← Daftar isi Kejadian (6) · bab 12/16

PEMBANGUN TIANG — HIRAM TUKANG YANG AHLI (2)

Dalam berita ini kita akan melihat lebih jauh tentang pembangun tiang, yakni Hiram tukang yang ahli (1 Raj. 7:13-14; 2 Taw. 2:13-14).

Mengerti Alkitab tidaklah mudah. Adakalanya penerjemah menjumpai kesulitan pada suatu alinea, mereka lantas menduga bahwa turunan alinea tersebut mungkin keliru. Namun setelah kita mendalami wahyu Alkitab lebih lanjut, kita tidak bisa tidak menyembah Allah. Sering kali apa yang pada awalnya tampak keliru, akhirnya ternyata sebagai kebenaran misterius yang tersembunyi dalam Alkitab. Demikianlah halnya dengan 1 Raja-raja 7:14. Ayat ini mengatakan, “Dia (Hiram) adalah anak seorang janda dari suku Naftali.” Menurut terjemahan ini dan pengertian umumnya, “dari suku Naftali” menjelaskan “janda”. Ini akan berarti bahwa janda itu berasal dari suku Naftali. Tetapi 2 Tawarikh 2:14 mengatakan bahwa Hiram adalah “anak seorang perempuan dari Dan” (Tl.). Mana mungkin seorang perempuan Dan adalah juga tergolong suku Naftali? Ada penerjemah mengabaikan bahasa aslinya (Ibrani) dari 1 Raja-raja 7:14; mereka berusaha mengatasi hal ini agar tidak timbul pertentangan, namun tidak berhasil. Dengan mempelajari bahasa aslinya, bahasa Ibrani, kita tahu bahwa ayat ini seharusnya diterjemahkan: “Anak laki-laki seorang janda, dia termasuk suku Naftali.” Jadi, kalimat Hiram anak laki-laki ini termasuk suku Naftali, barulah memecahkan persoalan tadi.

Dalam catatan mengenai Hiram, tukang pembangun tiang, terdapat tiga golongan orang: orang Dan, orang Tirus, dan orang Naftali. Ibu Hiram dari Dan, ayahnya dari Tirus, dan ia sendiri termasuk orang suku Naftali. Kita tidak tahu bagaimana orang yang ibunya orang Dan, ayahnya orang Tirus, bisa menjadi suku Naftali. Kita hanya tahu bahwa Alkitab telah mencatat demikian.

VI. HIRAM BERALIH

KEPADA SUKU NAFTALI MERUPAKAN SUATU MISTERI

Alkitab sungguh dalam dan misterius, banyak hal yang diwahyukan di dalamnya sangat misterius. Nampaknya Hiram tidak ada alasan menjadi suku Naftali, namun Alkitab dengan jelas memberi tahu kita bahwa ia dari suku Naftali. Jika kita paham arti Dan, Tirus, dan Naftali, kita akan menyembah Allah. Dan adalah suku ular beludak di denai yang memagut tumit kuda (Kej. 49:17). Tirus merupakan pusat perniagaan yang bertalian dengan Iblis (Yeh. 28:12, 16). Alangkah ajaibnya, seorang yang dilahirkan dari perempuan yang berasal dari ular beludak dan laki-laki yang berasal dari umat yang bertalian dengan Iblis akhirnya menjadi milik suku Naftali.

Naftali adalah rusa betina (Kej. 49:21) yang berguna bagi Allah. Lukisan rusa betina dalam Perjanjian Lama sangat bermakna. Menurut Alkitab, rusa betina ditujukan kepada orang yang bersandar kepada Allah dalam situasi yang tanpa harapan. Karena bersandar ini, Tuhan kemudian menyuruh ia berjalan, bahkan melompat-lompat di tempat ketinggian (Hab. 3:17-19). Judul Mazmur 22 memperlihatkan bahwa rusa betina mengibaratkan pula Kristus yang telah menderita sengsara dan maut melalui penyaliban, kini telah masuk ke dalam kebangkitan bagi gereja. Ibrani 2:11-12 mewahyukan bahwa kebangkitan Kristus itu bagi gereja. Jadi, rusa betina menunjukkan orang yang bersandar kepada Allah, berjalan di atas puncak gunung dan hidup berdasarkan kebangkitan Kristus bagi pembangunan Allah.

Anda ingin menjadi yang mana — ular, orang “Tirus”, ataukah rusa betina? Saya sendiri sungguh ingin menjadi orang suku Naftali, bersandar kepada Allah, berjalan di tempat ketinggian dan hidup dalam kebangkitan Kristus bagi pembangunan Allah. Hiram justru orang yang demikian.

