← Daftar isi 1 Korintus (2) · bab 7/25

MEMBANGUN DI ATAS SATU-SATUNYA DASAR

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 3:10-15

Dalam 3:10 dan 11 Paulus berkata, ”Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Jika kita ingin memiliki pengertian yang tepat dan dalam terhadap ayat-ayat ini, kita perlu mengetahui latar belakang yang menyebabkan ayat-ayat ini ditulis. Bagaimanakah situasi di antara orang-orang Korintus sehingga Paulus berkata bahwa selain Kristus, tidak ada dasar yang lain? Latar belakangnya adalah karena kaum beriman yang filosofis di Korintus tidak berpaling kepada Kristus, tetapi malah berpaling kepada kebudayaan, filsafat, dan hikmat Yunani mereka. Dalam prakteknya mereka meletakkan dasar yang lain. Lagi pula, menurut mental filsafatnya, mereka mengagumi berbagai tokoh rohani. Mengagumi seseorang dan memilihnya berarti membuat orang tersebut menjadi dasar menggantikan Kristus.

DIKENDALI OLEH SEBUAH VISI

Banyak pemimpin dan guru Kristen mengutip perkataan Paulus dalam 3:11 tentang meletakkan dasar lain selain Kristus. Akan tetapi, mereka yang menggunakan ayat ini mungkin tidak mengetahui latar belakang perkataan Paulus. Mereka juga tidak menyadari bahwa mereka sendiri sebenarnya sedang meletakkan dasar yang lain. Bagi beberapa orang, dasar lain itu adalah kesembuhan ilahi atau berbahasa lidah; bagi yang lain lagi penginjilan atau pekerjaan misi. Bila kita meninjau situasi di antara orang-orang Kristen hari ini, kita dapat melihat hampir setiap jenis dasar yang dapat dibayangkan. Hampir setiap hal dapat menjadi dasar yang menggantikan Kristus sebagai satu-satunya dasar.

Jika kita menjamah kedalaman kebenaran dalam 3:11 dan memahami ayat ini menurut konteks dan latar belakangnya, kita akan nampak visi Kristus sebagai satu-satunya dasar. Kebenaran ini, visi ini, kemudian akan mengatur dan mengendalikan kita. Bila tidak ada visi, menjadi liarlah rakyat (Ams. 29:18). Di antara mayoritas orang Kristen hari ini, tidak ada visi pengatur dari Kristus sebagai satu-satunya dasar. Sebaliknya, banyak pelayan dan pekerja ”liar” meletakkan dasar yang lain. Di satu pihak, banyak yang mengambil perkataan Paulus dalam 3:11 mengenai Kristus sebagai dasar; di pihak lain, bahkan sementara membicarakan ayat ini, mereka meletakkan dasar yang lain. Hal ini memperingatkan kita untuk memahami 3:11 bukan hanya secara doktrinal.

KEBENARAN SECARA PENGALAMAN

Dalam berita-berita ini saya telah berkali-kali mendorong orang kudus untuk mendekati 1Korintus tidak hanya secara doktrinal. Namun, masih banyak yang hanya dapat mengambil susu doktrin, bukan makanan keras dari kebenaran yang lebih dalam, riil, dan dapat dialami, yang diwahyukan dalam surat ini. Bila kita membaca Surat Kiriman ini dan memahaminya secara hitam di atas putih saja dan tanpa memperhatikan latar belakangnya, pengertian kita tidak akan riil; sebaliknya hanya doktrinal.

