← Daftar isi 1 Korintus (2) · bab 5/25

PEKERJAAN PEMBANGUNAN DENGAN BAHAN-BAHAN YANG TELAH DITRANSFORMASI

Pembacaan Alkitab: 1Kor. 3:10-14

Dalam berita ini kita akan meninjau pokok pekerjaan pembangunan dengan bahan-bahan yang telah ditransformasi (diubah) dalam 3:10-14.

I. BUKAN MELETAKKAN DASAR YANG LAIN,

TETAPI MEMBANGUN DI ATAS DASAR YANG TELAH DILETAKKAN

Dalam 3:10-11 Paulus berkata, ”Sesuai dengan anugerah Allah, yang diberikan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang terampil telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.” Banyak orang Kristen paham secara doktrinal apa maksud tidak meletakkan dasar lain kecuali Yesus Kristus. Akan tetapi, ketika menulis perkataan ini, Paulus tidak berbicara secara doktrinal. Ia sadar, dengan berkata bahwa mereka dari golongan Paulus, Apolos, atau Kefas, sesungguhnya mereka itu telah meletakkan dasar yang lain. Di sini Paulus seolah-olah berkata, ”Kaum beriman di Korintus, janganlah berkata bahwa kamu dari golongan seseorang atau golongan tertentu. Kristus satu-satunya dasar, telah diletakkan. Kristus inilah satu-satunya milik mereka dan milik kita dan juga yang ke dalam persekutuan-Nya kita telah dipanggil oleh Allah. Kristus inilah satu-satunya dasar kita.”

Sudah umum bila orang-orang Kristen meletakkan dasar yang lain selain Kristus sebagai satu-satunya dasar. Misalnya, seseorang mengatakan bahwa ia mendukung baptisan selam, maka ia meletakkan baptisan selam sebagai satu dasar. Demikian pula mereka yang mendukung bahasa lidah. Manakala Anda menyatakan mendukung seorang tokoh, doktrin, atau praktek tertentu, ini berarti Anda meletakkan dasar lain. Inilah maksud Paulus yang sebenarnya dalam ayat 10 dan 11.

Orang-orang Kristen telah terpecah-belah oleh adanya berbagai dasar. Mereka telah meletakkan ribuan dasar, dan masih banyak yang sedang diletakkan. Jadi, berhati-hatilah agar kita tidak mengatakan bahwa kita mendukung suatu doktrin atau seseorang. Berkata demikian berarti meletakkan dasar yang lain; hal ini juga akan mengakibatkan perpecahan. Lagi pula, di dalam gereja lokal janganlah kita mengatakan bahwa kita milik sesuatu, atau milik seseorang, atau kita berpihak pada sesuatu atau seseorang. Kita hanya milik Kristus dan bagi Kristus. Bahkan tidak mustahil orang kudus di gereja lokal meletakkan dasar-dasar lain. Mengenai hal ini, kedua mata saya sangat peka, bukan terhadap kekristenan, tetapi terhadap pemulihan Tuhan. Bahkan orang kudus yang mengasihi Tuhan dan mengasihi pemulihan-Nya masih tetap berkata bahwa mereka bagi halhal tertentu. Ini berarti meletakkan dasar yang lain.