Ada orang setelah membaca ini, mungkin mengira bah-wa ini hanyalah suatu pengiasan atau inferensi (simpulan). Mengiaskan itu tidak ada salahnya. Bila memang terpandang huruf-huruf b-o-c-a-h, dengan sendirinya kita akan membacanya bocah (anak kecil). Pengiasan ini benar, bahkan diperlukan. Agar pengiasan sesuai dengan apa yang terdapat dalam Alkitab, kita harus pertama-tama mengerti Alkitab. Banyak yang tidak mengerti makna suku Dan atau negeri Tirus, sehingga mereka berkata, “Dan ya Dan, Tirus ya Tirus. Kita tidak perlu ambil pusing.” Kejadian 49:21 mengisahkan, “Naftali seperti rusa betina yang terlepas; ia akan mengeluarkan kata-kata yang indah” (Tl.). Boleh jadi Anda tidak pernah memperhatikan ayat ini. Naftali adalah rusa betina yang terlepas dan bebas. Rusa betina ini tidak terikat oleh apa-apa dan tidak terkurung dalam kandang, sebaliknya ia melompat-lompat dengan bebas di puncak gunung. Kita haruslah demikian, menjadi orang yang bebas dari segala ikatan dan belenggu buatan manusia.

Sekarang kita harus bertanya, “Bagaimanakah orang yang dilahirkan dari seorang ibu Dan dan ayah Tirus dapat menjadi milik suku Naftali? Ini sungguh misterius. Setiap orang Kristen seharusnya memiliki bagian sejarah pribadi yang misterius. Setiap orang Kristen pasti ada. Se-masih muda, saya suka sekali bermain sepak bola. Saya dapat bermain sepak bola sehari suntuk. Setelah beroleh selamat, saya pergi bermain lagi, namun terjadilah hal yang mengherankan. Ketika saya menunggu bola datang, saya merasakan bahwa kaki saya tidak ingin bergerak. Akibatnya, ketika bola itu betul-betul datang, saya tidak menendangnya. Dahulu saya paling cepat berlari dan menggiring, kini saya tidak dapat bergerak dan akhirnya mengundurkan diri dari permainan tersebut. Orang lain tercengang dan bertanya, “Ada apa?” Saya menjawab, “Aku sulit mengatakan.” Ini misterius. Tidakkah Anda juga mempunyai pengalaman misterius yang serupa? Kalau tidak, saya akan ragu apakah Anda ini saudara saudari dalam Tuhan. Tadinya saya seorang pemain sepak bola yang berbakat, kini mendadak menjadi orang yang lain. Selama 50 tahun ini, saya tidak pernah kembali bermain sepak bola.

Dalam hayat kita yang dilahirkan kembali terdapat un-sur yang misterius. Memang kita dilahirkan oleh ibu “Dan” dan ayah “Tirus”, namun kita telah dilahirkan kembali sebagai orang yang lain. Sampai-sampai orang muda di antara kita dapat bersaksi bahwa ada sesuatu yang misterius telah terjadi atas diri mereka. Dalam hidup mereka ada bagian yang misterius. Semakin Anda menempuh jalan ini, semakin misterius Anda. Istri saya tidak bisa tidak mengakui bahwa sering kali ia tidak memahami saya. Adakalanya sesuatu membuat saya gusar, tetapi beberapa menit kemudian, saya mulai berkata, “Oh, Tuhan Yesus! Puji Tuhan! Amin!” Sekalipun istri saya berusaha memahami apa yang terjadi di dalam saya, namun ia tidak dapat menduganya. Karena ini terlampau misterius, sehingga saya hanya dapat berkata, “Puji Tuhan!” Alangkah misterius!

Dan dan Tirus itu kelihatan, namun Naftali tidak kelihatan. Orang dapat melihat saya dilahirkan dari ibu dan ayah jasmani saya, tetapi mereka tidak nampak bagaimana saya menjadi orang yang misterius. Orang “Naftali” yang rohani, semuanya misterius dan tidak kelihatan. Orang lain tidak mungkin mengerti sepenuhnya. Bila teman sekelas Anda dapat mengerti segala sesuatu tentang Anda, niscaya habislah Anda. Anda bukan lagi seorang Kristen yang ajaib. Orang Kristen yang ajaib tidak boleh terpahami semudah itu. Sebaliknya, Anda harus sebagai teka-teki terhadap teman sekelas Anda atau rekan sekerja Anda. Dan Anda harus pula seorang yang misterius dalam hidup pernikahan Anda. Boleh jadi istri Anda yang terkasih itu seorang saudari yang baik, namun dalam pandangannya, Anda harus ada kadar misteriusnya. Kalau tidak, saya tidak berani percaya Anda adalah seorang saudara yang baik. Demikian juga saudari, hendaklah ada bagian yang misterius ter-hadap suaminya. Di hadapan Tuhan, saya dapat bersaksi bahwa ada beberapa hal yang tidak saya mengerti tentang istri saya. Ia sebetulnya mustahil menanggung begitu banyak, tetapi karena hayat misterius yang di dalamnya, ia mampu menanggung jauh lebih banyak daripada yang saya perkirakan. Kita, orang-orang Kristen, memiliki sumber dan asal mula yang misterius. Bahkan kita mempunyai Sang sumber yang misterius di dalam kita.