Sungguh berarti bahwa Paulus berbicara mengenai satu-satunya dasar dalam 1Korintus, tetapi tidak dalam suratnya yang lain. Misalnya, karena hal ini bukan merupakan bagian latar belakang dari Surat Kolose, maka tidak ada perkataan yang menyinggungnya dalam surat itu. Teta-pi kaum beriman di Korintus meletakkan dasar yang berbeda-beda. Kaum beriman yang filosofis itu membuat berbagai orang dan praktek menjadi dasar. Hal ini berkaitan dengan perkataan Paulus dalam 1:12, ”Yang aku maksud kan ialah bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.” Hal ini menunjukkan bahwa yang satu meletakkan Apolos sebagai dasar, sedang yang lain meletakkan Kefas atau Paulus sebagai dasar mereka. Beberapa orang Korintus meletakkan dasar opini atau hikmat. Jadi di antara kaum beriman di Korintus terdapat banyak dasar. Latar belakang yang demikian itu membuat Paulus berkata, ”Jangan meletakkan dasar yang lain kecuali Kristus. Sebagai seorang ahli bangunan aku telah meletakkan Kristus sebagai satu-satunya dasar. Ketika datang kepadamu aku tidak datang dengan apa-apa selain Kristus. Aku memperingatkan kamu; jangan meletakkan dasar yang lain, tetapi hendaklah kamu membangun di atas dasar yang telah diletakkan. Lagi pula, kamu harus memperhatikan bagaimana kamu membangun. Janganlah membangun dengan kebudayaan Yunani, dengan opini-opini atau filsafat atau kekaguman atau pilihanmu terhadap orang-orang tertentu. Membangun dengan bahan-bahan itu adalah membangun dengan kayu, rumput, dan jerami.” Memahami 1Korintus sedemikian berarti menjamah kedalaman dari surat ini.

Problem di Korintus adalah kaum beriman Yunani mengagungkan filsafat dan tokoh-tokoh rohani. Dengan berbuat demikian mereka telah meletakkan dasar yang bukan Kristus. Memahami 3:11 dengan cara demikian adalah berjalan jauh melampaui sekadar doktrin dan menangkap makna riil dari perkataan Paulus. Hal ini juga melukiskan doktrin dengan situasi sesungguhnya di antara kaum beriman. Karena mengetahui situasinya, seolah-olah Paulus memberi tahu mereka, ”Jangan meletakkan kebudayaan atau filsafat Yunani sebagai dasar. Jangan pula kamu mengagungkan seseorang dan menjadikannya dasar pengganti Kristus.” Bila kita berkata bahwa kita bagi baptisan selam atau bagi bahasa lidah, kita telah meletakkan dasar lain selain Kristus. Tetapi menurut 1:2 dan 9, Kristus adalah milik mereka dan milik kita, dan kita telah di panggil ke dalam persekutuan Kristus. Kristus ini, satu-satunya inti Allah dan satu-satunya bagian kita, adalah satu-satunya dasar.

MEMBANGUN DENGAN BAHAN-BAHAN MUSTIKA

Dalam 3:10 Paulus menasihati kita untuk memperhatikan bagaimana kita membangun di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar. Kaum beriman di Korintus tidak boleh membangun dengan kebudayaan, filsafat, atau pembawaan Yunani mereka. Membangun dengan cara demikian berarti membangun dengan kayu, rumput, dan jerami, bukan dengan emas, perak, dan batu permata. Apakah artinya membangun dengan bahan-bahan mustika itu? Kita boleh mengatakan artinya ialah membangun dengan Kristus sendiri. Akan tetapi kita perlu maju lebih lanjut dan melihat bahwa Kristus adalah perwujudan Allah Tritunggal. Pada Allah Tritunggal kita memiliki Allah Bapa sebagai emas, penebusan Allah Putra sebagai perak, dan pekerjaan pengubahan Allah Roh sebagai batu permata. Telah kita jelaskan bahwa dalam pengalaman, batu permata adalah totalitas dari emas dan perak. Hal ini berarti bahwa Roh itu mengubah kita melalui sifat ilahi dan salib Kristus. Mengalami pekerjaan pengubahan Roh itu adalah mengalami pengubahan metabolis oleh hayat ilahi di dalam kita.

