LADANG ALLAH DAN BANGUNAN ALLAH
Pembacaan Alkitab: 1Kor. 3:1-17
Setelah menunjukkan tentang merawat, minum, makan, menanam, menyiram, dan bertumbuh, dalam 3:9 Paulus berkata, ”Kamu adalah ladang Allah, bangunan Allah.” Paulus dapat berkata bahwa ia menanam, Apolos menyiram, dan Allah yang menumbuhkan; karena kaum beriman adalah ladang Allah. Secara harfiah, ladang berarti tanah pertanian. Kaum beriman yang telah dilahirkan kembali di dalam Kristus dengan hayat Allah adalah ladang Allah, tanah pertanian dalam ciptaan baru Allah, yang menumbuhkan Kristus. Sebagai orang-orang yang telah percaya kepada Kristus dan menerima-Nya, kita bukan lagi seperti tanah yang masih mentah atau liar. Kita bukanlah orang-orang yang belum dijamah oleh Allah. Sebaliknya, Allah telah menaburkan sesuatu ke dalam kita, dan kita telah dijamah serta digarap oleh-Nya. Kini kita adalah ladang Allah yang menumbuhkan Kristus.
Dalam Alkitab, konsepsi mengenai menanam, menggarap, dan menumbuhkan sangatlah ditekankan. Tuhan Yesus sendiri menggunakan perumpamaan seorang penabur. Dalam Matius 13:3 Ia berkata, ”Adalah seorang penabur ke luar untuk menabur.” Dari Matius 13:37 kita tahu bahwa Tuhan adalah Sang Penabur: ”Orang yang menaburkan benih baik ialah Anak Manusia.” Benih yang ditaburkan-Nya tidak lain adalah diri-Nya sendiri, yaitu Tuhan di dalam firman. Benih ini adalah Allah sendiri. Tuhan Yesus datang sebagai seorang Penabur untuk menaburkan Allah ke dalam kita. Kita ini tanah, lahan, tanah pertanian, ladang, untuk menumbuhkan Allah.
Dalam berita yang lalu kita menunjukkan bahwa gereja adalah rumah makan. Sekarang kita mengatakan bahwa gereja adalah ladang. Tentunya, di sini tidak terjadi kontradiksi, karena gereja memiliki banyak aspek. Sebagai tempat untuk menghasilkan pertumbuhan, gereja adalah ladang. Tetapi sebagai tempat di mana hasil ini disiapkan, disajikan sebagai makanan kita, gereja adalah sebuah rumah makan.
PERTUMBUHAN DAN PEMBANGUNAN
Dalam ayat 9 Paulus berkata bahwa kita adalah ladang Allah dan bangunan Allah. Seolah-olah tidak ada hubungan yang logis antara ladang dengan bangunan. Apakah hubungan ladang dengan bangunan? Tidak seorang pun pernah melihat sebuah bangunan yang terbentuk dari buah-buahan dan sayur-mayur yang tumbuh di ladang. Namun gereja sebagai ladang Allah menghasilkan bahan-bahan untuk bangunan-Nya.
Sebagai orang Kristen, kita menumbuhkan Kristus. Kini kita harus bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah kita dibangun, atau belum? Banyak di antara kita merasa raguragu mengatakan bahwa kita telah benar-benar dibangun menjadi bangunan Allah. Jika orang kudus dihadapkan pa-da pertanyaan ini, hampir semua menjawab bahwa kita telah dibangun sampai ke suatu tahap. Sebenarnya, inilah jawaban yang benar. Dikatakan dari segi pembangunan rohani, pembangunan dalam hayat, pembangunan yang sebenarnya adalah pertumbuhan dalam hayat. Tahap yang kita capai dalam pembangunan adalah tahap yang kita capai dalam pertumbuhan kita.
