← Daftar isi Kejadian (6) · bab 13/16

DIUBAH (8)

Kita telah nampak bahwa Yakub dua kali mendirikan tiang di Betel (28:18, 22; 35:14). Dia tidak hanya mendirikan tiang, bahkan menamainya “Rumah Allah” (bait Allah). Sebagaimana telah kita singgung berkali-kali, hampir semua perkara dalam Kitab Kejadian merupakan benih kebenaran yang akan berkembang dalam kitab-kitab berikutnya. Inilah dasar kita untuk memahami Kitab Kejadian. Kalau kita ingin mengerti kitab ini, kita harus menelusuri perkembangan hal-hal yang bersangkutan di dalam kitab-kitab berikutnya hingga pada perkembangannya yang terakhir dalam Kitab Wahyu. Dalam berita-berita sebelum ini, kita telah melihat perkembangan tiang dalam Kitab 1 Raja-raja, 2 Tawarikh, dan Yeremia. Kini kita akan menelusuri jejak perkembangan ini sampai Perjanjian Baru. Di sana terdapat kata-kata yang jelas tentang tiga aspek tiang: para rasul adalah tiang gereja, segenap gereja adalah tiang, dan para pemenang dalam Yerusalem Baru juga adalah tiang.

c) Berhubungan dengan Pembangunan Gereja

a. Para Rasul Adalah Tiang Gereja

Galatia 2:9 mengatakan bahwa Yakobus, Kefas, dan Yohanes dipandang sebagai tiang utama (sokoguru) jemaat. Di sini Petrus disebut Kefas. Kita tahu bahwa Kefas adalah Petrus dan Petrus adalah Kefas. Ayat ini memakai panggilan Kefas, mengingatkan kita akan perubahan nama Petrus. Kali pertama Petrus dibawa ke hadapan Tuhan, Tuhan mengganti namanya dari Simon menjadi Kefas, yang berarti batu (Yoh. 1:42). Tidak diragukan, penggantian nama ini menyatakan bahwa maksud hati Tuhan ialah hendak mengubahnya menjadi batu bagi pembangunan Allah. Meskipun kita sudah biasa menyebut Petrus dan Yohanes, namun Paulus dalam Galatia 2:9 sengaja menyebut Kefas dan Yohanes, untuk menunjukkan kepada kita bahwa jika kita ingin menjadi tiang, kita perlu diubah. Simon yang alamiah harus diubah menjadi Kefas — batu.

Sekarang kita harus memperhatikan satu masalah: bagaimana seorang yang alamiah dapat menjadi tiang gereja. Hal ini dapat dicapai hanya melalui perubahan (transformasi). Menurut Perjanjian Baru, perubahan tergantung pada dilahirkan kembali. Melalui kelahiran kembali, hayat baru masuk ke dalam kita. Hayat inilah yang akan mengubah kita. Dari kelahiran jasmaniah kita telah mewarisi hayat yang usang, jahat, dan alamiah. Hayat macam ini sama sekali tidak dapat membuat kita menjadi pilar. Namun terima kasih kepada Tuhan bahwa hayat dari kelahiran kembali itu berbeda dengan hayat alamiah kita. Hayat baru ini adalah hayat ilahi, yaitu hayat Allah sendiri. Dalam Injil Yohanes, hayat ini disebut sebagai hayat yang kekal (Yoh. 3:16). Hayat kekal yang ditaburkan ke dalam kita pada saat kelahiran kembali inilah benih perubahan. Haleluya! Semua orang yang dilahirkan kembali telah menerima hayat ilahi ini! Kita semua memiliki benih perubahan ini. Sayang, banyak orang Kristen menaruh perhatian atas kelahiran kembali, tetapi sedikit sekali yang menaruh perhatian atas perubahan. Tidak banyak orang Kristen mendengar berita tentang perubahan, dan boleh jadi bahkan di antara kita pun ada yang belum pernah berdoa bagi perubahan mereka sendiri. Saya benar-benar serius untuk menganjuri Anda berdoa bagi perubahan Anda. Dulu kita perlu kelahiran kembali, kini kita perlu perubahan.