BEBAN PAULUS

Sekali lagi saya katakan bahwa pasal 1, 2, dan 3 dari surat ini sangat dalam. Pasal-pasal ini terutama tidak hanya bersifat doktrinal, tetapi dapat dialami. Untuk menyusun pasal-pasal ini, Paulus tidak menggunakan doktrin atau teologi sebagai dasar; ia menyusunnya menurut situasi dan kondisi yang sebenarnya dari gereja di Korintus. Kita perlu terkesan secara mendalam dengan fakta bahwa situasi di antara kaum beriman di sana, yaitu kehidupan mereka, di liputi oleh kebudayaan, filsafat, dan hikmat Yunani. Mereka semua hidup menurut cara hidup Yunani. Karena itu, Paulus berbeban untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa bukan begitu cara menempuh kehidupan orang Kristen, kehidupan gereja, atau kehidupan Tubuh. Dalam ekonomi Allah intinya haruslah Kristus dan hanya Kristus saja. Kita telah dipanggil ke dalam persekutuan Kristus, Kristus yang menjadi milik kita dan milik mereka. Hal ini berarti, Kristus adalah bagian unik kita, bagian mereka yang percaya kepada-Nya dan menyeru nama-Nya. Karena Kristus adalah bagian kita satu-satunya, janganlah kita memiliki pilihan kita sendiri atau kesukaan kita sendiri. Janganlah kita mengagungkan seseorang atau sesuatu selain Kristus. Kristuslah satu-satunya bagian yang diberikan kepada semua orang kudus, dan Dialah segala sesuatu kita dalam kehidupan kita. Kristuslah hikmat kita dari Allah, kebenaran, pengudusan, dan penebusan sehari-hari kita. Inilah inti pemikiran mengenai Kristus dalam beberapa pasal tersebut.

Dalam 2:10 Paulus berkata, ”Karena kepada kita Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah.” Kristus adalah hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah, kedalaman diri Allah. Kedalaman ini tidak dapat dirasakan atau dilihat oleh pikiran filosofis kita, tetapi hanya oleh roh kita yang telah dilahirkan kembali yang dihuni oleh Roh Allah. Dengan sarana roh perbauran sajalah kita dapat melihat hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah, berbagai aspek Kristus sebagai bagian kita untuk kita nikmati.

BERTUMBUH DAN MEMBANGUN

Berdasarkan wahyu yang diberikan dalam pasal 1 dan 2, dalam pasal 3 Paulus menunjukkan kepada orang-orang Korintus bahwa sasaran Allah ialah memiliki sebuah bangunan, bait, untuk tempat tinggal-Nya. Allah tidak bermaksud memiliki sekelompok orang-orang yang bijaksana atau filsuf-filsuf. Sasaran Allah ialah memiliki gereja. Gereja haruslah sebuah bangunan, yang disebut bait, untuk tempat tinggal Allah. Untuk mencapai sasaran ini, mula-mula Allah harus memiliki gereja sebagai sebidang lahan untuk mempertumbuhkan bahan-bahan bagi pembangunan. Melalui proses pertumbuhan di ladang, pembangunan pun terwujud. Bangunan ini adalah bait Allah.

