← Daftar isi Kejadian (6) · bab 15/16

DIUBAH (9)

Di Betel, Yakub melakukan beberapa perkara yang sangat bermakna. Ia telah membangun mezbah, mendirikan tugu batu (tiang), mempersembahkan kurban curahan, dan menuangkan minyak ke atasnya (Kej. 35:7, 14-15). Dalam berita ini kita akan melihat Yakub mempersembahkan kurban curahan dan menuangkan minyak ke atas tiang yang ia dirikan.

2) Mempersembahkan Kurban Curahan di Atas Tiang

Ingatlah, hampir setiap perkara yang disebutkan dalam Kitab Kejadian merupakan benih kebenaran yang berkembang dalam kitab-kitab berikutnya. Berhubung Kejadian 35:14 yang pertama menyinggung tentang kurban curahan, maka ayat ini merupakan benih kurban curahan. Bila hanya ada ayat ini saja, kita sulit memahami makna kurban curahan. Agar bisa memahami arti kurban curahan, kita harus menelusuri perkembangannya baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru.

Sebagaimana telah kita bahas, Yakub dua kali mendirikan tiang di Betel. Pada kali pertama ia tidak mempersembahkan kurban curahan di atas tiang, ia hanya menuangkan minyak ke atasnya. Pada kali pertama Yakub menuangkan minyak, bukan arak, ke atas tiang, dikarenakan dalam Alkitab, minyak tidak terlalu banyak memerlukan pengalaman di pihak kita, namun arak adalah tergantung pada pengalaman kita. Pada kali pertama Yakub datang ke Betel, ia tidak mempunyai pengalaman tentang Tuhan. Ia hanyalah seorang perebut muda yang tidak punya arak untuk dituangkan untuk Tuhan. Itulah sebabnya dalam pasal 28 ia tidak dapat mempersembahkan kurban curahan. Tetapi 20 tahun kemudian, setelah ia dijamah oleh Tuhan dan sedikit diubah, ia kembali ke Betel. Karena ia telah mempunyai beberapa pengalaman, maka ia mempunyai sedikit arak untuk dituangkan ke atas tiang sebagai kurban curahan kepada Tuhan. Ingatlah, kurban curahan mutlak berhubungan dengan pengalaman kita.

a) Setelah Mengalami Kelimpahan Kristus,

Ditambahkan Selain Kurban Pokok

Walaupun semua kurban merupakan lambang Kristus dan untuk pengalaman kita, namun tetap ada perbedaan di antara kurban pokok dengan kurban curahan. Kurban penghapus dosa, salah satu kurban pokok yang melambangkan Kristus, adalah bagi pengalaman orang berdosa. Sebelum orang berdosa datang mempersembahkan kurban penghapus dosa, mereka belum berpengalaman sama sekali. Mereka memperoleh pengalaman setelah mempersembahkan kurban penghapus dosa kepada Allah. Sebelum ini, tidak perlu ada pengalaman apa-apa. Akan tetapi, sebelum Anda dapat menuangkan kurban curahan, Anda harus mempunyai pengalaman yang cukup. Tanpa pengalaman, mustahil Anda dapat memiliki persembahan ini, karena kurban curahan ini tersusun dari pengalaman kita terhadap Kristus.

Dalam tujuh pasal permulaan Kitab Imamat, terdapat lima kurban pokok: kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan (pendamaian), kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Sebelum Anda mempersembahkan Kristus sebagai kurban-kurban pokok ini, Anda tidak perlu mengalami Kristus. Namun kurban curahan sepenuhnya tergantung pada pengalaman kita. Ini sangat penting. Banyak orang beriman yang tidak paham akan kurban pokok, lebih-lebih tidak paham akan kurban curahan, sebab mereka kurang pengalaman riil terhadap Kristus. Demi belas kasihan Tuhan, dalam pemulihan Tuhan, kita harus setiap hari mengalami Kristus secara riil. Mengalami-Nya hari lepas hari sebagai kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Pada awalnya kita hanya demikian mempersembahkan Kristus. Tetapi ketika kita bertambah maju mengalami Kristus, akhirnya kita akan menemukan satu kurban selain kurban-kurban pokok ini — kurban curahan.

