DIUBAH (10)
Setelah tinggal di Betel sejangka waktu yang cukup lama, Yakub berangkat dari sana (35:16). Kelihatannya, perjalanan yang meninggalkan Betel ini bukan pergerakan yang positif. Namun Yakub meninggalkan Betel bukan berarti ia meninggalkan rumah Allah, melainkan berarti ia terus maju dalam pengalaman rohaninya. Walaupun ia telah tiba di Betel, menetap, dan melakukan hal-hal tertentu di sana, tetapi ia tetap harus maju.
Kita telah nampak bahwa Kitab Kejadian adalah sebuah kitab benih dan gambar. Kita perlu memahami semua benih dan gambar ini. Lukisan tentang Abraham, Ishak, dan Yakub itu mencerminkan kehidupan rohani kita. Pengalaman ketiga orang ini merupakan gambar kehidupan rohani orang yang mengikuti Tuhan.
(6) Penanggulangan yang Lebih Dalam dan Lebih Pribadi
(a) Kematian Rahel
Pada saat Yakub meneruskan perjalanan dari Betel, ia mengalami penanggulangan yang lebih dalam dan lebih pribadi: Rahel, istri kesayangannya, meninggal ketika melahirkan Benyamin, anak Yakub yang bungsu (35:16-20). Pengalaman ini menyangkut perkara hidup dan mati, mendapatkan dan kehilangan. Yakub kehilangan Rahel dan mendapatkan Benyamin. Bila Anda disuruh memilih, mana yang Anda pertahankan ibu ataukah anaknya? Konsepsi orang Kristen pada umumnya ingin mendapatkan kedua-duanya, ibu dan anak. Tetapi dalam ekonomi Allah, jika Anda ingin memperoleh anak yang bungsu, Anda harus merelakan ibunya pergi. Tanpa kehilangan, tidak akan mendapatkan, dan tanpa kematian tidak akan ada kelahiran. Kelahiran berasal dari kematian, karena di luar kematian tidak ada kebangkitan. Tanpa Rahel mati, Benyamin tidak akan terlahir.
Rahel mewakili pilihan alamiah Yakub. Yakub mempunyai empat orang istri, namun hanya Rahel itulah pilihan Yakub sejak awal, yang alamiah, dan yang menurut kehendak hatinya. Yakub dipaksa menerima Lea dan dua budak perempuan, Bilha dan Zilpa. Lea dan dua budak perempuan itu bukan pilihan hati Yakub. Kalau Anda membaca Kitab Kejadian dengan saksama, Anda akan nampak bahwa hati Yakub seluruhnya terletak pada Rahel; ia tidak menaruh hati kepada ketiga gadis lainnya. Ingatlah kembali apa yang Yakub lakukan ketika ia takut terhadap serangan Esau dan orang-orangnya. Ia menempatkan dua budak perempuan beserta anak-anak mereka di paling depan, kemudian Lea dan anak-anaknya di belakangnya, sedang Rahel dan Yusuf di paling belakang (33:1-2). Fakta bahwa Yakub menempatkan Rahel dan Yusuf di paling belakang adalah untuk melindungi mereka dari serangan, itu menunjukkan bahwa hati Yakub terletak pada Rahel.
Setiap perkara yang dicatat dalam Alkitab ada tujuannya. Kematian Rahel tercatat dalam pasal 35, mengandung tujuan yang tertentu. Ketika Yakub hendak meneruskan perjalanannya, ia tentunya sangat girang mengetahui bahwa Rahel telah mengandung lagi. Mungkin sekali ia mengharapkan istri kesayangannya melahirkan seorang putra lagi. Ternyata ketika Rahel melahirkan anaknya yang kedua, ia mati, sehingga pilihan alamiah Yakub, kesukaan hatinya, disingkirkan darinya.