Hiram menjadi orang suku Naftali itu merupakan misteri bagi kita. Kita harus menundukkan kepala menyembah Allah atas unsur misterius yang tersembunyi dalam sejarah Hiram ini. Sungguh indah bahwa selain sejarahnya mengisahkan ibunya berasal dari suku ular beludak dan ayahnya dari kalangan pedagang di negeri yang bertalian dengan Iblis, juga mengisahkan ia menjadi orang milik suku Naftali. Sejarahnya mengandung bagian misterius pada hayatnya, dan bagian itu digunakan oleh Allah bagi pembangunan-Nya. Meskipun Alkitab tidak menyebutkan sebab-musabab hal ini, tetapi menurut pengalaman kita, kita bisa mengerti bahwa inilah bagian misterius pada hayat kristiani kita. Makin banyak bagian misterius ini, makinlah baik, karena bagian inilah yang membuat Hiram tergolong suku Naftali dan membuatnya menjadi tukang pembangun tiang. Demikian pula, bagian misterius ini menjadikan kita sesuai bagi pembangunan Allah. Kita tidak selayaknya hidup seperti orang yang dilahirkan dari “Dan” atau dari “Tirus”, melainkan harus hidup sebagai orang yang diubah menjadi orang suku Naftali. Haleluya! Hari ini, saya bukan milik “Dan” atau “Tirus”; saya milik suku Naftali.

VII. AYAH TIRUS, SUMBER KECAKAPAN DUNIAWI,

HARUS MENINGGAL,

AGAR ANAK YANG TELAH MEMPELAJARI KECAKAPAN INI

TERLEPAS DARI BELENGGU DUNIAWI.

Ayah Hiram dari Tirus itu meninggal. Alangkah bedanya, jika yang meninggal, bukan ayahnya, melainkan ibunya! Seandainya benar-benar demikian, maka cerita ini akan menyimpang dari pengalaman kita, dan kita pun tidak bisa mengiaskan bagian firman ini. Puji Tuhan bahwa “ayah” kita, bukan “ibu” kita yang meninggal. Ini menunjukkan bahwa sumber kecakapan duniawi telah diputus oleh Allah. Ayah ditujukan kepada sumber kecakapan, dan ibu ditujukan kepada eksistensi manusia. Bila “ibu” kita meninggal dan “ayah” kita hidup, kita akan menjadi “hantu” yang seluruhnya berbaur dengan dunia. Kita harus tetap eksis sebagai manusia. Bahkan Paulus berkata, “Aku telah disalibkan dengan Kristus, namun aku hidup” (Gal. 2:19-20). Manusia lama, “ayah” yang lama telah disalibkan, namun kita tetap hidup (eksis). “Aku” yang masih hidup (eksis) inilah “ibu”.

Musa adalah contoh yang baik. Ia dibesarkan dalam keluarga istana Mesir, telah belajar semua hikmat orang Mesir. Pada usianya yang ke-40, ia menganggap dirinya sudah cukup syarat untuk menolong bangsanya dari penindasan orang Mesir. Ternyata ia gagal dikarenakan ayah “Tirus”nya, yakni hubungannya dengan Mesir masih belum terputus. Ini berarti sumber kecakapannya belum terputus. Tuhan datang mencampuri urusan ini dan mematahkan hubungan itu, sehingga Musa lari ke padang belantara. Ayah “Tirus” Musa, yakni keluarga istana Mesir, sudah mati, namun ia sendiri tetap eksis. “Ibu” yang janda tetap ada; ia masih hidup, namun tidak lagi terikat oleh suaminya.

Mari kita terapkan hal ini ke dalam pengalaman kita. Anda dapat meraih gelar doktor dari Massachusett Institute of Technology, namun setelah meraih gelar ini, Massachusett Institute of Technology haruslah mati. Ini bukan berarti Anda harus mati. Anda harus tetap eksis, namun eksistensi Anda harus menjanda, terpisah dari sumber duniawi. Anda masih tetap memiliki kecakapan Anda, hanya sumber kecakapan itu telah terpenggal. Kelanjutan eksistensi Anda itu “ibu” dan sumber kecakapan Anda yang telah terpenggal itulah “ayah” Anda yang telah mati. Kini Anda memiliki kecakapan tanpa sumbernya, dan eksistensi Anda ini tidak lagi ada kaitannya dengan sumber duniawi.

