PEKERJAAN MEMBANGUN DENGAN BAHAN-BAHAN YANG ALAMIAH
Pembacaan Alkitab: 1 Kor. 3:10b, 12-13, 15
Dalam berita yang lalu kita telah membahas mengenai pekerjaan membangun dengan bahan-bahan yang telah ditransformasi. Ini adalah sisi positif dari perkataan Paulus tentang pekerjaan membangun. Dalam berita ini kita akan membicarakan sisi negatifnya, membangun dengan bahan-bahan alamiah.
Sebelum membicarakan makna membangun dengan kayu, rumput, dan jerami (ayat 12), kita perlu menunjukkan bahwa selama bertahun-tahun, 1Korintus 3 belum dipahami secara memadai oleh kebanyakan orang beriman. Alasannya ialah, pasal ini ditulis berdasarkan pengalaman. Karena kebanyakan pembaca 1Korintus kekurangan pengalaman rohani, mereka tidak mampu memahami pasal ini. Sering kali mereka bahkan tidak tertarik, dan memilih bagian lain dari Alkitab seperti Amsal, yang sesuai dengan konsepsi alamiah mereka.
Surat 1 Korintus pasal 3 ini sangat dalam. Ketika menuliskan pasal ini Paulus menggunakan banyak lambang: susu, makanan keras, menanam, menyiram, ladang Allah, bangunan Allah, dasar, emas, perak, batu permata, kayu, rumput, jerami, api, dan bait. Tanpa pengalaman, kita tidak dapat menafsirkan lambang-lambang itu secara tepat atau memahami maknanya. Banyak pembaca pasal ini hanya memberikan perhatian kepada dua lambang yang digunakan Paulus: dasar dan bait. Sedikit sekali yang mengetahui makna membangun dengan emas, perak, dan batu permata atau membangun dengan kayu, rumput, dan jerami. Karena itu, bagi banyak pembaca hari ini, pasal ini hampir tertutup sama sekali.
Dalam membaca Alkitab banyak di antara kita yang berusaha mengerti hanya dengan cara doktrinal atau secara teologis. Akan tetapi, ketika kita membaca bagian mana pun dari Alkitab, hendaklah kita berusaha memahaminya berdasarkan pengalaman dan bukan secara teologis. Kita harus mencari tahu apa hubungan bagian firman ini dengan pengalaman kita terhadap Tuhan. Lagi pula, dalam menyampaikan berita-berita seharusnya kita menyampaikannya secara pengalaman, dan tidak hanya secara doktrinal.
Telah kita tunjukkan bahwa 1Korintus pasal 1 dan 2 sungguh dalam. Bahkan pasal-pasal itu mewahyukan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (2:10). Pasal 3 juga sangat dalam. Bila Paulus tidak menuliskan pasal ini secara metaforis (dengan lambang-lambang), mungkin untuk menyajikan apa yang terkandung di dalam dirinya, Paulus memerlukan beberapa pasal lagi.
Sementara membaca pasal ini janganlah kita berusaha memahami bahasanya saja; tetapi hendaklah kita nampak semua gambaran yang terlukis di dalamnya. Perkataan Paulus tentang ladang Allah, tanah garapan, bukan hanya lambang, tetapi juga sebuah gambaran. Sementara memikirkan makna gereja sebagai ladang Allah, kita dapat membayangkan membajak, menabur, menanam, menyiram, bertumbuh, berbuah, dan menuai. Memikirkan hal tersebut secara demikian adalah nampak gambar yang terkandung dalam lambang yang digunakan Paulus.