Sebelum pengalaman di Betel, Allah membiarkan pilihan alamiah Yakub, membiarkan dia memiliki dambaan hatinya. Tetapi setelah pengalaman di Betel, pilihan alamiahnya disingkirkan darinya. Banyak di antara kita yang dapat bersaksi bahwa sebelum kita mengalami hidup gereja, kita tetap mempunyai konsepsi alamiah kita, pilihan, dan dambaan alamiah. Allah bahkan memberkati semua ini. Lihatlah, proses kelahiran anak Rahel yang pertama, yaitu Yusuf. Ketika Yusuf dilahirkan, Yakub sangat girang, boleh jadi ia berkata, “Inilah berkat Allah atas idaman hatiku. Allah telah memberkati pilihanku.” Namun setelah pengalamannya di Betel, Yakub kehilangan pilihan alamiahnya.
Sesudah Anda mengalami hidup gereja, pilihan alamiah Anda harus dibuang ke belakang. Sebelum Anda masuk ke dalam gereja, Anda tetap memiliki pilihan alamiah Anda dan Allah juga membiarkannya. Tetapi setelah mengalami hidup gereja sampai tingkat tertentu, Allah tidak lagi memberikan toleransi. Saya harap ini tidak mengejutkan anak-anak muda sehingga mereka mundur dari perjalanan ke Betel. Mendengar ini, mungkin ada yang berkata, “Jika akan terjadi begini, aku tidak mau datang ke Betel. Lebih baik aku tetap tinggal di seberang Betel dan tidak usah maju lagi. Dengan demikian aku tidak akan kehilangan pilihan alamiahku.” Memang benar, setelah Anda memiliki pengalaman di Betel, Anda akan kehilangan pilihan alamiah Anda, namun Anda akan beroleh Benyamin, yaitu lambang Kristus.
l) Mendatangkan Kristus sebagai Anak Sengsara (Ben-oni) dan sebagai Anak Tangan Kanan (Benyamin)
Kejadian 35:18 mengatakan, “Dan ketika ia hendak menghembuskan nafas — sebab ia mati kemudian — diberikannyalah nama Ben-oni kepada anak itu, tetapi ayahnya menamainya Benyamin.” Anak ini diberi dua nama, satu dari ibunya dan satu dari ayahnya. Ben-oni berarti “anak sengsara”. Rahel memberi nama ini karena ia menderita seng-sara dan dalam kesusahan. Namun Yakub segera mengubahnya menjadi Benyamin, yang berarti “anak tangan kanan”. Di alam semesta ini hanya ada satu yang merangkap anak sengsara dan anak tangan kanan — dan yang satu ini adalah Kristus. Di satu pihak, Kristus itu Ben-oni dan di pihak lain, Dia itu Benyamin. Kristus adalah Sang ajaib yang beraspek dua ini. Tidak seorang pun pernah menderita sengsara sebanyak Kristus dan tidak seorang pun telah dijunjung setinggi Kristus. Yesaya 53:3 menggambarkan Dia sebagai “seorang yang penuh kesengsaraan”. Kisah Para Rasul 2:33 mengatakan bahwa Ia “ditinggikan oleh tangan kanan Allah”, dan Ibrani 1:3 mengatakan bahwa Ia duduk “di sebelah kanan Yang Mahabesar”. Mula-mula Yesus sebagai anak sengsara, anak yang menderita. Rahel bukan satu-satunya orang yang mengalami sengsara ini; Maria, ibu Kristus, juga mengalaminya. Menurut Lukas 2:35, jiwa-nya ditembusi oleh pedang karena penderitaan anaknya. Tetapi setelah tiga puluh tiga setengah tahun, dalam kebangkitan dan kenaikan, Kristus telah menjadi Anak tangan kanan Allah. Sebab itu, tidak seorang pun dapat menyangkal bahwa Benyamin adalah sebuah lambang dari Kristus yang sengsara dan yang telah ditinggikan.
Andaikata Anda ini Yakub, maukah Anda memperoleh Kristus ini dengan membayar harga kehilangan dambaan hati Anda? Asal Anda tinggal dalam gereja, mengalami Betel, mendirikan tiang, dan menuangkan diri Anda di atasnya sebagai kurban curahan, Anda tidak ada pilihan. Rahel harus mati, barulah Benyamin dapat dilahirkan. Haleluya! Rahel telah pergi dan Benyamin telah datang!