Misalnya, seseorang baru diselamatkan sehari, dengan sendirinya ia belum sempat mengalami Kristus. Namun bila ia menetap dalam hidup gereja yang normal, kaum beriman akan membantunya nampak bahwa ia perlu hidup berdasarkan Kristus, secara riil menerima Kristus sebagai hayatnya. Ketika ia berlatih hidup berdasarkan Kristus, lambat-laun ia akan mengenal bahwa Kristus begitu limpah terhadapnya. Kaum beriman pasti akan membantunya nampak bahwa Kristus adalah kurban bakarannya. Ia akan mengerti bahwa ia harus mutlak bagi Allah. Namun, ia akan menemukan bahwa ia tidak mampu mutlak. Meski-pun demikian, Kristus adalah kemutlakannya. Melalui pengalaman ini, Kristus akan menjadi kurban bakaran bagi kepuasan Allah. Selain itu, ia akan menikmati Kristus sebagai kurban sajian, yaitu sebagai Dia yang tidak hanya memuaskan Allah, tetapi juga memelihara dan menyuplai dirinya. Demikianlah dari hari ke hari ia akan menerima Kristus sebagai makanannya, sehingga Kristus merawat dan memelihara dia hidup di hadirat Allah, sehingga Allah dipuaskan. Melalui jalan ini, ia mengalami Kristus sebagai kurban sajian. Dengan demikian pula ia akan mengalami kurban-kurban pokok lainnya. Melalui mengalami Kristus secara demikian, akhirnya ia akan menjadi orang yang dipenuhi dan dijenuhi oleh Kristus. Kristus yang menjenuhinya akan menjadi araknya. Dia akan dijenuhi oleh arak ini, bahkan secara riil bersatu dengan arak ini.

Ada orang mungkin merasa heran, berdasarkan apa kita mengatakan Kristus itu arak. Ini bukan perkataan saya, melainkan firman Tuhan dalam Matius 9:17. Dalam ayat itu Tuhan berkata, “Begitu pula anggur (arak) yang baru tidak dituang ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian kantong itu akan koyak sehingga anggur itu terbuang dan kantong itu pun hancur. Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya.” Tuhan mengatakan ini dalam menjawab murid-murid Yohanes Pembaptis yang menanyakan mengapa murid-murid-Nya tidak berpuasa (Mat. 9:14). Dengan sangat berhikmat dan menakjubkan Tuhan menjawab pertanyaan mereka melalui dua perumpamaan. Pertama Dia berkata, “Tidak seorang pun menambalkan secarik kain yang belum susut pada baju yang tua, karena jika demikian kain penambal itu akan mencabik baju itu, lalu makin besarlah koyaknya” (Mat. 9:16). Selanjutnya Dia mengatakan bahwa anggur (arak) yang baru tidak diisikan ke dalam kantong kulit yang tua. Apakah kain baru dan arak baru ini? Kain baru dan arak baru adalah Kristus. Kain baru ialah Kristus menjadi kebenaran kita yang baru, unik, lengkap, dan sempurna, sehingga kita dibenarkan di hadapan Allah. Sebagai kain baru, Kristus itu menjadi kebenaran yang menutupi kita. Arak baru ialah Kristus menjadi hayat yang dinamis, yang menggairahkan kita, membuat kita gembira, bahkan “gila”. “Gila” ini adalah mabuk. Kristus adalah kain baru yang menudungi kita di luar; Kristus adalah arak baru, yang menggairahkan kita di dalam, membuat kita “gila”. Dengan kata lain, Kristus membuat kita mabuk. Semua orang Kristen haruslah “gila” semacam ini.

Pada musim panas tahun 1935, Saudara Watchman Nee tinggal di kampung halaman saya. Waktu itu kami mengadakan sidang istimewa, dan dalam sidang itu kami semua “gila”. Saudara Watchman Nee tidak menggugah kami untuk “gila”, melainkan sebelumnya kami memang sudah “gila”. Ketika melihat betapa “gila”nya kami, ia lalu menyampaikan satu berita tambahan yang menyarankan kita semua untuk menjadi “gila”, “tidak menguasai diri” (2 Kor. 5:13). Ia mengatakan bahwa jika seorang Kristen tidak pernah “gila”, ia belum mencapai standar. Katanya, “Jika Anda selalu beradab, rapi, lemah lembut, dan tertib, berarti Anda masih berada di bawah standar. Anda perlu “gila” di dalam Tuhan, seperti orang yang ‘mabuk’.”