Seorang manusia terdiri dari tiga bagian: roh, jiwa, dan tubuh (1 Tes. 5:23). Ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus, menyeru nama-Nya, menerapkan darah-Nya, dan menerima Dia sebagai Penebus kita dan hayat kita, segera Roh Kudus masuk ke dalam roh kita sebagai Roh hayat. Akibatnya, kita dilahirkan kembali dan menerima hayat ilahi, hayat ini menjadi benih perubahan, tertabur di lubuk kita. Tetapi bagaimana dengan jiwa kita yang terdiri dari pikiran, tekad, dan emosi? Dalam roh kita telah memiliki hayat ilahi, namun pikiran kita masih perlu perubahan. Roma 12:2 membenarkan hal ini, “Berubahlah oleh pembaruan budimu.” Melalui pembaruan pikiran, emosi, dan tekad, kita mengalami perubahan. Bagian lubuk diri kita yang mendasar ini perlu diubah. Kemudian perubahan ini akan menjadikan kita batu-batu yang digunakan Allah dalam pembangunan.

Melalui kelahiran kembali ditambah pengubahan kita akan menjadi batu-batu yang digunakan bagi pembangunan Allah. Hari ini, pembangunan Allah ialah gereja, rumah Allah, bait Allah. 1 Petrus 2:4-5 mewahyukan bahwa Kristus adalah batu yang hidup dan kita yang dilahirkan kembali yang datang kepada-Nya, juga menjadi batu-batu hidup untuk pembangunan rumah rohani, yakni gereja yang selaku bait Allah. Pembangunan Allah hari ini ialah gereja, kelak ialah Yerusalem Baru. Kalau kita memperhatikan dengan sungguh-sungguh Wahyu 21, kita akan nampak bahwa Yerusalem Baru adalah perbesaran bait Allah. Hari ini, bait Allah ialah sebuah rumah, tetapi dalam alam kekekalan, bait Allah akan berupa sebuah kota, yang sudah tentu jauh lebih besar daripada sebuah rumah. Yerusalem Baru akan dibangun dengan batu-batu permata (Why. 21:18-20), di dalamnya tanpa debu, tanah liat, atau kayu. Nasib kita adalah menjadi batu-batu permata yang dibangun menjadi Yerusalem Baru.

Kini kita tiba pada masalah yang penting, yaitu bagaimana debu tanah bisa diubah menjadi batu. Kita ini terbuat dari debu tanah (2:7, Rm. 9:21, 23), namun Perjanjian Baru mewahyukan bahwa kita adalah batu-batu. Di sini seolah-olah ada pertentangan. Ditinjau dari segi alamiah, kita adalah tanah liat; tetapi dari segi rohani, dari segi perubahan, kita adalah batu-batu. Bagaimanakah perubahan dari tanah liat ke batu itu terjadi? Perubahan adalah penambahan Kristus ke dalam kita. Diubah bukan hanya Kristus masuk ke dalam roh kita, lebih-lebih Kristus meluas dari roh kita ke seluruh bagian kita. Jarang orang Kristen yang nampak hal ini.

Akhir-akhir ini, saya diberi tahu bahwa ada sekelompok orang Kristen yang dengan keras mendebat, katanya, Kristus hanya berada di surga tingkat tiga dan tidak berada di da-lam kita. Alkitab memang mewahyukan dan kita pun memberitakan bahwa Kristus hari ini berada di surga tingkat tiga di sebelah kanan Allah. Tetapi Ia pun sekaligus berada di dalam kita. Kedua hal ini dikatakan dalam Roma 8. Roma 8:34 mengatakan bahwa Kristus duduk di sebelah kanan Allah, menjadi Pembela kita, dan Roma 8:10 mengatakan bahwa Kristus di dalam kita. Jadi, Kristus ada di surga dan sekaligus di dalam kita. Orang-orang Kristen tadi bertanya, “Bukankah Kristus telah dibangkitkan dengan tubuh yang berdaging dan bertulang? Jika demikian, mana mungkin Ia masuk ke dalam Anda?” Menurut Alkitab, kita betul-betul yakin bahwa Kristus telah dibangkitkan dengan tubuh-Nya yang berdaging dan bertulang (Luk. 24:39). Namun dengarkanlah ini: Pada hari Kristus dibangkitkan, Ia di dalam jasmani-Nya yang berdaging dan bertulang itu, masuk ke dalam sebuah ruangan terkunci (Yoh. 20:19-20). Bagaimana mungkin Ia masuk ke dalam ruangan itu? Sudah tentu Ia tidak tampil sebagai hantu (Luk. 24:37, 39). Kita harus mengakui dengan khidmat bahwa kita tidak dapat menerangkan perkara ini.