Menumbuhkan di sini mengacu kepada menumbuhkan bahan-bahan makanan. Bertumbuh juga berarti bertambah. Misalnya, seorang saudara mungkin hanya berbobot tujuh pon pada waktu ia dilahirkan, tetapi sekarang bobotnya menjadi seratus tujuh puluh pon. Inilah arti yang kedua dari bertumbuh. Terbangun dalam gereja adalah bertumbuh dalam pengertian Kristus bertambah sampai tahap tertentu. Pertambahan Kristus adalah perawakan kita. Terbangun ke dalam bangunan rohani pertama-tama tidak berarti berkaitan satu dengan yang lain. Ini berarti kita memiliki hayat alamiah yang semakin berkurang dan memiliki lebih banyak Kristus di dalam kita. Semakin berkurang hayat alamiah kita dan semakin bertambah banyak Kristus di dalam kita, semakin mudahlah kita berkoordinasi dengan yang lain. Sesungguhnya, kita harus bisa berkoordinasi dengan siapa pun. Akan tetapi, beberapa orang kudus mengatakan bahwa mereka tidak bisa meninggalkan lokal mereka karena mereka telah terbangun dengan orang kudus tertentu di tempat itu. Menurut konsepsi mereka, karena mereka telah terbangun bersama dengan orang-orang tersebut, mustahillah mereka meninggalkan lokal itu. Itu bukanlah pembangunan yang sejati. Sebaliknya, itu hanyalah persahabatan atau sejenis hubungan sosial. Jika Anda benar-benar terbangun di dalam gereja, Anda akan berkurang, dan Kristus bertambah di dalam Anda. Maka di mana pun Anda berada, Anda dapat menyatu dengan orang kudus dan berkoordinasi dengan mereka. Begitu Anda terbangun ke dalam bangunan rohani Allah, Anda tidak mungkin dapat keluar darinya.
Sebagai gereja, kita adalah ladang Allah dan bangunan Allah. Ladang adalah untuk pembangunan. Apa pun yang dihasilkan di ladang dan oleh ladang adalah bagi pembangunan.
SATU-SATUNYA DASAR
Sebuah bangunan membutuhkan dasar. Karena itu, dalam 3:10 dan 11 Paulus berbicara mengenai dasar bangunan Allah: ”Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain memba-ngun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Kristus, satu-satunya dasar telah diletakkan. Dasar ini telah dibangun bukan saja untuk zaman para rasul, tetapi untuk selamanya. Akan tetapi, selama sembilan belas abad yang lalu, banyak pekerja Kristen berusaha meletakkan dasar-dasar yang lain. Setiap denominasi dan kelompok memiliki dasar khususnya tersendiri. Di antara orang Kristen hari ini terdapat beribu-ribu dasar.
MELETAKKAN DASAR YANG LAIN
Kita perlu memahami perkataan Paulus tentang Kristus sebagai dasar menurut konteks dari ketiga pasal yang pertama dari 1Korintus. Dalam pasal-pasal ini seolah-olah Paulus berkata, ”Kalian, orang-orang di Korintus, menyatakan bahwa kalian dari golongan Apolos, Kefas, atau Paulus, itu berarti kalian meletakkan dasar yang lain. Setiap kali kalian mengatakan bahwa kalian dari seseorang atau dari sesuatu, kalian meletakkan suatu dasar.” Berbagai pilihan dan kesukaan sebenarnya adalah dasar-dasar. Misalnya, seseorang mungkin menyukai baptisan selam. Hal itu adalah suatu dasar. Yang lain mungkin menyukai perjamuan Tuhan dengan roti tidak beragi. Hal itu pun merupakan dasar. Mereka yang memilih baptisan selam mungkin tidak menerima mereka yang tidak mempraktekkannya. Hasilnya adalah perpecahan. Suatu perpecahan selalu disebabkan oleh karena meletakkan dasar lain selain Kristus sendiri. Bahkan kita sendiri mungkin meletakkan dasar yang lain oleh karena memilih-milih gereja lokal. Seseorang mungkin berkata bahwa ia tidak menyukai gereja di lokalnya dan ingin pindah ke tempat lain. Ini pun meletakkan suatu dasar. Menurut konsepsi kita, kita mempunyai kebebasan memilih sebuah gereja lokal yang sesuai dengan pilihan kita. Mungkin kita memilih gereja tertentu karena gereja itu memenuhi selera kita. Bersikap pilih-pilih terhadap gereja-gereja adalah meletakkan dasar yang lain. Ini adalah penjelasan akurat terhadap perkataan Paulus dalam 3:10-11.