Hari ini banyak orang Kristen yang dingin, diam, dan mati. Orang mati itu paling tertib dan tidak pernah membuat kesalahan. Tempat yang paling tertib di bumi adalah kuburan. Setiap orang yang terbaring di sana selalu tenang, tertib, tidak mengganggu orang lain. Kebanyakan orang Kristen seperti ini. Mereka menganggap ini baik, padahal amat mengerikan, menimbulkan aroma tidak sedap. Orang Kristen seharusnya hidup. Banyak orang tidak hidup, disebabkan mereka kurang mengalami Kristus. Bila kita mengalami Kristus tiap hari, akhirnya Kristus yang kita alami itu akan menjadi arak di dalam kita. Semakin kita mengalami Kristus, kita akan semakin “gila”. Sejak saat Anda diselamatkan, berapa kali Anda menjadi “gila” dalam persekutuan Anda dengan Tuhan? Pernahkah Anda dalam keadaan begitu girang sehingga tidak dapat menguasai diri Anda, bahkan seolah lupa daratan? Pernahkah Anda begitu gembira sampai-sampai tidak tahu harus melompat, menari, atau berteriak? Makin “gila” seperti ini terhadap Tuhan, makinlah baik. Bukan orang muda saja, bahkan saudara saudari yang tua juga harus “gila” seperti ini di dalam ruang batiniah mereka bersama Tuhan. Ketika kita beserta Tuhan, kita harus mengatakan, “Oh, sungguh girang! Arak yang alangkah baik! Aku tidak sanggup menahan diri!” Inilah pengalaman akan Kristus sebagai arak.

Bila kita sekali demi sekali mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa, akhirnya kurban persembahan ini akan berupa arak. Karena Kristus sebagai kurban penghapus dosa itu akan membuat kita gembira, riang bergejolak. Jika Anda jarang menikmati Kristus sebagai kurban penghapus dosa, kurban ini tidak akan menjadi arak dalam pengalaman Anda. Namun jika setiap hari Anda mengalami Kristus sebagai kurban penghapus dosa dan sebagai kurban pokok lainnya, maka Kristus yang sebagai kurban-kurban ini akan menjadi arak yang membuat Anda sangat bersuka-cita. Semakin kita mengalami segala kelimpahan Kristus, unsur kelimpahan-Nya makin membuat kita “gila”. Jadi, apa pun pengalaman kita terhadap Kristus, semuanya akan menjadi arak baru kita.

Dalam Matius 9:16-17 Tuhan memberi tahu murid-murid Yohanes Pembaptis bahwa Ia datang sebagai baju yang baru untuk menutupi kita dan juga sebagai arak yang baru untuk memuaskan kita dan menggairahkan kita. Hari ini kita sangat perlu mengalami Kristus! Kita perlu mengalami-Nya sebagai kurban bakaran kita, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban penghapus dosa, dan kurban penebus salah. Akhirnya, pengalaman kita akan Kristus menjadi unsur di dalam kita yang menggairahkan kita sehingga kita dibuatnya sangat riang gembira. Ketika kita terus-menerus berada dalam kenikmatan ini, kita bahkan menjadi satu dengan arak.

Orang yang mabuk adalah orang yang telah menjadi satu dengan arak yang ia minum. Arak telah menjenuhi seluruh dirinya sehingga ia beroman muka arak dan berbau arak. Kita boleh menegaskan bahwa orang itulah arak. Kita orang Kristen haruslah mengalami Kristus, sama seperti orang yang mabuk, dijenuhi oleh Kristus sampai kita men-jadi arak. Kristus itu arak, tetapi arak ini harus menjenuhi kita sampai arak menjadi kita. Ketika kita mabuk Kristus, niscaya kita menjadi arak yang memuaskan Allah, dan saat itulah kita sudah cukup syarat dan siap menjadi kurban curahan. Kurban curahan bukan hanya Kristus sendiri, tetapi juga Kristus menjenuhi kita, sehingga Kristus dan kita, kita dan Kristus, menjadi satu.