Banyak saudara saudari muda yang kurang seimbang dalam hal ini, mereka berkata, “Kami berada dalam pemulihan Tuhan, kami mengharap Tuhan segera datang. Mungkin dalam dua tahun mendatang Dia sudah datang. Mengapa kami harus berjuang menyelesaikan sekolah lan-jutan atau pusing-pusing menyiapkan diri meneruskan ke perguruan tinggi? Lebih baik kami menggunakan waktu ka-mi untuk berdoa-baca dan bersekutu dengan saudara saudari lain. Tuhan segera datang. Buat apa kami harus membuang waktu kami untuk bersekolah dan belajar?” Bila sikap Anda demikian, Tuhan mungkin akan menunda kembali-Nya hingga Anda mau pergi sekolah. Sesungguhnya, Anda tidak saja harus menyelesaikan sekolah tinggi, bahkan juga harus lulus perguruan tinggi, atau juga meraih gelar profesor. Saya tahu isi hati orang muda. Banyak saudari mengira lulusan SMU atau paling tinggi akademi sudah cukup. Mereka akan berkata, “Kami saudari tidak bisa menjadi penatua. Mengapa kami harus membuang-buang waktu kami di sekolah? Bukankah lumayan belajar mengetik dan mendapat 600 dollar sebulan? Mari nikmati hidup orang Kristen yang ringan dan hidup gereja yang gembira.” Saudari, Anda harus melemparkan konsepsi itu. Tidak peduli berapa banyak Anda mengasihi Tuhan, asal Anda berpandangan demikian, Anda mustahil berguna banyak bagi-Nya. Waktu yang dihabiskan dalam belajar tidak akan sia-sia. Anda, orang muda, perlu menggunakan banyak waktu untuk belajar. Boleh jadi Tuhan datang kembali beberapa tahun lagi, namun Anda masih tetap perlu bersekolah dan belajar kemahiran “Tirus”. Bila Anda di bawah umur 23, Anda harus mencurahkan waktu Anda untuk bersekolah. Anda ha-rus menyelesaikan pelajaran universitas Anda pada usia 22 atau 23. Ini bukan peraturan gereja dalam pemulihan Tuhan, ini sekadar dorongan saya. Sejak kini, jika ada saudara saudari muda datang kepada saya, saya akan menanyai mereka sudah belajar di sekolah sampai tingkat apa. Jika ada seorang muda yang berumur 22 tahun mengatakan bahwa ia belum juga lulus SMU, saya tidak mau membuang-buang waktu untuk berbincang-bincang dengan dia. Orang semacam itu telah ketinggalan empat tahun di sekolah, mungkin ia sangat ketinggalan, tidak akan mengerti persekutuan saya tentang Alkitab. Namun jika ada yang menjawab bahwa dirinya baru tamat tingkatan doktorandus, saya akan senang berbincang dengan dia tentang rahasia kedalaman Alkitab.

Meskipun Anda harus berusaha meraih gelar yang ting-gi, namun setelah meraihnya, Anda harus siap untuk putus hubungan dengan dunia. Jangan membakar ijazah Anda (Anda akan membutuhkannya untuk keperluan bekerja), hanya berkatalah dalam batin, “Ayah ‘Tirus’ku telah mati. Hari aku lulus universitas adalah hari penguburannya.” Setelah Anda bersusah payah bertahun-tahun untuk meraih gelar Anda, Anda harus memasukkan ayah “Tirus” Anda ke dalam peti mati dan menguburnya. Jangan sekali-kali membanggakan diri telah lulus dari universitas. Setelah Musa meninggalkan keluarga istana Mesir, ia tidak pernah menyebut-nyebutnya lagi. Keluarga itu telah dikuburkan. Sayang, kebanyakan orang Kristen setelah meraih gelar profesor lalu suka menonjol-nonjolkan gelar itu di depan nama mereka. Lima puluh atau enam puluh tahun yang lalu, orang suka memamerkan dirinya lulusan Oxford atau Cambridge. Biarlah sementara orang bangga akan pendidikan mereka, tetapi kita, setelah meraih gelar, kita harus menguburkan Cambridge, Oxford dan semua universitas lainnya. Ayah kecakapan “Tirus” harus mati dan dikuburkan. Kecakapan itu berguna, namun “ayah” itu tidak.

Usai membaca ini, boleh jadi Anda tidak mengerti apa yang saya bicarakan ini. Memang ini misterius, tidak perlu dimengerti. Orang Kristen yang terbaik adalah mereka yang giat belajar, kemudian seolah-olah telah lupa bahwa mereka telah meraih gelar. Famili dan handai taulan mereka yang belum percaya tidak akan paham ini. Bagi mereka, ini sangat misterius, mengapa kita yang telah mencurahkan begitu banyak waktu dan tenaga untuk meraih gelar, kemudian justru tidak mengindahkannya. Puji Tuhan, mereka tidak paham akan kita! Inilah aspek lain rahasia kristiani kita. Kita orang Kristen memiliki banyak aspek yang misterius. Sebagai contoh, saya mengenal orang Kristen yang sangat ringan mengeluarkan uangnya bagi orang lain, padahal bagi dirinya sendiri, ia sangat irit. Para sanak famili tidak mengerti mengapa ia begitu murah hati terhadap orang lain, sedangkan terhadap dirinya sendiri begitu ketat. Kita orang Kristen seharusnya adalah orang-orang yang mempunyai sejarah misterius. Alangkah misteriusnya setelah meraih gelar, kemudian ayah “Tirus” itu kita lepaskan!