Antara ayat 4 dan 11 ada suatu hubungan yang langsung. Hubungan itu menjadi jelas kalau kita menelusuri pemikiran Paulus dari ayat 11 sampai ayat 4. Menurut ayat 11, Kristus adalah dasar yang unik. Kenyataan bahwa ayat ini dimulai dengan kata ”karena” menunjukkan bahwa ia menjelaskan ayat sebelumnya. Ketika kita menelusuri hubungan ini, kita akan sampai pada masalah penanam dan penyiram adalah satu (ayat 8). Dalam ayat 7 Paulus berkata, ”Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang menumbuhkan.” Menyinggung pertumbuhan hayat, para pelayan Kristus bukanlah apa-apa, hanya Allahlah yang menjadi segala sesuatu. Dalam ayat 5 dan 6, kita nampak bahwa Paulus yang menanam dan Apolos yang menyiram hanyalah pela-yan-pelayan dan melalui merekalah orang-orang Korintus percaya. Karena itu, orang-orang Korintus tidak seharusnya lebih menyukai atau pilih kasih kepada yang satu atau yang lainnya. Seperti yang dikatakan Paulus dalam ayat 4, ”Karena jika yang seorang berkata, ’Aku dari golongan Paulus,’ dan yang lain berkata, ’Aku dari golongan Apolos,’ bukankah hal itu menunjukkan bahwa kamu manusia bersifat tubuh daging?” (Tl.). Hubungan antara ayat 4 dan 11 adalah demikian: Mengatakan bahwa kita dari golongan seseorang berarti meletakkan dasar yang lain. Memihak seseorang selain Kristus adalah meletakkan dasar selain Kristus. Mereka yang mengatakan, ”Aku dari golongan Paulus,” berarti meletakkan Paulus sebagai dasar, dan mereka yang menyatakan, ”Aku termasuk golongan Apolos,” berarti meletakkannya sebagai dasar. Dalam prinsipnya, demikian pula mereka yang menyukai doktrin, praktek, atau orang-orang tertentu. Mereka yang memihak pada baptisan selam meletakkan baptisan selam sebagai dasar. Hal ini memisahkan mereka dari kaum beriman lainnya dan memecah-belah mereka dari kaum beriman itu.
Sejak zaman para rasul, banyak pemimpin dan guru-guru Kristen telah meletakkan dasar-dasar khusus. Dasar-dasar itu menjadi faktor pemecah belah. Orang-orang Kristen hari ini terpecah-pecah oleh berbagai macam dasar. Meskipun kita dalam pemulihan Tuhan secara luaran tidak meletakkan dasar-dasar lain, namun mungkin kita masih bersikap pilih-pilih. Misalnya, seseorang boleh jadi berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku menyukai penatua tertentu di gereja lokalku. Kapan kala aku perlu membicarakan sesuatu kepada penatua, aku lebih suka datang kepadanya. Penatua inilah pilihanku, kesukaanku. Aku tidak suka berbicara dengan penatua lainnya.” Perkataan demikian sebenarnya berarti, ”Aku dari golongan penatua ini.” Seperti telah kita tunjukkan, ini berarti meletakkan dasar lain selain Kristus. Meletakkan dasar selain Kristus sendiri adalah menghancurkan kehidupan Tubuh dan bangunan Allah. Dengan kata lain, hal ini bukanlah membangun gereja, tetapi merubuhkan gereja.