Dalam tujuh pasal pertama Kitab Imamat terdapat kurban pokok kecuali kurban curahan. Kurban curahan baru disebutkan dalam Imamat 23:10-13. Ayat-ayat ini mengatakan harus membawa hasil pertama dari penuaian kepada imam. Meskipun hasil penuaian itu untuk kenikmatan umat Israel, namun hasil pertama dari penuaian itu harus dibawa ke hadapan Allah, supaya Allah menikmati duluan. Seberkas hasil pertama dari penuaian diunjukkan di hadapan TUHAN. Maka hasil pertama adalah kurban unjukan, melambangkan Kristus sebagai buah bungar dalam kebangkitan, diunjukkan kepada Allah (1 Kor. 15:20). Di samping seberkas hasil pertama ini, umat Israel harus pula mempersembahkan kurban bakaran, kurban sajian, dan kurban curahan. Inilah catatan kurban curahan yang tercatat dalam Kitab Imamat.

Imamat 1—7 tidak menyinggung adanya hubungan antara kurban curahan dengan lima kurban pokok, karena pada waktu itu orang Israel belum mengalami Kristus. Mereka itu sama seperti Yakub di Betel pada kali pertama. Tetapi setelah mereka memasuki tanah permai, mengalami Kristus, dan memperoleh sesuatu yang boleh dipersembahkan kepada Allah, mereka perlu mempersembahkan kurban curahan untuk mengiringi kurban-kurban lainnya. Bilangan 15:1-10 dan 28:6-10 menunjukkan bahwa kurban curahan selalu berpadanan dengan kurban pokok. Kurban curahan yang dipersembahkan berbanding lurus dengan kurban pokok: seperempat hin arak anggur untuk seekor domba, se-pertiga hin untuk seekor kambing; dan setengah hin untuk seekor lembu (Bil. 15:4-10). Ini menunjukkan bahwa semakin kita mengalami Kristus, kita semakin menjadi kurban curahan. Jika Anda mengalami Kristus hanya sebagai seekor domba kecil, Anda akan menjadi kurban curahan seperempat hin. Namun jika Anda mengalami-Nya sebagai seekor kambing atau seekor lembu, Anda akan menjadi kurban curahan yang besar. Dengan kata lain, semakin Anda mempersembahkan Kristus kepada Allah, semakin perlu kurban curahan yang lebih besar untuk mengiringinya. Pengalaman kita membuktikan bahwa semakin kita mengalami Kristus, semakin pula kita menjadi kurban curahan. Ketika kita mempersembahkan Kristus kepada Allah, dengan sendirinya kita mempunyai kurban curahan yang sepadan dengan kurban-kurban persembahan lainnya.

Domba, kambing, dan lembu memang hanya lambang dari Kristus, tetapi arak bukan hanya Kristus. Alkitab jelas menunjukkan bahwa kurban curahan tidak dapat dipersembahkan begitu saja kepada Allah, melainkan harus dipersembahkan mengiringi salah satu kurban pokok. Kurban pokok itu adalah Kristus, tetapi kurban curahan bukan Kristus sendiri, melainkan Kristus menjenuhi kita, sehingga Kristus menjadi kita. Dalam Matius 9:17, arak itu hanyalah Kristus, tetapi Paulus berkata, “Aku sudah siap dicurahkan sebagai kurban curahan” (2 Tim. 4:6 Tl.). Arak dalam 2 Timotius 4:6 justru adalah Kristus dalam Matius 9:17 yang telah menjenuhi Paulus dan menjadikannya arak. Sebermula arak ini hanyalah Kristus, kini arak ini telah menjadi kita, sehingga kita dapat dicurahkan sebagai kurban curahan. Pencurahan ini tergantung pada pengalaman kita terhadap Kristus. Di Betel, di rumah Allah, kita harus menjadi kurban curahan yang dicurahkan kepada Allah.