Lebih dari 50 tahun yang lalu, saya mendengar berita dan membaca buku-buku tentang mengekspresikan Kristus dan menyatakan Kristus. Tetapi saya menjadi bingung karena tidak tahu bagaimana menjunjung Kristus atau mengekspresikan-Nya. Bertahun-tahun saya tidak dapat menemukan jalannya. Ada yang berkata, agar dapat mengekspresikan Kristus, kita harus disalibkan. Namun bagaimana mungkin seseorang menyalibkan dirinya? Mustahil seseorang bisa memaku dirinya di atas salib. Akhirnya saya tahu bahwa jalan untuk menjunjung tinggi Kristus dan mengekspresikan-Nya adalah dalam hidup gereja. Melalui hidup gereja, “Rahel” akan bersalin dengan menakjubkan dan menguatkan hati, ia mati, agar Kristus muncul. Saya pernah mencoba berbagai cara untuk meninggikan dan mengekspresikan Kristus, tetapi saya boleh bersaksi dengan tegas bahwa semua cara itu tidak ada yang berhasil. Akan tetapi, setelah saya datang ke gereja, tinggal di sini sejangka waktu, kemudian “Rahel” saya, pilihan alamiah saya disingkirkan, Benyamin pun dilahirkan.
Catatan Alkitab mengenai kematian Rahel dan kelahiran Benyamin ini benar-benar menakjubkan. Catatan yang alangkah mengagumkan! Mengapa kematian Rahel tidak terjadi sebelum pengalaman Yakub di Betel? Ini pasti seturut kedaulatan Allah. Dalam kedaulatan Allah, kematian Rahel terjadi setelah pengalaman Yakub yang ajaib di Betel. Dalam ayat 16, Yakub tentunya penuh sukacita atas pengalamannya di Betel; juga dengan penuh harapan menantikan kelahiran seorang anak lagi dari Rahel, istri kesayangannya. Namun, ketika anak Rahel dilahirkan, pilihan alamiah Yakub itu lalu mati. Rahel menamai anak keduanya Ben-oni, nama kesengsaraan, namun Yakub segera menggantinya menjadi Benyamin, nama yang menguatkan. Fakta Yakub mengganti nama anaknya membuktikan bahwa ia tidak putus asa atau kecewa atas kehilangan Rahel. Ia tidak kecil hati, malahan penuh dengan keyakinan, iman, dan pengharapan. Yakub seolah berkata, “Tidak, namanya harus Benyamin. Ia bukan anak sengsara — ia itu anak tangan kanan.” Alangkah luar biasa iman dan pengharapan yang dimiliki oleh Yakub! Jika perkara ini terjadi sebelum pengalaman Yakub di Betel, ia boleh jadi akan mengatakan, “Amin, namanya memang Ben-oni, karena ia itu anak sengsara. Pengalaman ini betul-betul sengsara.” Namun setelah pengalamannya di Betel, Yakub adalah seorang yang telah diubah.
Ayat 21 menunjukkan bahwa Yakub benar-benar telah diubah, “Sesudah itu berangkatlah Israel, lalu ia memasang kemahnya di seberang Migdal-Eder.” Di sini setelah kematian Rahel dan kelahiran Benyamin, Yakub secara tegas disebut sebagai Israel untuk kali pertama. Di sini tidak dikatakan berangkatlah Yakub, melainkan berangkatlah Israel. Sejak saat itu Yakub sudah menjadi orang yang diubah. Sebelum ini, namanya telah diubah dari Yakub menjadi Israel (32:27-28; 35:10), hanya ia tidak pernah dipanggil secara tegas dengan nama barunya.