Kolose 1:27 mengatakan, “Kristus di dalam kamu adalah pengharapan akan kemuliaan” (Tl.). Sekalipun Kristus telah bangkit dengan tubuh yang berdaging dan bertulang, Ia pun menjadi Roh pemberi hayat dalam kebangkitan (1 Kor. 15:45). Sebagai Roh Pemberi hayat inilah Kristus ada di dalam roh kita (2 Tim. 4:22). Bahkan Kristus bertumbuh dan bertambah terus di dalam kita. Semakin banyak Kristus ditambahkan ke dalam kita, semakin kita diubah dari tanah liat menjadi batu. Saya tidak percaya bahwa mereka yang tidak mengakui Kristus di dalam mereka itu dapat diubah. Mustahil mereka dapat memberitakan perihal perubahan. Namun kita bukan hanya memperhatikan berita - beritanya, lebih-lebih memperhatikan perubahan. Kita perlu diubah, dan perubahan itu baru mungkin terjadi jika Kristus ditambahkan ke dalam kita setiap hari. Tiap pagi kita perlu mendapatkan Kristus lebih banyak. Setiap hari Kristus perlu ditambahkan terus ke dalam kita.

Petrus, misalnya, adalah seorang nelayan Galilea yang kasar, tidak berpendidikan, dan bersifat cepat. Bicara dan tindakannya cepat, sehingga ia cepat membuat kesalahan. Namun, ia pun cepat mengaku salah dan cepat berpaling. Dalam kitab Injil, Petrus akhirnya berubah menjadi seorang rasul yang diberi nama Kefas dalam Surat Kiriman Rasul-rasul. Dari reaksi Petrus yang lambat dalam Kisah Para Rasul 10 dan Petrus yang cepat dalam kitab Injil, terdapat perbedaan yang mencolok. Di samping itu, kedua surat Petrus juga menunjukkan bahwa ia telah menjadi seorang yang berhati-hati. Dengan ini kita nampak bahwa sifat tabiatnya telah berubah dan orangnya pun telah diubah. Ia telah mutlak menjadi orang yang berbeda. Perkataannya mengenai Paulus (2 Ptr. 3:15-16) membuktikan bahwa ia telah berubah dan menjadi orang yang lain.

Anda ingat, pada suatu hari Paulus menegur Petrus secara terang-terangan (Gal. 2:11). Jika kita menjajarkan Galatia 2 dan 2 Petrus 3, kita akan nampak bahwa setelah Petrus dikecam oleh Paulus, ia masih mau membicarakan Paulus dengan kalimat yang baik, serta membicarakan tulisannya dengan kalimat-kalimat yang positif. Tetapi keadaan hari ini kebanyakan adalah: seseorang dicela oleh orang lain, lalu saudara yang dicela itu tidak mau memaafkan saudara yang mencelanya. Karena keadaan yang demikian, maka jarang saudara mau mencela saudara yang lain. Dalam kekristenan hari ini, jarang sekali terdengar kecaman yang membangun, hanya terdengar pembicaraan yang sungkan. Malahan ada yang memuji-muji di depan, namun mengkritik di belakang. Inilah praktek diplomatik kekristenan hari ini. Banyak orang Kristen yang main diplomasi, namun Paulus tidak main diplomasi. Ia itu seorang penegur yang tegas, terus terang, dan lurus. Sampai-sampai Petrus pun ditegurnya. Menurut konsepsi kita, Petrus seharusnya membalas, “Siapakah kamu? Ketika aku sudah seorang rasul yang senior, kamu masih seorang muda yang sedang menganiaya gereja. Kini sebagai pendatang baru, kamu belum memenuhi syarat dan tidak berhak menegur aku.” Petrus tidak bereaksi secara demikian. Dalam kata-katanya dalam 2 Petrus 3, ia mengakui bahwa dalam menuliskan ekonomi Allah ia kurang daripada Paulus. Ia mengakui bahwa beberapa hal yang diutarakan oleh Paulus itu dalam dan sulit dimengerti. Sikap ini menunjukkan Petrus tidak lagi alamiah, ia telah diubah menjadi orang yang lain. Saya harap beberapa tahun lagi, banyak di antara Anda akan diubah sehingga jujur, terus terang, dan lurus dalam hal menegur orang lain; dan mereka yang ditegur akan diubah, bisa menerima teguran tersebut. Dalam Perjanjian Baru kita jelas nampak bahwa Petrus diubah menjadi Kefas, menjadi salah satu tiang utama gereja. Petrus sendiri sebagai batu hidup, dia berkata bahwa kita pun adalah batu-batu yang hidup. Ini menunjukkan bahwa agar dapat menjadi tiang, haruslah diubah melalui jalan penambahan Kristus ke dalam kita.