Andaikata ada sekelompok orang beriman bersidang tiap hari Minggu, tetapi mereka hampir tidak memiliki pengalaman yang riil terhadap Kristus, dapatkah mereka menjadi kurban curahan? Tentu tidak dapat. Berhubung mereka tidak dapat menjadi kurban curahan, maka perhimpunan orang-orang Kristen ini mustahil dianggap sebagai rumah Allah. Satu-satunya tiang yang dengan tepat bisa disebut rumah Allah ialah tiang di mana kurban curahan itu dicurahkan. Tanpa kurban curahan yang dicurahkan ke atas tiang itu, tentu ada sesuatu yang salah pada tiang itu. Kita harus meragukan perkumpulan orang-orang Kristen yang tanpa pencurahan kurban curahan. Dalam setiap perkumpulan yang betul-betul rumah Allah, mereka yang berkumpul bersama itu pasti menjadi kurban curahan.

Hanya berdasarkan Perjanjian Baru, kita tidak mungkin memahami hal-hal rohani dengan jelas dan tepat, terutama mengenai Kristus dan hidup gereja. Kita juga memerlukan gambar-gambar dalam Perjanjian Lama. Dalam Kejadian 35 terdapat sebuah gambaran yang sangat hidup. Di sini kita nampak bahwa Yakub mendirikan tiang dan mencurahkan kurban curahan di atasnya. Dalam pasal 28 Yakub bahkan menyebut tiang ini rumah Allah. Alkitab mencatat semuanya ini, pasti ada alasannya. Tiang menyatakan bahwa rumah Allah merupakan masalah pembangunan. Tanpa adanya kurban curahan yang dicurahkan di atas tiang, maka patut dipertanyakan apakah kita mempunyai pembangunan yang sejati. Boleh saja orang banyak membicarakan tentang pembangunan — kita bersyukur kepada Tuhan atas hal ini — tetapi kita masih harus bertanya, adakah kurban curahan yang dicurahkan di atas tiang.

Kurban curahan bukan arak yang keluar dari pengirik anggur, melainkan dari pengalaman kita meminum arak. Pengirik anggur itu sendiri tidak mungkin menghasilkan kurban curahan. Allah tidak akan puas hanya dengan arak yang keluar dari pengirik anggur. Ia akan mutlak dipuaskan dengan mereka yang menikmati Kristus sebagai arak sehingga mabuk Kristus, bahkan diri mereka menjadi arak anggur itu untuk memuaskan Allah. Arak ini bukan yang langsung keluar dari pengirik anggur, melainkan arak yang secara tidak langsung keluar dari mereka yang minum Kristus sebagai arak. Ini sangat dalam. Saya percaya jika di antara kita banyak orang yang terus maju bersama Tuhan sampai sejangka waktu, mereka akan menjadi kurban curahan semacam ini dan bisa mengatakan, “Tuhan Yesus, aku telah menjadi kurban curahan yang tertuang pada-Mu.” Orang yang baru beroleh selamat tidak bisa berkata demikian. Namun beberapa di antara kita dapat mengatakan dengan penuh keyakinan bahwa mereka telah menjadi kurban curahan yang tertuang pada diri Tuhan. Di mana terdapat kurban curahan, di situlah ada tiang yang didirikan menjadi rumah Allah. Perkara ini dalam, riil, dan menjamah pengalaman lubuk batin kita. Adanya orang yang demikian dijenuhi Kristus sehingga satu-satunya kegemarannya adalah Kristus dan gereja, sangatlah dalam menjamah kita.

Keluaran 29 membicarakan tentang pentahbisan imam. Ayat 38-42 memberi tahu kita bahwa imam-imam harus mempersembahkan kurban curahan mengiringi kurban bakaran yang dipersembahkannya setiap hari. Ini menyatakan bahwa dalam pelayanan imam, diperlukan kurban curahan untuk mengiringi kurban bakaran yang selalu dipersembahkan.