Dalam membaca pasal ini, janganlah menerima semua perkara begitu saja. Sebaliknya, kita harus bertanya apakah maknanya meletakkan dasar yang lain itu. Kita juga harus bertanya apakah arti emas, perak, dan batu permata, dan apa pula arti kayu, rumput, dan jerami. Misalnya ketika kita membaca perkataan Paulus tentang meletakkan dasar yang lain dalam penjelasan tentang latar belakang orang-orang Korintus, kita akan paham, bahwa maksud Paulus ialah jangan meletakkan kebudayaan atau filsafat Yunani sebagai dasar. Hal itu juga menyiratkan bahwa kita tidak boleh menjadikan opini, pilihan, atau kesukaan kita sebagai dasar. Mungkin seorang saudara berkata bahwa ia berbeban untuk pergi ke suatu tempat. Akan tetapi mungkin beban itu hanyalah selera pribadi atau pilihannya sendiri. Dalam membaca pasal ini kita harus serius dan damba untuk memahami apa maksud Paulus dalam berbagai lambang ini. Kita harus menemukan penafsiran yang tepat dari lambang-lambang ini.
I. DENGAN KAYU, RUMPUT, DAN JERAMI
A. Hal-hal Alamiah, Baik yang Bersifat Daging maupun Jiwani
Kayu, rumput, dan jerami melambangkan pengetahuan, realisasi, dan perolehan yang berasal dari latar belakang kaum beriman (seperti agama Yahudi atau agama yang lain, filsafat, atau kebudayaan) dan cara hidup alamiah (yang biasanya dalam jiwa dan hayat alamiah). Kayu berlawanan dengan emas, melambangkan sifat manusia alamiah; rumput berlawanan dengan perak, melambangkan manusia yang jatuh, manusia daging (1Ptr. 1:24), belum ditebus oleh Kristus; dan jerami berlawanan dengan batu permata, melambangkan pekerjaan dan kehidupan yang terbit dari sumber tanah, tanpa pengubahan sedikit pun oleh Roh Kudus. Semua bahan yang tidak berharga itu adalah hasil dari manusia alamiah kaum beriman bersama bahan-bahan yang mereka kumpulkan dari latar belakang mereka. Dalam ekonomi Allah bahan-bahan tersebut hanya pantas dibakar (ayat 13).
B. Kayu
Secara khusus dan riil, kayu di sini mengacu kepada sifat manusiawi orang-orang Yunani. Secara alamiah orang-orang Yunani sangat filosofis. Saya yakin mereka bahkan memfilsafatkan Kristus. Jadi, kayu menunjukkan alamiah mereka, pembawaan alamiah mereka. Seprinsip dengan itu, kayu juga menunjukkan hakiki kita menurut pembawaan alamiah kita. Misalnya, orang-orang suku tertentu mempunyai sifat etis mereka. Itu adalah ”kayu” mereka. Kita tidak boleh membangun gereja dengan kayu. Maksudnya, kita tidak boleh membangunnya dengan sifat-sifat dan pembawaan alamiah kita.
C. Rumput
Telah kita tunjukkan bahwa rumput melambangkan manusia daging yang belum ditebus. Kayu melambangkan sifat orang-orang Yunani, sedangkan rumput melambangkan manusia alamiah orang-orang Yunani. Membangun gereja dengan rumput adalah membangunnya dengan hakiki kita di dalam manusia alamiah kita. Misalnya, pemimpin persekutuan Kaum Saudara yang saya hadiri di Chefoo, sangat lamban dan mantap. Ia selalu berjalan lambat, hati-hati, dan cermat. Pada suatu saat dalam pengajaran Alkitab ia mengatakan bahwa Allah selalu bekerja dengan lambat. Karena pengaruh pemimpin itu, hampir semua orang di persekutuan itu belajar menjadi lambat. Ketika mereka masuk di lingkungan tempat sidang mereka berjalan dengan sangat lambat. Lagi pula, semua doa dalam sidang dipersembahkan dengan sangat lambat. Seluruh persekutuan Kaum Saudara itu menuruti manusia alamiah dari pemimpinnya. Ini adalah satu ilustrasi tentang makna membangun gereja dengan rumput.
Membangun dengan rumput adalah membangun dengan hakiki kita dan dengan kesukaan kita. Misalkan seseorang sangat suka berbahasa lidah. Berusaha mengembangkan berbahasa lidah adalah membangun dengan rumput. Bila kita membangun menurut hakiki kita dalam manusia alamiah kita atau menurut kesukaan alamiah kita, kita membangun dengan rumput.