Dalam pasal 3 seolah-olah Paulus berkata, ”Hai kaum beriman Korintus, janganlah berusaha untuk menjadi bijak lagi. Sebaliknya, kamu harus menjadi tanaman yang bertumbuh di ladang Allah. Kamu tidak perlu terlalu banyak berfilsafat. Jadilah sederhana dan tidak mengetahui apa-apa kecuali Kristus. Maka kamu akan bertumbuh di dalam Dia dan bersama Dia, dan bahkan kamu akan mempertumbuhkan Dia. Akhirnya, dalam pertumbuhanmu, kamu akan diubah dan menjadi emas, perak, dan batu permata sebagai bahan untuk pembangunan bait Allah. Kebutuhanmu yang mendesak hari ini bukanlah berfilsafat tetapi bertumbuh. Bukannya melatih pikiranmu secara berlebihan, tetapi tinggallah di dalam rohmu terus-menerus, tempat Roh Allah berdiam. Di sini, di dalam roh, kamu akan menyesap Kristus. Kristus akan menjadi makananmu, dan kamu akan bertumbuh bersama Dia dan menjadi bahan-bahan mustika bagi bangunan Allah. Kamu tidak perlu berfilsafat kamu hanya perlu bertumbuh dan membangun. Tetapi ketika membangun, janganlah meletakkan dasar yang lain. Kristus, satu-satunya dasar, telah diletakkan. Jangan menjadikan Paulus, Kefas, atau Apolos atau aspek kebudayaan atau filsafat Yunani yang mana pun sebagai dasarmu. Singkirkanlah orang-orang dan perkara-perkara itu, dan membangun sajalah di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar. Aku telah meministrikan Kristus kepadamu, dan kini kamu perlu membangun di atas-Nya. Tetapi kamu perlu membangun dengan emas, perak, dan batu-batu permata, bukan dengan alamiahmu, hakikimu, atau pekerjaanmu.”

Kayu mengacu kepada alamiah kita, pembawaan alamiah kita; rumput mengacu kepada hakiki kita; dan jerami kepada pekerjaan kita. Kita tidak boleh menggunakan alamiah kita, hakiki kita, atau pekerjaan kita untuk membangun gereja. Sebaliknya, kita harus meninggalkan semua ini dan menolaknya. Bagi pembangunan yang pantas kita perlu menikmati, mengalami, dan memiliki sifat Allah Bapa dan pekerjaan penebusan Putra. Sementara kita mengalami Bapa dan Putra sedemikian, kita akan berada di dalam roh kita bersama Roh Allah. Dengan spontan yang meluap keluar, yang terbit, adalah batu permata. Bila kita membangun dengan emas, perak, dan batu permata, kita akan membangun dengan bahan-bahan yang tepat di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar.

PEKERJAAN KITA DIUJI OLEH API

Dalam 3:13-15 Paulus berkata, ”Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan tampak, karena hari Tuhan akan menyatakannya. Sebab hari itu akan tampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang, akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah. Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian; ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Ketika Tuhan Yesus datang kembali, pekerjaan pembangunan kita akan diuji oleh api kudus-Nya. Hanya emas, perak, dan batu permata yang akan tahan api dan lulus ujian ini. Apa pun yang dari kayu, rumput, dan jerami akan hangus. Jika pekerjaan kita mampu lulus ujian api, kita akan menerima pahala. Menurut pengajaran Perjanjian Baru, pahala ini adalah kenik-matan atas kerajaan yang akan datang. Kepada mereka yang setia Tuhan Yesus berkata, ”Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:21, 23). Akan tetapi jika pekerjaan kita dimakan api, kita akan menderita kerugian. Hal ini tidak berarti kita kehilangan keselamatan kita. Keselamatan kita kekal dan tidak bisa hilang. Tetapi ayat-ayat ini menunjukkan bahwa mungkin kita kehilangan pahala, namun diselamatkan dari dalam api. Ini adalah suatu peringatan yang serius.

MENERAPKAN PERKATAAN PAULUS

Kita perlu menerapkan perkataan Paulus tentang memperhatikan bagaimana kita membangun di atas satu-satunya dasar pada situasi di antara orang-orang Kristen hari ini. Umumnya kita menemukan orang Kristen berbuat satu dari kedua hal ini: meletakkan dasar yang lain menggantikan Kristus, atau membangun dengan kayu, rumput, dan jerami, yaitu dengan alamiah mereka, hakiki mereka, dan pekerjaan mereka. Ribuan dasar telah diletakkan oleh orang-orang Kristen. Rupa-rupanya setiap kelompok kekristenan memiliki dasarnya sendiri. Sangat lazim bagi pekerja-pekerja Kristen meletakkan dasar yang lain. Misalnya, seorang pemimpin bersama rekan sekerjanya mungkin membentuk sebuah organisasi khusus. Dengan berbuat begitu mereka meletakkan dasar yang lain.