b. Gereja Adalah Tiang Penopang Kebenaran

Dalam Perjanjian Baru kita diberi tahu pula bahwa se-genap gereja adalah tiang. 1 Timotius 3:15 mengatakan, “Jadi, jika aku terlambat, engkau sudah tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” Istilah kebenaran dalam ayat ini sukar dipahami. Ada yang mengatakan kebenaran berarti doktrin. Ini benar, namun tidak cukup. Dalam bahasa Yunani, kata kebenaran di sini menunjukkan sesuatu yang riil dan konkret. Jadi, kebenaran itu berarti realitas. Tetapi kebenaran bukan hanya realitas yang konkret, lebih-lebih ekspresi dari realitas ini. Kebenaran bukan sekadar doktrin yang kosong, melainkan ekspresi dari realitas, tersusun dari realitas serentak menyatakan doktrin realitas ini. Gereja adalah tiang yang menopang kebenaran, yaitu menopang ekspresi realitas.

Realitas yang ditopang oleh gereja diwahyukan dalam 1 Timotius 3:16, “Sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita, Dia, yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia (daging), dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan.”

Kebenaran dalam ayat 15, ekspresi realitas, adalah rahasia ibadah dalam ayat 16. Rahasia ibadah itu ialah Allah dinyatakan dalam daging. Ketika Kristus di bumi, Ia itulah Allah dinyatakan dalam daging. Secara lahiriah, Ia adalah manusia dalam daging. Namun secara batiniah, dalam keadaan yang sesungguhnya dan realitas, Ia adalah Allah. Allah dalam realitas-Nya ternyata pada manusia Yesus. Allah itu realitas dan Yesus, manusia dalam daging, merupakan penyataan Allah. Inilah kebenaran yang disebut dalam ayat 15 dan inilah rahasia ibadah. Ibadah berarti serupa dengan Allah. Rahasia ibadah ialah rahasia serupa dengan Allah. Ketika Yesus hidup di bumi sebagai manusia dalam daging, orang-orang yang nampak Dia nampak rupa Allah. Meskipun Ia itu manusia, namun Ia mengekspresikan Allah. Serupa dengan Allah ini suatu rahasia (misteri). Rahasia serupa dengan Allah ini harus dilanjutkan dalam gereja hari ini.

Gereja adalah kelanjutan dari rahasia ibadah. Dalam berita ke-86 kita sudah melihat bahwa dalam diri orang Kristen ada bagian yang rahasia. Secara prinsip, seluruh gereja haruslah merupakan suatu rahasia. Bila ada orang yang belum percaya masuk ke dalam sidang kita serta meninjau keadaan kita, tentu ia tidak akan mengerti. Walaupun kita menganggap diri kita biasa dan sederhana, tetapi orang yang belum percaya akan berkata, “Apa-apaan ini? Apa yang menarik mereka datang bersidang ini? Tanpa hiburan atau pengkhotbah yang ternama. Siapa orang-orang ini? Mereka nampaknya tidak modern, pun tidak kuno. Kita tidak dapat menyebutkan orang macam apakah mereka ini.” Alasannya ialah kita ini misterius. Bukan lahiriah yang saya maksudkan, melainkan sesuatu dari Allah ternyata di dalam kita. Ini riil namun tidak tertampak, sehingga sulit untuk dijelaskan. Bila gereja sekadar murni, bersih, lemah lembut, rendah hati, dan suci, maka kita telah menyimpang dari sasaran. Gereja seharusnya merupakan kelanjutan pernyataan Allah dalam daging. Orang-orang mengkritik bahwa kita membicarakan kelanjutan penyataan Allah dalam gereja ini berarti mengungkapkan bahwa manusia bisa menjadi Allah melalui evolusi. Menuduh kita mengajarkan evolusi itu berarti memfitnah kita dan menghujat Tuhan. Hidup gereja yang normal adalah kelanjutan dari penyataan Allah dalam daging. Ekspresi inilah kebenaran yang ditopang gereja sebagai tiang. Jika sebagai gereja kita menopang kesaksian ini, kita akan dapat berkata bahwa kita adalah kelanjutan rahasia ibadah.

Kita tidak ingin mengekspresikan kekudusan kita sendiri atau sesuatu dari diri kita. Kita ingin mengekspresikan Allah dan nampak Dia ternyata pada tubuh daging kita. Kita mengakui bahwa kita masih tubuh daging, tetapi Allah yang tinggal di dalam roh kita akan ternyata dan terekspresi pada tubuh daging kita. Penyataan ini bukan individual, tetapi korporat. Hidup gereja yang normal adalah penyataan Allah secara korporat pada tubuh daging.