D. Jerami
Jerami melambangkan pekerjaan dan kehidupan yang terbit dari sumber tanah. Jerami tidak memiliki hayat. Membangun dengan jerami lebih buruk daripada membangun dengan kayu dan rumput. Iri hati, perselisihan, dengki, gosip, dan kritik adalah aspek-aspek jerami. Orang-orang yang filosofis biasanya sangat kritis. Semakin banyak berpikir secara filosofis, semakin sering mereka mengkritik orang lain. Kritik semacam itu adalah jerami.
Di antara orang-orang Kristen hari ini sulit ditemukan bahan-bahan bangunan yang pantas. Di manakah Anda dapat menemukan emas, perak, dan batu permata? Akan tetapi sangat banyak kayu, rumput, dan jerami. Di mana-mana kita dapat melihat pembawaan alamiah, diri alamiah, dan bahkan perkara-perkara seperti iri hati, cemburu, perselisihan, kebencian, gerutu, dan keluh kesah. Hampir di setiap kelompok kekristenan Anda dapat menemukan kayu, rumput, jerami; yaitu, Anda dapat menemukan pembangunan menurut pembawaan alamiah, diri alamiah, dan sifat-sifat kehidupan bumiah. Khususnya, dalam 1Korintus 3, kayu, rumput, dan jerami mengacu sifat alamiah orang Yunani, pribadi orang Yunani, dan pola hidup Yunani yang jahat, terutama ketika hal-hal itu ditampilkan di antara kaum beriman di Korintus.
Dalam pasal 3 Paulus melarang orang-orang kudus meletakkan dasar apa pun atau siapa pun selain Kristus sebagai satu-satunya dasar. Hal ini berarti kita tidak boleh mengagungkan siapa pun atau apa pun kecuali Kristus. Jika kita mengagungkan seseorang selain Kristus, kita meletakkan dasar yang lain. Paulus juga menyuruh kita memperhatikan bagaimana kita membangun di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar. Orang-orang Korintus tidak diperbolehkan membangun dengan sifat Yunaninya, pribadi Yunaninya, kecemburuan, perselisihan, dan kritik Yunaninya. Dengan kata lain mereka tidak boleh membangun dengan apa pun yang berbau Yunani.
Kira-kira lima puluh tahun yang lalu ada satu kecenderungan yang kuat di antara banyak orang Kristen di China untuk menyingkirkan apa pun yang berbau kebudayaan Barat dari gereja-gereja Kristen. Dalam gerakan itu mereka menginginkan untuk membuat segalanya dalam gereja sesuai dengan kebudayaan asli China. Bahkan mereka menghendaki kapel dan bangunan gereja, dibangun bukan secara Barat, melainkan menurut cara setempat. Orang-orang Kristen dalam gerakan tersebut menghargai Alkitab, tetapi mereka menolak kebudayaan yang dibawa oleh para misionaris. Sasaran mereka adalah membuat gereja mereka bercorak China dalam segala hal. Akan tetapi gereja tidak boleh menjadi Barat maupun China. Gereja haruslah Kristen. Maksudnya, gereja haruslah dibangun dengan Kristus dalam segala hal dan segala aspek. Segala yang bersangkutan dengan gereja haruslah Kristus.
Kendatipun gereja harus dibangun dengan Kristus dan hanya Kristus, rupa-rupanya setiap denominasi dan kelompok kekristenan berusaha menjadi ”asli” atau alamiah dalam beberapa hal. Memiliki denominasi atau kelompok asli adalah membangun dengan pembawaan dan diri alamiah, tidak peduli apa pun perkara itu. Beberapa orang mungkin menghendaki sebuah gereja yang bercorak Jerman, yang lain menurut pembawaan Perancis, dan yang lain lagi menurut adat China. Itulah membangun gereja menurut hakiki kita dan apa yang kita lakukan dalam hayat, pembawaan, dan diri alamiah kita.
