← Daftar isi 1 Korintus (2) · bab 10/25

PENGUBAHAN BAGI PEMBANGUNAN

Pembacaan Alkitab:

1Kor. 3:10-17; 2 Kor. 3:17-18; Rm. 12:2

Dalam 1 Korintus 3 Paulus membahas masalah merawat, minum, makan, menanam, menyiram, dan bertumbuh. Kesemuanya ini berkaitan dengan hayat. Selanjutnya dalam 3:9 Paulus menyebut gereja sebagai ladang Allah dan bangunan Allah. Tentunya ladang adalah masalah hayat, dan pembangunan adalah hasil yang dikeluarkan oleh hayat. Tidak ada bahan bangunan yang bersangkutan dengan hayat, tetapi pembangunan rohani yang disebut dalam pasal ini erat kaitannya dengan hayat. Paulus berbicara tentang pembangunan ini tidak hanya dalam 1 Korintus, tetapi juga di Efesus, Kolose, dan Roma. Akan tetapi butir dasar mengenai pembangunan ini dibahas dalam 1 Korintus. Keseluruhan pembangunan Allah adalah pembangunan dalam hayat dan dari hayat, karena pembangunan ini adalah pembangunan Tubuh Kristus.

LADANG DAN BANGUNAN

Kelihatannya ladang tidak ada hubungan dengan bangunan. Menurut konsepsi alamiah kita, ladang adalah masalah hayat, sedangkan bangunan adalah suatu paduan dari bahan-bahan yang tanpa hayat. Jadi, seolah-olah tidak ada kaitan yang cocok antara penyataan ladang Allah dan bangunan Allah. Akan tetapi, bila kita menyadari bahwa bangunan di sini adalah satu bangunan yang hidup, satu bangunan dalam hayat, kita akan melihat bahwa ada satu kaitan langsung, satu kelanjutan yang indah, antara ladang dan bangunan. Apa pun yang dihasilkan di ladang bukanlah bagi ladang itu sendiri, melainkan bagi bangunan. Hasil yang dipertumbuhkan di ladang adalah bagi pembangunan.

Walaupun hasil yang tumbuh di ladang adalah bagi pembangunan, hasil itu tidak langsung masuk ke dalam pembangunan. Sebaliknya, boleh kita katakan bahwa hasil itu menuju rumah makan gereja untuk dimakan, dicerna, dan diasimilasikan oleh orang-orang kudus. Melalui proses ini, apa yang tumbuh di ladang dimakan oleh orang kudus dan akhirnya menjadi mereka sendiri.

Ladang tidak hanya menghasilkan sayur-mayur, hayat tumbuh-tumbuhan (nabati), tetapi juga makanan dari hayat hewani. Hayat nabati dan hayat hewani itu harus kita makan di rumah makan gereja. Dalam 3:2 Paulus berkata, ”Susulah yang kuberikan kepadamu.” Susu adalah produksi hayat hewani dan nabati, yaitu produksi sapi yang makan rumput. Susu adalah hasil perbauran hayat hewani dengan hayat nabati. Perbauran kedua hayat ini juga menghasilkan daging. Tanpa hayat hewani kita tidak memiliki daging. Demikian pula tanpa hayat nabati kita tidak akan dapat memiliki daging, karena ternak tergantung pada rumput sebagai makanannya. Mula-mula mereka makan hayat nabati dan kemudian mereka menghasilkan susu dan daging bagi kita.

Saya menyebut hal ini karena susu dan daging adalah lambang Kristus sebagai suplai hayat kita. Dalam Yohanes 6:48 Tuhan Yesus berkata, "Akulah roti hayat." Roti dibuat dengan bahan dasar tepung, yang berasal dari hayat tumbuh-tumbuhan. Akan tetapi, Tuhan Yesus selanjutnya berbicara tentang roti sebagai daging-Nya, "Dan roti yang akan Kuberikan itu ialah dagingKu yang akan Kuberikan untuk hidup dunia" (Yoh. 6:51). Hal ini menunjukkan bahwa susunan bahan roti ini bukan hanya hayat nabati, tetapi juga hayat hewani; yakni roti daging. Karena itu, sulit dikatakan apakah Kristus sebagai suplai hayat kita itu dari hayat nabati atau hayat hewani. Roti ini adalah hasil, perbauran kedua hayat tersebut.