Satu-satunya jalan agar gereja dapat menjadi ekspresi korporat Allah pada tubuh daging, ialah pengubahan. Setiap orang dalam hidup gereja harus diubah. Kadang-kadang kita menyebut saudara yang tua atau saudara yang muda. Tetapi di dalam gereja kita jangan mempunyai pikiran yang tua dan yang muda, karena kita semua sedang diubah. Memang kita belum diubah sempurna, tetapi paling sedikit kita sedang dalam tahap pengubahan. Lupakanlah umur Anda dan perhatikanlah fakta bahwa Anda berada dalam proses pengubahan. Jika saya tetap memikirkan diri saya ini orang China, habislah saya. Di dalam gereja, tidak ada yang tua atau muda, China atau Amerika, Yahudi atau Yunani (Kol. 3:11). Dalam gereja, kita semua diubah me-lalui ditambahkannya Kristus ke dalam kita. Anda tidak seharusnya menjadi seorang saudara tua atau saudara muda, melainkan seorang saudara yang tiap hari menerima Kristus bertambah di dalam Anda. Saudara yang dewasa perlu meng-ingatkan saudara yang muda jangan memanggil mereka saudara tua, yang muda pun harus minta kepada saudara yang dewasa jangan memanggil mereka saudara yang muda. Di samping itu, jangan menyebut beberapa saudara golongan utara dan yang lain golongan selatan. Di dalam gereja tidak ada golongan utara atau golongan selatan, yang ada hanyalah saudara yang sedang diubah. Tidak ada hitam, putih, kuning, merah, Yahudi atau Yunani, kecuali orang-orang yang sedang diubah, yakni Kristus ditambahkan ke dalamnya tiap hari, dan orang-orang yang merupakan ekspresi Allah dalam Kristus. Inilah gereja yang sebagai tiang yang menopang dan yang menunjang rahasia ibadah.

Setelah mendengar berita tentang Hiram, si pembangun tiang, orang-orang muda lalu tergerak untuk belajar lebih banyak. Ini baik sekali. Agar menjadi pembangun tiang yang baik, Anda perlu mendapatkan pendidikan yang baik dan mengalami pengakhiran sumber pendidikan itu. Akan tetapi, jika Anda meraih gelar yang lebih tinggi tanpa Kristus, Anda tetap nihil. Unsur dasar yang membangun Anda sebagai tiang bukanlah gelar dari fakultas, melainkan Kristus yang ditambahkan ke dalam Anda. Tidak peduli Anda memiliki gelar berapa, asal kurang Kristus, Anda tidak akan menjadi tiang. Unsur dasar untuk menjadi tiang bu-kanlah pendidikan atau kecakapan Anda, melainkan Kristus, yaitu Kristus yang ditambahkan ke dalam Anda. Inilah fak-tor yang mendasar untuk dijadikan tiang. Tiang haruslah merupakan kelanjutan penyataan Allah pada tubuh daging.

d) Disempurnakan dalam Yerusalem Baru

Kini kita harus maju lagi untuk melihat tiang (soko guru) dalam Yerusalem Baru. Wahyu 3:12 mengatakan, “Siapa yang menang, ia akan Kujadikan tiang (soko guru) di dalam Bait Suci Allah-Ku, dan ia tidak akan keluar lagi dari situ; dan padanya akan Kutuliskan nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem Baru, yang turun dari surga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.” Dalam ayat ini kita nampak penyempurnaan tiang dalam Yerusalem Baru.

a. Pemenang yang Menuruti Firman Tuhan

dan yang Tidak Menyangkal Nama Tuhan,

Dijadikan Tiang dalam Perluasan Bait Allah

Menurut Wahyu 3:12, kita semua dapat menjadi tiang dalam Yerusalem Baru. Dalam Wahyu 3:8 Tuhan Yesus berkata, “Aku tahu bahwa kekuatanmu tidak seberapa, namun engkau menuruti firman-Ku dan engkau tidak menyangkal nama-Ku.” Kemudian dalam Wahyu 3:11 Dia berkata, “Peganglah terus apa yang ada padamu, supaya tidak seorang pun mengambil mahkotamu.” Mula-mula, Tuhan memberi tahu orang-orang yang berada dalam gereja di Filadelfia bahwa mereka mempunyai sedikit kekuatan, me-nuruti firman-Nya, dan tidak menyangkal nama-Nya. Kemudian Dia memberi tahu mereka agar mempertahankan apa yang ada pada mereka. Mereka harus menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan. Bila kita demikian, kita akan menjadi pemenang dan Tuhan akan menuliskan pada kita nama Allah-Nya, nama Yerusalem Baru, dan nama-Nya yang baru. Sekarang kita harus melihat apa arti menuruti firman Tuhan, tidak menyangkal nama Tuhan. Hal-hal ini dalam dan sukar dijelaskan.