TIDAK PILIH-PILIH
Ketika orang-orang Korintus mengatakan bahwa mereka dari golongan Paulus, Apolos, atau Kefas, mereka merusak pembangunan; mereka meruntuhkan bait Allah. Hal ini merupakan satu peringatan yang keras bagi kita supaya tidak pilih-pilih terhadap orang-orang, praktek-praktek, atau tempat. Jika seorang beriman pindah dari satu gereja lokal ke gereja lokal lain, ia harus murni menuruti pimpinan Tuhan, tidak boleh ada motivasi lainnya. Jikalau seseorang pindah karena gereja di lokalnya tidak sesuai dengan seleranya, atau karena penatua tertentu tidak menyenangkan dia, atau dia tidak senang kepada saudara atau saudari tertentu, orang ini sedang meletakkan dasar yang lain. Ini adalah perpecahan. Ini benar-benar bukan membangun. Seperti yang telah kita nampak, pembangunan yang sejati adalah hayat alamiah kita berkurang, dan Kristus bertambah di dalam kita. Jika kita demikian, kita tidak akan pilih-pilih. Jika Tuhan memimpin kita ke tempat yang agak sukar, kita akan memuji Dia karena kesukaran itu, karena kita tahu bahwa kesukaran-kesukaran itu akan membuat diri kita semakin berkurang dan akan memberikan ruangan yang lebih lapang di dalam kita bagi Kristus. Maka kita akan mendapatkan pertumbuhan yang sejati, dan kita akan senang terhadap kehidupan gereja.
Misalkan gereja di lokal Anda mendatangkan kesukaran bagi Anda. Lagi pula, penatuanya tidak ramah terhadap siapa pun. Apa yang akan Anda perbuat? Apakah Anda akan pindah ke tempat yang Anda angap kehidupan gerejanya lebih baik? Apakah Anda akan pindah ke tempat yang penatuanya ramah tamah dan gereja tidak mendatangkan kesukaran apa pun bagi Anda? Jikalau Anda di luar pimpinan Tuhan bertindak demikian, Anda akan bertindak menurut pilihan Anda sendiri. Saya harap semua orang kudus, tidak peduli tua atau muda, menyadari bahwa pilihan semacam itu tidak seharusnya ada dalam pemulihan Tuhan.
Bahkan mengkritik gereja di lokal Anda adalah meletakkan dasar yang lain. Mengkritik adalah memecah-belah dan mendatangkan keruntuhan, merobohkan pembangunan. Beberapa orang kudus yang mendengar perkataan ini mungkin akan berkata, ”Tidak adil. Anda tidak mengetahui betapa kasihan gereja di lokalku. Jika Anda mengunjungi gereja ini, Anda akan setuju dengan pendapatku.” Tidak, saya tidak akan mengkritik gereja di lokal Anda. Sebaliknya, jika saya harus berada di lokal itu, saya akan memeluk dengan mesra gereja di sana.
Misalkan Anda berada dalam satu keluarga besar yang terdiri atas lima saudara dan enam saudari. Beberapa saudara dan saudari Anda bijaksana dan lainnya bodoh. Beberapa baik hati, tetapi yang lainnya tidak. Apakah Anda akan menolak yang bodoh dan yang tidak baik hati dan hanya memperhatikan yang bijaksana dan yang baik? Tidak, Anda harus menyayangi dan menerima semua saudara dan saudari Anda. Mereka semua berasal dari orang tua Anda. Seprinsip dengan ini, semua saudara dan saudari dalam kehidupan gereja adalah anak-anak Allah Bapa. Kita tidak boleh mencari-cari kesalahan mereka atau mengkritik mereka, karena mereka telah dilahirkan dari Allah. Lagi pula, kita tidak boleh pilih-pilih di antara mereka. Sebagaimana keluarga kita adalah unik, demikian pula gereja adalah unik. Karena itu kita tidak boleh pilih-pilih.