Semakin kita makan Kristus sebagai suplai hayat kita, semakin kita dipindahkan ke dalam bangunan Allah. Mula-mula kita adalah ladang yang menghasilkan sesuatu untuk dimakan. Dengan makan apa yang dihasilkan di ladang, kita dibawa masuk ke dalam pembangunan.

PROSES METABOLIS

Agar makanan yang kita makan menjadi bagian-bagian kita, haruslah ada proses metabolis. Proses ini dalam Alkitab disebut pengubahan. Pengubahan mencakup perubahan metabolis. Karena itu, pengubahan adalah proses metabolis semata. Mula-mula kita makan sesuatu. Sejenak kemudian, makanan itu dicerna dan diasimilasi. Akhirnya makanan yang dicerna dan diasimilasi itu menjadi jaringan tubuh kita. Inilah metabolisme, pengubahan.

Agar seorang bayi yang berbobot tiga setengah kilo bertumbuh menjadi seorang dewasa yang berbobot delapan puluh lima kilo, ia harus makan secara teratur dan harus ada proses metabolis yang normal. Berangsur-angsur makanan yang dimakan oleh bayi itu akan mempertumbuhkannya. Akhirnya, sebagai hasil dari proses metabolis dalam jangka waktu yang lama, ia akan menjadi seorang dewasa yang matang. Ia menjadi seorang dewasa, berkat dari komposisi semua makanan yang telah dimakan, dicerna, dan diasimilasikannya. Hal ini melukiskan proses metabolis secara rohani. Hasil ladang itu kita makan dan kita cerna. Akhirnya melalui proses metabolis, suplai makanan ini menjadi kita dan mengubah kita menjadi bahan-bahan bagi pembangunan Tubuh Kristus.

Gereja adalah ladang untuk menumbuhkan Kristus. Setiap hal yang dihasilkan di ladang adalah Kristus. Hasil ladang ini mencakup berbagai aspek Kristus. Kristuslah susu, sayur-mayur, dan daging. Gereja menumbuhkan Kristus dan semua orang kudus makan Kristus. Akhirnya melalui pencernaan, asimilasi, dan metabolisme, Kristus menjadi kita, dan kita menjadi Dia. Maka, kita adalah bahanbahan yang tepat untuk pembangunan.

Tulisan Paulus dalam 1Korintus 3 mempunyai hubungan langsung dari satu hal ke hal lain. Mula-mula ia menyinggung merawat, minum, dan makan. Lalu ia melanjutkan dengan menyebut menanam dan menyiram. Setelah itu ia memberi tahu kita bahwa Allahlah yang menumbuhkan. Selanjutnya, dalam ayat 9 ia berkata bahwa kita adalah ladang dan bangunan. Karena itu hal-hal ini berhubungan satu sama lain. Seperti yang telah kita nampak, ladang menjadi bangunan.

MEMBANGUN DI ATAS

SATU-SATUNYA DASAR

Dalam ayat 10 dan 11 Paulus berbicara secara langsung dan tegas tentang Kristus sebagai dasar, ”Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Di sini Paulus menunjukkan bahwa ia telah meletakkan Kristus sebagai satu-satunya dasar. Di alam semesta ini hanya ada satu dasar, dan kita tidak boleh meletakkan dasar yang lain. Janganlah kita mengatakan bahwa kita dari golongan orang tertentu, atau perkara tertentu, atau kita menyukai hal-hal tertentu, atau kita memilih satu tempat tertentu bagi kehidupan gereja. Berkata demikian adalah meletakkan dasar yang lain selain Kristus. Kita tidak boleh meletakkan dasar yang lain, kita harus membangun di atas dasar yang telah diletakkan.