c) Untuk Orang Nazir

Kurban curahan juga berhubungan dengan hukum orang Nazir (Bil. 6:13-17). Seorang nazir ialah seorang yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah. Ketika hari pemisahan orang nazir telah genap, ia harus mempersembahkan kurban bakaran, kurban penghapus dosa, dan kurban keselamatan. Menyertai kurban-kurban ini, ia pun harus mempersembahkan kurban curahan. Orang nazir memenuhi syarat mempersembahkan kurban curahan karena ia telah banyak mengalami Allah. Ini pun membuktikan bahwa kurban curahan berasal dari pengalaman kita terhadap Tuhan. Kecuali kita mengalami Dia, mustahil kita memiliki kurban curahan. Kurban curahan bukan sekadar Tuhan yang obyektif, lebih-lebih pengalaman kita yang subyektif terhadap Tuhan; kita bersatu dengan Tuhan sehingga ia menjadi kita. Kristus yang kita alami secara subyektif ini ialah arak yang kita tuangkan untuk memuaskan Allah dan pembangunan Allah.

d) Bagi Hidup Gereja

Kita telah menunjukkan bahwa seorang pemabuk hanya tertarik kepada arak. Pikirannya terus memikirkan arak, bahkan bermimpi pun tidak lepas dari arak. Begitulah kita seharusnya terhadap gereja, rumah Allah. Selain Betel, kita tidak punya kegemaran lain. Renungkan saja contoh Rasul Paulus. Surat Kirimannya menunjukkan betapa ia “gila” bagi gereja; ia mabuk Kristus dan hanya tertarik kepada rumah Allah, bait Allah. Sebutannya terhadap Betel ialah “gereja”, “Tubuh”. Ia mabuk bagi gereja. Ada orang berkata, “Kalian orang-orang gereja adalah gila. Hanya tahu gereja saja.” Pernah seorang perempuan menemui saya seusai suatu sidang, katanya, “Tuan Lee, mengapa Anda selalu membicarakan tentang gereja? Mengapa tidak membicarakan tentang kehidupan rumah tangga?” Saya menjawab, “Aku tidak membicarakan tentang rumah tangga karena Anda telah banyak membicarakannya. Aku harus tertarik kepada gereja.” Kita seharusnya hanya tertarik kepada gereja. Apakah kegemaran Anda hari ini? Sekolah, bisnis, rumah tangga? Satu-satunya kegemaran saya ialah gereja. Kita semua perlu menjadi “pemabuk” gereja. Sebelum mati sahid, Paulus berkata, “Aku sudah mulai dicurahkan sebagai kurban curahan.” Bila kegemaran kita hanya gereja, kita juga akan bisa mengatakan perkataan yang sama. Hanya mela-lui pengalaman saya baru mengerti mengapa Yakub mendirikan tiang dan menuangkan kurban curahan ke atasnya. Di Betel, kita yang hanya tertarik kepada rumah Allah, dengan sendirinya menjadi kurban curahan.

Menurut Roma 16:3-5, Akwila dan Priskila adalah orang-orang yang demikian. Sepasang suami istri ini mutlak bagi gereja lokal. Satu-satunya kegemaran mereka adalah gereja, bahkan mereka bersedia mati martir bagi gereja. Mereka mempertaruhkan leher mereka bagi Rasul Paulus dan gereja. Karena Akwila dan Priskila mempertaruhkan leher mereka bagi gereja, dan kegemaran mereka hanya pada gereja, maka tidak diragukan mereka itu merupakan kurban curahan; mereka sudah siap untuk dituangkan.

Kita perlu membaca dan membaca kembali ayat-ayat mengenai kurban curahan. Saya ulangi, kurban curahan adalah kurban persembahan tambahan kepada kurban-kurban pokok yang kita alami. Kita tidak boleh mengatakan bahwa ada kurban bakaran, kurban sajian, kurban keselamatan, kurban penghapus dosa dan kurban penebus salah, itu sudah cukup. Kalau demikian sikap kita, berarti pengalaman kita masih miskin. Kurban bakaran kita haruslah disertai kurban curahan. Kurban pokok itu Kristus sendiri, namun harus disertai dengan kurban tambahan yakni kurban curahan. Kurban tambahan itu bukan sekadar Kristus sendirian, melainkan juga Kristus yang telah menjenuhi kita dan membuat kita berbaur esa dengan-Nya. Kita harus mempersembahkan kurban curahan untuk mengiringi kurban-kurban pokok. Makin besar kurban pokok kita, makin besar pula kurban tambahan kita. Jika kita hanya mempersembahkan kurban pokok saja, maka persembahan kita itu sangat miskin dan kurang pengalaman. Kita memang perlu mempersembahkan Kristus sebagai kurban pokok setiap hari, namun kita harus pula mempunyai sesuatu untuk mengiringi kurban-kurban pokok ini. Kurban pengiring ini berasal dari pengalaman kita terhadap kurban-kurban pokok. Semakin kita disatukan dengan Kristus sebagai kurban-kurban pokok, kita semakin menjadi kurban pengiring, yaitu kurban curahan. Setelah kita sampai tingkat ini, kita akan yakin sepenuhnya bahwa kita berada di Betel.