Kita tidak meletakkan dasar yang lain, kita harus membangun di atas dasar yang telah diletakkan. Ini berarti kita harus membangun di atas Kristus yang unik. Kita harus memahami hal ini bukan hanya dalam doktrin, tetapi juga dalam pelaksanaan dan dalam pengalaman. Misalnya seorang saudara memberi tahu Anda bahwa menurut perasaannya gereja di lokal Anda tidak baik. Bagaimana tanggapan Anda? Jawaban yang Anda berikan akan menyingkapkan apakah Anda membangun di atas dasar Kristus sebagai satu-satunya dasar atau tidak. Jawaban yang terbaik bukanlah mengoreksi saudara itu atau berdebat dengannya, tetapi mendoabacakan beberapa ayat bersamanya. Yang penting dalam doabaca dengan saudara itu bukan ayat-ayat khusus yang Anda pilih, tetapi apakah Anda memiliki roh yang hidup dan dipenuhi oleh kekayaan Kristus. Kalau Anda berdoabaca bersama dan tidak membicarakan situasi, saudara itu akan terdiris dan terawat. Tidak ada hal lain yang lebih dapat mendiris dan merawat orang lain daripada roh Anda yang hidup. Selama roh Anda hidup dan dipenuhi oleh kekayaan Kristus, orang lain akan terdiris dan terawat, tidak peduli ayat-ayat mana yang Anda doabaca kan. Setelah berdoabaca bersama saudara itu, tidak perlu berdebat soal gereja dengannya atau berusaha memperbaikinya. Kalau ia ingin mengatakan gereja itu tidak baik, biarlah ia mengatakannya. Yang ia perlukan bukanlah koreksi atau penyesuaian, melainkan penyiraman dan perawatan. Setiap kali saudara itu datang kepada Anda, sirami dan rawat saja dia. Di satu pihak, orang seperti itu sakit secara rohani, atau mungkin ia lapar dan haus. Untuk penyakitnya ia memerlukan obat, dan untuk kelaparan dan kehausannya, ia memerlukan makanan dan air. Setiap kesempatan berkontak dengannya adalah kesempatan untuk menyirami dan merawatnya. Akhirnya apa yang disuplaikan kepadanya akan menjadi obat yang akan menyembuhkannya. Tak lama kemudian, setelah dirawat dan disembuhkan, ia tidak lagi mengatakan bahwa gereja itu tidak baik. Ia sendiri akan menyadari bahwa berbicara demikian tentang gereja itu tidak ada artinya.

Bersekutu dengan saudara-saudara lain dengan roh yang hidup dan penuh dengan kekayaan Kristus, berarti membangun di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar. Itu juga berarti membangun dengan Kristus. Apabila Anda berkontak dengan saudara-saudara lain secara demikian, berarti Anda membangun di atas Kristus dan bersama Kristus. Sebagai akibatnya, saudara-saudara yang lain akan terbangun dengan teguh ke dalam gereja sebagai bagian dari Tubuh. Inilah artinya membangun di atas dasar yang telah diletakkan.

Saya benar-benar prihatin, apakah orang kudus mnyadari bahwa 1Korintus bukan sejilid surat doktrin. Ini adalah surat yang menanggulangi problem yang riil. Menganggap Surat Kiriman ini sebagai surat yang berdasar pada masalah-masalah doktrinal, adalah salah. Kita boleh mengatakan bahwa Surat Efesus ditulis berdasarkan doktrin, tetapi tidak demikian halnya dengan 1Korintus. Apa pun yang dikatakan Paulus dalam surat ini disajikan dengan riil, untuk mengatasi problem-problem di antara kaum beriman. Jadi, perkataannya tentang Kristus sebagai satu-satunya dasar janganlah dipahami secara doktrinal, melainkan secara riil di dalam pengalaman. Sebagai contoh, mengatakan bahwa kita berpihak pada seseorang atau praktek tertentu, berarti meletakkan dasar yang lain. Berbicara demikian benar-benar merupakan masalah yang serius. Ini berarti meletakkan dasar yang lain dan menimbulkan perpecahan. Lagi pula, meministrikan Kristus kepada orang lain berarti membangun di atas dasar yang telah diletakkan. Apabila kita ingin meministrikan Kristus kepada orang kudus, haruslah kita memiliki pengalaman rohani. Hanya mengulangi berita-berita yang diberikan ministri secara doktrinal tidaklah memadai. Janganlah kita menyuplaikan Kristus yang doktrinal kepada orang lain, tetapi Kristus yang telah kita alami.