Kekristenan hari ini mempunyai banyak dasar yang lain, tetapi tidak terdapat pembangunan yang nyata di atas dasar yang telah diletakkan. Pemulihan Tuhan haruslah berbeda dengan mereka. Dalam pemulihan kita tidak boleh meletakkan dasar yang lain; kita seharusnya hanya membangun di atas dasar yang telah diletakkan lebih dari 1.900 tahun yang silam. Puji syukur kepada Tuhan bahwa dalam belas kasihan-Nya, Dia telah memulihkan satu-satunya dasar ini. Bertahun-tahun yang lalu, di China kami berdiri tegap bagi Kristus yang adalah satu-satunya dasar. Kami harus mengikrarkan kepada mereka yang di denominasi bahwa kami tidak dapat memiliki dasar yang lain selain Kristus sendiri. Akibatnya banyak hal harus dikesampingkan sehingga hanya Kristus yang ditinggikan. Kini satusatunya dasar ini telah diletakkan, dan kita harus membangun di atasnya.

Dalam pasal 3:10 Paulus berkata, ”Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.” Ketika kita membicarakan bagaimana kita melakukan sesuatu, biasanya yang kita maksudkan adalah caranya, bukan bahan-bahan yang digunakan. Ketika membicarakan bahan-bahan, umumnya kita mengatakan, ”Dengan apa kamu membangun?” Kita tidak bertanya, ”Bagaimana kamu membangun?” Tetapi dalam Alkitab kedua hal ini sama. Bagaimana kita membangun di atas dasar itu sama dengan kita membangun dengan apa. Dengan kata lain, menurut Alkitab, bahan yang digunakan dalam membangun adalah cara kita membangun. Menurut pemikiran alamiah kita, bahan itu satu hal dan cara itu hal lain. Bahan mengacu kepada unsur, tetapi cara mengacu kepada keterampilan atau teknik. Tetapi dalam Alkitab unsur itu adalah teknik; bahan itu adalah caranya. Sesungguhnya, Alkitab tidak banyak memperhatikan keterampilan atau teknik, tetapi memberikan banyak perhatian pada bahan. Perhatian Paulus bukan tertuju pada cara atau metode apa yang kita pakai untuk membangun gereja. Ia memperhatikan bahan apa yang kita pergunakan dalam membangun.

DUA CARA MEMBANGUN

Dalam ayat 12 Paulus menyinggung dua cara membangun, ”Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering, atau jerami.” Cara pertama adalah membangun dengan emas, perak, dan batu permata; cara kedua adalah membangun dengan kayu, rumput, dan jerami. Di sini kita memiliki dua kategori bahan-bahan bangunan. Emas, perak, dan batu permata adalah hasil tambang (mineral). Kayu, rumput, dan jerami berkaitan dengan hayat tumbuh-tumbuhan. Kita semua dalam pemulihan Tuhan sedang melakukan pekerjaan pembangunan. Jadi kita harus memperhatikan bagaimana kita membangun. Apakah kita membangun dengan emas, perak, dan batu permata, atau dengan kayu, rumput, dan jerami?

Perkataan Paulus dalam 3:12 tidak hanya ditujukan kepada para penatua atau rekan sekerja. Sebaliknya, ditulis untuk setiap orang beriman. Hal ini terdapat dalam Surat Kiriman yang ditujukan kepada gereja di Korintus, dengan semua orang yang menyeru nama Tuhan Yesus Kristus di segala tempat. Jadi, ayat ini ditujukan kepada kita semua, ditujukan kepada Anda juga saya.