Secara dangkal, menuruti firman Tuhan berarti Tuhan bersabda dan kita menurutinya. Dia menyuruh kita melakukan sesuatu dan kita melakukannya. Ini betul, tetapi sangat dangkal. Untuk menuruti firman Tuhan, kita perlu melakukan dua hal: di aspek positifnya, kita perlu menerima segala apa adanya Dia ke dalam kita, dan di aspek negatif-Nya, kita perlu membunuh semua konsepsi dan opini kita. Ini bukan hanya masalah Tuhan memberi tahu kita untuk saling mengasihi atau saling membasuh kaki satu sama lain, kemudian kita mengasihi orang lain dan membasuh kaki orang lain. Pengertian semacam ini terlalu dangkal. Firman Tuhan mewakili diri Tuhan sendiri. Bila kita mau menerima firman sebagai ekspresi diri Tuhan, kita harus menyingkirkan opini dan konsepsi kita sendiri.

Opini Anda itulah yang menghalangi Anda menuruti firman Tuhan. Boleh jadi Anda jarang menuruti firman Tuhan karena opini Anda telah menghalangi Anda. Dalam berita ini kita terus membicarakan perihal pengubahan. Roma 12:2 menunjukkan bahwa pengubahan terutama menanggulangi pikiran. Kita diubah dengan pembaruan pikiran, yaitu sumber konsepsi dan opini kita. Diubah berarti konsepsi dan opini kita terbunuh. Tidak seorang pun dari kita yang berani mengatakan bahwa dirinya tidak beropini atau berkonsepsi. Ada orang mungkin bertanya, “Apakah kita harus menjadi kayu, tanpa perasaan, pengetahuan, atau kesadaran?” Tentu tidak. Kita harus hidup. Namun semakin kita hidup, semakin kita dipenuhi dengan opini dan konsepsi. Semakin saya mendoakan hal ini sambil memikirkan pengalaman saya, semakin saya menyadari bahwa menuruti firman Tuhan sebetulnya ialah diubah.

Jalan untuk diubah ialah menerima firman Tuhan ke dalam kita dan menurutinya. Sebagian besar dari kita tidak menuruti firman Tuhan, karena kita terhalang oleh opini dan konsepsi kita. Setiap orang mempertahankan opininya sendiri. Orang yang melayani firman sering berdoa kepada Tuhan, mohon Tuhan menyingkirkan opini para pendengar firman dan menyingkirkan selubung konsepsi mereka. Sepatah kata mungkin sudah jelas, namun konsepsi dan opini Anda itu akan menghalangi Anda untuk menurutinya. Kalau kita ingin menuruti firman Tuhan, pertama-tama kita harus membuang opini kita, kemudian membiarkan Tuhan Yesus bertambah di dalam kita.

Sekarang mari kita melihat apa artinya tidak menyangkal nama Tuhan. Nama selalu menunjuk kepada orang. Ketika saya memanggil nama seorang saudara, saudara itu datang. Jadi, tidak menyangkal nama Tuhan berarti tidak menyangkal persona Tuhan.

Semua nama denominasi, misalnya Baptis, Metodis, Lutheran, Presbyterian, harus dikesampingkan. Nama penting sekali. Meskipun Anda mungkin tidak menyadarinya, namun bila Anda menerima sebutan denominasi, sesungguhnya Anda telah menolak nama Kristus, berarti juga menolak persona Kristus. Meskipun Anda bukan sengaja melakukan ini, tetapi faktanya memang demikian. Kalau Anda tidak bermaksud menyangkal nama Kristus, Anda tidak semestinya memiliki nama denominasi apa pun. Pada masa lampau beberapa misionaris dan pendeta pernah berbincang-bincang dengan saya mengenai hal ini. Mereka semua mengatakan bahwa mereka tidak begitu mempedulikan nama-nama denominasi. Saya lalu berkata kepada mereka, “Jika benar-benar tidak begitu mempedulikan nama-nama ini, seharusnya bisa membuangnya. Mengambil sebuah nama lain di atas nama Tuhan ini sangatlah serius. Sangatlah nyata, bagi kebanyakan orang tidaklah cukup hanya sebagai seorang Kristen saja. Mereka mengambil nama lain sambil berkata, “Aku Lutheran,” “Aku Presbyterian,” atau “Aku Baptis.” Berbuat demikian ini berarti menyangkal nama Tuhan. Pada abad delapan belas, Kaum Saudara (the Breth-ren) nampak terang ini, lalu membuang semua nama lain dan mendeklarasikan bahwa mereka hanya memegang satu nama — nama Tuhan Yesus Kristus. Inilah nama yang unik. Tetapi ini bukan sekadar nama yang terdiri dari huruf-huruf saja, bahkan nama yang memiliki persona.