Beberapa tahun yang silam saya diundang untuk mengunjungi sebuah tempat di Inggris yang terkenal karena kerohanian orang-orangnya. Saya tinggal selama sebulan, dan saya benar-benar menemukan beberapa orang yang rohaninya murni. Akan tetapi, saya melihat lebih banyak penekanan mereka pada cara orang Inggris berbuat sesuatu. Secara tidak sadar mereka bermaksud mengInggris kan orang lain dan bahkan mempengaruhi tempat-tempat yang jauh. Dua kali pimpinan kelompok ini datang ke Taiwan atas undangan kami untuk melayani kami. Kunjungannya yang pertama sangat indah dan membawa faedah. Akan tetapi kunjungannya yang kedua sangat merusak, karena Ia berusaha memasukkan kebiasaan dan adat istiadat Inggris kepada orang-orang kudus. Misalnya, sementara bersekutu dia berkata, ”Mengapa saudara-saudara yang dinas dalam militer mengenakan topi sewaktu kalian masih berada di dalam balai sidang? Seusai sidang kalian segera mengenakan topi, walaupun kalian belum keluar dari gedung.” Menurut pendapatnya, tidaklah benar saudara-saudara mengenakan topi di dalam gedung. Seorang saudara mencoba me-nerangkan kebiasaan tentara di Timur Jauh, bahwa bukanlah praktek seorang tentara untuk membuka topi baik di dalam maupun di luar balai pertemuan. Namun demikian seorang saudara yang tentara selalu membuka topinya selama sidang. Tetapi segera setelah sidang usai, mereka mengenakan topinya, tidak peduli apakah mereka di dalam atau di luar gedung. Meskipun demikian, saudara itu sangat keras dan berkata, ”Anda menuruti kebiasaan manusia, atau menuruti Alkitab?” Setelah ia menjawab demikian, saya berkata kepada diri sendiri, ”Saudara, Anda tidak adil. Kami sungguh-sungguh menuruti Alkitab. Menurut Alkitab, ketika seorang saudara berdoa dalam suatu sidang gereja, dia tidak boleh mengenakan topi. Tetapi tentunya tidak ada salahnya bila seseorang mengenakan topi walaupun ia masih di dalam balai sidang. Menuntut seorang tentara harus menunggu sampai ia keluar balai sidang adalah menuruti kebiasaan Barat Anda. Mungkin di Inggris praktek Anda demikian. Tetapi tidak adil menuduh kami tidak mengikuti Alkitab karena kami tidak menuruti kebiasaan Anda dalam hal ini.”
Karena menyadari keseriusan menggunakan perkara-perkara alamiah untuk membangun gereja, berdasarkan belas kasihan Tuhan, dengan sekuatnya saya berusaha untuk tidak membawa hal-hal yang berbau China ke dalam pemulihan Tuhan di Amerika. Selain itu, saya tentu tidak ingin apa pun dari hakiki saya mempengaruhi pembangunan gereja. Jangan seorang pun dari kita membangun gereja menurut hakiki kita secara alamiah. Jangan biarkan apa pun dari alamiah kita dimasukkan ke dalam gereja. Mengenai hal ini kita semua perlu menengadah, mohon belas kasihan Tuhan. Semoga Tuhan membelaskasihani kita, sehingga kita tidak membangun gereja dengan hakiki alamiah kita. Bila gereja menampilkan pembawaan alamiah atau diri alamiah dari pimpinan, hal itu menunjukkan bahwa paling sedikit sampai taraf tertentu, gereja itu dibangun dengan rumput. Sesuatu yang dari manusia alamiah yang belum tertebus telah dimasukkan ke dalam gereja. Itulah unsur yang belum ditebus, diakhiri, dan digantikan oleh Kristus. Walaupun saya lahir sebagai orang China, saya dapat bersaksi bahwa kedambaan saya ialah diakhiri dan digantikan. Saya tidak ingin membangun gereja dengan rumput, dengan hakiki alamiah saya. Tidak seorang pun dari kita boleh membangun dengan kayu atau rumput, apalagi jerami iri hati, perselisihan, dan kritik.