Dalam membangun gereja, kita sendirilah yang digunakan sebagai bahan. Karena kita adalah bahan bangunan, kita perlu bertanya bahan jenis apakah kita. Kita ini kayu atau emas, rumput atau perak, jerami atau batu permata? Banyak di antara kita mungkin menjawab pertanyaan ini dengan mengatakan bahwa kita berada dalam proses pengubahan. Karena itu, dalam satu aspek kita adalah kayu dan emas, rumput dan perak, jerami dan batu permata. Kita dapat mengumpamakan diri kita sebagai seekor ulat dalam kepompong, dalam proses menjadi seekor kupu-kupu. Di satu pihak kita masih seekor ulat; di pihak lain, ada tanda-tanda kita sedang menjadi seekor kupu-kupu. Proses pengubahan telah dimulai, tetapi belum sempurna. Kita semua berada pada tahap pengubahan; kita sedang dalam proses diubah.

TRANSFUSI DAN PENGUBAHAN

Dalam 2Korintus 3:18 Paulus berkata, ”Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Untuk memandang Tuhan dan diubah, kita perlu muka yang tidak berselubung. Tidak boleh ada selubung antara kita dengan Tuhan. Dalam pengalaman, selubung mengacu kepada semacam penyekat. Tidak peduli betapa dekatnya kita dengan Tuhan, bila kita tersekat oleh selubung, Dia tidak dapat menginfuskan diri-Nya sendiri ke dalam kita. Isolasi adalah sebuah istilah yang sering digunakan sehubungan dengan listrik. Mengisolasikan sesuatu adalah membungkusnya sehingga tidak dapat menerima arus listrik. Sepotong kertas yang tipis pun dapat menjadi isolator. Mungkin instalasinya baik dan alat listriknya masih bagus, tetapi arus listrik tidak dapat dialirkan ke dalam alat listrik bila ada isolasi yang menyekat hubungan langsung.

Hal ini mengilustrasikan apa yang terjadi dalam hidup banyak orang Kristen hari ini. Kaum beriman mungkin berpikir bahwa bila mereka mengasihi Tuhan, dekat dengan Tuhan, dan berjalan beserta Tuhan, maka bereslah semuanya. Akan tetapi, mereka tidak sadar bahwa mereka masih di dalam selubung, dan selubung itu mengisolasikan mereka dari transfusi Tuhan.

Menurut Paulus kita perlu memandang Tuhan dengan wajah yang tidak berselubung. Tidak boleh ada selubung apa pun di antara kita dengan Tuhan. Bila kita membuka selubung kita, kita akan seperti cermin yang mencerminkan gambar mulia Tuhan. Jika kita memandang Dia dengan langsung, tanpa selubung, tanpa sekatan, kita mengalami transfusi-Nya. Kita terinfus dengan aliran listrik ilahi.

Makan Tuhan erat kaitannya dengan ditransfusi oleh Dia. Sebenarnya makan Tuhan Yesus adalah membiarkan Dia masuk ke dalam kita dengan cara transfusi. Hal ini dengan jelas diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Menurut Perjanjian Baru, hubungan kita dengan Tuhan adalah masalah hidup rohani, sebab itu, bahasa manusia tidak dapat melukiskannya dengan tepat. Dengan alasan inilah Paulus menggunakan kiasan. Dalam 1Korintus 3 kata-kata merawat, susu, minum, dan makanan keras adalah kiasan. Tuhan Yesus juga menggunakan kiasan dan perumpamaan dalam ajaran-Nya, misalkan ketika Dia berkata, ”Akulah roti hayat” (Yoh. 6:35). Tuhan Yesus melanjutkan bahwa roti yang akan diberikan-Nya adalah daging-Nya. Orang-orang Yahudi ”bertengkar antara sesama mereka dan berkata, ’Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan?’” (ayat 52). Makan Tuhan Yesus adalah menerima Dia ke dalam kita dan membiarkan Dia menambahkan diri-Nya sendiri kepada kita.