2) Rahel Melahirkan Yusuf,
Seorang Nazir, Lambang Kristus
Yakub mempunyai dua belas anak: yang enam (termasuk suku Lewi yang mengemban jabatan imam dan Yehuda yang mengemban jabatan raja) dilahirkan oleh Lea; yang dua (Yusuf dan Benyamin) dilahirkan oleh Rahel; yang dua lagi (Dan yang paling buruk dan Naftali yang paling baik) dilahirkan oleh Bilha; dan dua yang lain (Gad dan Asyer) dilahirkan oleh Zilpa (ayat 22-26). Kedua anak Rahel, Benyamin dan Yusuf, merupakan lambang Kristus. Meskipun Yusuf dilahirkan lebih dulu, tetapi dalam perlambangan ia adalah penerus Benyamin. Catatan mengenai kelahiran Yusuf tidak menunjukkan bahwa ia adalah lambang Kristus. Namun sebagaimana telah kita nampak bahwa kelahiran Benyamin jelas menunjukkan ia adalah lambang Kristus. Benyamin, anak sengsara dan anak tangan kanan diteruskan oleh Yusuf. Dari pasal 37 sampai akhir Kitab Kejadian, terdapat catatan riwayat Yusuf. Yusuf adalah seorang nazir, yang dipisahkan bagi Allah, adalah lambang Kristus (Kej. 49:26 —”teristimewa” lebih tepat diterjemahkan “terpisah dari”; dalam bahasa Ibrani ialah “nazir”).
Yusuf melambangkan Kristus sebagai anak sengsara sekaligus anak tangan kanan. Setelah menderita dan ditinggikan, Yusuf didudukkan di atas takhta di sebelah Firaun. Pada catatan mengenai Yusuf, kita menemukan bahwa setiap aspeknya itu merupakan lambang Kristus. Ada satu contoh yang menggambarkan ini. Ketika Yusuf di dalam penjara, ia menjumpai dua orang (40:1-4). Kemudian, yang satunya beroleh selamat, sedang yang lainnya binasa (40:20-22). Ketika Tuhan Yesus di kayu salib, Ia pun diapit oleh dua orang penjahat; kemudian yang satu beroleh selamat sedang yang lainnya binasa (Luk. 23:32-33, 39-43). Sungguh ajaib lambang ini! Bagian depan dari kehidupannya, Yusuf menderita sebagai anak sengsara; bagian belakang dari kehidupannya, Yusuf dilantik sebagai anak tangan kanan. Ia diangkat ke atas takhta di sebelah kanan Firaun sambil diberi kuasa untuk menangani suplai atas nafkah semua orang. Tetapi, seperti yang telah kita tunjukkan bahwa secara perlambangan Yusuf adalah penerus Benyamin, anak sengsara yang telah menjadi anak tangan kanan.
Benyamin dan Yusuf dilahirkan oleh Rahel, pilihan alamiah Yakub. Menurut ketentuan Allah, perkara alamiah bukanlah salah. Allah menetapkan kita untuk menikah. Kehidupan pernikahan itu memang alamiah, namun itu telah ditetapkan oleh Allah. Janganlah berkata bahwa perkara alamiah tidaklah baik. Mengatakan demikian, berarti Anda harus berhenti makan, karena makan merupakan keperluan alamiah yang ditetapkan oleh Allah. Orang-orang muda sering berkata, “Mengapa kita harus pusing dengan sandang-pangan? Mengapa kita perlu tidur? Alangkah baiknya jika Allah menciptakan kita tanpa memerlukan sandang, pangan, dan tidur. Siapa yang suka berdiri di depan oven yang panas, dan siapa pula yang suka mencuci mangkuk piring? Alangkah baiknya bila kita tidak terganggu oleh perkara-perkara itu. Kita mendambakan bisa hidup tanpa semua keperluan ini.” Akan tetapi, Allah telah menetapkan pernikahan, makan, tidur, dan pakaian. Meskipun hal-hal ini alamiah, namun semuanya ini telah ditetapkan oleh Allah.