Tanpa ayah ini mati, kita akan dibelenggu olehnya kepada dunia, dan pendidikan kita akan menjadi tali pengikat yang paling kuat. Dalam tahun-tahun pelayanan saya, saya tahu bahwa tidak ada seorang pun yang berpendidikan tinggi yang sanggup memahami Alkitab tanpa melepaskan belenggu duniawinya. Bangga akan pendidikan akan menghalangi Anda untuk mengerti Alkitab. Betapapun tingginya pendidikan Anda, Anda harus rendah hati dan memberi tahu kepada Tuhan bahwa Anda ini anak kecil yang mau diajar dan di dalam Anda mutlak kosong. Anda harus bisa berkata, “Tuhan, walaupun aku telah merangkap tiga gelar doktor, namun aku tetap tidak tahu apa-apa. Aku tidak pernah dipenuhi oleh pendidikan. Aku sama sekali kosong di dalam roh, pikiran, dan segenap diriku.” Banyak orang profesional yang berpendidikan tinggi, mereka itu bukan kepalang angkuhnya. Karena itu, setelah mereka diselamatkan, mereka tetap tidak mampu menerima apa-apa dari firman Tuhan. Mereka terlampau dijajah oleh kesombongannya. Kita perlu putus hubungan dengan ayah “Tirus” kita seraya menjadi anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Meskipun kita berpengetahuan, tetapi kita tidak boleh angkuh karenanya atau dikuasai oleh pengetahuan; sebaliknya, kita menuang semuanya sampai kosong. Demikianlah kita akan dapat memahami Alkitab.

Kita perlu sejumlah saudara saudari yang bergelar doktor. Bila ada profesor Alkitab bahasa Ibrani atau Yunani, itu akan sangat berfaedah. Juga akan berfaedah bila ada beberapa yang meraih gelar doktor dalam bidang pengetahuan angkasa luar atau fisika nuklir. Gereja tidak seharusnya miskin atau bertaraf rendah. Gereja harus mempunyai orang-orang tingkat tinggi di bumi. Anak-anak muda, ini harus menjadi beban Anda.

VIII. IBU “DAN” MENUNJUKKAN

EKSISTENSI MANUSIA YANG SEBAGAI JANDA

Walau ayah “Tirus” harus mati, namun ibu “Dan” yang menunjukkan eksistensi manusia kita harus tinggal sebagai janda. Kaum muda, jika Anda menerima perkataan ini, setelah beberapa tahun berjerih lelah, Anda bisa mengucapkan, “Tuhan, terima kasih kepada-Mu atas perkataan tentang ayah “Tirus” dan ibu “Dan”. Aku telah beroleh gelar sarjana, dan ayah sarjana ini telah meninggal, kecuali ibu “Dan” yang masih hidup. Aku sebagai putra ibu yang janda ini, tetap memiliki kepandaianku.” Kalau demikian Anda pasti akan berguna di tangan Tuhan.

Kita boleh saja percaya Tuhan segera kembali, tetapi kita masih harus mengharapkan berumur panjang agar dapat dipakai oleh Tuhan. Dalam tahun-tahun awal ministri saya, saya sering berdoa seperti Salomo, yakni mohon Tuhan mengaruniakan hikmat, agar tahu bagaimana keluar masuk di tengah-tengah umat-Nya (1 Raj. 3:7, 9 Tl.). Saya bisa bersaksi bahwa Tuhan telah menjawab doa saya, membantu saya mengetahui bagaimana bertindak dalam rumah Allah dan bagaimana keluar masuk di antara kaum saleh. Di samping itu, saya sering berdoa, mohon Tuhan memberi saya umur panjang. Saya tidak ingin setelah belajar perkara Allah namun tidak lama kemudian meninggal. Sebaliknya, saya ingin hidup lama sehingga segala sesuatu yang saya pelajari akan berguna. Setiap anak muda harus mempunyai sikap ini dan berkata, “Tuhan, aku tahu Engkau segera kembali, tetapi aku tidak mau melihat-Mu dalam kebangkitan, aku mau melihat-Mu saat terangkat. Aku mau hidup sampai kedatangan-Mu. Bukan untuk kenikmatanku, melainkan agar aku menjadi orang yang berguna bagi tujuan-Mu di bumi ini.”