Il. MEMPERHATIKAN

BAGAIMANA KITA MEMBANGUN

DI ATAS DASAR INI

Dalam ayat 10 Paulus berkata, ”Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.” Gereja, tempat kediaman Allah, harus dibangun dengan emas, perak, dan batu permata. Semua bahan berharga ini dihasilkan dari bertumbuhnya Kristus di dalam kita. Tetapi, mungkin sekali kita membangun dengan kayu, rumput kering, dan jerami yang dihasilkan dari daging. Karena itu, setiap orang di antara kita termasuk setiap anggota Tubuh Kristus, harus memperhatikan bagaimana membangun, yaitu membangun dengan bahan apa. Kita harus berhati-hati supaya tidak membangun dengan bahan lain kecuali Kristus. Artinya, ketika kita menyampaikan sebuah berita atau kesaksian, atau ketika kita bersekutu dengan saudara lain, berhati-hatilah supaya jangan menyajikan apa-apa selain Kristus. Lagi pula, Kristus yang kita bagikan janganlah Kristus yang doktrinal, tetapi Kristus yang telah kita alami. Janganlah meministrikan pengetahuan atau doktrin tentang Kristus saja, melainkan Kristus itu sendiri. Dalam melakukan apa pun dalam kehidupan gereja, kita harus berhati-hati supaya jangan meministrikan apa-apa selain Kristus yang telah kita alami.

Dalam pasal 3 seolah-olah Paulus memberi tahu orang-orang Korintus, ”Saudara-saudara, berhati-hatilah membangun di atas Kristus sebagai dasar. Allah menghendaki sebuah bangunan, sebuah bait. Perhatikanlah supaya kalian jangan membangun dengan kebudayaan, filsafat, dan hikmat Yunani kalian. Demikian pula, mereka yang berlatar belakang Yahudi harus berhati-hati supaya tidak membangun dengan kebudayaan, agama, dan konsepsi Yahudi. Sebaliknya, kita semua harus belajar meministrikan Kristus kepada saudara-saudara yang lain.” Inilah maksudnya memperhatikan bagaimana kita membangun di atas dasar yang telah diletakkan.

Membangun di atas dasar dengan sesuatu yang alamiah atau sesuatu dari kebudayaan kita, sangat mudah, walaupun kita tidak bermaksud berbuat demikian dan tidak menyadari apa yang sedang kita lakukan. Misalnya, mungkin kita membangun dengan sesuatu yang berbau Amerika, China, atau Jerman. Lagi pula, kita mungkin juga membangun dengan unsur-unsur tertentu yang lazim pada kebudayaan suatu daerah. Jika kita melayani secara demikian, berarti kita sangat ceroboh. Kita tidak memperhatikan bagaimana kita membangun. Walaupun saya datang dari China, saya berhati-hati agar tidak membangun dengan sesuatu yang berbau China, tetapi membangun hanya dengan Kristus. Sungguh penting bagi kita semua untuk belajar membangun dengan Kristus yang telah kita alami secara riil, di atas Kristus sebagai dasar. Pembangunan semacam itu sangat kurang di antara kita. Saya prihatin, banyak saudara saudari hanya mengulangi berita-berita secara doktrinal. Apa yang sangat dibutuhkan ialah Kristus yang nyata, riil, hadir, dan hidup dalam pengalaman kita. Membangun dengan Kristus yang demikian berarti memperhatikan bagaimana kita membangun.

III. MEMBANGUN DENGAN EMAS,

PERAK, DAN BATU PERMATA

A. Bahan-bahan yang Diubah

Dalam ayat 12 Paulus berkata, ”Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami.” Emas, perak dan permata menyatakan berbagai macam pengalaman terhadap Kristus di dalam kebajikan dan atribut Allah Tritunggal. Rasul dan semua orang beriman yang rohani membangun gereja dengan bahan-bahan ini di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar. Emas menyatakan sifat ilahi Bapa beserta segala atribut-Nya; perak menyatakan Kristus Penebus beserta segala kebajikan dan atribut persona dan pekerjaan-Nya; batu permata menyatakan pekerjaan pengubahan Roh itu beserta segala atribut-Nya. Semua bahan berharga ini dihasilkan dari partisipasi kita dan kenikmatan kita atas Kristus di dalam roh melalui Roh Kudus. Hanya bahanbahan ini yang sesuai bagi pembangunan Allah.