Seperti semua orang, Yakub memerlukan seorang istri. Pada saat ia tiba di rumah Laban, pamannya di Padan-Aram, Rahel adalah orang pertama yang ia jumpai (29:9-11), dan serentaklah menjadi pilihannya. Tentunya ini telah diatur oleh kedaulatan Allah. Begitu Yakub memandang Rahel, mungkin ia berkata, “Ini pilihanku.” Yakub mencintai Rahel dan setuju melayani Laban tujuh tahun baginya (29:18-20). Kedaulatan Allah mengatur Yakub pertama-tama berjumpa dengan Rahel, kedaulatan Allah pula yang mengizinkan Laban menipu Yakub. Walaupun Laban telah setuju menikahkan Rahel kepada Yakub, tetapi pada malam pernikahan, ia memberikan Lea sebagai gantinya (29:21-25). Tipu muslihat Laban menggagalkan Yakub mendapatkan pilihannya. Kemudian Yakub mengadakan perjanjian dengan Laban untuk melayaninya tujuh tahun lagi bagi Rahel. Untuk memperoleh pilihannya, ia rela demikian menderita. Selama tahun-tahun Yakub bekerja demi Rahel, setiap kali melihat Rahel, tentu ia damba memperoleh dia, namun tidak tercapai. Yakub dengan sabar melewati saat yang lama itu, dan akhirnya ia mendapatkan Rahel. Catatan ini penuh makna rohani. Allah telah menentukan kita untuk mendapatkan pilihan alamiah kita, namun di bawah kedaulatan Allah, kita harus menunggu sejangka waktu. Di satu pihak, Yakub terhalangi sehingga tidak mendapatkan pilihan alamiahnya; di pihak lain, ia diizinkan mendapatkannya. Ini berarti, sekalipun Allah telah menentukan sesuatu untuk kita, namun Ia tidak akan mengizinkan kita mencapai itu menurut cara dan waktu kita. Tidak perlu disangsikan bahwa Rahel telah ditentukan Allah bagi Yakub. Akan tetapi Allah tidak meng-izinkan Yakub mendapatkan Rahel menurut cara dan waktu Yakub. Yakub ingin segera mendapatkan Rahel. Akhirnya setelah Yakub mendapatkannya, tentu ia menghendaki sisa hidupnya bisa mendampingi dia terus. Namun sampai pada saat tertentu, Allah seolah berkata, “Yakub, Aku akan mengambil Rahel darimu.” Saya bukan omong kosong. Saya tahu dari pengalaman saya bahwa ini benar.
Allah telah menentukan kita mendapatkan pilihan alamiah kita, tetapi bukan menurut cara dan waktu kita. Anda mungkin tidak paham mengapa Allah menyusahkan kita seperti ini. Satu-satunya tujuan-Nya berbuat demikian ialah untuk menghasilkan Kristus. Allah menentukan Anda beristri, tetapi Ia tidak akan mengizinkan Anda mendapatkannya menurut cara dan waktu Anda. Tujuan-Nya bukan membuat Anda menderita. Allah tidaklah kejam. Tujuan-Nya ialah agar menghasilkan Kristus. Allah juga telah menentukan Anda makan, namun bukan menurut cara Anda. Sampai-sampai dalam hal makan pun, Allah juga bermaksud menghasilkan Kristus.
Di antara Anda ada yang tahu bahwa saya sangat gemar akan camilan manis, terutama es krim, namun oleh kedaulatan Allah saya telah ditaruh di bawah pengawasan istri saya yang tercinta. Saya bisa makan es krim, tetapi tidak menurut cara dan waktu saya. Istri saya dapat bersaksi bahwa sering kali saya ingin makan es krim di siang hari, ia lalu memberi tahu saya agar menunggu selesai makan malam. Melalui ini saya telah belajar tidak mempunyai pilihan alamiah saya menurut cara dan waktu saya, melainkan menurut cara dan waktu-Nya. Maksud tujuan-Nya ini bukan menyuruh saya menderita, melainkan untuk menghasilkan Kristus. Setiap kali istri saya berkata bahwa makan es krim saat makan malam saja, saya kemudian kembali ke ruang baca. Saya tidak bertengkar dengannya atas hal ini. Contoh pengalaman saya ini dapat melukiskan prinsip tersebut.