Saya pernah menangis ketika ibu saya meninggal pada tahun 1945. Kemudian, di hari-hari selanjutnya selama 32 tahun, meskipun saya mengalami banyak penderitaan, saya hampir tidak pernah menangis. Namun pada tahun 1972, ketika mendengar kabar Saudara Watchman Nee meninggal, saya menangis lagi. Saya menangis karena saya sangat de-kat dengannya, sangat dalam mengenal dirinya, bahkan da-lam pemulihan Tuhan saya telah mendapat bantuan besar darinya. Tahun demi tahun, ia nampak hal-hal baru dan memiliki pengalaman baru. Hampir segala sesuatu yang ia pelajari disalurkan kepada saya. Sejak tahun 1952 sampai ia berpulang pada tahun 1972, ia terus dipenjarakan. Saya yakin, selama 20 tahun itu, ia pasti telah mempelajari banyak hal, namun tidak sepatah kata pun yang terutarakan. Inilah penyebab sesungguhnya saya menangis. Alangkah akan berbeda keadaan hari ini bila Saudara Watchman Nee masih hidup di tengah-tengah kita. Meskipun saya bersyukur kepada Tuhan bagi mereka yang memikul tabut perjanjian bersama saya, namun di lubuk batin saya, saya tetap merasa kesepian. Andaikata Saudara Watchman Nee serta rekan sekerja senior lainnya masih hidup, saya tidak akan mempunyai perasaan semacam ini. Ketika bersama-sama mereka di daratan China, saya bisa bersekutu dengan mereka yang lebih berpengalaman. Saya bisa berunding dengan mereka dan mereka selalu bisa memberi bantuan yang saya butuhkan. Akan tetapi hari ini bila saya berunding dengan para saudara, saya merasa seolah seorang diri. Saya hanya mengharapkan di tahun-tahun yang akan datang, Anda akan mempunyai banyak orang yang setingkat dengan Anda, bersekutu dan melayani bersama-sama.

Ayah “Tirus” harus mati dan ibu kita harus tetap hidup. Artinya, kita mohon kepada Tuhan agar membuat kita panjang umur. Kita layak berkata, “Tuhan, aku tidak mau cepat-cepat meninggal, aku mau hidup sampai 80 atau 90 tahun. Jika saat itu Engkau belum juga kembali, barulah aku rela meninggal dunia. Namun aku lebih senang hidup sampai Engkau datang kembali.” Kita semua, terutama yang muda, harus berdoa sedemikian.

Tuhan sungguh penuh belas kasihan untuk mengabulkan doa saya mengenai panjang umur. Jangan mengira saya tidak pernah sakit. Saya pernah menderita sakit lambung dan TBC paru - paru berat, sampai-sampai baru sembuh setelah beristirahat dua setengah tahun. Untuk mempertahankan eksistensi kita, kita perlu melawan segala kelemahan. Katakan kepada Tuhan bahwa Anda tidak rela lemah tubuh atau tidak sehat. Jangan mengira bahwa orang yang rohani mesti lemah jasmani. Jangan berkonsepsi bahwa karena lemah jasmani maka dapat belajar bersandar kepada Tuhan. Konsepsi ini terlalu rohani. Kalau Anda terlalu rohani, Anda malahan tidak rohani sama sekali. Sebaliknya, Anda harus berkata, “Tuhan, aku tidak setuju mempunyai tubuh yang tidak sehat. Karuniailah aku selera makan yang baik, pencernaan yang normal, dan tidur yang nyenyak. Tuhan, berjanjilah kepadaku sebagaimana Engkau berjanji kepada orang lain. Sampai di mana hariku, sampai di sana pula tenagaku. Setiap hari aku dipenuhi oleh kekuatan. Aku tidak mau melewatkan satu hari pun dengan berbaring mengang-gur di atas tempat tidur. Aku tidak mau hidup semacam itu. Aku mau memiliki hidup yang kuat perkasa, sehat, sehingga berguna bagi tujuan-Mu.”

Selain berdoa demikian, Anda pun harus belajar baik-baik memelihara tubuh Anda. Harus berhikmat dalam hal makan. Tuhan memberi saya seorang istri yang baik, yang mengontrol makanan saya dengan ketat. Jika bukannya dia, maka saya selalu tergoda makan makanan yang manis-manis. Tetapi oleh pengontrolannya, hari ini saya sangat sehat. Tiap hari saya makan makanan yang paling sehat. Sembarangan makan sepanjang tahun, berarti bunuh diri secara perlahan. Belajarlah menjaga kesehatan Anda. Peliharalah badan Anda agar ibu “Dan” Anda yang menjanda itu tetap hidup. Tujuan kita dalam hal ini bukanlah kesehatan kita, melainkan agar kita berguna dalam tangan Tuhan.