Sebagai ladang Allah dengan penanaman, penyiraman, dan pertumbuhan, gereja seharusnya menghasilkan tumbuh-tumbuhan; tetapi bahan yang tepat untuk pembangunan gereja adalah emas, perak, dan permata, semua ini adalah mineral. Karena itu, di sini menyiratkan makna pengubahan. Kita tidak hanya perlu bertumbuh dalam hayat, juga perlu berubah dalam hayat, seperti yang diwahyukan dalam 2 Korintus 3:18 dan Roma 12:2. Ini sesuai dengan pemikiran dalam perumpamaan yang Tuhan berikan dalam Matius 13 mengenai gandum, biji sesawi, tepung adonan (semua ini adalah tumbuh-tumbuhan), juga ada harta terpendam dalam tanah, yaitu emas, perak, dan batu permata (mineral).

Gereja adalah ladang yang menghasilkan emas, perak, dan batu permata. Semuanya adalah mineral yang ditambang dari tanah. Akan tetapi dalam pasal 3 kita memiliki sebidang ladang yang akhirnya menghasilkan emas, perak, dan batu permata. Hal ini menyiratkan bahwa ketika tanaman di ladang Allah bertumbuh, akhirnya tanaman itu akan menjadi mineral. Tentunya tanaman mempunyai sifat tumbuh-tumbuhan. Namun sementara bertumbuh, mereka diubah menjadi mineral. Jadi, dalam pasal ini ada pertumbuhan hayat dan pengubahan. Apa saja yang tumbuh di ladang Allah akhirnya diubah sifat-sifatnya. Pengubahan tidak hanya mencakup perubahan luaran saja, tetapi perubahan batini, organik, dan metabolis. Dalam Perjanjian Baru pengubahan meliputi metabolisme, yaitu satu proses penambahan suatu unsur baru ke dalam diri kita untuk menggantikan unsur yang lama. Karena itu, pengubahan adalah perubahan metabolis. Mula-mula kita adalah tanaman, akhirnya kita menjadi mineral. Mereka yang memiliki pengalaman pertumbuhan dan pengubahan yang cukup dapat bersaksi bahwa jika kita bertumbuh dengan wajar, pengubahan akan secara otomatis mengikutinya. Pertumbuhan menghasilkan pengubahan dan bahkan menjadi pengubahan. Sebagai tanaman semakin kita bertumbuh, kita semakin menjadi mineral.

Seperti seorang anak perlu makan supaya bertumbuh, kita yang sebagai tanaman di ladang Allah juga memerlukan sesuatu untuk pertumbuhan kita. Bila kita mau bertumbuh, kita harus memiliki Allah Tritunggal. Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Kita tidak dapat bertumbuh dengan doktrin, nasihat, atau dorongan luaran; kita bertumbuh oleh dan dengan Allah Tritunggal. Kita bertumbuh dengan Allah sebagai Persona yang hidup. Bila kita mau membangun di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar, kita perlu emas, perak, dan batu permata yang dihasilkan dari pertumbuhan dengan Persona Allah Tritunggal yang hidup.

B. Emas Melambangkan Sifat Allah Bapa

Apakah makna riil dari membangun dengan emas? Misalkan seorang saudara bersekutu dengan Anda. Saudara itu rendah hati, baik, dan pengasih. Namun Anda menyadari babwa dia alamiah dan semua kebajikannya bersifat alamiah. Tidak ada gunanya membantu dia dengan memberi doktrin demikian, ”Saudara, Anda alamiah. Kebajikan dan perilaku Anda semuanya alamiah.” Anda tidak perlu berkata begitu kepadanya, Anda perlu melayaninya sedemikian rupa sehingga dia menyadari bahwa kebajikannya alamiah, sesuatu yang diperoleh dari kelahiran, dan kebajikan itu sama sekali tidak mengandung unsur Allah. Mintalah bimbingan dan perkataan Tuhan supaya Anda tahu bagaimana melayaninya dengan wajar. Akhirnya, saudara itu akan nampak bahwa tidak ada unsur Allah apa pun dalam kebajikannya yang baik. Dia akan menyadari bahwa kasihnya, kebaikannya, dan kerendahan hatinya tidak mengandung emas ilahi, tetapi hanya kayu dari sifat manusiawinya. Sebelum kita dapat melayani orang lain sedemikian, kita sendiri harus mempunyai pengalaman yang cukup. Setelah itu barulah kita dapat melayankan emas, sifat ilahi, kepada orang kudus. Setelah dilayani demikian, saudara itu akan mulai menyalahkan kebajikan alamiahnya. Ketika dia rendah hati dan baik secara alamiah, dia akan berkata, ”Inilah kebajikan alamiahku. Aku menyalahkannya sebab tidak ada unsur Allah di dalamnya.” Pengertian semacam ini, tentu saja mutlak berbeda dengan pengertian yang ada di antara orang-orang Kristen hari ini. Agama mendorong kaum beriman mengembangkan kebajikan alamiah. Tetapi bagi bangunan Allah, kita perlu emas; kita perlu sifat kudus tertambah ke dalam kita.