Andaikata saya karena merasa sebagai laki-laki yang cukup kuat untuk bertengkar, berkata kepada istri saya, “Ini adalah rumahku, kamu adalah istriku. Ayo, ambilkan es krim segera! Mengapa menunggu sampai makan malam!” Jika saya hidup secara demikian, saya tidak akan menghasilkan Kristus. Tidak akan ada Benyamin dan Yusuf.
Akhir-akhir ini saya mendorong anak-anak muda untuk meraih pendidikan yang tertinggi. Kini sudah banyak yang mempunyai ambisi ini. Saya tahu ada beberapa orang muda yang mencintai Tuhan telah bertekad untuk meraih pendidikan yang baik. Mereka benar-benar menerima pendidikan yang mereka dambakan, tetapi mereka tidak mendapatkan menurut cara dan waktu mereka, melainkan menurut cara dan waktu Allah. Ini seakan-akan membuat mereka sangat menderita. Namun maksud tujuan Allah bukan menyuruh mereka menderita, melainkan menghasilkan Kristus, menghasilkan Benyamin dan Yusuf.
Kita semua harus tahu bahwa kita bukan di tangan diri sendiri. Sebaliknya, kita ini berada di tangan Tuhan. Asalkan kita adalah orang yang dipilih-Nya dan mencintai-Nya, kita berada di dalam tangan-Nya. Ia akan membawa kita ke Betel, dan kita akan tinggal di Betel di bawah tangan-Nya. Cepat atau lambat kita akan melangkah maju dan tepat pada saat-Nya, di bawah tangan-Nya, keinginan kita, pilihan kita akan dikesampingkan sehingga Benyamin bisa dilahirkan.
Kitab Kejadian berakhir pada Yusuf duduk di takhta disertai kekuatan dan kekuasaan, memberikan suplai hayat kepada semua orang. Hasil ini berasal langsung dari pengalaman Yakub terhadap Rahel. Tanpa pengalaman Yakub terhadap Rahel, mustahil dihasilkan Benyamin atau Yusuf. Saya ulangi, perampungan seluruh Kitab Kejadian berasal dari hubungan Yakub terhadap Rahel. Pengalaman yang tepat dari Yakub terhadap Rahel ialah: pilihan alamiah kita yang telah ditentukan oleh Allah, bukan diberikan kepada kita menurut cara dan waktu kita, melainkan menurut cara dan waktu Allah. Entah apa pilihan kita — baik mengenai pernikahan, hal makan, atau cara berpakaian — akan diberikan menurut cara dan waktu Tuhan. Sampai-sampai saat Anda berpakaian, Anda perlu mengatakan, “Tuhan, apa cara-Mu? Apa waktu-Mu?” Anak-anak muda, semua keperluan Anda setiap hari telah ditentukan oleh Allah. Tetapi jangan mengharapkan memperolehnya menurut cara dan waktu Anda, itu tidak akan menghasilkan Kristus. Bila Anda ingin dipakai Allah untuk menghasilkan Kristus, tentunya keperluan Anda diberikan bukan menurut cara dan waktu Anda, melainkan menurut cara dan waktu Allah.
Alkitab tidak menyebutkan bahwa Yakub menangis tersedu-sedu setelah Rahel meninggal. Yakub jelas bahwa kematian istrinya adalah di bawah kedaulatan Allah. Yakub tidak putus asa, sebaliknya ia sangat dikuatkan, sehingga ia segera menggantikan nama anaknya yang disebut “anak sengsara” menjadi “anak tangan kanan”. Dalam hal ini Yakub tidak lemah; ia malahan sangat kuat, tahu bahwa kematian Rahel berasal dari Allah. Ini bisa dibuktikan dari fakta Roh Kudus menyebutnya Israel dalam ayat 21. Ini sekaligus membuktikan bahwa ia telah diubah sepenuhnya.