Makan bukanlah satu perkara yang satu kali untuk selamanya, melainkan haruslah diulang-ulang dari hari ke hari. Kita telah menikmati berbagai ragam makanan selama bertahun-tahun, namun sampai hari ini kita masih perlu makan. Setiap kali kita makan, proses transfusi terjadi di dalam kita. Dengan makan dan dengan transfusi, Kristus ditambahkan ke dalam kita.

Makan berkaitan dengan pengubahan. Ketika makanan dimakan, dicerna, dan diasimilasikan, satu unsur baru di tambahkan ke dalam diri kita untuk menggantikan dan membuang unsur yang lama. Inilah proses metabolis dari pengubahan. Makna makan adalah menambahkan unsur baru ke dalam kita untuk menggantikan unsur lama agar menghasilkan pengubahan yang metabolis. Masalah yang penting ini sangat diabaikan oleh orang Kristen hari ini.

Misalkan wajah seseorang sangat pucat. Ada perbedaan yang besar antara mengubah warna mukanya dengan berias dan dengan perubahan air muka sebagai hasil memakan makanan yang pantas dan metabolisme yang tepat. Merias adalah pekerjaan tukang rias jenazah. Seorang tukang rias jenazah merias wajah orang mati karena tidak mungkin ada perubahan metabolis apa pun pada diri orang mati itu. Dalam kehidupan kekristenan kita, kita tidak boleh berusaha mewarnai diri sendiri dengan riasan rohani, melainkan kita harus makan Tuhan. Pekerjaan Paulus bukanlah pekerjaan seorang tukang rias jenazah. Dia tidak merias orang-orang di Korintus, melainkan merawat mereka. Dia mengetahui bahwa bila mereka mau makan dan minum dengan baik, mereka akan diubah dan memiliki wajah rohani yang sehat.

Pekerjaan Paulus sangat berbeda dengan yang dikerjakan oleh banyak pekerja Kristen hari ini. Paulus tidak melakukan pekerjaan ”tukang rias jenazah”, seperti yang dilakukan banyak orang, melainkan merawat orang kudus dengan Kristus. Demikian pula, gereja tidak seharusnya menjadi tempat orang membeli kosmetik; sebaliknya, gereja harus menjadi rumah makan Tuhan, tempat umat-Nya dapat makan. Semakin kita makan Kristus, kita semakin diubah. Pengubahan akan membuat kita menjadi mulia, akan membuat kita mempunyai gambar Allah, penampilan-Nya, dan ekspresi mulia-Nya.

Transfusi Tuhan ke dalam kita juga dapat diilustrasikan dengan transmisi listrik ke dalam mainan anak-anak. Beberapa mainan bergerak, melompat, bahkan menari ketika dihubungkan dengan aliran listrik. Kita dapat dibandingkan dengan mainan listrik itu. Ketika Kristus ditransfusikan ke dalam kita, kita mulai bergerak. Bahkan kita merasa seolah-olah kita dapat melompat atau melayang di udara. Kehidupan kekristenan kita adalah kehidupan transfusi, kehidupan yang terus-menerus diinfus oleh Tuhan.

Pengubahan dan transfusi membuat kita menjadi bahan-bahan hidup bagi bangunan Allah. Sebagai bahan-bahan yang hidup, kita bertumbuh dan berubah. Saya dapat melihat suatu pengubahan dalam kehidupan banyak orang kudus, khususnya dalam kehidupan mereka yang telah sejangka waktu tidak bertemu dengan saya. Puji Tuhan, kita sedang diubah! Kita menjadi emas, perak, dan batu permata bagi bangunan Allah. Gereja bukanlah satu organisasi atau perkumpulan masyarakat; gereja adalah satu satuan yang organik Tubuh Kristus. Hanya orang-orang yang diubah dapat disusun ke dalam Tubuh. Karena Tubuh Kristus bersifat organik, semakin kita bertumbuh dan diubah, kita semakin terbangun menjadi Tubuh. Bangunan Tubuh yang organik inilah yang dicari Tuhan pada hari ini.