C. Perak Melambangkan

Pekerjaan Penebusan Allah Putra

Perak melambangkan pekerjaan penebusan Kristus. Kita perlu pula memahami hal ini dalam pengalaman. Semakin sejati pengalaman kita, kita semakin mengetahui emas yang sejati itu apa, dan perak yang sejati itu apa. Bila kita mencari Tuban, akhirnya kita akan menyadari bahwa tidak peduli seperti apa alamiah kita, kita adalah orang yang telah jatuh. Bahkan dalam kebaikan dan kasih kita, terdapat unsur dosa. Hal ini menunjukkan bahwa kita sama sekali jatuh. Apa pun hakiki diri kita dan apa pun yang kita miliki, telah jatuh dan memerlukan penebusan Allah.

Menurut Perjanjian Baru, penebusan Allah pertama-tama mengakhiri kita. Ketika Kristus mati di atas salib untuk menebus kita, Dia mengakhiri kita. Apa pun yang Kristus akhiri, juga ditebus, dan dibawa-Nya kembali kepada Allah. Jadi, dibawa kembali kepada Allah terjadi setelah pengakhiran. Lagi pula, apa yang telah Kristus akhiri dan tebus, digantikan oleh diri-Nya sendiri. Jadi, penebusan meliputi pengakhiran, dibawa kembali kepada Allah, dan digantikan dengan hakiki Kristus. Inilah definisi penebusan yang wajar, memadai, dan lengkap menurut Perjanjian Baru.

Ketika Kristus menebus kita, Dia mengakhiri kita, membawa kita kembali kepada Allah, kemudian menggantikan kita dengan diri-Nya sendiri. Inilah pekerjaan penebusan Kristus. Kita telah nampak, apa pun yang kita miliki dan hakiki kita telah jatuh. Tetapi kini karena kita telah diakhiri dan dibawa kembali kepada Allah, pekerjaan penggantian sedang terjadi di dalam kita. Kristus sebagai Roh pemberi hayat telah masuk ke dalam kita dan berangsur-angsur menggantikan kita dengan diri-Nya sendiri. Inilah sebabnya Paulus berkata dalam Galatia 2:19b-20: ”Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku yang sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Hidup yang sekarang aku hidupi secara jasmani adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Dalam satu ayat ini kita melihat tiga hal: pengakhiran, penggantian, dan dibawa kembali kepada Allah.

Jika kita mempunyai pengalaman yang cukup atas penebusan Kristus, dalam hubungan kita dengan orang kudus, kita akan menyalurkan realitas penebusan kepada mereka. Demikianiah perak akan ditambahkan kepada mereka. Inilah yang dimaksud membangun dengan perak.

Pembangunan semacam ini akan berangsur-angsur melenyapkan maut dari hidup gereja. Setiap gereja lokal terganggu oleh maut, yang datang dari gosip, omongan negatif, bahkan dari kebajikan alamiah. Bagaimana maut ini ditelan lenyap? la dapat ditelan lenyap hanya oleh pembangunan dengan emas dan perak. Bila Anda meministrikan emas dan perak kepada orang-orang kudus, kuman-kuman negatif di dalam mereka akan terbunuh, dan orang-orang kudus akan terawat secara positif. Perak adalah antibiotik ilahi untuk membunuh semua kuman. Kemudian, dengan spontan dan secara otomatis, maut akan tertelan habis oleh hayat. Hayat mengandung emas dan perak, yaitu sifat Allah dan pekerjaan penebusan Kristus.

