jam makan, satu jam olah raga, delapan jam membaca buku, enam jam mengerjakan perkara rohani. Jika Anda mau memanfaatkan tenaga Anda seperti ini, maka nanti pada usia 30 tahun, Anda sudah boleh memulai pelayanan seperti Tuhan Yesus (Luk. 3:23). Bersekolahlah terus sampai umur 30 tahun. Asalkan banyak orang yang mau demikian, kita tidak akan kekurangan orang yang membangun tiang.
Jangan terlalu dini menikah. Saya tidak mengharapkan saudara menikah sebelum 25 tahun. Jangan terlampau dini dibebani oleh pernikahan dan anak-anak, gunakanlah waktu dan kekuatan Anda untuk belajar. Bagi saudara, mempunyai anak pada usia 26 itu sudah terlalu dini. Selain itu, saya juga tidak mengharapkan melihat saudari sebelum 22 tahun sudah menikah. Terlalu dini menikah dan terlalu dini melahirkan anak, bagi saudari adalah beban yang terlalu berat, bahkan mereka akan dirusak olehnya. Terimalah rencana yang saya usulkan, yaitu menikah pada usia 25 tahun dan lihatlah hasilnya, pasti berfaedah sekali bagi pemulihan Allah.
Apakah Anda tergesa-gesa ingin menjadi seorang Hiram? Kalau betul demikian, Anda harus berhubungan dengan ayah “Tirus” Anda, pelajarilah keahlian dan perniagaan “orang Tirus”, kuasailah ilmu pengetahuan “orang Mesir”. Jangan terburu-buru lepas sekolah. Anda harus sampai menggondol gelar sarjana, lebih baik lagi bila meraih gelar Doktor. Orang-orang dalam gereja seharusnya adalah kaum intelektual. Kita bukanlah orang yang tidak berkecakapan atau tidak terpelajar. Kita semua memiliki ilmu pengetahuan yang paling tinggi. Kita layak menguasai semua pengetahuan “Mesir”, tetapi jangan bekerja untuk “Mesir”, melainkan untuk Kemah Suci. Kita seharusnya bisa berka-ta, “Aku paham ilmu kedokteran, paham pengetahuan nuklir, tetapi aku tidak bekerja untuk itu, melainkan untuk pembangunan gereja. Walaupun aku telah belajar suatu ilmu, namun aku bukan bekerja untuk itu, melainkan untuk membangun tiang pada bait Allahku.” Untuk ini, ayah “Tirus” kita harus mati, ibu “Dan” kita harus menjadi janda, dan kita harus bersuku “Naftali”, suku perubahan. Jadilah orang yang penuh ilmu pengetahuan, tetapi janganlah apa yang telah Anda peroleh itu dipakai untuk usaha duniawi, melainkan gunakanlah semua yang telah Anda pelajari itu un-tuk pekerjaan pembangunan Tuhan. Hayat Anda dan antero diri Anda, bukan saja telah melalui perubahan, bahkan telah melalui peralihan. Anda bukan lagi milik “Dan” atau milik “Tirus”, tetapi mutlak milik suku Naftali. Sama seperti rusa betina yang terlepas, kita bersandar kepada Allah, berjalan di puncak gunung, serta hidup dalam kebangkitan bagi hidup gereja, menyalurkan perkataan hayat, anugerah, karunia keselamatan, hikmat, pengetahuan, dan pembangunan. Kalau demikian, kita akan menjadi orang-orang yang membangun tiang.