Kalau kita tidak menyangkal nama Tuhan, maka kita akan mempunyai persona-Nya sebagai persona kita dan persona-Nya akan menjadi tanda (merek) kita. Pada saat Anda bekerja, mungkin di sebuah perusahaan besar yang berpegawai ratusan orang, tidak perlu Anda memasang merek orang Kristen. Cukup mengekspresikan persona Kristus saja. Gagal mengekspresikan persona Kristus sesungguhnya berarti menyangkal nama-Nya. Kita harus hidup sedemikian rupa sehingga Kristus diekspresikan melalui kita. Jika kita mengekspresikan Kristus, maka yang kita ekspresikan itu akan menjadi tanda kita dalam tutur kata orang lain. Orang lain akan mengatakan bahwa kita adalah orang Kristen. Persona yang kita ekspresikan menjadi nama kita, menjadi tanda kita. Orang tidak akan mengatakan bahwa Anda orang China atau orang golongan utara. Satu-satunya sebutan mereka terhadap Anda ialah orang Kristen.

Kurang lebih 40 tahun yang lampau, ada seorang saudara bekerja sebagai karyawan di sebuah perseroan yang besar. Teman-teman sekantornya menyebutnya “Yesus”. Ketika mereka melihat dia, mereka berkata (secara mengejek), “Inilah Yesus.” Ketika orang Jepang menyerang China, banyak karyawan perseroan ini berencana untuk melarikan diri. Namun, karena mereka mempunyai banyak uang dan barang-barang berharga lainnya yang harus ditinggalkan, mereka mencari-cari seseorang yang bisa dipercaya untuk menyimpan barang-barang tersebut. Setelah mempertimbangkan dengan matang, akhirnya mereka memutuskan untuk mempercayakan uang dan barang mereka kepada saudara yang mereka juluki “Yesus” itu. Ini menunjukkan bahwa mereka mempercayai Yesus. Saudara itu sudah tentu tidak pernah menyebut dirinya dengan nama Yesus, namun dia mengekspresikan persona Kristus dalam kehidupannya, sehingga kehidupannya itulah tandanya. Inilah makna sejati tidak menyangkal nama Tuhan. Gereja di Filadelfia hidup berdasarkan Tuhan, dan hayat Tuhan diperhidupkan melalui gereja. Karena itu, persona-Nya menjadi sebutan kaum saleh itu.

Menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan berarti membuang opini dan konsepsi kita, menerima firman Tuhan ke dalam kita, dan lebih banyak memperoleh diri Tuhan. Jika kita demikian, kita akan memperhidupkan Dia sebagai persona. Nama persona ini ialah Yesus. Menuruti firman Tuhan bukanlah perkara teori, mengakui nama-Nya juga bukan sekadar mengucapkan beberapa perkataan. Menuruti firman-Nya berarti menerima Dia ke dalam segenap diri kita, menyingkirkan konsepsi dan opini kita, sehingga Ia mempunyai kedudukan di dalam kita. Tidak menyangkal nama-Nya ialah memperhidupkan Kristus sebagai persona, sehingga Ia menjadi tanda kita. Ini ditujukan kepada pengubahan.