D. Batu Permata Melambangkan

Pekerjaan Pengubahan Allah Roh

Batu permata adalah totalitas emas dan perak. Jika dalam pengalaman rohani, kita memiliki sifat Allah dan pekerjaan penebusan Kristus, akibatnya ialah pengubahan Roh Kudus. Jika kita meministrikan emas dan perak kepada orang kudus, yang akan dihasilkan adalah batu permata, pekerjaan pengubahan Roh. Dengan kata lain, Roh Kudus mengubah kita secara metabolis oleh sifat ilahi dengan salib. Dengan demikian kita menjadi batu-batu permata.

Sebenarnya, dalam pasal 3 Paulus memberi tahu orang-orang di Korintus, ”Saudara-saudara, kalian bukannya membangun gereja di tempat kalian, malah meruntuhkan dan merusaknya. Kalian tidak membangun dengan emas, perak, dan batu permata, tetapi dengan kayu, rumput, dan jerami. Kalian membangun dengan manusia alamiah, kebudayaan, filasafat, hikmat, kebiasaan, dan adat Yunani kalian. Jadi, kalian meruntuhkan bait Allah dan akan menanggung penghancuran Allah. Aku mendorong kalian untuk berhati-hati, tidak membangun dengan manusia dan kebudayaan Yunani kalian. Kalian perlu menghindari segala sesuatu yang berbau Yunani; beradalah di dalam roh perbauran untuk meministrikan sifat emas Allah Bapa ke dalam orang lain dan juga meministrikan perak salib Kristus. Hasilnya adalah batu-batu permata, perubahan metabolis yang dihasilkan oleh pekerjaan pengubahan Roh Kudus.” Itulah membangun dengan Allah Tritunggal di atas Kristus sebagai satu-satunya dasar.

Sungguh bermakna Paulus menyebut hanya tiga macam bahan mulia emas, perak, dan batu permata karena ini cocok dengan aspek tiga dari Allah Tritunggal. Emas menunjukkan sifat Allah Bapa, perak menunjukkan pekerjaan penebusan Putra, dan batu permata menunjukkan pekerjaan pengubahan Roh Kudus. Inilah pengalaman atas Allah Tritunggal menjadi suplai untuk kita ministrikan kepada orang-orang kudus dan bahan-bahan untuk membangun gereja. Bila kita membangun gereja dengan bahan-bahan berharga ini, dan bukan dengan manusia alamiah atau kebudayaan alamiah kita, kita akan memperhatikan bagaimana kita membangun di atas Kristus. Lalu, pekerjaan pembangunan kita tidak akan meruntuhkan bait Allah, dan kita tidak akan menanggung penderitaan dibongkar oleh Allah.

IV. DIUJI

A. Pada Hari Kedatangan Kristus

Dalam 3:13 Paulus berkata, ”Sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan tampak, karena hari Tuhan akan menyatakannya. Sebab hari itu akan tampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang, akan diuji oleh api itu.” Hari Tuhan di sini mengacu kepada hari kedatangan Kristus kali kedua, saat itu Dia akan menghakimi semua orang beriman (4:5; Mat. 25:19-30; 2Kor. 5:10; Why. 22:12).

B. Oleh Api

Api dalam ayat 13 menunjukkan api penghakiman Tuhan (Mat. 3:2; 4:1; 2Tes. 1:7b-8; Ibr. 6:8), yang akan menyingkapkan pekerjaan setiap orang beriman dan akan mencoba dan menguji pekerjaan mereka. Api ini bukanlah api penyucian seperti yang disalahtafsirkan oleh aliran kekristenan tertentu. Semua pekerjaan yang berasal dari kayu, rumput, dan jerami tidak akan tahan uji dan akan terbakar.

V. MENERIMA PAHALA

Dalam ayat 14 Paulus berkata lebih lanjut, ”Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.” Pekerjaan yang tetap tinggal tentulah berasal dari emas, perak, dan batu permata; hasil dari para pelayan Kristus yang setia. Pekerjaan yang demikian pasti akan di beri upah oleh Tuhan yang akan datang dan yang akan menghakimi. Upah didasarkan atas pekerjaan orang beriman setelah beroleh selamat. Ini berbeda dengan keselamatan yang didasarkan atas percaya kepada Tuhan dan pekerjaan penebusan-Nya.