Jika kita menggabungkan ayat-ayat yang berkenaan dengan kurban curahan seperti kita bermain konstruksi dengan potongan-potongan kayu, kita akan nampak bahwa kurban curahan terutama bagi gereja. Alkitab menyinggung kurban curahan untuk kali pertama dalam Kejadian 35. Perkara yang pertama disebutkan selalu merupakan prinsip perkara itu dalam kitab-kitab selanjutnya. Kurban curahan yang disebutkan untuk kali pertama dalam Alkitab berhubungan dengan pembangunan Allah, karena kurban ini dituangkan ke atas tiang. Jika kita membaca kurban curahan dalam Kitab Keluaran, Imamat, dan Bilangan tanpa adanya Kejadian 35:14 sebagai dasar, kita tidak akan tahu bahwa kurban curahan itu untuk pembangunan Allah. Karena itu, kita harus kembali kepada kurban curahan yang disebutkan kali pertama, di mana kita nampak bahwa kurban curahan bukan hanya untuk menyembah Allah saja, tetapi juga untuk pembangunan Betel. 2 Timotius 4:6 menyebutkan kurban curahan untuk kali terakhir. Di sini kurban curahan juga untuk gereja, untuk Betel. Jadi, sejak kali pertama disebutkan sampai kali terakhir, kurban curahan terutama untuk pembangunan Allah, bukan hanya untuk menyembah Allah. Kurban curahan kelihatannya untuk penyembahan, namun pada hakikatnya adalah untuk rumah Allah, untuk pembangunan tiang. Tiang ini adalah tanda merek bait Allah.

Kita memerlukan sejumlah besar orang beriman yang siap dituangkan ke atas pembangunan Allah. Inilah mati martir yang sejati. Mati sahid ialah penuangan kurban curahan yang penuh dengan pengalaman akan Kristus. Ketika Anda dipenuhi dengan pengalaman akan Kristus, Anda akan siap dituangkan, martir bagi pembangunan Allah. Dalam pemulihan Tuhan hari ini, kita memerlukan orang-orang macam ini. Alkitab tidak memberi tahu kita apakah Akwila dan Priska mati sahid. Namun kita sangat yakin bahwa di dalam roh mereka, sikap dan cara hidup mereka, mereka telah sejak dini mati sahid. mereka benar-benar kurban curahan yang sejati, bukan saja untuk penyembahan terhadap Allah, lebih-lebih untuk pembangunan Allah.

Ketika Yakub menuangkan kurban curahan di atas tiang, tentunya ia merasa sedang menyembah Allah. Bagi-nya, penuangan kurban itu adalah suatu penyembahan. Kata “mempersembahkan” menyatakan hal itu berkaitan de-ngan penyembahan terhadap Allah. Tetapi penyembahan ini bukan suatu upacara agama, melainkan untuk pembangunan Allah. Dalam pemulihan Tuhan hari ini kita memerlukan banyak orang saleh yang mengalami Kristus sampai pada tingkat dipenuhi dan dijenuhi oleh arak Kristus, sehingga mereka juga menjadi arak, yang dituangkan ke atas pembangunan Allah, agar di dalam pembangunan-Nya, Allah beroleh penyembahan dan kepuasan. Inilah makna kurban curahan.

3) Menuangkan Minyak ke Atas Tiang

Kejadian 35:14 juga memberi tahu kita bahwa Yakub menuangkan minyak di atas tiang. Ia melakukan ini setelah menuangkan kurban curahan ke atasnya. Dulu saya mengira Yakub telah keliru melakukan ini, seharusnya ia menuangkan minyak dulu. Namun Yakub tidak keliru. Menurut pengalaman kita, penuangan kurban curahan itu menghasilkan minyak. Bila kita siap dituangkan sebagai kurban curahan, kita pun siap mengalami penuangan Roh. Makin bersedia dituangkan sebagai kurban curahan, makin banyak menikmati minyak.