Bila kita meninjau keadaan di antara orang-orang Kristen hari ini, kita akan sadar bahwa perkataan Paulus tentang kayu, rumput, dan jerami bukan sekadar doktrin. Kita semua harus melatih roh kita, menengadah kepada Tuhan, dan berdoa, ”Tuhan, belas kasihanilah aku supaya jangan membangun gereja-Mu dengan pembawaan alamiah, diri alamiah, atau apa pun yang berasal dari perselisihan, iri hati, dan kecemburuan. Tuhan, aku ingin membangun gereja-Mu dengan emas dari sifat Bapa, dengan perak dari salib yang menebus, mengakhiri, dan menggantikan aku, dan dengan pekerjaan pengubahan Roh Kudus. Aku ingin membangun gereja dalam roh perbauran, di dalam roh ini aku mengalami sifat Bapa dan penebusan Putra, dan akhirnya mengalami pengubahan Roh. Tuhan, aku ingin membangun gereja secara demikian.”
Kini kita dapat memahami konsepsi Paulus mengenai bahan-bahan yang semestinya digunakan dalam membangun gereja. Dalam pasal 3 sebenarnya Paulus memberi tahu kaum beriman di Korintus, ”Kalian adalah tanaman di ladang Allah. Kini kalian perlu menumbuhkan Kristus. Semakin bertumbuh, kalian semakin menjadi emas, perak, dan batu permata bagi pembangunan Allah. Jangan meletakkan dasar yang lain selain Kristus. Jangan mengagungkan sesuatu, seseorang, atau suatu doktrin, atau suatu praktek. Membangunlah di atas Kristus yang almuhit sebagai satu-satunya dasar yang telah diletakkan. Tetapi berhati-hatilah supaya jangan membangun di atas Kristus dengan sesuatu yang bersifat Yunani; melainkan membangunlah dengan sifat Bapa dan penebusan Putra yang akan menghasilkan pengubahan Roh. Maka gereja akan menjadi emas dan penuh dengan perak dan batu permata.”
II. TERBAKAR
Dalam ayat 15 Paulus mengatakan kata-kata peringatan: ”Jika pekerjaannya terbakar, ia akan menderita kerugian; ia sendiri akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api.” Pekerjaan dari kayu, rumput, dan jerami hanya cocok untuk dibakar. Inilah pekerjaan yang akan dibakar habis oleh api penghakiman Tuhan pada hari kedatangan-Nya.
III. MENDERITA KERUGIAN
Ketika Paulus berkata, ”ia akan menderita kerugian.” Maksudnya kerugian di sini ialah kehilangan pahala, bukan kehilangan keselamatan. Menderita kerugian di sini sama sekali tidak berarti binasa. Karunia keselamatan yang kita terima dalam Kristus bukan berdasarkan pekerjaan kita (Tit. 3:5), karunia ini kekal dan tidak berubah dalam hakikinya (Ibr. 5:9; Yoh. 10:28-29). Karena itu, orang beriman yang pekerjaan kristianinya tidak diperkenan oleh Tuhan yang menghakimi, akan menderita kerugian, kehilangan upah, namun ia tetap akan diselamatkan. Keselamatan Allah diberikan secara cuma-cuma kepada semua orang beriman sampai kekekalan; sedangkan upah yang Tuhan berikan kepada kaum beriman (tidak semua) yang pekerjaan kristianinya diperkenan oleh-Nya adalah untuk zaman kerajaan. Upah ini adalah suatu dorongan bagi pekerjaan kristiani mereka.
Walaupun kaum beriman yang pekerjaan kristianinya tidak diperkenan oleh Tuhan pada hari kedatangan-Nya kembali tetap akan diselamatkan, tetapi seperti dari dalam api. Seperti dari dalam api pasti mengacu kepada hukuman. Akan tetapi ini sama sekali bukan api penyucian yang secara bidah diajarkan oleh ajaran tertentu dalam takhayul mereka dan yang menyimpang dari ayat ini. Bagaimanapun, hari ini perkataan ini seharusnya merupakan peringatan yang serius bagi kita terhadap pekerjaan kristiani kita.