b. Memiliki Nama Allah Kristus,

Nama Kota Allah Kristus, dan Nama Kristus yang Baru

Dalam Wahyu 3:12 Tuhan berkata bahwa kepada pemenang, Ia akan menuliskan “Nama Allah-Ku, nama kota Allah-Ku, yaitu Yerusalem Baru, yang turun dari surga dari Allah-Ku, dan nama-Ku yang baru.” Dalam Kitab Wahyu, Kristus menyebut Allah sebagai “Allah-Ku”, sebab dalam kitab ini Ia berdiri pada kedudukan sebagai Orang yang diutus, yaitu yang diutus oleh Allah untuk merampungkan ekonomi-Nya. Dalam keempat kitab Injil, Tuhan juga selalu berdiri di atas kedudukan ini, yakni kedudukan yang diutus oleh Allah. Ia telah diutus oleh Allah, dari Allah, dan datang bersama Allah, untuk merampungkan kehendak Allah. Ia tidak pernah bertindak menurut kemauan-Nya sendiri, melainkan senantiasa menurut kehendak Allah (Yoh. 6:38). Bahkan ketika di kayu salib, Ia berseru, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” (Mat. 27:46). Hari ini kita pun harus berdiri pada kedudukan ini dan berkata, “Aku adalah orang yang diutus. Aku diutus oleh Tuhan untuk menggenapkan kehendak-Nya. Aku tidak memiliki kedudukan, pendapat, atau konsepsi yang lain. Kehendak-Nya saja yang harus terlaksana.” Mengatakan, “Allah-Ku,” menunjukkan bahwa kita bukan bertindak berdasarkan diri sendiri, melainkan melaksanakan kehendak Allah. Kita bukan bekerja untuk usaha kita sendiri, melainkan untuk menggenapkan kehendak-Nya. Ada nama “Allah-Ku” yang dituliskan pada diri Anda menyatakan bahwa Anda adalah orang yang demikian. Anda seperti Tuhan Yesus ketika di bumi, bukan melakukan kehendak Anda sendiri, melainkan menggenapkan kehendak Allah. Bukan bertindak berdasarkan diri sendiri, melainkan senantiasa hidup di dalam kehendak Allah. Inilah makna nama “Allah-Ku”.

Tuhan juga berjanji untuk menuliskan pada pemenang nama Yerusalem Baru, kota Allah-Nya. Ini sangat dalam dan misterius, artinya, Yerusalem Baru, bangunan ini, bukan menurut maksud siapa pun, melainkan menurut kehendak Allah. Semua yang dibangun dalam kota ini adalah serupa dengan Tuhan Yesus yang diwahyukan dalam keempat kitab Injil. Mereka tidak bertindak menurut kemauan mereka sendiri, melainkan menurut maksud Allah. Hanya mereka yang seperti inilah yang memenuhi syarat untuk ditandai dengan nama kota Allah Kristus, Yerusalem Baru.

Terakhir, dalam Wahyu 3:12 Tuhan berjanji menuliskan nama-Nya yang baru pada pemenang. Jika kita adalah orang yang digambarkan dalam berita ini, tentunya kita akan mempunyai pengalaman yang baru terhadap Kristus. Sebagian besar orang Kristen hanya memiliki pengalaman yang terbatas akan Kristus sebagai Penebus mereka. Tidak banyak yang mengalami Kristus sebagai hayat mereka; kalaupun ada, juga dangkal. Berapa jauh pengalaman Anda akan Kristus? Pengalaman Anda terhadap Dia jangan hanya seinci saja, melainkan harus bermil-mil jauhnya. Kristus bukan hanya Penebus dan hayat kita, Dia pun Raja, Nabi, Imam, terang, kekuatan, kebenaran, kekudusan, pengu-bahan dan banyak hal lainnya. Dalam kidung kita terdapat beberapa nyanyian yang menyajikan 50 butir lebih apa adanya Kristus bagi kita. Semakin Anda mengalami Kristus, semakin baru Ia terhadap Anda, dan nama-Nya semakin dituliskan pada Anda. Mula-mula Kristus sebagai Penebus dituliskan pada Anda. Kemudian, Kristus sebagai hayat, terang, kudus, kesabaran, dan kasih, juga akan dituliskan pada Anda. Nama-Nya tidak ada habis-habisnya. Penulisan nama-Nya pada Anda tergantung pada pengalaman Anda. Semakin Anda mengalami Dia, semakin panjang penulisan nama ini. Ibarat kamera film yang ditaruh di mobil, begitu mobil jalan, kamera film mengambil gambar, semakin jauh mobil berjalan, semakin banyak kamera memotret. Ketika mobil berhenti, pemotretan pun berhenti. Tidak seorang pun dapat mengatakan apa nama baru Kristus yang dikatakan dalam ayat ini, karena itu adalah tanda atas pengalaman baru Anda terhadap Kristus. Ketika Anda mengalami Kristus dalam suatu aspek, aspek Kristus itu lalu menjadi tanda Anda, yaitu nama baru yang dituliskan pada Anda. Bila kita ingin menjadi tiang, kita perlu diubah dengan membiarkan Kristus bertambah terus di dalam kita. Dengan demikian, pengalaman kita atas Kristus akan diperpanjang dan kita pun akan berkata, “Bukan kehendakku, melainkan kehendak-Nya.” Kita tidak bertindak berdasarkan diri kita sendiri, melainkan menurut perkenan hati-Nya. Kemudian nama Allah, nama kota Allah, dan nama Tuhan yang baru, akan dituliskan pada kita.