Meskipun ada tentangan-tentangan, fitnah, dan kritikan, Tuhan tetap membuka pintu di seluruh Amerika. Ia telah memberi kita pintu yang terbuka, tidak seorang pun bisa menutupnya. Tetapi kita kekurangan tiang. Akhir-akhir ini, kita telah mendengar kesaksian tentang apa yang dilakukan Tuhan di berbagai tempat. Tetapi kita belum memiliki tiang untuk menyesuaikan pergerakan Tuhan. Pintu-pintu telah terbuka pula di Eropa, namun di sana kekurangan tiang. Kita harus mengakui bahwa kita kekurangan tiang. Kekurangan ini adalah akibat dari situasi yang lalu. Namun, sejak kini, kita harus memutuskan yang lampau dan mulai melangkah ke depan. Kaum muda harus bangkit dan memberi tahu alam semesta bahwa situasi masa silam telah berlalu. Kaum muda, katakanlah kepada Tuhan, “Kami orang muda tidak punya sejarah. Kami semua bangkit. Tuhan belas kasihanilah kami agar dalam tahun-tahun yang akan datang kami semua dijadikan tiang-tiang.” Inilah beban saya. Saya damba melihat beberapa tahun lagi banyak anak muda sudah siap diutus keluar. Jika ada dua tiang yang kuat pergi ke tempat yang baru, niscaya dalam beberapa bulan akan terbuka tiga tempat lagi. Pintu-pintu yang terbuka selalu menjadi berlipat ganda. Kita datang ke satu tempat, lalu kedatangan kita di sana mengakibatkan tempat-tempat lain ikut terbuka. Semua ini tergantung tiang.

Banyak kaum tua di antara kita telah menghamburkan hari-hari dalam tahun mereka. Hari-hari selama mereka hidup di dalam agama Kristen telah berlalu sia-sia. Tahun lepas tahun, segalanya tinggal tetap tanpa perubahan. Anak-anak muda kita tidak boleh demikian. Harus semakin baru bulan demi bulan. Meskipun demikian, saudara saudari yang tua tidak perlu putus asa. Maju belumlah terlambat. Gereja sangat membutuhkan orang-orang yang bisa menggembalakan orang lain. Kita semua harus berusaha menjadi orang yang berguna.

Saya sangat yakin bahwa jalan yang kita tempuh sekarang ini mutlak tepat. Tidak perlu mencari-cari jalan lain. Terjun saja ke dalam arus ini serta tinggal di dalamnya. Pergunakanlah kesempatan ini untuk belajar, menerima pelatihan, pembetulan, dan dipenuhi oleh Tuhan sehingga berguna bagi-Nya. Kita semua belajar menempuh jalan ini dan tidak akan kembali ke jalan yang lama.

Saya membenci jalan lama. Menurut jalan lama, mereka yang bersidang selalu mempertahankan pendapat dan pemikiran mereka yang menganggap bahwa diri mereka sudah sangat berpengalaman. Ketika seorang saudara menyuplaikan firman, mereka akan “menganalisis” berita itu, (sesungguhnya mereka itu sedang mengkritik), menghakimi apakah pemberitaan saudara itu sesuai dengan Alkitab atau tidak. Menganalisis saudara bukanlah tanggung jawab Anda. Biarlah Tuhan yang memperhatikan hal ini! Anda harus mempelajari pelajaran Anda sendiri, menerima semua penanggulangan yang membuat Anda berguna. Kita semua harus mengambil sikap yang demikian. Jangan mengira bahwa Anda terlampau tua untuk dipakai. Setiap orang yang ingin berguna pasti akan menjadi berguna.

Ini bukan doktrin, melainkan persekutuan saya yang riil terhadap Anda, terutama kaum muda. Kaum muda, saya harap Anda membuka segenap diri Anda sehingga Anda bisa membuat keputusan di hadapan Tuhan, “Tuhan, sejak kini, aku akan sedapat mungkin mempelajari apa yang perlu kupelajari. Tuhan, aku mohon Engkau membantuku dalam perkara ini. Setelah aku lulus, biarlah ayah “Tirus”ku mati, kecuali ibu “Dan”-ku tetap eksis. Tuhan berilah aku kehidupan semacam ini, agar aku berguna bagi-Mu.”

IX. KECAKAPAN DUNIAWI HANYA BERGUNA

BAGI PEMBANGUNAN ALLAH DALAM

KEBANGKITAN, YAKNI SETELAH AYAH

DUNIAWI MATI DAN ANAK YANG TAMAT

PELAJARAN MENJADI ORANG SUKU NAFTALI

Kecakapan (ketrampilan) duniawi yang kita peroleh hanya akan berguna bagi pembangunan Allah dalam kebangkitan, yaitu setelah ayah duniawi mati dan kita diubah menjadi suku Naftali. Setelah ayah “Tirus” mati dan ibu “Dan” menjanda, Anda tidak boleh tetap sebagai orang yang alamiah. Segala sesuatu yang alamiah itu sia-sia adanya. Kita tidak boleh menjadi orang yang alamiah, sebaliknya, kita harus melatih diri kita berada dalam kebangkitan atas setiap aspek kehidupan kita. Ini perkara yang besar. Semakin Anda melatih diri berada dalam kebangkitan, Anda akan semakin berguna. Bahkan atas hubungan dengan istri Anda, Anda juga harus dalam kebangkitan. Semua kecakapan yang kita peroleh haruslah berada dalam kebangkitan.