Sebelum pasal 35, Yakub telah banyak mengalami penanggulangan, terutama selama 20 tahun bersama Laban. Tetapi penanggulangan-penanggulangan itu tidak sedalam dan sepribadi seperti kehilangan istri kesayangannya. Penanggulangan ini dalam dan pribadi, dan betul-betul menyentuh lubuk batinnya. Setelah Anda mengenal hidup gereja sampai pada suatu tahap, Anda juga akan mempunyai pengalaman yang serupa. Akan terjadi sesuatu yang menjamah Anda, bukan secara dangkal, melainkan dalam sekali. Pilihan hati Anda akan disingkirkan sehingga Anda dapat menghasilkan Kristus sebagai Benyamin dan Yusuf. Syukur kepada Allah, atas gambar yang jelas dan atas firman ini. Saya percaya bahwa sebagian besar di antara kita memerlukan berita ini justru pada saat ini.
b) Gundik Yakub, Budak Perempuan Rahel,
Ternoda, Mengubah Hak Kesulungan
Kematian Rahel bukan satu-satunya peristiwa menyedihkan yang menimpa Yakub sejak ia berangkat dari Betel. Luka lainnya yang juga dalam ialah gundik Yakub dinodai oleh Ruben (ayat 22). Ini juga pengalaman yang menyentuh dan merobek hatinya. Ayat 22 mencatat sebuah kalimat yang sangat bermakna, “Dan kedengaranlah hal itu kepada Israel.” Boleh jadi Anda heran mengapa perbuatan yang begitu amoral terjadi dalam keluarga yang takwa kepada Allah ini. Namun, hal ini telah terjadi.
Ruben menodai gundik Yakub mengakibatkan hak kesulungannya berubah (1 Taw. 5:1; Kej. 48:22). Ruben dilahirkan Lea sebagai anak sulung. Secara fakta dan realitas, ia adalah anak sulung yang mewarisi hak kesulungan. Tetapi karena ia menodai gundik Yakub, maka ia kehilangan hak kesulungannya; hak kesulungan beralih kepada Yusuf.
Setelah hubungan antara Yakub dengan Rahel ditanggulangi seluruhnya, salah satu anak mereka memperoleh hak kesulungan. Ini sangat berarti. Dalam lubuk batin Yakub, ia merasa Rahel itulah istrinya, bukan Lea. Jadi menurut Yakub, anak sulung itu bukanlah Ruben, melainkan Yusuf. Ruben sebagai anak sulung itu berasal dari Allah, namun hal ini bukanlah keinginan hati Yakub. Dengan kedaulatan-Nya Allah telah mengatur Yakub menikah dengan Lea dan melahirkan Ruben. Tetapi hati Yakub terletak pada Rahel dan Yusuf. Dalam pandangannya, Yusuf itulah yang benar-benar anak sulungnya. Allah itu adil. Setelah Ia “memaksa” Yakub menikah dengan Lea dan menghasilkan anak sulung melaluinya, akhirnya ia melepaskan tangan-Nya dan membiarkan Ruben. Ruben jatuh, dan hak kesulungan pun diubah (disesuaikan).
Hal ini boleh menjadi hiburan Anda. Mungkin Anda prihatin terhadap penanggulangan Allah yang menyeluruh atas pilihan alamiah Anda dan dambaan hati Anda. Namun akhirnya Allah akan kembali menyesuaikan keadaannya. De-ngan hilangnya Rahel, Yakub memperoleh anak kedua yang melambangkan Kristus dan karena Ruben berbuat cemar, maka hak kesulungan disesuaikan. Janganlah kita gelisah dengan apa yang terjadi pada diri kita. Sebaliknya, kita semua harus yakin bahwa segala sesuatu ada di bawah tangan kedaulatan Allah. Ruben menodai gundik Yakub, itu merupakan perkara yang memalukan, namun peristiwa yang memalukan itu bahkan dipakai untuk mendatangkan perkara yang positif. Sebenarnya hak kesulungan itu bukan untuk Ruben, namun menurut kelahiran alamiah, ia me-milikinya. Lalu, dalam kedaulatan-Nya, Allah mengizinkan Ruben jatuh sehingga hak kesulungan itu beralih kepada orang yang sesuai. Alangkah ajaibnya hal ini! Namun, jangan sekali-kali memakai kedaulatan Allah sebagai alasan dan berkata, “Biarlah kita berbuat jahat saja, agar yang baik datang.”