Juga sangat umum bagi orang-orang Kristen hari ini membangun dengan kayu, rumput, dan jerami. Akibatnya Tuhan tidak memperoleh bangunan yang pantas. Jadi, tidak ada jalan bagi-Nya untuk datang kembali. Namun, satu hari kelak Dia akan datang kembali. Menurut Anda, ketika Tuhan Yesus datang kembali, apakah kebanyakan orang beriman memiliki emas, perak, dan batu permata dalam jumlah besar? Saya tidak yakin. Bahan-bahan mustika itu pasti tidak banyak. Tetapi pasti akan ada kayu, rumput, dan jerami dalam jumlah yang sangat besar. Di antara orang-orang Kristen hari ini ada berlimpah-limpah hal-hal yang alamiah, tetapi sangat sedikit bahan-bahan mustika, yang pantas bagi bangunan Allah. Karena itu, pada hari kembalinya Tuhan untuk menguji pekerjaan kita, akan banyak yang menderita kerugian. Akan tetapi, beberapa akan menerima pahala.

Dengan bersungguh-sungguh saya berharap kalian tidak menerima berita-berita ini hanya secara doktrinal. Tidak cukup hanya mempelajari butir-butirnya dan kemudian mengulanginya. Yang diperlukan ialah mencerna beritaberita ini dan mata kita tercelik untuk melihat wahyu dalam pasal-pasal ini. Kemudian kita akan mampu mengutarakan sesuatu dari pengalaman dan praktek kita. Kita sungguh-sungguh perlu melihat bahwa sasaran Allah adalah memiliki gereja. Mula-mula gereja harus menjadi ladang Allah dengan kaum beriman sebagai tanaman yang bertumbuh di dalam hayat untuk menghasilkan Kristus. Akhirnya, oleh pertumbuhan dalam hayat kita akan diubah dan menjadi bahan-bahan mustika emas, perak, dan batu permata bagi bangunan Allah.

Kita semua harus memperhatikan peringatan untuk tidak meletakkan dasar yang lain. Kristus, satu-satunya dasar telah diletakkan. Dalam pemulihan Tuhan, kita telah meletakkan dasar yang tepat. Maka, tidak perlu memprakarsai apa-apa atau mengadakan permulaan baru. Lagi pula, kita tidak boleh mengagungkan seseorang atau memilih sesuatu. Sebaliknya, kita harus mengambil Kristus, yang almuhit, sebagai dasar dan membangun di atas-Nya, bukan dengan alamiah kita, hakiki kita, atau pekerjaan kita, melainkan dengan sifat Allah, pekerjaan penebusan Putra, dan pekerjaan pengubahan Roh Allah. Jika dengan Roh perbauran kita membangun dengan bahan-bahan mustika ini, kita akan melaksanakan pekerjaan yang pantas bagi pemulihan Tuhan. Hasilnya, pada hari kedatangan Tuhan, pekerjaan kita akan lulus ujian, dan kita akan menerima pahala untuk menikmati kerajaan yang akan datang. Jika pekerjaan kita dikerjakan di dalam Kristus, dengan Kristus, bagi Kristus, dan bahkan Kristus sendiri, pekerjaan itu akan lulus ujian api. Sebaliknya, jika kita membangun dengan bahan-bahan yang dapat dimakan api, kita akan kehilangan pahala. Semoga kita semua nampak kebenaran ini! Hal ini akan membawa kita ke dalam kedalaman pemulihan Tuhan, akan membuat kita menyadari di mana kita berada dan mengenal bahwa pemulihan bukanlah pekerjaan kekristenan yang biasa atau pengulangan sejarah kekristenan. Pemulihan Tuhan membawa kita kembali kepada Kristus, kedalaman Allah, supaya Allah dapat mempunyai sebuah bangunan. Marilah kita menengadah kepada Tuhan supaya kita memperoleh belas kasihan-Nya untuk melihat visi yang ajaib ini.