Dulu, dalam hal menulis sepucuk surat, saya sering mengulang menulisnya sampai dua atau tiga kali. Sebab setelah kali pertama saya menulisnya, terasa ada beberapa kalimat yang agak alamiah, tidak dalam kebangkitan. Lalu saya merobek surat itu dan menulis untuk kali kedua. Se-telah demikian berlatih menulis surat, masih harus menunggu sehari lagi barulah surat itu diposkan. Tujuannya adalah untuk memastikan apakah surat itu betul-betul dalam kebangkitan. Kita semua harus belajar hidup dan berperilaku dalam kebangkitan. Ini adalah perkara yang mendasar.

X. NAFTALI YANG TELAH DIUBAH PERLU

DIKELUARKAN DARI TIRUS DAN DATANG

KEPADA RAJA SALOMO DI YERUSALEM

TEMPAT PEMBANGUNAN ALLAH

Hiram dibawa keluar dari Tirus dan dibawa ke hadapan raja Salomo di Yerusalem. Ini berarti Naftali yang telah diubah itu harus dibawa keluar dari Tirus dan datang kepada raja Salomo di Yerusalem tempat pembangunan Allah (1 Raj. 7:13-14). Raja Salomo adalah lambang Kristus, dan Yerusalem, tempat di mana terdapat pembangunan Allah, melambangkan gereja. Salomo hari ini dengan pembangunan Allah yang sekarang ini, semuanya ada di dalam gereja. Dari aspek yang baik, boleh dikatakan gereja hari ini adalah Yerusalem. Walaupun ayah “Tirus” telah meninggal, ibu “Dan” yang janda tetap hidup dan Anda pun dalam kebangkitan, namun Anda tetap perlu datang ke gereja, karena di sinilah tempat Allah membangun. Allah tidak mau memba-ngun bait-Nya di Tirus. Mungkin Anda sangat berguna, tetapi jika Anda tetap di Tirus, Anda tidak akan berguna bagi pembangunan Allah. Jika Anda tetap di Tirus, Anda mungkin bersyarat, namun kedudukan dan tumpuan Anda keliru. Tuhan harus membawa Anda keluar dari Tirus dan datang ke Yerusalem. Jika ayah “Tirus” Anda telah meninggal, ibu “Dan” Anda menjanda dan tetap hidup, dan Anda berada dalam kebangkitan, juga datang ke Yerusalem, demikian barulah Anda berguna bagi pembangunan Allah.

XI. CONTOH MUSA DENGAN YOSUA,

DAN PAULUS DENGAN TIMOTIUS

Anda tentunya sudah paham contoh Musa dengan Yosua (Bil. 27:15-23), dan Paulus dengan Timotius (1 Tim. 1:1-3, 2 Tim. 1:1-2, 6-8; 2:1-3). Musa dan Paulus terlebih dulu menjadi tiang, kemudian menjadi pembangun tiang. Musa membangun Yosua dan Paulus membangun Timotius. Sesungguhnya bukan Musa yang menghantar umat Israel kepada perhentian, melainkan Yosua, tiang yang dibangun oleh Musa. Begitu pula Paulus, ia membangun Timotius dan Timotius menjadi tiang yang berdiri mempersaksikan gereja. Dalam contoh Musa dan Paulus kita nampak ayah “Tirus” mereka telah meninggal. Dalam Filipi 3:7, Paulus menyinggung latar belakang agamanya, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.” Paulus telah belajar banyak di bawah pimpinan Gamaliel (Kis. 22:3), tetapi Gamaliel, sumber kecakapan Paulus harus dipenggal. Tinggal Paulusnya yang tetap hidup. Lagi pula, Musa dan Paulus kedua-duanya dalam kebangkitan. Mereka juga telah dibawa keluar dari “Tirus” dan datang ke tempat pembangunan Allah. Pada Musa, bangunan ini adalah Kemah Pertemuan; pada Paulus, bangunan ini adalah gereja. Sejarah mencantumkan bahwa Musa dan Paulus sangat berguna dalam tangan Allah. Selain sebagai tiang, mereka juga ahli pembangun tiang. Inilah yang diperlukan gereja hari ini. Untuk memenuhi keperluan ini, kita semua harus berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, bagi kepentingan pembangunan-Mu, jadikanlah aku sebuah tiang, dan seorang ahli pembangun tiang.”