Setelah tiang didirikan, perlu dikuduskan dengan pengurapan minyak. Sama seperti prinsip Kemah Suci. Setelah Kemah Suci didirikan, Kemah itu dikuduskan dengan pengurapan minyak yang kudus (Kel. 40:9). Setelah tiang didirikan, dicurahi kurban curahan, kemudian dikuduskan dengan minyak. Minyak dituangkan ke atas tiang, dan dibu-buhi meterai, itulah yang dimaksud dikuduskan. Penuangan minyak menjadikan pembangunan Allah mutlak dikuduskan, disucikan, dan disisihkan bagi Allah. Jika banyak di antara kita siap dituangkan sebagai kurban curahan ke atas pembangunan Allah, Roh Kudus akan segera melaksanakan penyisihan yang menguduskan gereja. Inilah tanda meterai Roh Kudus. Tidak peduli berapa banyak kita mengalami Roh Kudus, kalau kita belum siap dituangkan sebagai kurban curahan, gereja tidak akan mempunyai lapisan minyak pengudusan. Tetapi jika banyak yang siap dituangkan sebagai kurban curahan, maka gereja akan diurapi dengan minyak dan hidup gereja akan memiliki lapisan minyak sebagai tanda meterai dan dikuduskan.

Pengalaman riil terhadap Roh Kudus berhubungan dengan penuangan kurban curahan. Lihatlah pengalaman seratus dua puluh orang pada hari Pentakosta. Sebagaimana kita tahu bahwa pada hari Pentakosta, Roh Kudus telah dicurahkan (Kis. 2:33). Sebelum kejadian ini, orang-orang itu telah siap dituangkan sebagai kurban curahan. Ketika Petrus berdiri bersama sebelas orang, ia telah dicurahkan. Akibatnya, minyak, Roh Kudus itu, tercurah ke atas mereka. Minyak tidak akan datang sebelum mereka siap menjadi kurban curahan yang dituangkan. Mungkin Anda berkata bahwa saat itu Petrus belum mati martir. Memang ini benar, namun Anda harus nampak bahwa ia berdiri di sana seperti seorang martir yang sedang mempertaruhkan jiwanya. Walau para agamawan Yahudi menentangnya, ia tidak takut kepada mereka. Dalam pandangan malaikat, seratus dua puluh orang itu semua telah tercurah sebagai kurban curahan, sehingga minyak dituangkan untuk menguduskan dan memeteraikan mereka. Hari itu, gereja di Yerusalem diurapi dengan selapis minyak surgawi. Gereja itu berbeda dengan organisasi kekristenan hari ini, gereja itu dikuduskan, disisihkan, dan disucikan. Kiranya semua gereja dalam pemulihan Tuhan seperti ini. Saya mengharapkan banyak orang beriman sudah siap dituangkan sebagai kurban curahan sehingga Roh Kudus yang sebagai minyak surgawi itu akan datang di tengah-tengah gereja, membubuhi meterai pada gereja, menguduskan gereja agar gereja tersisih mutlak bagi Allah. Inilah pengalaman Betel.

4) Nampak Betel

Setelah Yakub melakukan semua ini di sana, ia lalu menamai tempat itu Betel (35:15), ini menunjukkan bahwa ia nampak inilah rumah Allah, di sini Allah telah berbicara kepadanya (28:13-15). Hari ini, gereja adalah rumah Allah (1 Tim. 3:15; Ibr. 3:16), sama seperti Yakub di Betel, kita pun harus mempunyai pengalaman yang riil bagi hidup gereja. Kita harus membangun mezbah persembahan, kita harus mendirikan tiang bagi pembangunan Allah, dan kita harus siap untuk dituangkan sebagai kurban curahan di atas pembangunan Allah, agar minyak ilahi itu dapat dituangkan ke atasnya, sehingga dikuduskan bagi Allah. Berbuat demikian berarti merealitaskan hidup gereja yang riil.