(7) Masuk ke Dalam Persekutuan
Setelah mengalami penanggulangan yang lebih dalam dan lebih pribadi, Yakub masuk ke dalam persekutuan yang sempurna dengan Tuhan di Hebron (ayat 27). Persekutuan di Hebron berarti akrab, damai, puas, dan sukacita. Sangatlah menakjubkan berada di dalam hidup gereja. Namun pada permulaan pengalaman kita akan hidup gereja, kita belum mempunyai persekutuan yang sempurna. Persekutuan ini terdapat di Hebron. Banyak orang dalam hidup gereja hari ini yang tidak mempunyai keadaan rohani yang akrab, damai, puas, dan sukacita. Karena itu, meskipun Anda telah berada dalam hidup gereja, Anda tetap harus maju terus, melalui penanggulangan yang lebih dalam dan lebih pribadi, sehingga Anda mencapai Hebron dan memasuki persekutuan yang sempurna dengan Tuhan. Dalam persekutuan ini Anda akan memiliki sukacita, kepuasan, kedamaian, dan keakraban yang sempurna dengan Tuhan. Ayat 27 mengatakan, “Lalu sampailah Yakub kepada Ishak, ayahnya, di Mamre dekat Kiryat-Arba — itulah Hebron — tempat Abraham dan Ishak tinggal sebagai orang asing.” Abraham telah tiba di Sikhem (12:6), melalui Betel (12:8), dan tinggal di Hebron (13:8; 18:1). Ishak melewatkan hampir seluruh hidupnya di Hebron. Jadi, Yakub mengikuti jejak Abraham sampai ke Sikhem (33:18), melalui Betel (35:6), dan tinggal di Hebron. Kita semua perlu datang ke Hebron. Walau kita berada dalam hidup gereja, kita tetap belum mempunyai perhentian, kedamaian yang penuh, kepuasan, sukacita, dan keakraban, kecuali kita maju terus dalam rohani kita ke Hebron. Di Hebron kita menikmati keakraban yang ajaib dengan Tuhan. Hebron juga merupakan tempat di mana hayat kita matang. Dalam Kejadian 37:1, Yakub mulai matang, karena ia di Hebron.
(8) Terlepas dari Hubungan dengan Ayahnya
Ayat 28-29 memberi tahu kita kematian Ishak. Ketika Yakub di Hebron, ikatannya yang terakhir, yaitu hubungan dengan ayahnya terputus. Ada orang mungkin berkata, “Kita semua harus menghormati orang tua kita. Mengapa Anda menyatakan bahwa ikatannya terputus ketika ayah Yakub meninggal?” Di satu pihak, memang baik kalau orang tua kita ada bersama kita, namun di pihak lain, setiap hubungan merupakan suatu belenggu. Setelah Yakub tiba di Hebron dan memasuki perhentian yang penuh, Allah kemudian mengambil ayahnya dan membuat dia bebas seluruhnya dari setiap belenggu duniawi. Pada akhir pasal 35, kita nampak seorang yang telah diubah sepenuhnya dan yang telah dibebaskan. Kini Yakub di Hebron berada dalam perhentian, sukacita, kepuasan, keakraban, dan persekutuan yang penuh dengan Tuhan. Di Hebron tidak ada sekatan antara Yakub dengan Tuhan. Di sini ia dapat bernyanyi, “Tak bersekat, ku dengan Tuhan.” Pada diri Yakub kita nampak seseorang yang telah mutlak ditanggulangi oleh Allah dan disesuaikan seluruhnya oleh-Nya. Semua belenggu telah diputuskan sehingga ia bebas sama sekali untuk menikmati persekutuan yang akrab dengan Tuhan di Hebron.
?