Apa yang telah saya bicarakan dalam berita ini berdasar pada perkataan Paulus dalam tiga pasal pertama dari 1Korintus. Pasal 3 didasari oleh pasal 1 dan 2. Dalam pasal-pasal ini Paulus seolah-olah berkata, ”Kalian, orang-orang beriman di Korintus, mempunyai pilihan atau kesukaan sendiri. Ada yang menyukai aku, yang lain menyukai Apolos, dan yang lainnya lagi menyukai Kefas. Kalian juga memiliki kesukaan kepada kebudayaan, karena orang-orang tertentu di antara kalian menyukai agama Yahudi, sementara yang lain menyukai kebudayaan dan filsafat Yunani. Kalian mempunyai kesukaan terhadap orang, hal-hal, dan benda-benda. Kalian perlu melihat bahwa memiliki kesukaan berarti meletakkan sebuah dasar. Tetapi tidak ada dasar lain yang dapat diletakkan selain dasar yang telah diletak kan Yesus Kristus. Ketika aku berada di antara kalian, aku meletakkan satu-satunya dasar, dan dasar ini adalah Kristus sendiri. Aku datang kepada kalian dengan satu ketetapan untuk tidak mengetahui apa-apa kecuali Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Hanya Kristus dasarnya. Dasar itu bukan agama Yahudi, filsafat Yunani, Kefas, Apolos, Paulus, atau orang lain. Baik Paulus maupun Apolos bukanlah apa-apa; kami tidak berarti sedikit pun. Yang menanam dan yang menyiram tidak terbilang apa. Hanya Allah yang menumbuhkan, itulah yang terhitung.” Inilah makna perkataan Paulus mengenai Kristus sebagai satu-satunya dasar.
PEMBANGUNAN YANG SEJATI
Saya harap semua orang kudus dalam pemulihan Tuhan akan melihat bahwa kita adalah ladang Allah untuk mempertumbuhkan Kristus dan juga bangunan Allah, tempat kediaman-Nya. Kita memerlukan pembangunan yang sejati. Untuk memiliki pembangunan, kita harus bertum-buh, melalui diri kita berkurang dan dengan bertambahnya Kristus di dalam kita. Hasil dari pertumbuhan dan pembangunan yang sejati adalah kita tidak memiliki kesukaan terhadap orang-orang, hal-hal, atau benda-benda. Ini juga berarti kita tidak pilih-pilih tempat. Kita cukup bahagia karena kita adalah anggota dalam Tubuh Tuhan, bertumbuh dalam Kristus. Apabila kondisi kita demikian, di mana pun kita berada, kita akan berkoordinasi dengan semua orang kudus, tidak peduli apakah mereka baik hati atau tidak. Pembangunan yang sejati adalah diri kita berkurang dan Kristus bertambah, hingga kita mencapai ukuran kepenuhan Kristus.
Dalam 3:10 Paulus memperingatkan kita untuk memperhatikan bagaimana kita membangun di atas dasar yang telah diletakkan. Janganlah membangun dengan kayu, rumput, atau jerami, tetapi membangunlah dengan emas, perak, dan batu permata. Bahan-bahan ini melibatkan pengubahan. Apa yang dipertumbuhkan oleh ladang adalah tumbuh-tumbuhan, tetapi yang diperlukan bagi pembangunan bukanlah tumbuh-tumbuhan, melainkan mineral. Hanya mineral yang dapat dipakai bagi bangunan Allah. Untuk mendapat mineral, harus ada pengubahan. Hayat tumbuh-tumbuhan harus diubah menjadi mineral. Jadi, dalam pasal 3 kita mempunyai konsepsi ladang, pembangunan, dan pengubahan. Dalam ayat 17 kita juga mempunyai konsepsi bait Allah.
Ketika kita mempertimbangkan hal-hal ini, kita akan menyadari bahwa 1Korintus adalah surat yang mustika, satu surat yang dipenuhi dengan harta karun. Pada saat yang sama, surat ini menanggulangi banyak keruwetan yang berhubungan dengan kehidupan gereja. Puji Tuhan untuk apa yang telah kita lihat mengenai merawat, minum, makan, menanam, menyiram, dan bertumbuh! Kita juga bersyukur untuk apa yang telah kita lihat mengenai ladang, bangunan, dasar, pengubahan, dan bait Allah. Satu Korintus adalah surat yang penuh mustika, juga keruwetan, cocok dengan kondisi dan situasi kita dewasa ini. Surat ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang Kristen hari ini. Semua orang beriman perlu melihat apa yang diwahyukan dalam Surat Kiriman ini.